Sound Rain | FF Peserta Lomba

 

RYE1

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & @PenerbitQanita)

Author (FB & Twitter): Mulberry Spring ( Meliza Caterin / @CaterinMeliza )

Tittle : Sound Rain

Genre : Romance, Sad

Main Cast :
Kim Ryeowook (Super Junior)
Shin Jae In (OC)

Suport Cast : Kim Jong Woon (Super Junior), Lee DongHae (Super Junior), Han Hyo Jae (OC)

Disclaimer : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me!
Happy Reading….

Suara hujan yang berjatuhan terdengar kontras. Layaknya seniman perkusi yang tengah asik bermain. Butiran air yang menyentuh bumi menjadi gemericik yang membuat hatiku seolah tercabik.

Bunyi-bunyi itu menjadi nada pilu yang merongrong kalbu. Mengingatkanku akan sosok dirimu yang kini telah menjauh. Di Cafe ini, masih teringat jelas awal pertama kita berjumpa.

Dua cangkir Cappucino hangat menemani perbincangan. Ditemani suara hujan yang menjadi nada di sela senda gurau. Detik itu aku menyadari satu hal. Menyadari bahwa aku mencintaimu bersamaan dengan suara hujan. Masih menginginkan dirimu hingga kini. Meski dengan pongahnya kaau berlalu ditengah guyuran air yang berjatuhan dari langit.

Saat dimana kau memilih pria lain, meninggalkanku dengan sejuta rasa sakit. Tanpa sedikitpun menoleh, kau berlalu meninggalkan hati yang kau hancurkan hingga remuk redam. Jerit kesakitanku tidak mampu membuatmu membuka mulut. Hingga saat ini alasan yang membuatmu menjauh, semuanya masih terlihat abu-abu bagiku.

Mengingat semua itu dadaku sesak, sakit dan hancur berhamburan. Seperti tanah gembur yang terkena hujan. Perasaanku lebur seketika, otakku tidak bisa berpikir jernih setiap kali langit menangis. Setiap itu terjadi, yang dapat aku rasakan hanyalah nyeri.

Siluet bayanganmu yang menjauh selalu tampak. Punggungmu yang semakin mengecil terlihat jelas. Menikam jantungku yang kesulitan berdetak. Gambaran masa silam itu selalu membuat nafasku tercekat.

Satu hal yang tidak dapat aku pahami. Aku jatuh cinta padamu bersamaan dengan suara hujan. Kau meninggalkan kubangan luka dan menjauh. Hal itu terjadi sama persis seperti saat pertama kali aku mencintaimu.

“Tuhan, tidak bisakah kau hentikan suara hujan ini?” Aku memohon kepada sang pencipta, berharap racauan itu terkabul. Jemariku mengusap jendela Cafe berlapis kaca lebar. Tengah memamerkan derasnya aliran air yang ditumpahkan oleh langit.

Pandanganku teralihkan oleh sosok yeoja yang tengah berjalan ke arahku. Rambut hitamnya yang bergelombang, matanya yang mempesona. Bibir ranum merah muda serta hidung mancung. Menjadi perpaduan yang mampu membuat jantungku seolah ingin melompat dari tempatnya.

“Kau datang eoh?” Hatiku menghangat ditengah derasnya hujan. Perasaan duka yang menyelimuti seketika berubah; menjadi gempita. Sosokmu membuatku seakan merasa hidup dan bernyawa.

Kau tersenyum hangat di balik meja yang sama denganku. Menujukan sisi lembut yang mampu meluluhkan amarah disaat aku meradang. “Jae In-ah, boghosipo, aku kira tidak akan pernah bisa melihatmu lagi.”

Rasa rindu yang membuncah itu perlahan lenyap. Berganti menjadi rasa bahagia yang meletup-letup dalam angan. Keberadaanmu yang kembali muncul, membuatku seperti berada di tengah pepohonan rindang di tengah hutan. Memberi pasokan oksigen yang tidak terkontaminasi oleh polusi.

“Kenapa kau tidak menjawab? Apa kau tidak merindukanku?” Lontaran halus kembali terucap. Khawatir atas ekspresi yang ditunjukannya. Dia hanya tersenyum seraya menyesap Capuccino yang telah aku pesan.

Sedikit frustasi menghadapi sikapnya yang tetap bungkam. Situasi seperti ini membuatku tidak nyaman. Pikiran dalam otakku terus mencari tahu, alasan apa yang membuatnya masih tidak mau membuka mulut.

Hingga aku sendiri lelah untuk bertanya, setidaknya dia tidak beranjak. Itu sudah cukup membuat perasaanku lega. Kami hanya saling terdiam, sesekali saling melemparkan pandangan. Tidak taukah dia, bahwa aku sangat merindukan suaranya yang memabukan?

Suara yang mampu mengunci semua panca inderaku. Menatapnya saat berbicara, adalah salah satu hal terindah yang aku kagumi darinya. Anganku selalu dibuat terbuai oleh lengkingan merdu bait demi bait yang dilontarkan.

Tidak pernah jenuh untuk selalu menatap wajahnya. Wajah yang mampu membuat semua pria tidak sanggup berpaling. Tak kuasa untuk mengabaikan ciptakan Tuhan yang begitu elok.

