IDOL MAID (Part Ending)

 

IM10

TITLE                      : IDOL MAID

LEGHT                   : 10 TAKE

RATE                      : M

CASTS                   :

KWON JAEJIN

YONG JUNHYUNG

LEE GIKWANG

GENRE                  : COMEDY ROMANCE

AUTHOR              : ssha

 

 

“Maafkan aku”

“Jaejin… aku menyukaimu”

Jaejin lantas menjauhkan tubuhnya dan menatap Junhyung. Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain.

Jaejin perlahan mulai membuka mulutnya dan menatap Junhyung tidak percaya. “Jeongmalyo??”

IDOL MAID

LAST TAKE

“Euhm… seperti apa rasanya?” Junhyung melirik kearah Jaejin yang kini duduk terpakur disampingnya dengan tatapan yang begitu lembut.

“Apa yang harus aku katakan?” Jaejin nampak bingung dan masih menampakkan ekpresi datar seperti biasanya.

Asih jinjja!” Junhyung mengendus kesal seraya sedikit menundukkan kepalanya frustasi. Jaejin terdiam dan berganti melirik Junhyung yang masih menundukkan kepalanya nampak masih frustasi. Sedetik kemudian sebuah senyuman terpatri diwajahnya saat ia melihat Junhyung.

Neo…!” Jaejin menyenggol Junhyung dengan sikutnya.

Mworago?” tanya Junhyung malas.

Ya! Apa kau sekarang sudah berubah!!” Jaejin memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Junhyung.

Mwo?” Junhyung mengangkat kepalanya dan menatap Jaejin bingung yang kini tengah tersenyum padanya.

“Bagaimana caranya menyambut orang yang hilang selama lebih dari 10 tahun?”

Mwo?

“Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada?”

Mwo?

“Hash..” Jaejin mengertakkan giginya dengan kesal. “Tidak adakah kata lain selain ‘mwo’?” Jaejin mempraktikan cara bicara Junhyung dan kini menatapnya dengan kesal. Ia kemudian kembali membuang muka dari Junhyung dan kembali terpakur menghadap lurus kedepan.

Ya~ sekarang kau marah padaku?” tanya Junhyung datar. Jaejin tak bergeming. Ia memilih diam dan mengacuhkannya.

“Lihat aku!” pinta Junhyung. Jaejin terdiam dan memilih memainkan ujung rambutnya. Junhyung nampak kesal.

“Lihat aku! Aku adalah superstar! Kau mengabaikan seorang artis?” Jaejin sama sekali tidak mengubris ucapan Junhyung, ia masih asik dengan kegiatannya sendiri. Junhyung menatap Jaejin kesal. Memperhatikannya yang terus memainkan rambut dengan tampang innocentnya. Sedetik kemudian sebuah senyuman terpatri diwajahnya saat ia melihat Jaejin.

“Oh… kau marah karena aku tidak menjawab pertanyaanmu?” Junhyung menyengol Jaejin pelan dengan sikutnya.

Ani..

“Kau ingin aku mengatakannya sekali lagi?”

Shireo!

“Ahahaha… tentu saja aku memikirkanmu” Junhyung tertawa begitu puas seraya menyenggol Jaejin dengan kuat dan tanpa sengaja berhasil menjatuhkan Jaejin kelantai.

Ommo!!!” Jaejin tersontak begitu Junhyung menjatuhkannya semudah itu. Jaejin menatap Junhyung sinis.

“Seharusnya orang sepertimu sudah lenyap dimakan rayap!” dengus Jaejin terdengar kesal.

Mwo?” Junhyung menghentikan tawanya mendadak dan menatap Jaejin yang tengah dalam posisi menopang tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Aku rasa aku salah memilih orang” Jaejin menarik tubuhnya sekuat tenaga. Junhyung segera membantunya bangkit dan nampak begitu bersalah.

