Protect Our Married ‘Part 9’

 

POM9

Title : Protect Our Married ‘9’

 

Author : ArVi

Twitter : @ivedeira

Fb : Arie devi

 

Gendre : MIX

Rating : PG – 17 /Straight

 

Cast : 

• Kim Jong Woon

• Song EunSeo

• Jung Yunho

• Park Jihyeon 

• Dain /Danniele Kim

 

Suport cast : 

• Song Jong Ki

• Hwang HyunRi 

 

 

P/S : Part sebelumnya pasti mumet ya? Typo BANYAK

 

 

 

 

QUOTES this part :

 

 

Ketika kamu berkata jujur, 

Tak ada yang perlu kau ingat.

Tapi ketika kamu berkata bohong,

Masih ada DUSTA yang perlu kau ingat.

 

 

 

 

 

 

Just Have Fun ^^, yeah!

 

 

 

 

 

Sunday Morning, (T) Ye-Seo Home – Appgeujong , South City

 

 

 

 

 

Siapa yang menyukai hari minggu pagi? Sebuah pagi dengan suasana bebas, Bebas polusi bahkan sekaligus bahan Polutan penyebab Polusi. Apalagi, hari ini adalah hari bebas kendaraan bermotor. Jadi jangan ditanyakan lagi bagaimana perubahan dratis sebuah kota metropolitan bergengsi yang ada di Korea ini. SEOUL , kota itu terasa bernafas lega untuk sehari dalam setahun. Beberapa petugas keamanan disebar dibeberapa jalanan untuk mencegah pelanggaran hari istimewa ini, yaa setidaknya Hukum Korea merupakan sebuah HARGA MATI.

“Mengapa memakai hoddie? Kau bukan artis.” EunSeo berjalan mendahului Yesung yang terlihat memakai beberapa properti untuk menutupi Wajahnya.

 

“tapi wajah ini, merek artis” Yesung kini mensejajarkan langkahnya disamping EunSeo yang mendengus malas. Kembalilah namja ini bersikap autis.

 

“aku baru sadar, berjalan melewati halaman rumah saja sudah lelah” Yesung memandang kebelakang sembari menyematkan kunci pagar , yaa setidaknya rumah yang kelebihan lahan halaman ini tidak kemalingan.

Jika saja hari ini bukan FREE CAR, Yesung rasa pergi kepasar dengan mobil bukan hal yang buruk, toh berjalan dari rumah menuju gerbang depan serasa sudah berpuluh-puluh kilo meter.

 

 

“jarak pasar, 10 kali lebih panjang dari itu” EunSeo memandang Yesung yang selalu mendengus. Apa begini tabiat asli seorang namja serius?

 

“tsk. Kau mau menurukan harga diri pria?”

 

EunSeo menggeleng-gelengkan kepalanya, “wajahmu menyiratkan kefrustasian. Padahal belum 10 kilo.”

 

“lalu? Apa kau akan menggendongku , heh?” Yesung menyikut pelan bahu EunSeo, membuat yeoja itu  kembali nampak mendengus malas. Ada dalam sejarah wanita menggendong pria?

 

“heiissh… harusnya aku membeli sepeda” lanjut Yesung sambil memandang beberapa orang yang berlalu lalang menggunakan sepeda. Termasuk seorang kakek-kakek dengan istrinya.

 

“aku jadi teringat Haraboji”

 

Yesung langsung menggangguk mendengar ucapan EunSeo. Boleh sekarang Yesung menilai kalau rambut EunSeo nampak berkilauan dibawah sinar? Ia jadi penasaran seperti apa sebenarnya jika yeoja ini melepas kaca mata dan menggerai rambutnya.

 

“kenapa selalu memakai style rambut membosankan itu?” Yesung memasukan tangannya kedalam saku.

 

EunSeo nampak menatap sebentar kearah suaminya. Jujur, kepala Yesung lumayan besar dari jarak sedekat ini😀 .

“aku hanya geli melihat mereka yang menggerai rambut, lalu dengan mudah kutu-kutu masuk dan keluar begitu saja. Aku masih sayang rambut.” Yesung diam, kembali opini yang berbeda selalu menyumpal pertanyaan selanjutnya.

 

Hening, kini hanya ada sepoian angin yang terdengar ditengah kikikan beberapa pasangan yang lewat memakai sepeda. Oh Baik, sebenarnya mereka ini pasangan juga, hanya saja tidak bisa berlaku selayaknya pasangan sebenarnya

 

“berapa tinggimu?” Yesung kembali memecah kesunyian dilangkah mereka.

 

 

“170,”

 

“berarti aku lebih tinggi”

 

“siapa perduli” EunSeo kini malah mengacangi perkataan Yesung. Yeoja itu nampak berlari sedikit sembari merentangkan tangannya. Bermain-main dengan si kepala besar yang besar kepala lumayan mengasyikan.

 

 

 

 

 

 

______________________o0o_____________________

 

 

 

 

 

 

“ajjumha… apa ikan ini baru turun dari dermaga?” EunSeo terlihat memijat sedikit bagian perut ikan laut. Setidaknya ia bisa memilah mana yang baru, atau mana yang hanya terlihat baru.

 

“tentu saja, nyonya.. ah , rupanya kau pintar dalam hal memilih” Ajjumha itu terkikik ramah sembari menatap Yesung yang kikuk sendiri.

 

“aku minta 2 , cumi-cumi itu terlihat masih muda. Apa nelayan disini menangkapnya dari tambak?” EunSeo kembali mencecari ajjumha itu dengan pertanyaannya. Tapi kali ini ajjumha penjual ikan nampak berfikir.

