Protect Our Married ‘Part 6’

 

POM6

Title : Protect Our Married ‘6’

 

 

Gendre : MIX

Rating : PG – 17 /straight

 

Author : ArVi

 

 

Twitter : @ivedeira

Fb : arie devi

 

Cast : 

• Kim Jong Woon

• Song EunSeo

• Jung Yunho

• Park Jihyeon evelyn imbhi

• Dain

 

Suport cast : 

• Song Jong Ki

• Hwang HyunRi 

 

P/S : beberapa karakter aku pelajari dari hyeahkim. 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

‘kadang kala, 

Kebahagiaan bukan saat kita hidup dengan orang yang kita cintai,

Tapi, kebahagiaan saat bersama dengan orang yang mencintai kita’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dedaunan berhembus sendu, mengarakan suara gemericik air pertamanan. Dikalau senja menyapa seharusnya Yunho sudah beranjak dari tempatnya ini, namun mengapa kakinya seolah tak mau menurut, dipikirannya hanya ada seribu pertanyaan tentang takdirnya yang gila dan ambigu.

“kenapa harus aku?” Yunho memlintir pucuk bunga kamboja yang sempat jatuh dihadapannya. Meyakinkan  sebuah hal konyol jika menghitung 5 kelopaknya dengan pilihan ya atau tidak.

“kenapa kita?” pertanyaan entah untuk siapa, yang jelas dia tengah menatap konyol air kolam dihadapannya.

 

Belum talu hati dan pikirannya mengingat pernikahan EunSeo, berlanjut mengingat pertengkarannya dengan Yesung yang seolah membuatnya bagai lelaki yang ambisius, menginginkan istri orang. Oh baiklah, ia sudah kembali ke karakternya yang terlalu realistis. Setengah jam yang lalu ia mengetahui fakta bodoh bahwa Hyunri adalah kekasih Song JongKi. Entah permainan apa yang mereka mainkan sehingga nama Jong Ki bisa menjadi Kang Maroo?. Entahlah, ia menyerah, menyerah memikirkan urusan orang. Toh urusan dan hidupnya menjadi terbengkalai. Intinya ia akan melupakannya. Benarkah? Ia tak yakin.

 

 

 

 

 

 

_____________o0o______________

 

 

 

 

 

“aih, kenapa kaku sekali?” EunSeo dengan sendirinya mengurut persendian lututnya. Semenjak aksi dorongan -2hari- yang lalu, ia merasa bagai orang lumpuh.

 

“masih susah digerakan?”Yesung membawa air kompresan, ia benar-benar bagai perawat wanita yang gagal, karena toh ia lelaki. Mana bisa menjadi perawat wanita tulen? Khakha

 

“apa yang kau tertawakan?”

 

“n-nde?” tawa EunSeo yang ditepis tadi benar-benar seperti tawa gadis psikopat gila.

 

“kita akan pergi”

 

EunSeo menguap pelan, sial, Yesung selayaknya pemijat ulung.

“kemana?”

 

“NOWON”

 

“kapan?”

 

Yesung mengambil air dan mengompres lebam dilutut EunSeo. Kejadian ini secara tidak langsung terjadi akibat perantaranya. Well, ialah yang harus menebusnya kan? Tapi jika dilihat-lihat, jari-jari kaki EunSeo panjang dan putih. Bahkan Yesung tidak puas jika hanya melipat celana panjang Kain EunSeo sampai diatas lutut. Ia ingin _ Lebih keatas? 0.o

 

 

“2 hari lagi”

 

EunSeo menguap, ia mengantuk jika lama-lama dibalkon rumah ini, entah efek kompresan dan pijatan hangat Yesung atau apa.“eum.. hoahem, untuk ap_”

 

“Bulan madu”

 

“MWO?!”

 

“YA! Apa yang kau lakukan!” Yesung terciprat air kompresan akibat tendangan dan aksi kilat EunSeo yang terperanjat.

 

“mworago? B-bulan madu?”

 

 

 

 

 

 

 

 

____________o0o___________

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

‘tak ada yang salah menunjukan bahwa kamu peduli tentang seseorang,

Yang salah adalah mengharapkan dia melakukan hal yang sama’

 

 

 

 

 

 

“songsangnim, aish,,.. neo jinjja!” seorang gadis mungil berdecak dihadapan kamar mandi, ia dengan gusar dan komat-kamit tak jelas didalam kamar mandi  universitas sembari mengusapkan lipsbloos bening ke bibirnya. –GALAU- entah bagaimana dan mengapa penyakit musiman negara tetangga sebelah kini malah sudah bersarang di Korea. Dan khususnya sudah menyerang dia duluan.

