Thunderclaps | FF Peserta Lomba

 

Thunderclaps

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & @PenerbitQanita )

Author                        :Adyz Filansyah (FB) & @Miss_Alita

Title                 : TUNDERCLAPS

Genre              : Romance, Drama, Supranatural

Main Cast :

  • Go Ara
  • G Dragon (Big Bang)/ Kwon Ji Yong
  • TOP (Big Bang)/ Choi Seung Hyun
  • Im Ye Jin (Go Ara’s mother)
  • Jung Woong In (Go Ara’s father)
  • Jenny Kim (Go Ara’s friend)

 

Disclaimer       : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, don’t bash me!

 

 

Hari itu, hari sedang hujan, dan Go Ara terjebak saat dirinya akan pulang ke rumah. Dia duduk sendirian di sebuah halte dekat sekolahnya. 10 menit yang lalu langit sangat cerah dan tiba-tiba saja awan hitam berarak dan menurunkan hujan dengan sangat lebatnya,

Ara termenung di balik tirai hujan. Dia menyukai hujan, tapi dia membenci kilatnya yang justru datang disaat-saat begini, sendiri dan diluar. Ara ngeri saja membayangkan kilat itu menyambar tubuhnya hidup-hidup. Bentuknya yang seperti huruf Z tegak berdiri, menyala putih dan kemudian diikuti suara keras mengelegar memekakan telinga, cukup membuatnya gentar.

Lalu dia ingat tentang ponselnya, Ara mendengar dari teman-temannya di sekolah kalau sinyal ponsel bisa memancing sambaran kilat. Informasi itu membuat Ara semakin panik saja, kalau sekarang dia mengambil ponsel dan mematikannya, dia takut kilat langsung menyambarnya sebelum dia sempat mematikan ponselnya itu. Kalau membiarkan ponselnya menyala sekarangpun, apa bedanya nanti?

Ara belum mau mati, umurnya masih 15 tahun,

“Dug dug dug,” terdengar suara pelan di sisi kiri Ara, kilat menyambar lagi,

Ara mengerlingnya, agak terkejut mendapati sudah ada orang di sana. Suara itu berasal dari sepatu kets seorang anak laki-laki, dia mengetuk-ngetukan sepatu itu ke atas permukaan trotoar. Penampilannya agak sedikit aneh dan tidak biasa, mungkin karna rambutnya blonde di balik topi bundarnya. Dia seperti tokoh komik yang biasa Ara baca. Anak itu sepertinya tidak menyadari ada Ara di sana, tangannya mendekap di dadanya dan masih juga mengetuk-ngetuk ujung sepatunya, pandangannya jatuh ke arah kaki sendiri.

Ara terus memandangi anak itu,  dia heran kenapa matanya terus saja menatap ke arah anak itu, memalukan kalau tertangkap mencuri pandang ke orang asing, namun anak itu punya daya tarik yang sulit dijelaskan,

Petir tiba-tiba muncul lagi dengan blitz panjang diikuti suara gemuruh keras di atas langit, yang seolah di atas kepala Ara dan sangat dekat dengannya,

“Kyaaa…!!!” teriak Ara, dia turun dari tempat duduk dan berjongkok dengan ketakutan dan menutup mata serta telinga dengan tangannya,

“Jangan takut, petir tak akan berani melukai gadis manis sepertimu,” terdengar seseorang berbicara padanya,

Dengan takut-takut Ara membuka matanya, anak itu sudah di samping Ara, duduk dengan mengayun-ayunkan kedua kakinya,

Ara mengerjab,

“Kau tak percaya?” tanya anak laki-laki itu,

Ara mengangguk,

“Duduk saja di sampingku, bus 5 menit lagi akan datang,” ujarnya,

“Kau siapa?” tanya Ara langsung, dia duduk di bangku agak jauh dari anak itu, meski anak itu menawarkan untuk duduk di sampingnya,

“G-Dragon, panggil saja aku GD,”

Nama yang aneh, pikir Ara. Apa itu nama panggilan teman-temannya untuknya?

“Jo neun Go Ara imnida,” kata Ara,

“Ya, aku sudah melihatnya,” GD menunjuk tulisan nama di dada kanan Ara,

Entah kenapa Ara tampak malu,

“Kau ini apa?”Ara bertanya polos, dia bermaksud akan menanyakan “Kau sekolah di mana?” atau “Kau anak mana?” tapi melihat penampilan GD membuatnya bertanya hal tak sopan itu,

GD tertawa, “Aku seorang artis,” jawabnya, seraya menyingkirkan sedikit poni yang mencoba menutupi matanya yang kecoklatan,

Ara mengernyit, benarkah dia artis? Tapi Ara belum pernah melihatnya di televisi.

Ara akan bertanya lebih detail tentang GD, tapi bus yang di tunggunya sudah di hadapannya,

“Aku pulang dulu, Anyeong!” kata Ara, agak sayang, dia masih ingin bertanya banyak hal kepada GD,

GD mengangguk dan dia melambai pada Ara saat Ara sudah di dalam bus. Ara sama sekali tidak menyadari kalau hujan dan petir sudah menghilang dan matahari bersinar sangat cerah,

Hari itu adalah hari pertama Ara bertemu dengan GD, anak yang seperti karakter dalam komik itu dan kemudian mereka berteman, Ara sangat menyukai GD yang ceria dan menyenangkan. Dia seperti mentari pagi yang hangat.

 

Ara sudah bilang kepada orang tuanya, dia takut sendirian di rumah saat malam, apalagi hujan turun sangat lebat. Tapi ibunya bilang, Ara sudah cukup besar untuk bisa menjaga dirinya di rumah sendiri dan tetap meninggalkannya. Ara sangat kesal, malam itu, masih pukul 7 malam dan dia sudah bersiap untuk tidur dengan selimut yang dia kerudungkan sampai kepala. Petir menyambar-nyambar di luar, menciptakan bayangan mengerikan di dinding kamar Ara, Ara bergeming, dia tak bisa sendirian dengan kondisi seperti itu, musim hujan ini sungguh menyiksanya. Jadi dia memutuskan meninggalkan rumahnya.

