IDOL MAID (Take 8)

 

IM8

Title : Idol Maid

Leght : Chapter

Rate : M

Casts :

Kwon Jaejin

Yong Junhyung

Lee Gikwang

Gendre : Comedy romance

Author : ssha

 

 

Gikwang mulai resah dan sedikit kesal ketika ia menunggu Jaejin yang tak kunjung datang menemuinya. Gikwang menghadapkan tubuhnya kehamparan sungai Han yang terbentang luas. Samar-samar, ia melihat bayangan dirinya dari genangan air yang gelap. Namun, sesaat kemudian ia tersontak begitu melihat bayangan seorang gadis yang berdiri dibelakangnya. Dengan cepat Gikwang membalikkan badannya dan tersenyum pada gadis itu.

Jaejin segera berlari sangat kencang begitu ia teringat akan janjinya bersama Gikwang. Langit semakin gelap dan sungai Han nampak telah sepi pengunjung. Jaejin menghentikan langkahnya dan mengatur napasnya yang berantakan. Ia kemudian membalikkan badannya kesegala arah, mencari Gikwang yang kini pergi entah kemana. Mencari dengan cemas ditempat semula Gikwang berada.

IDOL MAID

TAKE 8

“7 tahun tidak bertemu kau terlihat sangat berbeda.” Gikwang tersenyum simpul begitu ia mendengar ucapan seorang gadis manis yang kini duduk disampingnya.

“Benarkah?” tanya Gikwang ragu.

“Hm…” gadis itu mengangguk seraya menatap Gikwang yang sedari tadi menatap kearahnya. “Kau terlihat semakin tampan dan mempesona” ucap gadis itu lembut.

“Ouwwww~~~” Gikwang mengalihkan pandangannya dan menoleh kesamping kiri. Ia lantas memukul-mukul kedua pipinya yang terasa panas dan memerah.

“Kau baik-baik saja?” tanya gadis itu –Baek Yoo Jung-

“Iya. Aku baik-baik saja” jawab Gikwang cepat seraya kembali menatap Yoojung.

“Aku kira kau sudah lupa padaku. 7 tahun itu waktu yang cukup lama kita lalui”

“Bagaimana aku bisa lupa padamu? Kau selalu membuat onar di kelas. Kau juga tidak bisa aku lupakan! Ketua kelas yang begitu mempesona”

“Kau terlalu berlebihan, aku bukan orang yang seperti itu”

“Kwangie…” pangil Yoojung lembut.

“Ah~ panggilan itu! Sudah lama aku tidak mendengar seseorang memanggil nama itu padaku” Gikwang tersenyum sangat ceria.

“Senyummu palsu!”

“Apa?!?” Gikwang terkejut. Senyumannya menghilang. Namun, dengan cepat ia kembali tersenyum walau terlihat sedikit dipaksakan.

“Apa kau sedang menunggu seseorang disini?” tanya Yoojung yang terlihat sedikit kecewa.

“A-aku…”

“Kau tersenyum, tapi matamu memancarkan kesedihan”

“K-kau”

“Katakanlah yang sejujurnya! Kau tidak bisa membohongiku!”

“Sudahlah, hentikan itu! Lagi pula ia tidak datang menemuiku” Gikwang mengalihkan pandangannya dan menatap kembang api yang meluncur keangkasa dari taman sungai Han.

“Astaga… apa dunia ini sudah terbalik?” tanya Yoojung tidak percaya. Gikwang terkejut, ia lantas kembali menatap Yoojung.

“Apa sekarang kau menyukainya? Jaejin, kau sekarang menyukainya?” tanya Yoojung memaksa. Gikwang terdiam dan melihat sorot mata Yoojung yang terlihat sedikit kecewa.

***

Jaejin terlihat berjalan sedikit gontai, pandangan matanya terlihat kosong. Sesekali ia menabrak pejalan kaki lainnya hingga membuatnya hampir terjatuh. Entah apa yang membuatnya kini terlihat seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup.

