Deception A Masokis (Part 13)

 

DAM13

Title: Deception A Masokis 13

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Cho Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Choi Minho

Jonghyun CNBlue as Lee Jonghyun

Author: Kak Susan

 

 

Salah satu pesonamu yang tak bisa kupungkiri adalah keseriusanmu menghangatkan hatiku. Itu membuatku selalu ingin melihat matamu yang penuh cinta, walau aku sendiri sulit mengekspresikan perhatianku padamu. Aku harap, kau selalu mengejarku dalam sikap dinginku, aku begitu karena  membutuhkanmu. Bukan sekedar butuh lalu mendiamkan dirimu tapi butuh yang membuatku tak ingin diam untuk mendapatkanmu. Bagiku, cinta adalah hal yang ganjil.

 

 

 

 

-== DECEPTION A MASOKIS ==-

 

 

 

 

 

“Geser!” suruhku lalu duduk simpuh di samping Kyuhyun, Kyuhyun berpindah beberapa centimeter lalu menatapku, aku cuek saja. Kuambil kertas kosong yang ada di samping laptopnya dan mulai menulis sesuatu. Sebuah tulisan dengan tulisan sandi, kutulis ulang goresan tinta di kertas kosong itu.

Yotqo jnbfo=Nobe Doga, sbjpnlheo jpnrotrog.

 

Aku mengernyit, bingung apa artinya. Kubuka halama awal buku ini. Hanya ada 8 huruf; OLYMPIAS. Oh, rasa-rasanya aku pernah dengar kata itu tapi dimana? Akh, kenapa ingatanku bisa parah begini? Kupandangi lagi rentetan huruf yang tak lazim itu.

 

“Sandi apa ini?” aku bertanya pada diriku sendiri. Semula kufikir, ini adalah sandi abjad. Namun rupanya, bukan! Abjadnya makin tak berbentuk saat kupecahkan dengan sandi abjad terbalik. Kyuhyun meraih secarik kertas hasil oret-oretanku. Ia mencermati abjad yang kusalin dari notebook pemberiannya.

 

“Ini teknik kriptografi. Kau tahu sandi playfair?” Balas Kyuhyun dengan cepat. Ia melanjutkan, “sebuah sandi yang popular ketika perang dunia kedua.”

 

“Jelaskan!”

 

“Sandi ini adalah sandi subtitusi. Setiap huruf dalam plainteks ini,” Kyuhyun menunjuk huruf sandi. “diganti dengan huruf yang ada di papan kunci. Kata papan kunci diletakkan diawal. Mungkin olympias kata kuncinya dan kamu harus membuat kata kuncinya begini,” Kyuhyun menulis kata olympias lalu melanjutkan abjad ABC dan tak menulis huruf yang sudah ada di kata olympias. Ia menulis abjad ABC hingga akhir di sebelah kanan kunci sandi playfair. Lihat ini, huruf O sebenarnya huruf A, L sebenarnya adalah huruf B.”

 

“Aku coba,” kukerjakan sandi tersebut sesuai penjelasan Kyuhyun, setelah mengajariku, Kyuhyun kembali fokus ke laptopnya. Entah apa yang ia kerjakan. Yang jelas, katanya, ia menelisik akun hacker. Setelah beberapa menit memecahkan sandi itu, hasil yang kutemukan membuatku menganga takjud, Kyuhyun menoleh.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

“Ige…” kusodorkan kertas itu, Kyuhyun membaca, “Causa prima = Rail Kang, hiperbola pertautan.”

 

“Causa prima artinya penyebab utama.” Kyuhyun menatapku dengan khawatir. “Penyebab utama adalah Kang Rail, hiperbila pertautan. Analisismu?” Kyuhyun menggerakkan mousenya agar kursornya berubah tempat. Ia mengklik sebuah link biru, masih belum menatapku.