Ara tingggal bersama orang tuanya di sebuah rumah susun berlantai 10, Ara dan tetangganya sangat berdekatan bahkan hanya di batasi oleh tembok saja. Ara akan pergi ke salah satu rumah tetangganya itu untuk berkunjung, ya setidaknya sampai orang tuanya kembali.

Ara keluar dari pintu rumahnya dengan sangat hati-hati, namun samar-samar dia mendengar suara. Bunyi piano mengalun dengan indah. Ara melihat sekeliling dan menduga-duga sumber suara itu. Tak mungkin itu dari dalam rumah tetangganya yang sebelum-sebelumnya, tak ada yang menyukai hal seperti itu di sini.

Ara mengikuti arah suara piano itu dengan instingnya, dan mengantarkannya ke sebuah tangga. Kilat masih menyambar-nyambar mengancam, tapi rupanya rasa penasaran Ara mematikan seluruh ketakutannya untuk sesaat.

Ara menaiki tangga itu yang berujung pada sebuah pintu sebuah kamar, di lantai paling atas. Di sana memang ada sebuah ruangan yang hanya sebesar ruang tamunya. Ara mendengar kamar itu sudah lama tidak di tempati, tapi beberapa hari ini Ara mendengar suara-suara dari dalam kamar ini. Mungkin seseorang sudah menempatinya sekarang,

Ara mengetuk pintu itu. Kalaupun ada orang baru di sana, Ara rasa sudah sepatutnya mereka berkenalan sebagai tentangga yang baik.

Bunyi piano berhenti, tak lama pintu terbuka dan sesorang muncul dari dalamnya. Awalnya Ara mengira penghuni kamar itu adalah laki-laki dewasa karna bentuk tubuhnya yang tinggi dan tegap, namun saat melihat lebih dekat, karna di dalam agak gelap, orang itu lebih muda dari yang Ara kira,

“Anyeonghaseoo, maaf menganggu, kau tetangga baru kami bukan? Bolehkah aku masuk?” tanya Ara ramah,

Orang itu mengangguk sekali. Ara bisa melihat, tepat saat petir menyambar lagi di luar, wajah orang itu dengan sangat jelas. Dia memiliki garis wajah yang tegas, matanya, Ara tak bisa mengambarkannya dengan jelas. Mata itu tajam, berwarna hitam dan memancarkan sesuatu yang lain, seperti kesedihan dan kemuraman. Orang itu tidak tersenyum seperti saat orang lain menyambut tamunya, tapi dia mengijinkan Ara masuk dan membuatkan Ara secangkir teh hangat.

“Namamu siapa? kurasa umur kita tak terpaut jauh,” tanya Ara, duduk di sofa yang ternyata sangat hangat dan meminum tehnya dengan sangat hati-hati,

“T.O.P” jawab orang itu singkat,

Itu nama aneh ke dua yang hari itu Ara dengar,

Je Ireum-eun Ara imnida,” kata Ara memperkenalkan diri juga, “Rumahku di bawah, sebelah kiri tangga yang menuju ke kamar ini,”

TOP mengangguk, tapi tak bertanya apa-apa kepada Ara,

Sesaat mereka hanya duduk dalam diam, mendengar suara gemuruh di luar sana, namun anehnya Ara sama sekali tidak takut lagi,

“Kau sedang memainkan piano bukan saat aku datang kemari? Kau bisa melanjutkannya, aku akan mendengarnya dari sini,”

TOP berjalan mendekati piano hitam besar di sudut ruangan, dan mulai memainkan sebuah lagu,

Lagu yang sangat hangat dan lembut, namun mampu mengalahkan suara petir yang tak bernada dan menakutkan bagi Ara, lagi-lagi dia melupakan tentang hujan dan petir,

Sejak saat itu, Ara sering datang ke kamar TOP, tak banyak yang mereka bicarakan, tapi Ara suka sekali mendengarkan permainan piano TOP. TOP, yang mengaku seorang komposer, menurut Ara , orang yang sangat dingin, namun membuatnya nyaman. Dia tak banyak bicara namun selalu setia mendengarkan cerita Ara, di dalam diri TOP, Ara yakin, ada perasaan hangat dan lembut juga seperti musiknya. Meski penampilannya sedingin angin malam.

 

“Wajahku terlalu tampan untuk kau potret dengan ini Go Ara-ssi,” ujar GD, menurunkan kamera yang Ara arahkan padanya,

“Ini lensa hadiah dari ayahku yang jurnalis itu, aku harus mencobanya dulu, setidaknya kau objek yang cukup pantas untuk kupotret, ayahku sangat baik bukan? Meski dia hanya tau memberikanku hadiah-hadiah ketimbang cintanya padaku,” Ara berkata, dengan nada biasa, namun kata-katanya berefek berbeda di wajah GD, GD menatap Ara dengan perhatian dan lembut,

“Potret aku saja,” kata GD kemudian, mengembangkan sebuah senyuman, dan menyandarkan lengannya di bangku taman yang hari ini mereka kunjungi,

“Aku tau kau akan mau!” seru Ara senang,

Ara memotret GD dengan lensanya berkali-kali, tampak sangat senang dan puas, dia memang suka semua hal yang berhubungan dengan fotografi, dan GD adalah objek favoritenya. GD fotogenik dan, meski ini masih diragukan, Ara memang yakin GD adalah seorang artis, atau model. Hanya saja dia tak pernah melihatnya wajah GD muncul di majalah atau televisi. Itu tidak begitu penting untuk Ara, yang terpenting GD adalah temannya, itu lebih dari cukup.

 

Dan TOP tidak suka dipotret, dan tidak mengijinkan Ara mengambil satupun gambarnya.

