My Genie | Oneshoot

 

My Genie

My Genie

Tittle : My Genie

Author : Raditri Park

Genre : Romance, Fantasy

Length : 1888 words (oneshot)

Rating : PG-16

Cast(s) : – Kim Jong In [EXO] – Rara Park [OC] – Girls

Desclaimer : The Original Cast (OC) just my imagination and that’s mine. And the other cast or artist name aren’t mine, theirs belong to theirself. I use them just for my material. If you find same from this plot, idea, and others, it just unplanned. This fanfic is originally of mine, pure of my imagination. SO, DO NOT BASHING!! DO NOT PLAGIAT!! ^^

 

Warning : Typo(s)

Note : in the end

 

^^ Enjoy Reading^^

Matahari yang cerah. Daun-daun coklat itu jatuh amat ringan. Terlepas begitu saja dari ranting salah satu pohon di antara banyak pohon yang berjejer rapi di sebuah taman. Tak jauh dari pohon itu, tampak dua orang yang sedang duduk berdampingan di sebuah bangku taman yang panjang. Seorang pria dan seorang gadis.

Tak ada celah sedikit pun dari cara mereka duduk berdampingan. Bahkan sang pria semakin menempelkan tubuhnya pada sang gadis. Tangan kanan sang pria merambat dengan lembut ke arah pinggang gadis itu. Sedangkan tangan kirinya terangkat menyentuh helaian rambut coklat bergelombang sang gadis, menyelipkannya ke belakang telinga.

“Boleh aku meminta sesuatu darimu?” bisik pria itu pada sang gadis, lembut.

“Apa itu Oppa?”

“Pejamkan matamu.”

Sekilas gadis itu tersenyum kecil, memunculkan lesung pipi di salah satu pipinya yang putih. Lalu dengan senang hati menuruti permintaan sang pria. Kelopak matanya mulai terkatup pelan.

Untuk sejenak pria itu memperlihatkan senyum sederhananya yang cukup manis. Kemudian tangan kirinya bergerak menyusuri pipi sang gadis, melewati rahangnya dan berhenti di dagu lancipnya. Perlahan namun pasti wajahnya mendekat ke wajah gadis itu. Matanya terpatri pada bibir tipis gadis itu seiring kepalanya yang ia miringkan sedikit demi sedikit. Ia menghembuskan nafas hangatnya perlahan.

Tinggal se-inci lagi tiba-tiba kepala pria itu bergerak. Tubuhnya tiba-tiba membeku. Dadanya berdetak lebih keras. Mata sipitnya membulat ketika ia melihat sosoknya di sana. Seorang gadis, duduk di bangku taman lain yang tak jauh dari tempatnya sendiri. Gadis itu menatapnya, bahkan menghadap ke arahnya dengan kedua tangannya yang ia tumpu di penyangga kursi taman, tangan kiri gadis itu menyangga dagunya. Sedangkan tangan kanan gadis itu melambai kecil ke arahnya seiring bibirnya yang tersenyum merekah.

Tersentak. Pria itu baru menyadari, nampaknya gadis yang duduk sendirian itu telah melihat apa saja yang ia lakukan. Begitu tersadar, pria itu langsung menjauh dari wajah gadis yang duduk di sampingnya.

Gadis yang duduk di sampingnya itu masih terpejam. “Oppa?”

Mata gadis itu membuka cepat ketika pria di hadapannya itu tiba-tiba berdiri. “Jong In Oppa, ada apa?”

Pria yang dipanggil Jong In itu menoleh. “Kita harus pergi dari sini.”

“Waeyo?”

Tangan Jong In meraih cepat tangan sang gadis. “Tempat ini terlalu sepi. Kita harus mencari tempat lain.”

Tanpa menunggu banyak kata, Jong In langsung menarik pergi gadis itu, meninggalkan bangku taman itu.

***

Hari itu sudah mulai sore. Banyak pejalan kaki di sepanjang trotoar. Sedangkan kendaraan-kendaraan di sepanjang jalan tak kalah ramainya. Begitulah pemandangan yang telihat oleh seorang pria dari balik dinding kaca sebuah kafe.

“Jong In Oppa.” Pria yang dipanggil Jong In itu mengalihkan tatapannya dari luar, menoleh ke sosok gadis di hadapannya.

