Deception A Masokis (Part 14)

 

dam14

Title: Deception A Masokis 14

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Cho Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Choi Minho

Jonghyun CNBlue as Lee Jonghyun

Author: Susan

FB: www.facebook.com/susan.a.hermawan

Twitt: @sa02011

 

 

Batas mencintai adalah seberapa hatimu memberi dan batas dicinta adalah seberapa kuat kau menerima. Dua hal yang lahir dari hukum alam; memberi dan menerima.

 

 

 

-= Deception A Masokis 14 =-

 

 

 

Aku menggantung handuk mandiku di hanger lalu menyampirkannya di dekat jendela. Kulihat, Jihyun sedang menyiapkan buku-bukunya. Sesekali ia menoleh padaku. Aku hanya diam tak berekspesi lalu mengambil sisir. Aku tahu, semua siswa tingkat akhir mengalami stressing yang luar biasa dengan beban yang luar biasa pula.

 

Kami bangun pukul 06.00, dimulai dengan olahraga pagi, mandi, sarapan lalu belajar pukul 08.00 hingga 13.00, waktu istirahat yang kami miliki ketika siang pun hanya 30 menit, dan belajar lagi sampai pukul 18.00, istirahat kedua sampai 19.00 untuk mandi dan makan malam. Baru belajar lagi hingga pujul 22.00. begitulah setiap hari; Senin hingga Jum’at. Sementara setiap hari sabtunya, pelajaran selesai pukul 13.00. Inilah keseharian belajar yang jadi rutinitas panjang. Kami memang harus bekerja keras agar bisa diterima di kampus terbaik. Banyak siswa yang akhir pekan memilih pulang, dan saat acara tertentu, misal prom, libur nasional, rata-rata temanku memilih hangout dan benar-benar memanfaatkan waktu libur dengan maksimal.

 

“Kau sudah memasukkan bukumu?”

Kuanggukan kepalaku. Jihyun menenteng tasnya dan menyuruhku cepat-cepat. Kupakai cardigan berwarna krim lalu mengambil tasku. Kami keluar bersama menuju Sapphire Line Building, lebih tepatnya ke cafeteria untuk makan malam sebelum masuk pelajaran selanjutnya.

 

“Annyeong, aku boleh bergabung denganmu?” Mr. Ernest membawa nampan makan malamnya. Dan entah kenapa, darahku terkesiap. Aku melongo, untung saja, Jihyun menguasai keadaan dan mempersilakan guru training itu duduk.

 

“Wah,Sir… sangat menyenangkan bisa satu meja dengan anda,” Jihyun sumringah, ia tak berhenti tersenyum, “Omong-omong, permainan piano anda tadi pagi sangat bagus. Kenapa anda tak jadi musisi? Saya adalah orang pertama yang membeli tiket pertunjukkan music anda.”

 

Mr. Ernest tersenyum. Ia menyendok jamur raviolli dan membalas basa-basi Jihyun. “Yeah, aku ingin menemukan dunia baru di sekolah. Dan aku memiliki sebuah tujuan khusus menjadi guru.”

 

Tunggu dulu! Tujuan khusus? Ia menjadi guru untuk tujuan khusus? Aku hendak bertanya, tapi dihentikan oleh teman-temanku yang berhampuran keluar setelah mendengar bunyi yang menyakitkan.

 

“Hei, ada apa ini?” setengah menggumam, Mr. Ernest melihat sekeliling. Ia membatalkan makannya dan bergegas pergi, mengikuti arah beberapa siswa. Jihyun melahap Apelnya lalu bertanya. “Mau lihat?”