“Blizt nya bisa menganggu mataku, dan aku tak suka,” kata TOP tegas,

Ara ingin sekali memotret TOP juga sebenarnya, dan akan menunjukan wajahnya pada GD nanti, dan foto GD juga sebenarnya ingin Ara tunjukan pada TOP, karna Ara sendiri sudah bercerita banyak tentang GD padanya. Lagi-lagi TOP berkomentar yang menunjukan ketidaksukaannya pada kamera, dan Ara tak jadi menunjukan foto itu. Padahal itu foto-foto terbaik Ara,

“Aku tak tau yang kau tidak suka itu apa, aku atau kamera ini. Padahal,” Ara menatap TOP dengan pandangan  kecewa, “Kau tau, kamera itu seperti halnya aku sendiri,”

TOP tau, Ara marah dengan sikapnya. Tapi dia tidak merubah sikapnya pada Ara dan tetap pada penolakannya. Itu membuat Ara semakin kecewa, dan TOP membuatkannya secangkir teh hangat dan memainkan sebuah lagu untuknya. Meski kekecewaan Ara tak terbalaskan namun dia bisa melewati malam itu dengan sangat nyaman, dan terlelap tidur di sofa di temani suara merdu dari tut tut piano milik TOP, sampai malam semakin larut dan sampai orang tua Ara pulang ke rumah. Ara merasa bisa melewati masa-masa itu dengan sangat menyenangkan, dan tak harus sendirian lagi.

 

 

“TOP tak suka di foto dan itu membuatku kesal,” cerita Ara pada GD, mereka duduk di atas gedung tertinggi sekolah, dan Ara mengajaknya datang kesana, sekolah sudah kosong dan Ara merasa senang karenanya, seolah gedung ini menjadi miliknya.

Angin sore perlahan meniup rambut pendeknya sedagu, GD di sampingnya duduk bersama di tepi bangunan, kaki mereka gantungkan ke udara, dan di balik pagar pembatas besi.

GD tersenyum jenaka mendengar cerita Ara,

“Dia seperti tidak tahu caranya membuat orang senang,” gerutu Ara,

GD mengoyang-goyangkan kakinya sampai menyentuh kaki Ara,

Wae?” tanya Ara,

“Menyenangkan di sini bukan? Kau tak harus memikirkan hal lain,” saran GD padanya,

Ara mengangguk, meski dia masih merasa kesal, dan berfikir, percuma juga dia marah-marah di tempat seindah ini,

Matahari tertutup awan lembut seputih kapas dan di latar belakangi langit biru cerah,

Kemudian Ara ingat sesuatu, yang lebih menarik di banding kamera dan foto-foto itu. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya kemudian,

“Aku terlalu malu untuk memberikan ini padamu, tapi sesuatu mendesakku, aku sudah membuatnya dengan sepenuh hati,”

Ara memberikan sebuah lukisan minyak pada GD,

Nan?” tanya GD, melihat gambar lukisan itu,

Nee,” jawab Ara mengawasi ekpresi wajah GD,

“Woa, Daebak! sepertinya ini benar-benar aku,” ucap GD, tampak terkesan dengan lukisan itu,

Jinjja?” Ara tampak tak percaya, ini sebuah pujian yang tinggi untuk karyanya,

“Ahaa,” kata GD, masih menikmati memandangi lukisan dirinya,

Ara menepuk tangannya senang,

“Itu karya satu-satunya yang akan kuberikan pada seseorang,”

GD tersenyum senang juga,

Gomawo,” kata GD, tak menduga GD mengecup pipi Ara,

Ara kaget dan malu, wajahnya merona sampai telinganya seperti mendidih dan mengeluarkan asap,

Dan Ara tak berani menatap GD setelah itu, dadanya bergemuruh sangat cepat,

 

 

“Aku tak akan menemuinya sekarang-sekarang,” kata Ara pada TOP di kamarnya,

“Aku terlalu malu,” Ara menempelkan kedua telapak tangannya di pipinya yang masih bersemu kemerahan,

TOP meletakan lagi secangkir teh hangat untuk Ara, tapi sedikit keras dan menimbulkan bunyi dentingan yang cukup mengagetkan Ara,

Wae?” tanya Ara takut-takut, dia baru saja selesai menceritakan tentang kejadian yang Ara alami bersama GD tadi sore,

“Minum tehmu,” kata TOP dingin,

Dia memang selalu bersikap begitu, dingin dan tak pernah terlihat bahagia, padangannya selalu tajam menatap Ara, pandangan misterius yang tak bisa Ara mengerti,

Tapi Ara sudah bangkit,

“Aku akan pulang lebih awal, aku tak akan disini dan menganggumu lagi,” kata Ara, lalu pergi dari kamar TOP,

 

Tengah malam, Ara terbangun karna ada suara yang mengusiknya, bukan suara petir, karna akhir-akhir ini rupanya petir sudah sedikit berkurang intesitas kemunculannya, tapi suara ribut-ribut orang bertengkar,

Ini adalah hal yang paling Ara takutkan dari pada suara petir sekalipun. Suara pertengkaran kedua orang tuanya, Ara menutup telingannya rapat-rapat, lalu mengkerudungkan kepalanya, berusaha memblokir teriakan-teriakan masuk ke dalam telingannya, dan memblokir kata-kata yang mungkin sangat menyakitkan untuk didengarnya dan masuk ke dalam fikirannya.

Ara mendengar namanya di sebut orang tuanya, mendengar mereka saling mengeluhkan sikap Ara dan kelakuan Ara selama ini, Ara mendengar itu dengan sangat jelas meski dia  menutup kedua telinganya.

Bahkan mereka saling menyalahkan satu sama lainnya, kenapa Ara menjadi seperti sekarang ini,

Aku kenapa? Pikir Ara tak mengerti, apa yang salah dengan dirinya!

 

Ara tak tahan dan keluar, Ayah dan ibunya ternyata bertengkar di dalam kamar mereka. Di ruang keluarga, tampak tas kerja dan barang-barang ayah dan ibunya berhamburan. Sepertinya mereka sudah bertengkar dari mereka sama-sama pulang dari kantor mereka masing-masing. Dan Ara menduga salah satu dari mereka menyarankan untuk berpindah tempat. Apa apa gunanya sekarang? Toh Ara tetap mendengarnya,

Ara melewati begitu saja ruang keluarga dan menuju ke pintu depan rumahnya. Dia ingin pergi dari rumah sekarang, sebentar saja.

Ara sampai di depan kamar TOP beberapa menit kemudian, udara malam yang kering menerpanya, sudah tak ada hujan beberapa hari ini. Ara berfikir, apa mungkin musim dingin akan tiba?

