Sorry, I Can’t | FF Peserta Lomba

 

taemt6hKY1r8umlbo6_250

 

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

 

 

Author (FB & Twitter): CalTha Annabelle (Fika Ca’em & septia_fika)

 

Title : Sorry, I Can’t

 

Genre : Sad, Angst

 

Main Cast :

– Song HeeJin / Lee HeeJin (OC)

– Moon JunYoung (ZE:A)

– Song Ah Yoon (OC)

– Lee TaeMin (SHINEE)

 

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 


Annyeong, fika bawa lagi ff fika, mohon bantuannya untuk kritik dan saran yang membangun.

Gamsahamnida!!

^^ HAPPY READING! ^^

Semilir angin sejuk musim gugur membelai sepasang wajah yang muram di kursi taman. Wanita dan lelaki itu tampak tak berbicara, diliputi dengan keheningan yang luar biasa, mereka tak ingin membuka pita suara hanya untuk mengucapkan sehuruf katapun.

“Maaf,” ujar yeoja itu dengan sesal yang tersirat, memecah keheningan. Namja disampingnya bergeming, tak terpengaruh. Manik matanya menerawang kosong kolam air mancur di hadapannya. Raut wajahnya menunjukkan letih yang sangat menyiksa.

“Ini untuk kebaikanmu, Young-ie,”kata yeoja itu lagi seraya menerawang ke gumpalan-gumpalan awan yang berkumpul diatasnya. Dalam keadaan normal, biasanya sepasang muda-mudi ini akan tersenyum senang ketika menghayalkan bentuk-bentuk aneh awan sembari melempar lelucon yang membuat bahagia. Tapi tidak untuk sekarang. Mereka dilanda angin ribut kecil dalam kisah cinta yang pelik.

“Jika kau mempermainkanku, harusnya kau menolak lamaranku, Song HeeJin.” Mata Namja itu- Moon JunYoung- terpaku pada air yang bergerak-gerak teratur di hadapannya, tanpa ingin menyaksikan wajah HeeJin yang memerah. Bukan marah, hanya tak sanggup menahan ledakan dalam hati.

“Aku tak mempermainkanmu. Aku tulus menginginkanmu jadi pendamping hidup selamanya. Tapi- kurasa aku memang bukan jodohmu.” HeeJin menghela napas berat. Menurunkan pandangan pada kaki yang terbalut flat shoes cream yang sepadan dengan terusan berwarna peach dan rambut coklat ikal digerai.

Mata JunYoung membulat lebar, terkejut, tentu saja. Wajahnya berpaling kearah HeeJin cepat, ada kilatan aneh yang menggaris dimatanya. Dia terlihat marah. Dan seumur hidup JunYoung, baru kali ini dia merasa bahwa yeoja yng dicintainya ini mempermainkannya terlalu jauh.

“Kau bilang tulus? Aku tak percaya. Membatalkan pernikahan secara sepihak seperti ini. Kau bilang tak mempermainkanku? Kau gila,” sengit JunYoung dengan nada yang sedikit tinggi dari biasanya. Membuat HeeJin menutup mata, dan mencoba untuk menjadi tuli. Tak ingin membuat hatinya yang hancur menjadi musnah.

“Kubilang aku tak mempermainkanmu. Aku hanya memilih yang terbaik untukmu dan Ah Yoon.” Jemari lentik itu meremas pinggiran rok, menyalurkan panas yang mendesak paru-parunya. JunYoung mendesah berat.

“Jika alasanmu membatalkan ini hanya karena Ah Yoon, itu bukan alasan yang tepat.” Suara JunYoung merendah sedikit, tapi masih ada pilu yang terselip.

“Bukan itu,”-HeeJin mendongak dan tersenyum tipis-“itu hanya alasan keduaku membatalkan pernikahan kita yang tinggal seminggu lagi. Masih banyak alasan yang tak harus kujelaskan.” HeeJin sangat terpukul ketika mengucapkan kata-kata pedih itu.

JunYoung merasa sangat lelah dengan keadaan ini. “Aku menyerah,” tutur JunYoung pasrah dan menghempaskan kasar punggungnya di senderan kursi. Ekspresinya masih datar, sarat akan kecewa. Ekor matanya melirik pada HeeJin yang kebetulan juga memandangnya.

