Under Snow Globe.. | FF Peserta Lomba

 

Undersnowglobe

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

Author : Thilmaa (fb: Thilmaa, twitter: @tilmaa)

Title    : Under Snow Globe..

Genre : Romance, fantasy, etc.

Main Cast :

Lee Min Ho

Song Ji Min (OC)

Theme song : Stardust, by Lunafly.

Disclaimer : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

=Happy reading=

AUTHOR POV

 

“Panggil aku, jika kau membutuhkanku..”

 

Gadis itu berjalan pelan menuju meja yang terletak di depan jendela  kamarnya. Ia menarik kursi di depan meja itu, lalu duduk di sana dengan sebelah tangan yang memegang cangkir coklat panasnya. Ia menghela nafas dalam, membiarkan angin malam musim dingin mulai menerpa wajahnya.

Sejenak ia terdiam, memandangi langit malam di luar sana dari jendela kamarnya ini. Seulas senyum tipis melengkung di bibirnya saat melihat salju yang berjatuhan dari langit kelam itu. Ia mengangkat cangkir di depannya, lalu perlahan menyeruput coklat panas itu. Hangat.. ya, seketika kehangatan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya ketika coklat panas itu mulai melalui tenggorokannya.

14 februari, hari ini adalah hari Valentine. Ribuan pasangan kekasih di seluruh dunia mungkin sedang merayakannya sekarang. Berbagi kebahagiaan di malam kasih sayang ini. Tapi tidak bagi gadis itu, Song Ji Min. Gadis itu hanya berdiam diri di rumah, menikmati malam valentine seorang diri di dalam kamarnya yang sepi.

Ia kembali menghela nafas dalam, kemudian menghembuskannya dengan pasrah. Menyedihkan sekali dirinya, hanya sendirian menghabiskan malam ini. Teman-temannya? Mereka mungkin sedang merayakan valentine dengan kekasihnya masing-masing.

Ji Min menopangkan dagunya dengan sebelah tangan, lalu memandang hampa keluar jendela. Ia mengetuk-ngetukkan jari di bibir mungilnya, sedang melamun lebih tepatnya. Tiba-tiba angin malam mulai berhembus kencang, menerbangkan anak rambutnya. Ia menyeka helaian anak rambut dari wajahnya dan menaruhnya di belakang telinga.

Gadis itu mengalihkan pandangan dari jendela, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Sebuah bola kristal yang berisi miniatur sepasang kekasih. Sepasang kekasih dalam Snow globe itu, terlihat sedang berdiri sambil bergenggaman tangan di bawah salju yang sedang berjatuhan.  Snow globe, itu adalah Snow globe pemberian ibunya di ulang tahunnya yang ke enam tahun. Konon katanya, Snow globe ini adalah hadiah yang di terima sang ibu di hari valentine tahun pertama ibu dan ayahnya menikah. Bisa di bayangkan bukan, sudah berapa umur Snow globe ini? Mungkin sudah puluhan tahun. Umur Ji Min saja sekarang sudah 20 tahun, mungkin umur Snow globe ini sudah 21 tahun.

Tangan Ji Min mulai meraih Snow globe itu, mengangkatnya hingga ia dapat melihat dengan jelas isi bola kristal itu. Ia tersenyum melihat isinya, sepasang kekasih di dalam Snow globe itu tampak begitu bahagia. Saling tersenyum dengan wajah yang berjarak sangat dekat. Sepertinya, mereka akan berciuman. Berciuman? Haha.. seketika Ji Min terkekeh mengingat pemikiranya barusan.

Ji Min masih memandangi Snow globe itu dengan takjub,

“Kau bisa menekan tombol ini, maka akan terdengar sebuah lagu yang bisa membuatmu nyaman ketika perasaanmu sedang kacau.”

Iya, ibunya pernah berkata seperti itu. Ji Min memutar bola kristal itu, seperti mencari sesuatu. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah tombol kecil. Ia tersenyum lega melihat tombol itu. Tanpa tunggu lama, Ji Min pun langsung menekan tombol itu.

Na.. na.. na.. na.. na.. na.. na…

Perlahan mulai terdengar sebuah alunan nada yang sangat menenangkan. Terdengar seperti.. nada twinkle-twinkle little star.. Ji Min tersenyum lebar mendengarnya. Snow globe itu terus bernyanyi, membuat hatinya yang kacau tadi mulai terasa membaik. Melihat miniatur sepasang kekasih di dalam bola kristal itu, Ji Min jadi teringat sesuatu..

“Ibu, pasangan di dalam bola kristal ini terlihat sangat serasi, ya. Puterinya sangat cantik, dan pangerannya juga sangat tampan. Seperti sepasang barbie punyaku itu.” Celoteh  Ji Min kecil pada ibunya sambil menunjuk sepasang barbie yang tersusun rapi di atas meja kamarnya. “Apa aku juga bisa bertemu pangeran setampan itu, bu?” Tanyanya lagi.  Sang ibu tersenyum,

“Ya, begitulah sayang.” Ucap sang ibu sambil membelai rambut putrinya. “Ji Min juga bisa bertemu pangeran setampan itu.”

“Benarkah?” tanyanya dengan antusias.

“Uhm..” sang ibu mengagguk. “ Tentu, sayang. Sekarang coba pejamkan matamu, dan ucapkan.. ‘pangeran tampan, datanglah.’  Arraso?” tanya sang ibu, yang hanya di jawab anggukan oleh putri kecilnya itu.

Ji Min kecil pun mengikuti petunjuk ibunya. Perlahan gadis kecil itu memejamkan matanya dan mengucapkan mantra yang di ajarkan sang ibu. Ibunya hanya tertawa pelan melihat tingkah polos putrinya itu.

Song Ji Min, ia sedang tertawa kecil sekarang. Ia merasa geli mengingat kepolosannya di masa kecil dulu. Pangeran tampan dalam Snow globe? Sepertinya aku harus mencoba mantra dari ibu.. hahaha… batinnya.

Perlahan gadis itu memejamkan matanya, lalu mengucapkan mantra  yang di ajarkan sang ibu. “Pangeran tampan, datanglah..”  ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba…

Wuuusshhh….