 

“Aku adalah hiperbola pertautan. Secara bahasa, hiperbola berarti gaya bahasa yang melebih-lebihkan keadaan dari keadaan sebenarnya, sementara pertautan adalah perhubungan. Berarti buku ini memiliki hubungan denganku dan dia melebihkan diriku atas keadaan yang kualami.” Aku berhenti, kaku, “Kyuhyun-ah, ini buku siapa? Ash…”

 

Kyuhyun terkekeh melihat kefrustasianku, ia mengelus puncak kepalaku dengan gemas. “Siapa yang memiliki hubungan seperti itu denganmu?”

 

“Aaah, entahlah!” kutekuri lagi notebook tanpa tahu siapa pemiliknya. Kubalik-balik lagi halamanku. “Ini semua sandi playfair?” kukerutkan keningku, berharap sandinya berbeda agar lebih menantang. Tapi ini tidak. Sepertinya, pemilik buku ini hanya menguasai sandi playfair. Di halaman selanjutnya hanya ada sandi seperti ini: Fohnb dpqpjbog eogroddog Otydeogm = Joqr.

 

Jariku bergerak lincah menulis tiap abjad, mencocokkan dengan kunci yang dibuat Kyuhyun. Begitu selesai mengartikannya, alih-alih bahagia, aku malah tambah tertekan. Sandi itu membentuk kalimat yang sama seperti sebelumnya, tak terpecahkan! Kulirik Kyuhyun, berharap ia sedikit membantuku.

 

“Um… ‘Maori kesepian lantakkan Auckland’ maksudnya?” aku mengulang lagi tulisan sandi yang kupecahkan. “Maori kesepian lantakkan Auckland? Maori kesepian? Auckland! Oh, tempatmu tenggelam dulu, Kyu?”

 

Kyuhyun tercengang dengan penuturanku. Ia meraih kertas hasil oret-oretan. Dahinya mengernyit melihat tulisan dalam sandi itu. Well, kuakui pemiliknya pasti orang yang pintar. Ia membuat “sandi dalam sandi” agar tak mudah terpecahkan.

 

“Maori, suku bangsa yang mendiami Selandia Baru. Hash, Buku ini hanya ada empat lembar yang berisi tulisan. Pertama kata Olympias sebagai papan kunci dan tiga lembar berisi sandi playfair. Tapi memahaminya lebih lama ketimbang membaca 4 tulisan itu.” Aku berhenti, menatap Kyuhyun yang masih diam, berfikir keras.

 

“Rail, ini belum kau artikan!” Kyuhyun menunjuk beberapa huruf yang masih belum terpecahkan. Aku terhenyak, menyambar notebook dan kertas yang semula dipegang Kyuhyun. Kubuat beberapa coretan, tak terlalu susah karena aku sudah lihai dengan sandi ini.

 

“Past!” Kutoleh Kyuhyun yang masih mengulik link di layar laptop. Kulepas kacamataku, “Past, bahasa apa ini? Bahasa Inggris? Past berarti lampau….”

 

Kyuhyun tersenyum, “Keluarkan suaramu setelah kau selesai mengartikan semuanya dan menganalisis semua itu.”

 

“Maori kesepian lantakkan Auckland. Kau pernah tenggelam disana, kejadian aneh terjadi saat kita berdua. Ada kata ‘past’ disini. apa artinya, dia itu orang kesepian menginginkan perhatianku namun karena aku hanya peduli padamu, ia ingin menghancurkanmu. Dan ini terjadi di masa lampau. Kenapa di masa lampau? Bukankah itu terjadi baru-baru ini. Aish, aku lebih rela kau cium ketimbang berfikir seperti ini….” Keluhku menenggelamkan kepalaku dimeja.

 

Ups, apa yang kuucapkan barusan? Omo! Kyuhyun pasti salah paham. Parah—parah—parah! Kudongakkan wajahku dan si masokis itu masih lekat memandangku. Ia tak berekspresi dan aku memundurkan tubuhku dengan pelan karena takut diterkamnya.