Jong In tersenyum sekilas. “Kau menikmati sore ini?”

Gadis itu mengangguk pelan sembari mengembangkan senyum manisnya.

Perlu diperhatikan, gadis ini berbeda dari yang tadi. Gadis ini memiliki rambut hitam lurus sebahu. Sangat manis ketika tersenyum dengan pipi chubby-nya.

“Kau suka kan tempat ini?” pria itu kembali bertanya.

“Sangat suka. Asalkan bersama oppa aku akan suka.” Senyum gadis itu muncul kembali membuat pria di hadapannya itu menatap gemas.

Tangan gadis itu terulur mengangkat cangkir di hadapannya, lalu meneguk coklat hangat dari dalamnya.

Tiba-tiba tangan Jong In mengulur cepat ke bibir gadis itu, membuat gadis itu sedikit terhenyak. Lalu jari-jarinya mengusap pelan sisa coklat di sudut bibirnya. Setelah itu dia menarik tangannya mengarahkannya ke mulutnya sendiri. Mengemutnya sesaat. Pipi gadis di hadapannya itu memerah dan semakin tampak chubby karena senyumnya yang terus mengembang. Kepalanya menunduk pelan malu-malu.

Jong In yang terus menatapnya menyeringai kecil, menampakkan senyum manisnya.

Mata sipitnya mengedar ke penjuru kafe. Ia bisa melihat beberapa orang di kafe ini. Tidak terlalu banyak. Lalu bola matanya berhenti di satu tempat. Tubuhnya tidak bergerak lagi, matanya kini mendelik pelan.

Ia melihat gadis yang dilihatnya di taman tadi, duduk di salah satu meja kafe yang tak jauh darinya. Dadanya kembali berdetak lebih keras ketika melihatnya. Gadis itu menatapnya sambil meminum jusnya lewat sedotan. Meskipun mata gadis itu menatap Jong In tapi mulutnya tak berhenti menyedot jusnya dengan begitu nikmat. Kedua tangannya yang semula menggenggan gelas plastik jusnya, kini mengangkat tangan kanannya lalu menggerakkan jari-jarinya, melambai ke arah Jong In. Mulutnya yang kini terlepas dari ujung sedotan perlahan menggerakkan kedua sudut bibirnya. Membentuk senyuman yang amat manis, hingga memunculkan pipinya yang membulat.

Jong In mengerjapkan matanya sekali. Dua kali. Tiga kali.

“Oppa.”

Jong In cepat menoleh ke arah gadis di hadapannya yang memanggilnya.

“Oppa tidak apa-apa?”

Bibirnya tersenyum cepat. “Tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita ke tempat lain?”

“Kemana Oppa?”

Tanpa menjawab, Jong In langsung berdiri dan meraih tangan gadis itu. Lalu cepat-cepat beranjak keluar dari kafe.

***

Meskipun malam semakin larut, namun tak menyurutkan orang-orang itu untuk menikmati kegiatan malam mereka di daerah yang selalu ramai tersebut, daerah Myeongdong. Tempat itu selalu ramai. Bahkan banyak pasangan yang menghabiskan malam mereka di surga perbelanjaan itu.

Sama halnya dengam dua orang yang sedang berjalan berdampingan itu. Seorang gadis dan seorang pria yang menggenggam tangannya. Mereka berjalan menyusuri toko-toko aksesoris dan pernak-pernik wanita.

Tiba-tiba sang pria berhenti berjalan membuat gadis di sampingnya itu menatapnya. Pria itu menatap sejenak sebuah stand fashion di sebelah kanannya. Lalu menoleh ke gadis yang digenggamnya itu sembari membentuk senyuman kecilnya yang lembut.

“Aku akan membelikanmu sesuatu.”

Mata gadis itu membulat ceria. “Jeongmalyo? Apa itu?”

Pria itu malah tersenyum lalu menarik jemari tangan gadis itu. “Kajja.” Mereka berjalan memasuki stand fashion khusus wanita. Mata pria itu menangkap sebuah sudut yang penuh dengan topi. Lalu kakinya segera melangkah menarik tangan gadis yang digenggamnya menuju ke bagian depannya, stand yang penuh dengan syal wanita.

“Pilihlah yang kau suka.”

“Oppa akan membelikannya untukku?”

