It’s Cold | FF Peserta Lomba

 

yoonsi1

tiffany-super-junior-siwon-12plus-cf-619x346

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

Author (FB & Twitter): Yurie Zhafiera ( Yurie El Mar’ah Zhafiera / @GGZhafiera_Yuri )

Title : It’s Cold

Genre : Romance,Family

Main Cast :

  • ·         Tiffany Hwang
  • ·         Cho Siwon
  • ·         Im Yoona

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

TIFFANY P.O.V

 

Ughh..lagi-lagi harus pulang sendiri! Taeyeon yang biasanya menemaniku pulang sekarang jarang sekali punya waktu denganku. Park Jungsoo,kekasihnya itu selalu menculiknya dariku. Hah,beginilah nasib seorang yeoja tanpa namjachingu di sisinya.

Di tengah perjalanan kuputuskan untuk singgah di sebuah restaurant. Perutku sudah sangat perih karena lapar dan itu juga yang membuatku menikmati makan siang ini dengan lahap. Tapi,perhatianku segera teralihkan saat aku menyadari kehadiran seseorang. Siwon oppa.

Segera kuselesaikan makan siangku dan menghampirinya. Aku bisa melihat keterkejutannya saat aku menyapanya.

“ Tiffany?!”

Aku tersenyum. Ia  segera memelukku erat. Ah,aku merindukannya. Sungguh.

“ Sudah lama sekali,ya?” bisiknya. Aku mengangguk di balik bahunya. “ Aku merindukanmu,” lanjutnya lagi. Aku terkikik dan melepaskan pelukannya.

“ Kenapa kau tidak memberi kabar kalau kau sudah kembali? Bagaimana pekerjaan dan studimu di Tokyo,oppa?”

Ia tersenyum. Sial,lesung pipitnya itu selalu membuatku berdebar aneh. Ia baru saja mau menjawab tapi,

“ OPPA!!”

Serentak kami menoleh ke arah suara itu.Seorang gadis manis yang melambai ke arah kami.Tepatnya ke arah Siwon oppa.Dengan langkah riang,ia menghampiri kami. Sekali lagi,tepatnya menghampiri Siwon oppa.Sial,aku tidak bisa mengendalikan rasa panas di wajahku. Lihatlah dia! Cantik,tinggi,modis dan stylist high class.

“ Kenapa kau meninggalkanku,eoh? Aku mencarimu sedari tadi dan kau malah duduk di sini. Ah,setelah ini bukannya kita mau mengunjungi halmeoni,oppa?”

Bahkan suaranya pun begitu merdunya.Dan caranya menatap Siwon… Ah,aku buang pandang.Di saat yang sama,kurasa ia telah menyadari kehadiranku.

“ Annyeong!”

Terpaksa,aku kembali menoleh dan membalas sapaan seraya berusaha untuk tetap terlihat santai.

“ Annyeong!”

“ Temanmu,oppa?”

Kulirik Siwon oppa,dia mengangguk pelan.Dari matanya aku bisa tahu kalau dia memintaku mengiyakannya.Kupaksakan diriku tersenyum.

“ Yoona imnida!”ujarnya seraya mengulurkan tangannya.

“ Tiffany Hwang imnida!”

Ia tersenyum. “ Tiffany eonni. Benar,kan?” Aku mengangguk.Jadi,dia lebih muda dariku,ya?Tapi,siapa dia?

“ Ekhm..Fany-ya,sebenarnya aku masih mau berbicara banyak,tapi kami sedang ada urusan,jadi bagaimana kalau kita ketemu di café langganan dekat kampus? Kau bisa,kan?”

Bingung,aku hanya mengangguk.

“ Kenapa tidak bicara sekarang saja,oppa? Kita juga tidak dikejar waktu,kan?”sahut Yoona.Dalam hati aku mengiyakan pelan.Tapi,Siwon oppa menggeleng.

“ Aku juga berencana mengundang beberapa teman lama,ya..semacam acara reuni-an. Tidak apa-apa,kan?”

Yoona tersenyum lebar. “ Tentu saja,chagi!”

Deg.

Aku mengerjap cepat.Bingung.Kaget.Aku tidak salah dengar,kan?Apa tadi? Chagi? Dia memanggilnya ‘chagi’ ?Kupandangi mereka bergantian.Bagaimana mungkin dia bisa…Jantungku berdegup aneh. Tidak. Kenapa seperti ini?

“ Eonni,kami pamit dulu,ya? Senang bertemu denganmu!”

“ Ah..ye,silahkan!”

“ Fany-ya,jangan lupa jam 8 nanti malam,ya? Ini penting!”

Aku mengangguk dengan berat.Dia tersenyum kecil padaku sebelum berlalu dengan tangan gadis itu melingkar di lengannya.

Aku terpekur. Ada apa ini sebenarnya? Apa gadis itu adalah yeojachingunya? Tapi kenapa? Bukankah yeojachingunya adalah aku?Aku tidak mengerti.Dan aku tidak sabar menunggu malam tiba.Aku harus mendengar semua penjelasannya.

Bagaimana mungkin ia bisa memiliki yeojachingu lain padahal seminggu lalu ia menelponku dari Tokyo dan mengatakan ‘saranghae’ untuk yang kesekian kalinya.Lagipula,dia yang kukenal bukanlah seorang playboy.Tapi,kenapa?Mungkinkah kehidupan Tokyo mengubahnya? Aku benar-benar gelisah.

***

“ Aku pulang!!”seruku lesu.

Tidak ada jawaban.Memangnya siapa yang akan menjawabku di rumah kosong begini? Appa belum pulang dari Singapura,jadi tanpa perlu beramah-tamah dengan siapapun,aku langsung masuk ke  kamar dan menjatuhkan diri di atas kasur empukku.

Berjuta pertanyaan sekarang berkelebatan di kepalaku.Dan topiknya,yah…masih seputar Siwon oppa.Aku terus terdiam di posisi menghadap ke langit-langit kamar ini selama beberapa saat sebelum aku bangkit karena teringat sesuatu.

Aku beranjak mendekatirak bukuku dan menarik sebuah album tebal dari sana.Aku menatap sampul album photo ini dengan sendu. Sifany.Yeongwonhi Sarang . ( Love forever)

Perlahan,kubuka lembar demi lembar album ini.Mengamati foto-foto moment kami bersama sejak masih awal hubungan kami sekitar  2 tahun lalu.

Kenangan demi kenangan mulai bermunculan di ingatanku.Senyumnya.Tawanya.Genggaman tangannya.Kecupannya.Kejahilannya.Suaranya.Semuanya. Ah… betapa indah cerita kami dulu.Aku tak bisa menahan senyumku melihat foto-fotonya yang kuambil diam-diam. Dia yang sedang makan.Dia yang sedang memainkan piano untukku.Dia yang sedang menghias kue ulangtahunku.Dia yang berlumuran krim.Dia yang sedang berjingkrat-jinkrat disemprot air.Kami yang sedang meniup lilin bersama.Kami yang sedang duduk di pantai berdua.Kami yang sedang makan icecream berdua.Semuanya tentang kami dan melihat kenangan ini selalu membuatku tersenyum tanpa peduli berapa ratus kali aku melihatnya.

Tapi,dilembar terakhir,senyumku mendadak menyusut.Foto terakhir yang ada di albumku ini adalah foto kami berdua di Incheon Airport,sesaat sebelum dia take-off melanjutkan studynya di Tokyo sana.