 

Kuletakkan sumpitku lalu mengikuti Jihyun. Kami berdesakkan dan sesekali menyelip agar bisa melihat apa yang dikerubungi mereka. Kuamati kabel yang menjulur dari lantai tiga Sapphire Line Building dan betapa kagetnya aku melihat apa yang terjadi. Jihyun memegang lenganku dan memekik takut melihat Park In terkapar di lantai dengan kabel melingkar di kakinya, ia telentang  dan darah mengalir kemana-mana. Tubuh kaku dan berlumuran cairan merah itu sudah tak bergerak. Park In? Ya Tuhan… siapa yang melakukan ini? Astaga! Padahal Park In yang menyuruhku menemuinya di Andromeda galaxy usai belajar, pukul 22.00 nanti tapi kenapa dia malah begini? Kakiku melemas, aku hampir jatuh jika tak ada seseorang yang menahan tubuhku. Kyuhyun menutup mataku yang masih lekat manatap jasad Park In yang miris itu, sementara Jihyun menghambur ke dada Minho. Tanpa banyak perlawanan, kuiikuti Kyuhyun, membalik tubuh dan duduk di lokasi yang agak jauh dari tempat Park In jatuh.

 

“Ini,” Kyuhyun mengulurkan cokelat, aku segera menerimanya. Mengunyahnya dengan kasar lalu tanpa bisa kucegah mataku yang awalnya memanas kini mengeluarkan airmata. Aku mengerang sedih, ini sangat sulit untuk kulewati. Kyuhyun mendekat, dalam duduk, ia memelukku. Kupukul-pukul dadanya, meluapkan rasa sesak yang membelengguku. Lelaki itu hanya diam, matanya terpejam sementara tangannya membelai rambutku.

 

“Kenapa begini, Kyu. Park In memiliki hutang penjelasan denganku. Kenapa dia secepat ini? Dia meninggal dengan cara yang seperti ini.”

 

“Tak ada yang bisa menjawab kematian, Rail. Tapi kita bisa mencari penyebabnya.”

 

“Kalau kematian Park In ada hubungannya denganku dan pelakunya memiliki dendam pada Ayahku atau aku, kenapa harus melibatkan orang lain. Park In memiliki hak untuk hidup, kan? Kyuhyun, kau jangan diam saja! Aku—”

 

“Rail…” suara Kyuhyun amat hangat dan lembut, menciptakan sensasi tenang dalam carut marutnya perasaanku. “Aku akan melakukan yang terbaik.”

 

Aku mengatupkan mulutku. Kuremas cardigan Kyuhyun di bagian dada dan kenyataan malam ini membuatku kepalaku pusing.

 

“Siapa yang tega melakukan ini?”

 

“Kau percaya bahwa kebaikan akan menang?” Tanya Kyuhyun dengan nada retoris. Aku hanya diam seraya menahan airmataku agar tak menetes lagi. “Bagaimana pun caranya, akan selalu ada cara menemukan siapa yang bersalah. Kematian Park In malam ini sangat mengejutkanku. Tapi, semua sudah terlambat. kau—jaga dirimu. Jangan berfikir akan selalu ada orang yang ada untukmu. Aku tahu kau jago taekwon-do, jadi kuharap kau bisa mandiri.”

 

Aku mulai tenang meski airmataku belum sepenuhnya tuntas, masih meringkuk di dada bidang Kyuhyun. “Siapa yang melakukan ini?” Aku mendongak menatap Kyuhyun, berharap pemuda itu bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Kyuhyun hanya diam. Tak berbicara.

 

Kematian Park In murni disebabkan kecelakaan atau memang disengaja? Jika memang ini disengaja—Park In dibunuh, apa pembunuh itu memiliki hubungan denganku? Kalau ia mempunyai masalah padaku dan ingin membunuhku, seharusnya ia tak perlu melibatkan orang lain. Kuamati sekitar, apa ada yang mencurigakan disini? Nihil, aku tak menemukan hal aneh di sekitarku. Semua siswa tegang dan takut, beberapa guru menyuruh siswa menjauh dan mereka segera membawa jasad Park In dengan ambulans. Kulihat, di sudut utara, Guru Park In Joo tergugu. Ia berdiri kaku dan menunduk ketika ambulans itu sudah hilang dibalik pintu. Omong-omong Guru Park, bukankah dia kakak Park In? kenapa dia tak ikut ambulans malah berdiri kaku disana?

