COFFEE SHOP | FF Peserta Lomba

 

CoffeSHOP

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

 

Author (FB & Twitter): Deryana Roseliind / @DeryanaRoselin

Title : Coffee Shop

Genre : Romance, Little Fantasy

Main Cast :

– Bang Yong Guk (B.A.P)

-Ok Ryung So (OC)

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Happy Reading~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

” Ini bagus, saat aku mulai terbiasa hidup tanpamu “

 

[kubuka mataku karena sinar matahari pagi

Kulihat waktu ditelepon

Ku kenakan pakaian yang sudah kuletakan sejak semalam

Dan bergegas beranjak keluar pintu Sendiri, aku bersenandung saat mendengarkan lagu yang kusuka

setiap hari Sendiri, aku berjalan diantara gedung – gedung yang sudah kukenali]

 

 

Yong Guk bangun dari tidurnya yang lelap ketika cahaya di pagi hari memasuki kamarnya lewat celah tirai jendela. “Hoaammm…..” Desah Yong Guk seraya menggerakan badanya yang masih kaku dan beranjak dari kasur menuju kamar mandi.

 

 

Yong Guk merapihkan baju yang sudah ia kenakan dan tersenyum melihat bayangannya di dalam cermin . Lalu ia pergi keluar rumah menuju tempat biasa yang sering ia kunjungi. Melewati gedung-gedung yang biasa lewat seraya bersenandung kecil mengikuti irama lagu dari earphone yang tertempel di telinganya itu.

 

 

[Senin, Selasa, setiap hari Ketika aku mendapatkan diri ini baik baik saja

Bertemu dengan banyak teman

Hari inipun, banyak hal yang membuatku tertawa

Musim panas, Musim dingin, musim semi dan gugur

Waktu berjalan begitu cepat Tapi, mengapa aku masih berada ditempat yang sama?

 Apa aku menunggumu?]

 

 

Yong Guk menghentikan langkahnya lalu menengadahkan kepalanya melihat langit yang biru di atas sana kemudian tersenyum. “Yong Guk-ah! kau pasti baik-baik saja!” Yong Guk kembali melangkahkan kakinya sepanjang jalan.

 

Langkahnya terhenti di sebuah kedai kopi. Melihat seorang gadis yang tersenyum dan melambaikan tangannya dari dalam. Yong Guk masuk ke dalam memesan secangkir kopi lalu duduk di kursi dimana ada gadis yang tengah tersenyum manis di hadapannya.

 

 

Oppa… ” Panggil gadis itu manja.

 

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Yong Guk ke kursi di depannya, gadis itu mengangguk senyum. Kemudian menghilang perlahan. Itu semua hanya kenangan, kenangan dimana gadis yang bernama Ryung So yang notabenenya kekasih Yong Guk.

 

Yong Guk menunduk, memegang cangkir kopi dengan kedua tangannya dan menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman kecut. Yong Guk sadar jika kini Ryung So sudah tak lagi ada di dunia ini, di sisinya. Yong Guk tersenyum kecut dan menyeruput kopinya pelan.

 

Oppa… Sampai kapan kau akan seperti ini eoh?? Kumohon.. Janganlah seperti ini. Bangkitlah dan temukan penggantiku. Juga jangan terus datang kesini. Kumohon oppa!!” Ucap Ryung So yang duduk di sebelah Yong Guk. Ya! Lebih tepatnya arwah dan Yong Guk yang tak bisa melihat Ryung So di sebelahnya.

 

 

Meskipun Yong Guk tak bisa melihat Ryung So, tapi Yong Guk bisa merasakan kehadiran Ryung So di sekitarnya. Aroma karamel khas Ryung So, hanya Yong Guk lah yang bisa mencium aroma karamel dari tubuhnya. Yong Guk menoleh ke sebelahnya membuat mata mereka bertemu satu sama lain.

 

 

“Aku tak akan pernah melupakanmu! Aku tak akan pernah meninggalkanmu! Aku akan terus disini menunggumu sampai kapan pun! Dan aku akan terus datang kesini hanya untuk bertemu denganmu, mencium aroma karamel mu. Aku sangat merindukanmu Ok Ryung So!” Ujar Yong Guk panjang lebar seakan ia yakin Ryung So kini di sebelahnya, menatapnya dan mendengar ucapannya. Meskipun kosong tak ada siapa pun di sebelahnya. Tapi Yong Guk yakin hal itu!

