IDOL MAID (Take 7)

 

IM7

Title : Idol Maid

Leght : Chapter

Rate : M

Casts :

Kwon Jaejin

Yong Junhyung

Lee Gikwang

Gendre : Comedy romance

Author : ssha

 

 

“Jaejin… aku………………………………………” Junhyung tersenyum begitu ia selesai mengucapkannya pada Jaejin, berbanding terbalik dengan Jaejin yang menatapnya bingung. Sama sekali ia tidak dapat mengerti apa yang diucapkan Junhyung. Pada saat ia bicaranya dengannya bersamaan dengan itu terdengar suara penyedot debu yang terdengar sangat bising di ruang sebelah rumah (apartement) Junhyung.

Junhyung tersenyum lega, ia mempersilahkan Jaejin untuk pergi. Junhyung berjalan meninggalkan Jaejin dan menuju rumahnya. Jaejin terdiam, ia membalikkan badannya begitu Junhyung berlalu darinya.

Jaejin menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa ragu untuk bertanya tentang apa yang Junhyung katakan padanya. Tak lama kemudian ia membalikkan badannya dan berlari mengejar Junhyung.

Junhyung-ah…!” Junhyung menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap Jaejin.

“Aku… a-aku…” Jaejin memotong ucapannya yang terdengar gugup. Junhyung masih tersenyum dan menatap Jaejin tenang.

IDOL MAID

TAKE 7

Jaejin menghentakkan kakinya kelantai pelan seraya terus menerka-nerka tentang apa yang Junhyung katakan tadi. Jaejin bersandar di tembok rumah Junhyung seraya menyilangkan tangan didada. Lama ia menunggu Junhyung untuk datang menemuinya. Dalam diam, Jaejin mulai berfikir dan kembali menerka ucapan Junhyung.

“Jaejin… aku.. aku tidak punya untuk membayarmu! Kau pulang saja dengan tangan kosong ya, hari ini aku tidak ada jadwal produser belum memberiku honor. Hm.. bagaimana?”

Jaejin segera menggelengkan kepalanya dan mengibaskan awan khayalannya yang terdapat diatas kepalanya. “Errr~ tidak mungkin seorang Junhyung bicara seperti itu. Ia selalu menjaga imagenya.”

“Jaejin.. aku… aku sudah mendengar semuanya. Ternyata ia sangat menyukaimu. Hahahaha!!! Pria macam itu ternyata bisa menyukai gadis aneh seperti mu. Nasibnya sangat buruk jika ia benar-benar menyukaimu. Yang sabar ya!”

“Ahrgt… bisa gila aku jika ia bicara seperti itu” Jaejin mengertakkan gigi kesal. Ia kemudian terdiam dan mencoba sedikit tenang.

“2 kalimat itu seharusnya bukan yang ia katakan! Seharusnya… ommo!” Jaejin terperanjat kaget.

“Jaejin… aku… a-aku… sebenarnya aku tidak rela jika ia menyukaimu. Aku merasa aneh jika kau berada dekat dengannya. Jaejin.. aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu. Aku menyukaimu” kali ini Jaejin membayangkan Junhyung yang menatapnya begitu dalam dan penuh pengharapan. Jaejin terdiam, ia termenung. Namun, sesaat kemudian.

Andwae…. Shireo…!!! Satu dari ketiganya pun tidak akan aku biarkan ia mengucapkan salah satunya. Hash… ini benar-benar membuatku jadi gila…” Jaejin berteriak ketakutan, ia nampak begitu panik dan tidak dapat mengontrol emosinya.

“Apa yang kau lakukan?”

Eong?” Jaejin tersadar dan segera bertingkah layaknya orang normal kebanyakan.

“Kenapa kau disini?” tanya Jaejin salah tingkah yang kini melihat Junhyung berdiri dihadapannya.

“Ini rumahku, jadi aku bebas berkeliaran kemanapun aku mau”

“Ah iya. Maksudku… maksudku bukan itu! Hm… begini, sejak kapan kau berdiri disini?” tunjuk Jaejin pada tempat Junhyung berdiri sekarang.