 

“masalah itu aku tidak tau. Intinya semua barang-barangku dijaring subuh tadi, dan langsung tiba didermaga pagi-pagi sekali”

EunSeo terlihat hanya manggut-manggut, sesekali yeoja itu melihat-lihat isi dagangan bibi penjual ikan. Siapa tau ada sesuatu yang bisa ia masakan lagi untuk kelurga Yesung yang berniat berkunjung.

Saat EunSeo tanya kenapa orang tua Yesung ingin berkunjung di hari FREE CAR ini, mereka malah menjawab dengan enteng.  Itung-itung menikmati udara segar dan melihat perkembangan pengantin baru. Jawaban macam apa itu?.

 

“apa dia suamimu?” Yesung yang merasa disebut segera mendekat sedikit kelapak dagangan. Maklum, ia hanya suami pengantar. Toh ia juga tak tau menahu jika urusan bahan makanan.

 

“owh, ne..” EunSeo menjawab pelan sekali. Membuat Yesung mengumpat jengkel

 

“YA! Akui dengan baik kalau aku suamimu. Aih..” namja itu segera bertriak membuat beberapa pengunjung pasar menatap kearah mereka.

 

EunSeo nampak tersenyum kikuk kearah ajjumha Kwon yang terlihat terbahak-bahak.

 

“ah… dia sedikit memiliki tegangan mental. Mianhamida.” EunSeo tersenyum-senyum sembari pergi dari kios ikan. Kkkkk~ Yesung pasti mendidih, dan itu yang ia harapkan .

 

“hey, apa maksudmu aku tegangan mental?, huh?” Yesung menarik tangan istrinya. Jika dipikir pikir, EunSeo rindu pertengkaran semacam ini.

 

“ekhem.. tuan squidward, kepalamu itu akan membesar jika selalu mendapat pujian. Jadi, aku harus mengejekmu agar kepalamu itu mengecil, sampai bertemu dirumah suamiku… hahahah”

 

“YA! Aigoo..aigooo… sebenarnya wanita itu memiliki berapa kepribadian? Astaga… tapi —“ Yesung meraba pipi kirinya, apakah telinganya tidak salah dengar? EunSeo tadi sempat mengelus pelan pipinya, lalu berkata ‘suamiku?’ astaga….

 

Kini Yesung nampak memalingkan wajahnya kesegala arah, berharap degupan aneh ini akan hilang, tapi ternyata semakin besar. “haaaaaaah…….. aku akan gilaaaa!!!!”

 

Seolah lupa ini dimana dan ada siapa, Yesung merasa tidak perduli. Namja itu malah bertriak sambil berlari lengkap dengan aksi mengacak rambut. Bayangkan jika saja namja itu tidak memakai hoddie, apa yang akan terjadi?

 

Author tak yakin ada orang yang tidak mengenal seorang hakim  seperti dirinya. Lalu apa yang akan mereka pikirkan?  Bisa hilang image coolnya yang sedikit over itu. Tsk.

 

 

 

 

 

______________________o0o___________________

 

 

 

 

 

 

“woah.. aku tak menyangka perut ini muat 2,5 mangkuk nasi. Hahahah” tuan Kim nampak mengelus perutnya sebentar. Memang tidak sia-sia keinginannya untuk menikmati hari FREE CAR ini dirumah anak dan menantunya.

 

“omo…jangan salahkan aku kalau kolestrolmu itu akan naik, sadar usia pak tua” nyonya Kim nampak merajam tindakan suaminya. Tapi ia sendiri tak sadar kalau sumpitnya bergelirya kemana-mana, mencari beberapa menu baru karya menantunya.

 

“hey, bisakah kau memberi contoh yang baik? Atau menantuku akan meniru tindakan Menyimpangmu, dan mempraktekannya pada putra kita. Kasihan sekali jika dia harus merasa tidak enak makan, dan tidak enak minum karena istri yang galak sepertimu”

 

Nyonya Kim kini malah menatap garang kearah suaminya. “YA! Kalau kau tidak enak makan dan minum, bagaimana mungkin tubuhmu bisa sebesar ini, huh?!”

 

Sementara Yesung seolah tidak asing lagi dengan pertengkaran heboh orang tuannya, jadi ia masih asik memakan beberapa masakan Istrinya , lain halnya dengan EunSeo , yeoja itu nampak mengingat tuan Song yang dirumah. Membayangkan bagaimana kesepian yang dirasakan appanya. Hidup hanya seorang diri, tanpa Song Jong Ki dan dirinya, mungkinkah hanya dengan para pelayan saja? EunSeo jadi menghayal bagaimana memiliki keluarga yang utuh, dengan eomma yang perhatian seperti nyonya Kim. Sayangnya ia sendiri tidak ingat sempat memiliki moment itu.

 

“ish, jangan kau dengarkan perkataan lelaki tua ini. Kau harus menjadi istri yang tegas. Pukul dia kalau dia salah, kalau perlu kunci saja pintu kamar kalau ia berselingkuh!” perkataan blak-blakan dari nyonya Kim Kontan membuat Yesung tersedak, dengan cepat EunSeo meraih air putih dan menyerahkannya pada Yesung.

 

“uuhuk..uhuk..”

 

“aigoo…aigoo.. pelan-pelan. Aku tau ini enak Yesung ah..” nyonya Kim menepuk-nepuk pelan bahu anaknya.

 

“kau ini, apa penting membicarakan perselingkuhan disaat makan malam” tuan Kim nampak langsung mencecari sang istri. Bisa dipikirkan membicarakan perselingkuhan di meja makan? Yang benar saja!

 

“nan gwencana” Yesung membalas pelan bisikan panik EunSeo ditelinganya. Yeoja itu nampak ikut menepuk-nepuk punggung sang suami. Jadi jika disimpulkan, Yesung terasa tersudut dengan telak dan tidak disengaja.