Jaejin lantas menghentikan langkahnya dipersimpangan jalan raya, ia terdiam begitu mendengar sayup-sayup alunan music beat mengalun ditelingganya. Jaejin semakin merasa marah ketika ia mendengar suara yang kini tengah bernyanyi. Jaejin mendongkakkan kepalanya dan menatap kearah tv layar lebar yang terdapat di sebrang jalan sana.

Jaejin mengertakkan giginya sangat kesal ketika ia melihat music video Junhyung yang tengah diputar. Jaejin nampak kesal, ia lantas membalikkan badannya dan menghindar untuk menonton MV tersebut. Jaejin terdiam, punggungnya terlihat naik turun menahan tangis yang akan pecah darinya. Namun, sesaat kemudian bersamaan dengan amarah yang masih membeludak di hatinya. Jaejin kembali melihat MV tersebut dengan kesal.

“Kenapa aku harus bertemu dengan orang sepertimu? Orang yang sangat menyebalkan! Orang yang sangat buruk! Orang yang… orang yang…” Jaejin memotong ucapannya saat ia menyadari dirinya kini tengah menangis.

“Orang yang begitu ku benci…” sambungnya dengan suara pelan. Jaejin segera menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

“Apa… apa yang kini tengah aku fikirkan, eoh?” Jaejin menatap wajah Junhyung yang sedang bernyanyi.

“Kau bersama wanita itu. Lalu… kenapa aku harus marah? Apa aku pantas marah? Apa itu pantas? Kau sangat menyebalkan! Ini tidak lebih dari sebuah lelucon kuno! Aku membencimu!” Jaejin menghentikan ucapannya, ia menarik napas panjang. Kemudian mengalihkan pandangannya dan terdiam.

Jaejin meninggalkan tempat itu dan berjalan seraya menundukkan wajahnya. Rasanya aneh jika harus memikirkan ini, disaat aku harus bersamanya berdekatan dengan orang lain. Disaat aku harus jauh darinya… ini… rasanya sangat aneh. Aku tidak ingin memiliki perasaan seperti ini, perasaan antara wanita dan pria. Perasaan suka, aku membencinya!

“Jaejin…!” Jaejin menghentikan langkahnya saat ia merasakan sebuah sentuhan di pergelangan tangannya. jaejin terdiam, ia sedikit menyunggingkan senyuman saat ia berfikir orang yang ada dibelakangnya ini adalah…

“Kau…” Gikwang terkejut melihat genangan air dimata Jaejin. Senyuman Jaejin menghilang begitu ia melihat Gikwang yang kini berdiri dihadapannya. Gikwang terdiam setelah ia melihat sekilas pada MV Junhyung.

“Dia…” Gikwang memotong ucapannya ragu dan kembali menatap Jaejin.

***

Junhyung terlihat begitu resah, beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi Jaejin. Namun jawaban yang ia terima selalu sama. Hanya suara operator yang terdengar ditelingganya. Junhyung melempar ponselnya sangat kesal begitu yang ke 100 kalinya ia mencoba menghubungi Jaejin. Junhyung lantas menghempaskan tubuhnya dikasur kemudian memejamkan matanya.

Dalam ingatannya masih tergambar begitu sangat jelas saat ia bertemu seorang anak kecil 18 tahun yang lalu. Gadis kecil itu terlihat sedang melihat air hujan yang turun dari atas genting rumahnya. Junhyung terdiam dan mengawasi anak itu yang terlihat sangat menikmati tetesan air hujan. Mata Junhyung mengarah pada coklat batangan yang ada ditangan kanan anak perempuan tersebut. Junhyung mulai memberanikan diri untuk mendekatinya.

“Sekarang hujan, akan lebih baik jika kau pulang kerumahmu” ucap Junhyung seraya menatap Jaejin yang terlihat masih menikmati tetesan air hujan.

“Aku tidak punya rumah! Jikapun itu rumah bagiku itu lubang neraka” jawab perempuan kecil itu nampak kesal.

“Kau kabur dari rumahmu?”

“Aku kabur karena aku muak dengan semuanya. Ibu tiriku sangat membenciku, ia tidak menyayangiku.” Junhyung terkejut melihat air mata yang mulai menetes di kedua mata perempuan itu.

