GONE NOT AROUND ANY LONGER (Squel-See You In Heaven!)

 

Gonenotaround

GONE NOT AROUND ANY LONGER (Squel-See You In Heaven!)

AUTHOR : JinHae aka @me_cahyaa

 

LENGHT : One Shoot/ SEQUEL See You In Heaven!

 

GENRE : LOVE, SAD, ROMANCE, ANGST (Oh, Maybeee)

 

CAST : CHO KYUHYUN (SJ), CHOI GYURI (OC), LEE HYUK JAE (SJ).

 

RATE : PG-16

 

THANKS TO : Owner KPDK and All Readers.

 

DISCLAIMER : Holaaaaa, author datang membawa lanjutan Sequel LAGI nih😀. Oh,ya kali ini author engga yakin judulnya nyambung atau engga sama ceritanya. Eh, tapi yang penting itu ceritanya kan? Haha so, sorry sorry to say kalo judul sama ceritanya kaga nyambung. Soalnya bingung mau kasih judul apaan :p. Dan juga, pasangan kopel JinHae Cuma numpang nama  doang yak disini kekekek~ soalnya kan udah tewas kemaren😀 masa setan ikutan main, kan ga lucu jadinya . Hohoho Lets Read! NO COPAS!!!!

 

 

 

-Kau benar-benar telah hilang dari hidupku, separuh nafasku hilang bersamaan dengan raganya yang sudah jauh dan tak dapat ku gapai lagi. Satu permintaanku, Tuhan kumohon jaga dia disana-

Langit menghitam, suara gemuruh terdengar menakutkan. Kilatan-kilatan yang bisa saja menyambar itu terlihat saling menyahut dilangit itu. Tetes demi tetes air hujan mulai jatuh menuruni bumi. Suasana hari ini rasanya begitu kelam, begitu pula dengan hati seorang namja tampan yang begitu kelam hari ini. Seluruh kekuatannya luruh begitu saja, tubuhnya melorot tersungkur lemah didepan kedua gundukan tanah merah yang masih basah. Sudah lima hari ini, namja itu terus melakukan aktifitas konyol itu setiap harinya semenjak kepergian gadis yang dicintainya Park Hyejin yang mungkin sudah teramat tenang dialam baka.

 

Matanya memerah, airmata terlihat menggenangi sudut mata sipitnya. Ditatapnya bergantian kedua nisan putih dihadapannya. Yang satu tertera jelas nama Park Hyejin, dan satunya lagi Lee Donghae. Namja yang bernama lengkap Cho Kyuhyun itu tiba-tiba mencengkram erat kepalanya saat bayang-bayang kejadian beberapa hari lalu yang sungguh membuatnya gila itu hadir lagi dipikirannya.

 

“Mianheyo, jeongmal. Mianheyo! Donghae ssi, Hyejin ah. Mianhae!!” airmatanya jatuh bersamaan dengan tetesan air hujan yang mulai membesar diarea pemakaman ini. Tapi rasanya Kyuhyun masih enggan pergi dari tempat itu.

 

“Bangunlah, aku mohon! Arggggh! Aku mohon! Tuhaaaaaaaan” dadanya bergetar naik turun, menahan semua gejolak yang ada dihatinya. Kyuhyun menyesal teramat sangat. Jika saja namja itu tidak egois, mungkin Hyejin kini tengah tersenyum bahagia dihadapannya. Meski tidak tersenyum untuknya.

 

Air hujan semakin banyak turun, semakin deras. Kyuhyun melipat kedua kakinya, memeluknya, menenggelamkan kepalanya diantara kedua kaki jenjangnya itu. Menyembunyikan bibirnya yang mulai membiru karna kedinginan. Saat ini namja itu benar-benar tak memperhatikan kesehatannya. Dia selalu mengabaikannya, bahkan dia lupa kapan terakhir makanan itu mampir dikerongkongannya.

Tiba-tiba sebuah payung berwarna biru tua terlihat melindunginya dari guyuran air hujan, meski rasanya sudah terlambat karna tubuhnya sudah basah kuyup saat ini.

 

“Baboya. Ireona” suara lembut itu terdengar ditelinganya, Kyuhyun mengangkat kepalanya yang sudah semakin berat. Ditatapnya gadis cantik yang sedang membagi payungnya itu untuk dirinya. Detik selanjutnya, Kyuhyun tersungkur jatuh. Tubuhnya melemah, namja itu pingsan.

 

“Ya! Kyuhyun oppa! Ireona, ireona” Gyuri menempelkan gagang payung itu pudaknya dan menjepitnya. Dengan segera gadis itu meraih ponsel disaku mantelnya.

 

“Oppa, cepatlah kemari”

 

“…”

 

“Pemakaman, seperti biasa” Pip! Gadis itu memasukkan lagi ponselnya ketempat semula, lalu memayungi lagi tubuh Kyuhyun yang terlihat sedang tertidur diatas gundukan Hyejin. Gyuri tak dapat menahan lagi tangisannya, seraya berkata.

 

“Hyejin ah, kau begitu beruntung. Dua orang pria tampan ini, begitu mencintaimu” ditatapnya nisan mantan kekasihnya (Donghae) itu sesaat, lalu kembali menatap wajah Kyuhyun yang kini sudah berada dipangkuannya. Ditatapnya lekat-lekat, wajah itu terlihat penuh beban dan sangat pucat.

 

 

-Aku bahkan tidak bisa tinggal karena kau tidak denganku, perlahan-lahan aku sekarat tapi kau tidak ada di sini-

Gyuri menyenderkan tubuhnya pada tembok bercat putih yang tepat berada disamping pintu Kyuhyun, matanya mengatup, nafasnya terdengar begitu berat. Hingga terdengar suara pintu yang terbuka dari dalam, Gyuri membuka matanya, menoleh kesamping dan mendapati seorang pria yang tadi ditelponnya, dan juga yang membantunya membawa Kyuhyun kembali kerumahnya, dia Lee Hyuk Jae keluar dari kamar Kyuhyun sembari membawa baju-baju Kyuhyun yang sudah sangat basah.

