IDOL MAID (Take 9)

 

IM9

Title : Idol Maid

Leght : Chapter

Rate : M

Casts :

Kwon Jaejin

Yong Junhyung

Lee Gikwang

Gendre : Comedy romance

Author : ssha

 

 

Jaejin terkejut, ia menghentikan langkahnya terpaksa. Junhyung menahan pergelangan tangannya cukup kuat. Jaejin mencoba melepaskan cengkraman tangan Junhyung. Namun, Junhyung semakin mempererat cengkaramannya. Junhyung kini menarik tangan Jaejin, Jaejin tertarik dan dengan terpaksa tubuhnya mendekap tubuh Junhyung. Jaejin terkejut.

Junhyung kini memeluk tubuh Jaejin erat, ia mendekapnya begitu erat seakan takut kehilangan Jaejin untuk kesekian kalinya. Jaejin masih terlihat terkejut dengan perlakuan Junhyung.

“Jangan pergi!” perintah Junhyung saat Jaejin akan menjauhkan tubuhnya dari Junhyung.

“Aku sangat mencemaskan mu bodoh! Kau membuatku cemas hingga membuatku sesak bernapas. Kau membuat jantungku hampir copot saat aku mengingatmu. Saat malam, dan pagi hari aku selalu merindukanmu…” Junhyung memotong ucapannya. Jaejin sontak terkejut begitu ia mendengar pengakuan Junhyung.

“Kau…”

“Jaejin aku menyukaimu” Mata Jaejin membulat begitu ia mendengar suara Junhyung yang terdengar begitu jelas ditelingganya.

IDOL MAID

TAKE 9

Dengan ragu Jaejin melirik Junhyung yang kini duduk di jok sebelahnya. Ia segera mengurungkan niatnya begitu ia melihat Junhyung yang kini memutar badannya dan menatap Jaejin. Junhyung terdiam seraya sedikit menyungkingkan sebuah senyuman dibibirnya, ia lantas memajukan wajahnya mendekati Jaejin. Jaejin sedikit terdesak, ia memundurkan wajahnya, namun jok ini rupanya menghalangi kepala Jaejin. Ia semakin cemas saat wajah Junhyung berada sangat dekat dengannya. Jaejin gugup, ia lantas memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.

“Disini area yang berbahaya. Bagaimana jika ada fan yang melihat kita?” tanya Jaejin tanpa menatap Junhyung dan malah melihat maneger Hong yang kini duduk didepan mobil seraya mengawasi keadaan sekitar.

“Apa kau mencemaskan aku? Lagipula kaca hanya terlihat gelap dari arah luar” jawab Junhyung yang semakin mendekatkan wajahnya pada Jaejin.

“Begitukah? Syukurlah kalau seperti itu” jawab Jaejin yang masih gugup.

“Jaejin?”

“Um…?” Junhyung terdiam saat ia melihat kontur wajah Jaejin dari samping, begitu dekat dan sangat dekat.

“Apa kau masih mengenaliku?” Jaejin sedikit terkejut dengan pertanyaan Junhyung. Ia terdiam dan memilih mengabaikan pertanyaan Junhyung.

“Kau mengenaliku?” Junhyung kembali memastikan. Jaejin terdiam dan mulai semakin cemas pada Junhyung yang semakin mendekatkan wajahnya.

BUG…!!! Jaejin mendorong tubuh Junhyung dengan kasar hingga Junhyung sedikit tersungkur. “Ada apa denganmu?” tanya Junhyung sedikit kesal yang terlihat mengaduh kesakitan.

“Cinta antara idola dan rakyat biasa sepertiku tidak akan terjadi dalam kehidupanmu” ucap Jaejin dengan cepat.

“Apa?” Junhyung terlihat kebingungan. Ia terdiam menatap wajah Jaejin yang menatapnya begitu sinis. “Heh…” Junhyung tersenyum simpul.

“Kau datang padaku secara tiba-tiba. Menarik lenganku lalu memelukku ditengah jalan. Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang kau mencemaskanku hingga membuatmu sulit untuk bernapas. Astaga~ kau hampir membuatku percaya dengan semua ucapanmu. Apa ini reality show? Disini tidak ada hidden camera kan?” Jaejin memutar pandangannya dengan cemas kesegala arah, memastikan bahwa tidak ada kamera tersembunyi disekitar sini.

