The way back into love | FF Peserta Lomba

 

Ryeo Wook & KyuHyun

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

 

 

Tittle : The way back into love

Author : Ginny Weasley | @sarahn901

Cast : – Song Eun Soo
-Cho Kyuhyun
-Kim Ryewook

Genre : Hurt, Romance

Lenght : Oneshoot

Rate : PG+15

Disklaimer : this fanfiction is original story of mine. The cast belongs of themselves. So, don’t bash me.

Seberapa lama waktu yang aku tunggu, aku akan menunggumu.
Dan sampai kapanpun perasaan ini, akan tetap sama. Sama seperti saat kita memulainya….

Awan-awan putih saling bergerumul menyelimuti langit biru yang tenang. Secara perlahan dia bergerak dengan apiknya, membuka celah-celah mentari yang tersembunyi didalamnya. Cahayanya mengurai dan menyinari dengan lembut bumi yang tadinya tertidur. Tak ada satupun yang luput dari sinarnya, terkecuali sebuah ruang tertutup dan berdiam di dalamnya. Terpaan angin seakan beriringan menyambut sang mentari, dengan lirihan suara yang bernyanyi merdu. Hembusan angin tampak menerpa surai tumbuhan hijau itu, sebuah pohon yang menaungi dua sosok insan yang terpekur didalamnya. Keduanya duduk yang dipapahi subuah tikar yang terjuntai persegi dan sebuah keranjang makanan disampingnya.

Sepasang manik mata yang beriris coklat itu diam, tepat diwajah seseorang yang duduk dihadapannya. Seorang gadis berkulit putih dan berambut coklat terang yang ditutupi topi rajut, dia merundukan pandangannya sedari tadi, seakan menghindari kilatan mata namja itu. Dia tahu benar namja itu seperti apa, mungkin dia akan marah saat ini dengannya. Tapi, dia juga sangat mencintainya. Haruskah dia bertahan namun merasa sesaknya, atau justru menjauh namun menyakitinya. Semua hal-hal itu seakan semakin membuatnya ingin meledak rasanya.

“Huum…, aku tau kau marah, Oppa. Tapi aku harus apa? aku juga sakit disini. ” Gadis itu mengenggam erat ujung bajunya, menahan rasa sesaknya.

“Aku tidak akan marah, jika kau tetap bertahan Eun Soo. Bisakah kau tidak menyerah begitu saja! ” Kyuhyun mengepalkan tangannya, sebenarnya dia juga tidak tega melihat Eun Soo seperti saat ini. Tapi dia harus melakukan ini, supaya Eun Soo percaya kalau dia itu juga berperan penting disini, seseorang yang telah lama berdiam diri dihati bahkan pikiran Eun Soo.

“Aku tidak bisa. Sampai kapanku, aku tidak akan pernah bisa Oppa. Setiap aku melihatnya aku selalu merasa, kalau aku itu jahat. Mengertilah Oppa, Eonni terlalu baik untuk tersakiti. Dan lagi, Appa … hanya dia dan Eonni saja yang ku punya…. ” Eun Soo secara perlahan menengadahkan kepalanya, digengamnya tangan Kyuhyun menyakinkannya. Dengan sorot mata yang kabur, karena terlalu banyak airmata yang mengenanginya.

“Aku tahu niatmu baik, tapi kenapa harus kita? Kenapa harus hubungan kita yang dikorbankan? Terlalu sulit Eun Soo-ya, jujur ini terlalu sulit bagiku. Aku begitu tidak bisa untuk melepasmu, perasaan ini terlalu lama disini. ” Dengan tangan kekarnya, Kyuhyun membawa tangan mungil menyentuh dadanya, seakan menunjukan keperihan itu disana.

“Bisakah kita tetap bersama melewatinya? Aku hanya ingin berakhir denganmu Eun Soo-ya. Aku tidak ingin apa-apa lagi, hanya kau. Aku tidak bisa membayangkan nantinya akan seperti apa? Cinta itu, semuanya perlu proses untuk memahaminya lebih dalam. Dan aku, telah mencobanya dan itu hanya terjadi pada kau. Setiap kebersamaan itu … aku tidak ingin kehilangannya, aku tidak ingin semuanya berakhir begitu saja. Terlalu banyak Eun Soo, terlalu banyak kita melewati semuanya bersama. Semua yang kita alami dan telah kita jalani semuanya telah terukir dan tak akan terganti. Haruskah berakhir disini? Haruskah aku melakukannya? Ini permintaanmu paling sulit bagiku, aku tidak bisa…. ” Dilembutkanya suara itu, menatap manik mata Eun Soo. Seakan mencari pembenaran disana, suatu pembenaran kalau Eun Soo tidak benar-benar akan melakukan ini. Bagaimana mungkin Kyuhyun mampu? Disaat cinta itu semakin memuncah. Bagaimana mungkin Kyuhyun mampu? Disaat setiap ritme jantungnya, hanya tertulis nama gadis ini. Sekedar membayangkannya saja itu terlalu sulit, seperti sebuah klise yang bayangnya semu. Apalagi untuk menjalaninya dalam kenyataan.