“Wookie-ya, apa kau mau tambah minumanmu?” Suara seseorang mengintrupsi aktifitasku. Aku tahu persis itu pasti suara Jong Woon Hyung. Sahabat sekaligus pemilik Cafe Mouse And Rabbit yang kini tengah aku singgahi.

Dengan terpaksa aku memalingkan wajah, berbalik menatap mimik muka Jong Woon Hyung yang terlihat cemas.
“Anni, aku sudah kenyang Hyung,” seulas senyum kutampilkan seapik mungkin. Hatiku tidak berkenan jika dia sudah menunjukan raut wajah seperti itu.

“Tidak bisakah kau melupakannya?” Ia berkata lembut, seraya mengusap pundakku pelan. Perkataan biasa namun sontak membuatku terperangah. Membuat kepalaku berbelok. Menoleh lurus kearah bangku yang tadi Jae In tempati.

Tubuhku menegang. Aliran darahku seakan berhenti mengalir. Pasokan udara yang kuhirup terasa menipis. Membuat paru-paruku sesak. Layaknya seseorang yang tengah berkutat dengan kematian.

“Hyung, apa kau melihat Jae In pergi kemana?” Meski tidak yakin, tapi aku memaksakan diri untuk bertanya. Setidaknya harapanku adalah yang tadi kulihat itu nyata. Bukan bayang semu yang tengah mempermainkan angan dan pikiranku.

“Wookie-ya, sampai kapan kau akan terus seperti ini? Sadarlah! Jae In telah pergi meninggalkanmu. Bagaimana mungkin kau masih mencintai wanita yang telah mencapakkanmu demi pria lain?”

Batinku berontak, berusaha menepis semua perkataan Jong Woon Hyung. Itu menyakitkan. Sungguh! Kenyataan itu begitu menyiksa. Ternyata benar, yang tadi datang dan duduk di hadapanku hanyalah sebuah ilusi.

“Hyung,” ucapanku terputus. Rasa tidak sanggup mendominasi akal sehat. Bahkan sepatah kata untuk pembelaan diri tidak sanggup lagi aku lontarkan.

“Ini sudah musim hujan kedua. Tapi hati dan pikiranmu masih tetap bersamanya. Lupakan dia dan mulailah hidupmu dengan baik!” Deru napas Jong Woon Hyung terdengar menggebu. Menyocok genderang telinga yang masih dibayangi suara merdu Jae In.

“Aku tidak sanggup untuk melupakannya. Setiap kali aku mencoba untuk menghapus bayang-bayang dirinya. Maka setiap kali itu pula hatiku merasa kehilangan yang teramat sangat. Bahkan sakitnya berkali-kali lipat dari saat pertama kali melihat punggungnya menjauh.”

Tangis yang sedari tadi aku tahan, kini pecah sudah. Air mata itu berhasil membobol benteng pertahanan mata. Bahkan aku tidak lagi mengindahkan filosopi dunia akan pria. Tidak memperdulikan perkataan sekitar yang tengah menatap iba. Yang ada dalam benakku hanya rasa sakit yang tidak terbendung.

“Menangislah! Jika itu mampu membuat merasa lebih baik. Jika setelah menangis rasa sakitmu berkurang. Tolong perlahan buang semua kesakitan yang membelenggumu. Biarkan mereka berjatuhan dan mengalir bersama air mata yang kau tumpahkan,” Jong Woo Hyung mendekapku erat. Mengijinkan tubuhku untuk bersandar.

Membiarkan bahu ringkihku yang bergetar bertumpu padanya. Mungkin terkesan cengeng, tapi aku tidak perduli apa kata dunia. Dan tidak ingin tahu apa kata orang-orang. Karena saat ini yang menyita seluruh pikiranku hanya kungkungan luka yang tidak kunjung sembuh.

Seketika tubuhku menegak sempurna. Manakala siluet yang menyerupai Jae In melintas. Aku yakin wanita itu dia, tanpa berpikir logis tubuhku berlalu meninggalkan Jong Woon Hyung yang tengah memanggilku untuk tidak berlalu.

“Aku akan pulang, jadi Hyung tenang saja,” jawabku singkat sebelum membuka pintu Cafe. Terus berjalan menerobos segerombolan hujan yang masih turun dengan derasnya.

Kain yang melekat di tubuhku telah basah tanpa ampun. Tidak menyisakan satupun bagian kering yang masih tersisa. Tanpa sadar langkahku bergerak melewati deretan penjual bunga. Seulas senyum tersungging, tatkala mengingat kebiasaan Jae In yang akan tersenyum penuh kebahagiaan, jika di tangannya menggenggam kelopak-kelopak elok yang bermekaran bermacam rupa tersebut.

Senyum gadis itu akan jauh lebih lebar dari biasanya. Pribadi yang sangat feminim. Bunga seolah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Tidak perlu berpikir panjang, dengan langkah terseok segera kuseret langkah menuju toko. Memilah bunga yang pantas untuk Jae In. Tidak perduli tatapan sekitar yang seolah mencibir, bahkan mencela.

