23rd October | Oneshoot

 

23RD

Title: Oktober 23rd

 

Genre: Romance

 

Rate: G

 

Main Cast:

 

Lee Donghae Super Junior

 

Kim Hyun Ah (OC)

 

Length: Oneshoot

 

Author: Kak Susan

 

Desclaimer: ini FFku dengan castnya Lee Donghae Ide cerita miliki saya.

Woce, Selanjutnya ^^

 

Happy reading!!!

 

 

 

 

—-Oktober 23rd–

 

 

 

 

Aku melangkah menuju namja yang duduk di bibir pantai. Ia tak peduli dengan celana jeansnya yang sekarang basah terkena deburan ombak. Aku pun ikut duduk disisinya lalu menatap ke laut lepas. Biru. Hanya itu warna yang ditangkap mataku.

 

Ia menegakkan kepalanya lalu menatapku teduh. Ia pasti ingat kenangannya 1 tahun lalu saat semuanya belum hancur seperti ini. Tak ada obrolan hangat lagi yang biasanya kami lakukan. Tak ada hal menyenangkan  lagi bertemu dengannya. Walau harus kuakui, aku masih mencintainya. Aku masih dengan perasaanku satu tahun lalu. Tapi, pertemuan  pertama setelah terpisah setahun, mejadikan semuanya kaku begini.

 

Aku memutar MP3 yang kukantongi. Dentingan piano mengawali lagu itu seakan hendak meraupku dalam jatuh yang dalam. Sebuah lagu Indonesia yang sekarang akrab di telingaku.

 

 

“Tinggalkan lelaki itu. Dia artis, pola hidupnya tak akan sama dengan kita. Mereka hanya tahu bagaimana mendongkrak popularitasnya bukan menjaga perasaan pasangannya.”Ibuku berteriak histeris. Kata-katanya keluar dengan cepat dan langsung menyinggung hubunganku dengan Donghae, “Kita tak sebangsa dengannya. Banyak yang berbeda dan Ibu yakin, ini akan menyiksamu.” Sebagian otakku mengingat ucapan ibuku yang membuatku berkecil hati. Ya, kedua orang tuaku tak pernah setuju aku mempunyai hubungan dengan Donghae.

 

 

Lalu, mau bagaimana lagi sekarang? Dengan Donghae aku tersiksa. Tanpanya pun aku juga tersiksa.

 

 

 

“Sudahlah, lupakan saja dia.”Ayah menatapku, “Biarkan ia jadi masa lalu yang selalu dikenang. Ayah mengerti. Untuk itu, ayah akan mengirimmu kembali ke Indonesia saja. Selama Ayah masih bertugas di kedutaan Indonesia di Korea, selama itu juga kau tinggal di Indonesia.”

 

 

Ingatanku kembali pada pertemuanku dengan Donghae. Kami bertemu di bawah guyuran hujan. Tepat setahun yang lalu.

 

 

 “Hae-nim. Jika suatu hari aku merindukanmu. Maukah kau menemuiku?”Aku berhenti, “Hae-nim. Jika aku merindukanmu, aku akan menghubungimu dan mengatakan bahwa aku merindukanmu. Sebaliknya, jika kau merindukanku, kabari aku ya?”

 

Donghae memalingkan wajahnya.

 

“Hae-nim, aku tahu,  aku bukan artis, aku bukan anak milyader dan sebagainya. Aku hanya gadis biasa yang hanya bisa meletakkan cintanya padamu. Tulus. Kehadiranmu seperti kedatangan 23 Oktober. Kaulah hujan pertama hatiku. Kau cinta pertamaku.”

 

Entahlah, lelaki itu tak membalas menatapku. Dadanya naik turun—seperti menahan amarah.

 

“Hyun Ah, bukankah Ayahmu orang Korea walau ia sekarang sudah pindah kewarganegaraan? Kenapa ibumu tak meyetujuiku?”

 

Aku menggeleng, “Bawa aku pergi.”

 

Donghae menatapku, “Tidak!”

 

“Kau mencintaiku?”

 

Tak ada sahutan. Baiklah, ini membuatku yakin keputusan seperti apa yang harus kutempuh. Sepertinya ia lebih mengutamakan kariernya ketimbang perasaanku. Seharusnya, aku sadar posisiku di hatinya. Tak mungkin seorang sesempurna ia meninggalkan dunianya hanya untukku yang tak memiliki kelebihan sedikitpun.

 

“Baiklah, lupakan kisah kita. Semoga kariermu sukses. Maaf  jika aku hanya menjadi beban untukmu.”Aku menghela nafas, “Aku akan melupakanmu. Terima kasih untuk kebaikanmu selama ini.”

 

Pikiranku kembali pada posisiku sekarang. Duduk di samping Donghae. Entah karena alasan apa ia menemuiku. Ia begitu nyata di hadapanku, bahkan ketika ombak berdebur—menerpa tubuhku, aku tak begitu memedulikannya. Terlalu terpukau padanya—itulah yang mengalihkan perhatian dan orientasi otakku.

 

“Bahkan aku tak bisa lagi menahan kerinduanku lebih lama.”Kata Donghae kemudian, memecah kebisuan. Suaranya berpadu dengan deburan ombak yang menerpa tubuh kami, “Kenapa kau kembali ke Indonesia? Apa kau mau menghindariku?”

 

“Ibuku orang Indonesia, Hae-nim. Ada didekatmu–di Seoul–membuatku semakin terpuruk.”