“Aku tidak tahu jika aku sekuat itu. Maaf ya”

Aish…” Jaejin memukul-mukul bahunya yang terasa nyeri. Junhyung tersenyum kemudian merogoh saku jaketnya. Jaejin melirik sebuah tiket yang ada ditangan Junhyung.

“Untukmu!”

“Apa?” Junhyung menarik tangan Jaejin dan membukanya. Ia lantas menyimpan tiket diatas telapak tangan Jaejin. Dengan ragu Jaejin melirik tiket tersebut.

“10 lebih kita tidak bertemu, selama itu aku berfikir jika aku benar-benar harus melupakanmu. Saat aku teringat suara gemirik hujan entah kenapa wajahmu yang selalu terbesit dibenakku” Junhyung memotong ucapannya kemudian tersenyum hambar.

“Terdengar berlebihan, ck… !” ia kemudian menjauhkan tangannya dari pergelangan tangan Jaejin setelah melihat Jaejin hanya menatap tiket nampak tak bersemangat.

“Datanglah” pintanya. Jaejin menatap Junhyung yang kini mulai mengalihkan pandangannya dan menatap lurus kedepan.

“Sebagai permintaan maafku, datanglah tepat saat konser berlangsung. Aku ingin seseorang yang begitu spesial dihatiku dapat melihatku bernyanyi diatas panggung” jelasnya. Jaejin terdiam dan kembali melirik tiket tersebut.

“Kau harus datang tepat waktu. Jangan datang terlambat atau menunggu ku diluar. Karena aku akan sangat marah”

***

Gikwang terus mengayuh sepedanya disepanjang jalan dan melewati sungai Han yang terlihat tenang. Wajahnya kini terlihat sudah mulai seidikit agak tenang setelah masalah yang ia lalui dengan Jaejin.

Selama perjalanan tidak ada satu senyumanpun yang ia lewatkan. Dalam hati ia berkata. Tidak selamanya mencintai harus memiliki, ada saatnya dimana kita harus merelakan orang yang paling kita cintai didunia. Melepaskannya untuk terus pergi dan mengaliri aliran air.. aliran yang akan menemukannya pada palabuhan terakhirnya. Melapaskan Jaejin? Melepaskannya sama artinya dengan aku membuatnya bahagia. Membiarkannya bertemu dengan seseorang yang lebih pantas dengannya.

Jika kau bertanya apa yang hatiku rasakan? Pasti aku akan menjawab, aku kesepian. Mungkin… seseorang akan mengobati rasa sepi itu dan membuatku bahagia. Seseorang yang pasti akan aku temui, baik nanti atau…. Sekarang…??? Sekarang???

Gikwang menghentikan laju sepedanya kasar. Wajahnya berubah mendadak menjadi tegang saat ia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat dihadapannya dan menghalangi jalannya.

Ia semakin terkejut begitu seseorang keluar dari mobil. Yoojung keluar dari dalam mobil dan tersenyum begitu ceria pada Gikwang.

 

Yoojung tak hentinya menatap Gikwang yang kini berdiri disampingnya. Angin bertiup lembut dan membuat Yoojung terpana saat wajah Gikwang tersentuh oleh rambutnya yang menari diterpa angin. Yoojung segera mengalihkan pandangannya dan menatap ke ujung sepatu botnya.

“Kenapa bisa kita bertemu lagi ya?” tanya Yoojung memulai percakapan. Gikwang segera menengok dan melihat Yoojung.

“Kau sedang sibuk?” Yoojung mengangkat wajahnya dan nampak panik.

“Aku… aku tidak sibuk” Yoojung membuang napasnya dan kembali tersenyum lega.

“Kau kenapa?” Gikwang terlihat bingung.

“Mwo?” Yoojung kembali menatap Gikwang. Keduanya kini terdiam dan saling memandang satu sama lain. Yoojung melirik kearah tangan Gikwang yang sedang menarik sepeda dengan tangannya. Yoojung mulai menggerakkan tangannya dan mendekatkan pada punggung tangan Gikwang yang menempel di stang sepeda. Yoojung segera mengurungkan niatnya begitu Gikwang berjalan menjauhinya dan menepikan sepeda ditepian sungai Han.

