Watashi no ai de anata ga daisuki nano yo (Chapter 4)

 

Watashi4

Tittle: Can You Hear My Heart??

Author : Kim MysHwa

Cast  : Jiyong, Yozora, NaEun, YooRa, Kenzo, Kim Woo Bin, Kim Hee Jin

Genre : Romance, funny

Disclaimer : this story is mine!!!

Maap kalau banyak typo.

 

HAPPY READING.🙂

 

 

 

 

“Aku tak mau mendengarnya!!”teriak Zora ditaman kampus seraya menutup kupingnya dengan kedua tangannya.

“Zora, dengerin oppa. Oppa sungguh-sungguh minta ma’af sama kamu bukan mau oppa ngebatalin janji”ujar Woo Bin berusaha semampunya memberi penjelasan pada Zora.

“Alaaa…aku udah muak dengar penjelasan oppa ‘bukan mauku’,hanya itu penjelasan yang selalu oppa ucap. Kalau oppa gak mau, oppa gak akan ngebatalin janji!”balas Zora dengan nada tinggi.

“Iyaa, tapi sungguh, bukan maksud oppa. Hanya saja tadi malam pacar oppa datang tiba-tiba dari AS. Dia bela-belain ke Korea buat ngerayain ultah bareng oppa. Gak mungkin kan kalau oppa gak ngerayain ultah sama dia”

“Ohh,  jadi hanya karna pacar oppa ngebatalin janji ngerayain ultah bareng kami? 5 tahun kita gak pernah ngerayainnya. Kurasa penjelasan oppa udah cukup. Oppa lebih mentingin orang yang baru memasuki kehidupan oppa. Terimakasih!”kata Zora dengan emosi meluap, matanya memerah menahan butiran bening yang akan siap merembes melalui sudut-sudut matanya.

“Zora, bukan begitu tapi oppa bingung. Oppa gak tau harus ngutamain yang mana,kalian sama-sama penting dalam hidup oppa. Apa yang harus kulakukan untuk membuat kamu maafin oppa”

“Entahlah, yang jelas sekarang aku lelah”.Lalu Zora bergegas meninggalkan Woo Bin. Kalau pun ia menangis, ia tak ingin menangis dihadapan Woo Bin. Ia ingin tetap terlihat tegar.

“Tapi Zora…”ucap Woo Bin tertahan lalu membiarkan Zora pergi.

Memang menguntungkan bagi Zora kalau Woo Bin membatalkan janjinya karna ia bisa pergi ke pesta Jiyong, namun Woo Bin membatalkan hanya karna pacarnya datang menemuinya, membuat Zora kecewa karna oppa kebanggangannya itu lebih mementingkan kekasihnya daripada sahabatnya yang lebih dulu ada dihidup Woo Bin.

##||##

 

Sebuah hari yang melelahkan karna dari pagi sampai siang ini, Jiyong selalu kawal oleh dayang cantiknya, NaEun. Calon tunangannya, sejak tahu mereka dijodohkan NaEun semakin gencar mendekati Jiyong.

“Aku salut sama kamu Ji, karna kamu ngerjain Zora tadi malam cowok-cowok udah pada berani godain Zora. Karna gaun pink nya tadi malam dia tak ditakuti lagi oleh cowok kampus”jelas NaEun girang.

“Ohh begitu.Setidaknya aku gak N.A.T.O seperti kamu”jawab Jiyong dengan nada sombong.

“Iyaa deh”ujar NaEun manja sembari menggandeng tangan kekar Jiyong, peduli apa dia dengan cibiran Jiyong. Bisa dibilang NaEun muka tembok dihadapan Jiyong.

“Huwaamm, aku mau ke toilet dulu nyuci muka. Jadi ngantuk dengarin ucapan kamu”sahut Jiyong beralasan, padahal ia ingin menghindar dari NaEun.

“Tapi jangan lama-lama yaa”kata NaEun dengan senyum super manisnya mencoba menangkap hati Jiyong dengan senyumannya. Senyuman yang mampu membuat lidah kelu bagi yang memandangnya. Menggugah hati setiap pria dan membuat berdebar. Tapi tidak untuk Jiyong, senyuman itu terkesan sangat biasa menurutnya.

Jiyong berlalu tanpa menghiraukan NaEun.