“Sebenarnya aku juga tidak mampu, Oppa. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ini semua membuat aku seakan terperosok. Ketika aku harus memilih kebahagianku atau kebahagian Eonnie. Aku tidak bisa untuk egois dengannya, disaat Eomma tak ada. Dia lah yang menjadi sumber kebahagianku layaknya Eomma yang begitu melindungiku. Eonnie mencintaimu Oppa, dia orang baik aku yakin kau pasti mudah mencintainya. Dia orang terlembut yang pernah ku kenal. Disaat keluargamu datang untuk melamarku, dia antusias sekali Oppa. Disaat ucapan nama itu salah, Song Eun Ji Appamu salah menyebut namaku. Itu semua seperti sebuah petunjuk Oppa, kalau kau memang bukan untukku. Kau tahu? Eonnie sangat mempercayai adanya cinta pada pandangan pertama. Saat kau datang dia bilang dia langsung mencintaimu Oppa, aku ingat betul bagaimana matanya berbinar setiap kali menyebut namamu. Aku tidak akan pernah melihatnya sebahagia itu, mungkin aku bisa saja bilang kalau itu salah paham. Dan mungkin dengan mudahnya dia melepasmu untukku, tapi itu sama saja aku membunuhnya Oppa. Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Sudah terlalu banyak dia berkorban untukku. Rasanya aku terlalu jahat, karena aku mengambil sinar kebahagiaan itu. Bohong kalau aku bisa rela melepasmu Oppa! Aku sama sekali tidak bisa, sama sekali tidak bisa Oppa … Aku terlalu mencintaimu, aku terlalu tidak bisa untuk hidup tanpa melihat wajah itu, tanpa melihat senyum itu, dan tanpa merasa kehangatan sentuhan itu. Aku terlalu tergantung oleh sosokmu, di setiap aku membuka mata hanya kau yang pertama kali aku bayangkan. Dan di saat aku menutup mata, aku hanya ingin melihat wajahmu saja ataupun sekedar mendengar suaramu terakhir kalinya. Aku juga tidak tahu akan seperti apa nantinya aku tanpa kau lagi, tapi aku akan mencoba. Meskipun itu sulit aku mencobanya Oppa, aku…. ” Eun Soo sama sekali tak mampu berkata-kata lagi, suaranya seakan teredam oleh isak tangisnya. Air mata itu meluruh begitu saja, dan semakin derasnya. Di setiap Eun Soo mencoba untuk tetap bertahan nyatanya itu tidak pernah bisa, Eun Soo selalu merasa lemah di hadapan Kyuhyun. Entah kenapa? Semakin dia mencoba untuk tetap tegar, justru semakin menyesakkan.

Melihat Eun Soo seperti itu, batin Kyuhyun sangat terenyuh. Direngkuhnya tubuh itu begitu eratnya, membiarkannya melepaskan semua beban itu. Sebegitu perihkah dia merasakannya? Bagaimana mungkin? Kyuhyun sempat berpikir bahwa hanya dia yang tersakiti, sementara Eun Soo tidak. Betapa Kyuhyun sangat tidak bisa melihat gadisnya seperti ini. Di usapnya tubuh yang bergetar itu lembut, seakan menyampaikan kalau dia selalu ada untuknya , yang selalu membuat Eun Soo merasa jauh lebih baik.

Terdengar miris memang, hanya karena kesalahan penyebutan sebuah nama, bisa menjadi pelik dan panjang seperti ini. Mungkin kedengarannya sepele. Tapi bagi Eun Soo tidak! Apapun yang menyangkut kebahagian keluarganya, dia selalu mengutamakan itu. Meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri. Itulah yang membuat Kyuhyun semakin berat untuk melepas gadis ini, karena dia terlalu tulus. Karena dia terlalu istimewa di mata Kyuhyun. Bagaimana mungkin? Kyuhyun bisa dengan mudahnya menghilangkan perasaan yang sudah terlalu dalam dihatinya.

“Aku mungkin tidak tahu perasaanmu dengan Eonniemu seperti apa? Tapi aku tetap tidak bisa untuk melakukan ini, ku mohon mengertilah … Ini tidak semudah itu, jika ini terus dilanjutkan tak akan berakhir dengan baik. Apa kau tega membiarkan orang menyayangimu hidup dengan orang yang tak mencintainya? Hidup dibawah bayang-bayangmu? Setiap wanita itu menginginkan pernikahan yang penuh cinta di dalamnya, dan aku tidak bisa memberikannya. Kali ini tolong percaya padaku. Aku mau kita berusaha dulu, kemungkinan itu selalu ada Eun Soo-ya.” Kyuhyun mengecup puncak kepala Eun Soo, yang tertutupi topi rajut itu. Sangat sakit perasaannya saat ini, ketika kebahagian hampir di depan mata. Tapi justru berujung sebaliknya, lalu siapa harus di salahkan di sini? Apakah waktu atau keadaan? Tak ada satupun yang patut disalahkan, semuanya seakan mengalir begitu cepat. Setelah dirasakannya cukup tenang, Eun Soo merenggangkan pelukan itu, ditatapnya iris coklat terang itu lembut.