“Jaejin…”

“Aku sudah cukup menderita dengan semua masalah kehidupanku, bisakah kau tidak mempersulit keadaan?” tanya Jaejin mengacuhkan Junhyung yang kini menatapnya. Mata Jaejin terasa sedikit memanas, namun ia berusaha untuk menyembunyikan sorot matanya dari Junhyung.

“Jaejin…”

“Aku harap saat itu adalah pertemuan terakhir kita. Tapi kenapa kau datang lagi padaku?”

“KWON JAEJIN AKU BICARA PADAMU SEKARANG!!!” Jaejin tersontak begitu mendengar Junhyung yang berteriak padanya. Perlahan Jaejin menatap Junhyung yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan padanya. Jaejin terdiam, semakin lama mata semakin terasa perih. Jaejin kemudian meneteskan air mata.

“Bisakah kau menatapku seperti ini untuk waktu yang lama? Kenapa kau selalu menghindar jika aku ingin bicara padamu?” Tanya Junhyung emosi. Jaejin semakin terdiam dan terus meneteskan air mata.

“Apa gadis pembawa coklat ini sudah beranjak dewasa dan melupakan masa lalunya?” tanya Junhyung menyelidik. Jaejin membelakakan matanya.

“Apa maksudmu?”

“Apa 15 tahun berlalu ia telah melupakan hari disaat hujan turun dan kita bercengkrama bersama? Apa dihari itu juga saat hujan reda ia melupakannya dan melanjutkan hidup dengan baik?”

“Aku tidak mengerti ucapanmu”

“Selama 15 tahun aku tidak tahu cara yang tepat untuk berhenti memikirkannya. Walau aku tahu jika gadis itu kini tidak memikirkanku”

“Kau gila!” Jaejin membuang pandangannya pada Junhyung dan segera membuka pintu. Pintu terkunci. Jaejin segera mengurungkan niatnya untuk menarik pengunci saat ia kembali mendengar ucapan Junhyung.

“Apa gadis itu telah tumbuh menjadi gadis baik dan cantik? Apa gadis yang kutinggalkan saat hujan telah berdamai dengan Ibu tirinya? Apa ia tidak melupakanku?” tanya Junhyung pada Jaejin yang kini duduk membelakanginya.

“Pertanyaan itu yang selalu muncul jika aku kembali mengingat disaat gadis itu selalu berteduh dibawah rumahku. Gadis yang tidak pernah ku temui lagi selama belasan tahun.”

“Lalu… apa kau telah bertemu dengannya?”

“Kenapa kau masih berpura-pura?”

“Aku bukan gadis yang kau maksud?”

“Kwon Jaejin!!!”

“Orang yang kau maksud itu sudah pergi dan mati. Sekarang hanya ada Kwon Jaejin yang ingin hidup seperti orang normal! Melupakan kejadian pahit yang dulu ia lalui. Menjalani kehidupan seperti biasa tanpa ada orang yang ia kenali dikehidupan sebelumnya” Jaejin membalikkan badannya dan bicara tanpa mengontrol emosinya.

“Jaejin 15 tahun yang itu telah tiada. Berhentilah untuk merindukannya” sambung Jaejin yang mulai tenang. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan mulai menarik pengunci, Jaejin kemudian bersiap membuka pintu. Namun…

Lagi-lagi Junhyung menarik tangannya. Kali ini ia menarik wajah Jaejin, Jaejin sontak terkejut ketika Junhyung mengecup bibirnya begitu lembut. Jaejin lantas mendorong tubuh Junhyung dengan kasar hingga ia terdorong kepintu mobil. Jaejin menatapnya kesal dan emosi. Junhyung melihat Jaejin yang mulai meneteskan air mata. Tanpa sepatah kata padanya, Jaejin lantas pergi meninggalkan Junhyung.

Maneger Hong terkejut dan segera beranjak dari jongkoknya saat melihat Jaejin yang keluar dari mobil dan kini berlari dengan cepat. Maneger Hong terkejut begitu melihat Jaejin yang sesekali menghapus air matanya.

