Protect Our Married ‘Part 4’

 

pom4

By : ArVi
Cast :
• Kim Jong Woon
• Song EunSeo
• Jung Yunho
• Park Jihyeon
• Danielle Kim /DAIN
Suport Cast :
• Song Jong Ki
• Hwang Hyunri
• OTHER
Gendre : MIX
Rate : PG-17 /Straight

 

***
’ketika aku mengingat kenyataan,
Ingin rasanya aku pergi kedunia fana,
Membelah keegoisan dunia yang menjebakku didalamnya’
Bulan bergerak sesuai poros dan etos kerjanya. Menerangi malam walau hanya setengah rembulan. Sinar yang kian detik kian mengapung menunggu matahari akan mengambil dalih dan membiarkannya beristirahat esok pagi.
“maafkan halmoni” Yesung meletakan kepalanya diatas nakas BED mereka. Entah mengapa mala mini terasa sangat dingin dan bisu membiru, membaur dengan perasaannya yang kian tak menentu.
EunSeo yang nyatanya belum terpejam sama sekali, mengerjapkan matanya pelan. Jika teringat umpatan nenek Kim tadi, ingin rasanya ia bertanya pada cermin. Seburuk itukah dirinya?
‘Dingin tanpa kehangatan. Bagaimana bisa ada wanita sebeku itu?’
Itu baru hujatan pertama. Setelah membeberkan masalah rencana  perjodohan Yesung dan wanita bernama Danniele Kim yang batal karena pernikahan mereka, Nenek Kim belum juga puas jika belum menghina hingga pangkal ujungnya.
“dia berubah, dulu dia tak sekritis itu. Mungkin karena pergaulan keras luar negeri. Dan efek perceraiannya dengan harraboji” mata dan tangan Yesung bergerak, matanya menatap EunSeo yang memunggunginya, lalu tangannya terulur menyentuh dahinya yang pening.
“Mereka bercerai?” tempat tidur mereka bergerak,  kini EunSeo menghadap lurus kearah Yesung, membuat namja itu terhentak sepersakian detik. Jika ia berkata bahwa pakaian tidur EunSeo mala mini adalah yang terparah. Mengapa? Lihatlah bagian depannya. Tipis dan kebesaran. Oh tuhan sungguh demi apa, benda yang bertali renda berwarna merah menyala itu apa? mengapa transparant kematanya? Aigoo..aigoo.. aku lelaki normal! Normal! . Ingin sekali Yesung menelan ludahnya. Namun sangat sulit.
“hey..” EunSeo mengibaskan tangannya kemata Yesung yang nampak lurus kedepan. Dan masalahnya pemandangan didepannya itu apa? aigoo… bahkan Yesung berusaha memalingkan tatapannya . tapi tak bisa sama sekali. Kim Jong Woon , ayo! Ayo! Kau liihat apa huh?!
“YA! Jong Woon ah! Kau melihat ap__” kini EunSeo malah mengikuti arah pandang Yesung. Dan berhenti di… berhenti di___ di___
OMOOO…. Mata EunSeo melebar dengan semburat malu dipipinya. Bahkan dengan terang-terangan Yesung menatap miliknya. Has!
“a_aa__aku, aku , ak_aku akan ganti baju dulu, ini terla_lalu panas. Ah yaa… panas!” EunSeo langsung bangkit membuat Yesung salah tingkah. Aigoo ketahuan! Ketahuan!
“ah.. mengapa In Young memberiku kado baju serumit ini eo?! Ah, in_ini membuatku kesulitan bernafas. Ah yaa.. kesulitan bernafas” sekali lagi EunSeo memberhentikan langkahnya,. Sembari menutupi bagian dadanya yang terekspos jelas akibat bagian pakaian tepat di dadanya yang terlalu longgar. Jangan-jangan Yesung mengira dirinya ingin menggoda? Aiih aih..
Yesung tak berkedip sama sekali. Disamping bingung melihat tingkah istrinya yang salah tingkah seperti itu, ia juga sedikit merasa udara kamarnya panas sekali.
“ah , terpaksa. ! ya aku terpaksa memakainya. Lihatlah stok baju tidurku habis dan belum dicuci.” Mata Yesung menyipit saat bagian kepala EunSeo menyembul lagi dari dalam ruang ganti.
Aigoo,, kkkk~ Yesung serasa ingin jungkir balik tertawa melihat tingkah EunSeo yang semacam itu. Caah.
“hum, nde”
“hem,.. Yesung ssi, aku juga tak berniat memakai, ini sejenis keterpaksaan yang tak disengaja. Ah .. maksudku, eee?.”