 

“ah, ayo lanjutan makannya. Jika tidak habis, kau bisa bungkuskan aku untuk dibawa pulang. Hahaha”

 

“tenang saja appa. Aku membuatnya banyak, masih ada.” EunSeo melanjutkan makanannya . Dan Yesung? Mau tak mau ikut melanjutkan makan. Matilah ia kalau ada yang curiga.

 

 

“ah ya… bagaimana ? apa seminggu ini lancar-lancar saja?”

 

Eunseo dan Yesung nampak saling pandang, alis mereka bertaut sebentar ,

“apa maksudnya, eomma?”

 

“itu, ritual pembuatan cucuku. Bagaimana? Apa sudah rutin atau –“

 

“MWO??#$”

 

 

 

 

 

 

_________________o0o_________________

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

‘tak ada yang abadi didunia ini

Canda, tawa dan penderitaan,

Semuanya semu.

 Kau fikir takdir diciptakan untuk mengecoh tebakan logika?

Tidak, sesungguhnya takdir diciptakan untuk dinikmati’

 

 

 

 

 

 

 

 

“dimana…” EunSeo meringis sembari memegang lambungnya. Sakitnya terasa menusuk. Entah mengapa ada penyakit semacam ini? Datang sangat tiba-tiba seperti ini.

 

“dimana….” Yeoja itu mencari secara membabi buta obatnya. Bahkan dengan sangat buruk obat yang hanya satu-satunya itu tidak ada. Ia bukan typikel wanita ceroboh yang sembarangan. Ia masih hati-hati menyimpannya , setidaknya Yesung tidak curiga. Lalu sekarang dimana obat itu? Tidak mungkin hilang..

 

“kau sedang apa?”

 

DRAAG

 

Eunseo oleng karena rasa terkejutnya. Yeoja itu langsung berdiri dengan meja sebagai penyanggah bobot tubuhnya yang seakan tak bertulang. “an –aniyo”

 

 

“aku akan pergi sebentar” namja itu nampak tidak melihat gelagat aneh istrinya. Ia meraih jaket hitam, lalu berlalu pergi begitu saja.

 

 

 

“ kau kemari? kenapa tidak tunggu dicafe saja?” Yesung sedikit terhenyak mendapati kekasihnya berdiri didepan pintu sembari tersenyum tipis. Entahlah, Jihyeon merasa cara pandang Yesung terhadap dirinya sudah berubah, dan berbeda. Sangat berbeda.

 

“tidak… aku hanya sangat merindukanmu…”

 

Yesung membeku merasakan pelukan Jihyeon. Dalam benaknya kini dipenuhi rasa bersalah dan berdosa. Dalam hidup, yang paling Yesung benci adalah berdiri diantara pilihan yang tak mampu ia pilih. Penyesalah adalah hal yang paling Yesung takuti. Ia memang pengecut. Jangan tanyakan lagi, bahkan dirinya sendiri mengakui kepengecutan itu.

 

“oppa………”

 

“heum…” Yesung masih memeluk Jihyeon didepan rumanya. Setidaknya tuhan masih berbaik hati tidak membuat EunSeo menengok kearah jendela. Bahkan yeoja itu kini tengah meradang perih mencari obat itu. Tak perduli sekarang keadaan kamarnya sudah sangat berbeda. Yang ia takutkan adalah jika Yesung sampai menemukannya dikondisi yang lemah. Ia benci terlihat lemah.

 

“apakah kau masih memegang janji itu?”

 

“…………….” Hening, jujur Yesung tidak mau berkata sepatah katapun. Karena tak dipungkiri, ia hanya takut perkataan yang ia ucapkan adalah dusta yang sangat besar.

 

“jangan membuat penantianku kecewa..” Yesung semakin terasa terjepit, disatu sisi perasaan namja itu tengah bergelut dengan ambigu. Ia masih waras untuk tidak membawa kekasih ketempat dimana ada istrinya. Tapi Yesung hanya ingin menjadi lelaki tegas. Ia bosan terus menyiksa 2 wanita ini, bagaimanapun Yesung juga ingin menjalani hidup normal dengan 1 hati.

 

 

“Jihyeon ah… aku ingin mengataka –“

 

“stt… tidak. tidak ada yang perlu dibicarakan, tetap seperti ini. Maka aku akan baik-baik saja” Jihyeon semakin merasa teriris. Ketakutannya kini telah menjadi kenyataan. Dan ia tak mau. Setidaknya ia harus mencoba egois menghadapi dunia yang egois ini.

 

“dengar kan aku! Kuharap kau mengerti” Yesung melepaskan dekapan Jihyeon, namja itu kini memegang kedua bahu yeoja itu, menatapnya dalam. Dan ditatapan Jihyeon kini bukan tatapan penuh rasa memiliki lagi, tapi tatapan ambisi dan obsesi.

 

“aniyoo…, tidak! aku tidak mengerti! dan Tidak akan mau mengerti!”

 

“PARK JIHYEON !”

 

“kau membentakku , huh?! . sudah cukup aku hanya bertahan, hanya menunggu. Ketika aku merasakan sebuah ambang keputus asaan, aku akan melakukan sebuah hal!”

Jihyeon memandang penuh ambisi menggebu kearah Yesung. Ada yang berbeda ditatapan Jihyeon ini, dan tatapan EunSeo.

 

“jangan seperti ini, Jihyeon yang kukenal adalah wanita yang bisa hidup dengan baik”

 

“tidak jika tanpamu” Jihyeon kembali menyulutkan beberapa pertengkaran besar didepan pintu rumah Yesung. Setidaknya sampai saat ini, Tuhan masih berbaik hati tidak menambah untuk kesekian kalinya tekanan hati yang EunSeo alami. Cukup ia bergulat dengan rasa sakit yang kini tidak bisa ia tahan lagi. Hingga pada akhirnya Yeoja itu ambruk dengan kondisi yang menyedihkan, sakit ini membuatnya sangat tersiksa.