“Aku rasa kau tidak boleh melewatkan hal seperti ini” Gikwang tersenyum lebar dan menghadapkan tubuhnya kehadapan hamparan sungai Han, ia menegadah dan menunggu matahari tenggelam. Yoojung mengawasinya dari belakang dan berjalan mendekati Gikwang.

“Apa yang selalu kau lakukan?”  tanya Yoojung setibanya disamping Gikwang. Senyuman Gikwang menghilang, ia menoleh dan menatap Yoojung.

Gikwang diam dan memilih tidak menjawab pertanyaan Yoojung. Yoojung sedikit tertunduk dan tersenyum manis. Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Gikwang.

“Ani…” ucapnya meralat ucapan. Gikwang masih menatap Yoojung yang tersenyum dengan manis.

“Mwo?” senyuman Yoojung perlahan menghilang begitu melihat wajah Gikwang yang berubah menjadi sangat serius.

Beberapa detik mereka terdiam dengan fikiran masing-masing. Yoojung masih menatap Gikwang dengan bingung. Gikwang tak lepas memandang Yoojung dihadapannya. Sedetik kemudian Gikwang mengalihkan pandangannya dari Yoojung dan berjalan mendekati sepedanya. Gikwang buru-buru menaiki sepeda dan mengayuhnya menjauhi Yoojung.

Yoojung terkejut melihat Gikwang yang pergi begitu saja darinya. Ia berbalik mengikuti kepergian Gikwang. Yoojung terdiam dan melihat Gikwang yang pergi dengan cepat dari hadapannya.

Gikwang terus mengayuh pedal sepeda dengan cepat. Ia terlihat tidak bisa mengontrol emosinya. Gikwang kemudian menghentikan laju sepeda diperempatan jalan. Ia terdiam dan mengatur napasnya yang tak beraturan. Gikwang terdiam dan mulai merasakan ada yang aneh semenjak pertemuannya dengan Yoojung tadi, entah apa yang membuatnya seperti ini hingga jantungnya berdegup cepat. Perlahan sebuah senyuman terpatri diwajahnya.

***

Jaejin kini sedang berdiam diri dikamar, ia terus membalikkan badannya kekiri-kekanan. Ia terus mencoba untuk tidur tapi rupanya itu hanya sia-sia. Jaejin beranjak dan duduk dengan lemas. Jaejin terdiam ia melihat keatas ranjang tingkatnya. Jaejin tertunduk lemas begitu menyadari Jaewon kini benar-benar telah tertidur.

“Sekarang bahkan kau terridur disaat aku butuh teman curhat” keluh Jaejin. Jaejin lantas turun dari ranjangnya dan berjalan mendekati meja belajar. Jaejin tersenyum begitu ia melihat seragam pelayan yang masih ia simpan. Jaejin duduk dan mengusap baju tersebut dengan lembut.

Ia ingat bagaimana cara Junhyung memberhentikan Jaejin bekerja, ia juga ingat bagaiman ekpresi yang ia tujukan saat mengucapkan kata perpisahan sebagai seorang majikan. ‘Aku tidak bisa berkonsentrasi jika kau adalah pembantu dirumahku. Sejahatnya aku sebagai Junhyung yang kau kenali aku tidak dapat membiarkan jantungku terus berdegup kencang saat kau berada sedekat ini denganku. Maka dari itu pergilah, agar jantungku bisa sedikit lebih tenang…

Senyuman Jaejin masih terpatri saat ia mengingat ucapan itu. Jaejin kemudian melirik ponselnya dan melihat sebuah panggilan. Tanpa menunggu waktu yang lama, Jaejin segera mengangkat panggilan tersebut.

“Ne..?”