 

“hiyaa.. eothokaji? Kajimaaa Songsangnin…” ia merengek tak jelas dikaca, melihat apakah ia masih sexy dan cantik walau merengek nantinya, yaa semacam –akting-.

 

“argh! Bukan-bukan, itu terlalu kekanakan. Begini saja. Ekhem” gadis itu mengatur nafas dan mulai mengeluarkan kemampuan aktingnya. Tidak salah ia masuk jurusan seni.

 

“Songsangnin, you know..you know? I Love You” nampak alisnya bertaut sebentar, sebelum akhirnya ia menyerah dan menyandarkan diri didinding depan wastafel.

 

“susah sekali, aigoo… bagaimana mungkin kau tak merasakan pesona seorang Park SaeJin! Aku ini siswi tercatik, terhebat, tersexy, bahkan__”

 

“bahkan sayangnya guru Song jauh lebih cantik, sexy, dan hebat darimu” Saejin menoleh saat melihat seorang siswi yeoja juga masuk, dan membenarkan penampilannya dikaca itu juga.

 

Saejin memalingkan wajah, malas melihat aksi berSexy ria NamJo dicermin. Ia suka sekali pamer alat make up. “bukan urusanmu”

 

Namjo mengeluarkan bedaknya, lalu mulai memoles. “yaa.. setidaknya aku menunjukan perhatian dengan mengingatkan obsesi gilamu. Ingat siapa dia, siapa kita, dan siapa yang diinginkannya. Yaah walaupun aku sudah tau kabel otakmu selalu kusut, setidaknya aku akan selalu berusaha membenarkannya, dan membuatnya normal. Musuhku”

 

“ciih.. keluar kau!”

 

“aigoo… lihatlah dirimu, bagaimana mungkin kau bisa mengharapkan lelaki se-Sempurna guru Jung. Bahkan wanita sesempurna guru Song pun tak bisa. Tsk”

 

“bisakah kau diam dan lekas pergi nonna Nam?” Saejin terus memalingkan wajahnya.

 

“sayangnya tidak” NamJo dan Saejin memang terkenal bebuyutan dalam hal cari perhatian sekaligus sensasi. Dan sama-sama menginginkan dosen mereka. Siapa lagi kalau bukan –JUNG YUNHO- bahkan meski diam, dalam hati mereka, selalu membuka persaingan dengan EunSeo yang tak tau apaapa. Aigoo…

 

 

“eeh” Saejin nampaknya sedang badmood, malas menghadapi NamJo. Ia lebih baik pergi.

 

“tapi___ untuk saat ini, apa kau punya target baru yang bisa kurebut? Kurasa Jung Songsangnim akan pergi dan lebih memilih melanjutkan usaha tunggalnya ketimbang disini. Yang nyatanya orang yang selalu membuatnya bertahan sudah pergi”

 

 

DEG

 

 

DEG

 

 

Hati Saejin mencelos.  Semua yang NamJo katakan 100 persen benar, ia memang bodoh, memiliki perasaan berlebihan atas perhatian kecil seorang guru. Dan masalah bukan hanya dia saja. Lalu apa jadinya jika Yunho memang benar-benar akan hengkang dari Fakultas mengingat EunSeo sudah tak disisinya. Apalagi alasannya jika bukan menghindar. Dan Saejin rasa itu lebih baik ketimbang sakit hati selalu melihat orang yang dicintai sudah dimiliki sepenuhnya oleh orang lain.

 

“geurom… kau tau? 78% yayasan Inhwa ini milik Song sajangnim. Ia lebih berkuasa atas fakultas ini ketimbang Jung Corp. yeaah meskipun dari segi manapun mereka selalu bersaing dan JungCorp lah pemenangnya, tapi dalam hal fakultas ini mereka kalah. Kau tau kenapa?”

 

Saejin tak merespon, tak juga pergi. Ia serasa terpaku akibat ucapan-ucapan kecil NamJo yang lama kelamaan semakin real.

 

“itu karena Guru Jung akan melakukan segala hal untuk guru Song. Tak percaya? Coba saja sekarang kau berbuat nekat dengan alasan cinta buta. Contoh , Kau membunuh Guru Song agar memisahkan mereka. Maka detik berikutnya Guru Jung akan menikammu, lalu ia bunuh diri. Realitas kan? Hey, jangan sebut cinta itu buta jika hanya sekedar cinta sementara. Kau belum tau sakitnya mereka berdua Park Saejin” NamJo perlahan berjalan keluar, mendekati Saejin yang tergagu didepan pintu.

 

 

“Guru Song dan Guru Jung akan merasakan suatu kehampaan besar, dan berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan. Asal kau tau, aku dikubu Guru Song!” seolah drum yang bertalu, membabi buta didada Saejin, bahkan dengan hati tertohok menarik tangan NamJo yang hendak berlalu.