“Jangan menangis. Maaf jika pertanyaanku sangat melukaimu” Junhyung tertunduk menyesal.

“Kau anak pemilik rumah ini?”

“Iya” Junhyung kembali menatap perempuan manis itu.

“Kau pasti senang berada disini.”

“Begitulah, apa kau selalu membawa coklat kemanapun kau pergi?”

“Oh ini?! Aku membawanya karena jika aku teringat mendiang Ibuku aku akan memakannya dan rasa sedihnya akan hilang. Coklat ini membantuku hidup didunia kelam ini”

“Benarkah?” Junhyung menarik coklat itu dari tangannya.

“Hey! Umurku 2 minggu lebih tua darimu! Jaga sikapmu. Itu coklat terakhirku dibulan ini” perempuan itu kembali merebut coklat dari tangan Junhyung.

“Dari mana kau tahu tanggal lahirku?”

“Mana mungkin aku tidak tahu? Kau disini sangat terkenal seperti seorang artis”

“Benarkah?”

“Siapa namamu?”

“Kwon Jaejin. Namaku indah bukan? Kau siapa?”

“Aku…”

Sedetik kemudian ada sebuah mobil yang melaju disaat Ibu memanggil nama Junhyung dan membuat Jaejin tidak dapat mendengar suara tersebut. Saat mobil itu pergi menjauhi mereka berdua Junhyung berpamitan untuk pergi meninggalkan Jaejin seorang diri. Seorang diri hingga ia pergi dalam hujan yang masih turun begitu deras.

Ingatan itu seolah menjadi pil pahit bagi Junhyung yang selama masa kecilnya menunggu kehadiran Jaejin untuk berteduh didepan rumahnya dan membaginya sepotong coklat. Namun, rupanya itu menjadi keinginan yang tak terwujud hingga ia beranjak dewasa.

Junhyung kembali membuka kulkasnya dan melihat sebuah coklat dengan merk yang sama dengan kesukaan Jaejin. Keinginannya untuk bertemu teman lama mungkin telah terkubur begitu dalam. Tapi, kini ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki sifat dan cara bicara yang sama dengan Jaejin kecil.

“Alasanku untuk mencegahnya pergi dari hadapanku adalah karena ia telah masuk kedalam kehidupanku jauh sebelum aku mengerti arti cinta yang sesungguhnya” bisiknya. Jaejin kecil yang kini telah beranjak menjadi Jaejin dewasa yang kembali masuk kedalam kehidupannya. Tidak akan Junhyung lepas begitu saja, untuk kesekian kalinya, ia akan meminta Jaejin untuk diam bersamanya, dalam kehidupan ini.

 

 

“Maaf aku tidak datang” ucap Jaejin serba salah.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Tindakanmu sudah menjawab semuanya” ucap Gikwang sedikit kecewa.

“Sungguh tadi aku…”

“Kau sudah melakukan apa yang kau inginkan” dengan cepat Gikwang memotong ucapan Jaejin. Keduanya menghentikan langkah bersamaan dan saling pandang.

“Maaf” Jaejin menundukkan kepalanya merasa bersalah.

“Caramu memandangnya… sepertinya kau mulai menyukainya”

“Apa?” Jaejin mengangkat wajahnya dan kembali menatap Gikwang.

“Orang dengan penampilan aneh itu. Kau pasti sudah menyukainya. Kau sekarang bekerja dirumahnya kan?”

“Dari mana kau mengetahuinya?”

“Kau selalu membohongiku, bisakah kau berkata jujur padaku?”

“Gikwang aku..” Jaejin memotong ucapannya, ia melihat wajah Gikwang yang sedikit memancarkan amarah.

“Lupakanlah aku. Aku rasa kau menyukainya”

“Aku rasa ia jauh lebih baik dariku. Kau melakukannya dengan baik” ucap Gikwang dengan cepat. Jaejin terdiam ia melihat Gikwang yang berlalu dengan tergesa-gesa dari hadapannya.

Disisi lain, Gikwang terlihat menyesal telah mengucapkan semuanya pada Jaejin. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan Jaejin.