 

“Gyuri ah, aku sudah mengganti bajunya. Eum, Apa kau sudah menelpon dokter?” Hyuk jae menatap gadis yang terlihat teramat khawatir itu.

 

“Sudah oppa, mungkin sebentar lagi datang” Hyuk Jae mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Gyuri. Namja itu terus berjalan menuju ruang khusus mencuci baju yang ada dirumah mewah Kyuhyun ini, meletakkan semua pakaian Kyuhyun kedalam mesin cuci dan meninggalkannya tanpa berniat untuk mencucinya sedikitpun.

 

Hyuk Jae membelokkan langkahnya menuju pantry. Sesampainya disana, langkah namja itu terhenti. Kepala bergerak kekiri dan kekanan menyaksikan puluhan botol soju berserakan dilantai dan juga dimeja makan. Bahkan tak sedikit diantara puluhan botol itu yang sudah hancur berkeping. Hyuk Jae menghela nafasnya berat.

 

“Bocah ini, benar-benar menjengkelkan!” tangan namja itu terulur merogoh ponselnya, setelah itu jari-jemarinya bergerak bebas dilayar datar ponsel pintarnya itu. Rupanya, Hyuk Jae menghubungi biro pembersih rumah panggilan. Namja ini benar-benar namja yang tak mau repot.

 

Sementara itu, Gyuri tengah berdiri dipinggir ranjang Kyuhyun yang masih terlelap. Bahkan saat dokter itu memeriksa tubuhnya.

 

“Nona, tuan Cho terserang demam ringan dan juga dia terlihat terlalu shock. Apa dia mengalami suatu tekanan akhir-akhir ini?” dokter dengan jubah putihnya itu, berbicara sembari menggerakkan pulpennya diatas sebuah kertas kecil. Menuliskan sebuah resep obat untuk Kyuhyun.

 

“Uh, ye dokter. Dia baru saja ditinggal pergi kekasihnya, mungkin dia masih belum bisa menerimanya” jawab Gyuri seraya menarik ujung selimut dan kembali membalut tubuh Kyuhyun dengan selimut coklat miliknya. Mata gadis itu sedari tadi tak lepas-lepasnya menatap iba wajah Kyuhyun yang masih terlelap.

 

“Aigoo, aku turut berduka cita. Em, nona. Ini resep obat untuk tuan Cho, kau bisa menebusnya di apotek terdekat” selembar kertas putih itu kini sudah terisi dengan guratan-guratan tinta hitam milik dokter Kim, kertas itu sudah berada ditangan Gyuri saat ini. Gadis itu sedikit membungkukkan badannya saat dokter Kim tersenyum padanya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kyuhyun.

 

“Khamsahamnida Dokter Kim” ujar Gyuri sesaat sebelum dokter Kim benar-benar menghilang dipintu berwarna cokelat gelap itu.

 

Gadis itu kembali mendudukkan tubuhnya disisi tempat tidur Kyuhyun, memandangi betapa sempurnanya ciptaan tuhan ini. Jari-jemari Gyuri terulur menelusuri setiap lekuk wajah Kyuhyun, mulai dari keningnya, alis tebalnya, kedua kelopak matanya yang masih tertutup rapat, hidung mancungnya, dan kedua pipinya. Gadis itu menghentikan aktifitasnya sesaat ketika jemarinya menyentuh pipi Kyuhyun yang terlihat lebih tirus dari biasanya.

 

“Sudah berapa hari kau tak makan heum?” gadis itu mendengus sedikit kesal, lalu tiba-tiba terdengar suara knop pintu yang berputar dari luar.

 

“Gyuri ah, apa dokter memberi resep obatnya?” Hyuk Jae terdiam diambang pintu, memanggil gadis yang tengah sibuk memandangi wajah Kyuhyun sejak tadi.

 

“Ne, oppa. Ige” Gyuri terpaksa harus bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan mendekati Hyuk Jae, menyerahkan selembar kertas yang sejak tadi digenggamnya pada namja itu.

 

“Baiklah, aku pergi menebusnya dulu. Kau jaga baik-baik dia” dua sudut bibir gadis itu terangkat membentuk sebuah senyuman menambah kecantikan dirinya. Hyuk Jae membalas senyuman Gyuri dan berjalan pergi menuju apotek terdekat.

 

***

 

-Disaat kau tak ada, dan kau tak disini. Entah mengapa aku selalu terbayang dirimu, hanya dirimu-

Aroma bubur nasi begitu menyeruak diruangan ini. Gyuri, gadis itu baru saja selesai membuatkan bubur untuk namja yang sangat ia cintai itu. Terlihat, asap yang masih mengepul diatas mangkuk putih ditangannya. Gyuri meletakkan bubur itu dinakas samping tempat tidur Kyuhyun, dan kembali duduk disisi ranjang Kyuhyun.

 

Tangan gadis itu merayap menuju telapak tangan Kyuhyun yang masih terhempas lemah disisi tubuhnya, matanya tak kunjung terbuka sejak tadi. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu saat ini, tapi yang jelas tiba-tiba saja Gyuri mencondongkan tubuhnya. Membiarkan wajahnya berada tepat diatas wajah Kyuhyun, matanya terus menelusuk setiap lekukan wajah Kyuhyun. Perlahan, mata gadis itu ikut tertutup seraya dengan mendaratnya bibir merah cherry miliknya itu diatas bibir tebal Kyuhyun.