Baaammm…

Nyanyian Snow globe itu berhenti dan berubah menjadi sebuah suara dentuman yang mengagetkan. Membuat Ji Min tersentak dan reflek membuka matanya. Asap putih… gadis itu melihat sekelebat asap putih di hadapannya. Matanya membulat, mulutnya ternganga.

Bruukk…

Ji Min terkejut dan langsung mendorong kursinya hingga ia terjatuh.

Aww…

Gadis itu mengelus-elus pantatnya yang terasa sakit karna menyentuh lantai kamar yang keras. Ji Min meringis, menahan rasa sakit itu. Hingga tiba-tiba..

“Kau baik-baik saja, nona?” sebuah tangan terulur ke depan wajahnya. Suara berat itu, seperti suara seorang laki-laki. Laki-laki?? Sejak kapan ada laki-laki di dalam kamarnya?? Mata Ji Min terbelalak, dengan gerakan reflek ia mengangkat kepalanya.

“K..k..kau.. kau siapa?” tanyanya dengan suara gugup yang terputus-putus. Ia membeku dengan posisinya yang masih tergeletak di lantai.

“Aku?” laki-laki itu tersenyum, “Ayo, lebih baik kau berdiri dulu.” Ucap laki-laki itu sambil membantu Ji Min berdiri. Lalu ia memapah tubuh Ji Min dan membawa gadis itu duduk di atas tempat tidurnya.

“Apa masih sakit?” tanyanya sambil berlutut di depan Ji Min.

Ji Min hanya bergeming. Gadis itu masih membeku dan tak dapat berbicara apa-apa.

“Hei, bagaimana? Apa masih sakit?” tanya laki-laki itu lagi, membuat Ji Min tersentak.

“Ti..tidak. sudah tidak begitu sakit.”  Ucap Ji Min masih dengan suara tersendat-sendat. Ia mengerutkan dahi melihat sosok di depannya ini. Ia sangat bingung. Siapa laki-laki ini? Kenapa ia hadir di tengah asap putih tadi? Apa jangan-jangan..

“Kau.. kau siapa? Apa… kau..”  Ia menelan ludahnya sebelum melanjutkan ucapannya, keringat dingin mulai bercucuran dari dahi gadis itu. Ia mulai merasa merinding.

“Apa kau jin musim dingin?” tanyanya dengan cepat tanpa jeda.

Kriikk…kriikk… *Hening*

Sejenak hening menemani mereka. Di lihatnya, laki-laki di hadapannya itu kini telah berdiri sambil ternganga dan melongo dengan sangat parah.

“Jin?” laki-laki itu mengerutkan dahinya.

Kriik.. kriikk..

“Apa kau bilang? Aku ini jin?” tanyanya lagi dengan tatapan tidak percaya. Sedetik kemudian, “ Hahahah… yang benar saja!” laki-laki itu mulai tertawa dengan sangat heboh hingga memegangi perutnya.

Ya! Coba perhatikan aku!” perintah laki-laki itu. “Apa aku ini seperti jin?” tanyanya lagi  sambil menunjuk wajahnya.

Ji Min masih terdiam, kemudian ia mulai mengamati sosok di depannya itu. Laki-laki itu tinggi, sangat tinggi. Mungkin sekitar 187cm. Kulitnya putih bersih, badannya terlihat sangat proporsional dan terbentuk dengan baik. Matanya tidak terlalu sipit, bahkan cukup besar. Bernaung di bawah sepasang alis yang tebal. Bibirnya merah pucat, melengkung dengan sangat indah di bawah hidung yang sangat mancung. Rambutnya tertata rapi, dengan sedikit poni yang menambah kesan cool. “perfect!” desis Ji Min dengan sangat pelan masih dengan wajah melongonya.

“Bagaimana? Apa aku terlihat seperti jin?” tanya laki-laki itu lagi sambil mengangkat sebelah alisnya.

“For your information, aku ini pangeran yang kau panggil dari Snow globe itu. Kau lupa? Kau kan sudah memanggilku.” Jelas laki-laki itu dengan panjang lebar.

“Apa? Pa..pangeran? dari.. snow globe itu?” tanya Ji Min dengan gugup sambil menunjuk snow globenya yang tergeletak di atas meja.

“Yuupp.. kau betul sekali. Perkenalkan, aku Lee Min Ho. Pangeran dari Snow globe-mu itu. Sudah lama aku menunggumu memanggilku. Dan kau, kau pasti Song Ji Min?”

Ji Min tidak segera menjawab pertanyaan Lee Min Ho, ia malah berdiri dari duduknnya mencoba menyamakan posisi dengan laki-laki itu. Ia mengamati wajah Lee Min Ho dengan seksama. “Apa benar kau ini pangeran dari bola kristal itu?” gumam Ji Min pelan sambil menekan-nekan pipi dan wajah Min Ho dengan telunjuknya. “Apa kau benar-benar nyata? Kau bukan hanya sebuah halusinasiku saja, bukan?” gumamnya lagi masih dengan kegiatannya tadi.

Ya!..ya!… apa yang kau lakukan? Aishh…” gerutu Min Ho sambil menjauhkan tangan Ji Min dari wajahnya. “Aku ini benar-benar nyata di hadapanmu saat ini.” Tegas laki-laki itu.  “Paling tidak..”  Min Ho melirik jam tangannya, “Paling tidak hingga tengah malam nanti.” Lanjutnya. “Ya, hingga jam 12 mungkin.” Tambahnya lagi.

“Hingga jam 12?” tanya Ji Min tak percaya.

“Kau seperti Cinderella saja. Hahaha..” tiba-tiba tawa Ji Min pecah. “Ahh.. ini gila.. ini sungguh gila.. aku pasti sedang bermimpi sekarang.. haha..” gadis itu tertawa sendirian sambil menepuk-nepuk wajahnya.

“Hei! Kenapa tertawa seperti itu? Aku serius! Aku akan menemanimu hingga tengah malam nanti. Jadi, kau ingin melakukan apa sekarang? Ingat, waktumu hanya sampai tengah malam!”