SET..!!! Langkahnya terhenti begitu ia merasakan sebuah sentuhan melingkar di perutnya. Dengan ragu ia melirik kearah perutnya yang kini terlihat tangan Jaejin yang memeluknya erat.

“Rasanya begitu aneh jika kau seperti ini. Kau terlihat seperti bukan Gikwang! Hey… berhentilah seperti ini!” ucap Jaejin lembut yang kini merangkul Gikwang dari arah belakang.

“Kau begitu berharga bagiku. Bagaimanapun kau adalah pria yang selalu mewarnai hariku,,, meskipun kau sangat menyebalkan.” Namun Gikwang rupanya tidak merespon baik ucapan Jaejin, ia terlihat sedikit mengeluarkan air mata. Jaejin tersenyum simpul.

“9 tahun yang lalu aku mengenal seorang pria lembut dan sopan, dia selalu tersenyum, cara tertawa sangat membuatku merindukannya jika sehari saja aku tidak bertemu dengannya. Dia adalah Lee Gikwang, orang yang kini berubah menjadi pria bodoh dan hidupnya sangat konyol” Jaejin sedikit mengeluarkan air mata saat mengutarakan isi hatinya. Gikwang masih terdiam dan mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan oleh Jaejin.

“Waktu berlalu, aku tidak tahu selama 9 tahun mengenalinya aku selalu memikirkannya, memikirkan wajahnya yang selalu tersenyum padaku. Dan aku mulai menyadari semuanya, jika aku jatuh cinta pada Lee Gikwang.” Jaejin mengigit bibir bawahnya dan menahan tangisnya. Gikwang terdiam, air mata mulai berjatuhan membelai wajahnya lembut.

“1 tahun terakhir aku merasa jika aku sangat beruntung karena selalu bertemu dengannya, bermain dan bercanda dengan si bodoh!” Jaejin tersenyum simpul.

“Hingga pada akhirnya aku lelah, aku lelah memendam perasaan ini seorang diri. Aku katakan hari ini jika aku sangat menyukainya, menyukainya hingga membuatku hampir menjadi gila.” Jaejin kembali tersenyum dengan lebar namun air mata kembali mengucur dengan deras.

“Aku menyukaimu” bisiknya pelan, Jaejin menghentikan ucapannya ia membiarkan air mata itu jatuh terus menerus membanjiri wajahnya. Perlahan, Gikwang melepaskan tangan Jaejin yang melingkar diperutnya. Jaejin terkejut saat Gikwang membalikkan badannya dan menatapnya.

Gikwang lantas memeluk tubuh Jaejin dan mendekapnya erat. Keduanya tersenyum dan menikmati pelukan hangat itu. Hingga waktu berlalu dengan cepat dan Gikwang melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah Jaejin dalam.

“Terimakasih karena telah menyukaiku. Terimakasih karena kau telah memperhatikan si bodoh ini.” Gikwang tersenyum simpul seraya menghapus air mata yang masih mengalir dari mata Jaejin menggunakan ibu jarinya.

“Aku juga menyukaimu” ucapnya lembut. Jaejin tersenyum lebar, Gikwang kemudian mendekatkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Jaejin. Perlahan, Jaejin menutup matanya saat Gikwang mengecup keningnya lembut. Sangat lembut hingga membuatnya merasa menjadi lebih tenang. Gikwang lantas menjauhkan bibirnya dari kening Jaejin dan kembali menatap Jaejin dalam.

“Tapi…” senyuman diwajah Gikwang menghilang, ia menatap Jaejin sendu.

“Kenapa aku begitu sangat bodoh? Aku terlambat mengetahui segalanya. Pancaran dimatamu begitu sangat jelas tentang isi hatimu. Tapi maaf, aku telah membuat kecewa dan tidak mengerti tantang perasaanmu”

“Akan lebih baik jika terus seperti ini, sama seperti tahun sebelumnya saat aku tidak mengerti perasaanmu. Menjadi seorang Gikwang dan Jaejin yang selamanya hanya akan menjadi sahabat.” Sambung Gikwang. Jaejin tersontak terkejut, senyumannya menghilang. Ia menatap Gikwang tak percaya.