 

 

Ryung So terpaku yang ternyata mata mereka bertemu, apakah Yong Guk bisa melihatnya? Apakah Yong Guk bisa merasakan kehadirannya? Entahlah! Ini sulit di percaya bagi Ryung So sendiri yang ternyata masih bergentayangan sebagai arwah. “Oppa.… Kau membuatku seakan tak ingin meninggalkan tempat ini juga,”

 

Yong Guk semakin mengeratkan pegangannya pada cangkir kopi itu ketika semua memori indah bersama Ryung So muncul layaknya film yang sedang berputar.

 

_Flashback_

 

Bang Yong Guk seorang CEO muda, tampan, dan berkharisma kini berjalan memasuki ruang direksi untuk menghadiri agenda rapatnya. Ketika presentasi sedang berjalan, disaat itulah dua orang office girl masuk untuk meletakkan kopi ke masing-masing meja pegawai yang mengikuti rapat.

 

Tatapan Yong Guk kini tertuju pada salah satu office girl itu. Ketika office girl itu mengantarkan kopi kemejanya, Yong Guk tersenyum. “Gomawo,” ucap pria ini sekilas menatap nametag yang tertera dibagian atas kiri  office girl itu. Office girl itu hanya mengangguk pelan sebelum dirinya membalikkan badan dan berjalan menuju pintu keluar.

 

“Ok Ryung So…” gumam Yong Guk pelan. Tak perlu waktu lama untuk membuat Yong Guk menyesap kopi yang ada didepannya kini. Yong Guk terkesiap. “Kopi ini, bagaimana rasanya bisa berbeda?” Yong Guk kembali menyesap kopinya sambil terus memikirkan hal yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

 

Seusai rapat, Yong Guk memerintahkan sekretarisnya untuk menyuruh orang yang membuat kopi saat rapat tadi agar menemui dirinya diruangan kerjanya. Tidak dipungkiri, bahwa Yong  Guk berharap gadis yang bernama Ok Ryung So itulah yang membuatnya. Karena bagaimanapun juga, selama dirinya diperusahaan ini, belum pernah dirinya mencicipi kopi yang sekelas… bintang lima!

 

Tok..Tok…Tok…

 

“Masuklah,” ucap Yong Guk dari dalam ruangannya. Tak lama pintu ruangannya pun terbuka, seorang gadis memasuki ruangan Yong Guk dengan kepala yang tertunduk.

 

Sajangnim memanggilku?” tanya gadis itu.

 

Yong Guk menatap gadis itu. Tiba-tiba saja sebuah senyuman merekah dari bibirnya. Sepertinya kali ini Tuhan mengabulkan permohonannya.

 

Ne. kau yang membuat kopi untuk rapat tadi?” gadis itu mengangguk pelan.

 

Yong Guk terkekeh pelan melihat reaksi wajah pegawainya ini seperti ketakutan saat berhadapan dengannya. “Kau tidak perlu takut ataupun sungkan padaku, kau ingin tetap berdiri disana?” Mendengar pertanyaan Yong Guk, gadis itu lantas berjalan kearah sofa yang tak jauh dari bos nya kini berada dan segera mendudukinya.

 

“Siapa namamu, Nona?” sebenarnya Yong Guk sudah tahu nama gadis ini, tetapi tidak ada salahnya bukan untuk sekedar berbasa-basi?

 

“Ok Ryung So, Sajangnim,” Yong Guk hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Ikuti aku!” Yong Guk kemudian berdiri dan berjalan kearah sudut ruangannya. Yong Guk menekan tombol, tak lama kemudian sebuah pintu terbuka secara otomatis menunjukkan bahwa masih ada ruangan didalamnya. Ryung So yang sudah berdiri dibelakang Yong Guk hanya menatap takjub.

 

“Ruangan apa ini, Sajangnim?”

 

“Ruanganku untuk melepas lelah sejenak, kadang juga aku biasa tidur disini jika aku lembur.” Jelas Yong Guk. “Masuklah!”

 

Ryung So melangkahkan kakinya kedalam ruangan rahasia Yong Guk ini, dan menatap sekeliling ruangan ini. Ruangan yang simple, hanya ada sofa tidur, rak buku, 1 TV bersama DVD player-nya, dan ini yang paling menarik perhatian Ryung So. Mesin pembuat kopi! Perlahan Ryung So berjalan mendekati mesin pembuat kopi tersebut, lalu menatap Yong Guk. “Sajangnim ingin aku buatkan kopi?”

 

“Oke, jika kau tak keberatan.”