“Eh? Jadi kau benar-benar akan menemaniku?” tanya Ji Min lagi. Kali ini ia menghentikan tawanya dan bertanya dengan serius.

“Uhm..” Min Ho mengangguk pasti. “Kau sedang kesepian di malam valentine ini, bukan? Kasian.. nasib seorang jomblo.” Ledek Min Ho , yang di balas dengan tatapan tajam dari Ji Min.

“Baiklah, aku akan menemanimu. Jadi kau ingin kemana malam ini?” tanya Min Ho lagi dengan senyum manisnya.

“Kau serius, kan? Kemanapun aku ingin pergi?”  Tanya Ji Min ingin memastikan.

Min Ho menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengulurkan tangannya, “wherever you want, princess..”  Ucapnya sambil tersenyum. Dengan ragu Ji Min menerima uluran tangan laki-laki itu dan ikut tersenyum.

***

“Kau ingin menonton apa?” tanya Ji Min sambil celingak-celinguk melihat beberapa judul film di depan mereka. Saat ini mereka sudah berdiri di sebuah bioskop. Ya, ini permintaan pertama Ji Min, menonton film di malam valentine seperti yang di lakukan pasangan kekasih lainnya.

“Aa…” Min Ho menjentikkan jarinya, “ Aku mau menonton itu!” tunjuknya pada salah satu judul film yang ada di depan mereka. Ji Min mengikuti arah tunjuk Min Ho.

Mwo?”  mata Ji Min terbelalak melihat pilihan Min Ho, ia menelan ludah dengan susah payah. Film.. horror? Seketika  Ji Min merinding. Ia paling benci dengan film horror. “Aku tidak mau!” tolaknya mentah-mentah.

“Kita nonton yang itu saja!” serunya sambil menunjuk judul lain, “Lebih nyaman menonton film itu. Hehe..” Ji Min terkekeh dengan canggung, mencoba menyembunyikan ketakutannya.

Min Ho menyipitkan matanya, sepertinya ia dapat membaca fikiran Ji Min. “Jangan bilang, kau takut menonton film horror?” tembaknya langsung kena sasaran pada Ji Min. Yang di tanya seketika terkesiap, lalu mencoba tersenyum canggung.

“Apa yang kau bicarakan? bukan seperti itu,” ucapnya salah tingkah sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Hanya saja, akan lebih cocok menonton film yang romantis di malam valentine ini. Hehe..” jelas Ji Min dengan tawa yang di buat-buat.

“Hmm..” Min Ho mengetuk-ngetukkan jari di dagunya, “Sikapmu cukup mencurigakan. Jujur saja, kau pasti takut menonton film horror kan?”  Min Ho tersenyum jahil, mencoba menggoda Ji Min. Sementara Ji Min, gadis itu mulai pucat karna tebakan Min Ho yang memang benar. Ia sedikit kesal karna laki-laki itu seperti menantangnya.

“Apa kau bilang?” Ji Min melipat tangannya di dada dan menaikkan sebelah alisnya. “Siapa yang takut? Baiklah, jika kau ingin menonton film itu aku tidaka apa-apa. Kajja! Kita nonton film yang kau pilih saja.” Ajak Ji Min kemudian. Sebenarnya dalam hati gadis itu cukup takut, namun ia sangat pantang untuk di tantang.

Min Ho mengerutkan dahinya, “Kau yakin? Kalau kau tidak suka, kita menonton film yang kau mau saja. Aku kan hanya bertugas menemanimu.”

“Sudahlah, jangan banyak bicara! Kau menghabiskan waktuku hanya untuk berdebat.” Ucap Ji Min sedikit kesal sambil berjalan ke depan untuk memesan tiket.

Min Ho tersenyum geli melihat wajah Ji Min yang terlihat panik bercampur kesal itu. “As you wish, princess.” Gumamnya pelan sambil mengikuti langkah Ji Min.

Saat ini mereka sudah berada di depan pintu masuk teather film horror, Ji Min menundukkan kepalanya dengan malas. Sebenarnya ia paling tidak suka menonton film horror. Apalagi film horror yang memiliki tingkat seram setinggi ini. Min Ho sangat pandai memilih film yang bisa membuat Ji Min tidak bisa tidur –ketakutan- selama 7hari 7malam.

Ji Min menoleh pada Min Ho yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu tampak sangat antusias dan tersenyum lebar pada Ji Min, sementara Ji Min membalasnya denga tatapan malas.

Film yang mereka tonton kali ini sangat menyeramkan. Bercerita tentang pembunuhan misterius seorang wanita. Arwah wanita itu ingin menuntut balas dan mencari orang yang membunuhnya. Tanpa di sadarinya ternyata yang merencanakan pembunuhannya adalah pacarnya sendiri yang ingin merebut semua harta kekayaan wanita itu. Setidaknya itulah gambaran yang di dapatkan Ji Min dari film yang sedang mereka tonton ini. Setiap adegan di film ini sangat brutal, banyak darah yag berceceran dan hawa-hawa seram yang menyelimutinya. Ji Min bergidik ngeri melihatnya.

Ji Min menoleh pada Min Ho yang sedang asik menonton di sampingnya. Laki-laki itu terlihat begitu menikmati film ini, bahkan sampai mulutnya ternganga dan tidak mengedipkan mata sedikitpun.

“Ckckck.. apa sebegitu menariknya film ini baginya? Iihh.. aku saja sudah mati ketakutan begini.” Batin Ji Min sambil mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Min Ho. Beberapa detik kemudian, Ji Min memalingkan wajahnya ke layar besar yang ada di hadapannya. Tanpa di sangka, saat Ji Min menoleh…

“Huaaaa…” gadis itu spontan berteriak karna kaget melihat layar di depannya itu. Ia membalikkan tubuhnya secara reflek dan memeluk lengan Lee Min Ho. Gadis itu membenamkan kepalanya di bahu Min Ho. Ternyata tadi ia melihat.. wajah hantu wanita itu yang di Zoom hingga terlihat sangat jelas dan mengerikan.

Min Ho kaget melihat reaksi Ji Min, “Kau baik-baik saja?” tanyanya dengan khawatir sambil menyentuh puncak kepala gadis itu.