“Pergilah,” ujarnya lagi dan perlahan membuang muka kearah lain. HeeJin menggigit bibir dalamnya keras. Dia tak tahu harus bagaimana lagi ketika JunYoung seperti ini. Dengan bahu yang bergetar HeeJin berdiri dan memutar badan, memunggungi JunYoung untuk meninggalkannya. Sebelum memulai langkah, Heejin memutar kepalanya, ingin melihat terakhir kali siluet ramping yang tiga tahun ini mendekap tubuhnya hangat.

“Maaf. Aku tak bisa mewujudkan impian kita,”-HeeJin menghela napas-“setiap manusia dihadapkan dengan pilihan yang beresiko. Dan resiko besar yang harus kutanggung dari pilihanku adalah meninggalkanmu, dan juga Ah Yoon.” Runtuh sudah tameng yang menegarkan hati HeeJin, meleleh dan menjadi butiran bening yang meluncur dipipinya. Bayangan buram sang ‘mantan’ kekasih yang bergeming dengan muaknya. Meski tak terlalu terlihat dari sisi HeeJin, lelaki itu berusaha mati-matian untuk tak menuruti matanya yang telah memerah dengan genangan menumpuk dan siap untuk meluncur kapan saja. Bisakah mereka mengartikan rasa sakit ini dengan frase-frase duka yang dapat dilontar dari mulut kelu mereka? Yang ada hanya bisu, tak berguna pula jika mereka berdebat dengan alasan yang tak diketahui oleh JunYoung, melainkan disembunyikan oleh HeeJin.

Sama-sama keras kepala, sama-sama tersakiti dalam cinta.

HeeJin mengusap kasar pipi basahnya yang terbias senja langit. Perlahan, dengan terhuyung, yeoja berhidung mancung dan bermata indah itu berjalan meninggalkan namja berbibir tebal yang telah menitikkan setetes air mata.

“Aku bermimpi ketika aku menjalani hidup bahagia denganmu, dan dalam kenyataan bahwa kau meninggalkanku untuk adikmu, kau benar-benar jahat, HeeJin,” lirih JunYoung pilu.

Dilain tempat, Yeoja yang wajahnya penuh dengan airmata meringkuk dibawah pohon di pinggiran taman seraya meremas terusannya yang membalut perut rampingnya. Dia meringis, terus menekan-nekan perutnya yang nyeri. Tangisnya keluar semakin deras tanpa suara. Fisik dan batinnya sangat sakit saat ini.

“Kumohon tolong aku, Tuhan,”gumamnya lirih disela desisan kesakitan yang menjalar di selurut tubuhnya.

###

HeeJin meremas pinggiran wastafel risau dengan obat yang masih tergenggam ditangan kanannya yang bebas. Ada bekas merah kental berada dipinggir lubang air itu, berasal dari mulut HeeJin. Dengan napas tersengal, HeeJin mencoba sekuat tenaga untuk tak limbung dalam keadaan yang menyedihkan. Dan dia hanya bisa menunggu ketika obat penghilang rasa sakit itu bekerja, setidaknya hanya untuk menghirup udara secara nyaman tanpa harus ada nyeri yang menusuk. dan setelah beberapa waktu, sakit itu perlahan menghilang.

Wajah cantik itu memutar kearah luar dapur apartemen sederhana miliknya, menilik pintu masuk yang terbuka. HeeJin tahu siapa yang datang. Dan secepat kilat HeeJin membuang obat yang menjadi nasi kedua baginya lalu membersihkan wastafel yang ternoda darah itu gugup. Hingga dia tersentak ketika suara yang terlalu familiar itu mengelukan namanya.

“Eonni,”ujar yeoja dibelakang HeeJin datar. Dengan enggan HeeJin berputar, dan memasang senyum manis yang membuat yeoja pendek dihadapannya itu mual.

“Kau belum makan siang lagi?”ketus yeoja mungil itu sembari berjalan menuju meja makan sebelah dapur. Dia mengerti bahwa sudut bibir HeeJin ternoda darah, pasti mag nya kambuh. dan bisa ditebak kalau Eonninya telat makan bahkan tak makan sama sekali. HeeJin pun mengikuti dari belakang.

“Kau pasti tahu, Ah Yoon-ie,”tutur HeeJin tenang, yang dibalas dengan cibiran yeodongsaengnya, Song Ah Yoon.

“Well,”-Ah Yoon duduk perlahan-“kau adalah Eonni yang sangat baik karena tak menginginkanku khawatir padamu. Tapi… sungguh, kau membuatku menambah tekanan darah setinggi-tingginya.” Ah Yoon mencecar HeeJin seenaknya. Dan Eonninya hanya bisa tersenyum menanggapi, sifat asli Song Ah Yoon memang seperti itu, kan? Ketus dan seenaknya, tapi peduli.