Dapat kupahami jika mereka berpikir seperti itu. Melihat keadaanku yang mengenaskan. Dengan berjuntai pakaian basah, rambut yang tidak teratur. Serta tubuh kurus seolah tidak pernah mendapat asupan makanan. Ditambah kelopak mata yang menyerupai beruang Cina. Semuanya menjadi satu kesatuan yang menunjukan betapa mengenaskannya diriku.

“Ahjumma tolong bungkus yang ini!” Tanganku menyodorkan bunga yang telah kupilih. Meminta wanita pemilik toko yang diperkirakan menginjak kepala empat tersebut untuk membungkus bunga tulip. Bunga yang kupilihkan untuk Jae In.

“Apa kau tidak membawa kendaraan?” Dia memperhatikanku dari ujung kepala hingga kaki. Kepalaku hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontakannya.

“Tunggu sebentar! Aku akan membungkusnya lagi dengan plastik lain. Agar bunganya tidak rusak terkena hujan,” Ahjumma itu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Membungkus bunga tersebut hingga tidak ada celah bagi yang berarti.

“Ghamsa hamnida,” aku membungkuk hormat setelah membayar. Kini rangkaian bunga itu telah terbungkus kantong bening bercorak. Merasa tidak enak hati saat membayar dengan uang yang sama basahnya dengan diriku. Beberapa pengunjung yang tengah memilih bunga lain sempat merilik sekilas, mereka berbisik dengan kawannya.

Aku tidak ingin menghiraukan hal seperti itu, kini tubuhku kembali berjalan menyusuri rintik hujan yang mulai mereda. Suara hujan itu telah menghilang. Kini berganti gemericik yang berjatuhan dari genteng-genteng atap toko yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Deburan air yang terciprat dari kendaran roda empat, menambah suasana khas setelah hujan.

Kubangan luka dihatiku ikut mereda, bersamaan dengan menghilangnya suara hujan. Kebahagiaan yang dulu sempat terecap manis bersama Jae In. Kini seolah ikut menghilang. Tubuhku membatu di persimpangan jalan.

Menatap lurus sekumpulan orang-orang yang tengah menyebrang. Menghindari genangan air yang akan merusak baju mewah mereka. Tanpa berniat untuk berpikir dua kali. Langkahku melaju melewati jalan aspal bergaris putih. Jalur yang diperuntukkan untuk pejalan kaki.

Sesekali senyumku mengembang, mengingat bunga dalam genggamanku akan membuat Jae In tersenyum penuh suka cita. Seorang security menyapaku hormat. Mungkin dia terlalu sering melihatku keluar masuk gedung pusat pertokoan ini.

Bahkan aku sering lupa, entah berapa kali dalam sehari aku bisa datang kemari. Semua itu terjadi setiap kali aku merindukan Jae In. Ekor mataku menangkap bayangan security itu tengah menggelengkan kepalanya. Mungkin dia tidak habis pikir kenapa aku hujan-hujanan di usia yang tidak anak-anak lagi.

Pandanganku tertuju pada Boutiqe bertuliskan ‘Seaseon’, tempat Jae in bekerja. Lebih tepatnya dia membantu Eonnienya untuk mengurus Boutiqe.

“Anyeong Noona, apakah Jae In ada?” Kata pertama yang selalu aku ucapkan setiap kali bertemu Shin Min Ah. Kakak perempuan Jae In. “Wookie-ya, apa yang terjadi padamu? Kenapa penampilanmu berantakan sekali?” Dia menatapku iba. Menyelidik setiap inci tubuhku seolah tidak ingin ada yang terlewat.

“Nae Gwaenchana Noona,” kembali senyuman hangat aku tunjukan. Berusaha menandakan bahwa diriku baik-baik saja. Meskipun sejujurnya, sekujur tubuh digerogoti rasa dingin yang menusuk.

“Wookie-ya, Jae In tidak akan datang kesini. Bukankah sudah Noona bilang, gadis itu telah pergi ke Paris bersama pria pilihannya. Noona mohon jangan seperti ini! Sampai kapan kau akan terus menjadi orang bodoh? Lupakan Jae In! Dia hanya gadis bodoh yang menyia-nyiakan pria baik sepertimu.”

Dia menarik tubuhku sedikit kasar, mebawaku berdiri di depan cermin besar yang mempertontonkan wujudku yang sangat berantakan. “Aku sudah tidak tahan jika terus melihatmu seperti ini. Kau lihat, tubuhmu yang menyerupai tengkorak. Kelopak mata yang semakin hari kian cekung. Bulatan hitam yang melingkar membuatmu terlihat seperti mayat bergerak. Perdulikan dirimu Noona mohon! Sampai kapanpun Jae In tidak akan pernah kembali.”

“Noona, ini bunga untuk Jae In. Tolong sampaikan salamku padanya. Jika dia kembali katakan padanya bahwa aku akan selalu menunggu sampai kapanpun,” kedua tangaku memindahkan sebuket bunga tulip yang telah kubeli.

Meletakannya tepat di telapan tangan Shin Min Ah Noona. Bukan bermaksud mengabaikan nasehatnya. Hanya saja bagiku itu hanya angin lalu. Jika mendengarkan semua nasehat itu. Maka aku merasa hidup ini semakin menjadi omong kosong yang tidak berguna.