“K-kau…”

“Aku menyukaimu dan sangat menyukaimu sebagai sahabatku!” jelas Gikwang. Jaejin menatap Gikwang dan kembali meneteskan air mata. Gikwang membuarkan Jaejin dalam kondisinya seperti  ini, ia membalikkan badannya.

Gikwang memejamkan matanya lantas meraup wajahnya sedikit menyesal. Dibelakangnya, Jaejin nampak masih terkejut dan terus menangis. Gikwang lantas pergi meninggalkan Jaejin. Jaejin terdiam dan menangis melihat Gikwang yang berjalan menjauhinya.

“Kau jahat… sangat jahat” bisiknya parau.

***

“Kalian berdua apa sedang mempunyai masalah?” Hyunseung menatap Jaejin yang kini duduk lemas dihadapannya. Ia kini sedang mengunjungi Jaejin dirumahnya. Dan ia mendapat perlakuan yang mengenaskan, sang tuan rumah malah bergalau ria sementara tamu menatapnya was-was.

“Ck… apa masalahnya begitu sangat rumit? Aku tanya Gikwang ia juga tidak mau menjawab dan malah terus membentuk otot-ototnya. Dan sekarang kau! Hash… masalah percintaan memang selalu rumit” Jaejin masih terdiam dengan tatapan kosong dan membiarkan Hyunseung mengoceh seorang diri.

“Jangan seperti itu! Kau mau makhluk halus itu masuk ketubuhmu?” Hyunseung mengernyit ketakutan.

“Hhhh… aku harap aku bisa berganti jiwa denganmu! Hidupmu terlihat sangat menyenangkan dan enteng. Tidak sepertiku yang sangat menyedihkan” Jaejin menarik napas panjang.

“Apa kau ingin kubuatkan makanan? Kau pasti lapar” Hyunseung beranjak dari duduknya

“Tidak perlu. Aku tidak lapar” cegah Jaejin lemas, Hyunseung kembali duduk dan menatapi jaejin. “Kurasa kau adalah teman priaku yang memiliki pemikiran normal” ucapnya pelan.

“Sudahlah. Jangan meratapi nasibmu seperti ini. Cintamu kini pergi! Siapa tahu seorang pangeran berkuda kini tengah menunggumu” ucap Hyungseung mencoba menghibur Jaejin.

“Untuk apa? Agar aku memberikan makan pada kudanya?” tanya Jaejin pasrah.

“Tentu saja untuk melamarmu!”

“Apa?” Jaejin melirik Hyunseung yang kini tengah tersenyum manis kearahnya. “Ah~ lupakan! Ini bukan negri dongeng” ucap Jaejin menghadapi realita kehidupan.

“Hhhh~~~ benar! Hidup sebagai Kwon Jaejin memang sulit” Hyunseung menyenderkan tubuhnya disandaran kursi dan ikut pusing dengan masalah Jaejin.

“Hyunseung!” pangil Jaejin lemas.

“Hmmm…”

“Aku harap aku adalah Gil Ra Im! Aku ingin menukarkan jiwaku padamu! Kau mau coba?” tawar Jaejin frustasi.

“Hhh! Aku bukan Kim Joo Won! Kalaupun mau, aku lebih memilih bertukar jiwaku dengan Ha Ji Won Noona” tolak Hyunseung mentah-mentah. Jaejin menatap Hyunseung kesal.

“Aku tarik ucapanku kembali bahwa kau adalah temanku yang paling normal” ucap Jaejin kesal bercampur marah. Ia lantas beranjak kemudian berlalu dari hadapan Hyunseung.

“Jaejin! Kau marah padaku? Kenapa sekarang kau juga marah? Tidak… Hash… baiklah aku ingin bertukar jiwa denganmu agar aku bisa merasakan bagaimana hidup sesulit dirimu…!!!!!” teriak Hyunseung yang melihat kepergian Jaejin.

“LUPAKAN!!!” BRAK!!! Hyunseung terkejut begitu mendengar Jaejin membanting pintu kamarnya dengan keras. Hyunseung kemudian terkekeh melihat tingkah Jaejin.