“Astaga. Aku kira semenjak pria aneh itu mengatakan perasaan padamu kau benar-benar jadi gila”

“Jadi kau… kau…”

“Sudah… tutup mulutmu dan cepat kenakan ini” Junhyung segera memotong ucapan Jaejin yang terdengar panik. Ia meraih tangan Jaejin yang masih menunjuk kearahnya. Junhyung lantas menyerahkan seragam pada Jaejin.

“Selama bibi Choi belum pulang kau tidak boleh mengundurkan diri. Arraseo??” tatap Junhyung mengancam. Jaejin hanya diam sementara otaknya masih terasa belum beres dengan keadaan ini.

***

Jaejin keluar ruang ganti dengan mengenakkan seragam, Junhyung tersenyum begitu melihat Jaejin yang kembali menggunakan seragamnya seperti biasa.

“Kau memang terlihat lebih cocok jika menggunakan itu” tunjuk Junhyung pada seragam yang dikenakan Jaejin. Jaejin berjalan dan menghampiri Junhyung yang berdiri dibelakang meja yang berderet foto-foto dirinya.

“Turunkan jari telunjukmu. Aku lebih tua 2 minggu darimu!” ucap Jaejin ketus seraya menepis telunjuk Junhyung kasar.

“Apa?”

“Meskipun kita lahir dibulan dan tahun yang sama, aku masih tua 2 minggu darimu!” ucap Jaejin yang terdengar masih kesal.

“Aduh… bandana ini membuatku terlihat konyol” umpat Jaejin mengendus kesal seraya membenari letak bandana yang ada dikepalanya.

“Syukurlah… masih ada orang yang lebih tua dariku di dunia ini”

“Hash… kau mengataiku lagi sekarang”

“Lalu aku harus memanggil kau dengan sebuatan apa? Noona atau ahjjuma?”

“Ck, keduanya tidak ada yang kusukai. Tidak perlu berbuat baik dengan dengan iming-iming seperti itu”

“Kau ini kenapa? Hanya bersikap sopan sedikit tidak boleh”

“Katakan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Jaejin memutar kepalanya dan melihat keadaan rumah yang masih terlihat sangat bersih. Junhyung lantas tersenyum, ia meraih ponselnya, Junhyung mengetik nomor dengan begitu lihainya. Sesaat kemudian, ia dekatkan ponselnya ditelingga.

DRET DRET DRET… Jaejin terperanjat terkejut begitu ia merasakan getaran di kantong  seragamnya. Jaejin merasa kebingungan namun segera itupun ia membuka kantong seragam dan menemukan ponsel yang terlihat asing baginya. Dengan ragu, Jaejin mengangkat panggilan tersebut.

Yeoboseoyo?

“Apa sekarang kau bisa melihatku?”

“Apa?” Jaejin tersadar begitu ia mendengar suara Junhyung yang terdengar sangat jelas didepannya. Jaejin memutus panggilan secara sepihak. Junhyung tersenyum simpul dan menatap Jaejin tenang.

“Tadi itu nomor ponselku. Ponselmu sangat rusak jadi tidak bisa di servis. Kalaupun bisa pasti akan mambuatnya semakin rusak” Jaejin terdiam dan merasa tersentuh dengan ucapan Junhyung.

“Kenapa hanya diam? Ah~ kau pasti bingung kan bagaimana cara menyimpan nomorku?” Junhyung segera menarik ponsel ditangan Jaejin, Jaejin hanya terdiam dan matanya tak terlepas dari wajah Junhyung.

“Yong Junhyung…” ucapnya seraya mengetik.

“Kau hanya perlu menekan angka 1 jika ingin menelfonku.” Junhyung terdiam saat ia akan mengembalikan ponsel ketangan Jaejin. Mata Junhyung kini mengarah kearah kedua bola Jaejin yang kini mulai terlihat genangan air mata.

“Apa yang ku lakukan salah? Kau baik-baik saja kan?” Junhyung memastikan dengan panik, namun Jaejin masih terdiam.

