So, Sally Can’t Wait | FF Peserta Lomba

yongh

 

 

 

Author : Widya Puspa Lestari II (FB) & @widzflyaway (Twitter)

Title : So, Sally Can’t Wait

Genre : Romance

Main Cast : Jung YongHwa (CNBLUE), Han SaeRi (OC)

Disclaimer : This Fan fiction is an original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Date       : September 17th, 2013

From       : jinjjayongyong@gmail.com

To         : saerisally@gmail.com

Subject    : RE: [No Subject]

 

SaeRi-ya, kamu sudah pulang ke Korea? Wah… akhirnya. Tepat enam tahun, seperti janjimu.

 

Sayang sekali kita tidak bisa segera bertemu. Aku dan band-ku sedang di tengah tur dunia. Minggu depan, kami akan ke Inggris. Ironis sekali, ya? Haha.

 

Pertengahan bulan depan mungkin kami sudah kembali ke Korea, tapi aku akan menetap dulu di Busan selama seminggu. Tunggu sebentar lagi, ya ^__^

*~*~*

Seoul, September 2013

 

Aku tersenyum tipis sambil menutup jendela email-ku. Sebentar lagi.

Aku masih ingat apa yang pernah dia bilang, “Aku suka gitar karena jika mendengar suara ini,” ia membunyikan gitar lusuhnya, “siapapun pasti akan langsung tahu bahwa ini suara gitar. Hanya ada enam string, tapi nada dan suara yang bisa dihasilkan sangat banyak. Menarik, kan?”

Aku juga masih ingat senyum yang tersungging di bibirnya setiap kali dia bicara tentang gitar. Dia dan gitar seperti satu.

Tiba-tiba, suara yang sangat aku—siapapun—kenal jelas terdengar samar dari kejauhan. Gitar. Itu suara gitar. Seseorang sedang memainkannya. Mungkin musisi jalanan atau siapalah. Tapi, ia salah. Setiap mendengar suara yang dihasilkan dari enam string itu, yang muncul pertama kali dalam pikiranku bukanlah gitar, tapi dia.

Ya, suara gitar selalu mengingatkanku padanya. Dia, Jung Yonghwa, seorang gitaris yang kutemui di sebuah kaki gunung di Provinsi Busan.

*~*~*

 

Busan, Agustus 2007

Ini sungguh tidak penting. Farewell party. Perayaan Selamat Tinggal. Memangnya aku mau pergi ke mana? Memangnya setelah ini tidak akan bisa bertemu lagi? Sungguh konyol. Selama dua minggu, pula! Pemborosan waktu, uang dan tenaga. Well, ini semua dibiayai oleh uang kedua orang tuaku, jadi secara teknis aku hanya boros waktu dan tenaga. Tapi tetap saja: Pemborosan.

Aku mencabuti rumput-rumput liar di sekitarku sambil melamun. Aku suka tempat-tempat sejuk dan sunyi seperti ini, namun bagaimanapun juga aku lebih suka kamarku.

Tiba-tiba, sebuah bayangan menghalangi pandanganku. Aku mengernyitkan kening dan mendongak.

Seorang lelaki—sepertinya seumur denganku—sedang menunduk menatapku dengan tatapan setengah bingung dan setengah kesal. Rambut hitamnya nampak kebiruan tertimpa cahaya matahari. Matanya sungguh besar dan teduh. Tulang pipinya tinggi, hidungnya mancung dan bibirnya penuh. Ia tampan, pikirku menyimpulkan.

Ia duduk di sebelahku, sembari mempertahankan tatapan bingungnya. Ia menyandarkan gitarnya pada pohon tempat kami bersandar dengan hati-hati. “Nuguseyo?” Tanyanya agak ketus dengan aksen Busan yang kental. Suaranya berat dan sedikit serak.

Dalam hati, aku memutar bola mata. Oh, bagus sekali. Sekarang aku juga harus melakukan pemborosan emosi dengan seorang asing. Memangnya dia yang punya tempat ini?

“SaeRi imnida,” jawabku dengan nada yang sama ketusnya dengan pertanyaannya.

“Oh, dari Seoul? Kenapa ada di sini?”

Aku memejamkan mata sejenak untuk mengontrol emosi. Aku sering dengar penduduk Busan memang sedikit sensitif dengan logat daerah lain, terutama Seoul, tapi aku harus bagaimana? Mengubah logat bicaraku dalam semalam? Aku balik menatapnya sambil tersenyum tipis, mencoba sabar. “Aku sedang liburan.”

“Oh, begitu.” Ia menggaruk-garuk kepalanya. “Di penginapan Shin Ahjumma?”

“Ya. Kok tahu?”

“Penginapan itu yang paling dekat dengan tempat ini,” jelasnya. Nada bicaranya kini lebih ramah. Aku mengangguk-angguk paham.

Kemudian kami berdua terdiam. Aku bisa merasakan dia sungguh merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Aku menghela napas. “Kamu ingin aku pergi?”

Ia tersentak dari lamunannya. “Aniyo! Hanya saja…” Ia menggaruk-garuk ujung hidungnya. “Pohon ini seperti… markasku. Aku selalu pergi ke sini untuk meluapkan emosi. Jadi aku sedikit kaget dan kesal ada orang lain yang menempatinya. Bukan kesal padamu, tapi hanya kesal aku tidak bisa meluapkan emosi.”