 

“Eungghh..” Kyuhyun menggeliat, dengan cepat Gyuri menarik bibirnya dan berusaha bangkit kembali. Belum sempat tubuhnya duduk normal, tiba-tiba saja tangan Kyuhyun menarik pinggangnya dan membuat Gyuri kembali terjatuh dan kini menimpa dada bidang namja itu.

 

“Omo..” Gyuri menggigit bibir bawahnya sendiri, kepalanya terangkat menatap sejenak mata Kyuhyun yang ternyata masih tertutup rapat. Ternyata, dia belum bangun Gyuri menggumam, sembari kembali mengangkat tubuhnya. Tapi tiba-tiba lagi tangan kekar Kyuhyun memeluk tubuhnya.

 

“Sebentar saja, kumohon… Hyejin ah” Gadis itu terdiam, merebahkan kepalanya. Dia tersenyum saat Kyuhyun memintanya untuk tetap dipelukannya, tapi hatinya menjerit saat kalimat terakhir yang didengarnya adalah Kyuhyun menyebut nama Hyejin bukan Gyuri namanya. Airmatanya menetes tak tertahan, tapi dengan cepat gadis itu menghapusnya.

 

“Oppa..” panggil Gyuri dengan bibir yang bergetar, sambil berusaha terlepas dari pelukan Kyuhyun. Namja itu masih enggan membuka matanya sedari tadi.

 

“Hyejin ah, jebal. Sebentar lagi” namja itu semakin mengeratkan pelukannya dipinggang ramping milik Gyuri.

 

“Bukalah matamu, aku bukan Hyejin” airmata kembali terlihat disudut mata Gyuri, gadis itu benar-benar sedih saat Kyuhyun terus menganggapnya Hyejin. Kyuhyun menggeliatkan tubuhnya, matanya mulai terbuka. Namja itu mengerjabkan kelopak matanya berkali-kali berusaha menerima tusukan sinar lampu yang masuk langsung keretina matanya.

 

“Oppa” Kyuhyun menundukkan kepalanya, menatap wajah teduh yang tengah tersandar didadanya. Mulutnya sedikit terbuka, dengan sedikit tarikan pelukan tangannya terlepas. Dengan cepat, Gyuri bangkit dari posisinya.

 

“G—Gyu—Gyuri ah?” gadis itu tersenyum, berusaha menutupi segala kegundahan hatinya.

 

“Oppa, makan dulu ne? Sudah berapa hari kau tak makan heum?” Kyuhyun menggeleng, entahlah namja itu rasanya sudah benar-benar lupa kapan terakhir nasi melewati kerongkongannya.

 

Dengan telaten, Gyuri meniupi setiap sesendok bubur yang akan masuk kedalam mulut Kyuhyun. Sementara namja itu hanya terdiam, menatap lurus kedepan. Dan sesekali membuka mulutnya saat sendok itu sudah hadir didepan bibirnya. Tak ada satu katapun yang terucap dari bibir keduanya, mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga…

 

“Gyuri ah?” Kyuhyun mengalihkan objek pandangannya, dan kini menatap intens gadis dihadapannya itu.

 

“Heum?”

 

“Kenapa kau membela-ku dipengadilan kemarin huh? Kenapa?” Gyuri terdiam, lidahnya seakan kelu untuk berbicara. Hatinya gundah, karna hingga kinipun gadis itu tak tau kenapa ia begitu takut untuk mengatakan yang sebenarnya dipengadilan dua hari lalu.

 

Meskipun begitu, pihak kepolisian tetap memvonis Kyuhyun sebagai tersangka penembakan. Namun, dengan banyaknya uang dan juga kedudukan penting yang dimiliki keluarganya. Semua kasus itu hanya bergulir beberapa hari saja, bahkan hanya dengan membayar denda 4 Milyar Won Kyuhyun kini sudah bisa terlepas dari hukuman jeruji besi.

 

“Kenapa Gyuri ah? Kenapa kau tak membiarkan aku mendekam didalam penjara saja?” suara Kyuhyun terdengar begitu bergetar, membuat gadis itu semakin bingung untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan.

 

“Bukan aku yang membebaskanmu oppa, tapi kedua orang tua-mu! Ingat itu” Gyuri mengambil nafasnya sejenak, lalu menghempaskannya lagi.

 

“Bahkan, jika aku berkata jujur. Mereka akan tetap menebusmu, bukan?” lanjutnya, Kyuhyun hanya diam membisu. Tiba-tiba, pikirannya melayang entah kemana. Wajah Hyejin dengan segala macam ekspressi kini tengah berputar layaknya sebuah rol film yang tengah diputar di memory-nya.

 

“Sekarang minum obat dulu, oppa” Gyuri memberikan beberapa tablet obat yang diberikan Hyuk Jae tadi, dan juga segelas air putih untuk Kyuhyun. Namja itu menurut tanpa perlawanan sedikitpun, rasanya tubuhnya kini sungguh terasa lemah semenjak kepergian Hyejin. Separuh nafasnya telah pergi menghilang dari rongga paru-parunya.

 

Gyuri menatap arloji silver dilengannya, waktu kini menunjukkan pukul 7.30 malam waktu Korea Selatan. Setelah memastikan Kyuhyun meminum habis obat yang diberikannya, gadis itu bergegas pulang.

 

“Kyuhyun oppa, aku pulang dulu sudah malam” Gyuri merangkul tasnya dan tersenyum singkat pada Kyuhyun yang masih terdiam dibalik selimut.

 

“Jaljayo oppa” Gyuri menutup pintu kamar Kyuhyun perlahan, dan pergi menuju rumah Kost-nya.