 

Saat Jiyong hendak memasuki toilet ia mendengar suara isak tangis di toilet yeoja sebelahnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mencuci muka, rasa penasaran didalam dirinya begitu kuat. Ia pun berdiri tepat di depan toilet yeoja. Ia curiga akan suara tangisan itu,suara yang tak asing baginya.

Selang lima menit berlalu yeoja itu keluar dengan mata sembab.Yeoja itu kaget ketika melihat Jiyong menatapnya dengan wajah yang penuh gurat pertanyaan.

 

“Mengapa menatap aku seperti itu?”

“Heh,  Zoro yeoja cengeng dan lemah!!”

“Kamu gak henti-hentinya yaa mengganggu hidupku. Memangnya kamu siapa?seenaknya menilai aku. Kamu tak lebih dari seorang pengecut!!”ujar Zora dengan suara keras.

“Okay, kalau gitu mengapa kamu nangis?”

“Bukan urusan kamu dan kamu gak harus tahu!!”

Zora melangkahkan kakinya ia tak ingin menangis lagi dihadapan Jiyong. Jiwanya benar-benar rapuh.

Tapi tiba-tiba saja Jiyong menarik tangannya. Tak membiarkan Zora pergi begitu saja. Ia menggenggam tangan Zora sangat erat lalu menghadapkan wajah Zora kearahnya.

“Kamu apaan sih, lepasin gak!”berontak Zora.

“Aku bisa maklumin kalau kamu kemarin menangis karna takut sama tikus. Tapi aku gak bisa ngerti kenapa kamu harus nangis gara-gara cowok, Woo Bin kan yang buat kamu nangis?Hii, itu bukan karakter kamu. Kamu itu kuat layaknya karang yang dihempas sang ombak!”tebak Jiyong yang seakan tahu isi hati Zora

“Peduli apa kamu, memangnya kamu siapa?”

“Aku seorang cowok yang gak bisa lihat cewek nangis. Apalagi gara-gara cowok.MEMALUKAN!!”ujar Jiyong lantang lalu menyeka setetes airmata yang jatuh ke wajah Zora.

“Memangnya kenapa kalau aku nangis gara-gara Woo Bin oppa, apa kamu cemburu??”

“Heh, aku cemburu? Atas dasar apa? Kamu sama sekali bukan tipeku. Kamu hanya cewek tomboy yang lemah!”

Entah mengapa ucapan Jiyong itu terasa sangat menyakitkan bagi Yozora, seperti ada sesuatu yang menghujam dan mencabik ulu hatinya. Sakit dan terasa sesak tapi ia tak ingin menangis lagi,egonya terlalu besar.

PLAAAKK..Sebuah tamparan hinggap dipipi kiri Jiyong.

 

“Jangan pernah bilang aku lemah. Ngerti kamu!!kamu gak usah komentar kalau kamu gak tahu masalahnya!!”

Jiyong,merengkuh Zora ke dalam pelukannya. Tak peduli kalau ia baru saja ditampar oleh Zora.

Tell me why??”pinta Jiyong lembut.

Zora pun merasa tentram dipelukan Jiyong.

“Yaa, alasan pertama mengapa aku menangis memang karna Woo Bin oppa”

“Alasan lain?”

“Aku muak sama kamu! gara-gara kamu para cowok dikampus ini tak takut lagi denganku. Mereka menertawakanku karna gaun pink itu. Aku benci sama kamu!!”ucap Zora dengan nada meninggi ia pun melepaskan pelukan Jiyong.

“Apa kamu bangga karna ditakutin, apa kamu senang dengan hal itu? kamu itu cewek, gak pantas sikap kamu kasar! bisakah kamu bersikap lembut layaknya yeoja??”

“Kenapa kamu harus ngurusin aku??”

Watashi no mae kara kiero1!!”sambung Zora sembari mengacungkan jari telunjuk ke depannya.

Meksi Jiyong tak mengerti arti dari bahasa itu tapi ia mengerti maksudnya adalah mengusir dirinya.

“Cewek aneh!!aku gak ngerti jalan pikiranmu!”timpal Jiyong sebelum pergi dengan senyum menyeringainya.

 

***

Seperti biasa setelah kelas usai dengan cueknya Zora keluar tanpa peduli dengan orang disekitarnya.

“Zora, kamu mau langsung pulang?”tanya YooRa.