“Hanya itu yang kau ucapkan?” Jaejin tersenyum begitu mendengar suara disebrang sana.

“Mworago? Kata apa yang harus aku katakan?”

“Aku menyukaimu”

“Mwo?” Jaejin terkejut mendengar permintaan Junhyung.

“Aku tidak bisa mengatakannya”

“Kau tidak bisa? Kau ingin membunuhku?”

Ani… karena kau orang jahat makannya aku tidak ingin mengatakan itu padamu”

Aish… kalau begitu keluarlah dari kamarmu sekarang juga”

Mwo?

Ppali…!” desak Junhyung

Eodiseo?” tanya Jaejin mulai panik.

“A… na yeogisseo” jawab Junhyung santai. Jaejin segera bangkit dan mendorong kursi dengan kasar.

“Eo… eodi… yeogisseo ppali malhaebwa!

“Ah… bayanganmu terlihat begitu… seksi..” rayu Junhyung.

Michyeo… na yeogisseo?” bentak Jaejin semakin tak karuan. Jaejin segera membuka mulutnya dan bersiap meneriaki Junhyung, namun panggilan tersebut terlebih dahulu terputus dari mana rencana Jaejin. Jaejin nampak kesal, ia kemudian melirik kesekitar. Tidak mungkin ia bisa menyelinap kedalam. Jaejin lantas melirik kearah jendela.

Beberapa detik kemudian Jaejin membuka jendela. Benar saja, Junhyung sedang berdiri diluar sana. Senyuman Junhyung seketika memudar begitu melihat wajah Jaejin yang terlihat sangar.

 

Junhyung terdiam dan menatap Jaejin yang kini berada dihadapannya, lengkap dengan kacamata dan topi yang menutupi penyamarannya. Jaejin menatap Junhyung datar.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jaejin. Junhyung terkejut.

“Datang semalam ini kenapa kau menyambutku dengan tidak baik?”

“Kau menganggu tidurku!”

“Geurae? Bukankah kau tidak bisa tidur?”

“Apa..? k… kau…” Jaejin nampak kehabisan kata-kata. Junhyung tersenyum melihat Jaejin yang kebingungan. Junhyung lantas menarik tangan Jaejin dan mengenggamnya. Jaejin terkejut, dan ia semakin terkejut saat Junhyung menariknya pergi.

Junhyung tersenyum saat Jaejin berjalan bersamanya seperti ini, Jaejin melirik kearah tangan mereka berdua yang kini saling berpegangan. Jaejin sedikit berusaha melepaskan genggaman Junhyung, namun Junhyung segera menahannya.

“Tetaplah disini dan jangan pergi” ucap Junhyung. Jaejin terdiam dan mengurungkan niatnya. Jaejin terlihat sedikit gugup saat ia berjalan berdua dengan Junhyung.

Mereka berdua kini berjalan mengitari jalan sekitar rumah Jaejin.

“Kau….” Jaejin memotong ucapannya. Ia sedikit tertunduk malu.

“Mwo?”

“Apa kau…” lagi-lagi Jaejin memotong ucapannya.

“Apa sekarang kau gugup?” goda Junhyung.

“A… ani… na… aish” Jaejin semakin gugup dibuatnya. Ia kembali menundukkan wajahnya dan terdiam.

“Jaejin-ah” pangil Junhyung.

“Hmmm??” tanya Jaejin yang masih menundukkan wajahnya.

“Apa kau…” Junhyung terdengar sedikit ragu. Jaejin terdiam dan menunggu ucapan Junhyung. Junhyung menelan ludahnya perlahan, dan sekarang nampak Junhyung yang lebih gugup daripada Jaejin.

“Apakaumencintaiku?” tanya Junhyung cepat dengan ala rappnya. Jaejin segera mengangkat wajahnya. Junhyung menghentikan langkahnya diikuti Jaejin. Mereka saling membalikkan badan dan menatap satu sama lain.