Seharusnya hubungan kami tetap sebagai yeoja-namjachingu,tapi kenapa saat bertemu tadi,hubungan kami jadi awkward seperti itu? Karena Yoona?

Aku menghela napas berat lalu menyimpan kembai album itu. Seharunya aku tidak gegabah mengambil keputusan sendiri.Aku yakin,sebrengsek-brengseknya ia,pasti ada penjelasan dibalik itu semua.Rasanya tidak adil kalau aku tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

Kulirik jam dinding.Masih ada 5 jam lagi.Kuraih hp-ku. Taeyeon.Call.

“ Tae-a,malam ini aku menginap di tempatmu,ya? Soalnya rumahku sedang kosong dan juga,ada sesuatu yang mau kuberitahukan padamu,ne? Gomawo!”

Aku menghela napas.Nanti,kalau ada sesuatu yang terjadi di luar kendali dan keinginanku,aku bisa langsung menemui Tiffany dan menumpahkan unek-unek-ku di sana.Sekarang,sebaiknya aku mencari gaun untuk malam ini.

***

Jam 8 tepat,aku tiba di café SonElf,seperti yang dijanjikan sebelumnya.Dia sudah datang lebih awal dan sedang menungguku.Tidak ada siapapun bersamanya.Reuni-an yang tadi dikatakannya hanyalah alasan,bukan?

“ Jadi,apa yang mau kau katakan,oppa?”tanyaku pelan,beberapa menit setelah kami hanya diam menyantap makan malam.

“ Sebenarnya,ini sulit.”

“ Kenapa? Aku tidak akan marah,kok!”

Ia menunduk dan melihatnya gelisah seperti itu hanya membuat rasa cemas dan takutku semakin bertambah.Saat ia mengulurkan tangannya dan memegang tanganku di meja,

“ Mianhae…”

Aku tersenyum miris.

“ Wae,oppa?”tanyaku,aku tidak bisa memungkiri kalau ada nada ketakutan dalam suaraku.Ia mendongak,menatapku.Aku agak jenggah ditatap seperti itu olehnya.

“ Fany-ya,kalau aku ditanya apakah aku mencintaimu,aku pasti akan jawab iya.Kalau aku ditanya apakah aku menyayangimu aku pasti akan langsung mengatakan iya.Tapi—ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini dan—”

“ Dan itu mengubah jawabanmu?”potongku cemas.Bisa kurasakan kegalauan dan keterkejutannya saat ini.Ia menggeleng.

“ Untuk apa mengubahnya? Aku masih mencintaimu dengan sepenuh hatiku,Fany-ya!”

“ Hm..baiklah.Aku bisa mengerti!”gumamku.Ia tersenyum. Tapi,senyumnyadipenuhi beban.

“ Apa yang terjadi di Tokyo,oppa?”tanyaku kemudian.

Kulihat ia menarik napas panjang.Baiklah,Tiffany,kuatkan mentalmu! Sekarang kau akan mendengarnya!

“ Sebelumnya aku minta maaf—”

“ Ne,kau sudah mengatakannya tadi,oppa!”

Ia tersenyum kecil lalu menunduk,aku bisa merasakan kegalauan dankegugupannya dari caranya memegang tanganku.Sekarang,aku akan mendengarkan ceritanya.

“ Keluargaku hampir bangkrut.Harta appa habis terkuras membayar hutang perusahaan,eomma juga jatuh sakit.Keluargaku melewati masa terberatnya saat itu,Fany-ya,”

“ Oppa,kenapa kau sama sekali tidak mengabariku?”potongku.Sungguh,aku sangat terkejut mendengar ini.Sekarang,kurasa aku sudah mulai sedikit mengerti kenapa wajahnya tidak seceria dulu lagi.

“ Mianhae,aku tidak mau membuatmu khawatir.Lagipula,ada teman appa yang menolong kami dan membantu kami melewati masa sulit itu.Appa sangat berterimakasih pada temannya dan appa berencana mempertemukanku dengan putri temannya itu. Ne,kau sudah melihatnya tadi!Dia Yoona. Awalnya aku menolak,bagaimana mungkin aku bisa menerima perjodohan  itu sementara aku masih memiliki namamu di hatiku,Fany-a? Tapi,appa memintaku sekali saja.Begitulah…saat aku melihatnya,aku sangat kasihan padanya.” Siwon menarik napas panjang. Aku masih menunggu dengan cemas.

“ Dia masih muda,cantik,berada,tapi dia tidak memiliki senyum di wajahnya.Appa memberitahuku kemudian kalau dia menderita penyakit berbahaya dan dokter sudah memperkirakan umurnya tidak akan lama lagi.Itulah alasan kenapa dia terlihat sangat menyedihkan.Ia selalu melewatkan hari-harinya seorang diri.Ia menarik diri dari pergaulan luar dan hanya terus terpuruk sendirian.Aku kasihan melihatnya.Keluarganya hanya ingin dia bisa tersenyum dan tertawa seperti gadis normal lainnya tanpa ditakuti oleh bayang-bayang penyakitnya.Lalu,aku memutuskan untuk mencoba mendekat dan menghiburnya.Aku bisa melihatnya perlahan tersenyum.Dia bilang,dia merasa nyaman bersamaku.Dan aku selalu mencoba untuk tetap membuatnya tersenyum seperti iu.Kau bisa lihat dia sekarang.Dia memang sudah terlihat seperti gadis normal lainnya,tapi didalam,dia sangat rapuh.”

“ Aku mengatakan ini semua bukan untuk menyakitimu,Fany-ya,aku hanya tidak ingin membuatmu kecewa dan salah paham,karena sampai detik ini pun,aku masih mencintaimu.Aku sendiri bingung apa yang harus kukatakan padamu agar kau bisa mengerti keputusanku.Aku tahu ini berat bagimu,Fany-ya,tapi aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan!”

“ Jadi,kau membohongi Yoona kalau kau mencintainya,oppa?”tanyaku pelan.

“ Ah..tidak seperti itu.Selama ini Yoona selalu bertanya apakah aku menyayanginya atau tidak,aku menjawab kalau benar aku menyayanginya. Aku memang menyayanginya seperti adikku sendiri.Aku mohon mengertilah,Fany-ya,aku tahu kalau aku egois dan menyakitimu dengan cara seperti ini,tapi ini benar-benar sulit—”

Aku menunduk lagi. Jujur saja,aku juga bingung. Apa yang harus kulakukan?

“ Fany-ya…..”

Apa,Tiffany? Cepat berpikirlah! Apa yang harus kaulakukan?

“ Hmm….baiklah!” gumamku, “ Kurasa aku bisa mengerti,oppa. Tapi—” kugigit bibirku,aku ragu dan berat mengatakannya,tapi hubungan kami akan terasa lebih menyakitkan jika aku tidak mengatakannya.Kutarik napasku panjang-panjang, “—lebih baik kita berakhir saja,oppa!”

Tuhan…

Seandainya ada jalan lain yang lebih baik dari ini,aku pasti tanpa ragu akan segera memilihnya karena aku sendiri tidak sanggup melihat wajahnya sekarang.Tatapan matanya yang terluka itu…

“ Tiffany,maksudku bukan begitu! Aku hanya ingin memberikan pengertian padamu! Aku sama sekali tidak ingin seperti ini!”