“Ne.” Pria itu ternyum sekilas lalu memperhatikan syal-syal di depannya. Sedangkan gadis berambut coklat lurus dengan panjang sepinggang itu mulai menjelajahi syal di sampingnya. Sesekali berputar untuk mencari syal yang cocok untuknya di seberang tempat.

Pria itu masih berdiri di tempatnya dengan tangannya yang terulur menyentuh syal lembut berwarna soft pink di depannya. Perlahan senyum sederhananya mengembang. Matanya terus terfokus dan tangannya mengelus lembutnya syal soft pink itu. Warna itu mengingatkannya pada seseorang.

Tiba-tiba sesuatu menyentaknya.

“Jong In Oppa, apa syal ini cocok untukku?” gadis itu cepat menghampirinya, hingga pria itu sadar betul bahwa gadis itu menyenggol kasar gadis lain yang sedikit menghalangi jalannya. Namun gadis itu hanya bergeming seolah tak menyadari sikapnya barusan.

Jong In hendak menghampiri gadis lain yang sedikit tersungkur di depan stand topi itu, namun tubuhnya malah membeku ketika melihat wajah gadis itu. Tangannya hampir menyentuh dadanya yang berdetak keras ketika lagi-lagi ia melihat gadis itu. Gadis itu adalah gadis yang dilihatnya saat ia di taman dan di kafe tadi.

Tangan gadis yang bergaun soft pink itu menyentuh ujung topi pantainya yang lebar, membenarkannya. Lalu ia menoleh, menatap Jong In. Seulas senyum manisnya melebar dan tangannya yang bebas terangkat, melambai pelan ke arah Jong In.

“Oppa…” Jong In tersentak kembali. “Apa kau tidak menyukai syal yang kupilih ini?” raut gadis yang membawa syal biru langit itu tampak kecewa, melihat Jong In yang hanya terdiam.

Jong In cepat-cepat bergerak, menarik tangan gadis di hadapannya itu. “Syal di sini tidak ada yang cocok denganmu. Lebih baik kita ke tempat yang lain.” Tanpa menunggu respon dari gadis itu, Jong In segera menarik tangannya pergi untuk keluar dari stand fashion itu.

***

Kamar itu cukup hangat untuk ditempati seorang pria. Lampu kamarnya masih terang, namun penghuni kamar itu sudah terlelap di bawah selimut tebalnya. Tidurnya sangat nyenyak. Tampaknya tubuhnya kelelahan akibat kegiatannya seharian penuh ini.

Pria itu tidur dengan posisi miring berada di tengah-tengah ranjang king size-nya. Kedua tangannya mengatup menumpu pipi tirusnya di bantal. Selimutnya menutupi hingga pundaknya. Kelihatan sangat nyaman.

Namun, dalam tidurnya, dahi pria itu bergerak pelan. Sedikit mengerut. Kerutan itu semakin lama semakin dalam. Ia seperti merasakan sesuatu. Kelopak matanya tiba-tiba membuka lebar ketika dirasakannya sebuah tangan menelusur lembut ke pinggangnya. Seketika napasnya tertahan. Jantungnya berdetak keras satu kali lalu berdetak makin kencang dan tak beraturan.

Untuk sejenak, ia tak dapat bergerak. Lehernya kaku. Matanya melirik ke bawah ketika tangan itu semakin mengerat ke pinggangnya di bawah selimut. Tanpa berbalik, dengan sekali hentakan kepalanya terangkat, menoleh ke belakang tubuhnya dengan cepat. Ia mengernyit bingung, tak mendapati siapapun di belakangnya. Dan iapun sudah tak merasakan tangan itu.

Ia menghela napas keras dan hendak ke posisinya semula. Namun betapa kagetnya ia melihat sebuah wajah seorang gadis ketika ia telah ke posisinya. Matanya melebar melihat senyuman gadis itu. Namun, seketika menghela napas lega dan samar-samar terlihat pria itu tersenyum sederhana.

“Sudah kuduga,” bisiknya sangat pelan.

Senyum gadis yang tidur berhadapan dengannya itu sedikit meredup. “Apa yang kau lakukan seharian ini?”

