Burung Kertas | FF Peserta Lomba

burungkertas

Author :  Imelia sterilia

Fb : Dek Cilike myeolcy Oppa

twitter : @dekcilikeeunhae Title : Burung Kertas

Title : Burung Kertas

Genre : Romace

Main cast : Lee jiyoo (OC ) & Lee jonghyun ( CNBLUE )

Disclaimer : This fanfiction is original story of mine.

BURUNG KERTAS ( Sequel 143 or 91225 )

 

 

 Lembaran-lembaran kertas warna warni itu terlipat dan tersusun rapi. Berisikan harapan-harapan kecil tentang cinta.

“Ji, apa yang kau berikan pada jonghyun tadi pagi?” Tanya jiyoo sambil duduk dibangkunya.

“Eh? Ah, hanya barang titipannya saja. Wae?”

“Tidak, hanya aneh saja, dia jadi melihatku terus.” Ucapnya sambil melirik kebelakang. Jihyun mengikuti arah pandang sahabatnya itu. Dibangku belakang kelas, jonghyun terlihat selalu tersenyum dikulum yang memperlihatkan dimple khas miliknya. Jonghyun mendongakkan kepalanya karena merasa diperhatikan, dia melempar senyum kecil kekedua yeoja dibarisan depan itu. Dia mengangkat tangannya yang memegang secarik kertas kecil berwarna pelangi. Jihyun terlihat mendengus kecil, kemudian memalingkan wajahnya kedepan. Diliriknya jiyoo yang masih mengamati jonghyun, kemudian dia kembali memutar tubuhnya untuk menghadap kedepan, dan lagi-lagi, senyum manisnya muncul.

“Sepertinya aku pernah melihat kertas yang dibawa jonghyun.” Gumam jiyoo pelan. Jihyun hanya mengendikkan bahunya singkat, tidak ingin menanggapi lebih jauh pertanyaan sahabat disebelahnya itu.

—-
“Jonghyun, sedang apa?”

“Eo, ji.” Jonghyun melihat kesekitar jihyun singkat.

“Mana jiyoo?” Tanyanya sambil memasukkan beberapa lembar kertas kesakunya.

“Ah, dia sedang dikamar mandi, dan aku tidak mau menunggunya didepan kamar mandi seperti orang aneh.”

“Haha, duduklah.”

“Ne, gomawo. Kau sedang apa?”

“Igo, aku meneruskan membaca kertas-kertas ini.”

“Ah.. sudah berapa banyak?”

“ Masih sedikit, aku harus hati-hati membukanya, lipatannya sudah ada yang lama.” Jihyun terlihat mengangguk angguk, dia mengamati cara jonghyun membuka sebuah burung kertas dengan hati-hati. Senyumnya selalu terkembang saat membaca isinya.

“Aku akan memberitahu sesuatu.”

“Apa?”Tanya jonghyun sambil menatap jihyun penasaran, dia selalu ingin tahu dengan apa yang akan jihyun katakana, karena itu selalu menyangkut jiyoo.

“Dia selalu membuatnya saat hujan turun.” Ucap jihyun ringan.

“Jinja?” Tanya jonghyun kaget.

“Mm.. jiyoo suka hujan, katanya, mencintaimu itu seperti mencintai hujan, hujan selalu membawa kesejukan tersendiri dihatinya, begitu pula kau dihatinya.”

Jonghyun tersenyum simpul, dia kemudian mencari-cari dibeberapa lembar kertas yang sedikit using.

“Igo, dia menulisnya disini.” Seru jonghyun sambil menyodorkan kertas itu kejihyun.

“Aku mencintainya seperti hujan, aku menyukai kedinginannya, aku menyukai setiap tetes airnya, sama seperti aku menyukai kamu-jonghyun, 1 4 3.”

“Otte? Kau suka?”

“Ne, sangat.” Ucap jonghyun sambil kembali meraih kertas ditangan jihyun. Keduanya kemudian diam dalam keheningan, bergelayut dengan pikiran masing-masing.

“Astaga!! Kalian disini rupanya, ini mau hujan, ayo masuk kelas.” Ucap jiyoo berdiri dibelakang dua sejoli yang masih duduk tenang ditengah lapangan bola.

“Eo, yoo, kau sudah selesai?”

“Mm, sudah daritadi, dan aku harus memutari seluruh sekolah ini untuk mencarimu, lagi…” Ucap jiyoo sambil bersedekap.

“Mian, ayo kita kekelas. Jonghyun-ah, kau ikut?”

“Sebentar lagi, lagipula jam terakhir kosongkan. Kau tidak mau menikmati ini?” Tanya jonghyun pada jiyoo.

