Because He Is A Man

 

BecauseHeIs

Tittle : Because He Is A Man

Author : Kim MysHwa

Cast : Ji Young, Lee Hyun

Length : Oneshoot

Ini cerita dadakan hasil stress, gak yakin feel nya dapat.kkkk..😦

 

 

 

“Apakah  sudah cukup  kecemburuanmu?? Kau ini selalu begitu, dia  cuma temanku oppa. Berhentilah mengoceh ! “ ujarku  dengan nada tinggi, namun tiba-tiba pandangannya berubah menjadi dingin yang tadinya memandangku geram karna ia cemburu pada Joon yang merupakan teman kampus ku.

“Kau…”ucapannya terhenti, menggantung begitu saja.

“Yaa, aku kenapa  Ji Young oppa? “

“Bukan kau tapi aku” ucapnya.

“ Yaa, kalau begitu ada apa denganmu?” ketusku.

“ Kau sudah tahu itu, aku bad boy. Tak pantas untukmu. Mungkin Joon sepadan untukmu“  ujarnya seakan tanpa bersalah.

“ Dan aku bad girl karna menjadikanmu namjachingu ku, bukankah kita cocok? “Jawabku santai, pertengkaran kecil seperti ini hampir terjadi setiap hari, lagi-lagi hanya karna kecemburuannya tapi entah kenapa aku tak merasa terganggu akan hal ini, yaa begitulah mungkin yang di katakan orang bahwa cinta itu bodoh.

“  Kita itu jauh berbeda, sekali lagi  kujelaskan, aku mungkin saja akan terus seperti ini selalu protektif dan kasar padamu ,apa kau sama sekali tak ingin merasakan bagaimana berpacaran dengan pria romantis seperti  Joon misalnya” lagi-lagi ia menyebut nama Joon.

Arayo, Na gweanchanha” jawabku dengan santai. Ia kembali terdiam.

“Ayo kita pulang” ucapku lagi menyuruhnya untuk mengemudikan mobil.

##**##

“Hyun-ya”  ia memanggilku dengan suara gemetar, aku memalingkan wajahku. Tak menghiraukannya.

Mianhae” ia mengulang kata-kata itu lagi, kata-kata yang sering kudengar. Lama-lama mungkin aku akan muak mendengarnya.

“Hyun-ya, kau yang bilang padaku kau tak apa-apa  dengan sikap pemarahku ini, tapi kenapa kau seperti ini ??”

“Kupikir dengan aku bicara seperti itu kau akan berubah” ujarku beralasan.

“Aku ingin menjadi baik untukmu, tetapi ini sulit” ia menjelaskan.

“Maaf, mungkin karna aku terlalu mencintaimu, aku takut kau meninggalkanku” ia mengungkapkan alasannya, alasan yang sama seperti kemarin-kemarin.

“Cinta?? Dengan alasan itu kau melakukannya. Apakah seperti itu?? Kau benar mencintaiku?? Jiyong-ya, geumanhae. Bisa-bisa kau nanti membunuh Joon dengan alasan cintatandasku, mencoba mengembalikan akal sehatnya.

“Yaa, kau benar, maap orang yang mencintaimu adalah lelaki jahat. Tinggalkan saja aku, semakin waktu berlalu semakin kau mengenalku hanya kekecewaan yang tersisa” ia mengatakan itu tanpa menatapku, pandangannya jauh kedepan. Memperhatikan deru ombak di laut yang biru. Aku memintanya untuk kesini, ditempat biasa kami bertemu jika bertengkar. Hempasan ombak dan terpaan angin akan membiaskan suara yang keras dari kami, karna itu aku menyukai tempat ini.

“Jiyong-ya, apa kau sadar perbuatanmu?? Joon masuk rumah sakit karna kau pukuli, hanya karna kami makan siang bersama dan pergi keperpustakaan bersama?? Apa itu masuk akal?” tanyaku, lagi-lagi hanya untuk mengembalikan akal sehatnya.