 

Tangan yeoja itu terus menggapai sesuatu yang bisa ia gunakan untuk meminta pertolongan. Jika mengingat jalan hidupnya, seharusnya mati adalah pilihan yang tepat, tapi tidak untuknya. Karena ia selalu percaya, alasannya untuk hidup lebih besar ketimbang alasannya untuk mati

 

“cukup” raut wajah Yesung berubah membeku. Namja itu menatap kosong kearah Jihyeon membuat Jihyeon menggeleng tak percaya. Tidak mungkin..

 

“oppa… kumohon jangan katakan, aku – aku tak keberatan meski harus menunggumu seumur hidup. Asal –“

 

“aku sadar, yang kau rasakan padaku bukan cinta. Tapi obsesi”

 

“jangan bodoh! Jangan bodoh Kim Jong Woon.” Jihyeon menggoyangkan pelan kedua tangan Yesung dengan tangis putus asa . Namun sayang lelaki itu nampak tak bergeming.

 

“……………”

 

“katakan…tolong katakan bukan karena dia.. bukan kan?” Jihyeon menyentuh kedua pipi Yesung dengan air mata yang berderai. Sebagai seorang gadis, ia seakan lupa harga diri,  merebut suami orang dengan terang-terangan.

 

“…………..” hening, Yesung sendiri tidak mengerti. Semakin ia menepis arti hadir EunSeo dihidupnya, semakin besar pula Yesung merasakan arti kehadiran wanita itu. Wanita yang lemah namun selalu memasang sosok tangguh. Wanita yang sebenarnya rapuh, namun tetap memaksakan untuk kuat.

 

“ada hal yang membuatku serasa ingin mati saat ia tersiksa demi diriku”

lontaran ungkapan Yesung membuat tubuh Jihyeon merosot. Inilah, saat dimana bom ketakutan itu meledak. Meledak menghancurkan semuanya. Menghancurkan penantian dan harapannya.

 

“OPPAAAA…” Jihyeon bertriak saat Yesung berbalik menuju kedalam rumah. Siapa kira namja itu kini tengah meneteskan air mata. Yeoja yang dulu selalu ia lindungi kini menangis karena dirinya, wanita yang selalu ia pertahankan kini ia lepas begitu saja. Kurang jahat apakah dirinya sekarang? Apa lelaki bodoh sepertinya pantas hidup? Yaa……. Dia masih pantas hidup untuk mengakui bahwa kini ia akan berhenti menjadi lelaki bodoh lagi. Kini yang memilih bukan insting atau pikirannya. Tapi hati. Saat hatinya kini telah memilih. Memilih 1. Hanya 1 hati.

 

Yesung menaiki dengan cepat tangga rumahnya, ada sedikit rasa takut saat ia tak bisa mengucapkan bahwa dirinya sangat berarti, dirinya yang Yesung inginkan, dirinya yang Yesung utamakan. Dan Hanya SONG EUNSEO seorang. Bukan yang pertama, atau kedua, ketiga, dan seterusnya, tapi Song EunSeo adalah yang utama.

 

“Seo ya…” nafas Yesung seakan putus hingga keurat-urat nadinya, pikirannya tidak mampu terkoneksi dengan baik saat melihat tubuh wanita yang dulu selalu nampak kokoh dan tegap, kini telah tergeletak begitu saja dihadapannya. Sekujur tubuh Yesung terasa berat dan sulit menopang dengan keseimbangan yang benar,. Masih terus memandangi dengan pikirannya yang terus ia koneksikan bahwa ini hanya mimpi. Mimpi yang akan membuatnya berjanji saat bangun nanti akan membuat istrinya sebagai seorang ratu dihatinya, tidak ada yang lain.

 

“seo ya..” lirihan itu kecil, namun sangat berdampak besar pada hati Yesung yang seakan meledak histeris melihat tubuh didekapannya kini adalah nyata. Nyata bahwa wanita yang tergeletak dengan darah dari kedua telinga dan hidungnya. Mata yang terpejam seolah menempatkan Yesung di situasi gelap. Batinnya benar-benar tidak seimbang sebagai seorang hakim yang seharusnya kuat, tangguh,  lalu kini? Ia tak lebih dari sebuah puing yang terbawa angin kecil saat melihat wanita ini tergeletak begitu saja.

 

“SEO yaa!!” entah dari mana kekuatan namja itu, kini ia bangkit dengan berang, tak memperdulikan pecahan guci yang terinjak akibat perbuatan EunSeo tadi. Menuruni anak tangga serasa seperti terbang. Keinginan besar agar yeoja inibertahan, dan bisa tahu kalau dirinya bukan hanya istri semu. Tapi ia adalah istri hati dan istri nyata Seorang Kim Jong Woon. Agar ia berhenti meganggap dirinya tidak penting, jika nyatanya ia sangat berarti melebihi apapun.

 

“bangun atau aku yang mati!” kemeja namja itu nampak urakan, dengan bercak darah segar disekujur tubuhnya,

 

namun baru saja lelaki itu hendak membuka pintu, beberapa aparat kepolisian menunggunya.

 

 

 

“anda kami tahan , Hakim Kim , atas tuduhan menerima uang suap atas kasus nyonya Sang Hanji”

 

 

LEMAS, tubuh namja itu seakan lunglai, lihatlah seberapa efek yeoja ini dihidupnya, bahkan ia melupakan masalah pelik yang sudah menimpanya sejak 2 hari yang lalu.

 

 

 

“beri aku waktu. Sehari saja” Yesung bersujud sembari menggendong tubuh sang istri didekapannya. Semua aparat kepolisian panik bercampur kaget akan kondisi orang dihadapannya. Pertama kali dalam hidup mereka melupakan bahwa ini adalah hakim KOREA, hakim yang selama ini selalu diatas dan dielukan, kini menangis dan bersujud.

