Overload | OneShot

 

Overload

Pernah merasakan menjalin kasih dengan orang yang seharusnya menjadi adikmu? Bagaimana rasanya? Menyenangkan? Berbeda? Atau bahkan merepotkan? Mari ku beritahu bagaimana rasanya, ikuti aku dan kau akan mengerti bahwa segala bentuk kekurangan tidak akan berlaku untuk cinta, sampai kapanpun.
Title : Overload
Author : Cresentia Dulcie
Fb : Desty Cho Eun ji
tw : @DestyEunji
Genre : Comedy Romance
Main cast : Cho Eun Ri (OC)
Kim Myungsoo
Rating : PG13
Length : Oneshot
(/^^)/ Cresentia Dulcie Present (9^^)9
Jalanan macet dan aku seperti orang gila berada di dalam mobil. Handphoneku berbunyi terus-menerus, oh cobaan apalagi ini. Mobil-mobil di depan sana dengan tidak tahu diri berhenti di tengah jalan. Klakson mobil sudah tidak terhitung berapa kali kubunyikan. Apa kalian tidak tahu accu mobil sedang mahal-mahalnya sekarang, dan kalian membuatku membuang-buangnya secara percuma? oh, please aku masih mahasiswa. Uang sakuku terbatas dan kau tahu aku memiliki kekasih yang harus ku manjakan juga.
 
Kalau aku bisa aku benar-benar akan berubah menjadi superman dengan kolor merah dan sayapnya itu. Keluar dari mobil bak pahlawan dan mengangkat mobil itu satu persatu kemudian meremukkannya dan pergi menemui kekasihku. eh, sepertinya ada yang janggal disini. Bukankah Superman itu bisa terbang? Lalu kenapa aku harus membuang tenagaku hanya untuk meremukkan mobil-mobil itu? Lebih gambang langsung terbang saja ke apartment kekasihku saja. Ya, pemikiran bodoh apa itu Kim Myung soo? Handphoneku berdering lagi. ada sms, dan aku tahu ini benar-benar darurat.
“Oppa, carilah pacar baru. Aku sekarat.”
Aku melongo. Sekarat? Kekasihku sekarat? dan aku berada di dalam benda kotak beroda, di tengah jalan, jangan lupakan mobil-mobil yang memenuhi jalan. Kubuang Handphone agar bisa sedikit berkonsentrasi dengan jalanan. Spion mobil menunjukkan pantulan lambu-lampu mobil dibelakangku. Ada satu mobil yang akan menyalipku, Segera kuhalangin dengan mobilku yang ikut melaju. Eits, jangan harap akan mendahuluiku. Kalau kau buru-buru itu bukan urusanku, karena aku juga sedang buru-buru.
Kau pernah merasakan panggilan alam yang tak terealisasikan? Kalau pernah seperti itulah perasaanku sekarang; gelisah. Handphoneku tidak berdering dan itu justru membuatku cemas. bocah itu, aah kekasihku itu tidak akan berhenti memberendeli handphoneku sebelum aku ada di depan hidungnya. Sekarang apa lagi yang terjadi padanya? ini sudah malam, hampir midnight malah. Tapi bocah itu tiba-tiba mengirimiku pesan bahwa di apartementnya ada ledakan. Bagaimana mungkin aku tidak gila? Aku bahkan lupa membawa mobil dan berlari kesetanan sampai di depan gerbang apartment, ini memalukan tetapi benar-benar terjadi. Untungnya aku masih menyadari bahwa mobil pasti jauh lebih cepat dari pada berlari, apalagi jarak apartment kami lumayan jauh. Aku sudah membuang waktuku beberapa menit untuk berlari seperti orang gila. Bodohnya lagi, aku melupakan bahwa jam-jam seperti ini, di Seoul, ibukota Korea Selatan pasti macet. Untuk kali ini aku menyesal kenapa mobil harus didesain sebegini besarnya, seandainya mobil itu elastis aku mungkin bisa melewati gang-gang sempit atau celah diantara mobil lainnya. Handphoneku berdering lagi.
“Oppa, relakan aku. Kurasa sekarang aku benar-benar akan mati.”
SH*T! Ya Tuhan, aku tahu bahwa bocah itu sering kali membuatku kesal, merepotkanku, membuat hidupku super berisik tapi tolong untuk kali ini saja. Kasihanilah dia, dia masih terlalu muda untuk kembali padaMu. Kurasa, kalaupun Engkau memanggilnya sedini ini bocah itu tidak akan berguna di sisiMu. Jadi biarkan dia hidup lebih lama lagi.
Oh, yeah. Akhirnya macet sialan ini berakhir. Dengan segenap hati, jiwa, dan raga kupukul-pukul klakson hingga membuat orang tuli. Siapa peduli accu mahal, yang terpenting aku bisa menemui bocah itu. Oh Ya Tuhan, aku baru ingat. Sesuatu terjadi di apartmentnya, dia tinggal sendirian. Ini darurat. Benar-benar darurat.