Tusukan buas perasaan telah mendarah daging. Menggerogoti syaraf serta akal sehatku. Yang aku tahu dalam diriku kini, hanya tersisa bayangan Jae In yang tidak sekalipun memudar.

“Jangan lupa katakan pada Jae In! Aku percaya padamu Noona,” aku segera menjauh, sebelum teriakan Min Ah Noona semakin menggelegar. Samar masih dapat kudengar teriakannya.

“Lupakan dia! Jangan pernah datang lagi kemari untuk mencarinya!” Pendengaranku terasa berdarah. Ucapan Min Ah Noona seperti pedang yang menghujam jantungku hingga tidak berbentuk. Tubuh rapuh ini kupaksa untuk berlalu. Meninggalkan gedung pertokoan yang selalu mempunyai magnet tersendiri agar aku berkunjung.

“Jae In-ah, kapan kau akan kembali? Jika tidak akan datang menemuiku lagi. Kenapa bayangan tentangmu tidak kunjung berlalu?” Racauan aneh terus terlontar. Berkali-kali kepalan tanganku memukul dada. Berharap dengan cara itu rasa sakit ini dapat berkurang.

Ragaku ambruk di tepian jalan. Menunduk hikmat dengan bahu bergetar. Liquid bening itu kembali menerobos retina mata. Membasahi pipiku yang semakin tirus. Persetan dengan tatapan orang yang menatapku iba. Yang aku inginkan saat ini hanya dapat bertemu Jae In.

Meski berkubik-kubik air dari langit berjatuhan. Tapi tidak sedikitpun dapat membawa pergi rasa pedihku. Semakin deras suara hujan yang tertangkap inderan pendengaran. Maka semakin pedih rasa sakit yang kurasakan.

Setengah merangkak melewati bahu jalan menuju Apartemen. Setidaknya aku masih tahu jalan pulang menuju kediaman. Tetangga sekitar semuanya acuh, manakala melihat tubuh rapuh ini berjalan memasuki koridor. Sepertinya dua tahun cukup untuk membuat mereka semua beradaptasi.

Disini tidak ada lagi tatapan sinis, mencela ataupun menghina. Semuanya berjalan layaknya tidak terjadi apa-apa. Mungkin mereka terbiasa melihatku tingkah abnormalku atau memang mereka tidak perduli.

Tenaga seolah terkuras habis. Berkali-kali mencoba membuka knop pintu. Tapi hasilnya nihil. Selemah itukah diriku kini? Hingga membuka pintu saja tidak kuasa.

“Wookie-ya, apa lagi yang terjadi denganmu?” Suara khas seseorang menghentikan aktifitas yang kulakukan. Tersirat nada cemas dalam lontaran halusnya. “Hyung, bisa tolong buka pintu ini untukku?” aku tidak mengindahkan pertanyaannya. Saat ini aku hanya ingin segera masuk dan meringankan tubuh di bawah guyuran air.

Dengusan halus Donghae Hyung tertangkap pendengaran. Entahlah, aku tidak perduli. Sekalipun dia menasehatiku seperti biasa. Yang jelas aku tidak dapat mengerti arti perkataannya. Hati dan pikiranku tidak dapat berpikir jernih.

Terlalu banyak luka yang menganga. Membuatku merasa sulit. Meski untuk bernafas sekalipun. Takdir yang mengahampiriku begitu kejam. Jalan hidup yang aku geluti seolah berdansa dengan keterpurukan dan rasa sakit.

Langkah yang terasa begitu sulit, dalam hitungan menit tubuh tak berbentuk ini telah berada dalam ruangan persegi. Ruangan dimana tempat kami biasa membersihkan diri.

“Bersihkan dirimu! Aku akan menyiapkan makanan. Setelah itu kita makan malam bersama,” lengkingan suara Donghae Hyung menggema. Menjadi dengungan peringatan agar aku bergegas dan tidak berleha-leha di kamar mandi.

Semuanya menjadi berbanding terbalik. Dulu, saat menyiapkan makanan adalah hal yang paling aku sukai di dunia ini. Kini semuanya berubah, cara memegang wajanpun aku seolah tidak ingat. Lupa bagaimana caranya meramu bumbu dan bahan-bahan makanan. Semua ingatan tentang masakan itu lenyap.

Setiap kali menatap dapur dan semua tetek bengek. Yang mampu aku tunjukan hanyalah tatapan kosong namun sarat penuh luka. Wanita itu, telah mengubah hidupku hingga tidak beraturan. Memporak porandakan pertahanan tebal dinding hati. Dia merobohkannya hanya dengan satu kata; putus.

Saat hidupku terbias aura kecantikan dan pribadinya. Semenjak saat itu feromon dirinya melekat. Menarik dalam lingkup tentangnya. Menjauhkanku dari akal sehat yang seharusnya menjadi bayangan utama.

“Wookie-ya, palli ke ruang makan! Hyung akan menunggumu disana,” suara Donghae Hyung memecah angan-angaku. Dengan terpaksa tubuhku beranjak. Pergi meninggalkan Bath Up yang terasa nyaman. Sesungguhnya tidak berniat mengisi perut. Tapi aku tahu pria lembut itu tidak akan memasukan secuil makanan dalam mulutnya jika aku tidak berada disana.