 

“sedetik saja, kumohon…”

 

“ya tuhan, yangmulia…!” beberapa aparat seolah melupakan bahwa Yesung adalah tahanan. Mereka masih menaruh rasa hormat tinggi pada namja ini. Tidak dipungkiri. Semua aparat kepolisian tidak pernah percaya tentang tuduhan itu. Bagaimanapun mereka sudah mengenal Yesung melebihi tugas bayangkara mereka.

 

“apa yang kalian tunggu, cepat tolong yangmulia” sungguh semua etos bumi Yesung serasa berhenti berputar, saat tubuh EunSeo ditolong oleh beberapa aparat, namja itu terhempas lemas kelantai, menerawangi langit-langit rumahnya. Klise cepat adegan kecil mereka selama beberapa bulan ini terputar . memorial indah yang membuatnya mengerti arti kehidupan.

 

 

 

 

 

 

 

 

‘_ketika aku pergi, kuharap tuhan memberikanku sedetik waktu untuk berkata bahwa kau  sangat berarti. 

Mendengarmu memaafkanku, mendengarmu menerimaku, mendengar juga bahwa aku sangat berarti untukmu._’ –AKU MENCINTAIMU –‘ 

(Kim Jong Woon)

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

_____________________o0o___________________

 

 

 

 

 

 

23 MARET 2013 , Gyongju – South korea

 

 

 

 

Musim semi yang indah telah berganti menjadi musim salju, bahkan kini telah memasuki masa akhir musim penghujan. Menunggu mata hari terbit dan mendapati musim semi yang indah lagi. 4 bulan bukan waktu yang singkat , beberapa moment sedetik saja sudah sangat amat berarti. Dan ketika hari penuh kegelapan dan keombangan antara hidup dan mati. Kini mata sayu EunSeo telah kembali menatap terangnya dunia.

 

“aigooo saeng`ie, apa orang koma itu sangat lapar?” –HYUNRI- kenapa bisa yeoja itu sekarang malah akrab dan menyuapi EunSeo ? 2 gadis yang hanya berselisih beberapa bulan itu awalnya memang tak seakrab ini. Tapi memang dasar, image sok serius dengan jalan pikiran yang sejalan membuat JongKi tidak menyesal membawa wanita yang 11/12 lah dengan adiknya.

 

“itu, tambahkan sedikit selada” EunSeo menunjuk dengan sedikit rengekannya. Meski baru sadar kemarin, namun rupanya ada kenyaman tersendiri dihatinya saat diperlakukan semacam ini oleh seorang kakak –wanita-

 

“ini? Baiklah,. Aaa…” JongKi terkikik sendiri didepan pintu saat membawa beberapa buah apel untuk adiknya.

 

“bagaimana? Apa sudah terasa lebih baik? Aigoo.. kalau saja kau tidak dioprasi, entah apa yang akan terjadi”

 

EunSeo tidak menyahut, ia hanya mengangguk.

 

“aigooo,…. Aigoo jadi kau melupakanku setelah ada dia?” JongKi pura-pura merengut kesal kearah adiknya, sudah barang tentu EunSeo malah semakin menjadi.

 

“nde, sebaiknya aku memiliki eonnie yang pengertian dari pada oppa yang menyebalkan”

 

“kakakakakaka :D” Hyunri tak kuasa mendengar ucapan EunSeo, ada rasa senang dan bangga saat dirinya disambut dengan baik semua anggota keluarga JongKi.

 

“tidak ada yang bisa kau tertawakan, nonna Hwang”

 

HyunRi seakan ingin melempar sendok kearah kekasihnya. Kekasih? Okey… its true.

 

“dimana Yesung?” sebenarnya orang yang paling ia nanti dan ia ingat saat membuka mata adalah nama itu. Pertanyaan yang selalu ia tahan adalah tentang Yesung. Tidak mungkin jika namja itu tidak muncul semenjak ia sadar. Sesibuk apa sebenarnya dia?

 

“……………” hening, kini Hyunri malah melempar pandangan seolah agar JongKi lah yang menjawab. Tentu saja itu membuat EunSeo curiga

 

“dimana Yesung?”

 

Mata JongKi bergerak pelan, sebelum ia tersenyum sebentar. “ah… dia sedang ada dinas keluar kota”

 

“aku paling benci kebohongan” baik dipihak JongKi dan Hyunri sendiri sangat terkaget-kaget dengan ucapan EunSeo, seakan JongKi lupa, kalau adiknya bukanlah wanita bodoh yang gampang dibodohi.

 

“……………….”

 

“jawab. Jangan membuatku seperti orang bodoh”

 

 

HyunRi akhirnya membuka suara sembari menggenggam tangan EunSeo. “dia dikantor polisi”

 

“apa?”

 

 

 

 

 

____________________o0o____________________

 

 

 

 

 

 

 

POLICE OFFICE, – Cheondamdong , South Korea

 

 

 

 

 

“kuharap anda masih bisa bersabar menunggu waktu persidangan. Aku berani bertaruh, jika itu hanya sebuah fitnah” seorang polisi membuka sel dimana Yesung tengah ditahan. Wajah namja itu nampak pucat pasi. Seharusnya ia memiliki sebuah ambisi untuk mencari bukti lebih dalam lagi, tapi dilubuk hatinya , ia merasa berat, mengingat kenyataan bahwa wanita itu menderita sebuah penyakit yang parah, tapi dirinya tak tau apapun bagai orang bodoh. Dan kini yeoja itu belum sadar sama sekali. Perasaan apa yang bisa Yesung rasakan selama 4 bulan mendekam dibalik jeruji ini? Seharusnya ia mendampingi EunSeo, tapi apa? Mengapa waktu tak pernah berpihak padanya?

 

“tuan Kim…” polisi itu memanggil Yesung dengan nada prihatin. Pasalnya hakim ini seolah diam dan diam. Tak membela kalau dirinya difitnah.