Ara mengetuk pintu beberapa kali, karna tak ada jawaban dari dalam. Dan kemudian Ara memanggil nama TOP,

“Apa kau di dalam? Tolong buka!” panggil Ara serak, Ara sudah memanggil-mangginya entah berapa kali, namun tak ada jawaban,

“Maaf karna aku marah, dan aku tak mengerti kau marah padaku karna apa, aku hanya ingin menunjukan rasa kecewaku, aku juga menyukaimu seperti halnya pada GD, tapi, kau selalu bersikap dingin dan sama sekali tak menganggapku, buka sekarang TOP, aku kedinginan,”

Tak ada sautan juga,

“TOP, sejahat itu kah kau? Ayah dan ibu bertengkar lagi, mungkin karna aku, tapi aku juga tak tau alasan mereka mepertengkarkanku dan aku sudah tidak tahan mendengarnya, biarkan aku masuk! Gebal~ ” Ara terdengar memohon,

Ara duduk meringkuk di depan kamar TOP dan menangis dengan putus asa, dia menyesal harus marah pada TOP. Dan dia merasa sangat bodoh karnanya, Ara lupa kalau TOP lah satu-satunya temannya saat malam dimana dia sendirian dan kesepian. TOP sudah mau menampungnya kapanpun Ara mau datang. Sekarang Ara baru sangat menyesal, dia tertidur di sana sampai pagi dan pintu TOP tak sedikitpun terbuka.

 

Ara malu bertemu GD esoknya, tapi dia harus bertemu GD sekarang. Dia sedih dan butuh teman untuk cerita. Masalah orang tuanya dan juga masalah TOP yang tak mau menemuinya lagi.

Ara mencari GD di taman sekolah tempat mereka janjian, tapi sayangnya tak menemukannya di sana. Lalu Ara pergi ke atas gedung sekolah, GD mungkin pergi ke sana lagi karna kelihatannya dia menyukai tempat itu, tapi nihil juga. Ara akhirnya pergi ke halte bus dan mengira GD sudah di sana untuk mengantarkannya pulang . Tapi betapa kecewanya Ara, GD tidak ada di sana juga.

Dengan sedih Ara kembali ke atas gedung sekolah, dia tak mau pulang, karna di rumahpun dia akan sendirian, TOP juga tak mau menemuinya.

Ara kembali duduk di tepian gedung itu, perasaannya kacau dan sangat sedih. Lalu memikirkan GD. Baru kemarin mereka duduk bersama di sini, dan Ara memberinya lukisan yang dia buat, dan di sini juga GD mencium pipinya. Itu sangat memalukan tapi juga menyenangkan, setelah itu, Ara mengingat sesuatu, dia bangkit dengan segera. Ya! Ara ingat kemarin apa kata-kata yang dia ucapkan pada GD:

“Apa yang kau lakukan! Jangan seperti itu, aku tidak akan menemuimu lagi,” dan kemudian Ara meninggalkan GD, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Wajah Ara memucat, apa mungkin GD salah mengira, Ara tak benar-benar serius dengan perkataannya, dia saat itu hanya merasa malu. Wajah pucat Ara perlahan memerah, dia sudah ingin menangis.

Dia berlari turun ke taman, dan kembali ke halte bus, namun GD tidak juga muncul di sana,

Bagaimana dengan rumah atau tempat tinggalnya, sekolah, atau tempat lainnya yang mungkin selama ini menjadi tempat tinggal GD? Itu, Ara baru menyadari dia sama sekali tak mengetahuinya, GD tak pernah bercerita tentang dirinya dan Ara juga tak pernah bertanya tentang GD. Selama ini Ara terlalu puas dengan hubungan pertemanan uniknya dengan GD.

Sepertinya, Ara menatap dengan kosong ke arah jalanan, GD sudah lenyap!

 

 

Di rumah, Ara sudah tak peduli lagi dengan kemarahan TOP, dia mengedor pintu kamar TOP dengan keras. Dia tidak peduli lagi dengan tata krama atau sejenisnya. Dia hanya menginginkan bertemu TOP sekarang juga. Tapi pintu tak bergeming.

Ara merasa tangannya memerah sekarang, tangannya memberontak marah karna Ara tak berhenti memukul-mukulkannya ke permukaan pintu kayu yang keras.

“Ara, kau sedang apa? Suara yang kau buat menganggu tetanggamu yang lain yang sedang tidur siang, apa kau tau?” seseorang sudah berada di samping Ara, dengan suara hati-hati dan pelan,

“Aku mau membuka pintu ini,” kata Ara serak, dia hampir kehilangan suaranya dan juga tenaganya,

“Aku tak punya kunci lain untuk membukanya, seseorang sudah meninggalkan kamar ini lama, jadi akan susah membukanya lagi Ara,” kata orang itu lagi, yang Ara kenal sebagai pemilik rumah susun ini,

“Jangan becanda ajjuma, kamar ini masih di pakai semalam,” kata Ara kesal, bisa-bisanya saat begini Bibi pemilik rumah susun ini mempermainkannya.

Bibi itu menepuk bahu Ara lembut,

“Pulang saja ya? Aku akan menelfon ibumu untuk pulang lebih awal,” bujuk bibi itu,

Ara tampak tersinggung, untuk apa bibi ini membawa-bawa ibunya,

“Aku hanya ingin masuk ke kamar ini! Ajjuma jangan menghalangiku!” teriaknya,

Bibi itu tampak ketakutan dengan kemarahan Ara yang tba-tiba, dia mundur dan tak berani berkata apa-apa, itu membuat Ara menjadi merasa bersalah,

Ajjuma, miane~” kata Ara menyesal, “Aku baru saja kehilangan teman yang kusayangi dan sekarang aku tak mau itu terjadi lagi,” air mata merembes di wajahnya,

Bibi itu akan maju ke depan dan akan memeluk Ara namun seseorang sudah mendahuluinya,

“Apa yang kau lakukan di sini anak setan!” laki-laki dewasa dengan kata-kata kasar itu muncul dan mengapai lengan Ara dari anak tangga terdekat dari depan pintu kamar TOP, lalu menariknya dengan keras mengabaikan teriakan Ara,

Shiroo! Appa! Andweee…!”