Jika aku tidak menampakan diri satu meja dan menikmati makan malam yang telah dia siapkan. Kadang tidak dapat mengerti dengan jalan pikirannya. Bagaimana bisa dia melewatkan makan malam hanya demi menungguku? Intensitas kami bertemu hanya di malam hari. Apartemen mewah ini menjadi saksi betapa pria itu sangat memperhatikanku.

“Hyung, kenapa kau tidak makan duluan saja? Kenapa masih menungguku? Jangan siksa perutmu hanya demi menikmati makan malam bersama aku yang menyedihkan ini,” tangan kiriku menggeser kursi yang akan kutempati.

“Kau tahu Wookie-ya? Aku tidak akan makan jika tanpamu,” ucapnya penuh penekanan. Sementara tangannya sibuk mengambil lauk pauk. Yang aku yakini itu pasti disuguhkan untukku.

“Hyung, sudah aku katakan jangan terus seperti itu! Jangan buat tubuhmu kehilangan berat badan.”

“Kalau kau memintaku untuk tidak menunggumu dan mengabaikan keberadaanmu, lalu kenapa kau tidak dapat melakukan hal yang sama? Mengapa hingga saat ini kau masih tidak juga melupakannya?”

Perkataannya membuatku mendongak. Tenggorokanku terasa sakit. Membuatku tercekat, “Itu hal yang berbeda Hyung,” dengan suara lemah berusaha mencari pembelaan diri. Menurutku perkataan Donghae Hyung berlawanan dengan apa yang aku lakukan terhadap Jae In.

“Kita dalam posisi yang sama, yang membedakan adalah hal-nya saja. Kau tetap menunggu gadis itu meski telah dibuang ke dasar jurang. Sementara aku tetap setia menunggumu di meja makan. Intinya kita sama-sama menunggu, namun dalam hal yang berbeda.”

“Aku tidak lapar Hyung,” nasehatnya membuatku merasa kenyang. Ingin sekali rasanya aku melarikan diri. Atau hanya mengurung diri saja di kamar tanpa harus melakukan aktifitas.

“Jika kau tidak makan, maka semua makanan ini akan berakhir di tong sampah,” ancamannya sukses membuatku mengurungkan niat untuk berlalu. Dengan susah payah memaksakan diri untuk memasukan sesuap nasi yang terasa bagaikan sekumpulan kerikil. Terasa sulit saat dikunyah. Untuk menghabiskan satu sendok membutuhkan sedikitnya waktu 2 menit.

“Mianhae jika membuat selera makanmu hilang. Tapi aku tidak ingin kau terus-terusan kehilangan berat badan. Melihatmu semakin kurus itu semua membuat hatiku sakit.”

Dia berceloteh di sela-sela makan malam kami. Aku hanya mengangguk, pertanda bahwa aku baik-baik saja. Terbersit rasa bersalah karena membuatnya khawatir. Tapi, hingga saat ini logika yang kumilikki masih tidak mampu untuk berpikir logis.

Pikiranku masih tercurah pada sosok Jae In yang telah menyandang status marga suaminya. Pria beruntung itu, tanpa dia ketahui telah merobek semua asa, harapan, serta impian masa depan yang telah aku rancang bersama wanita yang telah menjadi istrinya kini.

Lelaki itu! Entah apa yang Jae In lihat darinya. Sehingga dia pergi meninggalkanku tanpa berperasaan. Semua itu membuatku lupa akan profesi sebagai koki di salah satu Restauran terkenal di Seoul.

Makan malam ini berakhir hikmat. Setelah perbincangan tadi selebihnya kami hanya saling berdiam diri. Sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.
“Hyung, biar aku yang cuci piringnya,” wastafel menjadi tujuanku, tidak ingin membiarkan Donghae Hyung melakukan semua pekerjaan rumah tangga.

“Baiklah, tapi kerjakan dengan benar! Jangan melamun jika sedang mengerjakan sesuatu!” Dia menepuk bahuku pelan, sebelum akhirnya tubuh yang berbeda beberapa centi dariku itu berlalu menuju ruang tamu.

Samar-samar tendengar dia berbincang dengan seseorang. Sepertinya dia tengah menerima telpon. “Aku akan pergi sebentar, ada urusan penting yang harus diselesaikan, sudah malam kau jangan keluar rumah lagi arraseo!” Seperti seorang kakak yang tengah menasehati adiknya yang masih kecil.

Apakah di matanya, aku tampak seperi anak-anak? Sehingga dia harus berpesang hal-hal sepele seperti itu. “Ne, Arraseo. Kau pergilah! Hati-hati dijalan!”

Kini tubuhnya telah meninggalkan ruangan bernuansa putih ini. Tubuhku kembali ke peraduan. Menuju balkon kamar, bermaksud menikmati angin malam yang cukup menusuk. Seolah menjamah tulang yang berbalut daging.

Awan kelabu berlarik-larik menyelubung sang langit. Bintang telihat malu, mereka bersembunyi di balik awan yang beririk tertiup angin. Aku sendiri tidak yakin kapan dapat melihat rembulan utuh kembali bersinar.