 

“apa maksudmu?! Kenapa kau bertingkah seolah tau segalanya huh?”

 

“karena Cinta bukan hanya bagaimana kau pandai berakting membuat air mata atau mengawetkan sekaligus menyembunyikan kebohongan. Tapi sebaliknya, Cinta itu ketika kau bisa menyimpan air mata, dan menyembunyikan rasa sakit. Aigooo… Guru Song! Saranghae! You’re my Imajinasion!!!!!!” NamJo berlari dengan ringan. Kisah cinta 2 guru bersejarah itu mampu membuat kedewasaannya terbuka. hahah

 

 

Sementara itu Saejin masih TERGAGU

 

1 kata yang mampu melukiskan kondisi Saejin sekarang. Bahkan NamJo juga mengakui kelebih Seorang Song EunSeo. Lalu apa lagi yang bisa harapkan? Kesempurnaan EunSeo membuat harapannya meredup dan pupus.

 

 

 

‘Bahagia itu, bukan berarti segalanya sempurna

Karena bahagia adalah ketika kamu melihat sesuatu secara sempurna’

 

 

 

 

 

 

2 hari berlalu, hari ini berbeda, karena kedua kaki EunSeo terasa dan terlihat sembuh. Itu semua karena perawatan intens seorang Kim Jong Woon. Memang aneh, namun

itu kenyataan, cuti 1 minggu pun ia ambil demi Istrinya. Tak salahkan? Lalu apa masalahnya? Yaa tergantung jika kalian mengingat keberadaan 2 pengacau yang mungkin akan datang secara tiba-tiba. Entah sang pengacau baik, -Jihyeon-, atau si pengacau iblis –Dain-? Mollaseo… lihat nanti. Intinya dalam menyikapi sebuah cinta, kita perlu proses.

 

 

“kau memilih villa?”

 

 

Yesung mengangguk sembari memasukan kunci kelubangnya, “kau tak suka?”

 

 

“lebih dari kata suka” Yesung tersenyum. Ternyata pilihannya untuk menolak hotel tidak buruk, hanya saja ia bosan merasakan pelayanan hotel yang terkesan monoton. Ia ingin nyaman di alam terbuka.

 

 

“haaaaaaaah” Yesung menjatuhkan diri di kasur, menegadahkan diri menghadap keatas, ia berharap penatnya akan segera hilang. Liburan kali ini lumayan mensejukan otaknya yang merumit kesegala arah. Dan berujung di konflik cintanya.

 

“villa ini dibooking appanim berapa hari?”

 

“5 hari” EunSeo terhenyak. Mereka? 5 hari berdua? Untuk apa? aigooo

 

 

“ada balkon juga?” EunSeo bergumam sembari memasukan pakaian mereka kelemari. Jika 2 hari sudah Yesung mengurusnya, lalu apa salah jika ia akan mengambil alih tugas itu lagi. Seorang istri yang pas.

 

 

Yesung bergerak dan terduduk di balkon , angin sepoi berhembus segar, membuat namja itu kontan memejamkan mata, dia merindukan seseorang. Jihyeon. Tak dipungkiri, Yesung bertanya, apa dia lelah saat latihan? Apa dia sudah makan? Dan lain sebagainya.

 

 

“udaranya lembut” sejak perhatian Yesung 2 hari yang lalu, Entah sesuatu terasa mengubah hati EunSeo, mengubah cara pandangnya pada Yesung.

 

 

“bisa aku memelukmu?”

 

 

“nde?” alis EunSeo tertaut, sembari menatap wajah Yesung dengan mata yang terpejam, memastikan bahwa namja ini  mengingau.

 

“seperti dia”

 

DEG

 

Demi apa, jantung EunSeo terasa berpacu menatapi Yesung tersenyum kehadapannya, ditambah mengapa kini hidungnya seolah merasakan bau maskulin namja ini ?

 

 

“aku ini suamimu, tidakah aneh melihat kau dipeluk orang lain, sementara ak__”

 

 

“arra So!” EunSeo dengan cepat menyandarkan diri di bahu Yesung, membuat namja itu mengulurkan tangannya untuk mendekap bahu tegap istrinya. Menatapi wajah damai EunSeo dengan rambut yang terbawa angin. Sungguh! Meski ia tak pernah menggerai rambut, bahkan tak sejengkal ponipun, gadis ini selalu menawan.

 

 

“maaf, aku bukan bermaksud memukulnya”

 

 

“……………” diam, EunSeo sibuk menikmati alunan angin semilir yang membuatnya sangat nyaman. Ia rindu seseorang. Pelukan seseorang, seseorang yang jauh disana. –Mungkin-

 

 

“aku memang egois, dari kecil, aku selalu mendapat apa yang kumau dengan usahaku. Dan aku paling tidak suka, apa yang sudah menjadi milikku, nyatanya diinginkan juga oleh orang lain”

 

 

“………………………….”