Kupaksakan diriku tersenyum dan kuberanikan menatap matanya.Matanya yang penuh dengan perasaan luka itu…Mataku kembali mulai memanas.

“ Oppa,aku mengerti.Aku tahu kalau kau mencintaiku,sama seperti aku mencintaimu!Tapi,keadaan saat ini tidak cocok untuk hubungan kita,oppa!”

“ Tapi,bukan dengan cara berakhir seperti ini,Tiffany!”

Kugigit bibirku kuat-kuat,mencoba menahan agar airmata yang sudah berkumpul di pelupuk mataku tidak terjatuh saat ini juga.

“ Oppa…apa menurutmu berakhir seperti ini berarti kita tidak saling mencintai lagi? Aniyo…aku hanya tidak ingin kau terus berbohong,oppa!”

“ A-apa maksudmu?”

Aku menarik napas panjang,mencoba untuk menenangkan hatiku.

“ Oppa—apa yang kau jawab kalau Yoona bertanya tentang aku? Apakah kau akan menjawab kalau aku adalah yeojachingumu? Bukankah itu akan menyakitinya,oppa? Kalau pun kau bilang bukan,apakah kau juga tega mempermainkan hubungan kita seperti itu? Tapi,kalau kita putus,kau tidak perlu lagi berbohong dan menyakiti harapan siapapun—pikirkanlah,oppa!”

Hening.Tidak ada respon darinya.Kuberanikan diriku mendongak menatapnya.Oh God…aku paling tidak bisa melihatnya seperti itu.Aku buru-buru menyembunyikan wajahku lagi.

“ Tiffany…”

“ Aku tahu benar hatimu bagaimana,oppa!Memang sakit rasanya seperti ini. Tidak ada yeoja yang ingin mengambil jalan yang seperti ini,tapi—” Aku tersenyum pahit,aku sudah tidak sanggup lagi berpura-pura tegar.Suaraku sudah bergetar dan pipiku mulai basah, “ Setelah aku pikir,dibandingkan dengan aku,Yoona lebih tidak beruntung.Kau benar,oppa,di saat dia membutuhkan dukungan darimu,alangkah buruknya kalau kau menolaknya. Aku tahu kalau kau masih mencintaiku dan aku harap—kau akan terus mencintaiku,tapi seperti katamu tadi,lebih baik tetaplah di sisi Yoona. Dia lebih membutuhkanmu,oppa!”

Pertahananku benar-benar sudah runtuh.Aku terisak.

“ Tiffany…”

“ Aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku jika aku berani bahagia di atas air mata orang lain,memang sakit,oppa.Tapi,kalau memang sudah begini takdir kita,apa yang bisa kita lakukan selain berjalan mengikuti alur? Untuk saat ini,jangan biarkan Yoona tahu mengenai kita.Tetaplah berada di sisinya seperti sebelum kita bertemu lagi,oppa!lni memang agak sulit..tapi,lambat laun kita akan terbiasa.Cepat atau lambat,ini akan menjadi mudah—“

Ia menggeleng putus asa. “ Bukan begini maksudku,Fany-ya!”

“ Aku tidak bisa menyakiti harapan orang lain,oppa!”lirihku parau.

“ Meskipun dengan mengorbankan perasaanmu seperti ini?”

Kukuatkan diriku untuk mengangguk.Aku bisa mendengarnya mendesah putus asa.Aku menunduk lagi.

“ Kalau kau mencintaiku,belajarlah untuk melupakan aku,oppa! Terlalu banyak hal yang harus kita korbankan jika kita terus bersama,”aku menghapus air mataku,pertahananku sudah runtuh dan akan semakin memburuk kalau aku masih di sini, “ Gomawo untuk segalanya,oppa!”

Dengan berusaha keras mengabaikan tatapan tak setuju dan terlukanya,aku melepaskan tanganku dari genggamannya dengan perlahan lalu bangkit.Aku ingin cepat meninggalkan tempat ini.Aku butuh tempat untuk mengekspresikan diriku tanpa perlu berpura-pura lagi.

 

“ Tiffany,aku masih sangat mencintaimu!”

Aku menelan ludah getir dan berbalik dengan perlahan.Kupaksakan diriku tersenyum.

“ Ne,nado saranghae! Tapi,lebih baik kita berpisah,oppa!”

***

Aku mengamati jalanan kota Seoul yang mulai ramai dari balkon apartemen Taeyeon.Entah sudah berapa lama aku di sini. Sejam atau dua jam bahkan sehari pun rasanya tidak cukup untuk membuatku melupakannya. Keputusan yang kuambil tadi malam…Keurae,aku akan menjalaninya! Tidak peduli betapa sakitnya aku harus menjalaninya.Toh,itu adalah pilihanku.

Putus dengan seseorang bukan berarti mereka tidak saling mencintai lagi,tapi karena mereka tidak ingin menyakiti orang yang mereka cintai lebih dalam lagi.

Aku mendesah pelan. Benar,aku memutuskan untuk berpisah juga demi kami. Aku tidak bisa melihatnya didera rasa bersalah seperti itu.Aku juga tidak ingin menyakiti harapan yeoja itu. Bagaimana seandainya aku yang berada di posisi yeoja itu? Mengetahui fakta kalau orang yang dicintainya ternyata tidak sepenuh hati mencintainya mungkin akan sangat menyakitinya,bagaimana lagi jika ia tahu kalau orang yang dicintainya ternyata adalah seorang pendusta yang selalu mengatakan ‘ saranghae’ padahal ia juga berkencan dengan yeoja lain?Menyakitkan,bukan?

“ Yah,Tiffany Hwang!”

Aku menoleh pelan lalu segera tersenyum saat melihat Taeyeon yang telah berdiri di depan pintu balkon dengan membawa selimut tebal.

“ Kau sudah bangun rupanya!”gumamku. Taeyeon mendekat.Wajahnya dingin tapi penuh simpati.Semalam aku sudah menghabiskan banyak waktunya dengan menangis di depannya.Tanpa mengatakan apa-apa,ia memakaikan selimutnya padaku lalu memelukku.Aku tersenyum.

“ Sudah berapa lama kau di sini dengan piyama tipis begini,eoh? Kau tidak tahu kalau sekarang sudah mulai musim dingin?” Aku hanya tersenyum mendengar omelannya.

“ Setidaknya aku sudah membaik,Tae-ya,gomawo!”lirihku.

Bisa kurasakan senyum di wajahnya.

“ Aku tidak bisa menghalangimu,Fany-ya,jadi kau harus berpegang pada keputusanmu! Aku tidak ingin melihatmu menangis karena keputusanmu itu,ara?” lirihnya. Aku mengangguk pelan.

“ Gwaenchana,semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir !”balasku.

***

Hari ini aku mengalami kecelakaan kecil. Seseorang menyambarku di jalan dan membuat lenganku jadi lecet dan berdarah. Setelah memeriksakannya ke dokter langgananku,aku bermaksud pulang. Tapi,langkahku tertahan saat menyadari kehadiran gadis itu. Yoona. Aish,aku tidak mau bertemu dengannya. Aku takut jika ternyata harus melihat Siwon oppa juga di sini. Aku harus pergi.

“ Eonni!Tiffany eonni!”

Ahh…sial! Dia sudah melihatku.Aku menoleh dan tersenyum padanya.