Akhir-akhir ini langit lebih sering menangis. Tidak memberi celah sedikitpun untuk rembulan bersinar. Bahkan intensitas matahari seolah dibatasi. Keadaan tengah dikuasai musim hujan. Membuat cahaya terang harus mengalah ditutup awan.

Hembusan angin yang menyapa tubuh terasa sejuk. Memberikan rasa nyaman meski hanya secercah. Perlahan kantung mataku terkatup. Menetralisir gundah yang tak kunjung beranjak. Garis hidupku yang penuh liku dihiasi guratan luka berlumuran darah. Serpihan hati itu, aku tidak yakin dapat menyatu kembali. Semuanya terlalu hancur hingga tidak berbentuk.

“Sudah malam, kenapa tidak istirahat?” Donghae Hyung menepuk bahuku pelan.
“Aku belum ngantuk Hyung,” tubuhku berbalik menghadap tubuhnya yang berdiri tepat di sampingku.

“Hyung, kenapa wanita yang sangat aku cintai meninggalkanku? Apakah karir yang aku capai tidak cukup membuatnya puas? Meski tidak sekaya pemilik perusahaan besar. Tapi aku mempunyai cinta yang belum tentu pria itu milikki. Aku merasa akhir kisah hidupku menyedihkan.”

Ucapanku sukses membuat Donghae Hyung menghela nafas. Sepertinya dia tengah menimbang kata yang pantas untuk diucapkan. “Wookie-ya, jika Jae In memilih pergi dengan pria lain. Itu bukan berarti dirimu tidak berharga. Melainkan dalam hidup tidak semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Di depan sana aku yakin ada seseorang yang akan mencintai tulus. Layaknya dirimu mencintai Jae In.”

“Tapi aku merasa jalan hidupku telah berakhir,” kini suaraku berubah parau. Cairan bening itu kembali tumpah. Aku benci terlihat cengeng, namun tidak sanggup untuk menahan butiran air mata itu agar tidak berjatuhan.

“Bagaimana kau bisa berpikir jalan hidupmu telah berakhir? Sementara kau sendiri tidak mencoba melangkah untuk berjalan kedepan. Maka dari itu majulah! hadapi apapun yang akan kau temui. Ingatlah ini hanya belokan bukan akhir!” Dia mencengkram bahuku kuat. Memaksaku untuk mendongak menatap wajahnya.

“Dengarkan perkataanku baik-baik. Kau harus ingat satu hal. Jika di depan sana menemui hal yang lebih menyakitkan dari ini, simpan dalam ingatanmu bahwa rasa sakit akan membuatmu menjadi kuat. Lupakan segala kenangan bahagia bersamanya. Karena itu semua hanya akan membuatmu semakin rapuh!”

Belum sempat aku menjawab, Dia sudah menyergahnya terlebih dulu. “Sudah malam ayo kita tidur! Kau harus istirahat agar tidak sakit,” dia membimbingku menuju kasur. “Gomawo Hyung,” lontarku sayup. Aku berterima kasih karena memiliki sahabat sekaligus Hyung seperti dirinya. “Tidak usah berterima kasih, jika kau ingin berterima kasih padaku. Lakukan dengan perbuatan.”

Mendengar ucapannya, senyuman kecut tergaris, aku sangat paham hatinya risau semenjak melihat tingkahku yang berubah. Kepergian Jae In membuat hidupku berubah total dari biasanya.

—- Sound Rain —-

Sudah seminggu hujan terus berjatuhan di kala malam. Menimbulkan siluet abstrak dalam benakku. Jangankan untuk terpejam, mendengar suara hujan sudah cukup membuat hatiku tercabik. Rasa kantuk itu seolah pergi tersapu derasnya air. Aku hanya termenung, duduk berpangku tangan dengan tatapan kosong kepedihan.

Bias cahaya lampu di balkon kamar, memantul pada gerombolan air yang terus memekik. Bersuara di tengah dinginnya malam. Membuatku terbangun di jam yang tidak wajar. Pikiranku bersenandung riang dengan kubangan luka. Visual punggung Jae In kala pergi menjauh masih lekat tergambar.

Untuk sekedar menutup mata tidak sanggup kulakukan, gemericik bunyi itu selalu membuatku terjaga. Telalu takut jika terlelap. Jae In akan datang dalam mimpi dan memerankan kembali cerita lama yang masih terlihat jelas. Terlalu pengecut menerima kehadirannya meski dalam keadaan terlelap.

Tanpa sadar pagi telah menyapa, rintik-rintik hujan telah berlalu pergi. Meninggalkan aroma khas pada bumi yang berotasi menjadi pagi. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, menyeret tubuh untuk membersihkan diri. Setidaknya aku ingat hari ini masih ada Jong Woon Hyung memintaku untuk datang ke Cafe-nya.

Terasa sedikit lebih baik setelah berkutat dengan sabun dan aroma therapy. Dari ruang makan aroma hidangan menyeruak, mengoda penciumanku agar mendekat. “Pasti Donghae Hyung telah menyiapkan sarapan,” aku bergumam sendiri. Ternyata dugaanku benar, segelas susu dan dua potong sandwich telah tersaji.