 

“Berikan jam tanganmu!” suruh Kyuhyun. aku menoleh dan menyeka sisa airmataku. Tanpa bertanya, kuserahkan arloji anti airku pada Kyuhyun. lelaki itu mengotak-atiknya dan menempelkan sesuatu didalamnya. “Ini adalah detector, jika kau hilang, aku bisa melacak keberadaanmu melalui GPS.” Kyuhyun mengambil smartphonenya dan mengaktifkan layanan GPS. “Nah, kau lihat! Ini sudah aktif. Apapun yang terjadi, jangan pernah melepas jam tanganmu.”

 

“Kalau kau yang menghilang?”

 

“Kau bisa melacakku dengan GPS, aku juga meletakkan detector di sini,” Kyuhyun mengangkat tangannya ke udara, memamerkan arlojinya yang berwarna silver. “Mana smartphonemu?” kuulurkan tangan, memberikan ponsel android dan Kyuhyun menerimanya. Lama sekali ia mengaktifkan GPS dan menyamakan kode detector miliknya dengan system pencarian di layanan GPS ponselku. Aih, aku sangat penasaran dengan Kyuhyun. Darimana dia belajar hingga bisa menghack, bisa memiliki detector, paham tentang kriptografi dan kelebihan lainnya. Benar-benar pendeskripsian pemuda menarik yang sempurna.

 

“Nah, ini. Kau bisa melacakku dari sini. Dan… mengenai Park In, Ibuku sudah menghubungi polisi untuk menyelidikinya. Jadi sekarang, ayo, masuk kelas!”

 

 

***

 

 

 

Baiklah, ini sudah 3 jam aku belajar Matematika dengan Mr. Albert. Dari sekian penjelasan panjangnya itu, tak ada satu pun yang nyantol di kepalaku. Aku sulit berkonsentrasi terutama saat Kyuhyun dipanggil wali kelas kami, Oh Seungmi. Untung saja, sekarang jam sudah habis. Kulihat beberapa temanku yang memiliki pandangan shock. Ya, bagaimana tidak? Kematian Park In yang tiba-tiba dan aneh itu amat mengherankan dan membuat beberapa siswa ketakutan, mereka takut jika ini adalah sebuah terror. Aku menekuk kepalaku, membenamkan wajahku di meja dan tanganku mengetuk-ngetuk meja, malas sekali kembali ke asrama. Aku bahkan sudah menyuruh Jihyun pulang sendiri dan tak perlu menemaniku. Beruntung, ia tak keras kepala. Ia jadi anak penurut dan pulang bebarengan dengan teman lainnya.

 

Ruangan kelas amat lenggang. Aku sangat berharap arwah Park In datang dan menjelaskan sebab kematiannya dan aku juga menagih penjelasan tentang boneka kelinci pemberiannya siang tadi. Omong-omong tentang kematian Park In yang seperti itu, aku menduga kuat jika ini disebabkan karena Park In menjanjikan penjelasan padaku. Andai begitu, tentu saja penjahat itu ada di sekitarku. Orang yang ada di taman saat itu Kyuhyun. Apa Kyuhyun yang menyebabkan ini? Ah, kenapa aku curiga pada Kyuhyun? Jika bukan dia siapa? Mr. Ernest? Saat insiden kematian Park In, Mr. Ernest tengah makan malam satu meja denganku. Kurasa, Mr. Ernest memiliki alibi kuat bahwa ia tak terlibat. Ash, kenapa memusingkan sekali?

 

Phoenix memangsa simurgh”, apa ini jawaban dari kata sandi itu. Karena Park In ingin memberitahu tentang ibuku, ia dibunuh? Apa begini? Jika pelakunya Kyuhyun, mengapa Kyuhyun repot-repot melacak akun hacker dan memintaku menerjemahkan sandi dari buku abu tadi? Jika bukan Kyuhyun, bukan Mr. Ernest lalu siapa? Apa kakaknya Park In? Guru Park In Joo? Oh, mana mungkin seorang kakak membunuh adiknya sendiri? Lalu kenapa tadi guru Park malah berdiri kaku dan tak ikut ambulans? Ya Tuhan, memikirkan siapa pelakunya saja membuat kepalaku  mau pecah!