Pria itu malah tersenyum kecil membentuk senyum sederhana yang mempesona. Matanya tanpa berkedip terus menatap mata gadis di depannya. Salah satu alisnya terangkat pelan. “Kau cemburu?” tanya pria itu dengan nada mengintrogasi. “T-tidak.” Suara gadis itu terdengar gugup karena tangan pria itu bergerak di pinggangnya dan menyentuh punggungnya. Kepala pria itu bergerak mendekati wajahnya. “J-Jong In.” Suara gadis itu semakin gugup.

“Rara Park, kau tidak bisa berbohong.”

“Aku tidak cemburu.” Gadis itu bersikukuh.

Tangan pria itu bergerak pelan ke punggung bagian atas gadis itu.

“K-Kim Jong In.” Gadis yang bernama Rara Park itu merasa risih.

“Lalu kenapa kau terus mengikutiku? Katakan saja kalau kau cemburu padaku.”

“A-aku… aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja. Kau bisa berpacaran dan mencintai gadis manapun. Aku tidak akan cemburu.”

Kepala Jong In bergerak maju dengan cepat. “Benarkah?” bibirnya hampir menyentuh bibir gadis itu. Matanya menelisik ke wajahnya. “Kau mengutukku, kan?!”

Mata gadis itu membulat dan tanpa disadarinya, tangan pria itu telah berada di tengkuknya.

“Tidak Jong In. Aku tid-”

“Kalau tidak, kenapa aku tidak bisa melihat gadis lain. Dan kau membuatku selalu melihatmu.” Jong In memotong cepat.

“Aku tidak bisa seperti itu. Aku tidak bisa membuat seseorang…” gadis itu memotong perkataannya sendiri dan malah membelakak kaget. Lalu bibir merah mudanya membentuk senyuman yang semakin merekah. “Kau mencintaiku?!”

“Kau mencintaiku, Jong In?!” ulangnya dengan mata berbinar.

Jong In malah terkejut. Dan tanpa diduganya, gadis itu mendekat maju ke wajahnya. Menyentuhkan bibir merah muda gadis itu ke bibir tipisnya. Mata sipitnya semakin melebar ketika bibir gadis itu bergerak di bibirnya. Melumatnya sangat pelan. Hingga pria itu tersadar, ia melewatkan sesuatu.

Sekilas ia tersenyum tipis di bibir gadis itu. Ia semakin menempelkan bibirnya seiring tangannya yang menekan tengkuk gadis itu dalam. Ia menjulurkan lidahnya, hendak meneroboskan ke mulut gadis itu yang tertutup rapat. Lalu mulai menghisap bibir bawahnya dan menggigitnya.

Namun… tiba-tiba ia merasakan dorongan yang sangat kuat di dadanya hingga ia terpental menjauh. “A-apa yang kau lakukan?” Jong In bisa melihat bibir bawah gadis itu yang memerah. Jong In tersenyum miring lalu mendekatinya lagi.

“Mulai sekarang aku yang akan mengutukmu agar mencintaiku dan kau harus cemburu ketika aku dekat dengan gadis lain.”

Tangan Jong In meraih tengkuknya lagi.

“Apa yang akan kau lakukan, Jong In?” gadis itu mendelik.

“Kau ingat kejadian di taman tadi? Aku akan melakukannya denganmu dan ini akan lebih.”

Lalu ia kembali meraih bibir gadis itu, Rara Park. Dan tanpa diduganya, gadis itu merespon dengan baik.

Tidak masuk akal memang, tapi pria itu, Kim Jong In mulai jatuh cinta pada gadis itu. Gadis yang akhir-akhir ini selalu dilihatnya. Gadis yang ditemukannya ketika ia menemukan sebuah gaun berwarna soft pink secara tiba-tiba di rumahnya. Jong In masih mengingat, ia tidak bisa menemukan kembali gaun itu ketika ia hendak membuangnya. Tapi, Jong In malah menemukan seseorang mengenakannya dan mengatakan gaun itu adalah miliknya.

Dan Jong In sadar betul, gadis itu bukan manusia yang berwujud seperti dirinya. Gadis itu, Rara Park adalah Genie-nya.

The End

A.N: Author merasa kurang narasi di sini dan kebanyakkan deskripsi. Iya, kan? ._. Author lemah dalam narasi.. tapi author mohon kritik dan sarannya yah udah gitu aja, gomawo for reading RCL Please^^~

One thought on “My Genie | Oneshoot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s