 

***

-Kenapa aku melenyap seperti orang bodoh setiap hari? Seperti setangkai bunga gelap, tanpamu, aku hanya terus mengatakan itu menyakitkan, menyedihkan-

 

Satu bulan berlalu dengan begitu cepatnya. Selama satu bulan belakangan ini, tanpa lelah Gyuri mencoba menemani hari-hari Kyuhyun yang sepi dan sunyi. Meski pada kenyataannya, hanya tatapan dinginlah yang diterimanya dari sorot mata Kyuhyun, juga sebuah kalimat pedas yang terlontar dari bibir tebalnya.

 

“Aku tak boleh menyerah begitu saja! Pasti kali ini kau suka” Gyuri mengepalkan satu tangannya keudara, sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk terus mendekap sekotak kue yang dibuatnya susah payah dan itu hanya untuk Kyuhyun seorang.

 

Gadis itu menghela nafasnya, lalu memencet bel pintu rumah Kyuhyun.

 

5 menit…

 

10 menit…

 

15 menit…

 

20 menit…

 

Pintu rumah itu tak kunjung terbuka, tapi itu justru tak melunturkan niat Gyuri sedikitpun untuk menyerah. Tangannya mendorong perlahan kenop pintu rumah itu dan ceklek! Pintu tak terkunci nyatanya.

 

Kakinya berjalan perlahan memasukki rumah itu, dan langkahnya terhenti sejak matanya menangkap sebuah punggung namja yang tengah tertidur lelap diatas piano miliknya.

 

“Ck! Pantas saja tak membukakan aku pintu. Nyatanya kau tengah terlelap disini tuan Cho?” Gyuri meletakkan kuenya, senyuman usil tersirat jelas diwajahnya. Dengan sengaja, jari-jemarinya menekan tuts tuts piano secara tidak beraturan membuat Kyuhyun terlonjak kaget.

 

“Hihihi” Gyuri terkikik geli, sementara Kyuhyun seperti biasa menatap dingin Gyuri.

 

“Ada apa kau kemari? Mau apa lagi?” Gyuri tersenyum yang membuat Kyuhyun seakan bertambah muak dengannya.

 

“Ige, cobalah kue buatanku” gadis itu menyodorkan sekotak kue buatannya, tapi rasanya Kyuhyun benar-benar tak mau menerimanya. Dia justru membalikkan tubuhnya dan perlahan kakinya bergerak meninggalkan Gyuri.

 

Gyuri menelan ludahnya, lagi-lagi Kyuhyun hanya menganggapnya seperti angin lewat yang selalu menganggunya setiap saat.

 

“Kyuhyun oppa, jebal. Ambilah” Gyuri menahan lengan Kyuhyun, dan menatapnya dalam. Kyuhyun membalas tatapan Gyuri, lalu tersenyum miring dan menerima kotak kue itu dari tangan Gyuri. Gadis itu tersenyum girang.

 

“Cobalah, rasanya sangat enak. Pasti kau su—“ Bruk! Gyuri menghentikan kata-katanya, saat tiba-tiba Kyuhyun membuang kotak kue buatannya kelantai begitu saja, membuat beberapa coklat yang berada dikuenya berceceran dilantai.

 

Seperti ada ribuan jarum yang menghantam jantungnya saat ini, nafasnya tercekat. Gyuri tak mampu lagi menghalau airmata yang akan turun membasahi pipinya. Ditatapnya kue buatannya yang sudah berserakan dilantai itu. Dan menatap Kyuhyun dan tersenyum miris.

 

“Kau tak menyukainya oppa?” Kyuhyun terdiam, namja itu melempar pandangannya kearah lain.

 

“Baiklah, mungkin saat ini kau tidak menyukai kue ku. Tapi aku hanya ingin memberitahumu, jika kue itu aku buat semalaman dengan susah payah. Hingga aku rela memangkas jam tidurku hanya untuk membuatkanmu kue ulang tahun” Gyuri tersenyum miris sambil beruraian airmata, hatinya begitu sakit. Bahkan rasanya dadanya begitu sesak saat ini, pikiran gadis itu berputar pada dua tahun lalu. Saat dirinya bersusah payah membuatkan kue ulang tahun untuk Donghae. Saat itu, Donghae selalu memuji keahliannya membuat kue dan selalu dengan lahap memakan kue-kue buatannya. Sungguh berbeda dengan perbuatan Kyuhyun saat ini.

 

Donghae oppa! Aku sungguh merindukanmu..  Gyuri bergumam miris didalam hatinya, dan tiba-tiba Gyuri terbangun dari lamunannya dan menghapus airmatanya dengan gusar.

 

“Cho Kyuhyun. Selamat ulang tahun, semoga kau panjang umur” Gyuri tersenyum ditengah tangisannya, sementara Kyuhyun hanya terdiam sambil meruntuki kebodohannya saat ini. Gadis itu berjalan gontai melewati tubuh Kyuhyun yang masih diam dan berjalan pergi dari rumah Kyuhyun.

 

Mata Kyuhyun terus mengikuti punggung Gyuri, hingga akhirnya tubuh mungil itu menghilang dibalik pintu rumahnya.

Kini, matanya beralih pada sebuah kotak berwarna cream yang ada dilantai. Tangannya terulur untuk menyingkirkan tutup kotak itu yang sudah terbuka setengah. Ditatapnya lekat-lekat sebuah kue tart coklat yang sudah tak terbentuk sempurna itu.