“Gomawo karena telah peduli,”ujar HeeJin terkekeh pelan dan duduk bersebrangan dengan sang adik yang pemarah itu.

“Kau tak perlu berterima kasih, membuat perutku terkocok hebat.” Lagi, dengan sadis Ah Yoon mengejeknya.

“Ada maksud apa kau kemari, Yoon-ie?” HeeJin menatap intens wah Ah Yoon yang memandangnya lekat juga. Perlahan tatapan Ah Yoon mengendur, lalu dia memangku tangan seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kayu keras itu. Tatapan Ah Yoon menusuk jantung HeeJin yang berdetak kasar, ketakutan dan kebingungan.

“Kau tahu maksudku.” Ah Yoon mendengus dan tersenyum mengejek.

“Tentang pernikahan?” Sebelah alis HeeJin tertarik keatas.

“Pernikahan itu adalah sakral. Dan sebelumnya kau bahagia karena yang akan menikahimu adalah JunYoung. Tapi apa yang ada dalam pikiranmu? Merusak semuanya dan membuatnya malu?”

“Kau yang akan menggantikanku, Yoon-”

“Dan membiarkanku menikah tanpa cinta? Kau mengerti, Eonni. Aku tak akan melakukannya,” tegas Ah Yoon yang merasa tak terima. HeeJin memang bukan orang yang suka main-main. Dan sangat aneh ketika dia memutuskan hal besar seperti ini. HeeJin tercenung sebentar, dan detik kemudian mengumbar senyum tipis.

“Kau mencintainya,”tutur HeeJin lembut.

“Dan dia mencintaimu,” ujar Ah Yoon jengah.

“Aku tahu, tapi bisakah kalian mengerti keadaanku, membantuku barang sekali?” keluh HeeJin yang serasa putus asa. Dan menyenderkan punggungnya hati-hati.

“Aku tak mengerti alasanmu, Eonni, bagaimana aku membantumu? Setelah kau menjadikanku alasan yang terburuk, apalagi?” kesal Ah Yoon dan memajukan badannya kearah meja coklat dan melipat tangan disana.

“Terkadang kau harus menjalani sesuatu tanpa alasan, Yoon-ie. Setidaknya, ketika alasan yang ingin kau dengar itu menyakitkan, kau masih bisa untuk tak merasakannya.” HeeJin menghela napas berat, memijat keningnya yang mendadak pening. Lalu Yeoja yang memakai kaos V-neck tipis dan celana selutut itu mengernyitkan dahi. Dia mencoba berpikir tentang apa yang dikatakn Eonninya itu. Ada yang tak beres terjadi.

“Kau tak sakit parah, Eonni?”

“Selain mag kronis, apa kau mengetahui penyakitku yang lain?”

“Mungkin saja, seperti yang di drama-drama, kau akan berubah ketika mengetahui penyakit hebat tertanam dalam darahmu,”ujar Ah Yoon sakartis. HeeJin mencelos. Ada kepahitan yang diterima saat kata-kata itu terdengar di telinganya. Mencoba untuk tetap tenang, dia tersenyum miris.

“Tidak ada, bahkan ginjalku masih baik meski obat-obat itu tertelan bak minum air putih setiap hari,” sahutnya bergetar. Lalu dia memajukan badannya sama seperti HeeJin, dan menatap kalut wajah HeeJin yang berrahang keras itu.

“Kau tak usah mencari alasanku lagi. Lebih baik jalankan pernikahan itu minggu depan.” Raut wajah HeeJin terlihat datar. Dan Ah Yoon membulatkan mata. Segera HeeJin membuang muka, lalu beranjak dari tempatnya duduk, menuju jendela dapur yang menampilkan ribuan bintang dibaliknya, yang menerangi Seoul saat malam tiba.

“Eonni-”

“Kau tak boleh mengelak, ataupun lari dari pernikahan itu. Ini sudah keputusanku. Jadi, kau harus menerimanya, Song Ah Yoon,”ujarnya tegas. Tanpa berani memandang Ah Yoon yang menganga.

Ah Yoon mengepalkan tangannya erat. Ini salah, pikirnya. Eonninya tak akan pernah setegas ini dalam memerintah, bahkan bisa dibilang Ah Yoon jarang diberi perintah oleh HeeJin. Apa badai yang menerpanya saat ini? Mengapa dia berubah?

Manusia bisa berubah sifat dan perilakunya karena sesuatu yang telah terjadi padanya.