“Jaejin… k-ka…” maneger Hong segera menutup mulutnya dan membiarkan Jaejin berlari menjauhinya. Ia lantas melirik kedalam mobil dan melihat Junhyung yang kini duduk lemas dan meraup wajah dengan tangannya.

“Apa ini masalah cinta?” bisiknya menyelidik. Maneger Hong semakin terlihat bingung.

***

Junhyung kini tengah berjalan mondar-mandir didalam rumahnya. Ia lantas memegangi bibirnya. Junhyung mengendus kesal. Untuk apa orang sekeren Yong Junhyung mencium gadis se-anarkis Jaejin? Junhhyung lantas duduk disofa dan menenangkan dirinya.

Junhyung nampaknya masih resah, ia kemudian kembali berdiri dan mondar-mandir disekitar ruang tengah.

“Orang yang kau maksud itu sudah pergi dan mati. Sekarang hanya ada Kwon Jaejin yang ingin hidup seperti orang normal! Melupakan kejadian pahit yang dulu ia lalui. Menjalani kehidupan seperti biasa tanpa ada orang yang ia kenali dikehidupan sebelumnya”

“Cinta antara idola dan rakyat biasa sepertiku tidak akan terjadi dalam kehidupanmu”

Junhyung kembali terdiam dan kembali teringat dengan ucapan Jaejin. Senekad itukah niatnya untuk melupakannya masa lalunya? Dan sebenci itukah ia padanya?

Junhyung kembali mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Jaejin, saat kaleng itu mendarat di tenguk lehernya. Sepulang ia bertemu Jaejin yang menyebalkan pada hari itu, sebenarnya ia selalu bertanya pada maneger Hong tentang siapa yang ia temui tadi.

Dan saat Jaejin menamparnya di jalan dan saat mata mereka bertemu, sebetulnya pada hari itu detak jantung Junhyung berdetak begitu kencang. Ia bicara pada maneger Hong jika hatinya sakit melebihi tamparan diwajahnya.

Kemudian, saat Jaejin datang kerumahnya sebagai pembantu. Sebenarnya, Junhyung sangat senang. Ia meminta pada maneger Hong untuk terus menarik Jaejin kedalam rumahnya walau sesulit apapun masalah yang ia hadapi.

Dan, pada saat ia melihat Jaejin berciuman dengan Gikwang. Sebenarnya, pada malam hari setelah kejadian itu. Ia sempat mengasingkan diri didepan sungai Han. Junhyung sempat meneteskan air mata saat ia kembali mengingat ciuman yang dilakukan keduanya.

Dan… disaat ia mendengar cerita tentang Gikwang yang menyatakan cinta pada Jaejin, sebenarnya hatinya sangat sakit dan remuk. Ia sempat mengutuk dirinya sendirinya untuk melupakan Jaejin dan hidup seperti semula. Namun, rupanya bayang-bayang Jaejin tidak dapat menghilang dari benaknya. Semakin kuat ia memikirkan Jaejin saat ia berusaha untuk melupakannya.

***

Jaewon terkejut dan hampir saja menyembur Jaejin dengan air yang masih berada dimulutnya. Matanya membesar saat ia melihat Jaejin yang kini duduk dihadapannya kemudian mengambil gelas dan menuangkan air mineral kedalamnya.

GREK…! Jaewon menelan air kemudian kembali menatap Jaejin. Jaejin menaruh gelas diatas meja dengan keras, ia kemudian sedikit menuangkan air ditelapak tangannya dan mecuci bibir dengan air tersebut. Jaewon hanya terdiam melihat tingkah kakaknya ini.

“Aku kira kau sudah pergi ke Busan”

“Aku urungkan niatku karena seseorang merubah mood ku dan membuatku kembali kesal”

“Ck, sudah kukira! Pasti kau takut karena naik kereta sendiri kan?”

“Kau kira aku anak kecil?”

“Aku mengira kau balita.”

“Apa?” Jaejin memelototi Jaewon.