“Apa jawabanmu?” tanya Junhyung penasaran. Jaejin terlihat kebingungan dan berfikir.

“Tadi kau tanya apa?” tanya Jaejin polos. Junhyung nampak kecewa, ia mengendus kesal.

“Ani…. Lupakan!” ucap Junhyung kesal. Ia kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Jaejin. Jaejin terdiam dan melihat Junhyung yang pergi meninggalkannya. Junhyung terlihat kesal dan sedikit marah pada Jaejin, ia mempercepat langkahnya.

“Aku menyukaimu…” Junhyung menghentikan langkahnya. Ia nampak terkejut. Jaejin berbalik dan menatap punggung Junhyung, ia tersenyum.

“Kau datang dimalam hari seperti ini, mengendap seperti seorang maling. Dan berusaha mengatakan sesuatu… sebelum kau menanyakannya, aku ingin terlebih dahulu menjawab. Geurae…! Naega joahaneun.” Jelas Jaejin panjang lebar. Junhyung membalikkan badannya dan menatap Jaejin, ia terdiam. Jaejin tersenyum dan melihat Junhyung yang masih nampak kebingungan.

***

Gikwang berdiri didepan rumah Yoojung dan menunggunya keluar rumah. Ia melirik arlojinya dan melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah 8 pagi, sudah satu setengah jam ia berdiri disini.

Gikwang lantas membalikkan badannya begitu ia melihat seseorang membuka gerbang. Gikwang tersenyum saat Yoojin berjalan keluar. Yoojin menyadari kehadiran seseorang, ia melihat kearah Gikwang dan menatapnya dengan tenang.

“K… kau? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoojung terkejut.

“Yoojung” pangil Gikwang. Yoojung membelakakan matanya begitu ia melihat Gikwang yang berjalan mendekatinya dan tersenyum dengan lebar.

“Aku tidak bisa menundanya lagi. Aku tidak bisa membiarkan ini larut semakin lama dan menyulitkanku. Jadi… aku ingin berkata yang sejujurnya.” Ucap Gikwang terdengar santai.

“K… kau. Apa kau salah minum obat?”

“Yoojung”

“Hah… setelah kemarin kau meninggalkanku, lalu sekarang kau ingin meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu. Pulanglah dan beristirahat” Yoojung kemudian berjalan meninggalkan Gikwang yang masih menatapnya penuh harapan. Yoojung berjalan mendekati mobilnya dan bersiap membuka pintu.

“Yoojung aku menyukaimu” ucap Gikwang cepat sebelum Yoojung benar-benar menghilang dari pandangannya. Yoojung mengurungkan niatnya dan nampak sangat terkejut. Ia terdiam. Perlahan, Yoojung menatap kearah Gikwang.

“Entah kapan dan sejak kapan aku mulai menyukaimu. Yang jelas saat ini aku merasa kau adalah satu-satunya wanita yang ada dihatiku. Saat kau pergi menjauh rasanya hatiku terasa sangat kosong. Aku juga… aku juga merasa jika…”

Gikwang membelakakan matanya saat tubuh Yoojung memeluknya begitu erat hingga ucapannya terhenti. Yoojung tersenyum bahagia mendengar ucapan Gikwang.

“Neo…” ucap Gikwang gelagapan.

“Kau…” Yoojung tak hentinya tersenyum bahagia, dan kali ini ia mulai mengeluarkan cairan bening dari matanya. Gikwang terdiam, ia mulai menggerakkan tangannya dan ia letakkan dipunggung Yoojung.

***

Suara dentuman musik masih terdengar di sekitar area konser bertajuk LIVE TO LOVE. Seketika terdengar jeritan dari para gadis-gadis yang tengah menyaksikan konser tersebut. Ketika lampu padam dan kembang api melesat ke udara dengan cepat, dan untuk kali ini konser diakhiri dengan sangat mengagumkan.

