Deception A Masokis (Part 12)

 

dam12

Yeay, adakah yang nungguin ff ini???? Happy reading!😀

 

Title: Deception A Masokis 12

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Cho Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Choi Minho

Jonghyun CNBlue as Lee Jonghyun

Author: Kak Susan

 

 

            Sebuah permainan waktu adalah dua momen; pertemuan dan perpisahan. Dua hal itu adalah pertaruhan yang adil antara waktu dan manusia. Betapa sering kita mengupayakan hal-hal indah saat pertemuan, pun tak mungkin kita mampu mengelak dari sakitnya perpisahan. Berpisah dan bertemu ibarat dua titik dalam lingkaran yang tak pernah bersinggungan, lahir dari hukum alam dan pertautan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan waktu atau manusia dengan Tuhan.

 

 

 

-= DECEPTION A MASOKIS =-

 

 

 

“Good morning, everybody…” Mr. Ernest berhenti di mulut pintu, ia serong lalu tersenyum sumringah. Seakan menciptakan energi baru dengan pertemuan pertama kami.

 

“Morning, Sir!”

 

Aku mengetuk-ketukkan bolpoinku di meja, menunggunya membuka percakapan untuk kelasnya hari ini. Wajahnya yang mirip wanita itu lebih fokus pada piano. Hening sesaat sebelum ia menekan tuts pianonya. Detik berikutnya, keajaiban terjadi ketika dia memainkan Moonlight sonata bagian pertama  yang begitu tenang dan indah. Aku terkesima mendengar nada-nada itu, mirip permainan ibuku. Oh!

 

Aku merasa tenggelam dalam nada yang dilepaskannya dengan tenang, dengan rela, tanpa ingin tahu kenapa. Kupejamkan mataku, menikmati alunan yang seperti tangisan yang indah.

 

“Moonlight sonata, bagian pertama ini dinamakan Adagio Sustenuto.” Dia berucap tanpa mengalihkan perhatian dari piano di hadapannya. “Mendengarnya saja, mungkin akan membuatmu seperti berada di dalam mimpi, sebuah mimpi tentang dunia yang damai dan bahagia.” Dia terus memainkannya dengan tenang.

 

“Nama aslinya adalah piano sonata no. 14 dalam C minor, namun Beethoven sendiri menamainya Quasi Uno Fantasia, Hampir Mirip Fantasi,” lanjutnya, tetap acuh pada kami. “Hampir seperti ratapan, namun tetap ada keindahan dan harapan di dalamnya. Perpaduan antara C minor dan B minor menciptakan sensasi baru. Padahal keduanya bukanlah kunci yang biasa dimainkan bersama. It’s really a free form symphony[1].”

 

Mr. Ernest berhenti, ia berdiri, menatap kelas, pandangannya bergulir dari siswa satu ke siswa lainnya hingga ia menatapku yang tegang karena penjelasannya mirip cerita ibuku.

 

“Ada yang tahu bahwa Moonligh Sonata digubah oleh Beethoven untuk kekasihnya?”

 

Minho buru-buru mengacungkan jari. “Yes, Sir. Beethoven cinta mati dengan gadis itu. Bahkan ia juga menulis surat cinta yang terus disimpannya hingga dia mati. Surat-surat yang tak pernah dikirimnya.”

 

Mr. Ernest tersenyum, ia menaikkan kacamata kotaknya, “Yeah, Countess Giulietta Guicciardi, gadis kaya dari keluarga terhormat. Dia mencintai Beethoven, sayangnya, pada massa itu, status sosial dan usia yang terpaut jauh, membuat Beethoven menahan cintanya.”

 

“Unsterbliche Geliebte,” Kyuhyun bersuara ia melirikku, “kekasih abadi, begitulah Beethoven menyebut kekasihnya. Hal yang aneh karena Beethoven bukanlah pria romantis. Mirisnya, si gadis lebih memilih pilihan ayahnya, menikah dengan musisi amatir namun kaya.”

 

Aku ternganga takjub saat Kyuhyun juga mengenal Beethoven. “Hal lumrah!” sambungku, “Bethoven jauh lebih tua,  tanpa status sosial, miskin dan berkepribadian buruk. Selang beberapa tahun, si gadis mengajak kembali Beethoven tapi temperamen Beethoven yang buruk membuat mereka tak bisa berhubungan dengan baik.”