Kuinjak gas dengan sedikit brutal, menuju kompleks apartment. Sedikit ditengah kota, kurasa apartmentnya sedikit mewah. Dia baru pindah beberapa hari yang lalu, kurasa kalau aku tidak salah ingat itu lima hari yang lalu. Entah ada bencana apa, tiba-tiba dia merengek pada orang tuanya untuk tinggal sendiri di sebuah apartment yang tentu saja di tolak mentah-mentah. Dia marah dan menelponku beberapa jam kemudian, parahnya aku hilang kendali dan memarahinya. Tentu aku tidak setuju sama seperti orang tuanya. Kalau kau belum tahu, kekasihku baru kelas 2 SMA dan tenggat lima tahun denganku. Hey, jangan memicingkan mata seperti itu. Aku bukan pedofil, hanya mencintai gadis yang lebih muda saja. Umur itu hanya angka, benar ‘kan? Jadi aku punya alasan melarangnya untuk tinggal sendiri apalagi gadis seumurannya masih dalam masa-masa labil. Sekarang, bagaimana bisa dia mendapatkan apartmentnya? Tentu saja karna taktik liciknya, dia mengancam bunuh diri dengan meminum 3 tablet obat tidur dosis tinggi! Alhasil dia tertidur seminggu penuh seperti orang mati, masih untung dia tidak overdosis. Kalau sudah seperti itu, mau bagaimana lagi selain mengijinkannya pergi?
Belakangan aku tidak bisa konsentrasi karena sering memikirkannya. Aku mengkhawatirkannya, semerepotkan apapun dirinya tetap saja dia orang yang ku cintai. Apalagi saat aku tahu apartmentnya terletak di pusat kota, di keramaian dekat dengan hiburan malam. Makin kalang kabutlah aku, sebagai kekasih aku harus bisa menjaganya, ‘kan?
Begitu mobilku terparkir rapi, aku berlari menuju lift dan memencet angka 127; letak kamarnya berada. Tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan di sini, tapi kenapa dia bilang mendengar suara ledakan? Ah, lebih baik kupastikan saja. Pintunya sudah kelihatan.
Aku ingin memencet bel, akan tetapi ku urungkan dan memilih memasukkan pasword saja. Aku masih merinding saat mengingat pertama kalinya dia memberitahukan padaku paswordnya adalah 4444. Oh ayolah kalian pasti tahu bahwa angka itu angka kematian, angka sial lebih tepatnya. Semua orang percaya keyakinan itu dan saat ku tanyakan kenapa dia memilih angka itu jawabannya membuatku tercengang. Dia bilang angka itu romantis seperti pohon cemara yang berjejer. Aku tidak bisa mengingat seberapa lebarnya mulutku terbuka, yah tapi kalian pasti tahulah alasan yang sebenarnya. Alasannya karna dia malas menghafal dan mengingat angka.
Begitu aku menginjakkan kaki pada apartmentnya, mataku melebar kaget. WOW aku salut padanya, bagaimana mungkin apartment semewah ini dibuat sebegini berantakannya. Kain pel berada di meja, debu-debu terkumpul dibawah meja bagai pegunungan abu, vacumm cleaner masih tersambung dengan stop kontak. ckckckckc! Sebenarnya apa yang baru saja dia lakukan? Menghancurkan apartment? Tunggu! Aku tidak melihat siapapun disini, di mana dia?
Kakiku mengikuti naluri, berjalan sendiri menuju suatu ruangan. Aku mendengar gemericik air dan bau menyengat. Sekali lagi mataku terbelalak melihat teflon yang mengepulkan asap di atas kompor yang menyala. Menutup hidungku, aku berlari dan dengan cekatan mematikan kompornya. Dapur ini sudah penuh dengan asap, mataku melirik ke ujung benda elektronik yang juga mengepulkan asap. MICROWIVE ITU TERBUKA DENGAN PLASTIK BERTEBARAN DIMANA-MANA! Apalagi ini? Apa dia memang berencana untuk membakar apartment ini? Dan di mana dia sekarang.
Masih dengan menutup hidung dan mengibaskan tanganku; menghalau asap yang menutupi pandangan, aku merunduk. Mencari sesuatu yang kira-kira bisa memusnakan sekoloni semut. Mataku terbelalak untuk yang ketiga kali, aku melihat Cho Eun Ri; kekasihku meringkuk di bawah meja makan dengan memeluk lututnya. Sepertinya dia menangis, aku tidak tega melihatnya. Dengan hati-hati ku tarik tubuhnya dan memeluknya. Ini yang paling aku khawatirkan, dia masih belum bisa menjaga dirinya. Jangankan menjaga, mengurus dirinya sendiri saja masih diragukan. Entah hantu macam apa yang merasuki Eun Ri sampai tiba-tiba ingin tinggal sendiri.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Sepertinya ada yang meledak.”