Dalam keheningan malam yang menyesakkan hati, Ah Yoon tak tahu bahwa dibalik bahu kecil yang diamati saat ini, setetes demi setetes kesedihan tumpah di dagu runcing sang Eonni.

###

HeeJin duduk santai di kursi panjang yang terletak di teras belakang rumah sakit yang bisa dibilang sebagai taman kecil. Air mancur kecil di tengah taman yang berukuran 300X500 m tersebut memperindah tempat ini. Bunga-bunga yang tertata rapi sangat menyegarkan mata.

Dari jauh, namja bermata sipit dan berbibir tebal menghampiri HeeJin seraya membawa segelas susu hangat. Namja cute itu tersenyum manis ketika HeeJin menatap kedatangannya senang. Tangan lentik namja itu mengulurkan susu hangat itu, dan HeeJin yang mengenakan baju pasien rumah sakit itu tersenyum lebih lebar.

“Gomawo, Taemin-ah,”ujar HeeJin berterima kasih.

“Cheonma, Noona.” Taemin tersenyum kembali dan duduk disamping HeeJin yang menyesap susu hangatnya pelan. Mereka sangat menikmati angin yang berhembus ditengah terik matahari yang menjulang tinggi. Rambut mereka meliuk-liuk kecil diterpa angin. Menambah suasana yang menenangkan. Sejenak mereka sangat menikmati hal ini. Hingga akhirnya Taemin menatap Noonanya dengan lekat, lalu raut wajahnya berubah sedikit cemas.

“Noona, gwenchanayo?”

HeeJin mendelik kearah namja yang berbeda 7 tahun darinya, lantas tersenyum tenang. “Gwenchana.”

“Noona,”-Taemin menggenggam tangan HeeJin-“jeongmal gomawo, jeongmal mianhae, aku tak bisa menjadi adik yang baik. Andai saja ginjalku… paru-paruku… Ah, aku benar-benar tak berguna.” Wajah Taemin menunduk, sesal tergurat di wajah aegyonya. Jemari-jemari kurus HeeJin mengusap rambut ikal karamel dongsaeng kandungnya.

“Gwenchana, sudah tugasku, Taemin.” HeeJin mengerti rasa bersalah Taemin yang tak bisa mendonorkan organ vitalnya pada sang Eomma. organ-organnya tak cocok untuk Eommanya.

“Tapi Noona,”-Taemin mendongak, menatap manik HeeJin-“kau tak membenci Eomma kan?” Taemin beraut cemas. HeeJin tersenyum kecut, lalu menarik tangannya mundur, dan menggenggam gelas bening yang hangat ditangan yang lain. Matanya menerawang ke awan, menembus langit.

“Munafik jika aku bilang mencintainya,” ujarnya getir,”tapi disaat aku mengetahui kesakitannya, bahkan hatiku jauh lebih hancur daripada hatinya.”

“Noona-”

“Sebulan yang lalu ketika dia menemukanku, dan mengaku sebagai ibu kandung yang melahirkannya, aku hanya bisa terdiam. Benar, dia benar ibuku. Aku masih ingat ketika umurku masih empat tahun, dan ibu meninggalkanku didepan rumah keluarga Song. Aku juga masih ingat ketika aku menangis mencarinya, dan yang ada hanyalah aku ditarik masuk kedalam rumah mewah itu dan mereka menjadikanku anak.” Pelupuk matanya tergenang air penuh, dia mengucapkan kata-kata itu dengan hati tersayat. Mengingat masa kecil yang suram. Mengingat wajah ibunya yang menderita dulu.

“Kau tahu Taemin?” HeeJin mencoba menetralkan suaranya, dan menengok kearah Taemin yang masih setia mendengar dukanya.

“Aku memberikan paru-paru dan ginjalku agar Eomma mengerti bahwa aku pernah ada. Aku pernah dilahirkan, dibuang dan ditemukan kembali ketika dia membutuhkanku. Lalu, mengapa aku memberikan semuanya? Dia Eommaku, dan hukum dunia bilang bahwa aku harus menyayangi orangtuaku, melindunginya, dan mencintainya. Akupun harus mengikuti hukum dunia tersebut.” Setetes air itu mengalir lagi di pipi pucat HeeJin. Dan dengan gemetar TaeMin mengusap aliran itu. Dia mengerti rasa sakit yang diderita Noonanya. Sebagai adik kandung, ikatan batin itu pasti ada.