 

Kini Kyuhyun menoleh dan melengkungkan bibirnya, menciptakan pesona tersendiri untukku.

 

“Benar! Tak heran jika bagian ketiga dari Moonlight Sonata menjadi begitu ganas. Kalau kalian mendengarnya tanpa jeda, kalian akan mengerti apa yang dirasakan Beethoven terhadap wanita itu.” Mr. Ernest ikut menggunjing kisah cinta yang telah lalu itu. Sebuah cinta yang berakhir menggantung tapi mampu menciptakan hal yang manis, “dari segi music, free form sonata memang pas disematkan pada lagu ini. Selain karena perpaduan kunci yang tak biasa dan pola progressnya  yang tak lazim, proporsi tiap bagian juga terkesan seenak jidat  si Beethoven itu.” Dia terbahak sebentar, “tapi free form sonata ini mewakili sisi emosinya. Bagian pertama dari sonata ini begitu tenang dan terkesan seperti tangisan. Sedangkan bagian keduanya riang dan cantik. Tidak runtut kan? Dimana-mana orang ceria dulu lalu sedih, tapi ini tidak. Lalu dibagian akhirnya, seperti halilintar. Durasinya lama lagi.”

 

Mr. Ernest menekan sebuah tuts piano. “Simfoni ini begitu cantik namun sedikit gelap di awal, mungkin menggambarkan  perasaan Beethoven yang campur aduk karena ada gadis yang tertarik padanya, musisi urakan, temperamental, tanpa status sosial dan miskin pula. Ada yang tahu apa nama bagian kedua dan ketiga moonlight sonata?”

 

“Allegreto dan Presto Agitato.”

 

Guru training asal New Zealand itu mengangguk-angguk. “Ada yang tahu kenapa ketiga bagian itu memiliki durasi waktu yang berbeda?”

 

Kuangkat tanganku, “Menurut saya, itu karena Beethoven sadar kalau kebahagiaan tak akan berlangsung lama. Dan bagian ketiga paling panjang dibanding dua bagian lainnya, ini mungkin mencerminkan pribadinya yang temperamen, jadi bagian saat marah-marah dipanjangkan durasinya.”          Penjelasanku disambut gelak tawa teman-temanku.

 

“Wow! Kalian luar biasa!” Mr. Ernest menatap takjub pada kami. Ia tersenyum simpul.

 

“Sir, bisakah kau memainkan nada kedua hingga ketiga? Yang dipublikasikan hanya bagian pertama, dan kami jarang mendengar bagian kedua dan ketiganya!” Usul Park In.

 

Guru lelaki yang cantik itu tersenyum, ia duduk di kursi dan mulai menekan tuts piano lagi. Nada bagian kedua mengalir dengan riang, seakan menumbuhkan kebahagian yang mati.

 

“Kebahagiaan itu seperti angin, tak ada yang tahu pangkal dan ujung angin. Tak ada yang tahu kemana dia datang dan tujuannya. Angin tak berwujud namun mampu membuat dedaunan bergemerisik.” Ia menggoyangkan kepalanya, mengikuti irama yang ia mainkan, matanya terpejam seakan menikmati tiap alunan nada itu. “Tapi angin tak pernah menetap; tak pernah kembali ketika sudah pergi. Walau sempat ada namun ia tak akan pernah lama. Sama dengan kebahagian, hanya ibarat sisipan yang singkat.” Seiring dengan kalimat terakhirnya, dia menamatkan bagian kedua Quasi Uno Fantasia.

 

Aku begitu terbuai dengan permainan pianonya. Bahkan aku merasa seolah yang bermain itu adalah ibuku. Dia mengajariku, mengiringi lagu itu dengan kalimat yang membuatku dipaksa masuk dalam aliran air yang tenang namun menghanyutkan. Saat kubuka mata, Mr. Ernest menatap kosong, ada sorot terluka dalam pandangannya. Aku hendak bertanya apa dia baik-baik saja hingga ia menghentak bagian Presto Agitato. Aku terkejut sekaligus kagum dengan permainan pianonya. Dan cara dia mempresentasikan tiap bagian dengan kalimat puitis, dengan ekspresi yang menjiwai dan cara dia menekan tuts piano yang indah. Ia menekan kunci-kunci lagu dengan memejamkan mata, nafasnya berdengkusan dan dadanya naik turun. Seakan dia marah pada keadaannya sendiri. Aku masih menganga, baru sekali ini aku mendengar bagian ketiga dari moonlight sonata. Sebuah bagian yang memiliki tempo cepat dan menyambar-nyambar laksana kilat dan petir.