“ Ne,annyeong,Yoona-ya!”

Ia tersenyum riang lalu bergegas menghampiriku.Langkahnya ringan seolah tanpa beban,tanpa merasa terganggu dengan tiang infus yang didorongnya.

“ Ahh,aku tidak menyangka kita bertemu di sini lagi,eonni! Siapa yang sakit? Oh..lenganmu—”

Aku hanya tersenyum masam dan menarik lenganku ke belakang tubuhku.Aku tidak suka orang mengkhawatirkanku seperti ini.

“ Hanya lecet sedikit,kok,sudah tidak apa-apa.Kenapa kau berkeliaran di sini,Yoona-ya?”

“ Aku bosan di kamar,”

“ Tapi,kau kan sakit,Yoona-ya,tidak baik pasien sepertimu berkeliaran seperti ini.Kaja,eonni antar kembali ke kamarmu!”

Ia tersenyum, “ Tapi,kita berkeliling dulu,ne?”

Tidak ada pilihan,aku mengangguk. “ Baiklah,kaja !” Aku menuntunnya berjalan.Kasihan dia…aku tidak tahu apa tepatnya penyakit yang dideritanya,tapi sepertinya penyakitnya memang cukup parah.Bisa kulihat dari garis wajahnya yang pucat,bibirnya yang juga pucat,dan tubuhnya yang kurus.Tapi,lihatlah..dia selalu tersenyum.dan senyumnya bukan senyum paksaan dan penuh beban.Ahh..mendadak aku iri melihat ketegaran gadis ini.

“ Yoona-ya,kau sedang bahagia,ya? Dari tadi kau terus tersenyum ceria,” kataku akhirnya.Aku penasaran juga apa tepatnya yang membuat dia mampu tersenyum seindah itu.

“ Aku memang suka tersenyum,eonni.Eomma bilang,dengan senyumlah aku bisa membuat bebanku terasa lebih ringan.Selain itu,ne,aku memang sedang bahagia.Aku senang bertemu denganmu,eonni!”ia menoleh padaku dan membuatku mengernyitkan kening bingung, “ Kau eonni pertama yang membuatku merasa nyaman di pertemuan pertama kita.Aku juga sudah pernah mendengar tentangmu,eonni,”

Aku tersenyum miris,dari Siwon oppa…aku rasanya tidak mau mendengar apa yang pernah didengar gadis ini dari Siwon oppa tentangku.

“ Siwon oppa memberitahuku,kalau kau adalah temannya yang paling baik dan cantik.Saat di Tokyo,oppa sering bercerita tentangmu dan membuatku ingin bertemu denganmu,eonni.Kata Siwon oppa,kau bisa menjadi eonni yang baik untukku.Karena kurasa bagi Siwon oppa kau adalah teman yang berharga,aku jadi merasa nyaman bersamamu,eonni!Gomawo!”

Aku lagi-lagi hanya tersenyum miris. Keuraeyo? Teman yang paling baik dan cantik? Ternyata begitu dia menyebutku.Ahh,oppa…kenapa kau harus menyebut namaku di depan yeoja sebaik ini? Tapi,kenapa dia justru merasa nyaman bersamaku jika tahu kalau aku adalah teman oppanya yang sangat berharga itu? Tidakkah dia seharusnya cemburu padaku?

“ Yoona-ya…”

“ Ah,sudah sampai! Ayo,masuk,eonni,kita bicara di dalam saja! Ada banyak yang mau kuceritakan padamu,kaja!”

Aku mengangguk dan memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu sendiri.Tapi,belum sempat aku melangkah untuk melewati pintu ini,ponselku berdering. Donghae seonbae’s calling.

Ahh..kebetulan sekali,aku akan memberitahunya kalau aku akan tinggal sebentar di sini.

 

***

 Author  P.O.V

 

“ Yoong-a! Kau darimana saja?”tanya Siwon cemas begitu Yoona masuk ke kamarnya.

“ Aku bosan di kamar,jadi aku tadi berkeliling sebentar.Tidak apa-apa,kan?“

Siwon menghela napas panjang lalu mendekati Yoona. “ Kau ini  membuatku khawatir!”

Yoona tersenyum manis meminta maaf,membuat Siwon memeluknya.

“ Jangan membuatku cemas lagi,eoh?” bisiknya.Yoona mengangguk pelan di balik bahu Siwon.

“ Mianhae—tapi,oppa sih sibuk di depan laptop terus—aku jadi bosan diacuhkan!”

Siwon tersenyum. “ Baiklah,aku akan mengurangi porsi jam kerjaku saat menjagamu mulai sekarang.Tapi,jangan berkeliaran tanpa sepengetahuanku lagi,ne?”

“ Iya,arasseo! Tapi,aku senang bisa berkeliling hari ini.Aku bertemu dengan seseorang,oppa— Itu temanmu yang pernah bertemu dengan kita,teman yang pernah kau ceritakan itu,oppa—”

Tepat saat itu juga,pintu kamar itu bergeser terbuka.Dan posisi Siwon yang memeluk Yoona dan berhadapan dengan pintu langsung membuatnya melihat siapa yang datang.

“ –namanya Tiffany eonni,oppa ingat?”

Tiffany berdiri kikuk di depan pintu.Wajah cerianya yang sudah berhasil ia bentuk sesaat sebelum ia masuk mendadak menghilang begitu ia melihat apa yang di depan matanya sekarang.Ia menelan ludah getir, dan segera buang pandang ke arah manapun selain ke arah mereka.

Menyadari situasi yang terjadi,dengan pelan dan canggung,Siwon melepaskan pelukannya.

“ Masuklah,Tiffany!”katanya.

“ Oh,eonni!!”seru Yoona gembira,ia melupakan Siwon dan menghampiri Tiffany. ”Ayo,masuklah,eonni!”

Tiffany memaksakan dirinya tersenyum dan berusaha keras agar terlihat sesantai mungkin saat ia melewati Siwon dan duduk di sofa kecil di kamar itu.

“ Ah,oppa,kenapa kau diam saja? Ambilkan minum untuk tamu kita!”tegur Yoona.Siwon segera tersadar dan buru-buru membuka kulkas mini yang ada  di sana.

“ Ahh..tidak perlu repot-repot,Yoona-ya,seharusnya aku yang membawakanmu makanan,kau kan pasien!”kata Tiffany.Yoona hanya tersenyum tapi  kemudian ia bangkit.

“ Aku ke toilet dulu,eonni!”katanya.Tiffany sigap bangkit dan membantu mendorongkan tiang infus Yoona.

“ Gwaenchana,eonni,aku sudah terbiasa begini,aku tidak begitu kerepotan,kok!Eonni tunggulah aku dulu,ne?”kata Yoona tulus.Tidak ada pilihan lain,Tiffany mengangguk dan kembali duduk sambil memperhatikan bagaimana Yoona dengan mandirinya berjalan dengan langkah ringan.

“ Ini—minumlah!”

Tiffany terperanjat kaget mendengar suara Siwon yang membuyarkan pikirannya. Dengan canggung ia tersenyum dan menerima minuman kaleng yang disodorkan Siwon.

“ Gomawo !”lirihnya.Siwon tersenyum canggung.Tanpa sengaja,ia melihat lengan Tiffany yang diperban,

“ Fany-ya,lenganmu—”

Refleks,Tiffany menarik lengannya sebelum tangan Siwon berhasil menggapainya,ia buang pandang  ke arah lain, “ Gwaenchana! Hanya luka ringan—” gumamnya.