“Jadi,”-HeeJin memaksakan senyum-“kumohon, balaskan dosaku karena berpura-pura mencintainya seperti ini dengan menjaganya. Aku akan menebus dosaku karena membencinya dengan organ dalam tubuhku yang dibutuhkannya.” HeeJin mengumbar senyum itu lebar dengan isakan kecil yang terkuar dari pita suaranya. Air matanya terus mengalir hingga mata indah itu memerah. Dan selanjutnya, Taemin tak kuat menahan apapun. Ibunya yang sekarat, dan Noonanya yang sakit hati itu membuatnya terasa teriris, segera dipeluknya yeoja dewasa itu dengan hati-hati. Namun penuh dengan rasa penyesalan.

“Mianhae Noona… Mianhae,” isak Taemin pilu.

HeeJin membalas dekapan Dongsaengnya erat, Dongsaeng yang baru bertemu sebulan yang lalu, Dongsaeng kandung HeeJin. HeeJin takut jika waktunya mulai dekat. Dan tak bisa memeluk orang-orang yang disayanginya.

Song Ah Yoon, Moon JunYoung, dan Appa, Eomma tirinya.

Mendadak seperti alarm yang membangunkan, otak HeeJin teringat sesuatu. Dan jemari HeeJin menangkup pipi Taemin yang memerah dan mengarahkannya tepat kedepan wajahnya.

“Taemin-ah, dengar Noona. Kau besok harus menghadiri pernikahan Ah Yoon dan JunYoung. Katakan pada mereka semuanya yang terjadi.” Senyum terakhir HeeJin tulus terlukis. Bukan yang terakhir, tapi dia tak tahu, apakah setelah ini dia bisa tersenyum kembali atau tidak.

“Noona,”rengek Taemin. Dia tak kuasa jika harus menceritakan apa yang terjadi pada pengantin baru itu. Meski dia tahu bahwa Ah Yoon adik tiri HeeJin, tapi sungguh, dia benar-benar tak mau melakukannya.

“Kalau kau tak mau, hadiri saja pernikahannya, jika operasi Noona berhasil, Noona akan kesana dan menjelaskan semuanya.” HeeJin mengelus sayang rambut Taemin. Dan dibalas anggukan senyum yang menenangkan HeeJin.

###

Riuh tepuk tangan menggema diantara tamu undangan yang menjadi saksi atas bersatunya dua insan yang tidak saling mencintai. Mungkin mencintai dalam arti berbeda, seperti kakak adik, Ah Yoon dan JunYoung mengartikan cinta dalam pernikahan ini. Semua dilakukan untuk memenuhi permintaan konyol HeeJin yang menginginkan mereka menikah.

JunYoung mengecup pipi Ah Yoon sekilas, dan tepuk tangan pun semakin menggema didalam gereja mewah tempat janji suci mereka dirapalkan. Mereka berdua tersenyum canggung dihadapan semua tamu. Dan sesekali mencari seseorang yang seharusnya juga menjadi biang perkara atas pernikahan salah ini.

Setelah para tamu undangan satu persatu meninggalkan Gereja yang megah itu, mata Ah Yoon tetap saja menari liar diantara tamu-tamu yang tak beraturean bagai semut. Jun Young entah kemana, Ah Yoon tak terlalu memikirkan itu. HeeJin, hanya Song HeeJin yang dicari. Lamat-lamat dia berjalan menuju kursi para tamu, dan memandangi sekeliling kembali.

“Kau mencariku, Chagi?” Suara tenang itu merasuk dalam pendengaran Ah Yoon tajam. Segera Ah Yoon berbalik, dan menemukan sosok cantik yang memakai gaun putih polos dan tersenyum padanya. Segera Ah Yoon berpura-pura memasamkan muka, lalu berjalan kearah HeeJin, Yeoja cantik itu.

“Kau tak melihatku merapalkan mantra itu? Bukankah kau Eonni yang sangat jahat?”ketus Ah Yoon. Sosok itu tersenyum dan membelai halus rambut Ah Yoon yang tertata rapi,

“Janji, Yoon-ie, bukan mantra.” HeeJin mendekat, dan perlahan direngkuhnya Yeoja mungil yang memakai gaun pengantin tersebut dalam pelukannya. Ah Yoon hanya bisa mengerjap ringan, dan menurut dengan apa yang ingin Eonninya lakukan.

“Hiduplah bahagia, seringlah tersenyum dan jaga JunYoung baik-baik.” HeeJin mengakhiri pelukannya, dan mencium pipi Ah Yoon lembut. “Eonni akan pergi jauh,”ujar HeeJin dengan sunggingan misterius diwajahnya.