 

“Kau sungguh-sungguh?” Kyuhyun menggoda, ia ikut menggeser tubuhnya, membuatku blingsatan sendiri karena ia makin dekat dan tatapannya yang penuh intimidasi itu menjeratku makin dalam, lebih dalam lalu tenggelam.

 

Aku menyerah, Kyuhyun di atas tubuhku dan kepalaku sudah menyentuh lantai. Tanganku menggapai-gapai ke udara dan segera menahan dahi Kyuhyun yang makin tak berjarak. Kyuhyun terperangah melihat telunjukku  nangkring di keningnya. Matanya mengekor pada wajahku membuat tubuhku mengalami demam seketika.

 

“Haaaa, singa masokis dengan penyakit mesum yang akut!” kudorong wajahnya menjauh.

 

“Kau yang memulainya, nona!”

 

“Kerja lagi atau aku pergi!”

 

Kyuhyun tertawa. Kulirik jam tanganku, pukul 17.00, aku memakai kacamataku lagi. Kyuhyun memperbaiki posisinya.

 

“Kau mau mendengar analisisku?”

 

“Tentang?” kami sudah duduk dalam posisi yang mengindahkan etika, aku bahkan menggeser posisi, agak menjauh dari Kyuhyun. Kalau aku dekat-dekat dengannya dan ia memanfaatkan keadaan seperti tadi, bisa turun harga diriku.

 

Well, secara de facto, aku dan Kyuhyun baru saling menyapa selama kurang lebih 4 minggu. Oh, bayangkan saja! Dalam waktu yang kurang dari 1 bulan itu dia sudah menciumku sebanyak 4 kali. Pertama saat ia membantah ucapanku dan aku menjambak rambutnya, ia menarik tubuhku, membuatku kehilangan keseimbangan dan menimpa tubuhnya. Oh, demi apa pun yang bernyawa! Itu ciuman yang tak sengaja. Lalu yang kedua, saat kami ada di ruangan Kyuline. Aku yang menciumnya terlebih dahulu agar aku mendapatkan foto mesra untuk menggertak balik ayah; sayangnya, itu adalah usaha bodoh karena rupanya Kyuhyun sudah membuat rencana dan bodohnya lagi, Ayah sudah mencabut laporan cyber crime Kyuhyun.

 

Kemudian yang ketiga. Ah, ini yang manis! Kami berciuman di kolam, dibawah remang bulan. Jujur, itu adalah sebuah ciuman dimana aku sangat menikmati permainan bibirnya. Menikmati saat permukaan bibirnya menggesek permukaan bibirku dan menikmati letupan-letupan yang ia ciptakan. An ciuman yang terakhir, saat kami keluar dari ruangan ibunya. Ia mengecup singkat permukaan bibirku. Oh, astaga! Kenapa pikiranku jadi semesum ini. Ah, tidak! Tidak! Bodoh sekali kenapa malah memikirkan ciuman. Sungguh, akhir-akhir ini aku merasa ganjil dengan diriku, tak waras, hingga hilang akal dan sebab musababnya hanya 1 hal, pemuda itu; Kyuhyun.

 

“Apa kau masih normal?” goda Kyuhyun seperti biasa, ia menempelkan jemarinya di keningku. “Kau senyum-senyum sendiri lalu menggersah. Apa otakmu masih ada di tempatnya?”

 

“Ya! Bilang saja kau mau menyentuh keningku!” elakku balas menggodanya. Ia hanya tersenyum.

 

“Kau pernah lihat akun yang seperti ini, Ra-ya?” ia mengajakku kembali fokus. Kuintip layarnya dengan melongokkan kepala. Kyuhyun bersuara, “Mendekatlah! Aku bisa mengendalikan diri dari darahmu!”

 

“Ish, kau fikir vampire?”