 

 

“ Jihyeon adalah wanita yang selalu menunggu dan bersamaku selama 7 tahun. Bagaimana aku bisa melepasnya? Aku menyayanginya. Kau tau?”

 

 

Mata EunSeo terbuka, namun ia tetap di bahu Yesung, berharap mendengar lontaran fakta yang ingin ia dengar lebih dalam.

 

 

 

“waktu memang mempermainkanku. Dia memerlukan waktu 7 tahun agar aku bisa sulit melepaskannya. Dan kau? bahkan baru seminggu kita menikah, tapi aku sudah tak rela jika Yunho membawamu. Egois kan?” EunSeo membangunkan kepalanya, kembali ia menatap Yesung datar,

 

 

“apa yang kau katakan?”

 

 

“nde? An_aniyo… bukan masalah. Aku keluar sebentar” EunSeo hanya menatap aneh kearah Yesung. Aneh dan aneh, ada apa sebenarnya dengan Yesung?

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

Desiran angin pantai dan terik cahaya, membuat EunSeo memicing. Kemana perginya Yesung, bahkan ini sudah pukul 12 siang. Mengapa ia lama sekali. Menyuruhnya menunggu dipinggir pantai hanya berbekal topi.

 

 

“ige..” Yesung menyerahkan sebotol minuman soda pada EunSeo, membuat gadis itu menggeleng.

 

 

“whe?”

 

 

“aku tidak menyukai soda”

 

 

“ah… mengapa kau tak mengatakannya dari tadi? kau tau aku membelinya sangat jauh. Aissh…” Yesung mengacak rambutnya. Saking linglungnya dia jadi bingung apa yang ia katakan, dan lakukan dengan EunSeo selama 5 hari kedepan. Hanya berdua. Astaga…

 

 

“omo..omo… kau yang tak bertanya pak Kim”

 

 

“Aih… arra! Kajja Kita pulang saja” EunSeo kembali bingung, jika diperhatikan wajah dan raut Yesung lucu juga, seperti ayam kehilangan induknya.

 

 

“kau tak memakai cincin itu?” Yesung terkesiap, tangannya terangkat memeriksa keberadaan cincin pernikahan mereka. Astaga! Ia lupa, saat itu Jihyeon meminta melepaskannya,

 

“ah_ak-aku tidak biasa memakai cincin”

 

 

EunSeo mengangguk, toh ada atau tidaknya cincin itu bukan masalah, ia tau diri jika Yesung tak mungkin bodoh menunjukan cincin itu terang-terangan dihadapan Jihyeon.

 

 

“kau juga” Yesung menebak dan benar, EunSeo juga tidak memakainya kan? Oh baik, kali ini entah mengapa Yesung merasa mati kesal.

 

 

“aku memang tak suka memakai acesoris ditangan, tapi aku memakainya disin_”

 

DEG

 

DEG

 

 

“hey,” EunSeo bergumam pelan, meraba kilat leher jenjangnya. Dimana kalung itu?

 

“haaah , ya sudahlah kita harus cepat kembali” Yesung memasukan tangannya kesaku celana. Meninggalkan EunSeo yang masih bingung, padahal ia ingat betul kalung perak murni pemberian terakhir ny.Song yang bertahtakan cincin pernikahan mereka masih ada tadi, lalu dimana? Tidak..tidak mungkin dilaut ini..”

 

 

“dimana?” Yesung berjengit, menatap aksi EunSeo yang langsung berlari kearah dia duduk tadi.

 

“kau jatuhkan dimana?” Yesung bingung melihat EunSeo kalang kabut, bahkan apa dia bodoh mencari dengan cara seperti itu?

 

“Eommaaa!” pekikan EunSeo membuat Yesung tersadar dari aksi herannya, dan kini ia terlihat panic saat EunSeo sudah memasuki air. Hey!

 

“YA! YA! Apa yang kau lakukan!” Yesung menarik tangan EunSeo kasar, setidaknya dia tidak bodoh masuk keair dengan kemampuan berenang yang buruk.

 

“lepas!” EunSeo berontak, tidak mungkin kalung itu hilang, itu ibunya..

 

 

“KAU GILA?!! Kemampuan berenangmu buruk sekali!” Yesung menarik dengan kencang tangan Eun Seo, membuat yeoja itu menatapnya bengis.

 

 

“lepas kubilang!” ombak semakin besar kini telah menyapu tempat mereka berpijak, peringatan air pasang sudah dikomandoi oleh penjaga pantai, membuat Yesung kalut. Ia tak mungkin membiarkan wanita ini tenggelam sia-sia.