“Apa kau terluka?” Eun Ri menunjukkan pergelangan tangannya padaku, sekarang keberapa kali aku membelalakkan mata? Ada yang masih ingat? Tangannya melepuh, ada luka bakar di sekitar punggung tangan dan plastik yang terbakar menempel pada pergelangan tanganya. Aku meringis, ini pasti sakit sekali.
“Berdiri, akan ku obati.” Kami berdiri, dengan aku yang memapah Eun Ri menuju kamarnya; sepertinya hanya itu tempat yang layak untuk dihuni. Baru saja kududukkan dirinya, ada seseorang yang memencet bel. Apalagi? Tengah malam seperti ini orang gila mana yang bertamu? Eun Ri bersiap berdiri, aku mencegahnya memberikan isyarat bahwa aku yang akan membukakan pintu. Dia sedang terluka, lagipula bagaimana kalau itu maling? Aku, sebagai seorang pria dan juga yang lebih tua darinya sudah seyogyanya untuk melindunginya. Kalau dia benar-benar maling yang bisa kulakukan adalah menutup pintunya kembali dan menguncinya. Kau pikir apalagi? Aku tidak suka baku hantam, selain tidak berguna pasti juga akan membuat tubuhku memar. Eh? tapi adakah maling yang sesopan itu? memencet bel sebelum mencuri? Itu pasti tetangga bukan maling. Kurasa mereka cukup panik mendengar sedikit keributan di sini. Aku sedikit berlari saat mendengar orang itu mengetuk pintu lagi. Ada fasilitas intercom disini, kulihat siapa yang datang. Aku menahan napas. OH GOD! Itu polisi! Aku berdehem sebentar dan segera membuka pintunya. Polisi yang berjumlah 3 orang itu hormat padaku dan yang ditengah, Ku rasa pemimpinnya menyalamiku.
“Ada apa, ya?”
“Kami dari 911, seorang gadis melapor terjadi ledakan di apartment ini.” Aku mendesis, Cho Eun Ri mati kau ditanganku.
“Tadi hanya masalah kecil, sudah teratasi. Kami lupa mematikan microwive dan tiba-tiba meledak. Tetapi sudah tidak ada apa-apa.” Sebenarnya itu hanya analisaku saat melihat keadaan dapur, tidak sepenuhnya jujur.
“Benar sudah tidak apa-apa?” Polisi itu memandangku curiga, sial! Apa ekspresiku belum meyakinkan?
“Sungguh tidak ada apa-apa. Maaf kalau kami merepotkan, dan menyalah gunakan layanan 911.”
“Baiklah tidak masalah, kalau ada yang diperlukan bisa menghubungi kami lagi. Maaf mengganggu malam anda, kami permisi.” Mereka hormat dan berlalu. Baik sekali sih mereka, kalau aku jadi mereka aku pasti sudah menggunduli rambut bocah itu. Cho Eun Ri berhenti membuatku kerepotan! Lihat saja akan kumarahi habis-habisan. Aku menghela napas, mengambil air kompres dan obat di kotak P3K. Aku sudah memasang raut semarah mungkin, tapi sirna begitu saja saat aku membuka pintu dan melihat Eun Ri meniupi lukanya sambil meringis. Ayolah Kim Myung soo, ini bukan saatnya untuk bertengkar.
“Sini berikan padaku.” Aku berjongkok dihadapannya dan mengompres tangannya. Ini pasti sakit sekali.
“Kau memanggil 911?”
“Maaf, aku reflek melakukannya saat mendengar ledakan. Hanya itu yang pertama terpikirkan,” Aku berdecak sebal, kenapa bukan aku yang pertama di ingatnya?
“Lalu kenapa microwive itu bisa meledak?”
“Aku tidak tahu, aku hanya memasukkan jjajangmyeon yang baru saja kupesan. Lalu aku membersihkan rumah dan memanaskan minyak.”
“Kau memasukkan jjajangmyeon ke dalam microwive dengan mangkok dan bungkus plastiknya?” Dia mengangguk dan meringis. Benar kan analisaku, yang meledak itu microwive tetapi bukan karena ditinggal terlalu lama, microwive itu meledak karna dimasukkan mangkok jjangjangmyeon dengan PLASTIKNYA. Tentu saja meledak, DASAR BODOH! Ingin sekali aku berteriak seperti itu walaupun hanya berakhir dipangkal tenggorokan saja.
“Mianhae.” Aku meliriknya dan tersenyum, kembali fokus pada lukanya.
“Untuk apa?”