Siwon tersenyum pahit dan menarik kembali tangannya.Ia hendak mengatakan sesuatu,tapi pintu toilet Yoona telah terbuka dan Tiffany,seolah menganggap Siwon tidak ada,ia segera bangkit membantu Yoona.Meninggalkan Siwon yang masih terpaku di tempatnya,tidak tahu harus bersikap bagaimana.

***

Tiffany  P.O.V

 

Aku tersenyum melihatnya.Bahkan saat tidur pun ia terlihat sangat cantik,penuh pesona.Pantaslah Siwon oppa jadi sangat tidak mudah melepasnya.Kau benar-benar beruntung,Yoona-ya!Aku menghela napas lalu memperbaiki letak selimutnya sebelum bangkit.Aku harus pulang sekarang.Tapi,sebelum berbalik,aku menatapnya sekali lagi.Semoga kau bisa cepat sembuh,Yoona-ya…amat disayangkan gadis tegar yang ceria sepertimu terbaring sakit seperti ini…

“ Fany-ya…”

Aku menelan ludah getir.Kenapa aku lupa kalau di sini ada Siwon oppa?Aku berbalik menghadap padanya,tapi aku masih tidak bisa menatapnya.

“ Kenapa kau ke sini lagi,Fany-ya? Apa kau senang menyiksa dirimu seperti ini,eoh?”

Aku diam saja.Lagipula,aku tidak tahu harus mengatakan apa.Dia—ah,bagaimanapun,aku tidak pernah bisa membohonginya.

“ Aku…hanya ingin menjenguk saja,memangnya tidak boleh?”lirihku akhirnya.Aish,kenapa susah sekali berbicara dengannya sih?

Kudengar ia menghela napas berat.

“ Kondisi Yoona makin parah,jadi dia harus dirawat lagi.Padahal dari Tokyo dia kelihatan baik-baik saja.Aku tahu kalau kau selalu mengkhawatirkan orang lain seperti ini,tapi—lebih baik kau tidak datang lagi,Fany-ya!”

Aku mendongak, “ Kenapa? Toh,aku sudah mulai menganggapnya seperti adikku sendiri.”

“ Tidak usah merepotkan dirimu sendiri,kau juga masih harus belajar.Biar aku yang saja yang menjaganya.Lagipula…Kau hanya akan terluka kalau kau datang terus—Pulanglah!”

Aku tersenyum miris.Tadi,tanpa sengaja aku melihatnya.Caranya menatap Yoona…Dia benar,aku hanya akan semakin terluka jika aku selalu berada di sini.Aku menghela napas lalu mengambil tasku.

“ Kalau begitu,aku pulang dulu.Sampaikan salamku kalau dia sudah bangun,”

Ia hanya diam saja. Menatap ke arahku pun tidak. Aku berlalu menuju pintu.Tapi,belum sempat tanganku menyentuh gagangnya,tiba-tiba saja aku telah merasakan sebuah tangan telah melingkar di pinggangku dari belakang. Aku menelan ludah getir. Oppa…apa yang kau lakukan? Kenapa kau memelukku seperti ini?Kupejamkan mataku rapat-rapat.Terakhir kali…terakhir kali dia memelukku juga seperti ini.Saat ia ingin mengabariku kalau ia akan berpisah denganku,ia juga memelukku seperti ini.Aku…akh,oppa,kumohon jangan membuat pertahananku jadi goyah!

Aku menahan napas saat ia menopangkan dagunya di bahuku. Oppa…kenapa kau seperti ini? Bukankah kita sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita?

“ Fany-ya…”

Jantungku berdegup kencang mendengar bisikan lirihnya.Terdengar memilukan penuh beban.

“ Mianhae…–jeongmal mianhae…”

Tuhan,kuatkan aku! Kupaksakan diriku mengangguk pelan.Aku semakin sesak.Ingin rasanya aku menangis.

“ Aku tidak pernah bisa melepaskanmu,Fany-ya,tidak pernah bisa…mianhae karena melukaimu seperti ini—aku…”

“ Arasseo,oppa! Aku mengerti semua keputusanmu. Aku tidak akan datang lagi—aku janji,”lirihku.

Suaraku bergetar.Dan aku semakin ingin menangis saat aku mulai merasakan kalau bahuku basah.Tuhan…dia menangis!Ia memelukku semakin erat .Membuat beban di hatiku semakin membuncah.

Memang seperti ini.Saat cinta itu mulai terasa menyakitkan,air mata memanglah obatnya. Obat dari segala galau dan gundah.Tapi,oppa…kalau kau seperti ini terus…kau tidak perlu meminta maaf,oppa! Kau bahkan tidak bersalah apa-apa!Kugigit bibir bawahku dengan gelisah.Pertahananku mulai goyah saat aku merasakannya menangis.Menangis untukku.

“ Oppa,jangan menangis untuku! Gwaenchana,oppa.Aku mengerti semua ini,kok!”lirihku parau.Ia semakin memperat pelukannya.Kupejamkan mataku rapat.

Bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi kalau kau seperti ini,oppa?

Tuhan,kuatkan aku untuk tidak berbalik memeluknya juga.

Aku telah mengambil keputusan.Dan aku ingin mempertahankannya,meskipun itu sulit.

 

***

Eonni,kalau kau ada waktu bisakah kau datang ke sini?Siwon oppa selalu sibuk dengan laptopnya.Aku sangat berharap bisa melewatkan waktu denganmu,eonni.Yoona.

 

Aku menghela napas.Bagaimana ini?Dia memintaku datang lagi.Padahal,aku tidak tahu seberapa lamanya aku bisa bertahan dengan kehadiran Siwon oppa di sekitarku.Aku sendiri sudah berjanji untuk melupakannya atau setidaknya menunjukkan padanya kalau aku sudah melupakannya.Tapi,aku tidak bisa menolak permintaan Yoona. Aku bangkit,menyambar mantelku dan bergegas ke rumah sakit.

***

Senyum ceria Yoona  menyambutku pertama kali begitu aku membuka pintu kamarnya.Aku tersenyum membalasnya meskipun aku tahu,senyumku jelas kalah dibandingkan senyum disertai perasaan tulus yang memancar dari wajahnya.

“ Bagaimana keadaanmu,Yoona-ya?”sapaku seraya meletakkan buket bunga yang kubawa ke pangkuannya.

“ Sudah lebih baik.Kau tahu,eonni,perawat di sini sangat menyeramkan! Lihat,mereka menyuntikku tanpa ampun!”dengan nada biasa dan santai,ia menyingkap lengan bajunya dan memperlihatkan bekas suntikannya padaku,aku tersenyum, “ Aku kan sangat benci suntik! Ngomong-ngomong,gomawo bunganya.Kau tahu saja kalau aku suka dengan bunga ini!”

“ Ne,cheonmaneyo !  Aku senang kau semakin membaik,Yoona-ya! Tapi,ngomong-ngomong hari ini apa yang akan kita lakukan?”

“ Temani aku jalan-jalan di tepi sungai Han,bagaimana?”

“ Ah,baiklah. Tapi,apa dokter sudah mengizinkanmu keluar?”

“ Tentu saja.”

“ Aku akan ikut.” Sambar seseorang. Siwon oppa.