“Yong Junhyung~~~~~~~!!!!!!!!!!!” suara menyeruak dari seorang bertubuh gembul yang tengah berlari disekitar koridor gedung konser berlari tergesa-gesa. Dari arah berlawanan terlihat seorang pria yang menggunakan kacamata hitam yang menutupi matanya sontak menghentikan langkahnya diikuti oleh sekumpulan orang yang berjalan dibelakang namja itu.

“Junhyung-ah..!” pria gembul itu menghentikan langkahnya dihadapan orang yang ia pangil Junhyung.

“Wae irae?” Junhyung membuka kacamata hitamnya dan menatap –manager Hong- yang tengah mengatur napasnya yang tidak beraturan.

“Ah~~~ seseorang sedang menunggumu diluar” manager Hong menegakkan tubuhnya dengan susah payah setelah berhasil memperbaiki napasnya.

“Seseorang?” Junhyung memastikan.

“Tepatnya seorang gadis”

“Gadis?!?!??” kali ini Junhyung berteriak terkejut.

“Ah~~ pasti dia, sudah ku katakan jangan menemuiku sekarang..” manager Hong memutar badannya begitu Junhyung melewatinya dengan dingin.

“Kau mau kemana? Hey~~~!” teriak manager Hong, namun Junhyung tidak mengiraukan ucapannya dan terus berjalan menjauhi manager Hong.

 

Junhyung menghentikan langkahnya begitu ia melihat sesosok gadis yang berdiri tegap membelakanginya, dengan jaket bulu yang melindunginya dari dinginnya angin musim dingin dan dengan rambut hitam gelam tergerai begitu indah.

Gadis itu nampaknya merasa kesal akan kedatangan Junhyung yang begitu lama, ia terkadang menggerak-gerakkan kakinya ketanah.

“Sudah kubilang kau jangan datang sekarang”

“Mwo?” yeoja itu terperanjat kaget. Junhyung berjalan mendekatinya, seketika ia tersenyum saat mendekati yeoja itu.

“Begitu tidak sabarnya kah kau bertemu denganku?”

“Oppa…” yeoja itu membalikkan badannya, Junhyung berhenti beberapa meter dari yeoja itu dan mengernyitkan sebuah senyuman. Dilihatnya yeoja itu yang kini berjalan dengan anggun mendekatinya.

“Ish… kau memanggilku seperti seorang yang sudah tua” Junhyung tersenyum begitu Jaejin berjalan kearahnya. Jaejin memberikan seikat bunga pada Junhyung.

“Sudah ku katakan, kau jangan datang disini. Apa tempat konser begitu sangat kecil untukmu?”

“Maaf, aku harus datang keacara Gikwang dan Yoojung. Aku benar-benar minta maaf” Jaejin nampak bersalah dan meminta maaf dengan tulus.

“Kau sangat menyebalkan” Junhyung menarik bunga dari tangan Jaejin. Jaejin hanya tersenyum manis menghadapi Junhyung.

“Junhyung-ya…………….!!!!!!!!!!!!” Junhyung dan Jaejin segera menoleh begitu ia mendengar jeritan fan yang meneriakinya dari arah pintu keluar area konser. Mata Junhyung membulat begitu ia melihat gerombolan fan wanita berlari kearahnya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jaejin panik.

“Geurae… ini yang sudah lama ku nantikan” ucap Junhyung yang terus mengawasi arah kedatangan fan fanatiknya.

“Mwo?” Jaejin terkejut dengan ucapan tidak masuk akan Junhyung.

“Pegangan yang erat” ucap Junhyung. Jaejin kemudian menerima genggaman tangan Junhyung. Mereka berdua lantas berlari menghindari kejaran fan. Gerombolan fan terus mengejar Junhyung yang berlari menghindar. Nampak manager Hong yang berlari keluar, ia menghentikan langkahnya saat melihat gerombolan fan berlari mengejar Junhyung.