“Karena selalu saja merepotkanmu.” Aku tertawa dalam hati, bukankah setiap hari kau merepotkanku bocah tercinta? Aku tidak menanggapinya, hanya terus fokus dengan perban tangannya. Dia hanya terdiam, hening beberapa saat, tiba-tiba aku merasakan ada cairan hangat menetes di punggung tanganku saat ikatan terakhir perbannya selesai. Aku mendongak, oh astaga! Dia menangis.
“Sudah tidak usah dipikirkan.”
“Tapi aku sudah terlalu banyak merepotkanmu.” Dia berkata di sela-sela isakannya, sungguh aku tidak tega. Aku berdiri dan duduk disampingnya, matanya mengikuti gerakanku. Aku merangkul bahunya.
“Tapi aku suka di repotkan.” Dia tersenyum, begitukan lebih manis. Tangannya menyeka air matanya.
“Sekarang kau istirahat saja dulu, aku akan membersihkan kekacauan ini.”
“Tidak usah biar aku saja,”
“Tanganmu terluka, istirahat saja oke . . . dan jangan membantah.” Aku meralat kata-kataku saat melihatnya hendak menyela.
Dia berbaring di ranjangnya, aku tersenyum sekilas. Keluar kamar dan memandang keadaan apartmen ini, KACAU BALAU. Baiklah Kim Myung Soo ‘olahraga’ malam sepertinya tidak apa-apa.
***
Dapur chek
Ruang tamu chek
Buang Sampah chek
Itu berarti aku baru saja menjadi ‘Oppa rumah tangga’. Membereskan semua yang sudah dikacaukan Eun Ri. Setelah minum sebotol air dingin aku langsung menggelepar diatas sofa, kakiku kubiarkan menjuntai disisi sofa lainnya. Napasku yang tadinya putus-putus kini sudah mulai normal, demi apapun selama aku sendiri aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah apalagi sekacau ini. Aku tidak habis pikir, bagaimana bocah tercinta itu bisa bertahan hidup beberapa hari ini kalau sehari saja bisa menghancurkan satu apartment dan jangan lupakan tiga polisi yang baru saja datang.
Aku pikir aku memang sudah seharusnya membujuk bocah tercinta itu untuk kembali kerumah orang tuanya, bagaimanapun juga aku tidak akan tenang membiarkannya tinggal sendirian setelah apa yang baru saja bocah tercinta itu lakukan. Sampai sekarang aku belum tahu apa motifnya ingin tinggal sendiri.
Aaah aku baru mengingat sesuatu, ku taruh dimana ya ponselku tadi? Ini dia ternyata di saku belakang. Masih ada beberapa sms Eun Ri yang belum sempat aku baca saking paniknya. Sms pertama, ‘Oppa kenapa vacuum cleanernya mendesis?’ aku menggeleng maklum, bukankah kalau sudah dinyalakan memang seperti itu ==
Sms kedua ‘Oppa vacuum cleanernya mengeluarkan debu.’ Aku tahu penyebabnya, bocah tercinta, kau menyumbat lubangnya.
Sms ketiga, ‘Minyak dalam wajannya kenapa langsung kering dan panas mengeluarkan asap?’ Itu karna kau menyalakan apinya terlalu besar.
Selanjutnya, ‘Kenapa tidak membalas pesanku? Apa oppa tidak mencintaiku lagi? Baiklah aku akan cari yang baru dan lebih tampan darimu.’ Kali ini aku sudah tidak bisa menahan tawaku, oh ya ampun perutku sakit. Ini yang kau bilang bisa hidup sendiri tempo hari, bocah tercinta?
Masih ada,’Oppa sesuatu meledak. Relakan aku seandainya aku pergi.’ Ini pesan yang membuatku hampir kehilangan jantungku, dia pikir apa yang baru saja dia katakan? Oh, ya aku masih ingat. Pasti dia menelepon 911 sebelum mengirim pesan ini padaku. Untuk saja aku sampai lebih dulu sebelum polisi-polisi itu datang. Sekarang aku sedikit menyesal sudah seperti orang gila mengkhawatirkannya, harusnya aku ingat Eun Ri itu tipe orang yang tingkat berlebihannya patut untuk diawasi, hiperbola dan yah overload. Bagaimana aku bisa melupakan yang satu ini?
Kenapa sepi sekali? Apa dia benar-benar tidur? Sepertinya ada yang harus kulakukan. Lebih baik aku memasak saja, sepertinya dia belum makan. Begitu aku bangun, punggungku rasanya ngilu. Astaga penyakit asam urat jangan-jangan? Ck, aku masih terlalu muda untuk menderita penyakit itu.
Tidak ada bahan makanan di kulkas sudah hangus tadi. Aku membuat ramen saja, walaupun tidak sehat yang penting bisa mengganjal perut. Apalagi ini sudah tengah hari.