“ada yang ingin bertemu denganmu” polisi itu menghembuskan nafasnya berat.

 

“istrimu sudah berada diruang tunggu” mata Yesung langsung menajam, seolah menajamkan pendengarannya juga. Tunggu. Polisi itu berkata apa tadi? Istrinya?

 

 

 

 

_____________________o0o____________________

 

 

 

 

 

Hening. Kini 2 insan yang bersuami istri ini tengah diam. Diam namun saling menatap satu sama lain. Tatapan berbeda namun berarti sama, tatapan berbeda namun sama-sama menyiratkan amarah dan kerinduan. Hati EunSeo bergemuruh melihat kondisi namja yang selalu menghakimi penjahat, namja yang selalu dielukan, namja yang dulunya berkepala besaar , kini mendekam ditempat seperti ini, lengkap dengan pakaian semacam ini, dan dengan kondisi seburuk ini. Baik hati dan mata EunSeo seolah menahan, menahan diri untuk tidak menangis, tapi kali ini, EunSeo minta ampun. Ia tak kuat melihat keadaan Yesung, keadaan suaminya.

 

“bodoh”

 

“…………….” Yesung diam, ia tak membalas cacian, atau bahkan umpatan tajam wanita ini, entah apa yang EunSeo kira tentang masalahnya, tapi yang Yesung tau, EunSeo kini tengah menahan air mata.

 

“idiot”

 

“………………….” Jika Yesung bisa menggambarkan bagaimana berbaur sudah hatinya, melihat wanita yang sempat lemah tak berdaya , kini telah kembali , tak perduli ia akan mencaci, menghujat, atau bahkan memukul sekalipun, Yesung akan terima.

 

“kenapa kau sangat bodoh, huh??!!!” Demi matahari yang meruntuh, kini EunSeo tak kuat lagi menahan tangisannya, yeoja itu untuk pertama kali bergumam pelan dengan wajah yang merah padam. Menunjukan sisi lemahnya dihadapan Yesung seperti ini.

 

“mian_nhae….”

 

 

GREEP

 

 

Yesung menarik EunSeo kepelukannya, merengkuhnya disela isakan yang menyiratkan kepedihan. Kemarahan EunSeo seolah memuncak kelewat dari sangkarnya. Kemarahan ini lebih besar ketimbang kenyataan perselingkuhan Yesung. Kemarahan ini didasarkan karena –karena bagaimana bisa dengan bodohnya tidak bisa membela diri meski pada kenyataannya ia bisa.

 

“bodoh” hanya kata-kata itu yang sanggup EunSeo katakan, menyesalkan sebuah perasaan yang kini sulit ia lukiskan, sebuah rasa rindu, kecewa, amarah, menyesal, semuanya berpadu padan dihatinya. Jika bisa, EunSeo ingin mengulang semuanya. Sesakit apapun ia memaksakan bertahan dengan Yesung dulu, EunSeo hanya ingin bersama Yesung. Dengan atau tanpa hati namja itu.

 

“aku merindukanmu” udara terasa berhenti lengkap dengan kedamaian dihati EunSeo. Sebuah kehangatan yang sulit ia gambarkan memeluk sekujur tubuhnya. Menghirup aroma yang selama ini ia inginkan dan rindukan. Berbaur dengan sebuah ungkapan yang EunSeo nantikan.

 

“sangat merindukanmu” sebuah bisikan kecil membuat hati EunSeo semakin terasa terkikis, EunSeo yakin kesehatan Yesung tidak sebaik yang orang kira. Suaminya tengah menderita, dan terpukul.

 

“…………………”

 

“kau sudah baikan?” Yesung melepaskan pelukannya, memandang lekat wajah istrinya dari jarak yang amat dekat. Bisakah Yesung meminta tambahan waktu? Nampaknya ia,  karena beberapa polisi yang bertugas hanya menundukan kepala. Entah mengapa mereka juga merasakan sebuah deburan haru melihat adegan Yesung dan EunSeo. Bahkan dengan sadar, beberapa polisi nampak saling memberi anggukan, bertanda membiarkan mereka melepaskan kerinduan selama yang mereka inginkan. Inilah bukti rasa hormat mereka pada seorang Kim Jong Woon.

 

EunSeo mengangguk, ia mengusap sedikit poni Yesung yang sedikit memanjang . Jujur, penampilan namja ini jauh dari biasanya, rambutnya memanjang, memiliki mata panda, dan wajah yang semakin menirus lengkap dengan kondisi tubuh yang semakin kurus

“apa kau tidur? Mandi dengan rutin? Makan dan minum dengan teratur? Dan –dan selalu hidup dengan baik?”

 

“tidak. Aku tak bisa makan dengan teratur, karena tidak ada masakanmu. Tidak mandi dengan rutin , karena tak ada yang menyiapkan air panas, Tidak tidur nyenyak, karena disini sangat dingin, dan tidak bisa hidup dengan baik tanpamu”

mata EunSeo semakin sayu, wanita itu mengusap pelan bahu Yesung lalu menatapnya dengan berbinar.

 

“kalau begitu, hiduplah dengan baik. Karena aku sudah kembali” Sungguh ribuan bintang tak mampu melukiskan keindahan Hati Yesung. Namja itu hanya mengusap sedikit tangis bahagia yang ia rasakan. Inikah sosok istrinya? Bisakah Yesung menyangkal jika EunSeo sudah menerimanya? Memaafkannya?

 

“tetaplah seperti ini, maka aku akan hidup dengan baik” Yesung memeluk erat istrinya, membuat EunSeo membalas pelukan itu dengan sangat erat.

 

“Apa kau percaya padaku?” Yesung memegang kedua bahu EunSeo, seolah meminta sebuah jawaban. Tidak perduli apa yang terjadi, ia hanya perlu EunSeo mempercayaiannya, maka Yesung akan berusaha bangkit kembali.