Jiyoo terlihat tidak mengerti, dia diam tanpa membuka suara sedikitpun.

“Hujan, kau sukakan?” Tanya jonghyun lagi.

JIyoo kaget, dia bingung, darimana jonghyun tahu. Kemudian dia menoleh kearah jihyun, dan jihyun terlihat menyembunyikan senyumnya. Dia melihat kearah jonghyun lagi, dan senyum dimplenya terlihat diwajahnya.

“Kalian merencanakan apa sih?”

“Tidak ada.” Jawab mereka serentak. Jiyoo semakin tidak percaya, kedua sejoli ini terlihat makin dekat setelah kejadian minggu kemarin. Sikap jonghyun juga sedikit berubah, walaupun itu membuat jiyoo sedikit senang.

Suara gemuruh semakin membuat suasana gelap, awan hitam tampak sudah siap untuk menurunkan rintik-ritik air satu persatu.

“Tidak mau menikmati hujan bersamaku?” Tanya jonghyun lagi.

“Tidak.” Jawab jiyoo mantab.

“Yoo, apa sih yang kau lakukan.” Bisik jihyun pelan.

“Tidak disini, karena aku benci basah.” Ucap jiyoo lagi sambil melangkah pergi meninggalkan dua sejoli yang masih menatap bingung. Jihyun menatap jiyoo penuh Tanya, kemudian dia merasakan tepukan kecil dibahu kanannya. Dia menatap jonghyun yang sudah berdiri dari duduknya.

“ Aku kira, hujan hari ini akan terasa lain.” Ucap jonghyun sambil tersenyum.

“Mwo? Eh.. cepat-cepat, cepat susul jiyoo.’ Pinta jihyun sambil mendorong-dorong punggung jonghyun. Jonghyun terkekeh kecil, kemudian berlari kecil menyeimbangkan langkah kecil jiyoo. Keduanya saling pandang satu sama lain, dan hanya senyuman milik mereka berdualah yang hadir diwajah masing-masing.

“Kenapa kau suka sekali origami?”Tanya jonghyun sambil masih memperhatikan hujan diluar sana. Suasana kelas sedikit sepi, jam kosong lagi, dan kebanyakan siswa sedang berkeliaran diluar kelas.

“Origami?”

“Ya, burung kertas.”

Jiyoo terkesiap, bagaimana bisa jonghyun tahu tentang burung kertas. Itu dia buat hanya untuk memohon supaya harapannya terkabul.

“Apa kau punya harapan yang ingin terkabul?” Tanya jonghyun lagi. Jiyoo terdiam, masih berusaha mengerti pembicaraan jonghyun. Jiyoo akhirnya memandang wajah jonghyun, walaupun jonghyun tidak berbalik memandangnya. Jonghyun lebih menikmati rintik-rintik hujan yang terlihat dijendela kaca ruang kelasnya ini.

“ Aku menginginkan seseorang menjadi milikku.” Jawab jiyoo sambil memalingkan wajahnya menatap hujan lagi. Joonghyun menoleh cepat, dia tidak percaya jiyoo akan mengatakan hal itu.

“ Tapi kelihatannya sulit.” Ucap jiyoo lagi sambil tertawa kecil. Jonghyun masih terdiam, dia menikmati setiap gerak gerik yeoja disampingnya ini.

“ Kau menyukai seseorang?”

“Ya.”

“Kenapa tidak diungkapkan?”

“Aku tidak yakin dia menyukaiku, walaupun sekarang aku bisa dekat dengannya, tapi aku ini yeoja, dan yeoja tidak bisa mengungkapkan perasaannya dulu. Lagipula aku takut.”

“Takut?” Jonghyun mengerutkan keningnya.

“ Takut jika aku mengungkapkannya, aku akan kehilangannya.”

Jonghyun terdiam, dia kemudian menatap keluar jendela lagi,  rintik hujan sudah sedikit mereda, dan hanya menyisakan angin dingin yang berhembus pelan.

“ Kau akan mendapatkannya, aku tahu itu.” Jiyoo berpaling dan memandang jonghyun.

“Bagaimana kau bisa sePD itu? Kau tidak tahu siapa dia kan?”

“Arra, tapi.. aku hanya merasakan kau akan mendapat apa yang kau inginkan.”

Jiyoo tersenyum, begitu pula jonghyun.

“Bisakah aku mengharapkan doamu itu terkabul jjong?” Tanya jiyoo.

Tidak ada jawaban, mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain, tersenyum penuh makna, senyum milik mereka berdua. Senyum yang selalu terlihat jika mereka bersama. Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena masing-masing dari mereka memiliki pemikiran mereka sendiri-sendiri.