Sementara aku merebus airnya aku pergi ke kamar Eun Ri. Wajah tidurnya tampak lelah, bocah ini memang tidak seharusnya tinggal sendiri. Tanganku reflek mengelus rambutnya dan menyelipkan di belakang daun telinganya. Wajah kekanakan dengan pipi super bulatnya membuatku terkekeh. Eun Ri-ya, feromon macam apa yang kau miliki sampai aku susah sekali berpaling darimu? Bocah merepotkan, cerewet dan super berisik ini entah sejak kapan dengan tidak tahu dirinya mengambil hatiku. Aku hampir gila kalau kau ingin tahu saat aku menyadari aku mencintai gadis dibawah umur. Tapi Tuhan yang maha segalanya itu mengijinkan aku untuk menjadi pelengkapmu. Mulai saat kita bersama aku sudah tidak peduli bahwa kau masih tergolong anak-anak. Yang terpenting aku selalu menyadari tulang rusukku yang hilang kini terbujur pada dirimu.
Kutusuk pipi bulatnya dengan jari telunjukku, aku harus cepat membangunkannya sebelum air itu mendidih.
“Eun Ri-ya bangun. Cuci mukamu dan pergi ke ruang makan. Aku sedang membuat ramen.”
Kutarik-tarik sampai melar kedua pipinya sambil terus berujar, “Ireona.”
Eun Ri menggeliat dan mengedipkan matanya, aigoo! Imut sekali. Aku meninggalkannya saat dia pergi ke kamar mandi. Tanganku mengaduk ramen dalam panci dengan telaten, bau harum menguar bersamaan dengan asap yang mengepul. Ini pasti enak sekali, karna aku juga tinggal sendiri aku cukup ahli dalam hal memasak.
“Oppa, biar aku saja.” Aku menoleh saat mendengar suaranya, dia cepat sekali sudah ada di sampingku. Rambutnya dia kuncir asal dan piyamanya sedikit kebesar, tangannya sampai tidak kelihatan kkkk~. Aku tersenyum.
“Kau masih terluka, duduk saja.”
“Ini hanya luka kecil, tidak masalah. Biar aku saja.”
“Luka kecil apa? sudah duduk sana, Tuan Putri.”
“Kenapa kau egois sekali? Aku tidak mau terus-terusan bergantung padamu.” Aigoo, bocah ini. Apanya yang bergantung dan egois? Aku hanya menyuruhnya duduk, dan kenapa dia sampai terisak? Eh apa? Terisak? Aku langsung menoleh padanya dan melihatnya menangis sambil menggigit bibir. Ya Tuhan demi apapun aku benci melihatnya menangis. Langsung kumatikan kompornya dan menoleh padanya.
“Kenapa malah menangis?”
“Aku selalu bergantung padamu, ini membuatku seperti . . . seperti benalu.” Dia berkata disela isakannya Kenapa dia berkata seperti itu? Sepertinya ada yang dia sembunyikan dariku.
“Sudahlah berhenti menangis, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan? Akhir-akhir ini aku melihatmu sedikit berbeda.” Aku menghapus air matanya yang entah kenapa terus saja turun.
Aku menariknya dan mendudukkannya di meja makan. Sedikit aneh saat dia hanya diam dan menurut, tidak seperti biasanya. Segera kutuang ramen pada mangkok dan menaruhnya di meja. Eun Ri memandang datar dan mengambil sumpit. Sedangkan aku? Nafsu makanku langsung hilang melihatnya seperti itu. Jujur aku khawatir, tidak biasanya dia menjadi diam seperti ini. Eun Ri memakan ramennya terlalu cepat, aku masih mendengar sedikit isakannya. Lengan bajunya basah karena dari tadi dia gunakan untuk mengusap air mata yang entah kenapa tidak berhenti mengalir.
Ku hela napasku kesal, aku benci keadaan seperti ini. Ramen juga tak kusentuh, melihat saja membuatku bernafsu untuk membantingnya. Dengan sengaja mangkok ramen itu ku singkirkan, menimbulkan bunyi gesekan dasar mangkok dengan meja yang cukup nyaring dalam ruangan ini. Bunyi itu berhasil membuatnya menoleh padaku, tapi hanya sebentar setelah itu dia kembali memakan ramennya.
“Kalau kau ada masalah, ceritakan padaku. Diam tidak membuat masalah selesai. Kalau memang masalah itu membawa namaku, setidaknya biarkan aku untuk menyelesaikannya juga.”
“Aku sudah selesai, kalau Oppa sudah letakkan saja piringnya di dapur aku akan mencucinya. Oppa juga bisa pulang.” Aku mengernyit tidak suka, aku marah tentu saja. Dia merubah arah pembicaraan. Eun Ri berdiri dari duduknya dengan membawa mangkok. Dengan kasar aku berdiri dan mengambil mangkoknya. Dia tersentak kaget, kelihatan dari raut wajahnya yang menegang.
