Sea World (Part 1)

 

SW1

Tittle                : Sea World

Author             : Evil Trap

Cats                 :

–         Henry Lau aka Liu Xian Hua

–         Park Han Mi

–         J. Law aka Xiahae

–         And other cats

Genre              : Fantasy, mellow drama. And little romance

Rate                 : Teen

Length             : Series

Happy Reading dear reader^^~~

Setiap laut dan air memiliki dunia bahkan cerita, apa kau percaya?

Sea World Start^^~~

Nama bertato itu sedikit memicingkan matanya begitu sinar matahari menerobos sempurna jendela kamarnya. Hasil dari perbuatan ibunya yang membuka tirai-tirai beludru polos berwarna biru.

“Aish, eomma kenapa membuka jendela selebar itu” keluhnya kesal sebari membungkus tubuh kekarnya dengan selimut tebal.

“Dasar pemalas! Cepat mandi dan berangkat ke sekolah Henry-ah! lihatlah kakakmu dia bahkan sudah berada di meja makan dengan keadaan yang sudah tampan dan wangi tidak bau seperti dirimu sekarang!” sentakkan nyonya Lau sukses membuat Henry beranjak dari tempat tidurnya.

Namja bermata sipit itu lebih memilih kedinginan di guyurair shower daripada harus mendengarkan ceramah pagi dari sang eomma tercinta.

“Menyebalkan, kenapa harus selalu membandingkan aku dengan Clinton Hyung” dengus Henry kesal setelah berkutat dengan segala peralatan mandi. Namja berdarah Canada itu tampak tampan dengan balutan kaos hitam polos yang kontras dengan kulit putih susunya.

“Henry, kau tidak sarapan dahulu?” tanya eomma begitu namja itu dengan setengah berlari melewati meja makan tanpa berniat untuk turut bergabung dengan yang lainnya sarapan bersama.

“Tidak” Henry setengah berteriak menjawab pertanyaan ibunya. Mengingat posisinya yang sudah beranjak melewati meja makan. Membuat yeoja paruh baya hanya bisa menggeleng mendapati sikap putra keduanya itu.

Dengan sedikit menggeram Henry mulai melajukan mobil BMW silver miliknya. Tangan jenjangnya terulur untuk memaksimalkan AC serta tape recorder pada mobil kesayangannya itu. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit namja itu akhirnya memarkirkan mobilnya pada pelataran parkiran KyungHee University. Tempatnya menimba ilmu sekitar setahun ini.

Kedatangannya disambut dengan decakkan kagum para yeoja yang memandang ke arahnya. Bagaimana tidak, kaos hitam yang nampak simple itu malah terkesan mewah karena membalut tubuh elegant dari seorang Henry Lau.Belum lagi tatanan rambutnya yang terkesan rapi tapi anehnya tetap nampak keren dan sangat cocok dengan bentuk muka namja itu.

“Lihatlah tikus putih kita sudah datang” cemooh seorang namja dengan tatapan sinis begitu Henry melintas di hadapannya.

“Apa maksudmu hah?” gertak Henry dengan tatapan geram,tidak terima atas cemooh namja itu. Namja dengan tinggi di atasnya yang tidak lain adalah rival sejatinya di kampus ini.

“Hahaha, hampir setengah mahasiswa KyungHee juga mengetahaui jika seorang Henry adalah perenang yang payah, atau bisa jadi lebih payah dari anak berumur lima tahun mungkin” kontan saja perkataan namja yang bertag name J. Law itu mengundang tawa rekan sekelompoknya.

Tanpa banyak berbicara Henry hanya menggeram kesal tanpa menyankal, why? Karena dalam hati dia mengakui dirinya memang lemah jika berada di dalam air. Dia memang tidak lagi mau berenag tepatnya sekitar lima tahun terakhir ini, sejak air menenggelamkan adik tercintanya..

Whitney Lau, satu-satunya adik yang dimilikinya dulu limatahun lalu. Sebelum air laut membuat gadis itu kehabisan nafas dan tewas diterjang ombak. Sejak itulah Henry seakan kehilangan keahliannya dalam berenag,jangankan berenang menatap air laut-pun dirinya ketakutan.

“Drrt drrt”

Getaran Handphone berlogo apple itu mengagetkan sang pemilik. Membuat kesadarannya kembali setelah untuk beberapa saat dirinya dikuasai oleh kenangan-kenangan yang menyisakan trauma itu. Terpampang jelas nama yeoja paruh baya yang amat disayanginya, eomma menelpon dirinya.

“Yoeboseyo?” jawabnya sembari berusaha agar suaranya terdengar senormal mungkin, agar eommanya tidak menyadari bahwa anak lelakinya tengah dihadapkan oleh trauma yang belum terselesaikan.

“Henri-ah, cepatlah pulang dan susul kami ke Hyeopjae” terdengar suara eomma memerintahkan hal yang sedikit mengejutkannya. Bagaimana mungkin disaat dirinya sedang teringat tentang ketakutannya dan sekarang eommanya malah memintanya untuk menyusul ke sebuah pantai di kawasan pesisir pulau Jeju.

“Tapi eomma . .”

