Rainhard Without you | FF Peserta Lomba

 

Rainhard

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

 

Author (FB & Twitter): Desi Mia Sari ( https://www.facebook.com/desi.m.sari.3?ref=tn_tnmn & https://twitter.com/DesiMiaSari )

 

Title                : Hujan deras tanpamu (Rainhard Without you)

 

Genre             : Hurt (maybe?)

 

Main Cast      : – Kang Jiri (강지리)/OC 

– Kim Min Jun (김민준)/2PM

– Lee Junho (이준호)/2PM

 

Disclaimer      : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

 

******

Saat itu sedang turun hujan, dan aku sedang menunggu bus di halte. Tiba-tiba dari kejauhan ia datang dengan badan yang sudah basah kuyup kemudian duduk disampingku. Setelah melihat dari dekat ternyata dia sedang menangis, aku ingin menanyakan kenapa dia menangis, tapi bahkan aku tidak mengenalnya. Aku bukan tertarik padanya, tapi hanya sedikit penasaran. Keesokannya dia datang ke halte itu lagi, dengan wajah yang datar sembari melihat kearah layar ponsel aku terus mengamati gadis itu. Aku bahkan tidak menaiki bus tujuanku hanya untuk melihatnya. Hari berikutnya ia terus datang ke halte itu, setiap aku ingin pergi, ia selalu ada di halte itu. Apa yang ia lakukan ia bahkan tidak menaiki satu bus pun, setiap malam ia hanya duduk di halte itu tanpa menaiki bus. Hari ini aku beranikan diri untuk menyapanya “annyeong” sapaku, tapi ia hanya menoleh. Hey, aku sudah menyapamu seharusnya kau membalasnya. Apa yang dilakukannya, apa yang dipikirkannya aku tidak mengerti. Kenapa ada orang seperti ini, setiap hari, setiap malam, setiap saat ia hanya membuang-buang waktunya disini. Apa ia sedang menunggu seseorang, entahlah. Sampai suatu hari aku mengikutinya setelah ia menunggu dihalte, tapi kenapa ia menuju rumahku. Ah, lebih tepatnya itu adalah tempat tinggal sementara saat aku di Seoul . Ia hanya diam di depan pintu pagar rumahku, tak lama kemudian ia memanggil seseorang “ minjun-ssi, kim minjun” ucapnya lirih. Dia memanggil-manggil namaku, bukankah aku tidak mengenalnya tapi kenapa dia tahu namaku. Gerimis mulai turun seketika berubah menjadi hujan, ia terus memanggil namaku sembari menangis, sembari mengetuk pintu pagar dengan kasar. Hey kau tidak perlu berteriak-teriak aku disini, disampingmu. Kemudian dari balik pintu pagar datang seorang wanita paruh baya. “nona, kenapa kau kesini lagi? minjun tidak ada” ucap wanita itu. “ yak, ahjuma apa yang kau katakan? Aku ada disini, didepanmu” kataku setengah berteriak. Lalu dari arah kejauhan ada seseorang yang berlari kearah kami, “hey, bisakah kau menolongku” pintaku, tapi ia menghiraukanku dan berlari ke arah gadis itu. “jiri-ssi” panggilnya pada gadis itu. “ yak, junho-ssi. Beritahu pada gadis ini minjun sudah tidak ada, dia sudah meninggal” ucap wanita paruh baya itu. Perkataannya membuatku terkejut, seketika ingatan masa lalu muncul begitu saja dipikiranku.

*Ahjuma=bibi

 

Flashback>>

“hey, Kang Jiri. Apa kau tau, pria jatuh cinta pada wanita pada pandangan pertama sedangkan wanita jatuh cinta pada pria pada percakapan pertama”

“benarkah? Tapi aku menyukaimu pada pandangan pertama dan percakapan pertama”

“kalau begitu, ayo kita menikah” jiri terkejut mendengar pernyataan itu

“besok kau tunggu dihalte tempat kita pertama kali bertemu” pinta minjun

“terima kasih minjun-ya” ucap jiri dengan wajah penuh haru.

Keesokaannya jiri menunggu di halte itu tapi minjun tak kunjung datang, tak lama junho datang menghampirinya

“jiri-ya” ucap junho lirih

“ya, ada apa junho”

“jiri-ya” ucap junho sekali lagi

“ya, kenapa?”

“minjun kecelakaan”

“kau tidak bercanda kan, junho-ya?” tanya jiri memastikan tapi junho tak menjawab, ia malah memeluk jiri sambil menangis

“maaf, seharusnya aku bisa mencegahnya. Seharusnya ia tidak perlu mengambil cincin itu.  Seharusnya tidak ada kejadian seperti ini, maafkan aku” ternyata cincin itu terlepas begitu saja dari genggaman minjun saat ia sedang menyebrang

 

******

 

Hujan semakin deras, tanpa sadar air mataku keluar. Jiri terus saja menangis “Yak  junho-ssi katakan padanya bahwa itu tidak benar, eoh?” ucap jiri

“jiri-ssi, ayo kita pulang” pinta junho

“aku tidak ingin pulang, minjun pasti akan datang menjemputku” Junho lalu memeluk jiri,  walaupun junho memintanya pulang tapi jiri bersikeras tetap menungguku. Mereka terus menunggu didepan rumahku selama berjam-jam “Jiri-ya, kumohon lepaskan aku, kumohon lupakan aku, kau akan baik-baik saja tanpaku” meskipun aku mengatakan itu, tetap saja ia tidak bisa mendengarnya.

“jiri-ya, apa kau tidak ingin minjun tenang disana. Bagaimana kalau dia melihatmu seperti ini, kau akan membuatnya semakin menderita” ucap junho. Seiring dengan hujan yang mulai reda, perlahan tangisan jiripun juga ikut berhenti. Jiri kemudian bangkit dari duduknya, ia tersadar bahwa perbuatannya akan membuat minjun menderita. “apa yang kau lakukan jiri-ya, dasar bodoh.” ucapnya pada dirinya sendiri, ia lalu memukul kepalanya sendiri. “jiri-ssi, jangan lakukan itu, kumohon. Jika ingin menangis, menangis saja tapi jangan menyakiti dirimu sendiri” pinta junho sembari memeluk jiri. Untuk kesekian kalinya jiri kembali menangis. “ junho-ya, kau akan tetap disisiku kan, kau tidak akan meninggalkanku seperti munjun kan?” tanya jiri dengan suara yang lirih. “ya, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap disisimu.” ucap junho. Sekarang Jiri sudah bisa menerima kepergianku, perlahan bayanganku mulai memudar dan menghilang seiring dengan junho dan jiri yang sudah pergi menjauh. Dikehidupan selanjutnya kita harus bertemu kembali Jiri-ya, selamat tinggal.

 

******

Setahun kemudian >>

 

“Minjun ya, kau bilang dikehidupan selanjutnya kau akan menjadi hujan, kalau gitu aku akan menjadi angin yang akan membawamu pergi bersamaku” ucap jiri pada sebuah batu nisan yang bertuliskan nama seseorang yang pernah singgah dihatinya.

 

“jiri-ya, ayo pulang” panggil junho yang sudah menunggu lama di samping mobilnya

“iya, tunggu sebentar” pinta jiri

 

“Hey, Kim Minjun. Sekarang tanpamu aku akan baik-baik saja, tanpamu aku akan lebih tegar, tanpamu aku akan bertahan, tanpamu aku akan tetap hidup” rintik-rintik hujan mulai turun, jiri kemudian bergegas meninggalkan tempat pemakaman itu.

 

“Ah, hujan. Selamat tinggal minjun-ya”

 

***End***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s