“Sebenarnya apa masalahmu?”
“Tidak ada.” Menghindar lagi, entahlah aku sedang berusaha menekan emosiku sekarang. Kakiku berlalu begitu saja, meninggalkannya yang masih berdiri terdiam. Mataku tidak fokus saat menyalakan kran dan mencuci piringnya, entah kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang mengikat dadaku kuat-kuat membuatku terengah.
“Bukankah sudah kubilang, biar aku yang cuci dan Oppa bisa pulang.” Aku tidak peduli.
“Tidak bisakah kau mendukungku? Kenapa membuat ini bertambah susah?” Sudah ku bilang aku tidak peduli dan aku tidak mengerti.
“Kurasa memang sudah tidak ada kecocokan lagi diantara kita.” Pegangan tanganku mengerat pada spon, “Kalau ini berakhir . . .”
“Diam!”
“Aku sudah memikirkan ini sejak jauh-jauh hari.”
“Ku bilang diam!” Nada suaraku naik satu oktaf, aku tidak peduli. Bocah, kenapa kau keras kepala sekali? Perhatikan baik-baik, ada sesuatu yang berdarah saat kau mengatakan itu.
“Sejak kau pindah kau berubah, Eun Ri.” Aku meliriknya sebentar, posisiku sekarang memang membelakangi dirinya. “Ada yang salah disini, karena kau tidak berniat bercerita padaku aku ingin menyarankan sesuatu padamu. Pulang kembali kerumah orang tuamu.” Aku berjalan melewatinya yang masih berdiri di tempat yang sama. Mengambil mangkok ramenku, membuangnya dan mencuci kembali.
“Ku mohon dukung aku, jangan malah memojokkanku.” Aku benar-benar tidak mengerti, sengaja aku melambatkan cuci piringnya.
“Dukung apa maksudmu?”
“Aku ingin mandiri, tidak ingin kekanakan lagi. Mencoba tinggal sendiri dan perlahan pasti aku bisa menjadi gadis dewasa.” Sekali ini aku tertegun, aku mendengus sinis.
“Mandiri? Kau tahu apa yang terjadi pada dirimu setelah hampir satu minggu tinggal sendiri?” Tanganku meraih panci. “Kau bertambah aneh, bukan dewasa seperti yang kau pikirkan. Bahkan pikiranmu untuk berlari menuju dewasa saja sangat kekanakan. Kau pikir dengan tinggal sendiri kau akan dewasa dengan sendirinya? Tentu saja tidak. Ayolah kembali saja kerumah orang tuamu, sifat kekanakanmu akan hilang dengan bimbingan orang tuamu. Pikiranmu terlalu konyol. Dan aku bertanya sekarang, siapa yang memprovokasi dirimu untuk tinggal sendiri? Keputusan yang salah asal kau tahu.” Suara gesekan panci dengan alat spon serta gemericik air mengiringi kediaman kami. Aku tidak mendengar apapun untuk beberapa saat, beberapa detik kemudian hanya terdengar suara tapak kaki dan pintu terbuka kemudian tertutup kembali. Helaan napas kukeluarkan bersamaan dengan spon yang kulempar sembarangan. Tanganku menggenggam tepi sink, kepalaku menunduk perlahan. Keputusan yang salah terlalu berterus terang seperi itu. Aku tau dia pribadi yang sensitif, selalu memasukkan perkataan orang lain kedalam hatinya. Aku terlalu kalut saat mendengar kata menjurus pada putusnya hubungan kami. Aku benci saat-saat seperti itu. Kalau dia menyadari aku sudah terlanjur terikat seperti manusia serigala dengan matenya, aku sudah berusaha terlalu keras untuk mempertahankan hubungan ini. Kalau aku bisa pasti aku sudah mengikatnya dalam satu ikatan pernikahan. Tetapi tidak, aku masih menghargai masa depannya. Saat menjalin hubungan ketakutan terbesar adalah berakhir. Itu yang selalu membayangiku dan menerorku.
Kakiku berjalan perlahan menuju ruang tamu. Terduduk diam dan tergugu, secara acak tanganku mengusap rambut yang semakin berantakan saja. Sebenarnya apa yang dia masalahkan disini, mengatakan saja tidak bagaimana aku bisa mengimbanginya?