“Jangan melakukan hal aneh lagi aku tak tahan melihatnya!” katanya dengan suara keras,

“Aku hanya mau menemui seseorang saja,” kata Ara putus asa, dia semakin menjauhi kamar TOP,

“Aku mau minta maaf ayah, dan tak akan membiarkannya pergi dariku,” Ara memohon,

“Diam! Jangan memberontak lagi, ayah akan mengurungmu di kamar gudang,” ancam ayah Ara menakutkan,

Andweee! Jangan ayah! Aku mohon jangan sekarang! Biarkan aku menemui temanku dulu,” pinta Ara panik, dia tak pernah dihukum dan masuk ke dalam kamar gudang satu tahun ini karna bersikap baik.

Ayah Ara memaksa Ara masuk ke dalam rumah sekarang, tapi Ara memberontak. Dia tak mau masuk sekarang, setidaknya sebelum dia bertemu TOP, dia tidak mau kehilangan TOP juga, dia tidak mau!

“AYAH AKU TAK MAU!!!” jerit Ara sangat keras, dan mungkin terdengar sampai seluruh tempat di rumah susun ini saking keras suaranya,

Mata ayah Ara terbelalak melihat anaknya menjerit begitu,

Tapi kemudian, tubuh Ara terlihat limbung, bola matanya menyempit dan kemudian roboh di kaki ayahnya,

Ara sudah sampai batas kemarahannya dan akhirnya tak kuat menghadapi kesedihan dan perasaannya yang tertekan,

Ayah Ara menatapnya ketakutan,

Sementara tetangganya yang lain, yang menyaksikan semua itu memandang mereka prihatin,

“Fikiran anak itu terganggu karna ayah dan ibunya yang tidak pernah rukun, dan dia juga kehilangan sahabat satu-satunya saat kecil, kasihan,” kata bibi pemilik rumah susun ini,

Tapi mereka tau apa tentang Ara? Mereka tidak tau apa-apa!

 

Tentang Ara yang ditinggalkan sahabatnya saat kecil itu memang benar, dulu saat usia Ara 6 tahun, dia memiliki sahabat perempuan yang sebaya dengannya bernama Jenny Kim. Keluarga Ara dan Jenny kebetulan masih memiliki hubungan saudara dan rumah mereka berdekatan. Sudah dari kecil Ara biasa ditinggalkan kedua orang tuannya bekerja, karna kedua orang tua Ara sama-sama bekerja sebagai jurnalis. Setelah pulang sekolah, Ara akan dititipkan di rumah keluarga Kim. Jenny yang juga anak tunggal sangat senang kalau ada teman yang bisa menemaninya di rumah setiap hari.

Suatu hari, Ara yang siang itu tidur di rumah keluarga Jenny, terbangun dan menangis tanpa alasan. Ibu Jenny sangat bingung saat itu, tidak biasanya Ara menangis sampai seperti itu. Ibu Jenny berusaha menenangkan Ara yang seperti sedang merasa ketakutan karna sesuatu. Dan pada saat Ara mulai tenang, dia menceritakan apa yang membuat dirinya menangis,

“Aku bermimpi seram,” kata Ara saat itu dengan terbata, Jenny yang di samping Ara saat itu ikut mendengarkan,

“Aku melihat, Jenny tidur di sebuah ranjang serba putih, dan saat aku mencoba membangunkannya, Jenny tak mau bangun, dia terus memejamkan matanya dan tak mau bangun. Aku ketakutan sekali bi,” cerita Ara,

Wajah ibu Jenny saat itu sedikit memucat mendengar pengakuan anak dari sepupunya itu, tapi apa yang dipikirkan oleh wanita itu tak dia coba tunjukan pada ke dua gadis kecil di depannya.

“Itu Cuma mimpi Ara, sudahlah,” ucap ibu Jenny menenangkan Ara, dengan sedikit senyuman,

Ara lega dan tak takut lagi, namun, tiga hari setelah itu Ara harus benar-benar kehilangan sahabatnya Jenny. Keluarga mereka pindah ke kota lain, dan itu membuatnya sangat syok dan tertekan. Ara sangat menyayangi Jenny, mereka sudah seperti saudara kandung, dan sejak saat itu juga tak pernah sekalipun Ara mendengar kabar dari keluarga Jenny, Ara pun tak pernah berani bertanya kepada kedua orang tuanya. Andai saja dia memiliki sahabat lain seperti Jenny,

 

Ibu Ara sudah berada di sisi lain tempat tidur Ara saat dia siuman,

“Sudah bangun Ara?” tanya ibunya dengan pandangan pilu,

Ara mengangguk lemas, dia tak bisa berfikir apa-apa juga tak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di tempat tidurnya sekarang,

“Makan dulu ya,” ibu Ara menyodorkan sesendok bubur untuk Ara,

Tapi Ara menolak, dia juga tak nafsu untuk makan,

“Tidak makan tidak apa-apa, tapi coba dengarkan ibu bicara sekarang ini,” kata ibu Ara serius, sebelum Ara bangun, ibu Ara sudah memikirkan apa yang akan dikatakan kepada putrinya ini masak-masak,

“Ayah tak ada di rumah, jadi ibu akan cerita padamu sekarang, tolong kau dengarkan sekali ini,”

Ara tampak tak berminat, tapi dia mengedipkan matanya pelan untuk menjawab kalau dia setuju,

“Sebelumnya ibu minta maaf, kau seperti ini juga karna ibu yang tak selalu bisa di sampingmu, kau tau sendiri ibu harus bekerja agar kita bisa lepas dari rumah ini dan pergi,” ibu Ara mengatakannya dengan gelisah,

“Aku tau, kau mau meninggalkan aku dengan ayah kan?” kata Ara dingin,

“Bukan, bukan nak, aku tentu akan membawamu juga nantinya, percayalah pada ibu nak,” ibu Ara memohon, “Dan tetap rahasiakan ini dari ayahmu, tapi nak, bukan itu yang akan ibu bahas sekarang, ini mengenai kau,”

Ara menunggu ibunya melanjutkan,

Sesekali mengamati padangan ibunya yang memandang ke arah pintu kamar dan dirinya secara bergantian,

“Kau adalah cenayang,” bisik ibu Ara,

Ara mengernyit tak mengerti,

“Kau tau itu kan Ara?” ibu Ara memandang wajah Ara semakin gelisah,

Cenayang adalah orang yang bisa melihat masa depan, baik dirinya sendiri ataupun orang lain,