 

‘Cho Kyuhyun Oppa, Sangiel Cukkhaehamnida. I can’t stop loving you’

Meski tulisan yang ada diatas kue itu sudah tak terlihat jelas, namun namja itu masih bisa membacanya dengan jelas. Lututnya melemas, apa yang sudah diperbuatnya? Pada seorang gadis yang sudah sangat baik padanya? Bahkan, dirinya tak mengingat jika hari ini adalah hari kelahirannya kedunia. Tak ada orang yang memberinya selamat ulang tahun, selain gadis itu. Orang tuanya terlalu sibuk untuk mengatakan kata-kata itu untuknya. Sementara sahabat dan teman-temannya? Mungkin mereka semua merasa lelah dan malas dengan sikap Kyuhyun yang tak bersahabat akhir-akhir ini. Kini, hanya gadis itu yang bertahan untuknya.

 

***

-Cinta? Orang bilang, cinta itu sulit diartikan. Cinta itu membingungkan, tapi hanya satu yang aku tau tentang cinta, bahwa cinta itu tidak seperti sebuah soal matematika yang hanya memiliki satu jawaban-

 

“Kenapa tidak kau saja yang memberi langsung padanya? Kenapa harus aku?” Gyuri menatap Hyuk Jae dengan tatapan malas, saat Hyuk Jae meminta Gyuri untuk mengantar undangan pernikahannya kepada Kyuhyun.

 

“Aigoo, bukankah kau begitu bersemangat jika berkunjung kerumahnya huh? Ayolah, aku memberimu kesempatan untuk mengunjunginya” Gyuri terdiam, sembari mengingat-ingat kejadian yang telah berlalu kira-kira satu minggu yang lalu itu. Kejadian yang sudah meluruhkan niatnya untuk terus mencintai Kyuhyun.

 

“Ani oppa, aku takut dia berlaku dingin lagi padaku”

 

“Kau tau? Disini sangat sakit oppa” Hyejin menepuk-nepuk dadanya, memberitahu jika hatinya sudah terlanjur merasakan sakit yang teramat dalam.

 

“Ayolah Gyuri ah, kali ini saja. Aku benar-benar tak sempat jika harus mengantarkan kerumahnya, karna sehabis ini aku harus langsung mempersiapkan semuanya” Gyuri terdiam, terlihat menimbang-nimbang sebuah keputusan.

 

 

Sementara itu, ditempat lain. Seorang namja yang begitu rapuh, kini tengah merebahkan tubuhnya sambil berusaha memejamkan matanya yang sejak tadi terasa perih karna terlalu kuat menahan tangisnya. Pikirannya kembali melayang pada saat-saat pertemuannya dengan Hyejin.

 

*FLASHBACK*

 

BRUKKK.

Seorang gadis jatuh tepat dihadapan Kyuhyun beserta dengan seluruh makanan yang ada didekapannya sejak tadi, gadis itu menatap Kyuhyun dengan mata yang berkilat-kilat menahan amarah yang sudah mencapai diubun-ubunnya karna dia tau betul, jika namja itu sengaja menabraknya.

 

“Kau? Menghancurkan semua daganganku! Ish! ” Hyejin  bangkit dari duduknya dan menaruh kedua tangannya didada.

 

“Berapa yang kau inginkan huh? Katakanlah” Dengan sombongnya Kyuhyun mengeluarkan berlembar-lembar uang dari dalam dompetnya. Hyejin semakin menatap Kyuhyun penuh kebencian, dia sangat benci dengan orang kaya yang sombong sepertinya.

 

“Ige! Ambillah” Kyuhyun menyodorkan lembaran uang itu pada Hyejin, namun Hyejin masih tetap terdiam.

 

“Uh, apa masih kurang? Baiklah-baiklah” Kyuhyun kembali mengeluarkan lembaran uang lagi dari dompetnya dan menarik paksa tangan Hyejin untuk menerima uang darinya. Lalu seulas senyuman mengejek tercetak jelas diraut wajah Kyuhyun.

 

Brukkk.

Hyejin melemparkan semua uang yang Kyuhyun berikan padanya, gadis itu sungguh terlihat sangat membenci Kyuhyun saat ini dan selamanya.

 

“Aku tidak butuh uangmu tuan! Aku butuh permintaan maafmu!” Kyuhyun tersenyum kecut, lalu berbalik meninggalkan Hyejin yang tengah menggerutu hebat dibelakangnya.

 

“Ya tuan! Apa kau tuli huh?”

 

“Gadis itu menarik” Gumam Kyuhyun dan berjalan pergi meninggalkannya.

 

*FLASHBACK END*

 

 

“Hyejin ah” airmatanya jatuh begitu saja, saat sejak tadi hanya diam menggenang dipelupuk matanya.

 

Kyuhyun bangkit dari tidurnya, namja itu terduduk diam sambil memeluk bantal putih miliknya. Matanya yang sejak tadi terpejam kini perlahan mulai terbuka, kepalanya menoleh kearah samping . Namja itu menatap kosong keranjang buah diatas nakas samping tempat tidurnya itu, matanya bergerak menatap bergantian antara tumpukan buah itu dan juga sebuah pisau yang tergeletak disampingnya.

 

Jakunnya bergerak keatas dan kebawah, nafasnya terdengar begitu berat. Kyuhyun kembali memejamkan matanya sesaat lalu membukanya lagi. Namja itu bergerak menuruni ranjangnya, kakinya berjalan menuju meja nakas itu. Tangannya terulur membuka lacinya dan mengambil sebuah foto, senyumannya mengembang saat menatap sebuah foto seorang gadis yang tengah tertidur pulas.

 

Hyejin. Hyejin lah, gadis yang ada difoto itu. Entahlah ada apa dengan Kyuhyun, tapi yang jelas namja itu sangat gemar mengambil foto Hyejin ketika tertidur.

 

Tatapannya kini beralih lagi pada sebilah pisau yang tengah tergeletak bebas diatas nakas. Kyuhyun terlihat sedang menguatkan dan meyakinkan hatinya. Tangan kirinya masih menggenggam erat-erat foto tadi ditangannya, dan tangan kirinya kini bergerak perlahan menghampiri pisau itu.