 

Kyuhyun tergelak. “Hampir mirip, dekat denganmu itu menurutku tak beda dengan darah bagi vampire, seperti amunisi bagi pasukan perang, bak oksigen bagi manusia sesak napas, laksana internet yang menawarkan banyak hal yang asyik, tak ubahnya listrik bagi Seoul dan yang pasti kamu sudah seperti heroin yang mencandu hidupku untuk berdekatan denganmu. Persis seperti heroin, kamu bisa memberi banyak efek positif seperti percaya diri dan semangat sesaat setelah aku menyentuhmu. Dan makin mirip saja dengan heroin, orang yang mengonsumsi sebenarnya adalah sakit parah begitu juga denganku!”

 

Aku menelan ludahku kuat-kuat setelah mendengar kalimat Kyuhyun yang membuat dadaku kembang kempis. Kenapa Tuhan menciptakan lelaki itu pintar merayu, pandai merangkai alegori dan aku terkesiap karenanya. Darahku berdesir-desir, volumenya naik hingga muncrat melewati ubun-ubun. Astaga, Kyuhyun… apa aku perlu menyumpal mulutmu agar kau berhenti menggodaku?

 

“Berhentilah—dari mengucapkan kalimat seperti itu,” usulku dengan nada lemah. Kuturunkan egoku untuk mendekat. Kyuhyun menjelaskan beberapa hal terkait dengan akun yang ia curigai sebagai hacker. Aku hanya takjub mendengarnya. Well, kemampuanku di bidang IT itu masih rata-rata. Dan aku tak masalah jika tak menguasai hal tersebut.

 

“Ra-ya, apa sandi terakhir sudah kau pecahkan?”

 

Aku sadar bahwa di notebook itu masih ada satu lembar yang belum kupecahkan. Kuambil kertas kosong lagi dan mulai mencocokkan dengan kunci yang kubuat.

 

“Phoenix memangsa simurgh,” Aku masih tak mengerti. “Apa itu simurgh?”

 

Kyuhyun mengetik tulisan simurgh di search enginee. Ia mulai membaca apa yang ia peroleh, “Simurgh dalam mitos Persia adalah nama raja burung phoenix. Sementara dalam khazanah irfan, ia adalah alegori dari pir dan insan kamil.”

 

“Khazanah irfan?”

 

“Kumpulan pengetahuan. Itu istilah yang sering digunakan di timur tengah. Alegori dari pir itu maksudnya kiasan buah pir sementara insan kamil itu artinya manusia sempurna.”

 

“Yayayaa! Berhentilah, Kyu! Otakku mau meledak!” Aku menghela nafas, frustasi. “Ummm, Simurgh itu nama raja Phoenix. Apa maksudnya, rakyat biasa yang mau menggulingkan raja. Oh, kau tahu Kyu, Ayahku adalah perdana mentri, pemilik buku ini mungkin mengistilahkan ayahku sebagai simurgh dan pemilik buku ini menyebut dirinya sendiri sebagai phoenix. Artinya, ia mau melakukan kudeta pada ayahku. Ia menyebarkan desas-desus patriotik movement?”

 

“Ra-ya, kau sangat bisa kuandalkan! Aku akui itu.”

 

Aku mengabaikan pujian Kyuhyun yang tak berguna itu dan masih berfikir lagi, mencari pertautan antara kalimat yang dirangkai di notebook abu ini. “Rail Kang, hiperbola pertautan—itu artinya…” kami saling menjauh, “kau jangan mendekatiku jika tak mau terkena bahaya.”

 

Kyuhyun bergeser mendekat, “Kurasa, peringatan itu tak berlaku untukku.” Pemuda itu meraih jemariku, menautkan dengan jemari Kyuhyun dan hatiku berdesir karenanya. “Aku tak takut. Apa kau—”

 

“Tentu saja, Tidak!” balasku dan ia mengecup punggung tanganku.

 

“Aku boleh mencium tanganmu kan?” Ia mencari jawaban. Dasar, aneh! Kenapa meminta ijinku setelah dia melakukannya. Kyuhyun; dingin, romantis sekaligus menyebalkan, tapi aku mencintainya.