 

Selama Ryung So sibuk dengan aktifitasnya, Yong Guk terus memperhatikan Ryung So dari belakang. Tanpa sadar dirinya kini hanya berjarak tak kurang dari 5 cm dari tubuh Ryung So. Dapat diciumnya wangi tubuh Ryung So yang beraroma caramel. Lembut. Feminim. Benar-benar khas wanita. Untuk sejenak fantasi liar Yong Guk mulai merasuki pikirannya. Ingin rasanya segera direngkuhnya tubuh mungil gadis ini untuk sampai kedalam pelukannya.

 

‘Shit!!’ Yong Guk menggeleng, dan segera menepis pikiran anehnya. Apa mungkin gadis ini percaya bahwa dirinya tertarik pada gadis ini baru beberapa jam yang lalu?

 

“Apa sebelumnya kau pernah menjadi seorang barista?” tanya Yong Guk dengan nada yang sangat penasaran.

 

Aniya. Waeyo?” Ryung So membalikkan badannya untuk berhadapan langsung dengan Yong Guk. Selama beberapa detik tatapan mereka bertemu, dan itu menimbulkan sesuatu getaran yang aneh pada diri Yong Guk.  Yong Guk berdehem untuk mengurangi rasa gugupnya.

 

“Tidak ada. Aku hanya penasaran, kenapa kau bisa membuat kopi dengan begitu lezat? Yah, bisa dibilang cita rasa yang kau buat lebih manusiawi,” Yong Guk menjawab dengan sekenanya dan berjalan menuju bed sofa yang ada diruangan itu.

 

Mendengar ucapan Yong Guk, Ryung So terkekeh pelan.

 

“Kenapa kau tertawa? Apa kata-kataku ada yang salah?”

 

“Maafkan kelancanganku, Sajangnim. Hanya saja, apa selama ini kopi yang selalu kau cicipi di kantor ini tidak manusiawi?” Ryung So berbalik bertanya dengan menekankan kalimat manusiawinya.

 

“Tentu saja. Mereka membuat hanya sekedar membuat untuk di sajikan. Aku hampir tidak pernah minum kopi yang selalu di sediakan,”

 

Ryung So mengangguk dengan penjelasan singkat yang dilontarkan oleh Yong Guk. Gadis itu kini sibuk menyalin kopi dari mesin dan menyalinnya kedalam dua buah cangkir. Kemudian Ryung So berjalan menghampiri Yong Guk yang kini memejamkan matanya.

 

Sajangnim, ige,” Ryung So meletakkan cangkir itu dan duduk di bed sofa yang berseberangan dengan Yong Guk. Mendengar suara Ryung So yang memanggil namanya, Yong Guk membuka matanya yang terpejam dan langsung duduk dengan posisi yang benar. Aroma kopi menggelitik penciumannya. Tanpa aba-aba Yong Guk langsung menyesap kopi buatan Ryung So.

 

“Bisakah kau pelan-pelan minumnya, Sajangnim?”

 

“Bagaimana bisa aku pelan-pelan meminumnya, jika aroma kopi yang kau buat ini memanggilku untuk segera aku nikmati.” Yong Guk kembali menyesap kopinya.

 

Ryung So terus memperhatikan atasannya ini. Gadis itu terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu. Yong Guk yang menyadari dirinya di perhatikan, langsung melemparkan pandangannya pada Ryung So.

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

 

“Hm… apa aku boleh keluar sekarang, Sajangnim? Aku ingin bersiap-siap karena sebentar lagi jam kerjaku akan habis,” jawab Ryung So pelan.

 

“Tunggulah sebentar lagi. Kau akan pulang bersamaku, dan ini perintah.”

 

====================================================

 

Yong Guk dan Ryung So kini sedang dalam perjalanan menuju flat milik Ryung So. Dengan paksaan akhirnya Yong Guk berhasil membuat Ryung So mau untuk pulang bersamanya. Entahlah, dirinya hanya ingin tahu lebih jauh tentang gadis ini. Sepanjang perjalanan hanya sepi yang menemani keduanya. Ryung So terus menatap keluar memperhatikan jalanan dan gedung-gedung di sepanjang jalan. Sementara Yong Guk, sesekali mencuri pandang kearah Ryung So.

 

“Ryung So-ssi…” panggil Yong Guk yang tanpa menoleh kearah orang yang di panggilnya.

 

“Ada apa?”

 

“Aku hanya penasaran, jika kau sebelumnya tidak pernah menjadi barista, lalu kau belajar dari mana meracik kopi selezat itu?”