“nde, arraso!” Yesung tak mampu menahan tawanya. Akhirnya namja itu tertawa juga. “khahahahahah”
“YA! Berhenti!” EunSeo bertriak dari dalam ruang ganti. Ia dengan cepat membuka pakaian tidur transparantnya. Sudah diduga, siswanya pasti memberikan kado pernikahan yang tak jelas. Ligerie? Aiiissh.. kenapa EunSeo malah memakainya? Omooo…omoo… udara disini panass sekali.
“khaahahah” rupanya Yesung malah semakin memperkeras tawanya. Namja itu hingga jungkir balik tak karuan di BED mereka. Memukul-mukul bantal, menendang selimut. Sungguh ini kejadian menguntungkan dan sangat lucu.
“YA!”
BUK, tiba-tiba wajah Yesung tepat ditimpug sesuatu dari dalam sana, membuat Yesung menghentikan tawanya.
“YA! Apa yang__”
“HaaaAAAAAAAAAAAA!!!” tiba-tiba Yesung bertriak , sesuatu yang berenda dan merah menyala tengah menutupi mukannya. Dan itu adalah….
“Aaaaaaaaaa!!” Kini EunSeo yang melemparkan dengan reflex ikut bertriak. Omo.. itu_itu Liegerynya ! Haaaaaaaa eomma…
_________o0o_________
KANTOR KEJAKSAAN, Daegu-South Korea
“Penagguhan hukuman diterima. Hukuman 5 tahun masa tahanan dan denda pelayan public selama akhir hayat”
DUG
DUG
DUG
Ketukan palu ruangan sidang membahana , riuh tepuk tangan dan argument mewarnai akhir dari persidangan kali ini.
“Tidak bisa! Anakku mati karena wanita laknat ini! Nyawa dibayar Nyawa! Tidak bisa! Tidak!” ibu dari korban membentak tak jelas.  Membuat seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah terdakwa menggeleng lemah. Mertuanya selalu membenci apapun yang ia lakukan. Wajar saja jika sekarang ia menghujat atau bahkan membunuhnya , karena ia telah membunuh putra semata wayangnya.
“mohon tenang!” Hakim kanan memperkeraskan volume suarannya. Sedangkan Yesung tetap diam. Karena memang ia tak patut berbicara terlalu banyak. Disini ia pemegang keputusan terbesar, keputusan yang tak bisa diganggu gugat. Dan itu membuatnya menjadi hakim agung dengan image sangat berbahaya. Bayangkan saja, tak jarang ia bisa mengubah status Korban menjadi Tersangka. Karena penyelidikannya yang amat sangat akurat.
“TUTUP MULUT ANDA! anda dibayar berapa huh? 100 Won? 1 milyar Won?  Berapa huh?” kini malah ada seorang wanita yang memakai mini dress hitam mengacungkan kartu audiensnya. Sebuah kartu yang diperuntukan untuk hak audiens jika ada keputusan yang tidak sesuai dengan yang dipikirkannya. Lalu mengapa sekarang ada seorang wanita yang malah menghina Yesung secara blakblakan seperti ini?
“Anda tau ini dimana?!” Security langsung menarik tangan wanita yang ingin memicu keributan. Karena memang setelah persidangan pasti ada saja audiens yang emosi dan memicu perdebatan.
“Lepaskan” Yesung bersuara dengan volume suara beratnya, lelaki itu meringis. Jangan-jangan wanita ini tau akan penyakit anak dari tersangka yang tengah menunduk pasrah dibawah sana (Read part 1)
“anda memang memiliki sebuah bukti yang saya yakini dijadikan sebagai privasi dan referensi kasus. Tapi saya hanya ingin alas an yang lebih logis. Jika hanya masalah anak, toh bocah itu sudah 9 tahun, bukan bayi atau pun balita. Jadi kurasa neneknya bisa menjaga dengan baik.” Wanita itu nampak menyeringai, rupanya ia tidak terima, okee Yesung bisa menyimpulkannya.
“Jika tuan Min Gi Seo tidak mencekik nyonya Sang Hanji saat malam itu, maka nyonya sang tidak mungkin membunuh suaminya sendiri. Ia hanya ada dalam pilihan dibunuh atau membunuh”  Yesung berujar sesuai dengan penyelidikannya.
sesekali melirik kearah wanita yang duduk disudut paling belakang audiens. EunSeo- wanita itu duduk dengan tatapan mata kearah jendela. Aigoo… padahal Yesung memerlukan pertimbangan darinya, lalu apa gunanya mengajak wanita itu kemari jika hanya memenuhi kuota tempat duduk saja. lalu Haruskah ia membeberkan penyakit anak dari tersangka? HIV! Bukankah itu buruk untuk masa depannya. Sekali saja ada orang yang tau, maka anak itu akan terasingkan selamannya.