Sementara Ji Min yang masih shock hanya terdiam dan  tidak mampu berbicara apa-apa. Jantungnya  berdetak dengan sangat cepat, menandakan dirinya yang benar-benar terkejut luar biasa.

“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanya Min Ho lagi.

Perlahan Ji Min mulai membuka matanya dan menjauh dari bahu Min Ho. “Aku baik-baik saja.. tapi..” suaranya terdengar bergetar dan gugup. “Min Ho, aku sangat takut.” Lanjut gadis itu sambil memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya.

Min Ho tersenyum dan mengulum tawanya melihat tingkah Ji Min. Sepertinya laki-laki itu sedang menertawai Ji Min di dalam hatinya. Tiba-tiba laki-laki itu menarik kepala Ji Min dengan lembut hingga tersandar kembali di bahu kokohnya.

“Jika kau takut, pejamkan saja matamu. Ingat, aku masih di sini bersamamu.” Bisiknya dengan lembut. Ji Min menganggukkan kepalanya yang bersandar di bahu Min Ho. “Sebentar lagi film ini selesai.” Lanjut Min Ho, yang kembali di jawab anggukan oleh gadis itu.

“Apa film tadi sangat menakutkan bagimu?” tanya Min Ho sambil terkekeh. Saat ini mereka sudah berada di luar ruangan bioskop. Beruntung sekali film itu cepat berakhir.

Ji Min menatap tajam ke arah Min Ho, “Apa kau sangat bahagia melihatku ketakutan seperti tadi?” tanyanya dengan sinis.

Min Ho kembali terkekeh, “Tentu saja tidak. Yasudah, sekarang kita mau kemana lagi?”

“Terserah kau saja!”  kata Ji Min pendek sambil mengerucutkan bibirnya.

“Hei, jangan cemberut begitu. Kau terlihat sangat lucu cemberut begitu. Kau tau? Kau terlihat seperti ikan mas koki. Hahaha…” Min Ho tertawa terbahak-bahak. Kembali, Ji Min menatapnya dengan tajam.

Seketika Min Ho menghentikan tawanya dan berdehem. “Ehhem.. baiklah, aku minta maaf. Ayolah, jangan cemberut terus. Kau merusak malam yang indah ini saja. Lebih baik kau tersenyum dan katakan permintaanmu yang selanjutnya. Ingat, waktu terus berjalan, nona Song Ji Min.” Ucap Min Ho sambil tersenyum.

Ji Min mulai berfikir, ternyata kata-kata Min Ho ada benarnya. Akhirnya gadis itu mencoba melupakan kekesalannya dan mulai tersenyum seadanya.

“Nah.. begitukan terlihat lebih baik. Kau terlihat lebih manis jika tersenyum.” Puji Min Ho dengan tulus, membuat semburat merah menghiasi pipi Ji Min. Gadis itu merasa malu di puji seperti itu. “Aku lapar. Kau juga sudah lapar, kan? Bagaimana kalau kita pergi makan?” tawar Min Ho  kemudian. Ji Min hanya menganggukkan kepalanya.

 

***

“Aahh.. kenyangnya..” seru Ji Min sambil memegangi perutnya yang sudah menegang karna kekenyangan. Gadis itu melampiaskan kekesalannya dengan makan sebanyak-banyaknya. Ya, ini adalah salah satu kebiasaan buruk gadis itu.

Min Ho menatap wajah Ji Min dan mangkoknya secara bergantian, “Ternyata porsi makanmu banyak juga ya,” sahut laki-laki itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap takjub pada Ji Min.

Ji Min tertawa lebar, “Ya, begitulah.” Ucapnya enteng. “Ya! Tidak perlu menatapku seperti itu!” umpatnya saat melihat Min Ho yang melongo dan menatapnya tidak percaya.

“Habisnya, kau itu benar-benar aneh. Aku kira setiap wanita akan menjaga image dan makan sedikit di depan laki-laki. Tapi kau…”

Aisshh.. apanya yang aneh? Sudahlah, kenapa aku harus menjaga imageku di depanmu? Kau kan hanya pangeran Snow globe.” Ucapnya enteng. Namun, tiba-tiba  Ji Min terdiam, ia tersentak dengan ucapannya sendiri. “Pangeran Snow globe? Ya, itulah dirimu. Apa kita akan bertemu lagi di lain waktu?” batin gadis itu. Ia memandang menerawang ke arah Min Ho.

“Hei, kenapa melamun?” Min Ho mengibas-ngibaskan tangannya di wajah Ji Min. Gadis itu tersentak dari lamunannya dan menggelengkan kepalanya. “Lalu, apa yang kau inginkan selanjutnya? Kau ingin kemana lagi?” tanya Min Ho kemudian.

Ji Min mengetuk-ngetukkan jari di dagunya, ia berfikir sejenak. “Mmm.. aahh.. sepertinya aku tau! Ayo, kita jalan!” ajak Ji Min sambil bangkit dari tempat duduknya. Min Ho hanya mengikutinya dari belakang.

Dan, di sinilah mereka berada sekarang. Di tengah ramainya orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalanan Insadong. Ya, Ji Min mengajak Min Ho untuk berkeliling di Insadong. Terlihat jejeran pertokoan yang menjual souvenir dan barang-barang antik di samping mereka. Suasana tradisional korea mulai terasa di sini.

Tidak hanya toko-toko souvenir dan barang-barang antik, ternyata di sini juga banyak jajanan-jajanan yang dapat mereka nikmati. Ji Min menarik Min Ho mendekati salah satu stand makanan.

Ya! Lee Min Ho-ssi.. aku mau itu!” Pinta Ji Min sambil menunjuk hotteok di hadapan mereka. Di malam musim dingin yang benar-benar dingin ini memang sangat cocok untuk mencicipi hotteok.

“Makan.. lagi?” tanya Min Ho sambil mengerutkan dahinya.

“Uhm..” Ji Min menganggukkan kepalanya cepat.  “Ini kan hanya cemilan kecil. Tidak ada salahnya, kan?” tanyanya sambil tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.

“Terserah kau sajalah,” Min Ho menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apapun yang kau mau, akan ku kabulkan.”