 

Tangannya bergetar, airmatanya kembali turun. Setelah mendapatkan pisau itu, Kyuhyun menggengamnya erat. Kepalanya terangkat keatas.

 

 

“Hyejin ah, kau harus lihat ini. Aku—aku, akan menyusulmu—“ perlahan tangan kanannya yang memegang pisau itu bergerak menghampiri tangan kirinya, kini pisau itu sudah mendarat tepat dipergelangan tangan kirinya. Keselamatan urat nadinya begitu terancam saat ini. Sekali tekan saja, mungkin nyawanya akan melayang saat ini juga.

 

“Tuhan, jika ini memang yang terbaik. Tolong antarkan aku untuk menemuinya” Kyuhyun kembali memejamkan matanya, tapi sedari tadi tangan kanannya masih diam tak bergerak sedikitpun.

 

“Kyuhyun ah! Sadarlah! Aku bukanlah cintamu yang sesungguhnya! Buka matamu, bodoh” terdengar sayup-sayup suara wanita yang begitu dicintainya, seketika itu juga Kyuhyun membuka matanya dan menatap sebuah bayangan seorang gadis dengan balutan jubah serba putih, gadis itu tersenyum.

 

“Hye—Hyejin?”

 

“Jangan berbuat bodoh seperti ini, kau belum saatnya bertemu denganku”

 

“Ani! Aku hanya ingin bersamamu”

 

“Tidak bisa Kyuhyun ah” perlahan, bayangan gadis itu memudar dan menghilang dari pandangannya. Hati Kyuhyun kembali meringis, saat ini ia begitu bimbang dengan segalanya. Namja itu terdiam.

 

Nampaknya, pisau itu  kini benar-benar bergerak membuat darah segar mengalir keluar dari lengannya. Kyuhyun mengigit bibirnya sendiri, berusaha menahan segala rasa sakit yang ada ditubuhnya kini. Tapi namja itu tersenyum, perlahan tubuhnya melemas seiringan dengan darah yang semakin banyak mengalir. Kepalanya berkunang-kunang.

 

“Gyuri ah” ujar Kyuhyun sebelum akhirnya pingsan ditempat, namja itu kini menyebut nama Gyuri. Entahlah apa yang terjadi lagi pada namja itu kini, sebenarnya siapa yang ada dihatinya kini? Hyejin? Atau Gyuri?

 

Sementara itu, seorang gadis tengah termanggu didepan sebuah kamar yang pintunya masih tertutup rapat. Gyuri, sangatlah gugup, gadis itu begitu takut pada Kyuhyun kini. Dengan segala kesiapan hatinya, kini Gyuri mencoba membuka pintu kamar Kyuhyun, karna sedari tadi gadis itu mengetuk pintu kamar Kyuhyun tak ada reaksi apapun.

 

“Oppa, aku masuk ne?” kenop pintu itu berputar, pintunya terdorong kedalam. Gyuri memunculkan kepalanya dari balik pintu.

 

Matanya membulat, bibirnya terbuka lebar saat melihat sosok yang dicarinya tengah terkapar lemas dilantai dengan darah yang cukup banyak mengalir dari lengannya.

 

“Kyuhyun oppa! Ireona, ada apa denganmu? Yak! Ireona” wajah Gyuri begitu panik, gadis itu mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun yang semakin lemah itu. Dengan cepat, Gyuri menghubungi ambulance.

 

“Bertahanlah oppa, hiks” airmatanya turun begitu deras hingga beberapa tetesan airmatanya jatuh menetesi wajah pucat Kyuhyun.

 

“Kenapa kau bisa sebodoh ini huh? Hiks, bertahanlah”

 

***

 

-Haruskan aku menghapus segala rasa cintaku untukmu? Membiarkan hatiku untuk berhenti mencintaimu? Tapi, apakah aku sanggup melakukan semua itu?-

 

Kelopak matanya bergerak sedikit, mengerjapkan beberapa kali mencoba terbiasa dengan sinar lampu yang merayap masuk mengetuk retina matanya. Tangan namja itu bergerak, dan tanpa sengaja menyetuh sesuatu. Kepalanya merunduk kebawah. Matanya menangkap seorang gadis tengah tertidur pulas disisi ranjangnnya, dengan kepala yang dibiarkan tersender pada sisi ranjang Kyuhyun.

 

Kyuhyun terdiam, namja itu tak mampu berkata apapun saat ini. Hatinya begitu berkecamuk dan tak dapat mendeskripsikan perasaan apa yang ada dihatinya kini. Perasaan kesal, senang, dan terharu bercampur menjadi satu.

 

“Eunggh..” kepala gadis itu bergerak, terangkat. Tangan mungil bergerak mengusap-usap matanya. Lalu, gadis itu menatap wajah Kyuhyun yang tengah menatap dirinya dengan tatapan dingin seperti biasanya.

 

“Oppa, kau sudah sadar?” Gyuri terdengar begitu bahagia, karna akhirnya Kyuhyun membuka matanya sejak pingsan kemarin.

 

“Kau, yang membawaku kemari?” Kyuhyun memalingkan pandangannya kearah jendela kamar rawatnya, namja itu tak mau berlama-lama menatap wajah polos Gyuri.

 

“Ne”

 

“Untuk apa HUH?!” nada bicara Kyuhyun terdengar meninggi diakhir kata-katanya, dan sekali lagi namja itu menatap Gyuri dengan tatapan tajam? Atau bahkan lemah? Karna, bibirnya lagi-lagi bergetar.

 

Hari masih terlalu pagi, bahkan matahari baru saja menampakkan sinarnya. Tapi justru Gyuri harus berlapang dada menerima segala sesuatu yang akan terlontar dari bibir Kyuhyun pada pagi hari ini.