“hanyaa itu saj___”
“anda siapa?” perkataan Wanita yang menyudutkan Yesung terpotong ucapan EunSeo yang berdiri dan mengacungkan kartu audiens. Wanita itu menatap tanpa ekspresi, baiklah Yesung rasa ia tak rugi mengajak EunSeo kemari. Tidak memenuhi kuota tempat duduk . kkkk
“Nonna Lee Min Jung. Karyawan pabrik ikan nelayan Kwon. Bekerja sebagai suplayer eksport Yunani. Anda memiliki hubungan apa dengan keluarga Min? jika kuterka, keluarga Min tak memiliki anak lain selain tuan Min Gi Seo. Sepupu jauh? Kurasa tidak mengingat Mendiang appa tuan Min adalah pejabat istana yang terasingkan tanpa identitas. Lalu anda siapa?”
GLEK
Wanita yang bernama MinJung itu menelan ludahnya. Sejak kapan wanita itu tau akan dirinya.?
EunSeo menyeringai, setelah berhasil merebut perhatian seluruh audiens tak terkecuali Kangta dan Yesung. Kangta bahkan secara tak sadar menarik senyumnya keatas, wanita yang keren. Caah.
“5 jam sebelum pencekikan terjadi. Anda mengajak tuan Min minum Soju dengan awak kapal Burso .”
“M-Mwo?” Min Jung terdesak. Wanita itu tak mampu menyahut selain karena hal ini diluar dugaan, ia hanya mempersiapkan diri untuk menentang keputusan. Bukan bersilat lidah mengenai masalahnya.
“baiklah, anda tidak ingin kan jika saya dengan lancangnya menuduh anda sebagai orang ketiga?. Setidaknya anda mengakui dengan sendirinya bahwa anda adalah wanita yang berhasil membuat tuan Min berpaling dari istrinya . ah… kurasa itu yang terbaik.”
EunSeo memalingkan wajahnya. Kini ia menatap jejeran hakim dan jaksa penuntut umum yang masih menatapnya tanpa kedip.
“ia hanya ada dalam pilihan dibunuh atau membunuh nonna Lee Min Jung ssi  yang terhormat. Setidaknya keinginan untuk hidup lebih lama untuk seorang putra lebih mulia ketimbang mati sia-sia ditangan suami yang berselingkuh” Mata EunSeo seolah memancarkan seonggok rasa percaya diri yang luar biasa.
Krasak krusuk ruangan itu mengantarkan tatapan sinis semua audiens terhadap MinJung. Membuat yeoja itu membeku tak karuan, dan pada kenyataannya semua yang yeoja dihadapannya ini katakan benar adanya.
“TUTUP MULUTMU! Kau pikir kau hebat setelah memfitnahku, huh? Kau masih kurang waras rupanya bermain-main dengan ku. Kau tau aku siapa huh?” MinJung mendekati EunSeo. Sungguh suasana ruangan ini berubah panas.
“mencintai dengan terlambat itu memang malang. Bahkan sangat kasihan. Jika saja kau orang yang pertama kali muncul dikehidupan tuan Min sebelum nyonya Sang. Bukan tidak mungkin kalian bisa hidup bahagia. Itukan pikiranmu”
PLAK
EunSeo berjengit mendapatkan tamparan dari MinJung. Yeoja itu menatap tajam kearah MinJung yang bersikap frontal. Lihatlah, pancingannya berhasil kan. Seandainya semua yang ia katakan itu salah, wanita ini tak perlu sepanik itu kan?
Yesung mendelikan matanya. Laju nafasnya yang tenang perlahan naik turun. Secara life ia mendapati kekerasan dalam sidangnya. Dan ia tak suka itu. Dengan cepat beberapa security menghampiri MinJung. Namun tertahan oleh beberapa jaksa yang tentunya tak ingin melewatkan bukti-bukti semacam ini, setidaknya kehadiran wanita cerdas yang entah siapa dan darimana ini cukup mampu meluruskan keadaan.
“siapa kau?!”
  desiran halus dan keheningan mengantarkan pertanyaan MinJung. Bukan hanya ia yang penasaran dengan identitas wanita berbisa ini, tapi semua orang yang ada dalam persidangan.
EunSeo memicing, sebelum ia tersenyum sinis. “Bukan urusanm__”
PLAK
Yesung sudah tak bisa menahan kepalan tangannya. Entah apa yang membuat lelaki itu bangkit dari tempat duduknya. Sebelumnya tak pernah sekali pun seorang Kim Jong Woon mau turun langsung menangani keributan. Ia hanya duduk tenang disinggasananya.
“beraninya kau menjatuhkanku seperti ini?! kau kira kau hebat. Hey, kau belum cukup hebat aggashi. Masih perlu belajar untuk bersikap sok tau dan ikut campur.”
