I am Me, Don’t Judge Me!!

 

IamMe

Author : Kim MysHwa

Genre : Romance, Sad

Cast : Kwon Jiyong, Sandara, Hee Kyo.

Length : Oneshot.

Disclaimer : Mine is mine.

 

 Ini hanya cerita fiksi, jangan di sangkut pautkan dengan kenyataan, hanyalah imajinasi saya.

So, happy reading.🙂

 

 

 

Namaku Kwon Jiyong, aku kuliah di Universitas Seoul jurusan kedokteran. Kata orang wajahku sangat tampan terlebih tubuhku yang kekar dengan tinggi 180cm menambah auraku untuk memikat hati para wanita.

Siapa yang tak mengenalku??

Sebutkan saja ciri-ciriku, pasti orang akan langsung menyebut nama ku “Ohh, itu Jiyong .Cowok pentolan dikampus ini”seperti itulah biasanya komentar orang.

Selain itu aku juga aktif dikegiatan kampus atas diluar kampus dan ini menambah kepopuleranku.

 

Dan inilah kisahku.

 

 Aku seorang pemburu cinta tapi bukanlah pemain cinta karna aku tak pernah berpacaran dan mempermainkan cinta.

Aku hanya menjalani hubungan tanpa status atau istilahnya “pedekate” dengan wanita yang pernah kusukai. Dan tak pernah ada yang namanya pengorbanan dalam hal ini. Aku akan meninggalkan mereka jika aku sudah bosan. Toh,kami tak mempunyai ikatan dan aku juga tak suka diikat.

Kejamkah aku??

Hmm,kurasa tidak! karna dari awal sudah kutegaskan jika mereka tak bisa membuatku jatuh cinta. Maka maaf, tak ada cara lain selain meninggalkan mereka.

Inilah yang mencoreng nama baikku,aku dituduh sebagai “pemain cinta”. Sungguh kejamnya, padahal aku tak pernah sama sekali merasakan cinta,lalu bagaimana aku bisa mempermainkannya?

Bukankah cinta itu harus dihargai dan dihormati??

 

“Ciiiiiiittt”mendadak aku menginjak rem mobilku ketika sesosok wanita melintas di depanku dan hampir saja kutabrak. Ia sepertinya juga terlihat syok hingga menjatuhkan buku-buku di pelukannya.

“Huh! udah tau di parkiran tetap aja ada yang nyebrang!”gerutuku kesal. Lalu aku keluar dari mobil untuk memeriksa keadaannya.

Tapi tiba-tiba aku terpana ketika melihat wanita tadi, rambut hitam berkilau yang tergerai ikal mayang sepinggang, bola matanya yang berpendar serta hidungnya yang bangir di padukan dengan bibir tipis yang merah tanpa lipstik. Sungguh keindahan wanita, keelokannya seakan mampu membungkam mulutku untuk berkata-kata, ia mampu menghipnotisku pada pandangan pertama.

Oh Tuhan, apa ini?

Mengapa aku berdebar-debar, jantungku berpacu tak menentu dan semakin cepat.

 

Aku terdiam, termangu sejenak memperhatikan pesona wanita di depanku ini. Memandang wajahnya hingga tak kedip mataku. Mengaguminya bak tujuh keajaiban dunia. Seketika dingin menyerang di sekujur tubuhku.

 

 “Emm, kamu gak apa-apa kan?”ucapku memastikan dia tak lecet sedikit pun. Akhirnya aku bisa bersuara setelah sekian menit tadi mematung,terdiam hanya bisa diam.

 “Hah!apa-apaan ini. Mengapa aku bersikap selembut ini padanya, padahal tadi aku ingin marah. Apa yang terjadi padaku??”batinku.

“Gak apa-apa”jawabnya singkat dan terdengar jutek. Mungkin,ia kesal gara-gara aku hanya membiarkannya memungut buku-buku yang berserekan karna ia jatuhkan tadi. Bukan tak ada niatku untuk menolong hanya saja aku takut jika aku salah tingkah di depannya dan ini juga bukan seperti di sebuah film atau sinetron yang bila aku membantunya lalu tak sengaja tangan kami bersentuhan karna mengambil sebuah buku yang sama. Ahk,itu sangat tidak mungkin!

“Gak ada niat minta maaf!”ujarnya jutek. Aku hanya tetap diam berdiri menatapinya.

“Apa perlu?”

“Menurutmu?”ia berdiri setelah selesai merapikan bukunya lalu menatapku sinis.

“Iyaa deh, maap yaa aku gak sengaja”kataku melas sembari memohon.

“Gitu dong, lain kali kalau nyetir harus konsen”nasehatnya ramah, aku hanya menyunggingkan sebuah senyum padanya.