Aku mengangkat bahu. “Kalau begitu luapkan saja emosimu padaku.”

“Apa?”

“Ya, luapkan saja padaku. Kebetulan aku juga sedang kesal, jadi kita bisa bertengkar. Bagaimana? Simbiosis mutualisme, kan?”

Lelaki itu memandangku tidak percaya dan kemudian melempar kepalanya ke belakang seraya ia tertawa terbahak-bahak. Deretan giginya yang tidak rapi membuat garis-garis maskulin di wajahnya terlihat manis.

Setelah tawanya memudar, lelaki itu tersenyum geli sambil mengulirkan tangannya ke arahku. “Yonghwa-yeyo. Jung Yonghwa.”

*~*~*

“Jadi, kenapa kamu kesal?”

Jung Yonghwa berhenti memainkan gitarnya. “Biasalah. Ibuku ingin aku kuliah Bisnis untuk melanjutkan usaha keluarga, tapi aku tidak tertarik.”

Aku mengangkat alis. Skenario ini terdengar sangat familiar. “Biar kutebak. Keluargamu sangat kaya raya dan memiliki perusahaan trading yang besar, dan kamu adalah pewarisnya yang tampan. Tapi, kamu tidak tertarik dan ingin mencari jalan hidupmu sendiri.”

Yonghwa tampak terkejut. “Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Oh, please…” Aku memutar bola mata. “Aku cuma asal tebak. Kupikir itu hanya ada di drama.”

Yonghwa tertawa kecil. “Tapi hidupku tidak sekompleks drama. Ibuku tidak terlalu memaksa, jika saja aku memberitahunya apa yang kumau. Lagipula, Hyung-ku sedang kuliah Bisnis di Seattle sekarang, jadi dia bisa mewarisi perusahaan kami nantinya. Masalahnya, aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Aku tidak punya alasan kuat untuk menentang Ibuku.”

“Ayahmu?”

“Oh, dia sudah hampir setahun ini tidak pulang ke rumah.”

Aku tertegun. Dan dia bilang hidupnya tidak sekompleks drama?

Menyadari ekspresiku, Yonghwa tertawa lagi. Lelaki ini mudah sekali tertawa, pikirku. “Jangan berpikir macam-macam. Ayahku pergi untuk melakukan ekspedisi ke Gunung Himalaya. Dia suka sekali mendaki. Makanya kami tinggal di kaki gunung ini. Sejak aku kecil, kami selalu mendaki gunung setiap akhir pekan.”

Gunung Himalaya? Dia bercanda, kan?

“Kamu sendiri?” Yonghwa balik bertanya, “Kenapa kamu kesal?”

Aku seketika teringat dengan alasan aku berada di sini. Rasa kesalku segera kembali. “Aku dan seluruh keluarga besarku di sini untuk Farewell Party. Aku benci acara-acara besar begini.”

“Hmm,” Yonghwa terlihat berpikir. “Tapi sungguh jarang ada yang memilih merayakan sesuatu di tempat seperti ini. Jika bicara tentang Busan, kebanyakan orang memilih pantai Haeundae atau tempat lain yang lebih ceria.”

“Aku yang memilih tempat ini,” jawabku. “Aku tidak suka tempat-tempat ceria begitu.”

“Kenapa?” Tanya Yonghwa, dan aku benar-benar ingin menendang betisnya atau apalah. Kenapa dia selalu ingin tahu tentang segala hal?

“Karena aku bukan orang ceria,” kataku datar. Itu tidak sepenuhnya benar, tapi masa bodoh lah.

“Oh,” Yonghwa mengangguk-angguk puas. “Jadi, siapa yang akan pergi?”

“Aku.”

“Ke mana?”

“Kuliah Arsitektur di luar negeri.”

“Amerika?”

Aku menggeleng. “Di Inggris.”

Biasanya, semua orang yang mendengar ini akan menepuk-nepuk pundakku seraya berkata, “Jauh sekali!”, “Kamu yakin bisa selamat di sana?”, “Sebaiknya jika memang harus ke luar negeri, kamu pilih negara Asia lainnya. Eropa terlalu kejam untuk kita.”, dan semacamnya.

Aku melirik Yonghwa dari sudut mataku, meramalkan dia pun akan memberi reaksi serupa. Apalagi, ia tinggal di gunung. Tidak peduli sekaya apapun keluarganya, besar kemungkinan ia sangat tradisional dan berpikiran sempit. Eh, tapi… ayahnya sedang berada di Himalaya dan kakaknya di Seattle…

Mata Yonghwa membelalak tidak percaya. Ha, benar kan, pikirku. Yonghwa tiba-tiba mencengkeram kedua bahuku dan mengguncang tubuhku. “Inggris! Ya ampun, kamu sangat beruntung!!”

…Hah?

Yonghwa memandangku dengan tatapan iri dan lanjut berbicara dengan semangat meluap-luap. “Kamu tahu kan, Inggris itu motherland dari Rock n’ Roll? Radiohead, Oasis, Queen, Rolling Stones, dan banyak lagi… mereka semua dari inggris!”

Aku ternganga.

“Dan kamu akan tinggal di sana! TINGGAL di sana. Oh Tuhan…” Yonghwa menjatuhkan kepalanya ke pundakku, seakan tidak kuat mencerna ide itu.

“Kamu… suka musik Rock?”

Yonghwa seketika mengangkat kepalanya. Matanya berbinar-binar. “Majayo! Kamu juga?”