“Aku tidak tahu, Oppa. Apa masih ada kemungkinan itu? Aku tak tahu apa bisa aku bertahan bersamamu? Tapi satu hal aku begitu menyayangi dirimu, memang tak mudah memilikimu. Oppa sekarang aku ingin kau mulai terbiasa tanpa aku. Aku ingin semuanya di akhiri saja, kebersamaan ini. Lupakan apa yang pernah terjadi di antara kita, lupakan semuanya Oppa. Akupun akan melakukan hal yang sama, mungkin kita di pertemukan bukan untuk bersama. Mungkin — ”

“Aku tidak ingin dengar! AKU TIDAK AKAN PERNAH MELAKUKANNYA! KAU GILA?! Tidak semudah itu, tidak semudah itu! Sekarang aku tidak ingin membahas ini lagi. Bagaimanapun caranya, aku tidak ingin melakukannya. Sekalipun itu kau yang memintanya, tidak akan pernah! Kita harus melewatinya bersama-sama, tetap seperti itu saja. Sekarang makanlah! Bukankah kau menyuruhku kesini untuk itu. ” ucap Kyuhyun seraya menghela nafasnya. Dia mencoba menahan emosinya yang seakan ingin meledak.

Keduanya memang berencana untuk piknik di taman ini, dan semuanya Eun Soo yang menyiapkannya. Karena tidak ingin melihat Kyuhyun yang terselut emosi lagi, akhirnya Eun Soo menurutinya. Eun Soo membukanya keranjang itu, keranjang yang berisi makanan yang Eun Soo buat sendiri yaitu jjangmyeon, telur gulung,sushi dan beberapa buah, karena Eun Soo tahu Kyuhyun tidak menyukai sayuran jadilah dia membawa buah-buahan. Lalu Eun Soo menata kotak bekal itu serapihnya, menyiapkan makanan untuknya dan Kyuhyun. Saat ini memang sedang liburan musim gugur, mereka selalu memanfaatkan itu sekedar melewatinya hanya berdua seperti saat ini piknik. Sederhana memang, tapi bagi keduanya bukan masalah liburan yang seperti apa yang terpenting? Tapi lebih kepada waktu yang di lakukannya dengan bersama.

Hening! Hanya suara dentingan sumpit dan deruan angin yang menyibakan guguran bunga yang terdengar. Setelah pembicaraan yang cukup menegangkan tadi, keduanya masih enggan membuka suara. Ini jarang terjadi, biasanya mereka selalu bersenda gurau riang. Semuanya seakan sirna, ada penyesalan di relung hati Kyuhyun maupun Eun Soo setelah perdebatan tadi. Sesekali tatapan itu bertemu, namun tak bisa mengetarkan semua yang sudah berjalan yaitu kesunyiaan yang mendominasinya.

‘Kenapa kau begitu keras kepala sekali Eun Soo-ya? Mungkin aku bisa saja mengabulkan semua permintaanmu apapun itu, tapi tidak yang satu ini. Tidak akan pernah…. ‘

‘Aku juga tidak bisa melepaskanmu, Oppa. Tapi aku terlalu lemah, aku terlalu menyayangi Eonnie. Aku tidak ingin membuatnya sedih, aku ingin membahagiakannya. Tapi, haruskah aku mengorbankan diriku sendiri? Perasaanku? ‘

“Aku sudah selesai. Aku antarkan kau pulang. ” ucap Kyuhyun tanpa melihat wajah gadis itu.

Eun Soo mengangguk mengiyakannya, keduanya membereskan makanan-makanan itu kedalam keranjangnya. Melipat tikar itu dan memasukannya dalam keranjang lalu beranjak dari taman itu. Seharusnya ini menjadi liburan yang menyenangkan seperti biasanya, tapi justru sebaliknya. Kyuhyun mengantarkan gadis itu dengan mobilnya. Tetap sama, hanya keheningan yang tercipta di dalamnya. Eun Soo mengatupkan kedua matanya menahan rasa sesaknya, dia mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Dan sesekali menyeka airmatanya yang diam-diam mengalir begitu saja. Rasanya ingin sekali dia menjerit dan meraung meluapkan seluruh sakitnya. Betapa kesedihan itu seakan menghimpitnya saat ini. Tanpa Eun Soo sadari Kyuhyun memperhatikannya sedari tadi, sebenarnya dia juga tidak ingin bersikap seperti ini. Tapi Kyuhyun terlalu mencintai gadis ini, terlalu tidak bisa untuk hidup tanpa ada Eun Soo di sekitarnya, walau bagaimanapun perasaan itu tidak bisa untuk dipaksakan.

Selang beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di depan rumah Eun Soo. Eun Soo membuka pintu mobil itu, setelah itu dia mengambil keranjang makanannya di pintu belakang. Ditutupnya pintu mobil itu, tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Meninggalkan Kyuhyun yang masih tak bergeming di tempat duduknya. Bukannya Eun Soo marah pada Kyuhyun, hanya saja Eun Soo berpikiran mungkin Kyuhyun masih marah dan enggan untuk melihatnya. Baru beberapa langkah dia mengayunkan kakinya, sebuah tangan meraih lembut tangannya. Dibalikannya tubuh Eun Soo untuk berhadapan dengannya.

“Kau percaya padaku? ” Kyuhyun menangkup kedua bahu Eun Soo, ditatapnya manik mata itu dalam. Eun Soo sontak tercenang, dia menganggukan kepalanya mengiyakan, seolah terhipnotis pada sorot mata itu.