“Kemana? Kau akan lari setelah kegagalan besar ini terjadi? Dimana tanggung jawabmu?”kesal ah Yoon yang langsung membuang muka.

“Kau pasti akan menemukanku nanti.” usapan lembut itu membuat Ah Yoon tertegun. Dia tak pernah merasa sangat nyaman sebelumnya. Meski setiap hari bersama Eonninya sangat nyaman, tapi kali ini berbeda.

“Ah Yoon-ie,” teriak JunYoung dari belakangnya, segera dia menoleh pada JunYoung yang memasang raut yang sulit ditebak. Ah Yoon mencoba untuk melihat HeeJin lagi, tapi Yeoja itu hilang bak ditelan bumi. Dan Ah Yoon berpikir bahwa Eonninya sedang berada ditoilet.

Ah Yoon berlari sambil mengangkat gaunnya menuju kearah JunYoung yang sedang berbicara pada seorang Namja yang sangat manis menurut Ah Yoon.

“Annyeong, Noona. Lee Taemin imnida.” Taemin membungkuk hormat. Dan Ah Yoon menganggukkan kepalanya sekali.

“Nuguseyo?” Ah Yoon menatap Taemin menyelidik.

“Naneun-” sebelum Taemin memperkenalkan diri sebagai Adik HeeJin, tiba-tiba suara Handphone Taemin mengacaukan perkenalan itu. Dan Taemin serasa menciut ketika melihat siapa yang menelepon.

“Kurasa ada baiknya jika kalai mendengarkan ini,” ujar TaeMin entah kepada siapa. JunYoung dan Ah Yoon menahan napas ketika TaeMin mengangkat teleponnya dan mengeraskan suaranya.

“Yeoboseyo,” kata Taemin hati-hati.

“Taemin-ssi, ada berita buruk.”

“Apa?” suara Taemin bergetar, dia mengerti situasi ini dan dia melirik JunYong dan Ah Yoon ragu.

“HeeJin mengalami pendarahan hebat setelah transplantasi ginjal dan paru-paru itu berhasil dilaksanakan. Eommamu tertolong, tapi HeeJin tak bisa kami tolong lagi. Juisonghamnida.”

Taemin terpuruk. Handphonenya terjatuh begitu saja, dan tangisnya meledak begitu saja. Meski dia tahu bahwa akan berakhir seperti ini. Tapi dia masih tak terima jika Eonni yang baru saja bertemu dengannya meninggal begitu saja. Kaki-kakinya dingin, terlalu lemas untuk berdiri. Dan akhirnya dia merosot ke lantai depan gereja tersebut.

Jun Young dan Ah Yoon terdiam. Merasa tersentak ketika nama HeeJin menjadi pembicaraan mereka. Bahu Ah Yoon mulai bergetar, perlahan dia ikut merosot. menyamai Taemin.

“Katakan,” suruh Ah Yoon dengan suara parau dan mencengkramn bahu Taemin erat. “Itu bukan Eonniku, kan?” Tetes demi tetes air mata itu mengalir. TaeMin terisak keras sembari mengangguk, dan akhirnya Ah Yoon mengguncangkan badan Taemin keras. junYoung hanya bisa terdiam dengan aliran mata membasahi pipi.

“Dia baru saja mengelus rambutku, dan kau bilang dia mati?! KAU GILA!” AH Yoon melemas dengan gaun pengantinnya yang menggesek tanah.

Taemin hanya diam, ingin menjelaskan apapun yang terjadi, tapi pada akhirnya bibirnya terlalu sibuk bergetar karena sedih. Mereka bertiga mengalami guncangan hebat dihari yang seharusnya menjadi indah.

###

Kau pikir kau adalah Eonni yang baik? Dengan mudahnya kau meninggalkan semua orang yang mencintaimu. Kau benar-benar jahat. Dan seumur hidupku, kau akan kuingat sebagai Eonni yang keras kepala dan rapuh dalamn hati. Namun kau adalah Eonni terbaik yang pernah aku dan Taemin punya, pacar terbaik Jun Young Oppa, dan Anak terbaik bagi Eomma kandungmu, Appa dan Eommaku. SarangHae. ( Ah Yoon)

FIN^^

Maaf Gaje, huwwaaaaaaa gaje bgt,🙂 tapi kritik dan saran ditunggu. Gamsahamnida.😀

One thought on “Sorry, I Can’t | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s