 

“Mengatakan cinta dibalik baju zirah, luka dalam perang, ego-ego manusia laknat!” Mr. Ernest berapi-api, sejalan dengan permainan pianonya yang bertempo cepat dan menyambar. “Kita adalah cinta. Kita adalah luka!”

 

“Kita bertemu lalu berpisah diiringi dengan kemarahan! Kita berharap bertemu tapi berujung pada kemurkaan! Ini, adagio! Lalu presto! Lalu ledakan! Dan ledakan! Hilang dan mati! Agitato!”

 

Akhir yang sangat dramatis. Mr. Ernest berdiri dan menunduk hormat, Kami sekelas sentak berdiri dan memberikan tepuk tangan; kagum dengan kepiawaiannya memainkan moonlight sonata. Permainannya membuatku seakan hidup; mengalami kesedihan, kebahagian lalu kemarahan!

 

 

***

 

“Aku merinding mendengarnya memainkan piano tadi.” Jihyun memainkan jemari di rambutnya. Ia menatapku yang masih membaca novel dengan kaca mata minusku. “Rail, kau suka dengan moonlight sonata? Bagian pertamanya indah, tapi tetap suram jika digubah untuk cindera mata pada kekasih.” Ia merutuki dirinya sendiri yang kini mulai suka simfoni gila itu. Aku mencibir dan kembali fokus pada bacaanku.

 

“Hai…” Minho datang, menyapa Jihyun dan mereka terlibat percakapan yang sangat asyik. Aku tak peduli, otakku masih terpaut dengan alur novel milik penulis ternama. Aku mengabaikan mereka yang cekikikan karena hal yang tak lucu, mereka berbicara dengan tatapan penuh minat dan melupakan sekitar.

 

“Eh, aku mau menghabiskan waktu istirahat di taman, sampai nanti…”

 

“Nde, sampai nanti.” Sahut mereka berdua kompak, aku terkekeh karenanya. Lalu melempar senyum ke Jihyun. Minho memerah, ia menunduk, malu menatapku. Ah, aku sadar diri dan bergegas meninggalkan mereka.

 

Aku melangkah kecil-kecil; sedikit berlari dan begitu sampai di taman aku segera ke kolam. kupandangi tepi kolam tempatku duduk waktu sabtu malam kemarin, sebuah tempat yang  kami gunakan menikmati remang cahaya bulan; sebuah tempat dimana Kyuhyun menciumku sekaligus sebuah tempat dimana Ayahku dan Ibu Kyuhyun memergoki ciuman kami. Kutepuk-tepuk keningku agar pikiranku kembali normal, tangan kiriku meraih saku jas almamater dan mengambil ikat rambut, mengikat poniku yang membuat mataku tertutup.

 

“Kau sibuk?”

 

Park In mendekatiku. Ia menyerahkan boneka kelinci berwarna coklat, boneka itu mengingatkanku tentang sesuatu. “Kau ingat boneka itu? 13 tahun lalu orang yang kau cintai—ibumu. Kau ingat?”

 

“Darimana kau tahu ibuku dan boneka ini?”

 

“Kalau kau ingin tahu jawabannya. Datanglah ke Andromeda galaxy, koridor utara pukul 10 malam…” Park In pergi, ia meninggalkanku yang mematung bingung. Kenapa Park In bisa tahu tentang boneka kelinci? Ia tahu berapa lama Ibu pergi?

 

“Ya! Park In-ssi!” teriakku tapi gadis itu tak memedulikan panggilanku. Ia makin jauh dan aku kesal sendiri. “Hash…”

 

“Kenapa berteriak?”

 

Kutoleh, pemuda dengan tinggi 180 cm itu berdiri di sisiku. Ia menatap tenang ke kolam dan aku duduk dengan bersandar di bebatuan, mengabaikan seragamku yang kotor karena debu. Kyuhyun berjongkok, manik matanya menusuk penglihatanku.