“Kalau begitu biarkan aku melakukan ini, ini semua harus di selesaikan. Ini tidak boleh terlalu lama berlarut-larut. ” Kyuhyun menarik tangan itu, mengikuti langkahnya secara memasuki pintu rumah itu. Tiba-tiba Eun Soo mengentikan langkahnya, entah kenapa perasaannya sangat tidak enak saat ini.

“Oppa, kau yakin akan melakukannya? Aku merasa ini tidak benar. ” Kyuhyun lantas berbalik menatap gadis itu, di dekatnya wajah itu pada wajah Eun Soo. Bibir Kyuhyun jatuh sempurna tepat di kening Eun Soo.

“Kau harus percaya padaku. Semuanya pasti akan membaik. ” Dengan langkah berat akhirnya Eun Soo mengikuti langkah Kyuhyun, memasuki rumahnya. Kyuhyun begitu erat mengenggam tangannya. Seakan tak ingin melepasnya walau sedetik pun.

A few years later~

Seorang gadis tampak menghirup udara di taman ini, dia begitu menyukai suasana sekitarnya di pagi hari ini. Mendengarkan burung-burung yang bernyanyi lirih, merasakan hawa dingin yang masuk menelungsupi celah-celah bajunya. Menghirup aroma tanah yang basah karena tetesan embun pagi. Itulah yang menjadi rutinitasnya setiap pagi, dia mendorong sendiri kursi rodanya menuju taman rumah sakit yang seakan menjadi rumah sendiri, beberapa tahun belakangan ini. Sebuah tangan meraih pundaknya, dia melihatnya sekilas lalu berbalik tersenyum pada sosok nan tampan itu.

“Dokter Kim. Kenapa sepagi ini, kau sudah kesini? ” tanya gadis itu. Dia menatap sosok itu, seseorang yang sudah seperti malaikat baginya. Seseorang yang menyelamatkan hidupnya dalam keterpurukan beberapa tahun silam.

“Tentu saja untuk melihat pasienku yang tersayang ini. Kata suster yang merawatmu kau setiap pagi selalu kesini, Eun Soo-ya. Jadi aku penasaran ingin melihatnya langsung. ” Pipi gadis itu seakan memanas mendengar ucapan itu. Jantungnya seakan berdebar begitu kencangnya, setiap kali berada di dekat namja yang bernama asli Kim Ryewook ini. Sebuah kenyamanan kah? Atau hal lainnya? Entahlah, Eun Soo tidak pernah mengerti dengan perasaannya. Yang dia tahu hanya di dekat namja inilah, dia merasa tenang. Ryeowook lantas berlutut dihadapan Eun Soo, menyeimbangkan berdirinya dengan gadis itu.

“Entahlah Dokter Kim, setiap kali berada di sini, aku merasa sangat tenang. Aku merasa nyaman di sini, rasanya seperti berada di setengah dari kehidupan masa laluku dulu, ” ucap Eun Soo. Mata yang tadinya berbinar, secara perlahan memudar seiring dengan ucapannya barusan. Melihat Eun Soo yang tiba-tiba berubah murung, Ryeowook mengenggam tangan Eun Soo dan mengusapnya lembut seolah menenangkannya. Sedikit pun dia tidak ingin membiarkan gadis dihadapannya ini bersedih lagi.

“Apa aku perlu membawamu ke padanya lagi, hum? ” tanya Ryeowook seraya tersenyum hangat padanya.

“Tidak … tidak bukan seperti itu maksudku. Aku sudah merasa nyaman disini, aku tidak perlu apa-apa lagi. Lagi pula aku sudah punya kau Dokter Kim, dan juga beberapa suster dan semua orang dirumah sakit ini. ” Eun Soo membalas tersenyum hangat padanya. Bagaimana mungkin dia kembali kepada seseorang itu? Mungkin dia sudah bahagia saat ini. Bersama orang yang lebih sempurna darinya, yang sekedar berjalan di atas ke dua kakinya saja tidak bisa. Eun Soo hanya bisa tersenyum miris mengingatnya. Ingatan itu masih terpatri jelas di pikirannya.

Flashback~

“Appa aku — ”

“Ahjussi mianhae jika aku datang terlalu pagi. Ahjussi sebenarnya ada kesalah pahaman disini. Sebenarnya saat itu Appaku salah menyebut nama, harusnya Eun Soo lah yang dimaksud. Maaf sebelumnya. ” terang Kyuhyun pada Tuan Song. Dia menghentikan ucapan Eun Soo dan menatapnya seakan menyiratkan kalau dia saja yang menjelaskannya.

Mendengar itu Eun Ji sontak terkejut,ditutupnya mulutnya yang menganga menahan perasaannya yang terasa sangat sesak. Betapa sakitnya perasaannya, disaat dia merasakan perasaan itu tapi ternyata hanya kekeliruan semata. Rasanya dia tidak kuat lagi menahan perasaan sakitnya lebih lama lagi, dia beranjak dari duduk dan meninggalkan tempat itu dengan isak tangisnya.

“Eonnie tunggu! ” Eun Soo ingin mengejar kakanya itu, tapi Kyuhyun semakin mengeratkan gengaman itu dan mengelengkan kepalanya ke arahnya.