“Itu tak mungkin,” kata Ara, dia merasa ibunya bertingkah aneh sekali malam ini,

“Itu benar nak, bakat itu turun dari nenekmu yang sudah meninggal, uri halmunee,”

“Kau sendiri bukan cenayang kan?” tanya Ara,

“Tidak, meski aku memiliki sedikit kemampuan itu, tapi sedikit sekali Ara, bahkan hanya seperti kemampuan menebak karna keberuntungan saja,”

“Tapi aku tidak pandai meramal nasib orang atau sejenisnya,”

“Itu karna kau tak menyadari itu, mungkin kau mengalami banyak hal aneh yang tak semua orang itu mengalaminya, tapi kau tak tau itu adalah kemampuan seorang cenayang,”

“Seperti apa misalnya eomma?” Ara terlihat semakin tertarik, meski belum sepenuhnya mempercayai perkataan ibunya,

“Kau memimpikan sesuatu dan kejadian itu terjadi setelahnya,”

Ara berusaha mengingat-ingat apa yang di katakan ibunya,

“Seperti saat aku dapat nilai ujian itu bu?” Ara mengingat satu hal itu lebih cepat, “Aku tau nilaiku akan jelek paginya karna aku merasa kurang belajar sampai terbawa mimpi dan saat nilai itu dibagikan benar saja nilaiku jelek,” ujar Ara dengan lugu,

“Lebih dari sekedar nilai saja Ara, kau bisa melihat semuanya dari mimpimu itu,” kata ibu Ara, tampak tak sabar,

“Aku tak ingat ada hal besar apa lagi,”

“Kau ingat sahabatmu Jenny?”

Ara mengangguk, hatinya sakit karna tiba-tiba nama itu disinggung,

“Kau ingat apa yang terjadi padanya di dalam mimpimu dulu?”

Ara mengangguk lagi, sesaat wajahnya berubah pucat dan tampak ngeri,

“Kau bohong! Dia tak mungkin meninggal,”

Namun sayangnya ibu Ara mengangguk,

Ara menangis sesengukan,

“Sudahlah sayang, itu sudah berlalu sangat lama. Mereka pergi dari rumah susun ini untuk berobat, ibu Jenny tau penyakit anaknya sudah sulit di sembuhkan tapi dia tetap mencoba meski akhirnya Jenny tak tertolong. Ibu tidak cerita padamu karna takut kau akan semakin sedih kehilangan Jennymu,” ibu Ara menenangkan Ara, lalu memeluknya erat,

Setelah Ara kembali tenang, dia melanjutkan cerita. Ara sendiri merasa aneh, meski dia baru tau Jenny sudah meninggal, tapi dia merasa tidak terlalu sedih, dia seperti sudah mengetahui ini lama sekali,

“Masalahnya sekarang adalah ini Ara, ibu tau, meski ibu tak mencoba bertanya padamu, apa kau sekarang memiliki teman khayalan?” jawab ibu Ara serius,

“Tidak, tentu tidak, aku punya banyak teman di sekolah dan mereka nyata,” jawab Ara sakit hati,

“Selain itu?”

“Aku tak punya, kalau teman lain,” Ara berhenti dan menelan ludahnya. Ada, laki-laki, dua orang laki-laki, Ara tak berani menceritakan keduanya karna takut pada ibunya, ibunya tak memperbolehkan Ara terlalu dekat dengan teman laki-lakinya,

“Ibu tak akan marah, kau cerita saja,”

“Itu, aku punya bu, mereka GD dan TOP,” jawab Ara takut-takut,

“Mereka siapa?”

“GD dan TOP, mungkin agak kedengaran aneh nama mereka tapi itulah nama mereka bu,”

“Jadi benar kau memang punya teman khayalan seperti yang tetangga kita katanya dan gurumu juga,”

“Mereka bukan khayalan ibu, mereka nyata!” kata Ara tiba-tiba marah, kenapa sih ibunya seperti ini, tadi mengucapkan kata-kata aneh dengan menyebut dirinya cenayang sekarang bilang kalau kedua teman laki-lakinya adalah teman khayalan, fikir Ara tak mengerti,

Ibu Ara menatap anaknya sambil berfikir keras, ekpresinya sama dengan ekpresi Ara saat dia baru menyebut putrinya seorang cenayang.

“Ibu dengar, GD adalah anak yang kutemui saat pulang sekolah, dia anak baik dan ceria dan sangat menyenangkan. Lalu TOP dia anak yang tinggal di kamar paling atas bangunan ini, meski sedikit pendiam tapi dia juga sangat baik,” jelas Ara pada ibunya,

“Jangan ngaco Ara, kamar itu sudah lama tak ditinggali dan terkunci,”

“Aku sering masuk ke sana malam-malam ibu, menunggu kalian pulang ke rumah, dan bukankah ibu sering mendengar bunyi piano? TOP sering memainkannya untukku,”

“Bukankah itu berasal dari suara tape mu? ”

“Ibu, tape ku rusak sudah lama sekali,”

Ibu Ara tampak kaget, tapi yakin kalau putrinya lah yang salah, dia mendengar tetangganya bercerita kalau Ara sering pergi ke lantai atas dan berbicara dengan entah siapa,

“Lalu anak yang satunya lagi?”

Ara tau, maksudnya adalah GD,

“GD sangat unik bu, meski TOP juga unik, dia punya rambut blonde dan mata coklat, dia manis dan selalu membuatku tersenyum,”

“Dan di mana kau bertemu dengannya,”

“Di halte, di taman sekolah dan aku juga pernah mengajaknya ke atas gedung sekolah bu,” kata Ara lebih bersemangat, ibunya harus percaya kalau mereka itu ada,

“Itu aneh, apa kau tau di mana rumah temanmu yang berrambut blonde itu,”

Ara tentu saja mengeleng,

“Ara, dengar, tak ada anak yang seperti yang kau gambarkan itu, percayalah!”