 

“Aku—aku, aku hanya tak mau kau—“

 

“Kau mengacaukan segalanya! Harusnya aku sudah bersama Hyejin disana!”

 

“Oppa! Jangka waktumu masih panjang” Gyuri sebisa mungkin menahan airmatanya yang mulai membanjiri pelupuk matanya, hati gadis itu terlalu sakit dan rentan jika harus menerima kata-kata pedas dari namja yang begitu dicintainya.

 

“Aku bisa memangkasnya bodoh! Dan kau, janganlah seperti pahlawan dihadapanku” Kyuhyun kembali memalingkan wajahnya. Seketika itu juga tangisan Gyuri pecah tak terbendung.

 

“Aku, hanya ingin menolongmu. Apa itu salah? Aku terlalu khawatir padamu, apa itu juga salah? Dan—“ Gyuri menghentikan kata-katanya sejenak. Menghela nafasnya berat.

 

“Dan, aku—aku juga men—“

 

“Pergilah, biarkan aku sendiri” Kyuhyun dengan santai mengusirnya, bahkan namja itu tak membiarkan Gyuri menyelesaikan kata-katanya saat itu.

 

“Oppa—“

 

“Aku bilang, pergi!” Gyuri berdiri dari duduknya, meraih tasnya dan berjalan gontai menuju pintu kamar itu. Kyuhyun hanya bisa melihat punggung Gyuri yang perlahan menghilang dari ekor matanya.

 

Tiba-tiba, airmata Kyuhyun ikut turun dari sudut matanya. Namja itu kini begitu rapuh, dan tangannya bergerak meraba dadanya. Hatinya begitu sakit saat menyadari sudah sekian kalinya namja itu membuat Gyuri menangis karna ulahnya.

 

“Mianhae, Gyuri ah. Aku hanya tak ingin kau, mencintai orang yang salah sepertiku” Kyuhyun terpejam, membiarkan buliran buliran bening itu semakin banyak mengalir.

 

 

Sementara itu, Gyuri berjalan dengan cepatnya dari rumah sakit itu bahkan tak sedikit ia menabrak orang-orang yang ada dihadapannya. Dan kini, gadis itu kembali menambrak seseorang. Tanpa meminta maaf, Gyuri hanya menatap orang itu sebentar dan pergi berlari menjauhinya.

 

“Gyuri ah, waeyo? Gyuri ah—“ orang yang ditabraknya itu, ternyata Hyuk Jae yang tengah berjalan menuju kamar rawat Kyuhyun. Namja itu semakin bingung dengan sikap Gyuri yang terdiam sambil beruraian airmata diwajahnya.

 

“Ada apa dengannya? Akh! Kyuhyun!” Hyuk Jae berjalan cepat menuju kamar rawat Kyuhyun, sejumlah pertanyaan besar menghampiri hatinya. Namja itu berjalan dengan begitu tergesa-gesanya, ia takut sesuatu yang buruk menimpa Kyuhyun.

 

Tanpa mengetuk pintu kamarnya lagi, Hyuk Jae segera menerobos masuk kedalam kamar namja itu.

 

“Kyuhyun ah, Neo gwencahana?” tanya Hyuk Jae dengan nada yang memburu sehabis berlarian tadi.

 

“Ne? Naneun, gwencahanayo. Ada apa denganmu hyung? Apa kau berlari dari rumahmu menuju rumah sakit?” Kyuhyun terheran-heran mendapati Hyuk Jae yang bertingkah seakan-akan dirinya baru saja menjadi atlet marathon.

 

“Kyuhyun ah, jadi—tadi? Dia?” Hyuk jae meletakkan satu tangannya dipinggangnya, dan satu tangannya lagi mengepal memanggu dagunya. Dan sesekali menatap Kyuhyun heran.

 

“Dia? Nuguya?” Kyuhyun mengubah posisi tidurnya, menjadi terduduk diranjangnya. Lalu Kyuhyun menunjuk kursi disampingnya, menyuruh Hyuk Jae duduk sebentar disebelahnya.

 

“Kyuhyun ah, jawab aku”

 

“Ye? Kenapa kau aneh sekali hyung?” Kyuhyun menaikkan satu alisnya keatas. Jujur, dia sangat tak mengerti dengan tingkah Hyuk Jae saat ini.

 

“Gyuri, kenapa dia menangis? Apa yang kau perbuat padanya? Kau menyakitinya lagi?” seketika itu juga, Kyuhyun terdiam membisu. Seluruh syarafnya ikut melemah, bersamaan dengan hatinya yang sangat sakit mendengar Gyuri menangis karnanya.

 

“Jawab aku Cho Kyuhyun! Kau sudah menyakitinya berapa kali huh?”

 

“Entahlah hyung, akupun tak tau” pikiran Kyuhyun melayang, memory-nya kini tengah berputar menampilkan bayang-bayang kejadian yang telah berlalu tentang dirinya dan juga Gyuri.

 

“Apa kau benar-benar tak merasakan rasa cintanya yang begitu dalam padamu?” Kyuhyun benar-benar mati kutu sekarang, dia terus meruntuki betapa bodoh dirinya.

 

“Harusnya, kau selalu menjaganya. Karna hanya dia manusia yang mampu bertahan dengan sifat egoismu itu. Kau harus berterima kasih padanya babo!” Hyuk Jae bangkit dari duduknya, badannya berputar memunggungi Kyuhyun. Perlahan, namja itu berjalan menuju pintu.

 

“Sadarlah, cintanya begitu tulus padamu. Dan belajarlah, mencintainya sebelum dia benar-benar pergi darimu selamanya” Kyuhyun masih terdiam, dan menatapi punggung Hyuk Jae yang sudah hilang dari balik pintu. Namja itu kembali meremas rambutnya, menyalahkan dirinya sendiri dan berharap jika semuanya belum terlambat.