“Hidupnya sangat kacau, ck…”

***

“Jaewon hati-hati ya! Aku pergi dulu!!!!” teriak Jaejin seraya melambaikan tangannya pada Jaewon yang mengantar kepergiannya diambang pintu. Jaejin kemudian mulai berjalan menjauhi rumahnya. Ia kini berjalan dengan membawa sebuah tas ransel dipunggungnya.

“Hah~! Kurasa mengasingkan diri ke Busan bukan hal yang buruk” Jaejin menghirup dalam-dalam udara segar dipagi hari seraya memancarkan aura bahagia.

“Dan kurasa disana aku bisa melupakan masalah tentang Gikwang dan…” Jaejin menghentikan langkanya, ia terenyuh.

“Junhyung” Jaejin tersenyum hambar seraya melihat ujung sepatunya.

“Hah… aku selalu mengingatnya jika aku melihat kakiku” Jaejin terkekeh saat pertama kali ia bertemu dengan Junhyung. Jaejin mengangkat wajahnya kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.

Disamping itu, terlihat sebuah mobil van yang melaju melewati Jaejin. Junhyung yang berada didalamnya langsung terkejut saat ia melihat Jaejin yang berjalan didepan matanya. Junhyung tersadar ketika ini adalah jalan menuju rumah Jaejin.

Jaejin terkejut saat ia melihat mobil van yang berhenti dihadapannya. Jaejin membelakakan matanya saat ia mengenali mobil tersebut. Jaejin segera mengambil langkah seribu untuk pergi meninggalkan mobil van dari hadapannya. Namun, pada saat itu juga Junhyung keluar dari mobil dan menahan langkah Jaejin dengan cepat.

Jaejin terkejut, ia menghentikan langkahnya terpaksa. Junhyung menahan pergelangan tangannya cukup kuat.

“Selama satu minggu kau menghilang. Apa kau baru pulang dari luar angkasa?” tanya Junhyung yang memakai kaca mata hitam dan topi yang hampir menutupi penyamarannya.

“Untuk apa kau kesini?” tanya Jaejin tanpa menoleh kearah Jaejin.

“Kau puas setelah membuat orang begitu mencemaskanmu? Kenapa panggilanku tidak kau angkat? Apa ratusan panggilan itu tidak cukup untuk menunjukkan kekhawatiranku padamu?” tanya Junhyung berapi-api.

“Untuk apa kau mencemaskanku?” Jaejin masih enggan untuk menatap Junhyung.

“Kau pergi seperti itu dariku dan sekarang kau menghindariku. Sebenarnya apa yang ada diotakmu Kwon Jaejin!!!” Jaejin mencoba melepaskan cengkraman tangan Junhyung. Namun, Junhyung semakin mempererat cengkaramannya. Junhyung kini menarik tangan Jaejin, Jaejin tertarik dan dengan terpaksa tubuhnya mendekap tubuh Junhyung. Jaejin terkejut.

Junhyung kini memeluk tubuh Jaejin erat, ia mendekapnya begitu erat seakan takut kehilngan Jaejin untuk kesekian kalinya. Jaejin masih terlihat terkejut dengan perlakuan Junhyung.

“Jangan pergi!” perintah Junhyung saat Jaejin akan menjauhkan tubuhnya dari Junhyung.

“Kau membuatku cemas” Junhyung lagi-lagi mendekap Jaejin begitu erat.

“Ada apa denganmu?” Jaejin buka suara.

“Aku sangat mencemaskan mu bodoh! Kau membuatku cemas hingga membuatku sesak bernapas. Kau membuat jantungku hampir copot saat aku mengingatmu. Saat malam, dan pagi hari aku selalu merindukanmu…” Junhyung memotong ucapannya. Jaejin sontak terkejut begitu ia mendengar pengakuan Junhyung.

CLOSING TRACK : B2ST – WILL YOU BE OKAY?

“Kau…”

“Jaejin aku menyukaimu”

JDER!!! Mata Jaejin membulat begitu ia mendengar suara Junhyung yang terdengar begitu jelas ditelingganya. Ini mimpi? Apa ini khayalan? Apa ini jika bukan mimpi atau sebuah khayalan??

TBC

5 thoughts on “IDOL MAID (Take 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s