“Iyaa, memangnya kenapa??”tanya balik Zora karna merasa aneh dengan sikap sahabatnya bertanya seperti itu.

“Emm, aku mau tanya. Itu cowok kemarin yang nyariin kamu di kampus, siapa??”

“Ohh yang itu, keren kan dia?”sahut Zora seraya tersenyum tipis.

“Iyaa.hehe..”jawab YooRa disertai anggukan.

“Dia Woo Bin oppa, sahabat aku waktu kecil. Kamu naksir yaa??ehmm…”

“Adaaaa aja, aku pulang duluan yaa.hehe..”balas YooRa dengan sikap aneh dan langsung meninggalkan Zora.

Ia menaruh curiga pada sikap sahabatnya yang aneh hari itu. Ia menduga YooRa menyukai Woo Bin.

##||##

 

Lelah, ia merasakan sangat lelah hari itu. Setelah pulang dari kampus, ia mengayuh sepedanya menuju taman kota. Ia rasa bisa menyegarkan pikirannya disana.

Zora pun menyandarkan sepedanya pada sebuah pohon besar dan duduk di sebuah bangku panjang.

Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Mencoba merasakan kesejukan di taman itu. Ia merasa nyaman disana karna tak ada seorang pun disekitarnya.

“Cantik, ngapain disini sendirian?”goda kawanan lelaki iseng. Zora memang tak mengenal mereka tapi ia tahu pernah melihat orang-orang itu dikampus. Zora yakin mereka juga mahasiswa di Universitas Seoul tapi entah jurusan apa.

Zora diam, ia tak menanggapi orang-orang iseng itu.

“Sombong banget sih cantik”goda salah satu cowok tertampan diantara 4 cowok yang lain disana.

Ia duduk disamping Zora. Karna merasa terganggu Zora berdiri dan hendak melangkah. Namja itu pun menahan Zora dengan menarik tangannya.

“Kurang ajar kamu!!”ujar Zora kaget lalu menamparkan tangannya ke wajah lelaki itu.

“Sekali lagi kamu ganggu aku, balasannya lebih sadis dari ini!!”ancamnya dengan penuh kebencian.

“Haha…kenalkan aku Kang.Kamu pernah lihat aku kan dikampus?”sahut Kang dengan gelegak tawanya. Ia tak perduli dengan ucapan Zora. Kang adalah salah satu orang yang menyukai Zora secara diam-diam. Ia tak berani mengungkapkannya karna menurut gosip Zora akan membenci orang yang mengatakan cinta padanya, kalau Zora tak menyukai orang itu.

Tp kali ini Kang tak peduli dengan gosip itu!

Ia benar-benar telah dibuat gila oleh gadis itu. Sejak pertama memandangnya.

 

Zora menatap Kang tanpa ekspresi lalu memutar tubuhnya berbalik arah.

Namun sialnya, langkahnya dicegat oleh Kang dan kawan-kawannya.

“Heh, beraninya keroyokan banci kalian!!”cela Zora sembari tersenyum sinis.

“Apa kamu takut??”jawab Kang dengan tatapan tajam. Ia mendekati Zora lalu menyentuh pipi lembutnya.

Emosi Zora terpancing, tekanan darahnya meninggi.

 

Bruuukk…sebuah tinju melayang keperut Kang, hingga ia meringis kesakitan. Teman-temannya mulai bereaksi untuk menangkap Zora namun Kang memberi isyarat dengan bahasa tubuh bahwa mereka tak perlu melakukan itu.

“Yayayaa..pantes orang-orang takut sama kamu. Ternyata kamu lebih sadis dari seorang polwan.haha…”kata Kang, lagi-lagi dengan gelegar tawanya yang menyeramkan. Hingga Zora menutup kupingnya mendengar itu.

Whatever!!!”sahut Zora super jutek lalu ia melangkah mencoba menerobos orang-orang yang mengepungnya tapi dihalang-halangi hingga ia tak bisa lewat.

 

“Kalau kalian bukan banci lepasin dia. Jangan berani ngelawan cewek doang”teriak suara lantang dengan suara beratnya.

Semua mata tertuju pada arah sumber suara itu.

Dengan gagahnya lelaki itu mendekati mereka. Tak gentar sedikit pun walau ia sendirian.

“Lepasin dia!!”ujarnya memerintahkan mereka untuk melepaskan Zora.

“Jiyong..Jiyong…berani banget kamu sendirian”sambut Kang meremehkan.