“apakah anda tidak diajarkan tata krama berargument? Tidak sepantasnya anda dengan sangat bodoh melakukan tindakan semacam ini di persidangan. Menggelikan”
“apa katamu!”
BRUK
Tubuh EunSeo terdorong keras kelantai, menyebabkan benturan disudut tempat duduk. Bahkan yeoja itu tersungkur dengan keras membentur lantai. Membuat kakinya terkilir, dan kesusahan untuk bangkit
Yesung turun dari tempatnya, berniat menghampiri EunSeo, namun sesosok lelaki datang dari belakang,
“anda sudah gila nyonya?” Yunho tersenyum kecut sembari menggendong EunSeo didadanya. Kaki Yesung terasa beku sudah. Terhenti dengan kondisi mematung tak jauh dari sana. Hatinya bergemuruh semakin lama semakin cepat.
MinJung tak lepas dari kekalutannya. Bagaimana bisa ia sebodoh ini, masuk perangkap dari yeoja tadi. tamatlah ia.
“ Lepaskan! Siapa kau wanita sial??!!!” sepertinya MinJung masih marah pada ucapan dan rentetan kata yang menyudutkannya. Bahkan ia masih melawan saat beberapa keamanan  hendak menyeretnya paksa.
“Lepaskan aku!! Siapa Kau perempuan dusta?!!”
Yunho berbalik , membuat EunSeo memejamkan matanya. Gendongan ini ia rasakan kembali. Selalu merasa tenang jika telah berada diantara deru nafas dan detakan jantung ini. Jung Yunho. Nama yang tak pernah ia lupakan sekalipun.  datang kembali.
“dia ga___”
“dia istriku” Yesung dengan cepat memotong ucapan Yunho. Sekarang apakah ia sadar ia sudah kelampau gila? Yaa dia gila karena sekarang sudah beradu pandang dengan Yunho. Seolah meminta agar menyerah EunSeo dalam gendongannya. Bisakah ia mengklaim siapapun jangan menyentuh miliknya? EunSeo istrinya. Apa itu belum cukup?
“heh” Yunho tersenyum miring, ia juga bisa egois . sudah cukup melihat EunSeo ditampar beberapa kali, tapi nyatanya namja dihadapannya ini lebih memilih kehormatannya.
“berikan dia padaku” mata EunSeo bergerak pelan. Bingung? Ya  . bisakah merasakan sebuah kebimbangan yang bagai sebuah dejavu? Berada dalam posisi 2 namja yang kini terkesan memperebutkannya? Oh bisakah ia memilih? Menurut insting ia seharusnya tetap menginginkan berada digendongan Yunho. Namun ia harus tau diri, sadar statusnya sebagai siapa disini? Hatinya memang masih memihak pada Yunho, namun akal sehatnya harus memilih Yesung suaminya.
“turunkan aku, Jung Yunho ssi” Sadarlah Song EunSeo, apa yang kau lakukan? , bahkan kau dengan mudah membuat raut wajah Yunho berubah. Namja itu terlihat mematung tak percaya. Benarkah EunSeo memilih lelaki itu? Lelaki yang bahkan membiarkan dirinya seperti tadi?
Beberapa Audiens menatap bingung kearah Mereka bergantian. Termasuk Kangta dan MinJung. Sama-sama belum bisa mencerna keadaan sama sekali.
“aku bisa berjalan , sendiri.” EunSeo menepis pegangan yang diberikan Yesung. Namun sayang ia oleng kembali. Kakinya benar-benar terasa kaku dan sakit.
“keras kepala”
pasrah pun berakhir dengan ia tetap digendong oleh Yesung. Menyisakan Yunho yang berdiri membisu . entah mengapa ia semakin tak berdaya keadaan hanya karena status mereka. Mungkinkah semakin lama dirinya akan semakin tergeserkan dan tergerus akan hadirnya seorang Kim Jong Woon? Apakah EunSeo dengan sangat mudah melupakannya?
Mata Yunho terpejam, tak berniat sama sekali menatap kebelakang, membiarkan seluruh indrannya menangkap keadaan, krasakkrusuk dan kehebohan penuh Tanya menyelimuti ruangan. Apakah ia semalang ini? mempermalukan diri seperti ini? ini Gila!
Sementara itu, Yesung masih menggendong EunSeo hingga ke areal parkir. Mengabaikan kilatan kamera wartawan yang mendesak security agar bisa masuk. Yesung yakin, meski awalnya mereka mendesak untuk masuk dan meliput jalannya sidang. Tapi sekarang mereka pasti cukup mengincarnya dan EunSeo.