“Apa-apa ini? Maksudnya apa semua ini? Eun Soo jadi sebenarnya ini hanya kesalahan saja? Huuh…. ” Appa Eun Soo menghembuskannya nafasnya kasar. Dia tidak habis fikir bisa terjadi seperti ini.

“Mianhae Appa, mianhae … ” Gadis itu tak kuasa menahan tangisnya, ternyata apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi.

“Appa benar-benar kecewa pada kalian. Kenapa baru menjelaskannya sekarang? Lalu bagaimana dengan perasaan kakakmu? Hum…., Kyuhyun-ah kau pulanglah! Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan putriku. ” ujar Appa Eun Soo.

“Tapi, Ahjussi aku — ”

“Kyu, pulanglah. ” Eun Soo melepaskan genggaman tangan Kyuhyun pada tangannya. Dengan berat hati akhirnya Kyuhyun menuruti ucapan itu. Direngkuhnya tubuh gadis itu lagi, lantas beranjak dari ruangan itu setelah sebelumnya membungkukan badanya pada Appa Eun Soo. Entah kenapa? Dia berat meninggalkan Eun Soo seolah akan berpisah jauh darinya.

“Appa aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti Eonnie, atau membuat Appa bingung. ” ucap Eun Soo sepeninggalan Kyuhyun. Dia menatap wajah Appanya itu meyakinkannya

“Apa kau mencintainya? ”

“Appa aku … Sebenarnya aku — ”

“Tinggalkan dia Eun Soo-ya. Walau bagaimanapun,kakakmu juga mencintainya. Kau menyayangi kakakmu bukan? Bukannya Appa bepihak kepada kakakmu, tapi dia terlalu banyak membuang waktunya untuk kita Eun Soo-ya. Hingga dia lupa kalau dia juga punya kehidupan untuk dirinya sendiri yaitu, merasakan mencintai dan dicintai. Kau mengerti maksud Appa bukan? ” Appa mendekati gadis itu di rengkuhnya tubuh Eun Soo dan membelai surainya sayang. Keranjang yang dibawanya terjatuh begitu saja, air mata itu mengalir dengan derasnya.

“Aku mengerti Appa. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaan Eonnie. ” Appa mencium puncak kepala Eun Soo, membiarkannya menangis di pelukannya.

Keesokan harinya Eun Soo menyiapkan semua keperluannya disana. Yah, setelah pembicaraan yang panjang dengan Appanya Eun Soo memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Paris. Itu semua tidak lain karena permasalahan itu. Dia melakukan ini tanpa sepengetahuan Kyuhyun tentunya.

“Eun Soo-ya. Kau tidak perlu seperti ini, Eonnie tidak marah sama sekali padamu. Kau tidak salah sama sekali. Maafkan Eonnie…. ” Eun Ji tak kuasa menahan tangisnya menahan rasa sakit.

“Eonnie tidak perlu minta maaf seperti itu, aku sudah memutuskan ini atas kemauan ku sendiri. Aku sangat menyayangimu Eonnie. ” Eun Soo merengkuh tubuh Eun Ji begitu eratnya, keduanya menumpahkan seluruh tangisnya saat itu juga.

“Eonni juga begitu menyayangimu Eun Soo-ya. ”

‘Mianhae, Kyu. Karena aku pergi tanpa melihatmu lagi, mianhae…. Aku akan membawa terus cinta ini dan kenangan kita.’ Eun Soo semakin mengeratkan pelukan itu, seiring dengan air matanya yang mengalir begitu saja. Hingga tiba-tiba….

BRAAK

Flashback end~

“Dokter Kim aku tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu seperti apa? Jika saat itu tidak ada kau, aku tidak tahu apa aku bisa sekuat ini? Appa dan Eonnie mungkin sudah bahagia di atas sana. Aneh yah? Kenapa hanya aku yang selamat dari kecelakaan itu? Kenapa aku di tinggal sendirian disini? Padahal aku begitu merindukan Eomma. ” Eun Soo mengigit bibirnya menahan rasa sesak dihatinya. Ryeowook mendengarkan setiap ucapan dari bibir gadis itu, sesekali dia menepuk bahu gadis itu seakan memberi kekuatan padanya.

“Yang perlu kau lakukan yaitu menjadi Song Eun Soo yang kuat. Supaya Appa dan Eonniemu bangga Eun Soo-ya, jangan pernah merasa sendirian karena aku akan selalu bersamamu. Kau tahu? Tuhan begitu menyayangimu Eun Soo-ya, dia ingin melihatmu bahagia dulu disini. Hum…, sebenarnya aku ada sedikit masalah Eun Soo-ya. Kau mau membantuku? ” Eun Soo sedikit terkekeh melihat perubahan raut wajah Ryeowook. Baru saja dia melihat sisi dewasa yang biasa dilakukan Ryeowook untuk menyemangatinya, yang terkadang membuat Eun Soo merasakan keteduhan. Sekarang berganti lagi menjadi sisi lain menjadi sosok anak kecil yang seakan menunjukan wajah polosnya pada Eun Soo.