Ara tak mau menyerah, kemudian dia ingat sesuatu. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan menuju sebuah lemari, dia mengambil sebuah kotak besar, dan mengeluarkan beberapa isinya,

Foto-foto hasil jepretannya, Ara memilih beberapa,

“Ini lihat bu,” Ara memberikan foto-foto itu pada ibunya,

Wajah ibu Ara seperti terkena tamparan sangat keras,

“Tidak mungkin,” gumamnya ngeri, dia melihat potret anak laki-laki bernama GD itu, tidak hanya satu dan sangat banyak,

“Benar kan GD ada?” Ara menegaskan,

“Bagaimana ini bisa terjadi,” ibu Ara tampak syok,

“Ah ya,” Ara meraih benda lain di dalam kotak,

Lukisan TOP,

“Aku sempat melukis mereka, dan aku sudah memberikan lukisanku yang bergambar GD padanya, tapi aku tak berani memberikannya pada TOP, dia banyak tidak menyukai apa yang kusukai, dan ibu tau aku sangat berbakat melukis juga, ini gambar TOP,”

Sekarang ibu Ara melihat sebuah lukisan bergambar laki-laki dengan baju serba gelap dan tampang tegas dengan ekpresi sedih yang terpancar dari matanya,

Beberapa detik kemudian, ibu Ara meletakan kedua benda itu di atas tempat tidur Ara, dia lebih syok dari sebelumnya,

“Aku tak tau ini apa,” katanya, dengan pandangan sungguh-sungguh dia menatap Ara, “Tapi demi Tuhan Ara, mereka tidak nyata,”

“Kau sudah liat ini semua, kenapa masih saja bilang ini tak nyata!”

“Apa kau bisa bawa aku kepada mereka sekarang?”

Ara diam, sesuatu menyohok hatinya, dia ingat, siang tadi GD menghilang dan TOP juga tak muncul di kamarnya,

“Mereka pergi,”

“Apa?”

“Mereka marah dan pergi ibu,” wajah Ara tampak muram, dia mulai menangis lagi,

“Oh sudahlah nak,” ibu Ara memeluk anaknya lagi, “Kita coba lupakan ini ya? Yang terpenting adalah, jangan sampai ayahmu tau kita membicarakan ini. Kau tau, dia sangat  tak suka hal ini diungkapkan di rumahnya, karna itu dia tak mau kau tau semua ini, dia membenci ketidaknormalan yang kau punya,”

“Ayah membenciku bu?”

“Bukan seperti itu, dia hanya membenci keadaan kita begini,”

“Orang-orang di sini juga tidak suka padaku dan menghindariku bu,”

“Mereka tau kau cenayang jadi mereka takut, ketakutan yang tak beralasan bukan, jangan cemas, kau bisa tetap bersikap baik pada mereka,”

Ara mengangguk,

“Tapi ibu percayakan padaku sekarang,”

“Iya Ara, sangat percaya!”

 

 

10 tahun kemudian,

Ara, masih menyimpan foto-foto GD dan lukisan TOP di dalam kotak yang dia simpan di lemarinya. Meski sekarang dia tinggal di rumah yang berbeda. Ara sudah bukan gadis berumur 15 tahun lagi sekarang, tapi gadis berumur 25 tahun yang sangat cantik. Dia tinggal di sebuah apartemen kecil, di pusat kota. Apartemen itu baru di tinggali sekitar tiga bulan ini, Ara lulus dari universitas jurusan seni satu tahun yang lalu. Ara masih melukis sampai saat ini, karna sekarang, melukis adalah nafasnya, dia tak bisa hidup tanpa melukis. Lukisan Ara mulai banyak dikenal dan dibeli orang-orang, dari situlah Ara hidup.

Suatu siang yang amat terik, seorang laki-laki dewasa botak dan tambun mendatangi Ara di apartemennya, tepat saat Ara akan memulai melukis sebuah lukisan di kanvasnya. Laki-laki itu ternyata utusan dari sebuah galeri lukisan di kota ini yang cukup besar dan terkenal. Laki-laki itu menyuruh Ara datang ke kantor mereka esoknya. Ini tawaran yang cukup mengiurkan untuk Ara, dia masih muda, namun mendapatkan kesempatan sebaik ini untuk menunjukan karyanya kepada lebih banyak orang.

Keesokannya, Ara mendatangi kantor galeri lukisan itu, dia sempat ragu-ragu dan kurang percaya diri. Namun, dia bermimpi sangat bagus semalam, dan itu membuat perasaannya tenang.

Tentang bakat cenayang yang Ara miliki, dia hampir saja membuangnya dari dirinya. Ara sama sekali tak mengunakan kemampuannya itu untuk dirinya, seperti yang ibu Ara sarankan beberapa tahun lalu untuk mengembangkannya dan membuat Ara menjadi peramal. Ara menolak takdir itu, dia lebih suka melihat teman-teman dan orang-orang yang dikenalnya duduk nyaman bersamanya tanpa merasa takut. Meskipun, di malam hari atau disaat-saat tertentu dia selalu melihat penampakan, orang-orang yang dikenalnya ataupun orang yang sama sekali tak dikenalnya. Tapi Ara membiarkan semua itu seperti halnya orang biasa mendapat mimpi buruk atau semacamnya,

“Direktur Choi Seung Hyun ada di dalam Go Ara-ssi,” kata laki-laki yang kemarin mendatangi rumah Ara itu,

Ara masuk ke dalam di temaninya,

“Direktur, pelukis yang anda usulkan untuk mengisi galeri lukisan kita sudah di sini,” kata laki-laki tambun ke arah punggung kursi hitam dengan sandaran tinggi, sehingga orang yang duduk di sana dari belakang hanya tampak kepalanya saja,

Kursi memutar dan memperlihatkan wajah direktur,

Dengan postur badan tinggi tegap, direktur menyilangkan kakinya dan menatap ke arah Ara langsung. Garis wajahnya tegas, dengan mata gelap,

Ara terperanjat saking kagetnya,

Ada sekitar 10 detik, Ara dan sang direktur bertatapan setelah laki-laki tambun itu meninggalkan ruangan,

“Apa aku mengenalmu?” tanya direktur,

Ara hanya terpaku menatap laki-laki itu,

“Caramu menatapku seperti kau itu mengenalku, jadi aku tanya begitu, mari mengobrol di sana” kata direktur lagi, lalu berdiri, bergerak ke arah sofa dengan meja segiempat di tengah-tengah ruangan,