“Kamu kenal aku? bagus deh!”

bruuk..langsung tanpa basi basi sebuah pukulan dari Jiyong menghantam salah satu teman Kang.

Perkelahian pun terjadi tanpa bisa ditawar. Jiyong melawan mereka berempat sementara Zora ditahan oleh Kang. Kedua tangannya dipegang sangat erat hingga ia tak bisa berkutik.

Satu pukulan, dua pukulan dan pukulan lainnya berhasil Jiyong tangkis. Ia memang jago bela diri maka dari itu ia bisa dengan mudah melumpuhkan lawannya.

“Jiyongggggg…”teriak Zora keras.

“Argghh”erangnya kesakitan. Sebuah pisau tajam telah mengoyak kulit telapak tangannya. Ia terkena pisau dari Kang saat namja itu hendak menusukkannya pada Jiyong yang lengah karna sibuk menghadapi lawannya. Darah segar terus mengalir dari telapak tangan Zora.

Kang dan teman-temannya segera melarikan diri.

Jiyong segera mendekati Zora yang terduduk direrumputan menahan sakit.

Jiyong pun memberi sapu tangan pada Zora untuk menahan laju darah yang terus mengalir dari telapak tangan Zora.

“Tunggu, aku ambil kotak P3K dulu”ujar Jiyong kemudian bergegas berjalan menuju mobilnya. Tak berapa lama Jiyong kembali dengan membawa kotak P3K kemudian mengajak Zora duduk dibangku panjang ditaman itu.

“Kenapa kamu lakuin ini?? kamu bisa biarin aku kan yang kena tusuk daripada kamu yang kena. Tangan kamu tuh bukan besi. Jadi pasti kamu bakal terluka kalau nangkap tuh pisau.”ceramah Jiyong sembari mengobati luka Zora dengan serius.

“Heh, jangan geer deh kamu. Anggap aja kita impas karna aku juga nolongin kamu. Jangan jadi pahlawan kesiangan deh kamu!”sahut Zora tanpa menatap Jiyong..

“Kenapa kamu bisa datang tiba-tiba. Jangan harap aku bakal ngucapin makasih sama kamu!”tambah Zora.

“Cewek angkuh!!asal kamu tau aja, aku lebih dulu disini tapi aku diam didalam mobil. Karna ada keributan makanya aku keluar dari mobil. So, kamu juga jangan geer”kilah Jiyong yang sebenarnya ia memang mengikuti Zora

“Yaaudah, makasiih yaa, kemarin udah datang ke ultah aku”sambung Jiyong.

“Gak usah bilang makasih deh.Kalau Woo Bin oppa gak ngebetalin janji aku juga gak akan datang ke ultah kamu”jawab Zora dengan nada angkuh. Ia tersenyum menyeringai menatap Jiyong dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu ia menarik tangannya yang telah selesai diobati.

Mereka sejenak membisu, membiarkan semilir angin yang berhembus perlahan mengisi pendengeran mereka. Mencoba mendengarkan bisikan angin yang menenangkan.

Entah kata apalagi yang akan Jiyong ucap untuk menjawab ucapan Zora. Ia telah kehabisan kata-kata untuk menghadapi yeoja itu.

“Sihir yang tak bisa ku tolak adalah darimu. Mata itu telah berhasil menghipnotisku. Aku membenci saat harus didekatmu tetapi aku menginginkan itu. Apa kamu tahu semua anggota tubuhku serasa kaku ketika dekat dengannmu. Seakan aliran darah terhenti. Kau membuat jantung ini berpacu kencang. Tatap matamu yang bagai busur panah itu telah melumpuhkan akal sehat ini dan menggoreskan sebuah rasa yang sesakkan dada. Tak tahukah dirimu kerongkonganku tercekat hingga tak mampu berucap ketika kau disampingku!!”bisik Jiyong dihatinya dalam kebisuan mereka. Yaa, dia memang menyukai Zora, sedari dulu. Namun sikap Zora itulah yang membuatnya sulit untuk mengungkapkannya dan justru ia menyangkal perasaannya. Dia juga tak mengerti mengapa menyukai yeoja aneh seperti itu, dia bahkan tak tertarik sedikitpun pada NaEun yang jauh lebih lembut daripada Zora.