“Sebisa mungkin aku akan membantumu Dokter Kim. Aigoo … Jangan menunjukan wajah seperti itu, jika orang lain melihat, mungkin kau dikira anak kecil yang berpakaian dokter? ” ucap Eun Soo menggoda Ryeowook dengan tawa khasnya yaitu mata yang seolah ikut tertawa. Ryeowook tersenyum melihat Eun Soo tertawa seperti itu. Entah kenapa? Dia selalu tidak bisa menahan perasaannya ketika dia melihat senyuman itu, senyuman yang selalu membuat jantung Ryeowook seakan meletup-letup karenanya.

“Yak, kau?! ” Ryeowook sontak menyentil dahi gadis itu dengan tangannya. Secara perlahan wajahnya mendekati wajah Eun Soo dan menempatkan bibirnya tepat di telinga Eun Soo membisikan sesuatu, “Terima kasih Eun Soo-ya. Aku menyukaimu jika tertawa seperti itu. ” Gadis itu sedikit bergidik dengan perlakuan itu. Sedikit saja wajahnya bergeser mungkin tak akan ada jarang sama sekali antara wajahnya dengan Ryeowook.

“Aku jamin kau akan sangat bahagia Eun Soo-ya. ” Ryeowwok menjauhkan jarak wajahnya dengan wajah Eun Soo. Dia tersenyum hangat kearah Eun Soo seakan menetralkan suasanan canggung yang seakan mendominasi mereka tadi.
Hingga beberapa saat kemudian hanya senda gurau yang menghiasi keduanya.

*****

Dengan telatennya Ryeowook mendorong kursi roda itu, membawa Eun Soo yang duduk manis disana. Ryeowook membawa Eun Soo ke suatu tempat yang terasa asing baginya, suasananya begitu indah. Dengan hiasan bernuansa klasik yang menjadi daya tarik sendiri bagi Eun Soo, anehnya disini sangat sepi. Dengan riasan nan sederhana gadis itu tersenyum simpul melihat sekelilingnya, sesekali dia membalikan wajahnya ke arah Ryeowook. Seakan ingin menanyakan perihal ini semua, tapi Ryeowook seolah enggan membaca arti tatapan itu. Dibiarkannya Eun Soo yang seakan di hujamin berjuta pertanyaan di pikirannya.

Putaran kursi roda itu terhenti pada sebuah meja yang berada di tengah-tengah tempat itu. Meja yang di hias sedemikian rupa, dengan piring gelas dan dua potong cake yang beralaskan kain berwarna merah marun, warna kesukaan Eun Soo. Di tepi jalannya di hiasi lilin-lilin yang seakan menyambut kedatangannya. Hingga suara Ryeowook menyentakkannya dari pemandangan itu. “Kau tunggulah disini. Jangan pernah pergi kemana-mana, sebelum aku datang lagi. ” Diusapnya surai gadis itu lembut dengan senyum yang seakan mengandung arti, senyum yang terlihat lain. Lalu Ryeowook mengecup kening Eun Soo lembut. Secara perlahan Ryeowook mengayunkan langkahnya, meninggalkan gadis itu yang masih tercenang di tempatnya.

‘Aku rasa aku mencintaimu Eun Soo-ya. Setiap kali aku berada di jarak yang sangat dekat denganmu, aku tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Tapi aku jauh lebih bahagia ketika aku mencintaimu dan kau bahagia karenanya. Dan ternyata aku salah, aku tak pernah melihat kebahagiaan itu. Satu hal yang perlu kau tahu, aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Aku bahagia saat kau bahagia dengan cintamu, walaupun itu bukan aku. ‘ Ryeowook menahan rasa sakit di dadanya, di lihatnya dari kejauhan tubuh gadis itu. Betapa dia sangat tak ingin bayangan Eun Soo luput begitu saja dari pandangannya.

Eun Soo memandangi punggung Ryeowook yang sudah menjauh. Dia mengeryitkan dahinya, betapa Eun Soo sangat bingung saat ini. Tanpa dia sadari sepasang kaki melangkah mendekatinya dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Di dorongnya kursi itu yang menimbulkan decitan suara, sehingga Eun Soo berbalik melihatnya.

Eun Soo tercekat saat itu juga, dia membuka mulutnya yang terasa sangat sulit untuk berucap, “Ka … Kau! ” Tubuh gadis itu menegang suaranya bergetar melihat sesosok itu. Kerinduan itu seakan memuncah di setiap aliran nadinya.

“Kau terkejut? Aku sangat merindukanmu Eun Soo-ya, kenapa kau menjauhiku? Semuanya telah berakhir setelah empat tahun berlalu. Tapi kenapa kau masih tak mau bertemu denganku? Kau salah. Jika beranggapan aku sudah bahagia, Ryeowook telah menjelaskan semuanya padaku. Selama tahun-tahun itu aku hampir gila karena mencarimu. Itu adalah tahun-tahun terberat dalam hidupku, dimana aku hidup tanpa kau di sampingku. Apa kau fikir aku bahagia? Itu tidak sama sekali, aku sangat tersiksa menjalaninya. Tuhan memang baik, karena aku bisa di pertemukan lagi olehmu melalui Ryeowook. Aku tidak akan marah karena hal itu, tapi aku mohon jangan mencoba pergi lagi. Aku begitu mencintaimu Eun Soo-ya dan aku tak bisa melihat cinta yang lainnya, hanya kau saja begitu seterusnya. ” Kyuhyun mengenggam sebelah tangan itu, menatap gadis di hadapannya sayu. Betapa dia sangat merindukan sosok gadis ini, dia yang selalu memenuhi setiap pikiran Kyuhyun.