Tanganku meraih gelas dan meneguk isinya hingga tandas. Pandanganku beralih pada sandwich, merasa tidak lapar. Tangaku beralih meraih kotak makan, memasukkan jatah sarapan pagi untuk bekal.

Tanpa berpikir panjang aku segera melangkah keluar, menuju Mouse And Rabbit. Mungkin Jong Woon Hyung akan sedikit menceramahi dengan petuah-petuahnya yang selalu aku abaikan.

Orang-orang berlalu lalang seolah tak kenal lelah. Keseharian selalu dihabiskan dengan kegiatan yang sama. Ada yang menenteng tas kerja dan berjalan dengan langkah lebar. Pria berpakaian formal yang tengah sibuk menelpon membuat janji dengan seseorang

Terlalu banyak orang yang akan memulai kegiatan, semuanya menjadi hal yang lumrah di setiap pagi. Seketika perubahan hati bumi terlihat, belum genap dua jam semenjak hujan reda. Kini sang langit kembali bermuram durja. Irikan awan hitam bergerombol, menutup sang surya yang tengah memberikan kehangatan.

Tanpa ba bi bu suara gemuruh dari langit terdengar. Seketika jutaan liter air dari langit tumpah. Membuat para penghuni bumi yang tengah beraktifitas di luar ruangan menjadi kalut. Mencari tempat berteduh dan berlindung di balik naungan payung.

“Sudah kuduga hari ini akan kembali ditangisi bumi,” aku menoleh sekitar seraya terus berjalan ditemani payung biru saphire yang bertengger manis dalam genggaman.

Rinai hujan terdengar kontras diantara deru kendaraan dan celotehan orang yang tengah berteduh. Semua menjadi suara yang membuatku terhenyak. Bayangan itu kini kembali, sosok Jae In tersenyum hangat dibawah payungnya.

Tanpa sadar senyumku ikut mengembang, mengimbangi lengkungan bibirnya yang terlihat indah seperti pelangi yang muncul setelah hujan reda.
Bayangan tentangnya lenyap seketika. Manakala seseorang menarik-narik T-shit yang kukenakan.

Memaksa kepalaku untuk berbelok arah, menatap sosok mungil yang tengah menatapku penuh harap. Beserta air mata yang berlinang di kedua pipi mungilnya. “Adik kecil apa yang sedang kau lakukan, kemana Eommamu? Apa kau tersesat eoh?” Aku berjongkok. Mensejajarkan tubuh dengan mahluk Tuhan yang masih teramat muda itu. Rambut kuncir ekor kuda, membuatnya terlihat menggemaskan meski terisak.

“Hyung, aku takut,” ucapannya terdengar parau, namun sangat menggelitik. Apa aku tidak salah dengar? Bukankah dia anak perempuan. Tapi dia memanggilku dengan sebutan Hyung?
“Kau anak perempuan, jangan panggil aku Hyung anak manis, apa kau tersesat? Apa kau tadi bersama ibumu?”

“Eomma menyuruhku untuk menunggu orang yang memakai payung warna biru. Katanya dia yang akan mengantarkan aku ke tempat Appa,” wajahnya menunduk patuh. Mempertontonkan keluguan khas anak-anak. Bahunya terlihat sedikit naik turun, sisa tangisannya masih membekas. “Memangnya Appa dimana?”

“Eomma membenciku semenjak Appa pergi beberapa bulan yang lalu,” dia mengigit bibir bawahnya. Mungkin dia sedih mengenang kepergian ayahnya. “Arraseo, kalau begitu kau ikut Hyung sekarang,” tanpa berpikir dua kali, aku membawanya menuju Cafe Joong Woon Hyung yang tidak terlalu jauh. Sementara dia hanya menurut tanpa berkata.

Pakaian yang melekat ditubuhnya cukup basah. Meski tidak terlalu parah tapi aku menghkawatirkannya. Mungkin saja gadis kecil itu sudah berdiri di sampingku dan berteduh sejak awal hujan turun. Aku yang terlalu fokus menatap bayangan Jae In tidak menyadarinya sedikitpun.

Mengingat sosok Jae In, pikiranku kembali berkutat dengan pertanyaan besar. Gadis kecil kecil ini mampu mengalihkan dunia fana yang tengah aku jalani tadi. Ini benar-benar suatu keajaiban. Setelah melihat sosoknya membuatku tenang, meski aku menyadari bahwa karenanya jua bayangan Shin Jae In menghilang.

“Aigo Wookie-ya, anak siapa ini? Kenapa dia bisa bersamamu?” Jong Woon Hyung dan Hyo Jae istrinya memberondongku dengan pertanyaan. “Aku bertemu dengannya di jalan. Aku minta dua coklat
hangat dan pakaian ganti untuknya kalau ada,” aku melirik Hyo Jae Noona sekilas.

Bermaksud memintanya untuk membawakan baju ganti. Ternyata tatapanku ampuh. Bahkan teramat ampuh, hingga aku dapat mendengar sedikit celotehannya sebelum berlalu. “Aku akan carika baju ganti, kuharap itu bukan anakmu Wookie-ya.”