“Iya.”

Tiba-tiba saja, aku sulit bernapas, karena Yonghwa memelukku dengan sangat erat. “Ya Tuhan! Kamu… kamu ke mana saja selama ini? Akhirnya… Akhirnya!!”

Aku menepuk-nepuk punggungnya sebagai isyarat aku sulit bernapas. Yonghwa mengendurkan pelukannya. “Siapa favoritmu?”

“Linkin Park, Bon Jovi, Oasis… Limp Bizkit juga.”

Yonghwa terlihat seperti ingin menangis. “Se—sejak kapan?”

“Sejak SD,” jawabku.

“Aku juga! Sejak kelas 5 SD.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. “Aku sejak kelas 3 SD.”

Bola mata Yonghwa semakin mengilat dari sebelumnya. Ia menatapku seakan aku Dewi Gunung atau apalah.

~*~*~

Sejak saat itu, aku dan Jung Yonghwa bertemu setiap hari. Tanpa perjanjian apapun, kami selalu bertemu di tempat kami pertama kali bertemu: di spot favoritnya, di bawah pohon besar tepat di balik tikungan sekitar 50 meter dari Penginapan Shin Ahjumma. Setelah aku bangun tidur dan mandi serta sarapan, aku selalu menuju tempat itu. Biasanya, Yonghwa telah duduk di akar pohon, memainkan gitarnya sambil bernyanyi pelan. Kadang, aku datang lebih awal daripada Yonghwa, namun beberapa menit kemudian pagar rumahnya yang besar akan berderit terbuka dan dia berjalan menghampiriku, selalu dengan gitar tersampir di pundaknya.

Kami selalu memulai waktu kami bersama dengan menyanyikan lagu-lagu rock favorit kami diiringi permainan gitarnya. Aku tidak pintar bernyanyi, namun suara Yonghwa cukup bagus untuk menutupi suaraku yang fals. Kadang, ia akan berdiri di atas batang pohon yang sudah ditebang dan berpura-pura berada di atas panggung dan aku adalah penontonnya. Ia akan memainkan gitarnya sambil bernyanyi dengan antusias. Aku akan melambaikan tangan sambil ikut bernyanyi. Di antara bait-bait lirik, aku akan berteriak, “Yonghwa Oppa!!!” dan dia akan melemparkan senyum ke arahku. Terkadang, kami bermain tebak lagu. Salah satu di antara kami akan menyebutkan liriknya dan satu di antara kami yang lain akan menebak lagu itu dengan menyebutkan judul dan penyanyinya, kemudian menyanyikan lirik yang disebutkan tadi. Aku sering membetulkan lafal bahasa Inggris Yonghwa sekaligus mengajarinya grammar dan kosakata baru setiap hari.

Aku merasa seperti telah mengenal Yonghwa selama bertahun-tahun lamanya. Kami mengerti kecintaan kami pada musik Rock, dia sama sekali tidak meragukan keputusanku untuk melanjutkan kuliah di Inggris, dan aku tidak pernah bertanya padanya tentang jalan hidup yang ingin dia tempuh. Dengannya, aku tidak ragu untuk banyak berbicara, karena ia selalu mendengarkan dan memberi respon dengan antusias. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan aku sangat suka itu. Selera humornya juga sangat tinggi sehingga ia selalu bisa tertawa terbahak-bahak tidak peduli segaring apapun lelucon yang kulontarkan.

*~*~*

 

Delapan hari semenjak aku dan Yonghwa bertemu, Yonghwa tidak ada di tempat biasa. Aku duduk dan menunggunya, namun ia tidak kunjung datang. Mungkin sudah lebih dari satu jam berlalu sebelum aku mendengar derit gerbang rumahnya terbuka dan Yonghwa berjalan keluar dengan bahu merosot. Matanya terpaku ke jalanan, bukan ke depan. Bukan ke arahku.

Yonghwa menghempaskan tubuhnya di sampingku dan melamun. Aku melongok dari balik bahunya dan melihat seorang pria berjas hitam yang baru saja melangkah keluar dari pagar rumah Yonghwa. Ia sekilas mengerlingkan mata ke arah Yonghwa dan menghela napas dengan berat, sebelum berbalik dan melangkah menjauh. Aku mengangkat alis. “Itu siapa?”

Yonghwa mengibaskan tangannya. “Oh, bukan siapa-siapa.”

Aku mengangkat bahu. Well, memang bukan urusanku. Kalau Yonghwa ingin aku tahu, maka dia akan memberitahuku.

Made a meal and throw it up on Sunday,” Yonghwa tanpa aba-aba berkata, “I’ve got a lot of things to learn.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. Permainan kami telah dimulai. Gampang sekali. “Stand by Me. Oasis.”

Yonghwa tersenyum, memamerkan deretan giginya yang tidak rapi. Suara gitar Yonghwa kemudian  membungkam kicauan burung-burung yang bertengger di pohon tempat kami berandar. Suara kami berdua bergema di antara deretan pepohonan tinggi, terbawa angin entah sampai ke mana. “I would and I’ll be leaving one day before my heart starts to burn…”

*~*~*

Dua hari sebelum aku harus kembali ke Seoul untuk mempersiapkan keberangkatanku ke Inggris, Yonghwa tampak dan terasa berbeda dari biasanya. Ia seperti memikirkan sesuatu sepanjang hari. Ia menjawab pertanyaanku dengan datar, dan tidak lagi tertawa karena leluconku. Aku pun menyerah dan berkata padanya aku sebaiknya kembali ke penginapan. Tapi Yonghwa menahanku.