 

“Ternyata Sajangnim masih penasaran,”

 

“Tunggu sebentar. Bisakah kau memanggil namaku saja tanpa embel-embel Sajangnim?” Yong Guk menatap sekilas kearah Ryung So.

 

Ryung So yang mendengar permintaan Yong Guk bingung mendengarnya. Apa sopan jika bawahan memanggil atasannya dengan nama saja? Sedangkan pulang bersama ini rasanya tidak pantas sama sekali.

 

“Tapi, Sajangnim, itu tidak sopan,” bantah Ryung So dengan halus.

 

“Kita sedang tidak dikantor. Jadi kau panggil aku Yong Guk saja, oke?”

 

“Baiklah jika itu maumu, Sa.. ah maksudku Yong Guk-ssi,” Ryung So hanya menurut dengan pasrah.

 

“Jadi bagaimana bisa kau meracik kopi, Ryung So-ssi?”

 

“Aku memperhatikan almarhum Appa-ku. Dulu beliau rajin membawaku ketempat kerjanya, disanalah aku memperhatikan cara meracik kopi. Tetapi bukan hanya itu yang membuat kopi lezat sekalipun kau memiliki kopi dengan kualitas terbaik,”

 

“Lalu apa?”

 

“Dengan mood pembuatnya tentu saja.”

 

“Maksudmu?”

 

“Sesempurna apapun kopi itu, kopi tetap saja kopi. Minuman yang akan selalu memiliki rasa pahit. Dan jika kau membuatnya dengan perasaan yang baik, sadar atau tidak cita rasa dari kopi itu juga akan berubah. Jika kau benar-benar penikmat kopi kau akan mendapatkan perbedaannya dengan pembuat yang suasana hatinya sedang buruk. Dan aku sangat suka kopi, karena minuman itu akan selalu mengingatkanku pada Appa,” jelas Ryung So panjang lebar.

 

Tak terasa mereka sudah sampai di depan flat Ryung So. Ketika Ryung So akan membuka pintu mobil, Yong Guk dengan cepat menahan lengan Ryung So.

 

“Ada sesuatu yang mau kau katakan Yong Guk-ssi?”

 

“ Besok kau harus ikut bersamaku. Aku akan menujukkan padamu Coffe Shop favoritku, Ryung So-ssi. Akan kupastikan kau juga akan menyukainya. Bagaimana?”

 

“Baiklah.”

 

=====================================================

 

Yong Guk menepati perkataannya. Seusai jam kerja pria ini langsung membawa Ryung So menuju Hongdae. Hanya butuh waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai kesana dari kantor Yong Guk.

 

Mobil Yong Guk telah memasuki pelataran Coffe Shop yang ada di Hongdae. Coffe Shop yang bernama Café 1010. Yong Guk dan Ryung So kini berjalan beriringan untuk masuk kedalam café itu. Ketika masuk, Ryung So langsung kaget dengan suasana café . Café ini memiliki tema leaving on a jet plan. Yang membuat pengunjung seolah-olah berada didalam pesawat. Ryung So akhirnya mengerti kenapa saat akan masuk dia melihat lego pilot yang diletakkan di pintu masuk.

 

“Kau suka?” suara Yong Guk menghentikan ketakjuban Ryung So. Dengan cepat Ryung So mengangguk.

 

“Kau akan kembali suka dengan menu-menu disini. Ayo aku tujukkan tempat favoritku jika aku disini,” Yong Guk mengarahkan Ryung So untuk mengikutinya. Kini mereka duduk disudut dekat jendela yang langsung disuguhi pemandangan jalanan Hongdae.

 

“Tempat ini benar-benar menakjubkan Yong Guk-ssi.” Suara Ryung So sangat antusias saat mengatakannya.

 

“Kan sudah aku bilang padamu, jika kau nanti akan menyukai tempat ini.”

 

Pembicaraan mereka di interupsi oleh waitress yang menghampiri meja mereka. Yong Guk memesankan semua menu yang di rekomendasikannya. Espresso, caramel macchiato, Horchata (susu beras), dan Tofu-cheesecake. Saat menu datang mereka langsung saja mencicipinya.

 

“Mashita,” ujar Ryung So saat memakan tofu-chessecake dan meminum caramel macchiatonya. Yong Guk yang melihat tingkah Ryung So hanya menggeleng dan tertawa pelan.

 

“kenapa tertawa?”