 

 

***

-Maafkan aku, jika aku melupakanmu. Karna itu semua juga karna kesalahanmu-

 

Jari-jari lentiknya dengan teratur menyebarkan bunga-bunga dengan berbagai warna itu keatas kedua pusara yang ada dihadapannya. Bibirnya terus saja mengembangkan senyuman, tetapi matanya sedari tadi terus saja mengalirkan tetesan-tetesan air bening itu. Gyuri memulai kebiasaannya, yaitu menangis tanpa suara.

 

Tubuhnya terduduk lemas, tepat ditengah-tengah kedua pusara itu. Jari-jemarinya saling mengait dan matanya terpejam, Gyuri memanjatkan doa untuk kedua orang yang berada didalam pusara itu. Setelah selesai, gadis itu mulai berbicara.

 

“Donghae oppa, aku tak pernah merasakan hatiku sesakit ini saat bersamamu dulu” Gyuri meremas bajunya yang tepat berada didepan jantungnya.

 

“Hyejin ah, apa ini alasanmu tak bisa mencintai Kyuhyun oppa? Dan kau memilih jatuh cinta pada Donghae oppa?” Gyuri berbicara sendiri dengan airmata yang terus mengalir dari matanya.

 

“Aku lelah mencintainya, sepertinya aku akan menyerah” gadis itu terus saja bersuara, dan untunglah pemakaman hari ini begitu sepi. Rasanya hanya dirinyalah yang berada disini.

 

“Ya! Aku menyerah mencintainya, aku—aku akan berhenti mencintaimu Cho Kyuhyun! Aku akan pergi dari hidupmu, aku tak akan mengganggu kehidupanmu lagi jika itu yang membuatmu bahagia” Gyuri menangis sejadi-jadinya, entah menagapa hatinya bertambah sakit setelah mengatakan kata-kata itu.

 

 

“Kenapa kau begitu cerewet sekarang? Kau sungguh berbeda dengan Gyuri yang kukenal dulu” ucap seseorang sembari mengingat-ingat betapa pendiamnya Gyuri dulu saat bersamanya, yang bagaikan mayat hidup yang terus mengunci mulutnya rapat-rapat.

 

“Dan bukankah, kau berjanji tak akan berhenti mencintaiku hum?” lanjutnya lagi, Gyuri menegakkan kepalanya saat mendengar suara berat yang begitu akrab ditelinganya. Kepalanya menoleh, mendapati seorang pria dengan seragam rumah sakitnya tengah berdiri dibelakangnya dengan tangan kiri yang diperban dan tangan kanannya yang memegang botol impus.

 

“Kyu—Kyuhyun oppa?” bibir gadis itu bergetar hebat, matanya mengerjap berkali-kali dan meyakinkan hatinya jika ini bukanlah mimpi dipagi hari.

 

“Gyuri ah, mianhae” Kyuhyun ikut mendudukkan tubuhnya ditanah, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Gyuri agar mereka saling berhadapan.

 

“Oppa, ini benar kau?” Kyuhyun tesenyum, namja itu meletakkan botol impus nya ditanah dan segera menarik tubuh Gyuri kedalam pelukan hangatnya.

 

“Ne, jeongmal mianheyo Gyuri ah. Maafkan segala kebodohanku selama ini, dan aku mohon jangan pernah berhenti mencintaiku” Gyuri diam menegang didalam dekapan Kyuhyun.

 

“Aku berjanji, akan belajar mencintaimu. Aku berjanji!” Gyuri menarik tubuhnya, tangannya bergerak menghapus airmatanya yang sejak tadi mewarnai wajahnya. Gadis itu tersenyum manis dan mengangguk.

 

“Ne, oppa. Aku tak akan bisa berhenti mencintaimu. Saranghae Cho Kyuhyun” Gyuri mencium pipi pucat Kyuhyun, yang membuat namja itu benar-benar tersipu malu dibuatnya.

 

“Jawablah oppa walau kau belum mencintaiku, tapi aku ingin sekali mendengar kau meng—“

 

“NADO! Sarangheyo Choi Gyuri” Kyuhyun kembali menarik gadis itu kedalam dekapannya, merasakan seluruh macam aroma yang keluar dari tubuh gadis itu.

 

“Akhirnya mereka bahagia” bayang-bayang Donghae dan juga Hyejin sedari tadi tersenyum menyaksikan sebuah drama yang begitu mengharukan menurut mereka. Dan perlahan, bayang-bayang mereka berdua semakin pudar dan akhirnya menghilang.

 

 

Inilah cinta, berawal dari sebuah ketidak sengajaan lalu bergulir menceritakan sebuah story yang cukup panjang, dan berakhir dengan berbagai macam ekspressi. Kisah cinta yang rumit, akan memberi hikmah yang begitu berarti untuk mereka kedepannya..

 

 

 

THE END…

 

 

Fiuuuuuuh, akhirnya selesai juga FF saya ini :p

Bagaimana riders? Ending dari squel kedua ini? Happy ending kan? Hohoho.

Buat para admin dan juga para riders thanks banget udah mau baca FF gajelas buatan saya ini : ) mulai dari awal hingga squel, dan squel LAGI😄 hahaha, dan setelah ini udah STOP! Tak ada squel lagi, oke? Karna semua udah jelas berakhir sampai disini. Hahaha..

 

Oke, see you next time guys :*

3 thoughts on “GONE NOT AROUND ANY LONGER (Squel-See You In Heaven!)

  1. whaaa aku bingung mau tulis apa
    kata-katannya bangeus banget
    aduhh aku bingungaku suka bangetsama ff ini kereennnn abisss😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s