Mendengarkan jawaban Min Ho, Ji Min hanya tersenyum puas. Laki-laki itupun membelikan hotteok yang di inginkan Ji Min.

Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, saat cemilan hangat itu mulai masuk ke dalam perutnya. Tiba-tiba mata Ji Min kembali menangkap sesuatu. Ide jahil pun mulai muncul di fikirannya.

“Min Ho-ssi.. aku mau itu juga!” tunjuknya pada stand makanan lain. Min Ho mengikuti arah tunjuk Ji Min. Seketika mata laki-laki itu membulat, ia ternganga dan melongo dengan sangat parah.

Mwo? Makanan lagi?” tanyanya dengan sangat tidak percaya. “Apa kau masih kuat menelan makanan itu?”

“Kali ini bukan untukku, tapi untukmu.” Jawab gadis itu santai sambil berjalan menuju stand makanan itu.

“Ayo, makan ini. Rasanya sangat enak.” Perintah Ji Min sambil menyodorkan tteokbokki ke hadapan Min Ho. Min Ho mengernyitkan dahinya, ia tidak suka dengan makanan yang pedas. Di lihatnya tteokbokki ini memiliki warna merah menyala yang terlihat sangat pedas.

“Aku tidak mau! Kau saja yang makan.” Tolak Min Ho.

Aisshh.. ini sangat enak. Lebih baik kau coba dulu.” Rayu Ji Min lagi. Min Ho masih menggeleng dan menolak. “Ayolah.. ini permintaanku. Ingat, ini belum jam 12 tuan pangeran.” Tegas Ji Min. Akhirnya dengan setengah terpaksa Min Ho pun memakan tteokbokki yang di sodorkan Ji Min.

Eehhuukk..

Min Ho terbatuk pelan. Rasa pedas mulai menyerangnya.

“Bagaimana? Enak kan?”

“Pedas..” jawab Min Ho pendek. “Mana minum? Minum…”  ujarnya panik.

Ji Min terkekeh pelan melihat wajah Min Ho yang sudah memerah menahan pedas. Gadis itu mengambilkan air dan memberikannya pada Min Ho. Dengan cepat  laki-laki itu meneguk habis air yang di berikan Ji Min.

“Uhh..hahhh.. uuhh.. hahh.. pedas..” ucap Min Ho terbata-bata.

“Hahaha.. kau tau, wajahmu sangat lucu..” Ji Min tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk wajah Min Ho.

Aishh.. kau sengaja ya? Kau ingin balas demdam karna aku sudah mengajakmu menonton film horror tadi? Hahh.. dasar kau..” Laki-laki itu menatap tajam Ji Min.

“Satu sama.. tadi kau yang mengerjaiku, nah.. sekarang giliranku. Bagaimana rasanya tuan Lee Min Ho?” Ji Min tersenyum penuh kemenangan.

“Haahh.. terserah kau sajalah!” sahut Min Ho pelan, lalu mulai berjalan meninggalkan Ji Min.

“Hei! Kau mau kemana? Apa kau marah? Ya! Jangan seperti anak-anak begitu!” teriak Ji Min sambil mengikuti langkah  kaki panjang Lee Min Ho.

Min Ho masih bertahan diam, menampakkan wajah cemberutnya. Ia masih kesal karna makanan pedas yang di berikan Ji Min tadi. Tapi sebenarnya dalam hati laki-laki itu sedang tertawa  mendengar Ji Min yang sedang berusaha minta maaf padanya.

Tiba-tiba, ia tidak mendengar suara Ji Min lagi, dan ia pun tidak merasakan keberadaan gadis itu di sampingnya. Seketika ia menoleh ke samping, di dapatinya  Ji Min sudah tidak berada di sampingnya lagi. Ia mulai panik dan celingak-celinguk ke sekitaran jalanan mencari sosok gadis itu.

“Hei!” Min Ho merasakan tepukan tangan seseorang di bahunya. Ia pun langsung menoleh ke belakang. Laki-laki itu menghembuskan nafas lega saat mendapati Ji Min sudah berdiri di belakangnya.

“Kau kemana saja? Aku sudah pusing mencarimu.”

“Aku? Aku membeli ini..” sahut Ji Min sambil mengangkat kembang gula yang ada di tangan kanannya.

“Kembang gula?” tanya Min Ho heran.

“Iya. Kembang gula ini manis, bisa mengobati rasa pedas yang kau rasakan.”

Min ho tersenyum, “Gomawo..” ucapnya tulus.

Ji Min mencubit kembang gula itu, “Ini,” ucapnya sambil menyuapkan kembang gula itu pada Min Ho. Laki-laki itupun memakannya.

Mereka saling tersenyum di sela-sela salju yang berjatuhan. Menatap ke dalam sepasang mata yang ada di hadapannya. Tatapan yang sangat dalam, hingga menghanyutkan mereka untuk beberapa saat.

Duggeun..

Duggeun..

Jantung mereka berdetak tak karuan,

“Perasaan apa ini?” batin Ji Min. “Sadar Song Ji Min, ia hanya seorang pangeran fantasi dari dunia Snow globe itu.” Ji min menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menepis semua pikiran anehnya.

***

Angin malam berhembus pelan, menambah rasa dingin di malam penuh salju ini. Ji Min merapatkan mantelnya, berusaha menepis rasa dingin yang mulai menyentuh tubuhnya. Sayup-sayup terdengar suara gemercik air yang sangat pelan dan merdu. Ya, saat ini mereka sedang berjalan dengan santai di tepian sungai Cheonggyecheon. Tempat terakhir yang ingin di kunjungi Ji Min malam ini.

Suasana romatis terpancar dari aliran sungai Cheonggyecheon, yang dihiasi dengan berbagai macam lampu dengan sinarnya yang berwarna-warni. Ji Min mengedarkan pandangannya, terlihat banyak orang yang berlalu lalang dengan pasangannya masing-masing. Saling bergenggaman tangan di malam yang dingin ini. Gadis itu menatap iri pada pasangan-pasangan itu.