Tentang perbedaan usia aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Sikap? Aku memaklumi sikapnya yang kekanakan karena mungkin usia juga masih dalam masa kekanakan. Lalu apalagi? Dia berusaha untuk menjadi dewasa dengan pindah apartment? Sama sekali tidak berpengaruh, sikapnya justru terasa aneh. Bukan seperti bocah tercintaku yang dulu. Sunyi sekali, saking sunyinya aku bisa mendengar detak jarum jam. Ekor mataku melirik jam itu dan reflek terbelalak. Dini hari jam 3, di luar pasti dingin sekali. Apa sih yang bocah tercinta itu pikirkan? Aku segera beranjak dan mengambil mantel. Pergi meninggalkan apartmentnya, berharap Eun Ri masih berada dalam lingkup daerah ini. Di Seoul memang tingkat keamanannya terjamin tetapi tidak mengurangi resiko kejahatan juga. Karena pada dasarnya kejahatan tidak peduli tempat. Bisakah kau berhenti membuatku khawatir dan kerepotan, bocah tercinta?
Laju mobilku melambat saat melihat seorang gadis meringkuk di pojok halte bis, gadis itu menekuk lututnya dan memeluk menggunakan lengannya. Tanpa harus memiliki mata elang aku tahu siapa gadis itu. Dasar bodoh, kenapa memilih tempat sesepi ini untuk kabur? Bagaimana kalau ada seseorang mengganggumu? Aku keluar mobil dan meraih mantel di bangku penumpang, berjalan perlahan kearahnya yang masih tidak menyadari kedatanganku.
Saat aku melilitkan mantel disekeliling tubuhnya dia tampak terkejut dan reflek melepaskan pelukan pada kakinya. Kepalanya mendongak perlahan, kedua manik matanya bertabrakan denganku. Mata itu sembab, menangis lagi? Bodoh, kau sudah membuatku merasa bersalah.
“Siapa kau?”
Cih, siapa kau? Kau ingin membuatku tertawa Cho Eun Ri? Pertanyaan bodoh macam apa itu?
“Sudah selesai menangisnya?”
“Kau masih peduli padaku?” Bodoh, dasar bodoh. Apa aku juga harus menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’? Pertanyaanmu itu sama bodohnya saat kau menjawab garam apabila ditanya makanan apa yang paling manis di dunia ini. Kau, bisakah mengerti sedikit saja bagaimana menjadi aku? Bodoh.
“Apa yang membuatmu berkata dan memutuskan hal paling ku benci?”
“Keadaan.” Alisku naik satu tingkat.
“Maksudmu?”
“Kau tidak tahu bagaimana kerasnya aku berusaha untuk menjadi lebih dewasa. Dengan gampangnya kau berteriak –“
“Tunggu, tetapi aku tidak berteriak.”
“Jangan memutus perkataanku! Kau dengan seenaknya mengatakan aku kekanakan, menyuruh pulang ke rumah. Mana pedulimu padaku?”
“Astaga, justru karena itu aku peduli padamu. Kau pikir kenapa aku langsung datang tengah malam seperti ini kalau tidak peduli padamu. Dan lagi, aku menyuruhmu pulang karena aku terlalu khawatir.”
“Kau tidak pernah mendukungku. Kau tidak tahu aku sudah terlalu banyak mengorbankan sesuatu untukmu.”
“Dari tadi kau selalu berbicara mendukung-mendukung. Mendukung apa? Bagaimana aku mendukungmu kalau aku saja tidak tahu apa yang harus ku dukung?”
“Kita terlalu berbeda, Oppa. Kurasa memang seharusnya kita tidak bersama.” Tanganku mengepal di dalam saku mantelku. Berbeda? Apa kau tidak tahu pelangi saja butuh tujuh warna hanya untuk membentuk satu lengkungan. Kenapa kau menyerah hanya karena perbedaan? Kita hanya satu ikatan, kau pikir tanpa perbedaan ikatan kita akan indah? Sama seperti pelangi, kau pikir pelangi akan memukau dengan satu warna tanpa perbedaan? Ayolah pertahankan ikatan kita.
“Lalu?”
“Kau carilah yang lebih baik.”
“Baiklah. Aku akan mencari yang lebih baik, yang mau menceritakan apa masalahnya, yang mau bertanya padaku apa aku baik-baik saja, dan yang mau mendengarkan bagaimana pendapatku.”
“Apa aku seburuk itu?”
“Aku tidak bilang itu kau.”
“Tapi aku tersinggung.”
“Sekarang katakan padaku apa yang membuatmu seperti ini. Sebelum aku benar-benar pergi . . . kurasa.”
“Semudah itu? Aku hanya ingin mengimbangi dirimu. Mensejajarkan agar tidak terlampau jauh. Tetapi kau terlalu tinggi untuk kuraih.”
Aku berdecih malas, “Kau memang orang pertama dalam hal salah paham. Kapan aku memintamu untuk mengimbangiku?”
“Walaupun kau tidak meminta tetapi aku cukup tahu diri untuk berhak berada di sisimu.”
“Jadi selama ini kau menganggap kau tidak berhak di sisiku?”
Baiklah dia hanya bisa terdiam, aku tahu Cho Eun Ri hatimu tertuju padaku. Jadi untuk apa mengelak lagi?