“Jaejin…” Junhyung menatap Jaejin yang kini tengah merenungi ponsel tersebut. Jaejin lantas menatap Junhyung ragu.

“Kau buang saja! Aku tidak butuh”

“Apa?” Junhyung tersontak terkejut begitu ia mendengar jawaban Jaejin, dalam fikirannya mungkin saja Jaejin akan menangis terharu karena kejutannya ini.

“Selama belasan menit aku memikirkan sesuatu ternyata hanya itu. Ah~! Aku tidak tahu apa aku harus senang atau sedih” Jaejin kini membalikkan badannya dan segera menggapus air mata yang akan tumpah membanjiri matanya.

“Ponsel semahal ini apa benar-benar akan kau tolak?” tanya Junhyung tidak percaya.

“Terserah” jawab Jaejin yang kini berjalan menjauhi Junhyung. Jaejin lantas menghentikan langkahnya.

Tunggu!! Jaejin berfikir, jika difikirkan lagi, menolah rezeki itu sungguh kekanakkan, Jaejin ingat bagaimana susah payahnya ia memiliki ponselnya dan muncul makhluk aneh yang kemudian merusah ponselnya. Wajah Jaejin berubah menjadi bersemangat, ia lantas membalikkan badannya dan berjalan mendekati Junhyung.

“Akan lebih baik jika aku yang menyimpannya”

“Eong?” Junhyung terkejut begitu ia menarik ponsel ditangannya saat ia akan memasukkan kekantong celana.

“Ini sangat mahal benar apa yang kau katakan! Terimakasih ya” dengan polosnya Jaejin lantas kembali berjalan meninggalkan Junhyung, Junhyung terdiam lantas tersenyum tidak percaya.

“Ini lebih menjijikan dari pada ciuman itu” Jaejin tiba-tiba menghentikan langkahnya kembali, bola matanya membesar. Jaejin segera membalikkan badannya.

“Astaga” Junhyung terkejut begitu ia melihat Jaejin yang mempelototinya dan menatapnya begitu tajam.

***

“Apa?? Jadi kau melihat semuanya????” Jaejin mengebrak meja makan dengan sekuat tenaganya. Junhyung terperanjat terkejut dan memegangi jantungnya yang hampir copot. Ia kini menatap Jaejin yang terlihat cemas.

“Ini sungguh sangat gawat” Jaejin lantas memegangi bibir bagian bawahnya secara dramatis dan berpura-pura menangis.

“Yang kalian berdua lakukan waktu itu sungguh menakjubkan” ucap Junhyung ragu. Jaejin menatap Junhyung dengan cepat.

“Apa?” Junhyung kembali terlihat ketakutan dengan tatapan Jaejin yang berubah menjadi sangat menyeramkan.

“Kalian berdua.. hahaha aku kira kalian… ah tidak…! Sudah aku kira kalian memiliki hubungan spesial.”

“Kau..”

“Setelah mendengarnya aku jadi tahu jika kalian benar-benar…”

Junhyung-ya. Dia hanya temanku, Gikwang memang orang yang humoris, ia selalu mengatakan apa yang ia sukai. Dan waktu itu… aku kira ia memang benar-benar sedang bercanda. Ah sudah jangan dibahas lagi ya” dengan cepat Jaejin memotong ucapan Junhyung. Junhyung mengerjapkan matanya, Jaejin tersenyum begitu manis padanya, Junhyung menelan ludahnya sendiri begitu ia melihat wajah Jaejin yang berada sedekat ini dengannya.

“Ia memang seperti itu.” Tegas Jaejin yang kini mulai menjauhkan wajahnya dari hadapan Junhyung. Junhyung terdiam, ia kini menatap Jaejin yang terlihat begitu sangat malu. Junhyung terdiam, rasanya ada perasaan aneh yang segera menganjal dihatinya. Apa itu? Hash… Junhyung segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.

 

***

 

Jaejin menghentikan langkahnya begitu ia melihat Gikwang yang tengah berlari tanpa melihat kearahnya. Jaejin segera membalikkan badannya dan berusaha menghindari Gikwang. Namun, rupanya Gikwang melihat arah kedatangan Jaejin. Ia tersenyum pada Jaejin.