 

 

“tunggu disini, aku yang akan___”

 

 

“YA!!!” Yesung memekik, saat kini genggamannya terlepas, Tanpa babibu, EunSeo langsung melompat keair, mencari disetiap celah, air matanya bagai orang tak waras, memanggil-manggil Eomma , benar-benar kontras dari sosok EunSeo yang sesungguhnya.

 

“Berhenti disana!” Kini Yesung melihat sosok gila dalam diri EunSeo.wanita itu terlalu kalut walau berfikir dengan logika waras, bagaimanapun kalung itu sudah terbawa ombak, kemungkinan sudah menjadi keajaiban jika ia bisa menemukannya.

 

 

“BERHENTI!” Yesung memekik saat kakinya belum menggapai tubuh EunSeo yang kian menjauh,

 

 

 

BYUR

 

 

 

Ombak demi ombak menerjang tubuh istrinya, membuat Yesung semakin gentar, ia berlari dari pesisir hingga ketengah, walau hanya ingin memastikan kaki EunSeo tak menyentuh palung laut.

 

 

 

“Kau dengar! Berhent___”

 

 

 

BYUR

 

 

“Song EunSeo!” Yesung kontan memekik saat melihat tubuh EunSeo terseret ombak, dengan cepat namja itu menarik tangan kaku Istrinya. Kemampuan berenang EunSeo memang jauh dari kata layak.

 

 

“kau gila!!” Yesung menghempaskan tubuh basah EunSeo kepasir dengan sangat kasar, namun Yeoja itu terdiam, masih meresapi kejadian yang hampir saja membuat nyawanya melayang.

 

 

“eomma…” perlahan mata yeoja itu menutup,

 

“hh…” Nafas Yesung memburu terpatah-patah.dengan cepat ia langsung membopong tubuh EunSeo menuju villa mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  ____________–o0o–____________

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21.45 KST. 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Eugh…”Lenguhan kecil terdengar dari dalam kamar, EunSeo membuka matanya, wanita itu memandang kesekeliling. Dia ada dikamar, dan kalung?

 

Astaga! Dengan cepat EunSeo bangkit,

 

 

 

Meski hari sudah 100 persen  benar-benar gelap, yeoja itu bahkan melupakan memakai sandal, ia melompat dari BED, dan menyusuri jalan hingga kepantai itu lagi.

 

 

Sinaran bulan purnama , hanya itu penerang langkah panic EunSeo, ia tak mungkin gila membiarkan benda itu hilang, dari semua kenangan ibunya, hanya itu yang bisa ia miliki sebelum semua barang-barang eommanya dibuang tak bersisa oleh tuan Song.

 

 

“eomma…” meski ragu, kaki tanpa alas itu kembali memasuki dinginnya air laut, seolah melupakan kalau ia baru saja hampir tenggelam.

 

 

Tapi dari kejauhan, ia melihat seseorang tengah berjalan dan mencari sesuatu ditengah laut. Dia namja –YESUNG

 

 

 

“Yesung ah….” Bibir EunSeo bergetar, melihat pemandangan dari kejauhan,  itu Yesung, sekelebat bayangan dari kejauhan itu Yesung. Ya tuhan… mengapa ia ikut gila melakukannya?!!

 

“ARGH!!!!!” Eunseo mendengar pekikan keras, Yesung nampak mendemplak air laut.

 

 

“tidak mungkin hilang…” EunSeo menggeleng, ia tanpa ragu menceburkan diri kedinginnya air laut. Mengesampingkan logika waras mencari benda sekecil kuku diluasnya lautan. Mustahil.

 

 

“jangan hilang…” langkahnya terasa ringan melawan arus laut, ia terus menjamahi pesisir pantai, sebelum sebuah tangan menariknya, menyelungsupkan kepala yeoja itu diantara dadanya yang basah dan dingin. Disana EunSeo bisa merasakan degupan tak teratur dan deru nafas yang memburu. Dingin… tubuh itu sangat dingin.

 

 

“aku menemukannya” kontak EunSeo mendongak, mendapati Yesung yang kini tersenyum sembari menggenggam sebuah kalung perak.

 

 

“Eomma …” Dengan cepat EunSeo memeluk kalung perak itu, melupakan bahwa tubuh Yesung sudah melemah, entah mengapa hawa dingin membuat matanya terasa berkunang.