“Ingat pria yang beberapa hari lalu kamu tanyakan?” Tanya Yonghwa dengan cepat.

Aku mengangkat alis, mencoba mengingat-ingat. “Ah, yang memakai jas hitam itu? Ya, aku ingat. Ada apa?”

“Aku bohong. Dia bukannya bukan siapa-siapa,” Yonghwa menundukkan kepala. “Dia datang dari Seoul untuk bertemu denganku.”

“Kamu…” Aku ternganga. “Kamu terlibat utang?”

Yonghwa tertawa. Dia tidak terlibat utang, kalau dia masih bisa tertawa seperti itu. Syukurlah. “Apa aku terlihat seperti orang yang bisa berutang sampai diburu begini?”

Aku melirik rumahnya yang megah di kejauhan. Mobil-mobil mewah yang aku tahu berderet di dalam garasinya. Aku teringat ayahnya yang sudah berbulan-bulan melakukan ekspedisi ke Gunung Himalaya, dan juga kakak laki-lakinya yang kini menjalani kuliah di Seattle, Amerika Serikat. Ya, tentu saja dia tidak mungkin berutang. Jika ada masalah utang-piutang, Yonghwa akan berada di posisi yang memberikan utang tersebut.

“Lantas, dia siapa?”

Yonghwa menghela napas, memetik-metik senar gitarnya dengan asal. “Dia mau aku datang ke Seoul untuk ikut audisi.”

“Audisi… maksudnya, jadi artis? Idol?”

“Semacam itulah.”

“Oh,” kataku, kehilangan kata-kata. Jung Yonghwa… dilihat dari sisi manapun, dia punya aura bintang. Dibandingkan dengan idola-idola yang kulihat di televisi, Yonghwa mungkin tidak setinggi mereka dan wajahnya tidak semulus porselen seperti mereka. Tapi, selama 12 hari aku mengenalnya, aku tahu Yonghwa punya kepercayaan diri dan keteguhan hati yang kuat. Dan ia berbakat. Aku yakin jika ia menjadi salah satu dari mereka, ia akan sukses. Akan survive. Aku berdeham untuk membuyarkan lamunanku. “Kenapa kamu beritahu aku sekarang?”

Yonghwa terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresi khawatir di wajahnya. “Karena baru hari ini aku mempertimbangkan tawarannya.” Ia menggeleng sambil tertawa kecil. “Bukan. Karena baru hari ini aku memutuskan untuk menerima tawarannya.”

Tiba-tiba ia menoleh menatapku. Ia sering menatapku. Tapi kali ini berbeda. Kali ini, tatapannya berbeda. Baru pertama kali aku merasa ingin memutuskan kontak mata dengannya sesegera mungkin. Rasanya tajam. Rasanya panas. Rasanya, dunia telah menyempit dan hanya aku dan Yonghwa yang tersisa di dalamnya. Ada apa ini? Perasaan macam apa ini?

“Menurutmu bagaimana?” Yonghwa bertanya, masih mempertahankan tatapan anehnya itu. Aku ingin berpaling namun sia-sia saja. Aku terpaku, seperti melihat hantu. Tapi tidak seperti hantu, Yonghwa tidak dingin. Ia sangat hangat. Panas. Mengapa hari ini sangat panas? Tidakkah kami berada di pegunungan dan bukan di pantai?

“Menurutmu aku benar-benar harus ke Seoul dan mencobanya?” Ia bertanya lagi. Suaranya lebih berat dari biasanya.

Aku masih terpaku, mengernyitkan kening. Kenapa dia tanya aku? Bukankan seharusnya ia tanya ibunya atau menelepon kakak dan ayahnya?

“Ya,” jawabku singkat. Yonghwa tersenyum kecil dan mengangguk. Ia mendongak ke langit dan sinar matahari menimpa wajah dan rambutnya, menciptakan halo di sekeliling kepalanya. Di sini sangat indah. Barisan pepohonan hijau yang seperti tidak ada habisnya, kicauan lembut burung-burung pegunungan, gemericik mata air di kejauhan, suara angin menggesek dedaunan… Namun, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari Yonghwa. Menurutku, dia lebih indah. Mungkin beginilah jika orang sedang jatuh cinta; konyol dan suka berhalusinasi.

Aku terkesiap.

Jatuh cinta?

*~*~*

Beberapa menit sebelum aku harus pulang ke Seoul, aku dan Yonghwa masih duduk di  tempat kami selalu menghabiskan waktu bersama.

Selama 30 menit terakhir, Yonghwa menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang: “Seat Next to You” dari Bon Jovi.

“Hard days, good times, blue skies, dark nights

Say that you’ll take me wherever you’re going to

Maybe say that you’ll save me a seat next to you”

Aku berhenti ikut bernyanyi setelah mungkin kali keempat dia menyanyikan lagu itu. Aku hanya terdiam dan mendengarkan suara seraknya sembari memandang jari-jemarinya menari di atas senar gitar.

“Saeri-ya!!”

Kami berdua menoleh. Ibuku telah memanggil. Saatnya aku pergi.

“SaeRi-ya, ketika kamu pulang ke Korea,” Yonghwa berkata lirih, “ada yang mau kusampaikan.”