“Sudah kukatakan… Yong Junhyung…” ucap manager Hong geram yang melihat kelakuan Junhyung yang tengah kucing-kucingan dengan fan.

Berbalik dengan manager Hong, Junhyung dan Jaejin nampak menikmati kejar-kejaran ini. Junhyung lantas melempar bunga kesembarang arah dan mempercepat larinya.

Junhyung melirik kesamping dan menemukan sebuah gang sempit. Ia lantas menarik Jaejin untuk bersembunyi menghindari kejaran fan. Mereka berdua berhasil bersembunyi saat fan melewati mereka berdua.

Junhyung nampak sedikit terlihat lega setelah berhasil bersembunyi, ia kemudian mengatur napasnya yang tak beraturan.

Junhyung mulai melirik kesamping, ia menyadari jika Jaejin tidak ada disampingnya. Junhyung terlihat mulai panik dan berjalan mencari Jaejin.

“Jaejin-ah” pangilnya. Tidak ada jawaban.

“Kwon Jaejin!!” serunya berteriak. Junhyung kemudian mengambil ponselnya dan menelfon Jaejin. Jaejin tidak mengangkatnya, Junhyung nampak cemas dan khawatir. Saat ia akan pergi menari Jaejin tiba-tiba.

PLAK! Sebuah kaleng minuman mendarat ditenguk lehernya dengan mulus. Junhyung kesakitan, ia membalikan badannya. Junhyung terkejut saat ia melihat Jaejin yang kini berdiri dihadapannya.

“Kemana saja kau?” tanya Junhyung cemas.

“Kaleng minuman” tunjuk Jaejin pada kaleng yang berada dibawah kaki Junhyung. Junhyung melirik kebawah. Ia kemudian tersenyum saat melihat gambar seekor beruang bersama anak kambing.

“Baboya” ejek Jaejin. Junhyung menatap Jaejin. Ia kemudian melangkah mendekati Jaejin dan menatapnya dengan lekat.

“Jaejin-ah”

“Hm?”

Mereka berdua kemudian saling pandang satu sama lain, tak lama kemudian sebuah senyuman terpatri diwajah mereka berdua hingga senyuman itu berubah menjadi sebuah tawa.

 

Jaejin kecil melihat iba pada Junhyung yang tengah duduk berjongkok didepan rumahnya. Badannya kebasahan akibat hujan yang sempat menguyurnya. Jaejin mendekati Junhyung dan melihatnya yang mengigil. Junhyung yang menyadari kehadiran Jaejin segera meliriknya dengan sinis.

Jaejin segera membuka isi tasnya dan mengeluarkan sebuah minuman kaleng.

“Minumlah… ini akan menghangatkan tubuhmu. Kau terlihat jelek jika kau menangis seperti itu. Kau terlihat seperti anak kambing” Junhyung menerima minuman kaleng tersebut. Jaejin tersenyum. Ia kemudian berjalan meninggalkan Junhyung dengan ceria. Junhyung terkejut saat Jaejin pergi meninggalkannya. Ia ingin berteriak tapi tenggorokannya terasa sakit. Junhyung membiarkan Jaejin pergi meninggalkannya, yang ia lihat saat Jaejin masih dihadapannya adalah sebuah coklat yang ia genggam ditangan kirinya.

The End

P.S          : Eothae? Gaje? Gak menarik? Biasa aja? Gak WOW?? Hehe maklumlah, author lagi galau mikirin Gikwang sama Junhyung ^^v. akhirnya terkesan gantung dan gak greget? Tenang… author emang sengaja bikin yang gantung-gantung, pengen nyobain end yang gantung kayak drakor gitu deh. Hehehe biar bikin semuanya minta ada season 2 *cie author kepedean*. Yaudin… dari pada hati gendok gegara end yang kurang sesuai harapan silahkan komen dan like. Ppali nde ^^ GOMAWO~~

 

4 thoughts on “IDOL MAID (Part Ending)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s