 

 

“aku menemukannya, Jangan menangis lagi” Yesung terduduk lemas diantara kaki EunSeo, 7 jam sudah ia bergelut diderasnya ombak. Mati? Jika mengingat dinginnya air, ia serasa mati. Tapi saat ia mengingat air mata EunSeo tadi, ia merasa jengah. Apa yang terjadi jika jiwa labil istrinya kembali? Jauh dari kata tegar seperti biasanya. Entah sosok ibu benar-benar membuatnya berbeda, Dia yang tak pernah menangis sekalipun kini terlihat rapuh hanya karena sebuah kalung. Benar-benar membuat Yesung ingin meremas sesuatu.

 

“cincin…” EunSeo memeriksa cincinnya, namun nihil. Mata Yesung menerawang, membelai tangan EunSeo pelan. “gwencana,… yang terpenting kalung ibumu”

 

 

“Gomawo….” Hangat, sangat hangat, tubuhnya yang sudah membeku hangat seketika, jangan ditebak, kini EunSeo tengah memeluk dada Yesung dengan erat, terlepas dari kulit Yesung yang membiru tanpa pakaian.

 

“……………..”

 

 

“Terimakasih,”

 

 

“ terimakasih.. terimakasih… Yesung ah..” Tak henti-hentinya EunSeo bergumam ditengah deburan ombak malam.

 

 

Purnama menyaksikan, inilah pengorbanan pertama seorang Kim Jong Woon.

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

‘Kau takan pernah kehilangan apa yang TIDAK pernah kau miliki”

 

 

 

 

 

“jangan bergerak Yesung ah” EunSeo memeras mangkuk air hangatnya. Sungguh demi apa, suhu panas tubuh Yesung 40 derajat, dengan kondisi badan menggigil parah.

 

 

Ditatapnya setiap lekuk wajah Yesung yang diam dan damai, boleh EunSeo terkejut? Inikah Kim Jong Woon?

 

“terimakasih” Tangan EunSeo terulur menyentuh dahi namja yang tengah tertidur dengan tenang, meski dengan kondisi sedikit menggigil.

 

HAP!

 

Dengan cepat tangan Yesung menangkap tangan EunSeo, namja itu meremasnya pelan, dan meletakannya didada. Mata Yesung perlahan terbuka, menatap nanar wajah EunSeo, entah dia mengingau atau apa, tapi hal itu membuat EunSeo terdiam.

 

“sangat dingin”

 

EunSeo mengerti, ia memposisikan diri terlentang disebelah kanan tubuh Yesung, memeluknya dari arah samping. Bukan sekedar memeluk, tapi juga menyelimuti.

 

“sudah hangat?” suara mereka terkesan bisik-bisik dikeheningan, jika author bilang romantis dan ngarep gimana? #plak! Abaikan

 

 

“hum..” Yesung mengangguk, dan melanjutkan matanya yang terpejam. Malam yang dingin untuk Yesung. Sedangkan EunSeo? Entah mengapa tubuhnya panas dingin dan dagdigdug tak jelas.

 

 

 

 

 

 

 

  _________________o0o_______________

 

 

 

 

 

 

Sinar matahari mengusik mata Yesung yang masih tergulung layaknya susi isi Yesung😀😛, ia tergulung-gulung merasakan rasa hangat yang luar biasa setelah dibiaskan dingin beku kejadian semalam.

 

 

“bangunlah” mata Yesung terbuka saat melihat EunSeo sudah menahan senyum sembari membawa susu hangat dan bubur untuknya.

 

 

“popo…”

 

 

“mwo? Otakmu sudah tertukar batu karang rupanya” Yesung yang mendengar gurauan EunSeo langsung menampar kecil bibirnya sendiri. Aigooo bibir ini selalu tanpa kendali

 

 

“aish.. aku hanya bercanda. Lagipula aku masih mengingat bagaimana rengekanmu semalam memintaku untuk mencari kalung. Aigoo”

 

 

“mwo?! YA! Kapan aku merengek padamu!”

 

 

“kalau bukan karena aku, mungkin kalung itu sudah__”

 

 

“aras so!”

 

 

 

“kkkkkkkk~, Yesung tertawa geli melihat ekspresi EunSeo yang tak bisa melawan. Hahaha rasakan.

 

 

“pakai dulu bajumu, lalu makanlah. Aku akan mandi”

 

 

“sisakan aku air ya.. kau tau, mandi dengan air banyak merupakan pemborosan Rumah tangga terbesar!” Yesung bertriak saat EunSeo memasuki kamar mandi. Mengapa otaknya jahil terus eo?

 

 

“Bukan urusanku!”

 

 

“ingat kunci pintu, atau aku masuk!” kembali Yesung bertriak sambil tertawa, hatinya senang entah karena apa. padahal kemarin ia sempat demam untuk beberapa jam.

 

 

“YA!”

 

 

 

 

 

 

 

_____________________o0o_______________________

 

 

 

 

 

 

 

“aku tampan ya?” Yesung melirik EunSeo yang tengah mengoleskan pelembab diwajah putih pucatnya.