“Kenapa tidak sekarang?”

Yonghwa menggeleng lemah. “Jangan, nanti saja.”

Aku nyaris mengerang frustasi. “Aku pulang ke Korea enam tahun lagi, Yonghwa-ya.”

“Baik, enam tahun lagi, ada yang mau kusampaikan.”

Aku ingin mengguncang-guncang tubuh Yonghwa untuk mengembalikan akal sehatnya. “Kamu yakin enam tahun lagi, yang mau kamu sampaikan itu masih… masih ada?”

“Ya,” Jawab Yonghwa seketika. Jung Yonghwa, lelaki dengan keteguhan kuat dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi. “Kamu bersedia menunggu?”

Aku tidak menjawab. Aku tahu apa yang akan ia katakan enam tahun lagi. Atau lebih tepatnya, aku berharap “itu”lah yang ingin ia katakan. Kenapa tidak sekarang? Kenapa tidak sekarang, saat ini, detik ini, ketika aku sangat butuh mendengarnya, paling butuh mendengarnya…

“Kita akan terus berhubungan, kan?” Yonghwa bertanya lagi, nadanya sedikit tidak sabar.

Aku masih terdiam.

“SaeRi-ya, kita akan bertemu lagi, kan?” Kali ini, Yonghwa terdengar panik. Jung Yonghwa tidak pernah panik. Kenyataan itu membuyarkan lamunanku.

“…Ya.”

Yonghwa tersenyum lega, namun tubuhnya masih terlihat kaku. “Ya, untuk pertanyaan yang mana?”

Aku tersenyum. “Ketiganya.”

Kedua tangan Yonghwa terbuka dan merengkuhku dalam pelukan hangat. Aku memejamkan mata dan membenamkan wajahku di antara bahu dan lehernya, berusaha mengingat aroma tubuhnya, suaranya, logat bicaranya yang khas…

Suara ibuku kembali terdengar dari kejauhan. Aku tidak bisa menunda lagi. Dengan berat hati, aku melepaskan diri dari pelukannya. Tiba-tiba, ia menyodorkan sesuatu ke tanganku. Gitarnya. Aku mendongak dan menggelengkan kepala. “Kamu serius?”

“Ya, bawalah ke Inggris. Tulis sebuah lagu. Kamu pasti bisa.”

Aku menatap gitar di tanganku dengan setengah tidak percaya. Aku merasa seperti sedang memeluk sebuah bagian dari Jung Yonghwa. Aku mengalungkan gitar itu di leherku dan menatap mata Yonghwa yang hangat dan teduh dalam-dalam. Berusaha mematrinya dalam ingatanku. “See ‘ya.”

Yonghwa mengangguk mantap. “See ‘ya.”

~*~*~*

 

Juli 2012

“Sally, there’s a package for you,” ujar Emily ketika melangkah masuk pintu flat yang kami tempati berdua. Emily berjalan menghampiriku dan memberikan sebuah paket yang terbungkus rapi. Aku tersenyum ketika melihat lambang Korean Air Mail yang menempel.

Emily memandang penuh arti. “Ah, from your boyfriend again?”

“He’s not my boyfriend, Emily!”

“Yeah, right…” Emily terkekeh kecil sambil berlalu ke kamarnya. Ia tidak pernah percaya setiap kubilang Yonghwa bukanlah pacarku.

Aku membuka bungkusan paket itu. Benar saja, itu dari Yonghwa.

“DVD terbaru CNBLUE. Watch it well, ok ^__^ I miss u, SaeRi. JYH.”

Yonghwa adalah leader dari band pop-rock CNBLUE sejak 2009. Dia tidak pernah gagal untuk mengirimiku CD dan DVD terbaru mereka, meskipun aku sudah berkali-kali mengatakan aku bisa membelinya sendiri. Tapi itulah Yonghwa, selalu keras kepala. Aku pernah membeli sebuah CD single CNBLUE dengan uangku sendiri dan mengabarinya, bahkan sekaligus mengirimi bukti foto, namun dia tetap saja mengirimi CD yang sama ke alamatku. Sejak saat itu, aku menyerah.

Ya, aku dan Yonghwa masih tetap berhubungan, meskipun hanya lewat e-mail dan media sosial berbasis teks lainnya. Yonghwa yang membuat aturan itu. Ia menolak untuk berbicara denganku lewat telepon. Dia bilang, jika kami saling bertelepon, dia takut tidak bisa menahan diri untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan lima tahun lalu. Aku ingin melancarkan sesi debat namun aku tahu pasti percuma saja. Meskipun begitu, kami masih saling mendengar suara satu sama lain. Setiap tahun baru atau salah satu dari kami berulang tahun, atau setiap band-nya memenangkan penghargaan, kami selalu saling mengirimi pesan suara atau pesan video.

Tapi tetap saja dia menolak untuk mengobrol lewat telepon. “Pembicaraan telepon itu spontan, SaeRi-ya, tidak seperti pesan suara atau video yang sudah kurancang sebelumnya dan bisa diedit setelahnya!” begitu kelitnya setiap kali aku bertanya kenapa kami tidak bisa bertelepon. Yah, baiklah, Jung Yonghwa, apapun yang kamu mau.

Sally, what did he send this time?” Emily tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku.

His band’s newest DVD.“

Which one is Yonghwa?” tanya Emily.