 

“Ra-ya, kau tahu siapa Olympias?” Aku menggeleng. “Olympias adalah symbol kekuatan wanita dalam mitologi Yunani. Aku fikir, pelakunya adalah perempuan. Apa itu ibumu? Tapi kenapa dia menyembunyikan dirinya?”

 

Aku menggeleng, sedih. “Apa ibuku tak mau menemuiku?”

 

“Kurasa ada yang janggal disini. Jika pelaku adalah ibumu, kenapa dia tak langsung menemuimu? Kenapa dia memanfaatkan aku ketika menghack situs perdana mentri dan bagaimana bisa ia masuk ke sekolah kita?”

 

“Katakan! Siapa yang kau curigai, Rail?”

 

“Aku—Mr. Ernest, dia memainkan moonlight sonata seperti ibuku lalu Park In, ia memberiku ini…” kuserahkan boneka pemberian Park In tadi, boneka kelinci, “Kyuhyun-ah….” Erangku meminta pendapat Kyuhyun.

 

“Sepertinya, kita mulai tahu pelakunya.” Kyuhyun menatapku; ragu. “Tapi, jika Mr. Ernest, dia masuk ke Nowon lima hari lalu. Dan aku memergoki sosok yang menemuimu itu kurang lebih 3 minggu lalu. Dia laki-laki kan? Kenapa menulis Olympias sebagai kata kunci sandinya?”

 

“Park in?”

 

“Dia tak bisa IT, Ra-ya…”

 

“Lalu siapa?” aku mengerang, Kyuhyun menghadapku, kini kami saling memandang dalam bingung dan tak kunjung menemukan jawaban yang tepat. Kyuhyun melepas tautan tangannya.

 

“Sudahlah, kita harus menyiapkan diri untuk masuk kelas malam. Aku tak mau mempunyai jam bolos yang panjang.”

 

Aku masih diam, menunduk dan tak bergegas mengikuti saran Kyuhyun. “Eh, apa kau mau mandi disini?” kugelengkan kepalaku seraya berdecak kesal. “Dengan senang hati aku menyetujuinya.”

 

“Berkhayallah sepuasmu sebelum aku melarangmu berfantasi tentang tubuhku,” Kyuhyun terkikik lalu ikut berdiri. Aku meraih notebook abu, boneka kelinci dan kertas hasil coretanku di meja belajarnya, memakai kacamataku lagi lalu melangkah keluar dan mengabaikan Kyuhyun yang cengengesan menatapku. Kutarik gagang pintu kamar Kyuhyun. Sebelum pergi, aku membalik tubuh, membalas tatapan Kyuhyun lalu tersenyum.

 

“Rail kau melupakan satu hal,” potong Kyuhyun saat aku hendak membuka suara. Aku menautkan alis, berfikir apa yang kulupakan. Aku sudah memegangi semua barang yang kuanggap penting.

 

“Apa?” aku bertanya, menurunkan gengsi yang kutahan mati-matian. Kyuhyun hanya mendesah ringan. Ia melipat tangannya di dada. “Kau cantik hari ini dan aku suka rona merah pipimu.”

 

Sialan! Dia membuatku ganjil lagi. Kapan dia berhenti menggodaku? Ash, ingin rasanya aku melempar Kyuhyun ke Antartika agar tak melihat tubuhku yang gemetaran. “Aku tahu,” balasku singkat seolah tak terpengaruh dengan caranya menggodaku, “sampai nanti.”

 

 

 

 

 

 

TBC

 

Hayyo, RCL~ Yuk maen tebak-tebakkan. Kira-kira siapa dalangnya? Hhee

10 thoughts on “Deception A Masokis (Part 13)

  1. Kabar baiknya q terinspirasi untuk mempelajari berbagai kata sandi di mbah google.Siapa sih pelakunya, misterious.Btw min,q may kasih masukan,sebaiknya genrenya action itu jgn di cantumkan.Kan blum ada actionnya,mungkinn maksud autor akan ada adegan action di ff ini tapi low memang di suatu part actionnya blum tampil sbaiknya genrenya jgn di tulis action.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s