 

“melebihi siapapun” jawaban EunSeo kembali membuat Yesung memeluk tubuh istrinya. Kerinduan dan kegelisahan sudah sirna , tak ada yang bisa menutup detik-detik harapan kebahagiaan yang Yesung inginkan. Keinginan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah, dan kembali kesisi EunSeo untuk melindunginya setiap waktu.

 

 

 

‘_ketika aku merasakan arti hadirku dihidupmu, 

Maka saat itu kau sudah membuatku sadar akan arti kehidupanku_’ –AKU DAMAI UNTUKMU-

(Song EunSeo)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

– (T) HAN RIVER-

 

 

 

 

 

“ada apa?” EunSeo memasang raut dingin saat menghampiri Jihyeon yang terduduk diam menghadap kosong kearah sungai, wanita itu hanya tersenyum dipaksakan saat melihat EunSeo menghampirinya.

 

“kita bertemu lagi”

 

EunSeo membuang pandangan saat kini Jihyeon mendekatinya dan duduk disamping yeoja itu, “kau pasti sangat terkejut mendengar keadaan oppa, ketika kau sadar”

 

EunSeo hanya diam. Sejujurnya ia merasa bersalah atas perasaannya. Jika EunSeo simpulkan , tidak mungkin Jihyeon mengajaknya bertemu tanpa sebuah hal yang penting.

 

“apa kau merasa 7 tahun itu bukan waktu yang singkat?” Jihyeon memandang kosong kearah sungai, merasakan amarah dan emosi yang meletup. Jika perasaannya tidak tertata dengan baik, maka ia tak berjanji bisa menahan emosi untuk tidak menikam yeoja ini. Yeoja yang secara tidak langsung membuatnya kehilangan Yesung.

 

“apa yang kau inginkan?”

 

“aku tidak mau apa-apa, jawab saja pertanyaanku”

 

EunSeo memandang Jihyeon, berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi,

“aku tidak mengerti”

 

“benarkah?” Jihyeon memicing pelan, sebelum akhirnya yeoja itu mencengkram erat lengan EunSeo, tentu saja yeoja itu hanya diam. Ia hanya ingin tau apa yang terjadi sebenarnya. Meskipun ia tak mengenal Jihyeon secara keseluruhan, tapi EunSeo merasa Jihyeon adalah wanita yang baik , hanya saja ia kesepian.

 

“lepaskan” untaian ucapan EunSeo membuat Jihyeon melepas genggaman itu dengan pelan.

 

“mi –mian nhae”

 

“kesepian membuatmu jengah dengan waktu yang mempermainkanmu. Hingga dengan bodoh kau bisa diperbudak ambisi dan obsesimu. Sulit membedakan mana cinta dan mana obsesi” perkataan EunSeo seolah bagai batu hantaman dihati Jihyeon, buku-buku tangan yeoja itu mengepal sempurna. Sakit hatinya semakin ditorehkan begitu saja.

 

“kau –“

 

“Memaksakan yang sebenarnya bukan keinginan hatimu. Bahkan membuat penderitaan dipihak yang kau inginkan. Obsesi menutup jalan mimpimu ke dalam masa depan yang sesungguhnya. Masa depanmu yang jauh lebih baik dari ini. Masa depan yang tidak memintamu untuk menanti, tapi masa depan yang datang hanya untukmu”

 

Air mata Jihyeon seolah tidak terbendung lagi, hati yeoja itu muak dan marah. Keangkuhan perasaan EunSeo yang sejujurnya tidak bermaksud menorehkan luka lagi didiri Jihyeon. Tapi ia hanya ingin agar yeoja itu lepas dari segala obsesi percumanya.

 

“CUKUP! AKU MUAK PADAMU!” Jihyeon bangkit meninggalkan EunSeo yang menutup mata , yeoja itu menerima segala umpatan Jihyeon. Entah apa yang bisa membuatnya berani melakukan ini. Apa karena Yesung? Bukan, tapi karena perasaannya pada namja itu.

 

‘mianhae…’ lirihan EunSeo disertai dengan tarikan nafasnya yang berat, seolah lupa pada sang kakak yang tengah menunggunya didalam mobil.  SongJongKi.  Jangan ditanya lagi, JongKi tau, amat sangat tau apa yang menimpa adiknya. Perselingkuhan, kegagalan, hambatan, hampir banyak hal. Jangan sebut lagi semua rasa sayang yang luar biasa hingga JongKi ingin menggantikan sosok eomma untuk EunSeo.

 

Sejenak arah pandang JongKi mengikuti langkah yeoja yang dihampiri adiknya tadi, dan ia nampak berbicara dengan seorang yeoja, yang _____

 

 

“DAIN ah!” Tubuh JongKi terhenyak kebelakang jok, kondisi bathinya terlonjak melihat siapa yeoja yang ia lihat. Tidak. Tidak mungkin itu Dain. Tidak mungkin… tidak..

 

Namun apadaya, sebesar apapun JongKi menolak, namja itu akhirnya keluar dari mobil dan berlari menghampiri sebuah mobil diseberang sana.

 

“bunuh dia! Bunuh!” Jihyeon memukul-mukul pelan tubuh Dain dengan tangis yang semakin besar. Hasrat dirinya tengah berada dalam kebingungan. Gila dan pysco. Ia tak perduli dengan semua yang terjadi nantinya. Hatinya merasa diremas dan diinjak oleh EunSeo. Niat keragu-raguannya kini telah berganti menjadi tekad. Tekad menjauhkan yeoja itu selamanya dari Yesung. Jika ia tak bisa memiliki Yesung lagi, maka tak satupun bisa memiliki namja itu. Obsesi? Terserah! Ia sudah muak dengan semua orang yang menyudutkannya. Bahkan dunia pun serasa mengucilkannya.