Aku menunjuk wajahnya. Ia sedang terpejam sambil memetik gitarnya. “This is him.”

“Aww, do you miss him, Sally?”

“Yeah, very much so.”

Di Inggris, aku memakai nama Sally. Yonghwa yang memberikannya padaku. Waktu itu di Busan, suatu hari, kami menyanyikan lagu Oasis yang berjudul “Don’t Look Back in Anger” bersama-sama.

So, Sally can wait. She knows it’s too late…” Lalu tiba-tiba Yonghwa berhenti bermain gitar dan bertanya, “SaeRi-ya, Sally itu apa? Sekedar nama orang?”

Aku mengangguk. “Ya, Sally itu nama perempuan. Tapi, secara umum, Sally itu berarti seorang putri. Banyak juga yang bilang Sally adalah perempuan cantik, pintar, independen, kuat, bisa diandalkan dan berani.”

Yonghwa menggumam, mengetuk-ngetuk kukunya ke badan gitarnya. “Nanti di Inggris, kamu pakai nama Korea-mu?”

“Ya. Diubah sedikit menjadi ‘Sherry’.”

Yonghwa menggumam lagi. “Kenapa tidak ‘Sally’?

Aku mengangkat alis. “Aku sama sekali tidak seperti Sally.” Itu benar. Aku jauh berbeda dengan arti nama Sally. Aku cengeng, penakut, sedikit anti-sosial… karena itulah banyak orang yang meragukan keputusanku untuk melanjutkan kuliah di Inggris. Orang sepertiku? Yang benar saja.

Yonghwa mengangkat bahu. “Nama itu doa, kan? Lagipula,” Yonghwa terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya dariku. Aku melihat lehernya memerah. “Menurutku, nama itu cocok untukmu. Bagiku, kamu adalah Sally.”

Aku tidak pernah mengiyakan sarannya dan Yonghwa juga tidak pernah membicarakan hal itu lagi. Namun, ketika aku pertama kali bertemu dengan Emily, ia mengulurkan tangannya dan berkata, “I’m Emily. What’s your name?”

Dan aku, tanpa berpikir dua kali, menjabat tangannya dan menjawab, “Hi, I’m Sally.”

*~*~*

September 2013

Secarik kertas di tanganku tampak lecak karena terlalu sering kubuka dan kulipat kembali. Aku harus memastikan tidak ada yang tertinggal. Dua minggu lagi, aku akan kembali ke Korea. Tapi aku memutuskan untuk mulai berkemas dari sekarang. Enam tahun sudah aku menetap di Inggris, bayangkan berapa banyak barang-barang yang kumiliki sekarang. Mengemas enam tahun hidupmu tidak bisa dilakukan selama semalam.

Mataku beralih ke sudut ruangan. Ke sebuah gitar yang tergeletak di bawah jendela. Aku teringat pada janjiku dengan Yonghwa enam tahun lalu. Waktu itu, untuk pertama kalinya Yonghwa memperdengarkan lagu yang ia tulis sendiri padaku. Saat itu, aku menatapnya dengan iri dan kagum seraya berujar, “Seandainya aku juga bisa membuat lagu dengan gitar…”

“Tentu saja bisa,” balas Yonghwa, maksudku, selalu-optimis-Yonghwa.

“Kamu bercanda.”

“Aku serius. Bukankah kamu bisa memainkan beberapa chord?”

Aku mengangguk. Aku memang bisa bermain gitar sedikit. Hanya beberapa chord dasar.

“Kuberitahu ya,” kata Yonghwa lagi. “Kamu bisa membuat sebuah lagu bahkan hanya dengan dua atau tiga chord.”

“Bohong.”

“Serius!” Yonghwa memposisikan gitarnya. “Baiklah. Aku akan membuat lagu untukmu hanya dengan chord…” Ia berpikir sejenak. “C, G, dan F. Sekarang juga.”

Aku memutar bola mata. “Silahkan kalau begitu, wahai jenius.”

Alih-alih mulai memainkan gitarnya, ia justru menatapku dalam. Aku menjauhkan wajahku darinya. Pipiku terasa panas. Lelaki ini sungguh tidak peka. “Kamu ngapain?”

“Mencari inspirasi,” kata Yonghwa datar. “Okay, here we go.”

Isanghan yeojareul mannayo

(Aku bertemu wanita aneh)

Isanghajiman nemu chakhaeyo

(Meskipun aneh, dia sangat baik)

Chakhago wanjeon yeppeoyo

(Dia baik dan sangat cantik)

Geu yeojarang chinguhago shipeoyo

(Aku ingin berteman dengan wanita itu)

 

 

Dia mengakhiri lagu singkatnya dan mengangkat alisnya padaku.

Aku menghela napas. “Whoa.”

“Benar, kan? Well, lagu yang tadi terlalu sederhana dan liriknya sedikit bodoh tapi tetap saja itu adalah lagu.”

Aku mengangguk. “Baiklah, suatu hari aku akan buat sebuah lagu.”

“Aku boleh dengar, kan?”

“Oke.”

“Yakseok?” Ia mengacunkan jari kelingkingnya. Aku menyambutnya.

“Yakseok.”