“ Jeongmalyo ?!”Yoona kegirangan.Siwon tersenyum dan mengangguk. “Yaaa!!!Gomawo,oppa!!”

Deg.

Yoona bangkit dan memeluk Siwon oppa erat.Aku bisa merasakan keterkejutan dan kecanggungan Siwon oppa, tapi aku sendiri terlalu kaget untuk memastikannya.Aku hanya bisa menunduk, mempermainkan jari-jari kakiku dengan perasaan galau.Aku dibakar cemburu.Apakah sesakit ini rasa itu,oppa? Padahal kalian hanya berpelukan…

***

Kami sudah tiba di tepian sungai Han dan mereka sedang berjalan berdua di depanku.Meskipun perih dan sesak ini terus menderaku,kupaksakan diriku tersenyum.Aku tidak boleh egois.Semua orang pasti ingin dicintai dan menghabiskan banyak waktu dengan orang yang mereka cintai.Dan Yoona juga berhak seperti itu. Adapun aku…aku sudah banyak menerima cinta darinya.

“ Tunggu di sini dulu,aku akan kembali!”

Yoona melambai penuh senyuman pada Siwon oppa lalu beranjak duduk di salah satu kursi taman. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.

“ Kau tidak lelah,Yoona?”tanyaku.Ia menggeleng.

“ Aku senang bisa menghabiskan waktu bersama kalian,eonni.”ujarnya.Aku hanya tersenyum dan mengalihkan pandangan ke arah sungai.

“ Eonni,apa kau tahu kalau aku ini sedang sakit parah?”Aku menoleh,agak kaget juga mendengarnya.Dugaanku benar,ada kepahitan di balik wajah itu.

“ Yoona,eonni yakin separah apapun penyakitmu,kau pasti akan bisa melawannya.Kau gadis yang kuat…kau pasti bisa melewatinya.”lirihku.Ia tersenyum pahit.

“ Eonni…aku mencintai Siwon oppa…”

 

Aku tahu. Aku sudah tahu itu. Tapi,kenapa rasanya selalu sakit?

“ Ne,Siwon-ssi juga menyukaimu,kan? Kalian serasi,kok! Apa yang salah?”

“ Kurasa…dia hanya menyayangiku,eonni! Hanya sebagai dongsaengnya,bukan yeojachingu…”

“ Kau dongsaeng sekaligus yeojachingunya,Yoona! Aku yang melihat kalian saja sudah berpikir kalau dia sangat mencintaimu,kenapa kau pesimis begitu,eoh?”

Ia hanya tersenyum. “ Benarkah dia juga menyukaiku,eonni?”

Aku menelan ludah getir, “ Ne—eonni yakin,dia sangat mencintaimu,Yoona!”lirihku akhirnya.

“ Ini!”

Aku terperanjat kaget.Siwon oppa rupanya sudah tiba di sini.

Yoona menerima gelas kopi yang disodorkan oleh Siwon oppa.Sedangkan aku,lebih baik aku menyibukkan diri dengan memandangi sungai Han.Dia masih memegang 2 gelas kopi,tapi ia sama sekali tidak menawariku.

“ Kalau kau sudah menghabiskan itu,kita segera pulang!”

Lihatlah…nada suaranya sungguh dingin sekali.Apa kau mendengar pembicaraanku,oppa? Aku menggiti bibir resah.

“ Oppa,kenapa kau tidak memberikan gelas Tiffany eonni? Kau membelinya untuknya juga,kan?”

“ Tidak usah,Yoona! Aku tidak begitu suka kopi,kok!”kataku cepat.Yoona mengernyit curiga padaku.

“ Oppa,kemarikan itu!”

Tanpa menunggu reaksi,Yoona menarik gelas kopi dari tangan Siwon oppa dan aku tidak tahu bagaimana kejadiannya,tapi tahu-tahunya,gelas itu tiba-tiba melayang dan sukses jatuh di pangkuanku.aku menjerit kepanasan dan segera bangkit mengibas-ngibaskan tumpahan kopi panas ini dari kakiku. Aigoo…mana aku hanya memakai rok mini!

“ Eonni,gwaenchanayo?! Mi-mianhaeyo,eonni!”

Aku hanya mengangguk sekilas seraya terus mengibaskan rokku.Aishh…panas sekali!!

Di saat aku sedang paniknya menghadapi rasa panas ini,sebuah tangan menarikku.Dan belum sempat aku mencerna apa yang terjadi,Siwon oppa sudah berjongkok dan mengelap bekas tumpahan kopi itu dengan sapu tangannya.Aku tertegun luar biasa.

“ Eonni..mianhaeyo! Jeongmal mian—”

Aku tersadar dan segera menoleh pada Yoona tapi—

“ OMO!!Yoona-ya!!”

Aku hanya bisa menjerit panik melihatnya.Yoona…dia…hidungnya mengeluarkan darah segar!Aku langsung melupakan rasa panas di kakiku demi melihat Yoona.Wajahnya semakin pucat. Tangannya gemetar. Aku membekap mulutku ketakutan.

“ Yoona-ya…”

Aku tidak bisa melakukan apapun selain hanya terpaku schok di tempatku.Kesadaranku baru muncul saat Siwon dengan sigap menolong Yoona dan membawa Yoona yang sudah menggap-menggap kehabisan napas ke mobilnya.

“ Tiffany,kenapa kau masih bengong di situ,eoh?!”

Aku terperanjat dan dengan segera menyusul mereka.

***

Koridor RS diliputi keheningan yang mencekam.Aku mondar-mandir gelisah sambil sesekali menggigiti kukuku.Para dokter yang menangani Yoona di UGD belum juga keluar,membuatku harus menunggu lama dalam kegelisahan luarbiasa ini.Aku melirik arlojiku.Sudah lewat 20 menit.Ada apa sebenarnya dengan Yoona?

Tak jauh dari tempatku mondar mandir seperti ini,Siwon oppa duduk menunduk terpekur memandangi lantai.Aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresi yang ada di wajahnya.Tapi,aku yakin ia pasti diliputi kecemasan yang luarbiasa.Sama sepertiku,tapi ia  tentu saja akan lebih mencemaskan Yoona ratusan kali lipat dibandingkan aku.Apa mungkin ia menangis?

Aku menghela napas dan memutuskan untuk menghampirinya,tapi belum lagi aku tiba di dekatnya,pintu UGD akhirnya terbuka.Aku sontak segera mengalihkan perhatian ke sana,tapi masih sempat sekilas aku melihat gerakan pelan Siwon oppa menyeka wajahnya.Aku menelan ludah,getir.Dia baru saja menangis,bukan?

“ Bagaimana keadaannya,uisa-nim ?”

“ Masih labil,tuan Cho.Untuk sementara ini,pasien akan dipindahkan kembali ke ruang ICU,jujur saja penyakitnya semakin memburuk.Pasien akan mendapatkan perawatan intensif untuk waktu ini.Kami minta supaya keluarga pasien bisa datang dan menemani pasien karena saat ini pasien sangat membutuhkan kehadiran orang terdekatnya untuk melewati masa kritisnya.”

Tidak ada tanggapan dari Siwon oppa selain tangannya yang jatuh terjuntai lemas.Aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresinya karena ia membelakangiku.

Kulihat ia mengangguk pelan.Uisa-nim itu menepuk bahu Siwon oppa pelan sebelum berlalu meninggalkan kami dalam keheningan yang aneh ini.