“Jaejin!!” teriaknya begitu ceria.

DUENG…! Jaejin menghentikan langkahnya, terpaksa ia membalikkan badannya dan menatap Gikwang yang kini berjalan kearahnya.

“Hehehe.. apa yang kau lakukan dimalam hari seperti ini?”

“Aku hanya sedang berlari.”

“Kau baru pulang ya?” tanya Gikwang ramah bersamaan dengan senyumnya yang sangat ceria.

“I-iya… begitulah” jawab Jaejin kikuk.

“Kenapa? Aish… pasti kau masih memikirkan ucapanku waktu itu ya?” tebak Gikwang.

“Kau sudah membuatku malu dihadapannya”

“Apa ia selalu menganggumu?”

“Tidak… bukan begitu! Hanya saja…!”

“Apa perlu aku hajar dia sekali lagi?”

“Hash… kau tidak perlu melakukannya” Jaejin segera menahan tubuh Gikwang saat ia akan berlari menghajar Junhyung. Gikwang menatap Jaejin yang kini menyentuh perutnya. Keduanya terdiam, Jaejin menatap Gikwang dan menenangkannya. Namun, sesaat kemudian ia melihat kearah tangannya yang masih tertempel diperut Gikwang, secepat kilat, ia menjauhkan tangannya.

“Kau tidak boleh menemuinya, lagi pula kau tidak tahu dimana tempat tinggalnya” sambung Jaejin sedikit salah tingkah. Gikwang hanya terdiam menatap Jaejin ragu.

“Itu lebih baik jika nanti aku tersesat” Gikwang mengiyakan dengan gugup.

“Iya, itu lebih baik” Jaejin memaksakan sebuah senyuman pada Gikwang.

“Oh iya! Jaejin, ada yang harus aku katakan!” Gikwang mencoba mengalihkan topic pembicaraan dan menatap Jaejin serius.

Ne?”

“Besok malam kau bisa menemuiku jam 7 di sungai Han?”

“Besok? Untuk apa?”

“Tidak… bukan untuk apa-apa” jawab Gikwang seraya tersenyum konyol. Gikwang terdiam, senyumannya menghilang dan berganti dengan tatapan misterius pada Jaejin.

“Sebenarnya, ada yang harus aku katakan padamu. Ini menyangkut lanjutan dari ucapanku kemarin”

“Kau ini bicara apa sih?”

“Kau tidak perlu menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’. Kau hanya perlu datang.” Jaejin menatap Gikwang bingung.

“Jika kau tidak datang berarti kau hanya menganggapku sebagai seorang teman. Dan jika kau datang, itu artinya kau…” Gikwang menutup mulutnya.

“Itu artinya kau juga menyukaiku” sambungnya begitu cepat. Jaejin hanya terdiam setelah mendengar ucapan Gikwang. Saat ia akan menanyakan sesuatu, ia melihat Gikwang yang sudah berlari meninggalkannya. Jaejin membalikkan badannya dan menatap Gikwang yang kini sedang berlari.

“Kenapa kau pergi? Aku masih ingin bicara denganmu???” teriak Jaejin, Gikwang membalikkan badannya, kali ini ia berjalan mundur.

“Lakukanlah apa yang kau mau besok!! Tapi aku berharap seorang gadis bernama Kwon Jaejin datang menemuiku…!!!!” jawab Gikwang berteriak dengan ceria. Ia kemudian melambaikan keduanya tangannya diudara, Gikwang tersenyum pada Jaejin yang kini masih menatapnnya bingung.

“Heh… anak itu” umpat Jaejin kesal. Namun, sesaat kemudian, ia tersenyum begitu melihat Gikwang yang kini mulai berlari menjauhinya.

“Hati-hati ya….!!!!!” Teriak Jaejin pada Gikwang yang semakin jauh darinya. Jaejin lantas melambaikan kedua tangannya diudara.