 

“Bisakah kau meninggalkan aku?”

 

Kyuhyun mengulum senyum, “ini…” ia merentangkan tangannya. Nampak membutakan mata posenya saat ini, mata onixnya yang tajam, dada bidangnya, pahanya yang kokoh dengan posisi jongkok dan menumpu pada salah satu tempurung kaki, tangannya terbuka; menyuruhku memeluknya.

 

Ia benar-benar gambaran yang cukup mewakili kesempurnaan yng diimpikan wanita. Fisik yang bagus ditunjang perhatiannya. Yang membuatku meleleh bukan kesempurnaannya yang terlihat mata fisikku, aku yakin, ada banyak yang lebih tampan darinya dan aku tak mau memujinya seakan dia yang paling segalanya. Aku lebih luluh dengan tingkah-lakunya, sikapnya yang tenang, kadang dingin, menghangat hingga menyebalkan. Inilah inner beautynya yang cukup membuat dadaku sesak dan paru-paruku kekurangan pasokan oksigen.

 

Aku menghambur ke dadanya yang hangat, mencari ketenangan di pelukannya dan berbagi perasaan tanpa harus berkata. Diam, saling memeluk, saling merasakan deru napas adalah cara yang sangat indah berbagi dengan orang yang kucintai setengah mati.

 

“Maukah hari ini kau membolos denganku?”

 

‘Nde?”

 

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Kyuhyun berdehem, “sekarang bisakah kau melepas pelukanmu? Kau berat—tahu,”

 

Kukerucutkan bibirku, tak terima dengan kejujuran Kyuhyun. mungkin saja, aku yang bodoh, Kyuhyun berjongkok dan kekuatan tubuhnya hanya bertumpu pada satu tempurung kakinya. Konyolnya, aku malah menimpanya dan membebankan tubuhku sepenuhnya. Benar-benar wanita tak berperasaan….

 

Kami sudah berdiri dan Kyuhyun berjalan mendahuluiku. Ia menuju asrama laki-laki, Macozza Building. Langkahnya menyelip di sebelah kanan bangunan. Ada sebuah kamar yang berbeda dengan kamar siswa lainnya. Sebuah kamar yang di desain menghadap pemandangan taman sekolah. Kyuhyun membuka pintunya dan mempersilakan aku masuk. Kulihat tata ruangan kamar tersebut, dibagian kiri ada rak buku dan buku-bukunya berjejer rapi, bagian kanannya ada laptop, system audio yang bagus, dan sebuah ranjang yang empuk sementara di dekatku ada sofa berwarna putih, dinding ruangannya dicat warna kuning gading dan lukisan berupa dot saja atau garis.

 

Ini kamar Kyuhyun? Begini selera Kyuhyun? Simple tapi elegan. Apalagi lukisannya itu, menambah pengetahuanku bahwa Kyuhyun memiliki jiwa seni yang tinggi. Oh, pantas saja dia juga tahu kisah Beethoven.

 

Kupandangi lukisan Kyuhyun yang berupa titik-titik, jika kulihat, lama-lama itu membentuk sebuah wajah. Aku menoleh pada Kyuhyun, lelaki itu juga membalas tatapanku. Ia diam menunggu responku selanjutnya.

 

“Itu… aku?”

 

Kyuhyun malah duduk di sofa, ia merebahkan kepalanya di dashboard sofa dan memejamkan mata, mengekspos leher jenjangnya yang putih bersih. Dengan taku-takut aku mendekat ke lukisannya. Bingkainya terbuat dari kayu maple dan kacanya memiliki ketebalan yang tipis, sekitar 1mm.

 

“Ceritakan…”

 

“Itu kubuat saat pertama kali bertemu, ketika kamu menumpahkan vanilla latte di seragamku. Aku menyuruhmu mencuci kemejaku, benar?” Kyuhyun tersenyum, menegakkan tubuh dan rasanya tubuhku mengejang melihatnya, ia menatapku mirip singa yang mau menerkam mangsa. Detik berikutnya, pandangannya melemas, menatap penuh cinta padaku dan aku hanya mematung dalam diamku.