__

“ Yoo, kau membuat burung kertas lagi?”

“Hm? Ya, botol burung kertasku hilang hyun, jadi aku harus membuatnya lagi.”

“Untuk apa?” Tanya jiyoo sambil beringsut diranjang jiyoo.

“Harapanku belum terkabul. Lagipula, yang kemarin itu hanya kurang satu, kalau hilang semuanya, berarti aku harus membuatnya dari awal.”

“Seribu? Lagi?”

“Ya, wae?” Tanya jiyoo cuek. Dia masih menulis ditiap lembaran kertas yang akan dilipatnya menjadi burung-burung kecil itu.

“ Mm, yoo.” Panggil jihyun dengan ragu.

“Bisa kau buat satu permohonan terakhir jika seribu burung kertasmu itu kembali?”

Jiyoo mengernyit, dia tidak mengerti ucapan sahabatnya itu.

“Ada apa? Kau tahu dimana burung kertasku?”

Jihyun menggeleng ragu, “ Bisa buat satu saja, mungkin karena kau sudah membuatnya 999 buah, kau hanya perlu membuat 1 buah lagi. Lagipula, bisa jadi semua burung kertasmu itu sudah sampai ditangannya.”

“Tangannya? Maksudmu jonghyun? “

Jihyun mengangguk mantab sambil tersenyum, jiyoo menggeleng cepat.

“Tidak mungkin, bagaimana bisa dia mendapatkannya? Jangan sampai kau ya yang memberikannya.” Ancam jiyoo. Jihyun terkekeh pelan kemudian berbaring diranjang empuk jiyoo.

“Yoo, kalau sampai burung kertas itu sampai pada jonghyun, dan dia membaca semua harapan-harapanmu, apa yang akan kau lakukan?”

Jiyoo diam, dia mengamati jihyun, sahabatnya itu terkadang aneh, dia melemparkan pertanyaan yang tidak mampu dijawab jiyoo. Bagi jiyoo, mencintai jonghyun adalah khayalannya saja, dan itu tidak mungkin terkabul. Walaupun dia membuat seribu burung kertaspun, semuanya tidak mungkin jadi kenyataan.

“Molla, ini hanya harapanku hyunnie.”

“Berikan aku satu burung terakhirmu. Palli.” Perintah jihyun. Jiyoo mengernyit lagi.

“Kau ini akan melakukan apa sih?”

“Sudahlah, kau pasti akan tahu nanti. Aku pergi yoo.” Ucapnya sambil berlari keluar rumah jiyoo.

Jiyoo hanya menggelengkan kepalanya pelan, bersahabat dengan jihyun yang selalu bersemangat membuatnya terkadang harus mengeluarkan tenaga ekstra. Jiyoo kembali menunduk, melihat beberapa ekor burung kertas yang dibuatnya tadi.

“Ck.. andai harapanku terkabul.” Gumamnya kemudian memasukkan burung kertas itu ketoples bening.

__

“Yoo-ya, bisa ikut aku?” pinta jonghyun.

“Kemana? Aku harus menemani jihyun ke took buku pulang ini jjong.”

“Hanya sebentar.”

Jiyoo menoleh kearah jihyun yang masih merapikan buku-bukunya.

“Hyun, aku pergi sebentar ya, kau tunggu aku, tidak apa-apakan?”

Jihyun menoleh, kemudian menatap jonghyun yang berdiri tegak disisi jiyoo.

“Arrasoe.” Ucapnya cuek dan kembali merapikan tasnya.

Jonghyun dan jiyoo keluar kelas, jiyoo masih penasaran kenapa jonghyun membawanya kebelakang sekolah.

“Ada apa?”

Jonghyun tersenyum, kemudian dia mengeluarkan gitar yang selalu dibawanya setiap hari.

“Sebelum kau pulang, aku ingin kau mendengarkan ini.” Kemudian jonghyun duduk bersila diatas rerumputan taman belakang sekolah ini. Jiyoo masih berdiri mengamati jonghyun yang sudah siap memetik gitarnya. Jonghyun menatap jiyoo yang tidak segera duduk. Dia kemudian tersenyum kecil dan menepuk ruang kosong disisi kanannya.