 

“Kang Ra-il.”

 

Aku mengangkat wajah dan menjumpai guru Park In joo menatapku. Baru saja, aku memikirkannya. Aih, kenapa dia menemuiku? Apa memang dia pelakunya? Hash, kenapa aku sekarang mudah berburuk sangka pada orang lain?

 

Tidak, tidak mungkin Guru Park melakukan ini. Pasti ada hal lain. Kuamati lekat wajahnya yang kian dekat, ada sorot terluka dan sedih yang tak mampu ia sembunyikan. Ia makin mendekatiku dengan langkah gontainya. Buru-buru aku berdiri. “Aku turut berduka, Songsaengnim.”

 

Guru Park melengkungkan bibir, tak tampak seperti senyuman. Ia mengangguk lemah lalu duduk di kursi yang ada di depanku, aku ikut duduk kembali. Mata Park saem memutar, mengamati sekitar. Setelah diprediksi aman, ia mulai membuka percakapan.

 

“Ini buku harian Park In, dia sangat ingin menyerahkan ini padamu satu minggu lalu. Dia baru memiliki keberanian hari ini, namun kau lihat—dia malah…” suara Guru Park tenggelam, ia menaikkan pandangan hingga mata kami saling bersiborok pada satu garis lurus. Melihatnya begitu terpuruk, aku menyesal telah mencurigainya tadi. “Bacalah! Dan maafkan dia karena mungkin, kau bisa marah saat tahu yang sesungguhnya.” Guru Park permisi dan meninggalkanku. Aku mengejang, masih terhipnotis dengan kalimat demi kalimat yang dituturkan Guru Park. Ada yang kugaris bawahi dari ucapannya.

 

“Kau bisa marah saat tahu yang sesungguhnya,” mengapa Guru Park sudah meng-klaim bahwa aku marah karena membaca ini? Kumain-mainkan buku itu ke udara lalu mengamati buku harian bersampul bunga sakura itu, di pojok kanan atas buku itu ditulis nama Park In Na dalam huruf hangul. Karena penasaran, aku cepat-cepat membaca buku tersebut. Aku sangat takjub dengan  tulisan tangan Park In yang rapi. Ia tak menulis tanggal penulisannya tapi aku yakin, ia mengurutkan tanggalnya berdasarkan letak halamannya. Buku harian itu berisi kegiatannya sehari-hari dan isi hatinya—pada Kyuhyun.

 

Jadi, benar kalau Park In memiliki perasaan pada masokis itu? Aku masih terus membaca buku harian itu dan mendengus kesal saat aku makin mengetahui betapa Park In memuja Kyuhyun. Kemana lelaki penebar pesona itu? Biasanya tanpa kucari, ia sudah menampakkan diri. Apa dia sudah kembali ke kamarnya? Aku berdiri bergegas meningalkan kelas yang makin hening.

 

Dengan mengendap-endap, aku menyusup asrama laki-laki. Entahlah, otakku mungkin sudah gila. Peduli setan dengan penilaian seperti itu. Aku hanya ingin menemui Kyuhyun dan menyuruhnya membaca diary Park In. Langkahku terhenti tepat di depan taman, mendengarkan pembicaraan Kyuhyun dengan seseorang di ponsel. Kuamati sorot wajah Kyuhyun yang menegang.

 

“Iye, sajangnim.” Kyuhyun berhenti. “Akan kuusahakan secepatnya.”

 

Mataku memincing. Tumben Kyuhyun berbicara dengan nada lembut namun tegas begitu. Aku merasa janggal dan jika boleh berasumsi liar, Kyuhyun seperti memiliki rahasia besar.

 

Aku menyembulkan kepalaku, berdiri tegak sempurna dan mengikuti langkah Kyuhyun yang hendak masuk dalam kamar. Hampir saja kuulurkan tanganku untuk menepuk pundak Kyuhyun, namun darahku terkesiap karena Kyuhyun dengan cepat membalik tubuh dan menekuk tanganku ke belakang, menciptakan rasa nyeri yang berdenyut-denyut.