“hhh… …” EunSeo menarik nafas yang sedari tadi ia tahan, kedua tangannya dikalungkan diantara lengan dan leher Yesung. Perdebatan hatinya tidak hanya sampai disana , EunSeo benar-benar merasa sangat pengecut dan akan segera gila! Ya gila, bagaimana mungkin aroma tubuh Yesung yang bahkan masih terbungkus pakaian khas seorang Hakim mampu membuainya hingga seperti ini? bahkan tidur seranjang dengannya sudah biasa, tapi tak pernah dalam jarak sangat amat dekat semacam ini. GILA! Ini dekat sekali, bahkan EunSeo bisa merasakan detak jantungnya. Ia mampu memastikan kalau Aroma tubuh Yesung dan Yunho berbeda. Sangat berbeda.
“kita kerumah sakit”
EunSeo tergagu saat Yesung memasukannya kejok samping kemudi. Namja itu masuk kedalam mobil dan menutupnya, melepaskan terusan formal Hakimnya, hingga menampakan kemeja garis-garis hitam putih yang membuatnya sangat maskulin. Aish… mengapa efek gugup semalam malah merusak suasana? Aigoo..
Yesung melirik EunSeo dari ekor matanya. Kejadian semalam amat sangat mengganggu pikirannya. Bagaimana ia bisa kehilangan konsentrasi hanya karena hal sepele seperti semalam? Kim Jong Woon sadarlah, itu bukan masalah besar yang mampu membuatmu seperti ini. ayolah..
“terimakasih mau datang” Yesung akhirnya mampu menatap EunSeo dengan tenang lagi, perjalan kerumah sakit belum sampai, setidaknya ia tak membuat EunSeo menyadari kegugupannya. Karena itu amat sangat memalukan.
“bukan perkara serius” EunSeo berusaha tersenyum. Memang Yesung memintanya untuk membantu saat persidangan, setidaknya ia memerlukan seorang wanita yang perasa agar  tak salah mengambil keputusan, sudah ia duga, persidangan kali ini sedikit lebih memerlukan keadaan otak yang bijaksana. Mengingat kondisi anak korban.
“kau mengajaknya?” pertanyaan Yesung mau tak mau membuat EunSeo meliriknya sekilas. Mengajak? Apa yesung memikirkan tentang keberadaan Yunho tadi? Yesung pikir ia gila mengajak Yunho? Siapa dia sehingga bisa menyuruh-nyuruh seorang Jung Yunho? Mereka bukan sepasang kekasih lagi, Tapi mengapa namja itu bisa ikut hadir dalam persidangan? Apa dia menyusulku?
Yesung dengan cepat merogoh ponselnya, mendengar sebuah panggilang masuk , dan itu dari Jihyeon. Mwo? Park Jihyeon? Aigoo… kenapa dirinya bisa lupa pada gadisnya ? semenjak kemarin ia tak menguhubungi Jihyeon sama sekali. Bukan tidak mungkin wanita itu akan melihat liputan media mengenai persidangan tadi, dan EunSeo? Akankah Jihyeon juga melihat dirinya menggendong EunSeo?
“nde, ini aku”
“……………..”
“hum, sudah.”
“…………..”
“ak_aku mengantar dia kerumah sakit” Yesung melirik EunSeo, gadis itu masih diam , meski sebenarnya ia tau kalau yang menghubungi Yesung adalah Jihyeon.
“………..”
“sedikit terkilir”
“…………..”
“tapi aku__”
“…………………….”
“20 menit lagi, aku janji. Tunggulah 20 menit lagi” Yesung menutup telponnya, melanjutkan matanya menuju kedepan. Bolehkah ia merasa tidak enak? Bagaimana pun ada EunSeo disini, meski wanita ini tau semuanya, tapi setidaknya Yesung bisa menjaga perasaan seorang wanita,
“Jihyeon” Yesung mengeluarkan suaranya.
EunSeo tak bergeming, ia masih menghadap kejendela luar. “hum..”
“dia akan melakukan tour dunia. Seharusnya  kemarin pertemuan terakhir kami. Tapi__”
EunSeo menahan nafas panjangnya. “temuilah dia”
“hum, setelah aku mengantarkanmu kerumah sakit”
EunSeo mengangguk.
“tunggulah beberapa menit, aku akan menjemputmu. Hanya mengantarkannya saja” Yesung meyakinkan EunSeo, ia bukan lelaki yang tak bertanggung jawab
___________o0o____________
“hanya sedikit terkilir, obat ini sejenis relaksasi. Setidaknya hasil ronsen menunjukan hanya ada sedikit memar pada tulang keringmu, membuat efek seperti bergeser. Ini semacam obat penghilang rasa sakit” seorang dokter menyodorkan resep obat pada EunSeo, menyuruhnya menyerahkan itu pada pegawai apotik.