***

Esoknya di kediaman Junhyung.

“Akhirnya kau datang” Junhyung tersenyum saat Nana datang memasuki rumahnya, dengan anggun Nana datang memasuki rumah dan segera memeluk Junhyung. Junhyung merangkulnya dan memeluknya begitu lembut.

“Apa perjalanmu menyenangkan? Aku dengar kau habis melakukan perjalanan dari Incheon?” tanya Junhyung.

“Sedikit lelah, aku merasa tulangku remuk” aku Nana manja. Keduanya lantas berjalan kearah sofa. Diam-diam Jaejin mengwasi mereka dari arah dapur.

“Kau mau minum apa? Biar aku bawakan untukmu” Junhyung beranjak dari duduknya. Namun, Nana menahannya dan menatapnya begitu manis.

“Kau diam saja disini, aku sudah banyak minum tadi.” Titahnya yang masih terdengar manja.

“Ah begitu! Baiklah” dengan senang hati Junhyung mengiyakan permintaan Nana dan kembali duduk disamping Nana. Jaejin mendelik begitu ia melihat keduanya. Jaejin mengambil merica bubuk kemudian menaburkannya pada kimchi yang tengah ia buat.

“Kau terlihat lebih kurus. Kau pasti sangat lelah ya dengan jadwalmu yang padat?” Jaejin membulatkan matanya begitu ia melihat jari-jemari Nana yang membelai wajah Junhyung. Jaejin nampak kesal ia kemudian menaburkan lebih banyak lagi merica kedalam kimchi.

“Ah… apa?” Junhyung nampak salah tingkah.

“Begitulah.. tapi, bisakah kau jauhkan tanganmu?” tanya Junhyung ragu seraya menjauhkan tangan Nana secara paksa. Senyuman Nana seketika hilang, namun ia segera berakting dan kembali memasang wajah manisnya seperti sedia kala.

“Apa kau lapar?” tanya Junhyung berusaha mencairkan suasana yang kini mulai terasa dingin.

“Sedikit”

“Jaejin! Apa masakannya sudah jadi???” teriak Junhyung. Jaejin tidak menjawabnya, ia kini tengah mengaduk kimchi dengan kesal. Merasa diacuhkan, Junhyung lantas menoleh, Jaejin menghentikan kegiatannya dan segera tersenyum pada Jaejin.

“Ahahaha… maaf, ia masih baru. Jadi agak sedikit lambat” ucap Junhyung pada Nana yang kini menatapnya.

“Biar saja, jangan terlalu memaksanya” jawab Nana manis. Nana kemudian menggeser mendekati Junhyung. Junhyung terkejut begitu ia merasakan kepala Nana yang kini tengah bersender dibahunya. Jaejin tidak sengaja melihat kejadian itu terlihat begitu sangat marah dan kecewa.

Jaejin menatap Junhyung yang kini mulai menggerakkan tangannya dan membelai kepala Nana lembut tanpa memperhatikan dirinya yang kini tengah membuat masakan untuknya didapur. Jaejin merasa serba salah, ia lantas kembali untuk konsentrasi memasak.

Jaejin mulai kehilangan kesabaran, sudah beberapa jam Junhyung membiarkannya seorang diri.

BRAK! Jaejin membanting panci yang berisi kimchi keatas kompor dengan kesal. Ia lantas melepas bandana dikepalanya. Jaejin kemudian berjalan meninggalkan dapur, langkahnya terhenti sesaat begitu ia melihat Junhyung yang mengacuhkannya. Jaejin terdiam dan ia berjalan keluar.

BRAK!!! Junhyung dan Nana terkejut, keduanya kemudian saling menjauhkan diri begitu melihat Jaejin yang melewatinya begitu cepat kemudian membanting pintu begitu kencang. Junhyung terdiam ia menatap kepergian Jaejin curiga.

“Kau mau kemana?” tanya Junhyung, namun Jaejin tidak menjawabnya dan lebih memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua.