“Arghh!” aku menjerit kesakitan dan tatkala ia menyadari bahwa yang mengikutinya dari belakang adalah aku, ia melepas dan menampilkan senyum tanpa dosa. Membuatku ingin sekali kulumat tubuhnya.

“Kenapa? Baru saja tak bertemu beberapa jam, kau sudah kesini. Merindukan aku, Nona?” dengan penuh kepercayaan diri, ia berucap begitu. Membuatku dilanda rasa aneh karena merasa seperti ketahuan mencuri. Konyol sekali berperilaku begini.

“Aku mau masuk!” kutarik gagang pintu, mengungkitnya lalu masuk seenak jidatku. Kulihat Kyuhyun hanya menggelengkan kepala lalu melenggang pelan mengikutiku. Aku merebahkan tubuhku di sofanya yang empuk dan mengacungkan diary Park In. “Ini… buku harian Park In.”

Reaksi Kyuhyun sangat berlebihan. Ia menyabet buku itu secepat kilat dan langsung menekurinya tanpa mempedulikan aku yang kesal setengah mati karena membaca tulisan Park In yang begitu mengagung-agungkan Kyuhyun.

“Apa aku perlu memegangimu agar kau tak terbang karena pujiannya?” tatarku dengan nada emosional yang khas dengan aroma cemburu. Kyuhyun terkekeh lalu duduk di sampingku. Ia merapatkan tubuhnya padaku. Kugeser tubuhku dan tak membiarkannya dekat denganku. Kami terdiam, aku hanya seperti orang bodoh yang begitu takjub dengan raut serius Kyuhyun. aku buru-buru membuang muka saat Kyuhyun mendongak. Tak mau ia tahu bahwa aku menelusuri tiap detil wajahnya yang membuatku kesal sendiri karena tak bisa membohongi pikiran bodohku. Ya, sebuah pikiran yang begitu menggilainya dan aku merasa ini bukan sekedar gila tapi hilang akal.

 

“Ini, bacalah! Baru kau cemburu.”

 

Kuterima buku itu dan langsung membaca tulisan Park In pada halaman yang dimaksud Kyuhyun.

 

“Aku tak tahu harus memulai cerita padanya dengan kisah yang bagaimana? Aku merasa bersalah pada Shinra ahjumma. Aku tak sengaja bertemu dengan Shinra, ia menggelandang di jalan dan aku kasihan. Aku memaksa Ayah agar menerima dan merawatnya.”

 

Saat itu, aku dan keluarga berencana liburan di Auckland dan membawa serta Shinra Ahjumma. Kami bertemu keluarga Cho, waktu itu Shinra Ahjumma sempat kehilangan kendali dan menenggelamkan anak lelaki itu, putra paman Cho Yeonghwan. Kejadian itu membuat istri paman Cho memaksa Ayah untuk mengkonsultasikannya ke salah satu psikiater di Auckland dan hasil konsultasi itu juga yang membuat Ayah memasukkan Shinra Ahjumma ke Rumah Sakit Jiwa di Auckland selama beberapa hari hingga kami usai liburan. Tanpa kami duga, keesokannya kami mendengar bahwa RSJ itu kebakaran dan kami tak menemukan jasad Shinra Ahjumma. Selama bertahun-tahun, Ayah mencari tahu siapa keluarga Shinra Ahjumma, aku hanya memiliki boneka kelincinya saja, sebuah boneka yang katanya adalah boneka putrinya, sesuatu yang amat berharga baginya.

 

Selama bertahun-tahun mencari tahu, kami  baru sadar keberadaan keluarga Shinra Ahjumma dua minggu lalu. Ya, Perdana mentri Kang Hyo In, anaknya bernama Kang Rail, wanita yang dekat dengan Kyuhyun. Ah, gadis itu membuatku kesal karena semenjak Kyuhyun mengenalnya, lelaki itu tak meluangkan waktunya untuk makan di sebelahku. Mana mungkin aku sebaik itu pada wanita yang merebut Kyuhyun dariku?”