 

“Sejak pertemuan pertama itu, aku selalu memikirkanmu, esoknya aku berharap agar bertemu kamu lagi. Kelakuanku berubah jadi ganjil, aku membenci diriku saat aku tak bisa menepis rasa ingin tahuku tentangmu. Dalam diamku, aku mengamati setiap ekspresimu saat bersama Jihyun, saat bersama orang tuamu atau saat kau bertemu denganku. Aku hafal ekspresi mana yang akan kau tampilkan saat sedih, marah, kesal sampai gugup karena melihatku mendekatimu.” Kyuhyun terkekeh, ia terlihat senang saat ia berhasil membuat pipiku bersemu merah. Ia menyuruhku mendekat dan duduk di sampingnya. Kugerakkan kakiku yang begitu berat. Lalu menekuk sendiku agar mampu duduk normal. Tuhan… berapa kali aku bisa berduaan dengannya tapi hari ini terasa berbeda. Inikah alasannya mengajakku membolos? Ia ingin membuat sebuah pengakuan—

 

“Sangking gilanya aku, aku sempat menguntitmu hingga ke kamar.” Kyuhyun tertawa, ia merubah nada bicaranya. “Aku mengintipmu dan terkejut saat ada sosok yang menemanimu tidur. Ia menggumamkan nada-nada aneh dan kau meringkuk dengan nyaman di sisinya.”

 

Aku tercekat.

 

“Mengetahui bahwa aku memergoki keberadaannya, ia langsung pergi dan menghilang begitu saja. Aku curiga. Sepertinya, ia… sangat memerhatikanmu. Apa kau merahasiakan sesuatu?”

 

Aku diam, menggeleng. “Bagaimana ciri fisiknya?”

 

“Aku tak begitu jelas. Ia memakai tudung dan blazer besar. Tapi saat aku mengejarnya,” Kyuhyun berdiri, ia menarik gagang laci meja, mengeluarkan sebuah notebook berwarna abu. “Aku menemukan ini,”

 

“Aku ingin kau memelajari buku harian ini. Dan biar aku yang melacak akun hacker yang menarik perhatian publik.” Kyuhyun mengulurkan buku abu itu dan langsung kuterima, meski sedikit ragu.

 

“Kenapa aku yang berurusan dengan buku ini?” kuuntang-antingkan buku tua itu ke udara, Kyuhyun hanya menggeleng melihat tingkahku. Ia membalik tubuh dan mulai menghidupkan laptopnya. Ia duduk simpuh di depan laptop.

 

“Karena sepertinya, dia memiliki hal yang erat denganmu. Bisa jadi itu ibumu yang mencoba menemuimu tapi takut diketahui orang lain.”

 

“Jika ia ibuku, kenapa ia harus membajak situs Ayahku? Kenapa dia menemuiku diam-diam? Dan kenapa dia mengacaukan prom?”

 

“Nah, itu yang harus kaupecahkan. Ayo, hari ini kita bekerja! Satu lagi, tenda terbakar karena terjadi arus pendek.”

 

“Oh, aku tak percaya dan kau melupakan satu hal…” Aku tersenyum, melipat kakiku dan meletakkan novelku, ganti membuka notebook yang diberikan Kyuhyun. Kyuhyun yang duduk di depan laptop itu menoleh.

 

“Apa?”

 

“Kau jelek hari ini!”

 

Kyuhyun mendengus tapi raut mukanya terlihat santai, “Rail, kau lupa, kau ada dimana?” Kyuhyun kembali fokus menatap layar laptop. “Aku bisa berbuat apa saja yang kumau.”

 

“Harap dimengerti, aku pemegang sabuk hitam di taekwon-do.”

 

“Ah, Rail… kau membuatku takut…” Kyuhyun bernada mengejek. Ia menghubungkan laptopnya dengan internet sekolah lalu mulai berselancar di dunia digital  dan mengabaikanku yang masih mematung.

 

Kugigit bibir bawahku, kesal karena diacuhkannya. Hah, sudahlah, sudahlah… lebih baik aku fokus pada buku abu ini, siapa tahu ada rahasia yang bisa kutemukan.

 

 

 

TBC

 

9 thoughts on “Deception A Masokis (Part 12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s