Ahk,laku agungnya semakin membuat aku tersihir olehnya.

 

“Mahasiswi baru?”tanyaku mengalihkan pembicaraan,mencoba lebih akrab dengannya.

 “Hmm,semester dua kok Jiyong oppa“jawabnya seraya tersenyum manis.

Ah~, hari ini aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi padaku. Mengapa darahku berdesir ketika ia menyebut namaku. Padahal sudah biasa jika orang yang tak kukenal mengetahui namaku.

“Kok aku belum pernah lihat kamu yaa dan dimana kamu tahu namaku??”tanyaku berbasa-basi padahal aku sudah tahu apa jawaban dia.

“Yaiyalah, aku kan gak terkenal. Bukan seperti kamu, artis papan atas dikampus ini”jawabnya, membuat aku seakan melayang kelangit ketujuh.

 

Yaa, aku tahu itu pasti yang akan ia ucap.

“Ahk, enggak juga”sahutku merendah disertai senyum dan kuharap ia juga bisa terpikat dengan pesonaku, seperti kebanyakan wanita lain. Tapi kurasa ada yang berbeda dari dia hingga mampu membuatku seperti ini.

 

“Jiyong-ya! ngapain kamu ngobrol sama orang itu!”bentak suara seorang yeoja. Dari suaranya aku sudah bisa mengenalinya. Dia Hee Kyo, wanita yang jadi korban ketampanan pesonaku. Dia adalah yeoja yang kesekian yang harus mereguk pahitnya patah hati. Karna aku sudah mendapatkan incaran baru, yaitu yeoja yang baru kutemui ini, yang entah siapa namanya. Namun percakapan yang mulai akrab ini harus terhenti karna olah nenek sihir yang tiba-tiba datang ini.

“Kenapa, apa urusannya sama kamu?”ujarku kesal. Aku sudah bosen dengannya yang selalu mengaturku ,yang selalu mau tahu urusanku.

“Hii, kau siapa aku?”ingin sekali aku membentaknya seperti itu tapi entahlah,aku tak tega mempermalukan dia didepan umum seperti ini. Dia bertindak seakan-akan menjadi kekasihku.

“Kok jutek banged sih?”kata Hee Kyo manja kemudian merengkuh tangan kekarku.

“Lagian, kenapa sih mendekatiku lagi?”tanyaku polos seakan tak berdosa, sementara wanita tadi telah pergi tak tahu rimbanya ketika melihat Hee Kyo datang marah-marah.

 “Kamu berubah! mengapa cuek begini. Kita tak pernah putuskan?”ujar Hee Kyo dengan emosinya yang mulai tersulut karna sikapku.

“Iyaa, kita tak pernah putus karna kita tak pernah pacaran. Kapan sih aku bilang cinta sama kamu?”jawabku setengah berbisik sembari tersenyum mengeringai. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca. Tapi inilah aku, memang terlihat tega tapi justru akulah yang dirugikan karna harus meladeni wanita-wanita yang mencintaiku. Aku harus membuang-buang waktu untuk bersama mereka.

“Tapi kamu pernah bilang suka kan sama aku, kamu juga selalu menuruti maunya aku”katanya bersikeras.

“Hii, suka tak berarti cinta kan? maka dari itu, aku sudah lelah nurutin maunya kamu”bantahku dengan sedikit bentakan yang ternyata membuat airmatanya merembas deras dari sudut-sudut matanya.

 

“Hee Kyo, mian. Sudahlah, percuma kamu buang-buang airmata kamu karna aku takkan bisa bersikap sebaik dulu sama kamu”ujarku seraya memegang lembut pundaknya agar tangisnya berhenti. Tak tahu lagi apa yang aku lakukan agar tangisnya terhenti. Inilah kelemahanku, tak bisa melihat wanita menangis. Tapi sialnya,wanita-wanita yang kujauhi selalu datang dengan tangis padaku.

Aku sangat sadar bahwa sikapku ini terlalu kasar pada Hee Kyo, tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar lelah dan muak dengan sikapnya.

“Memang benar, kamu itu pemain cinta. Nyesel aku jatuh cinta sama kamu”ujarnya dengan nada meninggi. Caci maki telah memburamkan cintanya. Tapi terserah, silahkan saja orang menilaiku.Toh, dia juga salah besar karna aku tak pernah sedikit pun menyatakan cinta padanya. Lalu ia berlalu meninggalkanku bersama luka yang baru saja tertoreh.

Hee Kyo, gadis manis yang sebulan ini bersamaku. Anak semester dua yang tak mengetahui banyak tentangku.

Tapi sekali lagi, aku bukanlah pemain cinta tapi akulah pemburu cinta yang ingin mendapatkan cinta sejati untuk menyempurnakan hidupku.