Min Ho memalingkan wajahnya pada Ji Min, saat itu lah di dapatinya wajah murung gadis itu. Ia mengerti alasan kemurungan gadis itu. Tanpa berkata-kata, di raihnya tangan dingin gadis itu.

Ji Min tersentak saat merasakan kehangatan di telapak tangannya. Ia menoleh, dan didapatinya Lee Min Ho yang sedang tersenyum tipis sambil masih menatap lurus ke depan. Perlahan gadis itu ikut tersenyum.

Ji Min menghentikan langkahnya, “Min Ho-ssi, bagaimana kalau kita duduk di sana?” tanyanya sambil menunjuk salah satu tempat duduk.

Min Ho mengikuti arah tunjuk Ji Min, seketika di lihatnya tempat duduk di sudut dekat hulu sungai itu. Tempat itu terlihat lebih sepi, jauh dari lalu lalang pengunjung lainnya. Min Ho menganggukkan kepalanya. Mereka pun berjalan ke tempat duduk itu.

Ji Min Menerawang, menatap air terjun buatan dengan lampu warna warni di hadapannya. “Pangeran Snow globe,” ucapnya kemudian, membuat Min Ho menoleh padanya. “Apa kau benar-benar akan menghilang tepat pukul 12 nanti?” tanyanya tiba-tiba.

Min Ho menghela nafas panjang, lalu membuangnya dengan pasrah. Terlihat seulas senyum tipis yang dipaksakan melengkung di bibir indah laki-laki itu. “Ya, begitulah. Apa ada yang kau inginkan lagi? Waktu kita tinggal sedikit.” tanyanya kemudian.

Ji Min menghela nafas pasrah, kemudian ia melirik jam tangannya. Pukul 23.45, itu berarti waktunya hanya tersisa 15 menit lagi. Ia sedang gusar memikirkan permintaan yang akan di mintanya di menit-menit terakhir ini. Sebenarnya.. ada satu hal yang di inginkannya saat ini. Yaitu, tetap bersama laki-laki di sampingnya ini untuk selamanya. Namun ia ragu dengan permintaannya itu.

Bib.. bib..bib..bib..

Tiba-tiba terdengar suara aneh, Ji Min tersentak dari pemikirannya. “Suara apa itu? Apa jangan-jangan itu suara bom,” serunya dengan gusar sambil melihat ke sekelilingnya. Gadis itu terlihat sangat panik.

“Huuhh..” -_- Min Ho menghembuskan nafas berat.  “Itu bukan bom, sudahlah tidak perlu panik seperti itu.”

“Lalu, suara apa?”

“Ini,” seru Min Ho sambil menyodorkan jam tangannya.

“ooh..” Ji Min ber-oh- panjang.

Min Ho menekan tombol kecil yang ada di jamnya. “Ya, sunbae?”

“Ya! Min ho-ya.. ingat, waktumu tinggal 15 menit lagi. Bersiap-siaplah untuk kembali. Arraso?” Teriak suara dari jam tangan Lee Min Ho.

“huuhh.. arra, arra.. aku sangat mengerti, Jung Ill Woo sunbae..” gerutu Min Ho kesal sambil menekan kembali tombol kecil jamnya.

Sunbae?” tanya Ji Min penasaran

“Iya, dia juga pangeran Snow globe. Sebenarnya kami seumuran, tetapi ia lebih senior dari pada aku. Makanya aku memanggilnya sunbae.” Sahut Min Ho dengan tidak bersemangat. “Hei, mana kembang gulaku tadi? Perasaan aku belum memakan semuanya.” Tanyanya kemudian dengan antusias sambil mengulurkan tangannya.

“Kembang gula?” Ji Min berfikir sejenak, “Ah.. sudah aku habiskan.” ._. jawabnya dengan wajah tanpa dosa.

“Apa? Sudah kau habiskan? Hahh.. dasar..” Min Ho terlihat tambah tidak bersemangat. “Bukankah itu untukku? Kenapa kau habiskan? Padahal aku ingin membawanya sebagai oleh-oleh ke negeri Snow globe.” -_-

“Oleh-oleh apanya. Sudahlah, kapan-kapan akan ku belikan lagi.” Sahut Ji Min cuek.

Percakapa itupun berakhir sampai di sana. Sekarang mereka terdiam, di sibukkan dengan fikirannya masing-masing.

Di satu sisi, Ji Min ingin meminta sesuatu. Namun di sisi lain, ia yakin permintaannya itu tidak akan terkabulkan.

Sementara Lee Min Ho, di satu sisi ia merasa senang karna tugasnya akan segera selesai. Namun, di sisi lain ada secercah rasa sedih yang menghinggapinya. Entah kenapa, ada sedikit ketidak relaan baginya untuk meninggalkan gadis yang ada di sampingnya ini. Ia ingin selalu mengabulkan permintaan gadis itu.

Tik..

Tik..

Tik..

Detik demi detikpun berlalu, menandakan berkurangnya waktu yang mereka miliki untuk bersama.

“Pangeran Snow globe,” panggil Ji Min, membuat Min Ho menoleh padanya. Laki-laki itu menampakkan senyum lesu pada Ji Min. Namun beda halnya dengan Ji Min, tiba-tiba gadis itu terkesiap, tenggorokannya tercekat.

“Kenapa?” Min Ho mengeryitkan dahinya.

“Ka..kau.. kenapa.. kenapa menjadi seperti itu?” tunjuk Ji Min pada Min ho dengan suara bergetar.

Min Ho melihat dirinya, ternyata.. tubuhnya sudah mulai berangsur transparan. Kemudian ia tersenyum tipis pada Ji Min. “Sudah ku katakan bukan, waktu kita tinggal sedikit.” Ia melirik jam tangannya sekilas, “Tinggal Lima menit lagi.”

Ji Min terdiam, entah kenapa ada sedikit sesal di hatinya. Ia menyesal telah menyia-nyiakan waktunya bersama laki-laki ini. Ia ingin waktu berhenti saat ini juga, agar ia bisa lebih lama lagi bersama Lee Min Ho. Matanya mulai terasa panas, ada sesuatu yag mendesak ingin keluar. Air mata.. mata gadis itu sudah mulai berkaca-kaca.