 

Dilain tempat, Jaejin yang kini telah berganti pakaiannya sedang berdiam diri sebuah tempat. Jaejin kini duduk seorang diri didepan sebuah danau yang terdapat di sebuah taman. Jaejin lantas memjamkan matanya. Rasanya begitu berat saat ia memikirkan ini. Jaejin lantas memegangi dadanya yang terasa sedikit memanas. Jaejin segera menggelengkan kepalanya begitu ia mengingat kejadian tadi.

“Bodoh… untuk apa aku marah?” tanya pada diri sendiri.

“Siapa dia hingga kau harus marah seperti ini?” lanjutnya, Jaejin terdiam merasakan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Jaejin segera membuka isi tasnya dan mengeluarkan sebuah foto Junhyung yang diam-diam ia bawa. Ia lantas merobek-robek foto tersebut dan membuangnya kesegala arah.

“Aku marah! Benar aku marah… aku marah karena ia bersama dengan wanita lain” ucapnya berteriak kesal.

Dilain tempat, malam harinya.

Gikwang berjalan mondar-mandir dipinggir sungai Han. Senyuman masih terpatri diwajahnya saat ia berharap Jaejin datang menemuinya. Gikwang lantas melirik arlojinya, sudah sekitar 30 menit Jaejin tidak datang menemuinya. Namun, ditempat lain…

Gikwang mulai resah dan sedikit kesal ketika ia menunggu Jaejin yang tak kunjung datang menemuinya. Gikwang menghadapkan tubuhnya kehamparan sungai Han yang terbentang luas. Samar-samar, ia melihat bayangan dirinya dari genangan air yang gelap. Namun, sesaat kemudian ia tersontak begitu melihat bayangan seorang gadis yang berdiri dibelakangnya. Dengan cepat Gikwang membalikkan badannya dan tersenyum pada gadis itu.

CLOSING TRACK : B2ST – I’M SORRY

“Jaejin” ucapnya sangat gembira.

TBC

 

NEXT IN ‘IDOL MAID’ TAKE 8:

“Apa sekarang kau menyukainya? Jaejin, kau sekarang menyukainya?”

“Kenapa aku harus bertemu dengan orang sepertimu? Orang yang sangat menyebalkan! Orang yang sangat buruk! Orang yang… orang yang…” Jaejin memotong ucapannya saat ia menyadari dirinya kini tengah menangis.

“Alasanku untuk mencegahnya pergi dari hadapanku adalah karena ia telah masuk kedalam kehidupanku jauh sebelum aku mengerti arti cinta yang sesungguhnya”

“Rasanya begitu aneh jika kau seperti ini. Kau terlihat seperti bukan Gikwang! Hey… berhentilah seperti ini!” ucap Jaejin lembut yang kini merangkul Gikwang dari arah belakang.

“Akan lebih baik jika terus seperti ini, sama seperti tahun sebelumnya saat aku tidak mengerti perasaanmu. Menjadi seorang Gikwang dan Jaejin yang selamanya hanya akan menjadi sahabat.”  Sambung Gikwang. Jaejin tersontak terkejut, senyumannya menghilang. Ia menatap Gikwang tak percaya.

“Aku sangat mencemaskan mu bodoh! Kau membuatku cemas hingga membuatku sesak bernapas. Kau membuat jantungku hampir copot saat aku mengingatmu. Saat malam, dan pagi hari aku selalu merindukanmu…” Junhyung memotong ucapannya. Jaejin sontak terkejut begitu ia mendengar pengakuan Junhyung.

JDER!!! Mata Jaejin membulat begitu ia mendengar suara Junhyung yang terdengar begitu jelas ditelingganya. Ini mimpi? Apa ini khayalan? Apa ini jika bukan mimpi atau sebuah khayalan??

 

 

 

6 thoughts on “IDOL MAID (Take 7)

  1. Agak gag rela kalau Jaejin cemburu gara-gara Nana >_<
    pasti Jaejin dh punya rasa ke Junhyung, trs Gikwang gmn donk??
    Next part pasti Gikwang d tolak yaw, nyesek pas d posisi Gikwang😦 I Like JaeKwang couple

    next part d tunggu thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s