Tapi belum sampai berjalan ke tempat duduknya, Ara memblokir jalan direktur, dan memeluknya,

“Aku tau, aku tau akan bertemu denganmu lagi, T.O.P,” kata Ara, melingkarkan lengannya dipinggang direktur,

Direktur itu tampak kaget tiba-tiba dipeluk Ara,

“Ya! Kau kenapa?” Direktur bertanya seraya melepaskan lengan Ara, “Dan bagaimana kau tau itu, hmm, nama panggilanku dari teman-teman,” direktur mengernyit,

“Aku tau banyak, lebih dari yang kau tau,” jawab Ara, menghapus sedikit air matanya yang keluar,

Saat itu pintu ruangan direktur terbuka, dan seseorang masuk,

“Aku datang hyung!” teriak orang itu,

Berjalan dengan cepat ke arah Direktur dan Ara,

“Apa yang kau lakukan di sini? ” direktur terlihat tidak senang,

“Dengarkan!” kata direktur dengan nada mengacam, “Jangan teriak-teriak di kantorku, jangan memanggilku dengan sebutan hyung hanya karna aku setahun lebih tua darimu, dan jangan masuk ke sini sembarangan aku ada tamu,” mungkin, orang yang melihat reaksi direktur saat ini akan mundur ketakutan namun anak yang baru datang itu terlihat tenang-tenang saja, bahkan dia memainkan topi bundarnya di atas rambut blondenya, tak peduli,

“Siapa gadis manis ini hyung? Apa cewe yang kau buat patah hati lagi? Wah dia menangis,” anak itu menatap Ara penasaran, lalu tersenyum ke arahnya,

Dan Ara sudah bergerak, lebih cepat yang anak itu duga, juga memeluknya,

“GD!”

 

 

“Ada apa denganmu!” TOP melepas pelukan Ara kepada GD, “Kenapa sembarangan memeluk orang,”

Tubuh Ara mundur menjauhi GD yang menatapnya tanpa ekspresi, namun lalu tersenyum,

“Kau mengenalku juga?” tanya GD penuh minat pada Ara,

Ara mengangguk,

Lalu Ara menceritakan semua pada TOP dan GD,

“Apa kau sedang mengarang cerita? Itu tak mungkin,” komentar TOP pedas,

“Tidak, aku mengenalmu sangat baik, kau tinggal di atas rumah susun kami dan,” Ara menunjuk ruangan kantor direktur yang dipanggil Ara TOP, “Ruangan di kamarmu mirip sekali dengan ruangan di sini, hanya saja,” Ara berfikir sebentar, “Tak ada piano besar di pojok sana,”

“Piano?” tanya GD tak percaya, “Bagaimana ada benda semacam itu di tempat TOP,” katanya, menertawakan TOP,

“Aku punya di rumah, aku memainkannya sekali-kali,” kata TOP, sangat marah kalau GD menghinanya,

Jinjja?” GD tampak tak percaya, “Apa itu artinya kau mengiyakan cerita gadis manis ini,” GD mengedip pada Ara,

“Bukankah dia juga mengenalmu GD?” TOP bertanya pada GD namun matanya dia arahkan pada Ara,

“Aku tau GD, dan aku punya fotonya,” Ara mengeluarkan dompet dari tasnya dan mengeluarkan selembar foto dari dalamnya,

“Ini mustahil!” kata GD terpana, “Ini sungguh aku? Darimana kau dapatkan ini dan bagaimana,”

“Aku memotretmu di taman sekolah, kau sering muncul dan bertemu denganku di sana, di halte bus, di hari berpetir itu, kau bilang kau seorang artis,”

GD tertawa, “Itu adalah ambisi terbesarku, dengan wajah setampan ini,”

 

Bagaimanapun, apa yang dikatakan oleh Ara pada kedua laki-laki itu sangatlah tidak mungkin bagi mereka. Bagaimana seorang gadis bisa mengenal mereka dengan baik sementara mereka belum pernah bertemu,

“Itu mungkin saja, saat kau menjadi cenayang. Ada banyak hal di dunia ini yang sangat tidak mungkin untuk akal manusia namun bisa terjadi,” ujar Ara,

Direktur yang memang bernama asli Choi Seung Hyun itu duduk di sofanya setengah melamun,

Sementara temannya, GD yang Ara tahu nama aslinya adalah Kwon Ji Yong, masih menatap foto milik Ara,

“Lalu, apa yang akan kau lakukan di sini GD?” tanya direktur TOP, seolah Ara tak pernah ada di sana dan menceritakan cerita tidak masuk akal seperti tadi, dia ingin kehidupan normalnya kemabali.

“Aku melihat lukisan kupu-kupu yang di pajang di galerimu minggu lalu, kurasa aku tertarik dengan lukisan itu, aku kemari untuk membelinya, kau tau siapa pelukisnya?” tanya GD, juga mengabaikan Ara di sana,

“Itu aku,”

TOP dan GD memandangnya,

“Aku yang melukis lukisan kupu-kupu itu, bukankah direktur menyuruhku kemari untuk hal itu? Dan GD ke sini juga karna ingin bertemu denganku? Bukankah ini takdir?”

TOP dan GD terdiam beberapa saat mendengar kata-kata Ara,

“Lalu apa yang akan kau lakukan pada kami? Aku sama sekali tak tahu kita punya hubungan apa,” tanya TOP,

“Apa kita berpacaran? Kau menyimpan fotoku di dalam dompetmu kan?” tanya GD,

Ara tersenyum,

“Satu yang ingin kulakukan adalah mempertemukan kalian dengan seseorang, namun sayangnya dia sudah meninggal beberapa tahun lalu, bahkan sebelum dia menghirup udara kebebasannya, aku sangat senang, dia mempercayaiku sampai akhir hayatnya dan saat inipun aku yakin dia bisa melihat kita,”

TOP dan GD saling pandang tidak mengerti,

Gomawo eomma,”batin Ara bahagia, “Aku tak akan kesepian lagi, sekarang aku sudah menemukan teman-temanku,”

~end

One thought on “Thunderclaps | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s