“Mwo?!” Sontak mataku terbuka lebar. Perkataan yang dilontakannya benar-benar di luar dugaan. Bagaimana bisa aku mempunyai anak. Sementara gadis yang pernah menjadi kekasihku hanya Jae In seorang. Pandanganku yang tengah menatap punggung Hyo Jae Noona teralihkan. Tatkala kekehan khas pemilik Cafe ini terdengar.

“Diam Hyung! Jangan menertawakanku seperti itu! Sebaiknya kau harus mengurus yeoja kaktusmu itu, agar tidak berprasangkan sembarangan,” aku berlalu menuju deretan bangku pengunjung. Tidak ingin terkena amukan Jong Woon Hyung yang akan memukulku karena menyebut istrinya wanita Kaktus.

“Anak manis ayo ikut Eonnie, kita ganti bajumu sebentar,” Hyo Jae Noona yang baru kembali dari balik ruangan privasi, mengajak gadis yang yang belum sempat aku tanyakan namanya tersebut. Anak itu hanya menurut, mengekor di balik punggung istri Jong Woon Hyung. Tapi kepalanya berbalik menatapku lekat.

Seolah dia tidak ingin kehilangan diriku. “Pergilah ganti baju dulu! Oppa akan menunggumu di sini,” tandasku meyakinkan bahwa aku akan tetap menunggunya. “Hyung,” terdengar teriaknya dari kejauhan.

Entah aku salah lihat atau memang kenyataan. Hyo Jae Noona menoleh sekilas, kemudian bahu jenjangnya terlihat bergetar. Sepertinya dia tengah mentertawakan ucapan polos anak tersebut.

“Kau tahu satu hal yang membuatku tercengang serta berdecak kagum?” Seseorang menepuk bahuku, tanpa basa basi dia beranjak duduk seraya menatapku lekat. Lontaran pertanyaan yang baru saja diucapkannya membuat dahiku mengernyit; bingung.

“Maksud Hyung?”

“Anak itu berhasil membuatmu lupa akan bayangan Jae In dalam hujan. Dengan santainya wajahmu menujukan ekspresi biasa. Berlawanan dengan biasanya. Saat suara menderu hujan turun wajahmu selalu terlihat murung. Sorot mata penuh kesakitan selalu terlihat, tapi kini lihatlah dirimu! kau telah kembali Wookie-ya.”

Ucapan Jong Woon Hyung membuatku tersadar, perkataannya semua benar. Entah mempunyai kekuatan apa, gadis kecil itu membuatku lupa akan sosok Jae In tanpa aku menyadari sepenuhnya akan hal itu.

“Kau benar Hyung, aku sendiri tidak mengerti. Melihatnya menangis di tengah hujan, itu semua menghilangkan sosok Jae In. Tapi aku tidak merasa kehilangan. Entah karena iba atau kasihan melihat ceritanya yang ditinggal oleh ibu kandungnya sendiri. Satu hal yang aku tahu, saat ini ingin sekali membuat senyuman manis terus mengembang di wajah mungilnya.”

“Kau beruntung, Tuhan mengirimkan malaikat kecil untuk menyembuhkan lukamu. Jika itu keinginanmu buat semuanya menjadi kenyataan. Tersenyumlah bersamanya! Karena dengan melihat senyumanmu kembali kami semua dapat hidup dengan penuh suka cita.”

“Hyung, aku lapar,” gadis kecil yang telah berganti pakaian itu bergelayut manja pada lengan kiriku. “Palli makanlah!” Aku menyerahkan coklat hangat miliknya, serta menyodorkan kotak makan berisi Sandwich yang aku bawa dari rumah pagi tadi.

Dia melahapnya dengan rakus, seolah tidak ingin orang lain mengambil makanannya. “Apa dari pagi kau belum makan?” Dia mengangguk dengan pipi mengembung. Makanan yang dikunyahnya masih memenuhi mulut.

“Makannya pelan-pelan! Jika masih lapar Oppa akan membelikan makanan lain untukmu, jadi kunyah hingga halus!”
Tanganku mengusap kepalanya lembut. Dia hanya tersenyum dengan wajah berbinar. Aura kebahagiaan terpancar jelas. Melihatnya seperti itu membuat hatiku yang beku terasa menghangat.

Suara hujan yang membuatku terpuruk hingga ke dasar. Kini berganti menjadi suka cita yang tidak mungkin tergantikan. Tuhan mengirimkan malaikan kecil itu untuk menggantikan sedih menjadi bahagia. Tangis menjadi tawa. Rasa sakit berganti nyaman tak terhingga. “Terima kasih Tuhan, kau telah membuat rasaku kembali gempita.”
FIN

Jangan terus berkubang dengan rasa sakitmu! Jangan terus merasa bahwa jalan hidupmu menyedihkan, cobalah lihat sekitar. Di luar sana masih banyak yang jauh lebih menderita. Karena setiap manusia tidak akan pernah ada yang luput dari masalah. Hadapilah hidupmu dengan bijak!Kim Ryeowook.

 

3 thoughts on “Sound Rain | FF Peserta Lomba

    • Saeng eon ini pusing soalnya ide ficlet makanya hasilnya begini. Konfliknya hanya berkutat di kesakitan Ryewook doank. Gomawo udah baca saeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s