KILL HIM! | Ficlet

 

KILLHIM

KILL HIM!

 

Cast:    Lee Seunggi

Kim Haneul

 

Rate: 15th

 

Genre: Romance

 

Author: Susan Arisanti

 

Hei, ini yang oneshot tapi berupa ficlet. Semoga suka yak! Hahaaa

 

Ell, happy reading!😀 

 

Kadang, kepercayaan yang telah kita berikan harus dikhianati agar kita memegang teguh integritas dan loyalitas. Namun, dikhianati orang yang kauharapkan, pernahkah kau merasainya?

 

 

 

 

“Neo?!” Kim Hwa-Yeon, perdana mentri di kerajaan Joseon terbelalak melihat lelaki yang menusuk ulu hatinya. “Seunggi-ah?” hamper tak percaya dan ia sangat berharap, penglihatannya mengalami gangguan. Tapi tidak! Pembunuh itu tetaplah Seunggi—menantunya.

 

Seunggi memutar pisaunya di perut Hwa Yeon, membuat lelaki paruh baya itu meringis sakit. Hwa Yeon merasa tubuhnya nyeri dibagian perut. Tangannya yang berlumuran darah mengacung pada menantu kesayangannya. Ia hamper meneteskan airmata. Bagaimana bisa Seunggi melakukan ini padanya?

 

“Kenapa…aa, kenapa kau mela—kukan ini…” dengan tersengal, lelaki itu ingin tahu alasan suami anaknya yang tega membunuhnya. “Apa salahku?”

 

“Salahmu adalah menjadi perdana menteri Joseon.”

 

“Kau menantuku, orang yang kupercayai akan menjaga putriku.” Dengan kesusahan, Hwa Yeon berbicara. Lelaki berumur itu mencoba menatap Seunggi dengan menahan sakit, meski dengan pandangan yang buram.

 

“Tapi, kau adalah targetku.” Seunggi diam, rahangnya mengeras. Sebagian besar dalam jiwanya mengutuki tindakannya ini. Namun, apalah daya. Tak ada hal yang bisa ia lakukan untuk menentang perintah Kim Yoongso, menteri pertahanan kerajaan. Dan sebagai ketua dalam perkumpulan Riphyanggi, ninja hitam yang berada dibawah perintah menteri pertahanan, dia harus membunuh orang yang berbahaya dalam kacamata Mentri itu.

 

“Appa!” suara lain terdengar, membuat Seunggi mendorong tubuh Hwa Yeon dan menebas urat nadi di leher Hwa Yeon. Hwa Yeon terkapar.

 

“APPAA!!!” dengan memegangi perutnya yang membesar, wanita berhanbok hijau itu menghampiri tubuh ayahnya. Tangannya bergetar saat darah menempel dengan mudah di telapak tangannya ketika memegang tubuh si ayah. Wanita itu mendongak, menatap pembunuh ayahnya yang masih kaku. Berulang kali, wanita itu mengedipkan mata agar pandangannya bisa fokus dan betapa terkejutnya dia begitu mendapati siluit suaminya tengah memegangi pisa dengan darah masih tercetak jelas diujung senjata tajamnya.

 

“Seunggi Oppa…” gumamnya hamper disertai desisan, nadanya melemah di kata terakhir. Bahkan lututnya langsung lemas begitu tahu pembunuh berdarah dingin itu.

 

Lelaki yang ia panggil tak menoleh. Seunggi menunduk dan menahan rasa sakit yang tiba-tiba merasuk dalam hatinya. Ia segera berlari—meninggalkan Haneul yang begitu terpukul. Pertama, keadaan ayahnya yang kritis—tak tertolong. Kedua—Cho Seunggi—suaminya yang membunuh ayahnya. Di dunia ini adakah yang bisa menggambarkan hatinya yang terluka?

 

Wanita itu menangis. Terisak-isak karena tak kuasa menahan nyeri.

 

 

***

 

“Tuan, ada yang ingin menemui anda.”