“ Oppa…”

Ia tidak menggubrisku,tapi ia langsung menjatuhkan dirinya di atas kursi tunggu dengan tangan yang mencengkram rambutnya.Frustasi.Melihatnya seperti  itu selalu saja membuat hatiku bergetar sekaligus membuatku bingung harus bagaimana.

Apa aku harus duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya? Atau aku harus meninggalkannya sendiri saja?

Kenyataannya,aku tidak melakukan salah satu dari pilihan itu.Sampai lima menit aku dilanda kebingungan seperti ini,aku masih saja berada pada posisiku semula.Hanya terdiam melihatnya.

“ O..oppa…gwae–gwaenchana?”

Lagi-lagi,aku diacuhkan.Aku semakin dilema.Aku sungguh prihatin melihatnya seperti ini,tapi di sisi lain,aku juga dibakar cemburu.Lihatlah…dia bahkan mengacuhkanku karena kekhawatirannya pada yeoja itu.Jadi…saat kau mengatakan bahwa dia hanya sebatas kasih-sayang oppa-dongsaeng,apakah hubungan itu seperti ini? Seolah kau juga ikut sekarat hanya dengan memikirkannya…

Aku iri.Aku cemburu.Yoona memang sangat tidak beruntung dengan penyakit  berbahaya di tubuhnya.Tidak seorangpun yang menginginkan hidup mereka dikekang oleh penyakit.Tapi,di sisi lain,dia sungguh beruntung mendapatkan perhatian dan limpahan perasaan dari namja seperti Siwon oppa.Aku kasihan dan bersedih atas penyakit dan ketidakberuntungan Yoona,tapi aku juga cemburu atas perhatian dan cinta yang ia dapatkan dari Siwon oppa.Ironis,ya?Aku tersenyum pahit.

Dengan perlahan,aku berjalan mendekatinya.Hanya berdiri di sampingnya.Ia sama sekali tidak mendongak,atau melakukan gerakan apapun lainnya.Seolah ia tidak menganggapku ada.

“ A…aku..akan pulang dulu,Siwon-ssi!Aku juga turut berduka…sampaikan salamku untuk Yoona nanti! Jangan khawatir!Yoona gadis yang kuat…dia…dia pasti bisa menjalani semua ini dengan baik…”

Hening.

“ Aku akan kembali lagi nanti,Siwon-ssi!Apa kau butuh sesuatu?”

“ Pulanglah saja!”

Aku tersentak.Dia baru saja berbicara denganku.Tapi,nada suaranya…kasar…dingin…

“ Siwon-ssi…aku—”

“ Apa kau selalu seceweret ini,Tiffany?!Kalau kau ingin pulang,pulang saja! Kenapa kau harus menceramahiku,eoh?!Kau pikir aku tidak bisa menanggung ini semua?Kau pikir aku tidak bisa bertahan sendiri?”

“ Siwon-ssi…”

“ Aku sudah bilang,dia tidak boleh keluar terlalu lama tapi kau masih saja ngotot mengajaknya!Dia memang manja seperti itu tapi bukan berarti kau harus menuruti semua keinginannya!Kalau sudah seperti ini,apa lagi yang akan terjadi?!Seharusnya sekarang ia baik-baik saja,seharusnya ia tidak perlu masuk ICU lagi,seharusnya sekarang dia bisa tertawa dan tersenyum! Bukannya terbaring lemah seperti itu lagi—”

Aku sudah kehilangan kata-kataku. Mataku sekarang sudah dipenuhi genangan air.Kenapa dia bisa berkata seperti itu?Kenapa dia harus membentakku?

“ Siwon-ssi…”

Ia buang pandang.Aku bahkan bisa melihat urat di pelipisnya berkedut marah.

“ Jangan pernah datang lagi kalau hanya akan berakhir seperti ini!Mungkin kau sangat terkejut melihatku seperti ini,mianhae—tapi,aku sama sekali tidak ingin kehilangan dia.Dia..sangat berharga bagiku…”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,aku tahu bagaimana tepatnya perasaan terluka dan terbuang seperti ini.Dan aku tidak ingin merasakannya lagi seumur hidupku.Rasanya terlalu menyakitkan.

***

Malam semakin larut.Tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku.Perasaan gelisah itu terus menderaku tanpa ampun.

Bayangan kemarahan Siwon oppa.Yoona yang menggap-menggap dengan darah mengucur dari hidungnya.Siwon oppa yang meremas rambutnya frustasi.Helaan napas dokter selepas memeriksa Yoona.Senyum tulus Yoona.Wajah cemas Siwon oppa.Yoona dan Siwon oppa yang berpelukan.Genggaman terakhirku dengan Siwon oppa. Icecream Mint-choco.Yoona yang terbaring tertidur di ranjangnya.Siwon oppa yang memelukku.Yoona yang nyaris menangis memintaku berada di sisinya.Siwon oppa yang menangis di bahuku.Siwon oppa yang tadi membentakku.Semuanya muncul dalam bentuk kilasan cepat.

Aku segera tersentak bangun.Bagaimana aku bisa tidur di saat seperti ini?Aku menghela napas berat sebelum memutuskan untuk bangkit.Aku sama sekali kehilangan minat dibuai mimpi malam ini.Lagipula kalau aku tidur dan bermimpi,aku takut kalau aku harus terbangun dengan bersimbah keringat karena mimpi buruk.Cara Siwon oppa membentakku saja sudah terasa lebih dari cukup sebagai mimpi buruk yang tidak ingin kuulangi lagi.Bagaimana jika nantinya bayangan Yoona yang kesakitan memasuki alam mimpiku?Aku menggelengkan kepala cepat,berusaha mengusir bayangan buruk itu.

Kulirik jamku.Lima menit lagi pergantian hari.

Aku menarik langkahku keluar ke balkon.Dingin.Tapi,setidaknya ini cukup membantuku menenangkan diri.Kupejamkan mataku rapat,menikmati angin malam yang menusuk tulang.

Sial,kepalaku terus dipenuhi bayang kegalauan Siwon oppa dan mengingat itu semua hanya membuatku kembali dibakar cemburu.

Dia sangat berharga bagiku… Aku tidak ingin kehilangan dia…

Sepertinya pilihanku untuk mengakhiri hubungan kami memang pilihan yang tepat. Lihatlah sekarang… Dia sudah mengakuinya padaku.Aku gelisah.Apakah akhirnya akan seperti ini?b Benar,kami telah berakhir.

Kegelisahan dan kegalauanku terbuyarkan tiba-tiba oleh dering ponselku.Aku mengerutu pelan.Siapa yang menelpon tengah malam begini? Aku masuk kembali dan meraih ponselku. Taeyeon?

“ Ne,Tae-ya! Ada apa? Kenapa kau menelpon malam-malam begini,eoh? Apa yang terjadi?”ujarku cepat sebelum ia sempat bicara.Aku jelas saja sangat khawatir padanya.Taeyeon tidak pernah menelponku di saat tengah malam seperti ini.

“ Fany-ya….”

“ Ada apa? Kenapa suaramu bergetar?!”

Aku semakin cemas kalau begini.

“ Datanglah ke rumah sakit sekarang!”

“ Ne?! Kenapa? Siapa yang sakit? Ada apa,Tae-ya?”desakku khawatir.