“nde, gomawo ussianim” EunSeo menunduk sekilas , wanita itu bangkit dengan sangat tertatih, meski kakinya masih sakit, tapi setidaknya theyraphy tadi lumayan menghilangkan efek kaku pada kakinya.
“dimana suamimu?”
“dia  akan menjemputku” EunSeo tersenyum pada dokter yang memasang mimic bingung. Ia rasa tadi ada seorang lelaki yang mengantarnya. Tapi mengapa sekarang ia justru berjalan sendiri?
“hum.. hati-hati, nonna”
Saat EunSeo keluar dari ruang pemeriksaan, nampak seorang namja tengah menyelempangkan tangannya didepan dada dan bersender ketembok sembari menatap EunSeo yang keluar dari dalam.
“aku antar” Yunho- lelaki itu Yunho, ia bukan orang bodoh jika berdiam diri melihat EunSeo terluka, sudah ia kira namja tak bertanggung jawab itu akan melakukan tindakan seenak jidatnya. Apa yang ia pikirkan sehingga meninggalkan EunSeo seperti tadi? ccaah
_________o0o_________
‘kadangkala, saat kita merasa indahnya apa itu CINTA,
  kita akan sulit melepaskannya.
Begitupun saat kita merasakan sakitnya PERPISAHAN,
Kita akan sulit meredamnya.’
***
Ilalang memenuhi pematang dengan angin yang berhembus tenang, nyiur-nyiur melambai diatas sana akibat tiupan sang bayu. Sisakan sawah yang menguning dibawahnya. Sebuah mobil Ferrari Sport tanpa atap berhenti dipinggir jalan yang samping kiri dan kanannya hanya ada hamparan sawah yang menguning.
“aku akan pergi” setelah lama diselimuti keheningan selama perjalanan, akhirnya Yunho membuka suarannya.
“sebenarnya, aku akan pergi ke__”
“untuk apa kita ketempat ini?” EunSeo sadar sikapnya terlalu berlebihan. Tapi apa boleh buat, ia tak mungkin membuat Yunho semenderita ini. sesakit sakitnya ia saat ini, ada Yunho yang lebih menderita menunggunya. Dengan bodoh menunggu wanita bodoh seperti dirinya. bukankah ia wanita yang kejam? Jika ia mengikuti keinginan hatinya, sudah jauh-jauh hari ia kembali kesisi Yunho, bahkan takan pernah pergi dari sisinya. Tapi ini bukan hanya masalah hati dan perasaan pribadinya. Ia masih memiliki perasaan appa dan keluarganya. Sekuat apapun mereka mendorong diri lepas dari jeratan Hubungan tanpa restu itu,  tetap saja akan sia-sia.
“aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku akan pergi”
“………………” hening, jika EunSeo mau, ia akan mencecari banyak pertanyaan. Pergi kemana? Berapa lama? Dengan siapa? Untuk apa? dan lain sebagainya. Tapi sayangnya ia merasa tak berhak sama sekali.
“kau ingat? Bagaimana kita dulu?” Yunho tersenyum teguh. Oh tuhan.. lelaki rahang tegas , mata sipit berbinar, pancaran karismatiknya benar-benar mampu merobohkan rasa untuk memalingkan wajah, perhatian, kelembutan, meski gaya berpacaran mereka terkesan dingin, tapi itulah Yunho, seorang yang sanggup membuatnya ingin saling memiliki.
Yunho menatap wajah EunSeo dari samping, hidung meruncing, alis mata yang panjang dan tajam sealur dengan liukan tulang disekitar matanya. Bibirnya yang merah memucat, hingga beberapa helai rambut berjatuhan akibat hembusan angin sawah. Benar-benar sempurna. Yunho tak yakin ia bisa pergi dengan kondisi seperti ini.
“aku mendekatimu dengan 100 persen keraguan. Bagai mimpi rasanya melihat seorang gadis yang selalu aku harapkan. Menatapmu dengan ikat kucir kuda membaca buku diperpustakaan, saat itulah, pertama kali aku mengagumimu”
“membawa bunga namun berakhir kacau akibat membawa bunga Duka, mengungkapkan perasaan seperti pidato kemerdekaan, diterima dan menjalani hubungan dengan indah tanpa gombalan tabu. Hanya berjalan mengikuti alur hubungan yang ternyata hingga kita melepas jubah SMA”
“Jung Yunho bodoh, tak romantis, tidak pernah memberimu perhatian layaknya namja lain, selama itu pun aku tak pernah melihat dan mendengarmu mengeluh. Kau membuatku nyaman dikekuranganku, kau membuatku sadar untuk yang pertama kali bahwa dunia ini adil, dan terakhir kau membuatku merana untuk melepasmu. Hahaha”
Yunho tersenyum dan tertawa mengakhiri aksi bernostalgia dengan hubungan mereka yang nyaris sempurna. Jika saja restu sudah ditangan, maka mereka pasti sudah menikah dan hidup dengan  tawa bocah kecil , senyum kehangatan. Ah… nyatanya itu hanya pengharapan.