“Kau bisa dipenjara kalau ia menuntutmu, dia menghargaimu karna kau adalah pacarku, ia tak ingin aku bersedih karna kekasihnya masuk penjara untuk alasan konyol itu. Apa kau ingin aku menangis karnamu??heh!” kataku dengan sedikit ancaman, aku memang bisa memaklumi sifatnya tapi aku tak bisa membiarkannya terus seperti itu karna hanya akan membahayakan dirinya sendiri.

“Tidak, aku tak ingin seperti itu” jawabnya lemah, dari sauranya terdengar ia sangat menyesal.

“Sebaiknya kau renungkan itu, untuk sementara jangan temui aku” ucapku agar ia memahami kesalahannya dan bisa memperbaikinya.

“Tidak, kita tak bisa seperti ini, jangan menggantungku. Aku lelaki, aku ingin kepastian. Aku bertanya apa kau tidak akan cemburu melihatku dengan gadis lain?? Kami makan bersama dan pergi bersama, apa kau tidak akan cemburu?? Karna aku lelaki aku melakukan itu pada Joon” Jiyong mengelak, ia menjelaskan alasan sesungguhnya, pertanyaan darinya membuatku terdiam.

“Apa jawabanmu??”

“Aku tidak akan cemburu karna kalian teman, aku tidak masalah asal jangan melakukan yang lebih” aku menjawab dengan bijak. Aku tak pernah merasakan cemburu padanya selama ini karna ia selalu menjaga perasaanku, jadi aku tak tahu harus menjawab bagaimana. Aku baru menyadari, ternyata aku yang telah bertingkah seperti tak bersalah ternyata akulah yang tak menjaga sikapku. Aku terdiam setelah menjawabnya, dia tersenyum kecut kearahku. Seperti senyum kemenangan, ia telah berhasil membuatku kalah.

“Coba kau berpikir diposisiku, haruskah aku tersenyum melihatmu dengannya?? Maap aku tak bisa, aku marah jadi apa karna itu aku terlihat bodoh didepanmu?? Kau tahu Joon menyukaimu, dia mengatakan itu padaku, karna aku lelaki aku memukulnya, dia melawanku dan aku membalas. Hanya karna aku lebih hebat darinya dalam berkelahi kau memarahiku, apa kau tak memikirkan aku??” Tuturnya yang tiba-tiba berceloteh sangat panjang, bukan dia seperti biasanya yang diam dan mengakui kesalahannya.

“Jiyong-ya..” seruku pelan, aku mengerti sekarang, aku memang salah. Pikiranku terlalu kekanakan-kanakan.

“Kau tahukan aku periang, maka dari itu aku  dekat dengan Joon, tapi benar aku tak mempunyai rasa padanya” jelasku meyakinkannya, dia benar selama ini aku hanya berpikir egois, aku tak pernah berpikir diposisinya. Dia memang protektif tapi dia tak pernah sampai memukuli orang seperti itu, dia memang kasar tapi itu hanya kata-katanya, hanya dia tak bisa untuk berkata-kata romantis.

“Maaf, aku salah” kataku lagi mengakui kesalahanku dengan wajah tertunduk.

Ia memegang tanganku dengan tangan kanannya, seakan memberi isyarat bahwa itu tak apa-apa, bahwa ia memaafkanku.

“Makanya dengerin kata-kataku, jaga sikapmu jangan buat aku cemburu!!” ujarnya dengan senyum ringan sembari menjetikkan tangan kirinya ke keningku.

“Aish, Jinja!!” erangku, padahal itu tak sakit sama sekali.

“Yaak! Kembalikan topiku!”perintahnya ketika aku mengambil topinya dan membawa lari.

“Yaak!! Apa kau tak dengar!!” serunya lagi, tapi aku tak peduli aku terus membawa topi warna merahnya itu.  Kami tertawa lepas, kesalahaman pahaman itu telah menghilang karna sifat terbuka dari kami.

Aku mengerti sekarang kenapa dia bersikap seperti itu, because he is a man.

 FIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s