“Tidak! Tidak Oppa, aku tidak bisa lagi. Mianhae…. ” Di tariknya tangan itu dari tangan Kyuhyun. Dia memutar kursi rodanya, berjalan menjauh dari meja itu. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Kyuhyun melepaskan kerinduan yang selama ini begitu menyiksanya. Akan tetapi egonya lebih tinggi dari perasaannya, walau bagaimanapun situasinya sudah tidak sama. Dia berpikiran bahwa dia bukan lagi gadis sesempurna dulu, Eun Soo sangat sadar akan keadaannya saat ini. Dengan dorongan lemah karena perasaannya yang seakan luluh lantah saat ini, dia memutar rodanya menjauhi Kyuhyun.

“Dokter Kim! Dokter Kim! Kau dimana? Kenapa kau meninggalkanku disini?! ” Dengan derai air mata yang terus saja mengalir di pipinya, Eun Soo terus saja memanggil Ryeowook.

Kyuhyun menatapi kepergian gadis itu miris, betapa perih hatinya. Karena seseorang itu, tak lagi melihatnya dengan sorot mata yang sama. Sama seperti saat itu, dia menyeka air matanya itu menahan sakit di dadanya. Dengan langkah gontai di kejarnya sosok Eun Soo, hingga jaraknya sangat dekat dengan Eun Soo. Di rengkuhnya tubuh yang begitu dirindukannya itu begitu eratnya, walaupun Eun Soo sama sekali tak meresponnya. Bahkan beberapa kali dia mencoba merintih memintanya melepaskan pelukan itu. Namun Kyuhyun justru semakin mengeratkannya.

“Dia sudah pergi, dia sudah menyerahkanmu padaku sepenuhnya. Aku mohon jangan seperti ini Eun Soo-ya. Aku tahu kau masih mencintaiku, aku mohon jangan pergi lagi. Aku tidak bisa, sama sekali tidak bisa. Atau memang sudah tak ada perasaan itu lagi? Sekarang tatap aku dan katakan kalau kau tak mencintaiku. ” Kyuhyun menangkup bahu Eun Soo, di tatapnya mata yang penuh kepedihan itu nanar. Rasanya sakit memang, tapi Kyuhyun juga tak bisa melihat Eun Soo yang seperti ini. Apapun yang akan di katakan Eun Soo saat ini dia siap, walaupun hatinya akan teriris nanti. Ketika ucapan yang tak ingin di dengarnya itu terucap dari mulut gadis itu sendiri.

“A … Aku … Aku tidak bisa Oppa, ” lirih Eun Soo.

“Aku tahu kau akan mengucapkan itu. Jika memang dia orang yang terbaik bagimu, aku akan rela Eun Soo-ya. Aku paham, mungkin dia memberikanmu suatu kebahagiaan yang melebihi dari aku. ” Kyuhyun tersenyum setelah ucapannya itu. Senyum yang seakan di paksakan, senyum yang sangat berlawanan dengan hatinya.

“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa untuk berhenti mencintaimu, Oppa. Sekeras apapun aku mengelak perasaan ini, nyatanya perasaan ini tetap tumbuh dan semakin dalam. Setiap aku berusaha untuk melupakanmu aku justru semakin mencintaimu, ” lanjut Eun Soo. Di tangkupnya wajah itu dengan tangannya, seraya menatap Kyuhyun dengan sorot mata yang membuat Kyuhyun tercekat seketika. Tak ada lagi yang bisa di lakukan Kyuhyun, betapa gembiranya dia saat ini. Ternyata apa yang di pikirkannya salah, ternyata gadis itu tak pernah sekalipun untuk berhenti mencintainya. Dengan senyum sumringah, di tariknya dagu Eun Soo. Menempel bibirnya tepat di bibir tipis Eun Soo, menyatukan rasa rindu yang selama ini kian bergemuruh di hati keduanya.

Dari kejauhan sepasang mata itu melihatnya, dengan tersenyum perih. Ryeowook belum benar-benar meninggalkan tempat itu, dia berdiri di balik pohon yang berada jauh dari tempat Eun Soo berada.

“Aku tahu akan berakhir seperti ini Eun Soo-ya. Bertemu denganmu adalah hal terindah dalam hidupku. Berada disampingmu, melihat senyuman itu. Aku pasti akan sangat merindukan saat-saat itu. Mungkin hanya seperti ini yang bisa kulakukan, menjadi sosok yang melindungimu dari jauh. Ada saatnya dimana aku harus pergi membiarkanmu, mengejar kebahagiaanmu bersamanya. ” Secara perlahan Ryeowook menjajali langkahnya meninggalkan tempat itu. Dengan sesekali melihat wajah gadis itu lagi untuk terakhir kalinya.

“Kau suka? ” tanya Kyuhyun setelah membawa Eun Soo lagi meja itu. Gadis itu mengangguk mengiyakannya, berkali-kali Kyuhyun memandangi wajah Eun Soo seraya tersenyum hanya karena memandangnya. Di gengamnya tangan mungil itu lembut, betapa Kyuhyun tak ingin kehilangan sosok di hadapannya lagi untuk ke sekian kalinya.