 

Buku harian yang semula kupegang itu jatuh. Semua yang ada di depan mataku terasa kabur, tubuhku menegang dan mataku memanas. Nafasku berhembus tak teratur, dadaku sampai berkontraksi kuat karena kesulitan menghirup udara; memasok oksigen. Kyuhyun menepuk pundakku. Tanpa bisa kukendalikan airmataku meluncur sukses. Demi apapun yang bernyawa, aku sakit, lemah dan menangis.

 

Sebuah tangan kokoh merengkuh bahuku, aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuatku makin megap-megap. Kupukul-pukul dadaku yang sesak, berharap rasa sempit itu menjadi lapang. Tangan Kyuhyun melingkar di kepalaku, memaksaku untuk merebahkan kepalaku di bahunya

 

“Park In… dia—tahu ib—buku….” Kepalaku pusing dibuatnya, Kyuhyun mengelus bahuku. “Apa… Kyuhyun-ah, ibuku… kemana? Apa dia yang melakukan ini semua? Tapi kenapa dia membunuh Park In?”

 

“Besok kita temui Guru Park,” usul Kyuhyun, aku hanya sesenggukan dan enggan menyahutnya. “Kuantar kau pulang ke asrama. Ini sudah malam.”

 

Tanpa perlawanan, kuturuti ucapan Kyuhyun. Aku pulang ke asrama perempuan, Jazzy Building. Selama perjalanan, kami tak bersuara, tak membuka percakapan dan diam pada pikiran masing-masing. Di depan pintu kamarku, kami berhenti.

 

“Aku tahu, ini hari yang melelahkan untukmu,” Kyuhyun berhenti, “Kuharap kau tidur nyenyak untuk besok.”

 

Aku mengangguk. Ingin mengucapkan terima kasih namun suaraku tercekat karena Kyuhyun mengecup kelopak mataku dengan lembut. Ada yang menenangkan dan dari ciumannya ini aku merasa sangat disayang olehnya. Kyuhyun apa kau tahu bahwa kau adalah pertautan rasa cinta dengan rindu yang membuat hatiku menghangat dan basah?

 

“Kyuhyun-ah, aku mencintaimu.”

 

Lelaki itu tersenyum simpul. Mungkin ia menyadari bahwa baru sekali ini aku menyatakan cinta padanya dengan gamblang, berbeda dengan sebelumnya yang hanya sekedr isyarat. Ia memasukkan tangannya di kantong celana, menatapku dan matanya mengedip. “Aku tahu dan rasa cintaku padamu lebih besar dari rasa cintamu padaku.”

 

Aku menikmati diriku jatuh seperti saat-saat lalu, sama seperti sebelumnya, Ia… Kyuhyun selalu mampu menarikku, membuatku nyaman dan aku benar-benar bahagia saat ia selalu ada untukku. Aku merasa bodoh saat cemburu padanya karena buku harian Park In, sangat bodoh karena faktanya Park In sudah meninggal, tunggu dulu—aku ingat kalimat Park In.

 

“Ya! Kyuhyun-ah, apa Eommaku yang menenggelamkanmu di danau Es seperti cerita Park In?” nafasku tak beraturan lagi. Kyuhyun ternganga. “Lalu, saat itu Eommaku dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa namun esoknya rumah sakit tersebut terbakar. Apa itu maksud dari sandi ‘Maori kesepian lantakkan Auckland’?” nadaku hampir mendesis dan aku bisa merasai kalimatku yang penuh persangkaan itu. “Apa maksudnya, ibuku yang membakar rumah sakit itu? Keluarga Park In tidak menemukan jasad ibuku kalau memang ibuku terbakar. Itu artinya…?”

 

Kami sama-sama menegang. Sedikit lagi, sedikit lagi akan terkuak. Dan aku yakin pemilik buku harian itu adalah ibuku—Ya Tuhan….