“Kerjaanmu hanya marah-marah setiap hari. Pergi pagi dan pulang sore, datang kerumah membanting pintu kemudian mengunci diri dikamar. Hm.. bukankah begitu?”

“Awas ya kau! Kecil-kecil sudah berani mengataiku” ucap Jaejin kesal.

“Ow… sebaiknya aku pergi” Jaewon kemudian segera beranjak dan pergi meninggalkan meja makan saat ia melihat Jaejin yang siap menerkamnya.

“Bocah tengik” Jaejin mengertakkan gigi dengan kesal, ia kini melihat Jaewon yang pergi berlari keluar rumah.

“Pasti enak hidup menjadi anak kecil. Hanya bisa menangis, makan dan main.” Ucapnya iri pada Jaewon yang masih bisa hidup bebas dari penatnya kehidupan.

TRET TRET!! Jaejin segera melirik ponselnya saat ia melihat sebuah nomor menghubunginya. Jaejin segera mematikan panggilan dari nomor Junhyung. “Berhenti menelfonku atau akan aku habisi kau sekarang juga”

TRET TRET!!! Ponsel kembali berdering, masih nomor yang sama. Dengan kesal Jaejin mematikan panggilan Junhyung. Ia kemudian menutup ponsel dengan mangkuk. Jaejin tersenyum penuh kemenangan saat ia menyadari ponselnya yang berhenti berdering.

Jaejin kemudian melahap roti dengan tenang. Namun, beberapa menit ia merasa bahagia ponselnya kembali berdering. Jaejin menyerah, ia menyimpan roti dengan kesal keatas piring. Tanpa melihat siapa yang menelfon, Jaejin lantas mengangkat panggilan tersebut.

“Sudahku bilang berhenti memikirkanku!” teriak Jaejin kesal.

“Kwon Jaejin” Jaejin tersontak terkejut saat ia mendengar suara yang terdengar sedang merintih kesakitan. Jaejin menjauhkan ponselnya dan melihat nomor Junhyung. Dengan ragu Jaejin kembali mendekatkan ponsel ketelinganya.

“Jaejin… a-aku… a-aku…”

“Tuttttttttttttttttt” Jaejin terkejut begitu mendengar panggilan telfon yang tiba-tiba putus. Jaejin segera bangkit dari duduknya dengan napas tidak beraturan.

 

Jaejin berlari memasuki rumah Junhyung dengan sangat cemas. Ia lantas menuju kamar Junhyung. Jaejin sedikit ragu untuk membuka pintu, ia terdiam sejenak. Jaejin lantas membalikkan badannya dan berjalan menjauhi kamar Junhyung. Jaejin terlihat sangat cemas dan sangat bingung. Jaejin kembali terdiam. Ia berfikir sejenak. Dan pada akhirnya…

Jaejin terkejut saat melihat Junhyung yang terbaring diatas kasur. Jaejin lantas berjalan dengan cepat mendekati Junhyung yang masih terpejam. Jaejin sedikit menyeringai saat ia melihat kening Junhyung yang sedang dikompres oleh sapu tangan.

“Orang sepertimu ternyata bisa sakit juga ya?” tanya Jaejin mengasihani.

“Kau sakit apa? Suaramu terdengar sangat menderita! Tidak parah kan?”

Jaejin lantas menggerakkan tangannya dan ingin menyentuh wajah Junhyung. Namun, Junhyung memalingkan wajahnya saat Jaejin akan memastikan demam Junhyung dengan menyentuh pipinya. Jaejin kembali menggerakkan tangannya dan memastikan di pipi sebelah kiri, Junhyung kembali menoleh dan menghindari arah kedatangan tangan Jaejin. Jaejin terdiam dan terlihat heran.

“Orang sakit harus banyak makan. Baik akan aku buatkan bubur” Jaejin mengacuhkan Junhyung, ia kemudian mulai berjalan meninggalkan Junhyung. Namun, langkahnya terhenti saat ia merasakan sebuah sentuhan ditangannya. Junhyung rupanya mengenggam tangan Jaejin dan masih memejamkan matanya.

“Aku sakit, jadi temani saja aku disini” ucapnya pelan. Jaejin terdiam dan tidak membalikkan badannya. Merasa diacuhkan, Junhyung sedikit membuka matanya dan melihat dengan kecewa pada Jaejin yang berdiri membelakanginya.