 

“Siapa—” belum tuntas Seunggi bertanya, pintu ruangannya sudah terbuka, seorang wanita masuk dan diikuti dua orang yang begitu kesusahan membawa peti berukuran sedang. Wanita itu tidak memandangnya sama sekali. Oh, tak tahukah dia bahwa ini sudah purnama ke tiga Seunggi tak bertemu dengan wajah ayu itu. Namun kenapa saat bertemu seperti ini, wanitanya—istrinya enggan menatapnya.

 

“Ini adalah pemberianmu sebelum pernikahan kita. Aku sudah mencoba mengumpulkannya dan memilah. Aku mengembalikannya padamu.” Haneul melirik peti yang berisi barang-barang Seunggi dan barang pemberian Seunggi untuknya.

 

Haneul melepas cincin yang terbuat dari rerumputan. Ia meletakkannya di meja. Mata tajamnya menatap Seunggi seperti sebuah panah yang bisa membuat Seunggi menahan sakit.

 

“Cincin ini…, lebih dari tiga bulan aku percaya bahwa malam itu tak pernah terjadi dan bukan kau pembunuh ayahku. Namun selama aku berpikir, selama itu pula aku membodohi diriku. Aku tetap tak bisa mengelak bahwa kau memang seorang pembunuh.”

 

Rahang Seunggi mengeras. Adakah seseorang yang mengerti pekerjaannya ini? Bahkan istrinya—gadis yang ia cintai, wanita yang tengah mengandung anaknya pun membencinya. Lalu, untuk apa ia hidup? apa seorang pembunuh tak pantas dicintai?

 

“Sama seperti kau yang sudah membunuh ayahku. Aku tak ada ragu untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahan. Dan tepat pada hari ini, aku bukan istrimu dan kau bebas menentukan hati serta hidupmu. Menjauhlah dariku karena saat aku menemuimu lagi, aku akan mengambil nyawamu.” Haneul hamper terisak, tapi ia menutupinya dengan diam sejenak.

 

“Jika kau tak mau bersamaku lagi, aku tak akan menututmu. Aku begitu sadar dengan keadaanku.”

 

“Dari sekian sisi buruk manusia, kenapa harus menjadi pembunuh? Membunuh orang-orang tak berdosa dan menghabisi nyawa ayahku, orang yang sangat kucintai dan rela berbuat apapun untukku?” Haneul menyela, rasa rindu bercampur benci dalam dadanya menyeruak. Ingin sekali ia memeluk, menumpahkan kerinduan yang selama ini meracuni hari-harinya, namun di sisi lain, ia ingin sekali menghujamkan pisaunya ke dada Seunggi. lelaki itu lah, suaminya lah yang membuatnya kehilangan sosok ayah, membuatnya kehilangan orang yang membesarkannya sejak kecil.

 

“Apa kau pikir, kau punya hak membuatku terpuruk?”

 

Seunggi yang mendengarnya hanya menatap dingin. ingin sekali tangannya meraih bahu Haneul dan membiarkan dadanya sebagai tempat bersandar. Akan tetapi, keinginan tetap keinginan. Ototnya kaku dan pita suaranya sudah kelu.

 

“Aku menyesal menangisimu. Aku mengasihi diriku dari caraku mencintaimu yang berlebihan!” gadis itu kini benar-benar menangis. Sudut matanya sudah basah dengan airmata.

 

“Apa kau menyesal mencintaiku? Menikah denganku?” suara Seunggi mirip sebuah bisikan.

 

Haneul mendongak. Ia menatap mata Seunggi yang biasanya membuatnya tenang dan hangat. Tapi, tidak untuk kali ini. Mata itu terlalu dingin—sangat dingin.

 

Haneul mengangguk. “Jika aku diberi pilihan, aku lebih ingin hidup tanpa mengenalmu.”

 

Dan, jantung Seunggi serasa berhenti berdetak. Ia mendengar orang yang ia cintai menyesal mengenalnya, orang yang ia cintai lebih ingin tak mengenalnya. Adakah rasa sakit yang bisa menggambarkan perasaan Seunggi saat ini?

 

“Jika waktunya tiba, aku akan mencarimu lalu membunuhmu.”

 

 

 

 

 

END

One thought on “KILL HIM! | Ficlet

  1. ceritanya bgus thor, seru
    tp terlalu cepet, terus apa alasan seunggi harus membunuh perdana mentri yg sekaligus mertuanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s