 

Donghae melepas kacamatanya. Sekarang mata kami bersiborok tanpa terhalang apapun.

 

“Apa kau sudah menemukan 23 Oktobermu lagi?”Donghae menatapku.

 

Aku tersenyum, miris.

 

“Ne, walau sekarang ia datang dalam bentuk mendung.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kau, Hae-nim. Kenapa kau buat aku mencintaimu sedalam ini jika akhirnya kau sulit kurengkuh?”Kutahan airmataku. Mataku terasa panas.

 

“Kau–uu, a–apa kau masih mencintaiku?”

 

“Tak ada kata masih. Kau tahu? Aku tak bisa menepis rasaku. Walau mengingatmu hanya akan menguras airmataku.” Kulempar pandanganku ke pantai.

 

Sebuah bibir hangat menyentuh sudut bibirku. Donghae menelengkan wajahku agar sejajar dengannya. Detik berikutnya, ia melumatnya kasar dan menggebu. Hanya butuh 30 detik melakukannya.

 

“Maafkan aku,  mengabaikanmu.”Ia kembali mendekatkan wajahnya. Bibirnya kembali mengecup lembut bibirku, menyesap pelan lalu melepasnya.

 

“Kita akan memperjuangkan cinta ini di hadapan orangtuamu.”Ucapnya lagi, “Dan aku tak akan egois akan karierku. Sudah cukup setahun saja aku kehilanganmu. Dan tahun-tahun akan datang, akan kugunakan untuk mencintaimu, menghabiskan waktu denganmu.”Ia menempelkan wajahnya di wajahku. Aroma menthol shampoonya menyergapku. Apalagi aroma bibirnya. Manis.

 

“Kau mau menikah denganku?”Tanyanya, membuatku terperangah, “Marry me?”

 

Kuhela nafasku. Mimpi. Ini mimpikah? Ia akan memperjuangkan ini? Benarkah? Mengajakku menikah? Kembali, ia menelengkan kepalanya. Memperkecil jarak antara kami. Darahku semakin berdesir. Kegilaan ini tak boleh dilanjutkan.

 

“Berhenti!” Aku mendorong tubuhnya, membuatnya terjungkal.

 

“Aku belum memaafkanmu telah menciumku tanpa ijin.”

 

“Kalau begitu, ijinkan aku menciummu lagi sebagai permintaan maaf.”Tanpa kusangka sangka. Senyumnya nakal.

 

“Shirreo!”

 

Dengan egois, Donghae malah menarik tubuhku dipangkuannya. Membiarkan ombak berkali-kali menerpa kami dan aku nyaman dalam posisi ini. Entah kenapa, menurutku ini sangat romantis. Duduk di bibir pantai. Donghae memangkuku lalu ombak mendinginkan tubuhku yang memanas.

 

“Kau suka Indonesia?”Ia menempelkan kepalanya di pundakku. Nafasnya menerpa leherku. Menimbulkan getar-getar yang indah.

 

“Aku suka dua musim yang ada di Indonesia. Aku suka 23 Oktober, karena itu adalah hari pertama hujan setelah musim kemarau. 23 Oktober adalah cinta pertamaku. Yang sekarang sudah menguar dan tinggal lamat-lamat dalam  pikiranku  karena perilaku manusia . Aku tak lagi menemukan cinta pertamaku. 23 oktober sekarang berpindah-pindah. Kadang, ada di September kadang di Oktober bahkan kemarau tahun ini, hujan pertamanya di bulan September. Ibarat hati, 23 oktober sekarang banyak berkhianat. Ia tak lagi peduli padaku yang menunggunya tiba. Cintaku telah direnggut oleh alam. Hahh–, kadang pemikiranku tentang 23 Oktober dan cinta pertamaku ini yang membuatku mengidap penyakit gila ke 19. Kau akhirnya tahu apa itu sakit gila ke 19? Yah, inilah jawabannya!”

 

“Bagaimana dengan 23 Oktober hatimu sekarang? Apa ia masih berkhianat?”

 

Kutoleh, ia menunggu jawabanku. Aku menggeleng pelan.

 

“Ia datang, dengan keindahan. Lebih indah dari sebelumnya. Lebih indah dari 23 Oktober tahun lalu.”

 

Tangannya meraih jari telunjukku. Dan ia menuliskan 23 Oktober di pasir sebelum akhirnya, tulisan yang kami buat hilang diterpa ombak.

 

“Kau tak akan jadi seperti ini!”Ia memukul-mukul pasir yang tadi kami gunakan sebagai tempat menulis, “Pasir bodoh!”

 

Aku tersenyum, “tenanglah, aku sudah mengukirnya di hatiku. Jadi jangan khawatir akan terhapus.”

 

“Jjinja?”

 

Aku mengecup singkat bibirnya. Ah, 23 Oktoberku telah kembali. Tinggal menghadapi badai di bulan November! Tinggal menunggu banjir dan petir saja. Semoga kekuatan Tuhan, mampu menjaga cinta kami. Setahun waktu yang menyakitkan. Tanpanya. Dan setelah ini, aku tak akan mau lagi kehilangan 23 Oktoberku. Alam boleh merenggut hujan pertamaku, tapi sekarang aku tak akan membiarkan alam merenggut kebahagiaanku.

 

Donghae-ya, Saranghae.

 

 

 

 

 

END.

 

 Ditunggu RCLnya ya?

 

Regards!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s