Akhirnya Yunho memberanikan diri menatap ekspresi EunSeo yang masih bengong dan tergagu. Rahang wanita itu mengatup sederhana tanpa ekspresi, padahal sebenarnya tanpa Yunho sadari, didalam hatinya ia sangat takut. Takut Yunho pergi.
“kau membuatku tau arti pengorbanan. Bahkan kita pernah mengorbankan diri demi satu sama lain. Ingatkan?” Yunho menggoyangkan bahu EunSeo. Setidaknya ia bicara, dan merespon.
“geumanhae” EunSeo beringsut , melepas cengkraman bahu Yunho dan hendak keluar dari mobil, meski tertatih, ia hanya ingin pergi agar ia tak menangis nantinya.
“katakan jangan pergi. Jangan pergi Yunho ya… ayo katakan!”
Yunho ikut bangkit dan kembali mencengkram bahu EunSeo kuat sekali. Menatap dengan tajam 2 bola mata yang kian lama menimbulkan genangan air.
“katakan, Saranghae”  bibir Yunho bergetar penuh harap. Tolong, sekali saja, Katakan  saranghae, jangan pergi, berhenti, tetap disini, dan  hal lainnya . Yunho berjanji, ia akan disini dan tetap setia menunggu , menunggu sampai kapanpun tuhan menguji CINTAnya.
Akhirnya 2 mata itu bertemu amat lama.
‘ini aku, Song EunSeo memohon. Jung Yunho jangan pergi, tetap disini, selalu menungu dan mencintaiku’
Mata EunSeo tak mampu berbohong, ia ingin ambruk tepat saat ini juga.
“katakan Seo ya..” lirihan kecil diselingi tiupan dewa bayu membuat otot-otot kaki Yunho melemas.
“tolong jangan biarkan aku mengikuti insting gila untuk membalasmu. Jangan membuatku pergi dan menerima perjodohan gila ini. kumohon cegah aku. Sekali saja, cegah aku! Jangan buat aku menyesal. Kumohon.. hanya 1 kata untuk menghentikan ini semua… kumohon..”
Habis sudah keambiguan ini. Yunho akhirnya melepas cengkraman  tangannya. Lihatlah, setegar apakah EunSeo? Bahkan Yunho sudah menangis sejak tadi. tapi wanita ini? dia bahkan mampu untuk tak bergeming sama sekali.
“baiklah. Aku pergi” Yunho berbalik dengan mata terpejam. Tak ada alas an untuk tinggal. Kalau saja EunSeo berkata ‘tunggu. Jangan pergi’ Yunho berjanji ia akan tetap tinggal selamanya.
Tes,
Akhirnya setetes air mata meluncur, sekuat tenaga EunSeo menahan sesak ini, ia menangis juga. Inikah sakitnya? Saat tau seseorang itu akan meninggalkan kita? Memendam semua rasa demi ambisi belaka? Beginikah pedih hati Yunho saat ia menikah dengan Yesung? Sunggu ini perih sekali…
“Yunho ya..”
Langkah Yunho terhenti, terbentuk sebuah senyuman diantara wajahnya yang putus asa.
‘jangan pergi’
“berbahagialah”  ini berlawanan dengan kehendak hatinya. Sangat berlawanan. Jika bisa, EunSeo berjanji akan bertriak , menarik dan memeluk Yunho detik ini juga.
“Hanya itu?”
 sakit sekali hati Yunho mendengar kata itu. Mengapa seolah EunSeo rela melepasnya? Apa dirinya tak berarti lagi?
‘ingatlah aku, aku yang pernah menginginkan Jung Yunho seorang. Orang yang selalu berdoa untuk langkah Jung Yunho selamanya’
“kenanglah aku sekali waktu, … OP,PA”
Nafas Yunho mencelos hebat saat mendengar ucapan ‘oppa’ . panggilan yang bahkan sama sekali tak pernah Yunho dengar selama ini. tapi mengapa pada saat akhir? Inikah sad ending untuk mereka?.
Langkah Yunho berbalik haluan, kian lama kian cepat mendekati EunSeo, meraih tangan mantan wanitanya, dan membawa tubuh proposional itu didekapannya.
HANGAT.
Eunseo merasa hangat dan nyaman. Tak dapat dibendung mereka menangis bersamaan.