“Itu apa di jidat kamu??”ujar Zora ketika ia melihat bercak darah dirambut Jiyong.

“Gak papa,cuma luka kecil doang”balas Jiyong cuek.

“Sini, aku obatin”kata Zora lalu menyingkap poni yang menutupi luka itu.

“Jangan sentuh, aku calon dokter.Aku bisa ngobatin luka ini sendiri!”

Jiyong pun segera berdiri dari duduknya kemudian melangkah meninggalkan Zora. Membiarkan pelipisnya dialiri darah segar karna luka akibat dr berkelahi tadi. Dia bukan Jet Lee atau Bruce Lee yang disetiap pertarungan selalu menang gemilang tanpa sebuah luka. Ia bukan manusia luar biasa. Ia bukan Superman atau Batman.

“Kamu mau kemana??”tanya Zora dengan nada lembut. Ia merasa bersalah pada Jiyong karna tak tahu terima kasih.

“Aku mau pulang. Kamu bisa kan pulang sendiri??”jawab Jiyong tanpa memalingkan wajahnya.

“Nyesel aku lembut sama kamu. Jutek amat jawaba nya. huh!!”gerutu Zora dihatinya.Ia diam tak menjawab.

Jiyong segera melanjutkan langkahnya dan menuju mobilnya.

“Tak sadarkah gejolak jiwa ini yang begitu hebat melanda diriku saat kau didekatmu. Akh,kurasa hatimu memang membeku hingga tak menyadari aku yang selalu ingin meminta perhatian darimu!!”gumam Jiyong dihatinya.

Ia sangat kecewa hari itu. Tak ada semangat utk mengusik Zora.

Ia pun menggas mobilnya dan melaju tanpa memperhatikan Zora. Padahal ia tahu Zora tak mungkin pulang dengan sepedanya. Jarak rumahnya terlalu jauh dari taman kota.

 

“Huh, cowok tak berperasaan.Tega sekali biarin aku sendiri disini!”ujar Zora selepas kepergian Jiyong.

Ia perlahan berjalan menuju sepedanya.

Ia merasa ada yang aneh dr sikap Jiyong, tak biasanya lelaki itu bersikap dingin padanya.

Aish, gimana aku pulang kalau kayak gini caranya!”

 

Ciiiiiittt…

Bunyi rem mobil berhenti mendadak didekatnya.

“Masuk!! sebelum aku berubah pikiran”perintah org dari dalam mobil itu.

“Jiyong, ngapain dia balik lagi”gumam Zora dihatinya.

“Cepetan masuk, gak bakal ada taksi yang lewat sini!”

Namun Zora tetap cuek. Ia membuang pandangannya kembali.

“Masuk!!”bentak Jiyong.

Aish“balas Zora kesal tapi ia menuruti perintah Jiyong.

Ia duduk dibelakang dan membanting pintu mobil Jiyong dengan keras.

“Nanti orangku yang nganterin sepeda kamu”

Kata Jiyong seakan mengerti pikiran Zora yang terus memandang sepedanya.

“Kamu gak marah??”

“Untuk apa??”jawab Jiyong singkat.

“Yaa, akukan banting pintu mobil kamu dan duduk dibelakang”

“Picik banged pikiranmu. Aku punya banyak mobil buat gonti ganti. Ngapain aku takut rusak. Dan aku juga ngarep kamu duduk dibelakang biar orang ngira kamu bukan pacar aku. Lagian mana mungkin orang ngira aku sopir, mana ada sopir seganteng aku. heh!”jawab Jiyong penuh percaya diri.

“Huh, terserah deh!”sahut Zora, kini ia kembali jutek.

 

Mobil melaju seiring pergantian detik kemenit. Meniti waktu yang terus berjalan.

Sekitar tiga puluh menit mereka pun sampai dirumah Zora.

“Gak ada kata terima kasih buat kamu! Karna kamu penyebab aku di gangguin sama cowok-cowok itu. Karna pesta konyol kamu!”ucap Zora setelah keluar dari mobil Jiyong.

Seperti tadi, Jiyong hanya diam menanggapinya lalu tersenyum kecut sembari menggas mobilnya dan melaju tanpa sepatah katapun.

TBC

**Note :

– NATO : No Action Talk Only

1. Menjauhlah dari hadapanku.

 

Kim MysHwa

3 thoughts on “Watashi no ai de anata ga daisuki nano yo (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s