*~*~*

Secarik kertas di tanganku jatuh perlahan ke lantai sembari aku berjalan ke arah jendela. Aku mengambil gitar berwarna coklat tua itu dan menelusuri senarnya. Aku masih memainkan gitar ini dengan cukup sering. Memainkan lagu-lagu favoritku dan Yonghwa. Memainkan lagu-lagu yang Yonghwa tulis. Memainkan lagu-lagu yang mewakili perasaanku pada Yonghwa. Yonghwa Yonghwa Yonghwa. Sejak kapan dia menjadi poros duniaku?

Dua minggu lagi. Dua minggu lagi aku akan bertemu dengannya dan dia akan mengatakannya. Kata-kata yang selalu aku nantikan, selalu ingin kudengar. Kata-kata yang akan kubalas dengan, “Nado.”

…sebentar.

Yonghwalah yang bersikeras tidak ingin mengatakannya sebelum kami bertemu. Dia tidak pernah menyatakan dia tidak mau ‘mendengar’nya sebelum saatnya kami bertemu. Lagipula, bagaimana kalau bukan ‘itu’ yang ingin dia katakan? Bagaimana yang ingin ia katakan adalah sama sekali hal yang berbeda dengan apa yang selama ini aku harapkan?

Kenapa tidak aku saja yang katakan? Ya, aku akan mengatakannya. Sudah cukup lama aku menunggu. Dan mungkin dia juga sedang menunggu.

Aku duduk bersandar di tembok dan mengatur posisi gitar di pangkuanku. Aku memejamkan mata dan membayangkan wajah Yonghwa, saat-saat berharga bersamanya di Busan, perasaanku setiap menerima pesan darinya, setiap menerima paket darinya. Betapa aku rindu, betapa aku cinta…

Jemari tangan kiriku menekan beberapa chord… D, G, Asementara jemari tangan kananku bergerak naik turun membunyikan senarnya. Dan bibirku mulai bersenandung…

Jinjja oraenmanida, Chinguya

(lama tidak berjumpa, teman)

Feels like yesterday when we said, “see ‘ya.”

I really wanna say this line from a drama to ya

“Neon na anbogoshipeonyago, Saekkiya?”

(“Memangnya kamu tidak rindu padaku, keparat?”)

Jinjja oraenmanida, Chinguya

(Lama tidak berjumpa, teman)

I hope we’ll meet soon and say, “Ya!”

I really wanna say this one more thing to ya

“Yonghwaya, saranghanda.”

(“Yonghwaya, aku cinta kamu.”)

*~*~*

Date       : September 3rd 2013

From       : saerisally@gmail.com

To         : jinjjayongyong@gmail.com

Subject    : YAKSEOK

Attachment: 1 File (Audio) – 3.5 MB

Message: Yonghwaya, ini janjiku. Because this Sally can’t wait. See you soon! ^__^

Tanganku gemetar di atas tombol mouse. Haruskah aku mengirimkannya? Beranikah aku? Tidakkah ini terlalu spontan dan gegabah?

“…Sally itu wanita kuat dan pemberani.”

“…kenapa tidak ‘Sally’?”

“…aku tidak seperti Sally…”

“…nama adalah doa… kamu adalah Sally bagiku…”

Ya. Bukankah Yonghwa memberiku nama Sally untuk memberiku kekuatan? Untuk mendoakanku agar menjadi wanita kuat dan pemberani?

Ya. Akulah Sally. Yonghwa’s Sally.

Sambil mengatupkan bibir, aku menekan tombol itu.

…Loading

 

…Your message has been sent successfully

Dan aku pun bisa bernapas lagi.

*~*~*

Hingga hari keberangkatanku ke Korea, Yonghwa tidak pernah sekalipun mengungkit-ungkit soal email-ku itu di setiap pesannya.

*~*~*

19 Oktober 2013

“SaeRi-ssi, sarapan sudah siap di bawah.”

“Ya, Ahjumma, terima kasih.”

Aku menatap ke jalan setapak dari jendela. Di sinilah aku, kembali ke Penginapan Shin Ahjumma. Semua masih tampak sama. Aku bisa melihat rumah Yonghwa yang tampak sangat kecil dari kejauhan. Aku penasaran apakah ia sudah pulang sekarang? Aku bisa saja bertanya langsung padanya tapi untuk alasan tertentu, aku mengurungkan niat. Aku bahkan tidak memberitahunya aku sudah berada di Busan selama dua hari, dan hanya beberapa menit dari rumahnya. Satu alasan yang paling utama, aku tidak ingin dia berpikir aku repot-repot ke Busan hanya untuk bertemu dia. Well, aku tidak akan keberatan repot-repot ke sini untuk menemuinya, tapi kenyataannya, aku ke sini bukan untuk bertemu dengannya. Keluarga besarku memutuskan untuk menggelar acara perayaan atas kembalinya diriku ke Korea. Keluarga ini benar-benar gemar melakukan pemborosan. Rupanya mereka sangat suka tempat ini dan semenjak aku pergi, mereka semua masih sering liburan ke sini.

Setelah sarapan, aku membawa gitar pemberian Yonghwa dan memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Selama dua hari ini, aku mengerahkan seluruh tenaga dan pertahanan diriku untuk tidak menuju tempatku dan Yonghwa biasa bersama. Bagaimana kalau dia ada di sana? Aneh bukan, selama enam tahun aku tidak sabar untuk bertemu dengannya, dan sekarang, ketika kemungkinan itu terbuka lebar, aku justru ingin menundanya selama mungkin.