Dengan ragu, gadis itu mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh wajah Lee Min Ho. Perlahan, ia mengusap pipi laki-laki tampan itu. Ia memandangi setiap lekuk wajah tanpa cela laki-laki itu dengan seksama. “Jadi.. kita benar-benar akan berpisah?” tanyanya kemudian. Min Ho hanya bergeming.

Ji Min menurunkan tangannya dari wajah Lee Min Ho. Tangannya mencoba menggenggam tangan hangat laki-laki itu. Untuk beberapa saat, ia merasakan kehangatan genggaman Lee Min Ho, namun detik berikutnya… ia tersentak kaget saat merasakan genggaman hangat itu melonggar.

Ia mengangkat kepalanya, betapa kagetnya ia saat mendapati tubuh Lee Min Ho yang semakin transparan.

“Ucapkan permintaan terakhirmu, nona.” Ucap Lee Min Ho dengan pelan.

Ji Min tercekat, ia menelan ludah dengan susah payah. Pandangannya jadi kabur karna air mata yang telah menyelimuti bola matanya. “Aku ingin..”

“Iya, sebutkanlah..”

“Aku ingin.. kau tetap di sini bersamaku untuk selamanya.”

Hening,

“ Jika aku bisa, aku pasti akan mengabulkannya. Namun sayang, ada satu hal yang tidak bisa ku kabulkan. Yaitu.. tetap bersamamu, untuk selamanya.”

Ji Min terdiam mendengar jawaban Lee Min Ho.

Tik..

Tik..

Tik..

Waktu terus berjalan,

Lee Min Ho memejamkan matanya sejenak, “Beri aku sedikit waktu,”  mohonnya dalam hati. Perlahan Min Ho mendekatkan wajahnya pada Song Ji Min yang sedang terpaku di hadapannya.  Ia mendekat, dekat.. dekat.. dekat.. dan dekat..

Ji Min tersentak, ia merasakan sesuatu yag lembut menyentuh bibirnya. Matanya membulat sempurna saat merasakan kehangatan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

Detik berikutnya ia tersadar dan kehangatan itu pun menghilang. Satu detik. Ya, hanya satu detik kecupan itu.

“Mungkin tidak untuk saat ini, tetapi.. Panggil aku, jika kau membutuhkanku di lain waktu.” Ucap Min Ho sambil tersenyum manis pada Song Ji Min.

“Janji?”

“Ya..”

Mereka saling tersenyum dalam diam. Hingga akhirnya…

Terlihat secercah cahaya putih yang sangat menyilaukan mendekati mereka. Perlahan, bayangan Lee Min Ho mulai di telan cahaya putih itu. Perlahan.. perlahan.. perlahan… Ji Min mengangkat sebelah tangannya, mencoba menggapai bayangan Lee Min Ho. Namun sayang.. bayangan itu sudah hilang sepenuhnya.

Pangeran Snow globe.. jangan pergi…!” Teriak Ji Min tertahan.

 

***

Mata Ji Min terasa sangat silau, secepat kilat gadis itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Kepalanya terasa berat.

“Ji Min-ah.. bangunlah..”

Suara itu? Bukankah..?

Gadis itu mengerjapkan matanya, ia mengangkat kepalanya yang ternyata sedang menempel di atas sebuah meja. Ia merasa bingung dengan keadaannya sekarang. Bukankah, tadi ia berada di tepi sungai Cheonggyecheon? Kenapa kepalanya menempel di meja ini?

“Apa yang kau lakukan? Cepat mandi sana! Kau akan terlambat kuliah!” secepat kilat ia menoleh pada arah sumber suara itu. Alangkah terkejutnya ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan mendekatinya.

“Ibu?” gumamnya. Lalu ia melihat kesekeliling, ternyata ia berada di kamarnya sekarang. Dilihatnya tirai jendela yang baru saja di buka sang ibu. Kembali, ia mengerjapkan matanya menerima cahaya mentari pagi yang mulai memasuki sudut kamarnya.

“Kenapa terkejut seperti itu?” tanya ibunya saat sudah berada di dekatnya. Ibunya kemudian meraih sesuatu dari atas meja.

Na.. na.. na.. na.. na.. na.. na..

“Jadi karna benda ini, kau sampai tertidur di atas meja?” tanya ibunya sambil mengangkat Snow globe yang ternyata masih bernyanyi dengan merdunya itu. Ji Min mengerutkan dahinya. Kemudian ibunya mematikan Snow globe itu.

“Apa maksudnya semua ini? Jadi.. tadi itu aku hanya… bermimpi?” akhirnya ia tersadar pada kenyataan. Ia menghembuskan nafas dengan muram, lalu kembali menidurkan kepalanya di atas meja.

Ya! kenapa tidur lagi? Cepat bangun dan pergi mandi!” teriak ibunya. Membuat Ji Min mengangkat kepalanya dengan cepat, takut sang ibu akan mengamuk.

“Iya bu, aku sudah bangun.” Sahutnya lesu, “Aku akan mandi.”  Ujarnya kemudian sambil berjalan meninggalkan ibunya menuju kamar mandi. Ia berjalan lunglai, merasa kecewa karna apa yang di alaminya tadi ternyata hanya sebuah mimpi. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya, mendapati sang ibu yang sudah mulai berjalan keluar dari kamarnya.

“Tunggu, bu!” serunya tiba-tiba, membuat sang ibu menghentikan langkahnya.

“Ada apa lagi?”

“Apa ibu masih ingat, dengan mantra yang pernah ibu ajarkan padaku?” ibunya mengerutkan dahi, seakan mengerti sang ibu kebingungan ia pun menjelaskan lagi. “ Itu bu, mantra memanggil pangeran dari Snow globe itu.”

“Ooh.. itu.. tentu ibu ingat. Itu kan mantra yang ibu ciptakan sendiri. Hehe..” Ibunya terkekeh sambil mengingat mantra itu.

Apa??? Karangan ibu? Jadi mantra itu hanya karangan ibu?” batin Ji Min.

“Memangnya kenapa?” tanya ibunya,

“Ah.. tidak, tidak ada apa-apa.” ucap gadis itu sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan memasuki kamar mandi.