“changbakke biga naerimyeon
gamchwodun gieogi nae mameul jeoksigo
ijeun jul aratdeon saram
ohiryeo seonmyeonghi tto dasi tteoolla

nae saranga saranga
geuriun naui saranga
mongnoha bulleobojiman
deutjido motaneun sarang
nae saranga saranga
bogopeun naui saranga
geudae ireummaneurodo
bein deut apeun saranga nae saranga

changgae eodumi omyeon
sumgyeo non chueogi
nae mameul barkhine

nae saranga saranga
geuriun naui saranga
mongnoha bulleobojiman
deutjido motaneun sarang
nae saranga saranga
bogopeun naui saranga
geudae ireummaneurodo
bein deut apeun saranga nae saranga

uri hamkke useum jieotdeon sungan
uri hamkke nunmul heullyeotdeon sungan
ije geuman bonaejiman

nae saranga saranga
gomaun naui saranga
nae jeonbu da jiundaedo
gaseume namgyeojil sarang
nae saranga saranga
sojunghan naui saranga
nae sumi da hal ttaekkaji
ganjikhal naui saranga nae saranga.”

“Otte?”

“Bagus.” Jawab jiyoo sambil tersenyum.

“Kau suka?”

Jiyoo mengangguk, jonghyun tersenyum menunjukkan dimple miliknya. Dia melihat kearah jiyoo cukup lama, jiyoopun demikian, dia tidak mau menyia-nyiakan apa yang tersaji indah didepannya.

“Bisa bantu aku?” Tanya jonghyun.

“Apa?”

“Igo, bisa kau artikan untukku?”

Jiyoo mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti akan permintaan jonghyun, lagunya tadi menurut jiyoo adalah ciptaan jonghyun sendiri, tapi kenapa jonghyun memintanya untuk mengartikannya.

“Bisa kau tulis disini?” Tanya jonghyun lagi sambil menyodorkan selembar kertas kehadapan jiyoo.

Jiyoo meraihnya, dia terkesiap.

“Ini…” kata-katanya mengambang, jonghyun sudah berjalan meninggalkannya dengan senyum diwajahnya. Jiyoo hendak melangkah untuk menyusul jonghyun, tapi diurungkannya. Dia melihat kembali kekertas yang ada digenggamannya.

“Untuk permintaanku terakhir, bisakah kali ini saja, jonghyun mengatakan jika dia mencintaiku lewat lagunya?”

Jiyoo melipat kertasnya itu dan memasukkannya kedalam tas, dia tersenyum. Senyumnya muncul lagi. Permintaan terakhir jiyoo tertuang jelas dinyanyian jonghyun tadi. Jiyoo melangkahkan kakinya keluar halaman sekolah.

“Yoo.. sudah?” Tanya jihyun . Jiyoo berjalan mendekati jihyun yang asik memakan es krim ditangannya.

“Ayo, kau mau kutraktir?”

Jihyun seketika menghentikan memakan es krimnya. Dia melongo menatap sahabatnya itu.

“Kau serius?”

“Ne.. kajja.” Jiyoo menarik lengan jihyun meninggalkan pekarangan sekolah.

Jonghyun, namja itu tersenyum kecil sambil merapikan letak tas gitar dipunggungnya. Dia tidak memerlukan penjelasan, karena dia tahu, hujannya memihak padanya.

Rentengan seribu burung kertas milik jiyoo sudah tersaji indah dihati jonghyun, setiap lembarnya memiliki arti tersendiri untuknya. Satu persatu, bacaan cinta jiyoo membuatnya semakin menciptakan percikan-percikan api cinta dihati jonghyun.

“ Aku melihatnya tersenyum pagi ini.”

“Dia tertidur dikelas, dan aku suka memandang wajah tenangnya.Bisakah aku tahu apa mimpimu jjong?”

“Aku sadar aku mulai menyukaimu jjong. Saranghae.”

“ Saranghae lee jonghyun.”

“Tetes hujan ini membawaku mengingatmu jjong, andai semua ini nyata, aku ingin menjadi tetes air hujan yang bisa mendinginkan jiwaku yang sedang panas karena terlalu menyukaimu.”

“Andai hujan turun lagi.” Gumam jonghyun sambil merapatkan jaketnya. Dan seketika, dunia seakan mendengarnya, langit mendung itu datang, dan menghadirkan rintik-rintik hujan kecil kedunia.

Disatu sisi dunia ini, jiyoo, tersenyum menengadahkan tangan kanannya menyentuh butiran-butiran bening itu, dan disatu sisi lainnya, jonghyun, tersenyum kepuasan sambil merasakan butiran bening itu menyentuh wajah putihnya.

3 thoughts on “Burung Kertas | FF Peserta Lomba

  1. huaaaa.. ini sungguh sangat bagus ff nya . terlebih lagi saya sangat menyukai jonghyun. feelnya dapet. dan pokoknya, tingkatkan!!😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s