Namun, hari ini rupanya pertahanan diriku sedang sangat lemah. Entah bagaimana caranya kedua kakiku menuju pohon besar di balik tikungan, seakan-akan tubuhku ingat persis jalan menuju tempat ini. Mungkin memang begitu adanya.

Yonghwa tidak ada di bawah pohon itu. Aku merasa lega sekaligus kecewa.

Setelah meletakkan gitarku dengan hati-hati di sampingku, aku bersandar di batang kokoh pohon itu dan mendongak. Daun-daun bergemerisik dan burung-burung berkicau ramai seakan menyambutku kembali. Aku memejamkan mata dan berkonsentrasi pada suara percikan mata air, cahaya hangat matahari, deru angin sejuk yang menerpa pipi dan rambutku, dan… suara langkah kaki yang tiba-tiba berhenti.

Aku sontak membuka mata.

Jung Yonghwa berdiri di hadapanku, menghalangiku dari basuhan cahaya matahari. Matanya yang besar terlihat makin besar. Kebingungan nampak jelas di wajahnya. Yonghwa sudah lebih tinggi sekarang, rahangnya lebih tajam, tubuhnya lebih kekar… Kami bukan lagi anak berumur 18 tahun yang baru saja lulus SMA. Aku terkadang lupa bahwa Yonghwa sudah berumur 24 tahun sekarang, sama denganku. Dia seorang lelaki dewasa. Pipiku memerah.

Aku segera berdiri dan menunduk ke arah tanah. Aku memutuskan aku belum siap menatapnya. Tidak setelah email bodohku itu…

“SaeRi-ya,” Yonghwa mengucap lirih. Aku tersentak. Sudah enam tahun sejak terakhir aku mendengar suaranya secara langsung seperti ini, sejak terakhir aku dan dia hanya dipisahkan jarak kurang dari satu meter, sejak terakhir aku bisa sekedar mengulurkan tanganku jika aku ingin menyentuhnya…

Yonghwa tidak berkata apa-apa lagi. Kami hanya berdiri berhadapan, dengan aku yang  terpaku menatap tanah dan Yonghwa yang entah memandang ke arah mana. Aku tidak tahan lagi. Dengan mengumpulkan segenap keberanianku yang tersisa, aku mendongak dan mataku seketika bertemu matanya. Apa sedari tadi Yonghwa menungguku untuk melihatnya?

Aku berdeham. “Hai.”

Yonghwa tertawa. Mendengar tawanya, aku merasa lega sekali, hingga lututku sungguh lemas.

“’Hai’? Enam tahun tidak bertemu dan kamu cuma bilang ‘hai’?”

Aku menyilangkan lengan. “Masih lebih baik dibandingkan kamu yang sama sekali tidak bilang apa-apa!”

Yonghwa mengangkat alis. “Aku memang ingin mengatakan sesuatu padamu, bukan pada  batok kepalamu.”

Wajahku terasa panas. Tapi aku tidak akan membiarkan Yonghwa memenangkan ini. “Ya sudah, wajahku di sini sekarang, kamu mau bilang apa?”

Yonghwa tersenyum nakal, matanya menatapku penuh arti. Kemudian dia tiba-tiba menepuk lenganku kencang, dan berkata, “Ya! Jinjja oraenmanida, chinguya!!”

Aku tertegun. Dia… Yonghwa… sialan! Dia membaca email itu. Dia mendengar lagu itu. Sialan, kenapa dia tidak pernah balas? Haish, apa yang harus kukatakan? Apakah wajahku merah? Atau bahkan sudah berubah menjadi biru, bahkan ungu?

Kenapa tidak ada gempa yang akan menggeser lempengan tanah ini dan menelanku hidup-hidup? Ini di pegunungan kan? Kenapa tidak ada gempa?

Aku menunduk lagi. Yonghwa tertawa. “Angkat wajahmu.”

“Tidak akan!” Aku merasa seluruh darah di tubuhku mengalir ke wajahku.

“Kenapa menunduk lagi? Ya!” Yonghwa berkata lagi, “Neon na anbogoshipeonyago, saekkiya?”

Yonghwa, si sialan itu…!

Dengan satu hentakan, aku mengangkat kepalaku dan menatap Yonghwa tajam. Aku pikir aku akan melihat cahaya matanya yang meledek dan nakal, namun yang kutemui hanyalah sepasang bola mata yang hangat dan tulus. Sama seperti enam tahun lalu. Aku merasa seperti tersihir. “…Bogoshipeo,” jawabku lirih, otakku telah menyerah pada hatiku.

Yonghwa tersenyum lebar. Giginya masih tidak rapi seperti dulu. Tulang pipinya terlihat jelas dan sepasang matanya masih memancarkan keteduhan yang enam tahun lalu selalu membuatku ingin menangis. Aku berkedip untuk memastikan dan benar saja, sudah ada genangan air berkumpul di pelupuk mataku.

“SaeRi-ya,” Yonghwa berucap lembut, “Saranghanda.”

Air mataku jatuh.

-END-

 

 

 

 

Author’s Note:

“Neon na anbogoshipeonyago, saekkiya?” – sebuah dialog dari drama “School 2013”

 

 

 

 

One thought on “So, Sally Can’t Wait | FF Peserta Lomba

  1. wah bagus…
    tapi sayang akhirnya nanggung banget.
    setelah 6 tahun nggak ktemu, shrusnya di panjangin dkit thor endingnya,, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s