 

##||##

  “Yaa begitulah, aku orangnya gak gaul. Lebih suka diam dirumah”jawabnya ramah ketika kutanya tentang hobbi nya, tak seperti kebanyakan wanita lain yang lebih suka menghabiskan waktunya untuk shoping. Seperti perkiraanku, dia memang berbeda dari wanita lain.

Caci maki dari orang-orang yang menyukaiku dan berbagai nasehat dari teman- teman Sandara, telah ia terima. Dia tak memperdulikan itu, tetap saja dia mau berteman denganku. Setiap hari dikampus kami selalu berdua, layaknya orang yang pacaran.

 

Sebulan sudah kedekatan kami sejak pertemuan itu. Sandara, nama gadis jelita itu. Percakapan kami sudah menjurus ke hal-hal pribadi, seperti pertanyaanku tadi tentang kesukaannya. Dan entah mengapa jantungku selalu berdebar tak sewajar biasa bila didekatnya.

Inikah surga cinta yang banyak orang pertanyakan?? atau hanya mimpi yang tiada berakhir jua?

Dia kah orang yang kucari selama ini?dia kah cinta sempurnaku??

 

Yaa, aku jatuh cinta saat pandangan kami menyatu. Panah asmara telah menghujam jiwaku.

Ingin sekali aku nyatakan cinta ini, tapi mengapa saat aku ingin mengucapnya kerongkonganku serasa tercekat, suaraku tertahan jika ingin menyatakan perasaan yang membuat aku gusar. Terbukti, bahwa aku bukanlah pemain cinta, karna bagaimana aku bisa mempermainkan cinta itu jika ternyata untuk mengungkapnya saja sungguh sulit bagiku. Tak semudah mengatakan kata “suka” seperti biasa aku ucapkan pada wanita yang kusukai.

 

##||##

Aku terperanjat ketika didepan rumah Sandara,aku melihat sebuah pemandangan yang ironis. Aku kesini hanya untuk menepati janjiku untuk mengajaknya dinner sekaligus nonton tapi yang kudapati dia bermesraan dengan pria lain didepan pagar rumahnya. Lelaki itu memeluknya lalu mencium pipi lembut Sandara sebelum akhirnya pergi. Aku hanya berdiam diri dimobil memperhatikan aksi mereka.

 

Sungguh, hancur luluh rasa ini melihat mereka, sirna bayang indah bersamanya. Cemburu tak kesudahan membuatku hilang ingatan pikiranku ingin membunuhnya, yaa.. namja itu. Ahk, tapi tak mungkin karna aku manusia yang masih mempunyai akal sehat.Yang kurasa hanya perih dan sakit di ulu hati ini, sebuah luka tanpa darah telah tergores dipalung jiwa ini. Mengapa bodohnya aku yang tak bertanya sejak awal apakah dia sudah mempunyai kekasih??

“Sandara…”ucapku dengan suara parau, dia tersentak melihat kedatanganku. Langkahnya terhenti yang akan memasuki pagar rumahnya.

“Sungguh naif, kau beriku sepercik harapan ternyata kau telah berdua dengannya!”lanjutku disertai senyum sinis.

 

“Kenapa?? apa kau cemburu?”tanyanya tanpa rasa bersalah.

“Yaa, aku sakit melihat kalian!”jawabku tegas agar tetap terlihat tegar didepannya. Agar ia tak tahu seberapa dalam luka yang ia toreh. Disaat aku jatuh cinta ternyata wanita itu telah memiliki pujaan hati. Tapi ini bukanlah karma akibat perbuatanku pada wanita lain, seperti yang mereka hujatkan padaku bahwa aku akan mendapatkan karma dari perbuatanku.

“Hii, karma itu tak ada yang ada hanya balasan dari perbuatan kita”gumamku dihati ,meyakinkan.

“Apa kau merasa sakit hati?”katanya lagi dengan nada sendu. Entah mengapa suaranya jadi berubah seperti itu.

“Iyaa”jawabku singkat.

PLAAK..sebuah tamparan mendarat dipipiku.

 

Naas, cinta ini belum terucap tapi aku sudah merasakan sakit, bukan karna tamparan dan perbuatannya tapi memang semua karna kebodohanku.

“Itulah yang Gain rasakan karna perbuatanmu! ia kehilangan semangat hidup gara-gara kau campakan!”lanjutnya seraya tersedu, ia menangis entah mengapa padahal aku yang tersakiti.

“Gain??”ujarku heran. Yaa, aku masih mengingatnya, dia wanita yang tiga bulan lalu aku tinggalkan.