Aisshh.. ternyata itu hanya mantra karangan ibu? Haahh.. sudah pasti yang kemarin itu hanya mimpi..” -_- gerutu gadis itu dalam hatinya.

 

***

Matahari telah terbenam dengan sempurna, meninggalkan langit gelap yang menaungi kota  Seoul di tengah musim dingin ini. Semilir angin musim dingin bertiup kencang, membuat tubuh mungil gadis itu mulai menggigil. Ia merapatkan mantelnya, lalu menghembuskan nafas panjang. Ia mengangkat kepalanya, menatap langit yang sudah gelap itu. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya saat melihat cahaya-cahaya kecil yang berkedip-kedip di atas sana.

Ji Min menundukkan kepalanya, lalu membuang nafas berat. Terlihat uap yang keluar dari mulut gadis itu, menandakan betapa dinginnya malam ini. Setelah berdiam diri beberapa saat, akhirnya ia melanjutkan lagi jalannya. Kakinya melangkah ringan di atas hamparan salju putih itu.

14 maret, hari ini adalah white day. Ji Min menyapukan pandangannya ke sekeliling, terlihat wajah-wajah bahagia dengan penuh senyum sedang berlalu lalang. Saat ini ia sedang berjalan di tengah ramainya jalanan Myeongdong.  Ia menoleh ke sampingnya, di lihatnya toko-toko souvenir dan cafe-cafe  yang berjajaran rapi di penuhi pengunjung.

Langkahnya tiba-tiba terhenti di depan sebuah toko. Ia memandangi toko itu sejenak, lalu mendekat pada dinding toko itu. Gadis itu berdiam diri sambil memandangi isi yang ada di balik dinding kaca di depannya itu. Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat deretan Snow globe dan kotak musik yang berjejeran rapi di dalam sana.

Na.. na.. na.. na.. na.. na.. na..

Samar-samar dapat di dengarnya alunan suara snow globe dari balik dinding kaca itu. Ji Min memasukkan kedua tangannya yang terasa dingin ke dalam saku mantelnya, lalu perlahan ia memejamkan matanya menikmati alunan merdu itu.

“Panggil aku, jika kau membutuhkanku..” tiba-tiba suara itu terngiang-ngiang lagi di telinganya.  Ya, satu bulan telah berlalu semenjak mimpi indahnya itu. Namun bayang-bayang mimpi itu terus membayanginya.

“Masih bolehkah aku mengharapkan kehadiranmu?” Batinnya, “Jika masih boleh, pangeran tampan, datanglah..” lirihnya dalam hati.

Beberapa saat ia dalam keadaan itu. Memejamkan mata sambil terus menikmati alunan musik Snow globe yang ada di balik dinding kaca di hadapannya. Detik berikutnya, angin berhembus cukup kencang, membuat pipi dan hidungnya terasa dingin. Perlahan ia membuka matanya kembali. Seulas senyum hampa menghiasi wajah manis gadis itu.

Tiba saatnya ia beranjak dari posisinya saat ini, meninggalkan deretan snow globe di di balik dinding kaca di depannya. Ia hendak membalikkan tubuhnya, namun..

Bruukk..

Tubuhnya sempoyongan, di tabrak seseorang.

“Ah, maafkan saya nona.” Sesal seseorang sambil menahan tubuh Ji Min yang hendak jatuh. Suara berat itu.. suara berat laki-laki yang sempat di kenalnya beberapa waktu lalu. Ji Min tertegun, dengan kilat ia mengangkat kepalanya.

Duggeun..

Duggeun..

Duggeun..

Tubuhnya membeku, jatungnya bedetak tak karuan, dan matanya membulat sempurna. Orang itu..

“Pangeran Snow globe..” desisnya pelan,

“ Maaf, nona?”

Ji Min tersentak saat mendengar suara itu lagi. Di dapatinya pria di hadapannya itu kini tengah mengerutkan dahinya dengan dalam. Ji Min memperbaiki posisinya, laki-laki itupun melepaskan tangannya yang menahan bahu Ji Min.

Tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Perlahan, tanpa di sadari kedua sudut bibir mereka terangkat, membuat seulas senyum manis menghiasi bibir mereka berdua. Mereka saling tersenyum dalam diam.

Laki-laki itu merasakan sesuatu yang aneh ketika menatap mata Ji Min. Ia merasa sangat kenal dengan tatapan itu. Entah kenapa ada perasaan nyaman saat ia menatap mata teduh Ji Min. Ia merasa sudah mengenal gadis di hadapannya ini.

“Maaf, apa kita pernah bertemu, nona?” tanya laki-laki itu kemudian.

“Mungkin..” jawab Ji Min singkat di tengah senyumnya.

Laki-laki itu merogoh saku mantel berwarna hitam yang di kenakannya, “Ini untuk mu,” ucapnya sambil menyerahkan setangkai lollypop berbentuk hati. “Happy White day, princess.” Ucapnya sambil tersenyum manis.

Ji Min menerima permen dari tangan laki-laki itu. Kini, sepasang insan itu kembali saling bertatapan dan tersenyum di tengah turunnya salju.

Dan.. inilah awal dari sebuah kisah baru. Kisah baru yang akan mereka lewati bersama.

“And love, will come at the right time. Slowly, began to grow and fill their hearts..”

 

=====================================================

 

Story line by   : Thilmaa

 

Cover by                : Meri evryanti

4 thoughts on “Under Snow Globe.. | FF Peserta Lomba

  1. cerita fantasi yang menarik…
    klau ttg crta fntsi emang rada agak aneh ya, sstu yg nggk mngkin trjdi bsa aja trjdi..
    tpi lw bsa ktmu sma prince kyak lee min ho sih , aku mau bngetzzz.

    • annyeong chingu..^^
      gomawo udh baca..🙂
      haha.. iya, yg namanya fantasi memang hanya sebuah hayalan yg ga mungkin terjadi..😀

    • annyeong chingu..^^
      gomawo udh mw baca ff ini..🙂
      kalo beneran aku jg mw ah chingu. biar bisa ktmu pageran kayak Lee Min Ho.. hehehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s