“Eun Ri-ya, apa kau tahu maksud dewasa itu apa? Apa kau sudah memahami kaidah ‘dewasa’ yang sebenarnya itu seperti apa?” Ku lihat kepalanya mendongak, menatapku yang memang berdiri didepannya. Tidak bisa menjawab?
“Kau tau mangga? Apa dia akan langsung matang begitu lepas dari bunganya? Tidak, mangga masih perlu proses untuk menuju matang dan yang paling penting dia tetap bergantung pada dahannya, pada sesuatu yang akan merawatnya.
“Apa kau tahu? . . . Tidak? saat belum waktunya matang mangga itu di petik dan di pisahkan dari batangnya kemudian mangga itu secara paksa dimatangkan. Hasilnya memang cepat, tapi apa manis? Apa bertahan lama? Mangga itu akan busuk.” Bola mata bulat itu mengembun, aku tau ini mungkin kejam. Tetapi kalau tidak seperti ini dia tidak akan mengerti.
Tanganku menggapai kedua pipi bulatnya.”Kaupun juga begitu, menuju proses dewasa memerlukan waktu dan yang paling penting peran orang tua itu sangat kau perlukan.”
“Aku salah lagi?” Suaranya bergetar, dan aku menggeleng.
“Tidak, hanya saja pikiranmu masih terlalu kekanakan dalam mengambil keputusan. Kau bisa mengimbangiku dengan melengkapi sikapku, kau mempunyai sesuatu yang tidak ku punya.”
“Maafkan aku.” Dia menangis, dengan perlahan aku meraih bahunya dan memeluknya. Kau harus tahu bocah tercinta, kalaupun aku memang mempermasalahkan hal sesepele itu aku akan mencoba berbicara padamu. Bukan seperti ini, pindah rumah, menjaga jarak denganku, dan membuatku kalang kabut karena mengkhawatirkanmu.
“Sebenarnya aku hanya tidak ingin membuatmu malu dengan sikapku yang berlebihan. Kau tahu sendiri bagaimana dirimu di cintai oleh banyak orang. Aku hanya ingin membuktikan kalau aku pantas.” Tanganku mengerat pada sekeliling tubuhnya saat mendengarnya berbisik disela isakan.
“Eun Ri-ya, dalam sebuah hubungan kita dimasukkan dalam satu lingkaran yang sama. Itu artinya saat kita merasa ada sebuah garis yang sedikit memudar, salah satu yang tahu harus memberitahu yang lain untuk menebalkannya bersama. Itulah konsep pasangan.”
“Aku hanya memikirkan semuanya dari sisiku tanpa mau melihat sisimu juga. Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa, mulai sekarang kalau ada masalah sekecil apapun itu kita bicarakan bersama. Arrachi?” Aku memang harus membimbingmu juga, ‘kan? Pembicaraan dua arah akan membuat kesalahpahaman memudar. Eun Ri-ya mari berjuang bersama.
“Nde, Oppa kau tidak akan mencari yang lain, ‘kan?
“Tidak, kalau ada yang sama persis sepertimu mungkin aku mau.” Aku merasakan tubuhku ditarik dan aku terkekeh. lingkaran lengan di pinggangku mengerat. Bocah tercinta, aku tahu kau tidak akan lepas dariku.
“Sayangnya memang tidak ada orang sepertimu di dunia ini.”-aku meraih wajahnya dan membersihkan air mata pada pipi bulat Eun Ri-“Kajja kita pulang, bereskan barangmu dan besok kita pulang kerumah orang tuamu.”
“Baiklah, malam ini aku akan berjanji akan mengikat hatiku dengan hatimu.”-aku tertawa-“tapi gendong aku sampai apartment.”
“Oh, Astaga -_- “
***
Malam itu pekat, ya? Tetapi tidak hitam, hanya gelap.. Hubungan kami juga begitu seharusnya, hanya berbeda bukan aneh. Kepala itu menempel penuh pada bahuku, aku menoleh. Oh, aigoo aku malu, wajahku panas sekali. Bocah tercintaku aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, “Air mengalirpun pasti ada cabang yang memisahkan satu alur menjadi dua, ‘kan? Jangan khawatir aku akan menunggu di tempat penyatuan dua cabang itu. Saranghae”
The End
ini special buat dedew si bocah bandeel.. dew utangkuuuuu lunaaaaaaaaass.. puas wkwkwkwkwk
ane tau ini ga jelas juntrung masalahnya, tapi jangan dihina yee wkwkwkwk thank kyu~ typonya dikoreksi juseyoo.

2 thoughts on “Overload | OneShot

  1. Kata2nyaaaaa
    beuH! Aje giLe…
    Brmakna bangeut..!
    #thu loh,kta2 yg d’pke nasehat ama myungsoo
    pke jga ah~wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s