“Tidak ada kata tapi, kemarilah sekarang juga Henry-ah”

“Arraseo” tanpa menunggu jawaban lagi Henry memutuskan sambungan telpon itu sembari menghela nafas berat.

“Hanya kesana untuk menjemput, tidak untuk berenang” batinnya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Perlahan dirinya mulai melangkahkan kakinya menuju parkiran, menyambut setir mobil dan jok mobil yang berwarna soft brown kesukannya. Sedikit menghela nafas menyadari bahwa jantungnya mulai berdetak untuk suatu alasan yang masih abstrak.

Perlahan kendaraan roda empat bermerk BMW itu mulai melaju membelah debu jalanan meninggalkan Seoul membawa sang pengemudi lebih dekat sejengkal dengan apa yang ditakutinya.

~xXx~~

Desiran ombak serta cicitan burung camar terdengar begitusyahdu bagi setiap pengunjung Hyeopjae beach. Namun tidak untuknamja berdarah Canada yang nampak menawan dalam balutan kaos dan celana hitam yang nampak kontras dengan kulit putihnya.

Tampak jelas bahwa ada sesuatu yang mengganjal namja itu.Pandangan matanya terasa berkabut dan jantungnya terasa begitu berdetak menyiksa. Efek yang selalu timbul jika dia berada dekat dengan laut.

Berulang kali di replay-nya nomer eomma juga appanya namun nihil! Tak ada satupun pangilannya yang terhubung pada mereka. Dengan sedikit menggerutu dirinya mulai berjalan menuju kantor pengawas pantai. Dahinya sedikit berkerut bingung mendapati kantor itu nampak ramai dikarenakan kerumunan beberapa orang.

“Ada apa ini?” tanyanya pada sesosok namja yang tepa tberada di depannya yang juga berkerumun melihat ke dalam kantor itu.

“Ada sepasang suami istri yang hilang diseret ombak, petugas sedang memberitahu para pengunjung lainnya untuk berhati-hati”

“Sepasang suami istri?” ulang Henry sedikit memastikan pendengarannya.

“Ne, sepasang suami istri dengan marga Lau”

“Ige mwo-ya?” dengan sedikit kasar Henry berusaha sebisa mungkin menerobos kerumunan orang-orang itu. Berusaha berhadapan dengan sang penjaga pantai untuk meminta kepastian dan meyakinkan dirinya bahwa semua hanya kesalah pahaman.

“Ne, ciri-ciri yang anda sebutkan persis sama dengan korban yang saya lihat tenggelam diseret ombak. Tapi tenanglah tim penjaga pantai yag lain akan melakukan pencarian besok”

“Apa anda bilang? Tenang? Dan pencarian baru dilakukan besok? Bisakah anda berpikir sedikit perasaan saya saat ini sebagai anak mereka!” sentak Henry murka.

‘”Mianhae tuan tapi cuaca dan tingginya air laut saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukannya pencarian, lagipula menurut laporan cuaca malam ini akan ada badai di laut”

“Keterlaluan!” sentak Henry sembari menggebrak meja petugas pantai itu, sebelum pada akhirnya dia berlalu keluar dari kantor yang sama sekali tidak berfungsi sebagaimana mestinya itu.

Tampak olehnya buih ombak laut yang meninggi dan bergerak dengan ganasnya, belum lagi awan pekat yang menutupi seluruh sisi langit dipantai ini.

Terbersit olehnya untuk melakukan pencarian seorang diri,namun sisi trauma mendominasi perasaannya. Membuat dirinya hanya bisa berteriak frustasi menghadap ke pesisir laut yang nampak semakin garang.

“Pergilah sekarang juga, atau kau akan kehilangan untuk kedua kalinya” namja itu mendongak begitu mendapati suara yang terdengar dekat berbisik tepat di telinganya. Namun yang dilihatnya adalah hanya segala penjuru sisi pantai yang sudah tak berpenghuni mengingat badai akan melanda kawasan ini.

Sedikit kepercayaan mulai melingkupi namja bertatto itu. Suara bisikan yang terdengar itu seakan sebuah motivasi tersendiri untuknya.

“Tidak ada kata kehilangan untuk kedua kalinya” batinnya pasti. Dengan hati penuh doa Henry mulai menceburkan tubuhnya ke dalam laut yang sudah menjadi titik hitam ketakutannya kurang lebih lima tahun ini.

Dirinya tersentak kaget begitu mendapati adanya lubang hitam layaknya pusaran air yang menarik tubuhnya. Tarikan pusara itu begitu kuat sehingga membuat tubuhnya serasa diremas selama beberapa detik. Setelah kesadarannya pulih mata coklatnya bergidik kaget melihat bahwa dia berada di dalam suatu wilayah selayaknya kota tepat di dasar laut.

“Kota bawah laut? Ini nyatakah?” batinnya sembari menatap heran akan apa yang terpampang didepannya.

TBC^^~~

NB : maaf yah evil trap bawak series Henry baru lagi~ habisnya otak lagi mampet buat bikin yang romance” >_< lagi pengen buat yang fantasi mulu ,. semoga suka yah dear~ kalo ga suka Dreams bakal Evil Trap lanjutin sebisanya🙂

maaf juga buat yg nunggu Time Machine harap sabar >_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s