“ Pokoknya datang sekarang! Ini situasi gawat,Fany-ya!Cepat,ne?!Aku menunggumu 5 menit lagi,oke?!Jangan buang waktumu sedetik pun,Tiffany Hwang! Ini menyangkut urusan hidup-mati orang!”

Klik.

Aku termangu di tempatku. Apa katanya barusan? Ke rumah sakit secepatnya? Apa jangan-jangan…Yoona…

Oh,Tidak!Tanpa berpikir panjang lagi,aku menyambar mantel untuk menutup piyamaku dan dengan segera berlari secepat kilat menuju mobilku.

***

Hal pertama yang terpikir dalam kepalaku saat melihatnya adalah aku tidak akan bisa mempunyai banyak waktu lagi untuk melihatnya.Ia terbaring lemah di atas ranjang dengan segala macam peralatan medis di tubuhnya.Suara detakan jantungnya yang dihitung oleh komputer terdengar sangat lemah.Garis-garis napasnya di layar komputer juga merendah. Hanya beberapa milimeter sebelum melurus.Mataku langsung memanas tanpa kontrol melihatnya.

Bagaimana mungkin gadis periang yang ramah sepertinya bisa terbaring lemah tanpa daya seperti ini?Bagaimana mungkin gadis yang selalu dihiasi dengan senyum menawan tiada banding itu bisa terkalahkan oleh penyakitnya seperti ini?

Aku buang pandang,berusaha mati-matian menahan air mataku.

“ Eo..eon..eonni…”

Bahkan suaranya pun terdengar seolah akan lenyap.

“ Lihat ..aku,eonni..”

Kupaksakan diriku untuk berani memandangnya.Lihatlah dia..bahkan di saat- saat terakhirnya seperti ini,dia masih sempat tersenyum.

“ M-mi..mianhaeyo,eonni-ya…jeongmal… M-mianhae..”

“ Yoona-ya…kumohon jangan paksa dirimu berbicara,ne?”pintaku.

Ia hanya tersenyum lalu menolehkan kepalanya pelan pada Siwon oppa.

“ O-oppa…na-do…jeongmal mianhae… Aku sudah membuat hidupmu susah,oppa..mianhae!”

Siwon oppa mengangguk-angguk berat dengan airmata yang mengumpul di pelupuk matanya.Ia meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat.Meskipun hatiku terasa perih melihatnya,aku tidak ingin peduli saat ini.

“ Yoona-ya…kau pasti akan baik-baik saja,jangan khawatir! Aku akan segera mengeluarkanmu dari tempat mengerikan ini secepatnya,ne? Bertahanlah sebentar lagi…”

Yoona tersenyum  dan kembali menoleh ke arahku.Ia mengulurkan tangannya dan dengan gemetar,aku menerimanya.

“ Eonni…terimakasih sudah menemaniku…”

Aku mengangguk.Sungguh,aku sudah tidak kuat lagi menahan sesak ini.Aku buang pandang,menghapus airmataku yang sudah mengalir.Lalu,kemudian,aku merasakan tangan  Yoona menggerakkan tanganku.Aku menoleh.Ia hanya tersenyum dan menyatukan tanganku dengan tangan Siwon oppa.Aku terperanjat luar biasa dan refleks memandang ka arah Siwon oppa.Sama sepertiku,ia juga sangat terkejut.

“ Berhentilah berpura-pura …”

“ Yoona-ya…”

“ Eonni,gomawo…sudah mengizinkanku bersamanya…sekarang,kalian bisa kembali bersama lagi…”

“ Yoona!”

Yoona hanya terus tersenyum,membuatku kehilangan kata-kata.Sekarang,dengan perlahan,ia melepaskan tangannya dari tangan kami berdua.Ia mengambil sesuatu dari balik selimutnya.Selembar foto.Dengan gerakan tangan yang pelan,ia meletakkan foto itu di atas tangan kami.

Dan ia sukses membuatku terisak saat ia membalik lembaran foto itu.Siwon oppa yang tengah memelukku dari belakang. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku.

“ Tetaplah seperti ini…Eonni,maaf karena aku merebut cintamu…juga gomawo,sudah mengizinkanku mencintainya…”

Aku tidak bisa lagi mengendalikan isak tangisku.

***

2 Days Later….

Nisan itu masih baru.Bahkan tanah pemakamannya pun masih basah.Tapi,kenangan dan senyum yang ada di figura itu seolah telah bertahun-tahun terpatri dalam kenanganku.

Aku menghela napas dan meletakkan buket bunga yang kubawa.

“ Annyeong,Yoona-ya…”

Hanya itu.Sudah empat kali aku kesini sejak kematiannya,tapi aku tidak pernah sanggup mengeluarkan kata lebih daripada itu.Aku selalu merasa sesak jika aku bertemu pandang dengan matanya dalam figura itu.Terlalu banyak hal yang tidak bisa kuungkapkan dan tidak akan pernah sanggup kukeluarkan.

Dan yang  terjadi hari ini akan sama persis dengan kunjungan terakhirku ke sini.Aku mengucapkan sapaan itu,lalu menghabiskan beberapa menit hidupku untuk menangis sebelum akhirnya bangkit dan pulang dengan perasaan sesak yang masih sama.

Aku mungkin tidak akan sanggup mengatakan dan menjelaskan semua gejolak perasaanku,tapi cukuplah kalian tahu satu hal : aku sangat menyayanginya lebih daripada teman dan diriku sendiri.Jika dia pergi meninggalkan kami seperti ini setelah apa yang terjadi antara aku dan dia,bagaimana mungkin aku tidak bersedih luar biasa?

Aku menarik napas panjang lalu memutuskan untuk  bangkit dan berbalik.

Tapi,langkahku tiba-tiba tertahan saat aku menyadari bahwa bukan aku satu-satunya manusia yang masih bernyawa di tempat ini.

Dua meter di depanku,ia berdiri dengan merangkul buket bunga yang masih segar.Matanya agak bengkak,bukti bahwa ia banyak menghabiskan waktu dengan menangis.Wajahnya nampak jelas menunjukkan kegoncangan yang sangat.Saat kami bertemu pandang,sekali lagi aku hanya bisa terpaku di tempatku.

Aku ingin tersenyum menyapanya,tapi aku tidak bisa melakukannya.Jadi,aku hanya diam.

Lalu kemudian,ia mulai berjalan ke arahku.Aku tetap diam,terlalu bingung untuk bereaksi.

“ O-oppa…”

Ia tidak menjawabku tapi langsung menarikku ke dalam pelukannya.Aku termangu dan kembali kehilangan kata-kata.Apa yang harus kulakukan?Setelah berperang dengan diriku sendiri selama beberapa menit,kuangkat tanganku dan membalas pelukannya pelan.

“ Oppa…sabar…”lirihku tertahan.

Tak ada balasan darinya,tapi perlahan aku bisa merasakan bahuku yang mulai basah.Aku menghela napas getir.Kubiarkan saja ia terus seperti ini.Karena kurasa,sekarang ia sangat membutuhkan sandarannya.

Kupejamkan mataku rapat.Aku juga..ingin membagi kesedihanku….

Tidak jauh di belakangku,di atas nisan itu…aku bisa merasakan senyumnya.Senyum tulus yang tidak akan pernah kulupakan.

***

 END

4 thoughts on “It’s Cold | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s