 

“Lucu melihat tingkahmu.” Yong Guk mengulurkan tangannya untuk membersihkan krim macchiato yang tertinggal di pinggir bibir Ryung So. Aksi tiba-tiba Yong Guk ini tentu saja membuat kaget dan gugup pada Ryung So.

 

“Ak-aku bisa membersihkannya, Yong Guk-ssi,” tiba-tiba saja suasana saat ini penuh dengan kecanggungan diantara keduanya.

 

“Hm.. caramel macchiatonya memiliki cita rasa yang berbeda dari coffe shop lainnya.” Yong Guk hanya mengiyakan dengan anggukan pelan. Di dalam hatinya ia menyesal karena telah merusak sendiri moment yang ingin dibuatnya bersama Ryung So.

 

“Yong Guk-ssi, apa kau tidak malu berjalan bersama pegawaimu?”

 

“kenapa aku harus malu? Kau bukanlah seorang kriminal.”

 

‘Dan tentu saja karena aku menyukaimu.’ Batin Yong Guk.

 

 

================================================

 

Tak terasa sudah hampir dua bulan mereka dekat dan selalu menghabiskan waktu di café 1010 yang menjadi tempat favorit mereka berdua sekarang. Seperti saat ini, mereka kembali menghabiskan waktu sore untuk bersantai menikmati menu-menu favorit tentu saja. Tetapi yang terpenting, Yong Guk telah memantapkan hati untuk mengungkapkan perasaannya pada Ryung So.

 

 

“Ryung So, ada yang ingin aku katakana padamu. Tetapi aku mohon dengarkan baik-baik karena aku hanya akan mengatakannya sekali saja.”

 

“Kau kenapa? Jika ingin mengatakan sesuatu, katakanlah. Kenapa kau serius seperti ini, hum?”

 

Yong Guk menarik napas sebelum meyampaikan kalimat demi kalimat yang akan diucapkannya. “Kau mengatakan jika kopi itu tetap pahit walau sesempurna apapun. Tetapi bagiku kopi adalah minuman yang manis, karena kopi membuat aku mengenalmu. Pesonamu telah menjadi candu yang melebihi caffeine itu sendiri. Kau boleh mengganggapku gila. Tapi satu hal yang kau harus tahu, aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu di ruangan rapat itu,”

 

Ryung So terperangah mendengar pengakuan Yong Guk padanya. Apa artinya ini Yong Guk mencintainya?

 

Ryung So membasahi bibirnya yang mengering. “Yong Guk-ah…”

 

“Aku mencintaimu, Ryung So-ah. kau mau menjadi kekasihku?”

 

“Apa kau tidak keberatan dengan latar belakangku yang tidak sepadan denganmu?”

 

“Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Bagiku setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di mata Tuhan. Jadi, apa kau mau menerimaku?” tanya Yong Guk kembali.

 

Ryung So mengangguk dengan muka yang bersemu merah.

 

Perjalanan pulang terasa menyenangkan bagi Yong Guk kini. Ryung So kini telah menjadi gadisnya. Mereka berbicara dengan penuh canda dan tawa. Tetapi naas, tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang sebuah truk yang kehilangan kendali dan dengan cepat menghantam mobil yang ditempati oleh Yong Guk dan Ryung So. Mobil itu kini terbalik dan berguling-guling sampai beberapa meter. Dengan separuh sadar Yong Guk memaksa membuka matanya dan menatap kearah Ryung So. Darah mengucur deras dari kepala Ryung So. Yong Guk memanggil-manggil nama Ryung So sebelum akhirnya dirinya tak sadarkan diri.

 

_Flashback of End_

 

Tanpa sadar air mata Yong Guk mengalir membasahi pipinya. Arwah Ryung So berusaha untuk menyentuh wajah Yong Guk, tetapi semua itu hanya sia-sia. Karena mereka kini telah berbeda dimensi. Yong Guk dengan kasar mengusap wajahnya dan menuliskan sesuatu di pinggiran kaca sebelum memutuskan untuk meninggalkan café itu berusaha menghapus sesuatu kenangan yang sangat berharga baginya.

 

Nan dangsin-eul ij-ji anh-assda (aku belum melupakanmu)’

 

 

[Kedai kopi yang sering kita

kunjungi Kedai kopi kita

Aku yang hampa duduk sendiri disini,

Dimana aku bisa mencium aromamu

Aku masih belum bisa melupakanmu

Kenangan kita masih tetap terjaga

Tanpa aku ketahui, semua ini jadi sebuah kebiasaan

Aku yang selalu datang kesini]

—–

-Fin-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s