Junhyung semakin memperat genggaman tangannya, ia menarik-narik tangan Jaejin untuk menyuruhnya membalikkan badan. Junhyung merasa kesal karena Jaejin terus mengacuhkannya. Junhyung menyerah, ia melepaskan kompresan dan bangkit.

“Aku sakit! Bisakah kau mengindahkan permintaanku?” tanya Junhyung kesal. Jaejin terkejut, ia membalikkan badannya dan menatap Junhyung yang kini menatapnya begitu kesal.

“Aku sakit! Hey aku sakit!” sambung Junhyung manja. Jaejin mengendus kesal.

“Hentikan leluconmu, ini sama sekali tidak lucu” Jaejin merasa kesal telah dibodohi Junhyung. Ia berusaha melepaskan genggaman Junhyung. Namun, Junhyung semakin mempererat pegangan ditangan Jaejin.

“Disini yang sakit! Bisakah kau mengobatinya?”

“Apa?? Kau gila!!!” Jaejin berteriak kesal begitu ia melihat Junhyung yang menyentuh sekitaran hatinya dengan dramatis.

“Aku gila karena kau”

MICHYEO” teriak Jaejin kesal. Junhyung kemudian melepaskan genggaman Jaejin dan membiarkan Jaejin pergi meninggalkannya.

“Hey… perkataanku tadi itu benar! Kau dengar aku tidak???” teriak Junhyung pada Jaejin yang kini berjalan menjauhinya. Junhyung melihat Jaejin yang kini berjalan keluar kamarnya dan berjalan dengan tergesa-gesa keluar.

“Kau benar-benar marah ya?” Junhyung dengan cepat melepas selimut yang menutup tubuhnya dan berlari mengejar Jaejin.

Junhhyung menghentikan langkahnya ketika ia melihat Jaejin yang tengah berdiri didepan pintu dan bersiap untuk pergi meninggalkannya.

“Jaejin jangan pergi dariku!” Jaejin yang bersiap untuk memutar knop seketika itu menghentikan tindakannya dan terdiam.

“Sekarang kau datang dan hadir kembali dikehidupanku, haruskah aku kembali melepaskanmu? Jaejin berhentilah bersikap seperti ini dan tatap aku sekarang!”

“Karena kau telah kembali dan aku tidak akan melepasmu” Junhyung dengan perlahan berjalan mendekati Jaejin yang kini tengah berdiri membelakanginya.

“Apa selama ini kau tidak pernah melupakanku?” langkah Junhyung seketika itu terhenti ketika ia mendengar suara Jaejin.

“Saat hujan berhenti dan disaat musim berganti musim. Tahun terus berganti! Apa selama itu kau selalu merindukanku?”

“Tentu”

“Lalu… dimana kau selama ini? Kau bilang kau merindukanku” Jaejin menyeringai.

“Aku selalu menunggumu”

“Menunggu?” Jaejin membalikkan badannya dan menatap Junhyung.

“Hanya menunggu?”

“Karena aku telah berusaha mencarimu tapi kau tidak bisa kutemui”

“Kau bohong!”

“Jaejin”

“Berhentilah bicara seperti itu!” Jaejin kembali memutarkan badannya. Junhyung kembali berjalan mendekati Jaejin. Ia menarik lengannya dan memeluknya dengan erat.

“Walaupun aku tidak pernah menemuimu, walau kita pernah berpisah. Tapi namamu tidak pernah aku lupakan. Kau satu-satu gadis yang selalu membuatku kesal dan juga selalu membuatku terus merindukanmu! Jaejin maafkan aku” ucap Junhyung lembut.

“Kau pergi dan sekarang kembali. Apa itu lucu? Menghilang lebih dari 10 tahun dan kembali sebagai Yong Junhyung yang di idolakan remaja apa itu membuatku senang?”

“Maafkan aku”

“Jaejin… aku menyukaimu”

Jaejin lantas menjauhkan tubuhnya dan menatap Junhyung. Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain.

TBC

 

3 thoughts on “IDOL MAID (Take 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s