“mengapa baru sekarang, hum?” Yunho menyingkirkan rambut yang menutupi wajah dengan air mata dihadapannya. Tepat dihadapannya. Mengingat tinggi mereka sama, dan tak perlu menunduk sedikit pun.
“karena sekarang , Jung Yunho adalah kakakku” kembali hati Yunho mencelos hebat. Kakak? Tidak bisa, tidak mau, dan tidak  boleh.
“kakak yang melindungi dan mencintai Song EunSeo tanpa larangan.”
“kakak yang selalu mengingat Song EunSeo walau ia sakit sehat, bahagia lara duka”
“seo ya…, ini yang terakhir”
CUP
dengan kilat Yunho menggapai dagu EunSeo, mengecup dalam, menjelajah liar. Seolah mengklaim, ini miliknya! Don’t Touch ,
Tanpa disadari seorang namja tengah membisu didalam sebuah mobil limousine hitam mengkilat tak  jauh dari sana. Buku-buku tangan namja itu mengepal.  Mengapa waktu mereka selalu tidak cocok? Apakah pernikahan ini hanya membuat banyak orang sakit? Jihyeon , nenek, dan masih banyak lagi, dari banyaknya dukungan, Yesung kira rumah tangganya yang meski tak didasari apa itu cinta akan bisa bertahan jika ia melindunginya. Tapi apakah EunSeo terluka akibat pernikahan ini? apa ia sangat mencintai seorang Jung Yunho?
‘ ia sudah menjadi milikku?, lepaskan!’ hati Yesung seolah memahat keyakinan itu.
“hhhh….” Nafas Yunho dan EunSeo berpacu setelah menyelesaikan ciuman dalam yang benar-benar penuh perasaan.
“pergilah, dan kita bertemu dengan membawa kebahagiaan masing-masing.” EunSeo merapikan rambut Yunho dengan telunjuknya.
“jika tidak, bisakah aku memintamu menjadi kebahagiaanku lagi?”
EunSeo tersenyum sebelum melonggarkan pelukan Yunho dipinggangnya.
“jika memang tuhan lebih menyayangi Cinta kita, aku yakin Tuhan pasti juga akan mengembalikannya. Caah. Pergilah, jangan membuat orang tua kita sedih. Fighting!”
Yunho tersenyum, ia lega, setidaknya walau pergi ia akan dan pasti kembali. Mencerna perkataan EunSeo yang menyiratkan bahwa ia masih mencintai Yunho bukan? Tapi sifat bakti orang tua terkadang sangat ia pegang teguh.
“jangan panggil oppa lagi”
“Nde?”
“aku tak mau menjadi oppamu. Selamanya.”
“………………….” Hening dan tak bergeming, lihatlah. Mengapa Yunho seolah memporak porandakan hatinya lagi,
“aku pergi.” Kaki Yunho sudah tak selemas tadi, pergi membawa tekad akan kembali , dan tentu ia akan kembali membawa tekad untuk bertarung.
‘aku berharap lelaki itu akan melepasmu dengan caranya. Jangan sampai aku merebutmu dengan caraku’
BUGH
Tiba-tiba tubuh Yunho tersungkur ketanah , namja itu menatap tajam pada seseorang yang memukulnya.
“YA! Kau kenapa?!!” EunSeo menahan tubuh Yesung meski kakinya masih sakit.
“IKUT AKU!” Yesung tanpa sadar malah menarik EunSeo dengan sangat kasar, entah sejak kapan ia bisa bersikap sangat kasar seperti ini,
“lepaskan!” EunSeo melawan berniat menghampiri Yunho yang masih tersungkur. Namun sayang kekuatan Yesung sudah berkali-kali lipat.
Nampaknya Yesung tak mengindahkan sama sekali ucapan EunSeo, kepalanya terasa ingin meledak menyaksikan adegan ciuman tadi. Jika ingin berucap, dirinya yang suaminya saja tak pernah sekalipun walau sekedar memeluk. Kau tau itu, huh?
“arrgh…” erangan kesakitan EunSeo akhirnya menyadarkan Yesung akan tindakannya, menyeret EunSeo dalam keadaan terluka. Has! Ia melupakannya. Emosi memang selalu mengusai pikirannya yang kalut.
BUGH
Tiba-tiba sebuah pukulan bersarang di dagu Yesung, membuat lelaki itu terhempas keras ke aspal.
“jika seperti ini, aku semakin takan bisa melepaskannya pada lelaki bodoh seperti mu!”
TBC

7 thoughts on “Protect Our Married ‘Part 4’

  1. Woh Yesung oppa terbakar api cemburu! Eh, atau hanya sikap klaimnya terhadap istri yg merupakan miliknya?!
    Oppa, tetapkan hatimu~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s