“Kau tetap sama Eun Soo-ya tetap cantik seperti dulu. ” Ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Kyuhyun, ucapan yang selalu mampu membuat Eun Soo tersipu malu hanya karenanya. Eun Soo hanya membalas ucapan itu dengan tersenyum padanya. Entah kenapa? Dia tak mampu beucap sepatah katapun. Semenjak beberapa tahun berlalu tidak bertemu Kyuhyun, setiap perlakuan itu Eun Soo merasa canggung menerimanya.

“Makanlah! Aku menyiapkan semuanya untuk hari ini. Sebenarnya aku selalu merasa ini kurang, karena kau terlalu istimewa. Sehingga aku tidak tahu apa lagi yang perlu kubuat. ” Keduanya menikmati suasana itu. Sesekali Eun Soo menatap Kyuhyun mendengar ucapan yang dilontarkan untuknya. Sembari memotongnya cake itu dengan sendok lalu mengunyahnya pelan. Hingga seketika….

“Uhuk! Uhuk ” Eun Soo merasakan ada sesuatu yang terselip dimulutnya. Di ambilnya benda yang ada di mulutnya itu, “Ini … Maksudnya apa Oppa? ” Gadis itu mengeryitkan keningnya, sebuah cincin berhiaskan berlian kecil di tengahnya ada di mulutnya.

Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekati Eun Soo, dia berlutut dihadapanya menyamai dengan tinggi gadis itu yang duduk di kursi roda, “Aku yang menyematkannya di dalam cake itu. Aku sangat menunggu hari-hari ini Eun Soo-ya. Tolong kali ini, jangan menolaknya lagi. Eun Soo-ya would you marry me? ” Kyuhyun menangkup kedua bahu gadis itu, seraya menatapnya dalam seolah memohon pada Eun Soo.

Eun Soo membekap mulutnya dengan tangannya. Betapa dia sangat tercekat saat ini dihelanya nafas itu lembut lalu berujar padanya, “Oppa tapi aku tidak seperti dulu lagi. Aku sekarang — ”

Kyuhyun menutup mulut gadis itu dengan jarinya, “Ssstttt! Aku tahu kau akan mengatakan ini Eun Soo-ya. Satu hal yang perlu kau tahu, apapun kau bagaimanapun kau? Itu semua tak akan merubah apapun. Kau tetap sama tak ada yang berubah. Kau tetap sama seperti yang dulu tak ada yang berubah. Seseorang yang pernah membuatku belajar bahwa hidup itu bukan hanya tentang kita, tetapi juga tentang orang-orang disekitar kita. Bukankah kau selalu mengatakan itu? Hari ini aku belajar akan hal itu Eun Soo-ya. Aku menerima semua apapun yang ada pada dirimu. Karena aku mencintaimu apapun yang menjadi kekuranganmu. Aku mencintaimu jauh sebelumnya, dan perasaan ini akan tetap sama. Sama seperti saat kita memulainya. ” Kyuhyun menangkup ke dua tangannya di pipi gadis itu, di hapusnya air mata itu seraya tersenyum hangat padanya.

“Aku tidak akan pernah berhenti untuk mengatakan ini Eun Soo-ya. ‘Would you marry me? ‘ Aku hanya ingin denganmu. Aku hanya ingin menjalani hari-hari indah itu hanya denganmu
Izinkah aku mendampingimu, hingga hanya waktu yang mampu memisahkan kita. Aku ingin menjadi sepasang kaki untukmu, sepasang kaki yang mampu menghantarkanmu pada pintu kebahagiaan. Apa kau bersedia, hum? ” Kyuhyun menatap lekat wajah gadis itu meyakinkanya. Setiap ucapan itu seakan menyadarkannya, bahwa Kyuhyun benar-benar tulus mencintainya.

Eun Soo meraih kedua tangan kekar itu pada wajahnya. Ditatapnya manik mata itu, melihat sorot mata yang menyiratkan, bahwa tak ada kebohongan sama sekali yang tersirat di dalamnya. Secara perlahan gadis itu menganggukan kepalanya seraya berujar mantap, “Aku mau Oppa … Aku mau ” Air mata itu meluruh lagi disertai dengan senyum yang dalam artian yang berbeda yaitu, senyum yang memancarkan kebahagiaan.

Mendengar itu Kyuhyun betapa dia sangat gembira. Di sematkannya cincin itu pada jari manis Eun Soo lalu merengkuh tubuh itu begitu eratnya. “Terima kasih Eun Soo-ya. Terima kasih … Jeongmal saranghae. ” Di kecupnya puncak kepala Eun Soo bertubi-tubi dan membelai surainya lembut.

“Nado saranghae Kyuhyun Oppa. ” Keduanya seakan larut dalam romansa itu. Angin, alam dan semua yang berada di sekitarnya seakan menjadi saksi bisu akan kebahagian bagi dua insan itu.

Masalah itu hanya sebagian kecil dari cobaan hidup. Seberat atau sesulit apapun itu. Jika ketulusan, kesabaran dan keikhlasan menyertainya. Maka semuanya pasti akan jauh membaik bahkan, lebih baik dari sebelumnya.

FIN

 

 

 

One thought on “The way back into love | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s