 

“Masuklah dan Tidur! Aku akan menuntaskan pekerjaanku dan mengabari hasilnya besok.” Kyuhyun memotong dan kalimat perintahnya itu berhasil memadamkan setengah isi pikiranku yang berapi-api untuk menguak rahasia tersebut. Kuturuti suruhan Kyuhyun. Aku masuk dan menutup pintu dengan pelan lalu melihat Jihyun yang meringkuk di kasur lipatnya. Hash, aku melupakan satu hal. Kubuka lagi pintu kamarku. Sejauh 3m dariku, Kyuhyun yang hendak pergi itu membalik begitu mendengar derit pintu yang kuungkit gagangnya.

 

“Apa lagi?” ia mirip orang tua yang memaksa anaknya untuk tidur dan baru sekali aku menjumpai Kyuhyun seperti kakek-kakek cerewet begitu. Kukerucutkan bibirku dan mulai menggerutui sikapnya yang tak kenal toleran itu. Namja itu hanya melengkungkan bibirnya seraya menatapku penuh rasa ingin tahu.

 

“Mimpikan aku…” ucapku pada akhirnya, lengkungan bibir itu berubah menjadi tarikan yang memamerkan gigi putihnya. Kyuhyun sampai menutup bibirnya dengan telapak tangan, menyembunyikan tawa. Ia seakan menertawakan kekonyolanku. Bagus, Rail! Kau sudah menjatuhkan harga dirimu pada pria macam itu.

 

“Tentu. Aku akan berfantasi tentangmu.”

 

Aku buru-buru menutup pintu lagi dan tersenyum mengetahui jawaban Kyuhyun yang meyakinkan itu. Oh, Astaga! Rasanya otakku benar-benar sudah cacat sekarang. Eit, tunggu dulu. “Aku akan berfantasi tentangmu.” Ya! Apa maksudnya? Kutelan ludahku dan buru-buru mengambil smartphone yang ada di tasku.

 

“Apa maksudmu berfantasi tentangku?” Sent message. Aku menunggu dan mengeluh sebal karena Kyuhyun belum membalasnya. Saat aku berniat meletakkan tasku, akhirnya ponselku mengisyaratkan tanda kehidupan, ia bergetar dan ada sebuah sms balasan dari masokis itu.

 

“Sesuatu yang belum pernah ada dalam fikiranmu. Hei, ekor tupai, itu sangat esoteris!”

 

Cih, ekor tupai terus—ekor tupai lagi—dan selalu ekor tupai. Kulepas kunciran rambutku. Kesal karena Kyuhyun selalu memprotes caraku mengikat rambut dengan cara mengolokku dengan sebutan yang tak elit. Ia mengatakan fantasinya itu sangat esoteris? Ya! Lelaki itu tengah bermain rahasia denganku? Ash….

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

Esoteris: Rahasia.

 

GPS: Global positioning System, adalah sebuah system menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan sinyal satelit dengan mengirimkan sinyal gelombang mikro.

 

Simurgh: Nama raja burung phoenix. (terdapat dalam mitos Persia: Matlaqul Thair)

 

Phoenix: dalam mitos mesir, burung api ini memiliki bulu merah dan keemasan dan mengalami siklus reinkarnasi.

 

Smartphone: telepon genggam dengan kemampuan tinggi menyerupai computer. Rata-rata smartphone menggunakan android sebagai operating systemnya.

 

Elit: berkelas, mewah, elegan, tinggi.

 

Fantasi: daya jiwa untuk mencipta tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang sudah ada.

 

Maori: nama suku bangsa yang mendiami New Zealand (Selandia Baru).

 

 

Wahahaaa. Kukasih kamus dah~ Semoga membantu ya! Hehee

10 thoughts on “Deception A Masokis (Part 14)

  1. Keren thor,tpi sayangnya part sebelumnya ada yg d pw yah…?
    Aku curiga,jgn2 keluarga cho sma keluarga kang itu musuhan,ada dendam y??
    Part 15-nya bsa dikasih bocoran ngga terbit kpn?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s