“Gain sahabatku, kamu sangat benar waktu pertama kita bertemu. Yaa, aku memang mahasiswi baru. Aku sengaja pindah kuliah demi membalas semua perbuatanmu, agar kau merasakan apa yang Gain rasakan! aku sengaja menarik perhatianmu”tuturnya panjang lebar, aku hanya membisu. Aku mengerti, semua ini telah ia rencanakan. Sebuah rencana yang bodoh! Dia menyuruhku datang kerumahnya untuk mempertontonkan kemesraannya, tapi sayang aku bukan remaja belasan tahun, aku tahu lelaki itu bukan pacarnya.

“Tapi kamu terjebak kan??semakin kamu mengenalku,hatimu tertawan olehku kan??”ujarku mantap seraya menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

Walau ia tak mengatakannya tapi matanya menceritakan segalanya tentang perasaannya.Mengapa ia harus menangis??

Seharusnya dia terbahak karna menang berhasil membuat aku benar-benar jatuh cinta padanya,tapi ia menangis karna merasa kalah telah terperangkap dalam permainannya sendiri. 

 

“Hii, dia itu pacarku! mana mungkin aku jatuh sama pemain cinta macam kamu!”sanggahnya, baru kudengar ia berkata-kata seperti ini. Tapi peduli apa, aku sudah terlanjur mencintainya!

“Bohong! lelaki itu cuma temanmu kan?Sudahlah, jangan lagi kau sembunyikan rasa cinta itu”

“Sekarang kau pergi saja dan nikmati pedih luka itu sendiri”

Apa dia pikir aku akan menyerah? tidak! aku akan buat dia mengakui perasaannya karna aku terlahir kedunia sebagai pemburu cinta. Takkan ada kata menyerah sebelum aku bisa mendapatkan cinta yang selama ini kucari.

“Cinta bukan hanya untuk dipermainkan, cinta harus dihargai dan dihormati. Jangan coba menampiknya atau menghujatnya. Biarkan mengalir indah bagai nikmat dunia. Jangan mencoba membunuhnya!”ujarku memperingatkan sebelum akhirnya aku meninggalkan penguasa hatiku itu. Ia hanya terdiam.

 

 ##||##

Seminggu sudah, aku kehilangan kontak dengannya walau ia masih kuliah dikampusku tapi aku tak pernah melihatnya, teman-temannya pun tak mau memberitahu padaku. Mungkin dia sengaja menghindariku. Atau dia memang tak masuk kuliah.

“Sandara, tunggu!”seru suara seorang yeoja, akupun mencari arah suara itu dan aku bisa melihat seorang gadis manis berparas jelita diseberang sana. Akhirnya aku bisa melihat pesona cintaku yang sempat hilang itu. Aku merindukannya, sangat.

Wanita itu pun bermaksud menyusul Sandara diseberang sana yang mencegat taksi.

 

“Biar aku aja yang kesana”sahut Sandara, mungkin ia tak melihat keberadaanku, makanya ia bersedia menyusul temannya, padahal tak berapa jauh dari temannya itu aku memperhatikan mereka.

Sandara pun melangkah menyebrang jalan dengan kaki mungilnya.

“Awasss!!”seru temannya itu kepada Sandara ketika sebuah pengendara motor sport melaju mengarah padanya.Namun aku ada disana, aku tak membiarkan itu, aku menghalangi motor itu, otomatis menabrak tubuhku. Karna tubuhku tak terbuat dari besi akupun terpental hingga kepembatas jalan. Penglihatanku buram dan semakin buram, kurasakan tubuhku dingin, ada sesuatu mengalir dari kepalaku dan aku tak bisa melihat lagi semuanya gelap!

Tapi aku masih bisa mendengar suara-suara disekitarku.

 

“Jiyong-ya, bangun!! kamu benar Ji, aku juga mencintaimu maka dari itu aku menangis. Bangun Ji, jangan tinggalin aku!”aku bisa mendengar suara itu dengan jelas, Sandara mengatakannya seraya terisak. Ia menggoyangkan-goyangkan tubuhku tapi aku sudah merasa nyaman seperti ini. Roh ku pun meregang dari ragaku, aku merasa tenang dan damai. Serasa tubuh ini terbang ditaman surga yang indah damai.

Aku telah mendapatkan pernyataan dari Sandara. Kulihat ia terus menangisi jasadku itu. Ia menyesal.

Dan aku tak pernah menyesal jatuh cinta, bukankah cinta anugerah terindah dari yang Kuasa???

Dan aku tak pernah menyesali mengorbankan nyawaku untuknya, sebuah penyelamatan yang baik. Sandara tak lecet sedikitpun.

 

Dan jangan pernah mengingkari cinta itu jika tak ingin menyesal bila nanti kalian benar-benar kehilangan orang yang sangat kalian cinta. Sungguh suatu kebodohan jika itu terjadi.

 

END

 

Kim MysHwa

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s