“kau sakit?” Yesung melempar handuk yang sedari tadi ia gunakan mengusap rambutnya yang basah. EunSeo menggeleng, ia mengibaskan tangan menyingkirkan tangan Yesung dengan pelan dari bahunya.

 

“hanya lelah. Aku ingin istirahat”

 

 

Yesung mengangguk, ia mengikuti EunSeo menuju ranjang, menyelimuti yeoja itu hingga sebatas leher. “ish. Berlebihan” EunSeo terkekeh.

 

“aih….besok , bisakah kita jalan-jalan disekitar persawahan?”

 

 

“arras so.” EunSeo tersenyum sebelum akhirnya ia membalikan badan, menarik nafasnya panjang. Jika Yesung tau apa yang baru saja ia rasakan pasti namja itu akan mencecarinya banyak pertanyaan. Yaa.. EunSeo tidak boleh terlalu berharap. Namja itu hanya totalitas menjadi seorang suami. Bukan kekasih hati.

 

“aku akan membeli obat sebentar. Tunggulah”

 

“hum..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Back Sound : After long time ‘Baek Ji Young’ OST rooftop prince)

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepeninggal Yesung, EunSeo bangkit, berjalan menuju pintu belakang villa mereka. Sudah bisa ditebak siapa yang berdiri disana.

 

“Apa kabar?” tanya wanita itu sopan. EunSeo hanya memandang dengan senyum datar. ‘apa kabar’? EunSeo rasa ungkapan itu tidak cocok mengingat mereka sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya.

 

“kita bicara diluar saja” –Jihyeon- mengangguk, jauh dilubuk hati terdalamnya ia tengah tergentar, tak pernah ia bayangkan sama sekali jika sosok Song EunSeo jauh lebih mengerikan ketimbang Dain. Ini pertama kali Jihyeon gugup tanpa alasan.

 

 

“Park Jihyeon”

 

 

EunSeo membalas uluran tangan Jihyeon “aku tau”

 

 

“kau sakit?” Jihyeon membuka suara terlebih dahulu. Jujur ia bingung harus mulai dari mana. Toh ia sudah bela-belakan terbang dan langsung mendarat disini karena perasaannya tak menentu setelah tahu mereka berbulan madu.

 

 

“ harusnya aku yang bertanya, kau  gejalan Typus kan?” bingo! Kini wajah Jihyeon seperti ditembak, EunSeo tersenyum lembut, namun detik berikutnya melempar pandangan hambar kedepan. Jika ia mengaku bahwa lambungnya perih lagi bagaimana? Apa jika kau jadi dirinya akan berusaha menahan seperti ini?

 

“n-nde? Aniyo ak__aku hanya lelah setelah tour kemarin. Dan aku kemari hanya untuk__”

 

 

“jika hanya masalah bulan madu ini, jangan khawatir. Aku masih menghormati keberadaanmu. Aku masuk dulu. Pergilah” hati Jihyeon terasa tertohok, ada semacam paku yang sengaja EunSeo tebar dengan ekspresi dinginnya.

 

 

“Ini Sulit eonnie ya..” Jihyeon untuk pertama kali memanggil seseorang yang pantas ia sebut musuh dengan panggilan hormat. Entah mengapa diwajah EunSeo sulit ditemukan raut ingin merebut seperti Dain. Ia malah terlihat terlalu pasrah. Dan Jihyeon tak mau jika menjadi orang jahat dan membentak-bentak EunSeo seperti Dain.

 

 

“Setelah keluarga Kim, Nenek Kim, Dain,  dan Kau, bahkan mungkin dunia juga ingin menawarkan takdir perpisahan untuk kami” Jihyeon tersenyum pahit. ia berbicara tanpa menatap mata EunSeo yang semakin memburam.

 

“aku takan melepaskannya” jawaban GILA! Yang bagai petir menggelegar ditelinga Jihyeon, bumi seakan runtuh. Bahkan ia memiliki pengharapan besar dari EunSeo. Ia sudah cukup lelah dan sakit menghadapi mereka semua,

 

“Eonnie ya!”

 

“jika melepasnya tidak membuat appa dan harraboji Kim mati. Maka kau kira dari dulu kami dengan hati senang menerima pernikahan ini? Kau berharap ini semacam kisah cinta dalam drama? Sungguh berbeda. Akhir yang manis hanya akan ada dalam sebuah drama. Jadi sekarang pergilah. Hidungmu sudah berdarah”

 

“tidak! Sebelum kau berjanji 1 hal padaku!”

 

“baiklah, lakukan sesukamu” EunSeo masih dengan ekspresi pucat pasi. Ia tak mungkin ambruk ditempat ini, setidaknya ia memerlukan tempat sunyi dan sepi untuk kesakitan, bukan?