 

Sedangkan Dain? Yeoja itu hanya menatap miris dan remeh kehadapan Jihyeon yang histeris membabi buta. Kadang diambang kebodohan, masih ada keidiotan.

 

“menyingkirlah dari sini” Dain melangkah memasuki mobil, saat yeoja itu mencoba menancap gas, seseorang ikut masuk kedalam mobilnya.

 

“Hey! Siapa ka –“ Sungguh hati Dain terasa terbentur saat melihat sosok dihadapannya, seorang lelaki yang kini malah merebut kendali mobil dengan membabi buta.

 

“apa yang kau lakukan! Hentikan! Hentikan! Kau bisa menambraknya!” tangan Dain bergetar saat melihat siapa yang berada disampingnya. -SONG JONGKI –  namja yang membuat hidupnya terjungkir seperti ini, namja yang membuat dirinya masuk kejurang sakit hati yang berujung neraka hidup. DIA! Sekarang berada disampingnya.

 

“kumohon dain ah.. cukup aku! Jangan sakiti adikku! Hentikan mobil ini, hentikan!” JongKi mencoba meraih kendali, tapi Dain seolah semakin menekan gas mobilnya.

 

ADIK? Adik katanya? Sungguh dunia Dain terasa semakin suram. Ditengah air matanya yang menganak sungai, yeoja itu sempat tertawa pysco. Ini yang ia takutkan, saat hatinya ingin berbalik haluan dan melupakan dendam hanya karena kehadiran sosok namja ini.

 

“hahaaahahahahahaha, mati kau! Mati!” Dain semakin menginjak pedal gas dengan membabi buta, mengarahkan stir kearah EunSeo yang masih terduduk dipinggir sungai. Seolah melupakan bahwa ia tengah berebut kendali dengan JongKi. Namja itu semakin kalut. Antara keterkejutan dan tindakan ini, ia tidak bisa berfikit jernih,

 

“Mianhae.. mianhae.. jangan lakukan itu padanya. DAIN ssi!  Cukup! Hentikan mobil ini!” JongKi menginjak rem, namun BLONG! Apa yang terjadi? Bahkan Dain masih belum sadar akan hal itu, ia masih terus menekan gas dengan kerasnya.

 

“saranghae…saranghae… aku mencintaimu… aku mencintaimu!!” JongKi memeluk dengan sarat memohon, ia siap menerima hukuman akan tindakannya dahulu, Menerima balasan sakit hati hingga membuat yeoja selembut Dain seperti ini. Ia siap, Cukup sudah jika pada kenyataannya ia telah menyakiti Dain. Tapi tidak untuk adiknya. Ini gila!

 

Sementara itu, seorang yeoja tengah berlari mengejar mobil, entah setelah segala perenungan, ia menyadari. Hidup yeoja itu adalah hidup Yesung. Jika tanpa EunSeo, Yesung akan mati. Semua perkataan Yesung bagai klise dipikiran Jihyeon. Menyadarkan bahwa ia memang mencintai Yesung. Bukan obsesi lagi. Perkataan EunSeo seolah membuka matanya, sakit yang EunSeo rasakan kini ia rasakan sendiri. Ia tak sanggup membuat Yesung menderita, ia mencintai Yesung. Bukan obsesi.

 

“andwee…andwee…” TERKUNCI! Dain malah semakin menggila mengunci setiap pintu mobil, setidaknya Lelaki ini tidak mencoba menggagalkan semuanya. Persetan dengan remnya yang tidak berfungsi. Pikirannya sudah terselimuti dendam dan bara api. Ketika mangsa sudah didepan mata, hati Dain seolah beku! Iblis merasuki jiwanya.

 

“SEO YAA!!!!!!!! ANDWEEEEE!!!!!” JongKi bertriak keras membuat EunSeo sadar dan berbalik, mata yeoja itu membesar saat melihat sebuah mobil melaju dengan cepat kearahnya.

 

 

 

 

 

 

“AAAAaaaaaaaAAAAAAA!!!”

 

 

 

BRAAAAAAAAAAK

 

 

BYURRRRRRR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘_wanita bukan seseorang yang lemah, ia akan lebih kuat saat iblis dan dendam menyatu padu dalam hatinya. Menutup pintu hati dengan beribu dendam bara api. 

Saat semuanya berhenti, menyatu menjadi puing-puing nyawa di api kematian.

Membuat cintaku menyatu dineraka penuh dendam_’

-AKU , MENGIKATMU-  (Dain)

 

 

 

‘_Lelaki punya seribu kebusukan ilahi. Maafkan rasa cinta yang sulit kukendalikan

Cinta yang kuabdikan diperasaan untukmu seorang.

Penyesalan ini terpaut membunuhku,

Ketika aku menyadari semuanya terlambat, dan tak ingin lagi mengorbankan mereka yang tetap mencintai kekuranganku_’

-I STILL LOVE YOU- (Song Jong Ki)

 

 

 

 

‘_Ketika aku menyadari makna cinta yang sebenarnya,

Aku berpaling membuang semua ambisi dan obsesi, 

Menghentikan semua penderitaan dan kejenuhan penantian,

Dengan tidur damai melihat kalian tersenyum diruang lingkup kasih sayang-

-MIANHAE- (Park Jihyeon)

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

13 thoughts on “Protect Our Married ‘Part 9’

  1. wah… konfliknya benar2 rumit… saat cinta muncul ternyata banyak masalah yang mengikuti….. kasian banget yesung yg difitnah… lungling karena mengetahui kondisi istri yg sebenarnya… tp nasib eunso malah tambah parah ato gimana ya?? trus kalo song jongki masih mencintai dain, giama ma nona hwang ya??? wah cinta segitiga nya double nih…

    lanjutannya jangan lama2 ya thor… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s