 

“kumohon..” perlahan kaki Jihyeon bersimpuh menghadap EunSeo yang memunggunginya. Yeoja itu akan membuang harga dirinya, segalanya, asal EunSeo berjanji akan menyerahkan Yesung lagi.

 

“lepaskan , aggashi” argh.. EunSeo ingin bertriak. Ia tak bisa ambruk disini, tolong jangan… jangan disini..

 

“ak-aku tak bisa hidup tanpa Yesung oppa. Sudah cukup aku resah dan serasa ingin mati menghadapi kekejaman takdir. Aku merasa dipermainkan waktu. 7 tahun aku menunggu, tapi aku tak bisa mendapatkannya juga. Bisakah kau mengerti?”

 

 

“tolong lepaskan tanganmu dari kakiku. Ak_”

 

“aniyo… sebelum kau berjanji kala_”

 

 

“LEPASKAN!” EunSeo dengan kasar mendepakan kakinya, ia sempat melihat Jihyeon  sedikit terplanting , tapi apa boleh buat, ia tak kuat lagi.

 

“JIHYEON ah!” bertepatan saat itu Yesung tiba dari balik pintu, ia hampir mati beku menyaksikan adegan tadi, ini tak mungkin. EunSeo tak mungkin sekasar itu,

 

“op—pa…” mata Jihyeon terpaku tak karuan saat kini Yesung malah menarik tangan EunSeo kasar, saat yeoja itu berbalik, Yesung menamparnya dengan sangat keras.

 

 

PLAK

 

 

“oppa…” Jihyeon menggeleng, entah mengapa ia merasa menjadi pribadi buruk saat ini.

 

“sudah? “ EunSeo kembali berbalik, ia berlari dengan raut datar, entah ia pergi kemana Yesung seolah tak perduli, ia membopong tubuh Jihyeon yang terdiam membeku,  terlebih darah dari hidung Jihyeon membuatnya semakin naik pintam.

 

“tenanglah” Yesung langsung memeluknya, bahkan mengecup pelan puncak kepala Jihyeon.

 

 

Sementara itu , Laju  langkah EunSeo sudah berbeda, ia berlari dengan frekuensi yang semakin melambat, entah mengapa jalan yang ia lalui berputar, kepalanya pusing lagi. Bahkan kakinya yang terluka ikut berdenyut lagi. Ia berjalan tak tentu arah. Yang jelas ia tengah menangis. Menangis? Dalam keadaan genting begini ia masih bisa memikirkan tamparan tadi. Tamparan pertama. Bahkan Yunho tak pernah sekalipun menyentuhnya kasar barang sehelai pun..

 

 

BRUK

 

 

EunSeo jatuh bersandar dibalik pohon, nafasnya yang tersengal dan perih lambungnya kembali terasa. Yeoja itu meremas batang pohon sembari meringis. Selalu seperti ini, sakit dikesepian. Tapi jika mereka tau, ia yakin penyakitnya hanya akan menjadi beban. Beban yang justru membuatnya terkesan lemah. Dan ia tak suka itu.

 

‘aku selalu tau jika kau sakit, Seo ya.. wajahmu itu tak bisa bermain dengan instingku’  EunSeo mengingat sebuah memory perkataan Yunho. Namja itu selalu membuatnya ingin berontak.

 

“argh,,,…” EunSeo kembali meremas kuat batang pohon. Tinggal tunggu ia tertidur dan melupakan sakit sialan ini. Maka saat ia bangun semuanya akan kembali terkendali lagi. Yeah.. begitulah ia biasanya. Penyakit Enzim Enemion yang menggrogoti dinding lambungnya sudah mencapai titik kronis. Bahkan jika EunSeo mau, ia harus dioperasi. Tapi sayangnya ia terlalu cinta dengan kesibukan. Jika dia dioprasi, hanya 45 % tingkat keberhasilannya, dan 55% membuatnya mengalami efeksamping, bahkan jika pihak medis salah dan lalai, bukan tidak mungkin enzim itu akan menyebar kedinding rahimnya, lalu yang terjadi?

 

“heh…” EunSeo tersenyum kecut saat sakitnya berangsur menghilang, ditatapnya kosong hamparan jurang dibawahnya. Rupanya tuhan masih ingin agar dia merasakan pahitnya dunia, bukan malah langsung mengakhiri kehidupan anehnya dijurang ini..

 

 

 

 

 

 

 

Tbc

13 thoughts on “Protect Our Married ‘Part 6’

  1. Jongwoon apa2an sih main tampar aja..gak tau yg sebenarnya pun..sebel bgt..tp d part ini udah banyak scenenya mereka..suka suka..lanjut partnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s