IDOL MAID (Take 6)

 

IM6

Title : Idol Maid

Leght : Chapter

Rate : M

Casts :

Kwon Jaejin

Yong Junhyung

Lee Gikwang

Gendre : Comedy romance

Author : ssha

 

 

Jaejin mengayuh sepedanya dengan cepat, ia kini telah melaju cukup jauh meninggalkan Gikwang. Tiba-tiba, Jaejin menghentikan sepedanya. Ia terdiam, terdiam dalam rasa yang entah kenapa ia merasa benci untuk ia rasakan saat ini. Jaejin kemudian memegang dadanya yang terasa sangat sesak untuk bernapas, ia menangis tersedu-sedu.

Dilain tempat, Gikwang terdiam dalam kegelapan yang menyelimuti malam hari di Seoul. Masih teringat dengan jelas bagaimana tatapan menghindar yang Jaejin tunjukkan padanya.

IDOL MAID

TAKE 6

“Aku rasa ia ingin mengundurkan diri? Hash…!! Sudah kuperingatkan padanya untuk lebih bersabar” maneger segera menutup mulutnya begitu Junhyung menatapnya begitu tajam.

“Aku hanya bercanda!”

“Kau tahu dimana ia sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

“Hash… sudah 3 hari ia tidak masuk kerja. Apa ia tidak ingin aku gaji” Junhyung mengendus kesal.

Mwo?

“Kenapa?”

“Tidak” sanggah maneger Hong cepat.

“Berikan kunci mobilmu!” Junhyung menyodorkan telapak tangannya.

“Kau kan punya mobil sendiri”

“Cepat berikan!” desak Junhyung. “Aku hanya ingin melihat bagaimana bentuknya”

“Ahahaha… benarkah? Aku kira kau meminjam mobiku” Maneger Hong memberikan kunci mobil pada Junhyung dengan ceria. Junhyung menerima kunci mobil kemudian tersenyum.

“Tetaplah disini! Aku akan pergi! Bye…!” Junhyung menepuk bahu Maneger Hong kemudian beranjak meninggalkan ruang tamu dan membiarkan maneger Hong seorang diri yang masih terdiam kebingungan.

“K-kau…” manager Hong masih berfikir.

Beberapa detik kemudian ia tersadar, Junhyung meminjam mobilnya secara paksa. Maneger Hong segera membalikkan badannya.

“Kau mau bawa mobilku kemana? Jangan bilang jika mobilmu kehabisan bensin.” Junhyung hanya mengacuhkan maneger Hong yang meneriaki kepergiannya.

Junhyung-ah! Jangan gunakan mobilku untuk mencarinya! Kau dengar aku tidak?” teriak maneger Hong menyeruak seisi ruangan ketika Junhyung menutup pintu rumahnya dengan dingin.

***

Sekitar daerah Gangnam, Junhyung yang mengemudi dengan cemas dan masih memikirkan Jaejin yang menghilang bagai ditelan bumi. Terkadang ia terlihat sangat resah ketika ia mengingat ucapan maneger Hong tentang keadaan Jaejin yang dikatakan ‘sakit’.

Sedetik kemudian fikiran Junhyung terbesit begitu ia mengingat malam dimana Jaejin berciuman bersama seorang pria. Entah kenapa, hatinya merasa sedikit bergejolak hebat begitu melihat keduanya bercumbu didepan matanya sendiri.

CITTT….!!!! Junhyung menepikkan mobilnya begitu ia sampai didepan rumah Jaejin. Junhyung melirik sesaat keadaan rumah Jaejin yang nampak begitu sepi tak berpenghuni. Junhyung kini melepas sabuk pengamaannya, dan saat ia melihat kedepan, seorang pria sedang berjalan kearah rumah Jaejin.

Lee Gikwang, orang yang kini tengah dicurigai kedatangannya oleh Junhyung, sama-sama mengawasi Junhyung dari kejauhan. Gikwang tersadar begitu ia melihat mobil sedang putih yang mengantar Jaejin pulang malam itu. Amarah kembali memuncak saat ia melihat Junhyung keluar dari mobil.

Keduanya saling tatap mencurigai, Gikwang tidak dapat melihat wajah Junhyung dengan jelas karena menutupi matanya dengan kacamata hitam. Gikwang memilih mengacuhkannya dan kembali melangkahkan kakinya memasuki rumah Jaejin.

Junhyung panik begitu Gikwang melangkah dengan tenang tanpa memperdulikannya sama sekali. Junhyung mengekor secara diam-diam dibelakang Gikwang yang berjalan dengan santai. Begitu Gikwang akan membuka pintu rumah, dengan cepat Junhyung menarik tangan Gikwang. Gikwang terkejut melihat perilaku Junhyung.

“Siapa kau?” tanyanya menyelidik pada Junhyung yang berusaha membuang muka darinya. Junhyung diam dan mengacuhkan Gikwang.

“Kau tidak punya telingga? Heh, tampilanmu begitu aneh!” cercanya. Junhyung terkejut mendengar cacian Gikwang padanya. Ia kembali menahan tangan Gikwang saat ia kembali membuka pintu. Namun, kali ini Junhyung memutar badan Gikwang secara paksa membuat Gikwang menatapnya sedikit kesal.

“Ya kau!!!” bentak Gikwang kesal.

“Untuk apa kau kesini?”

“Apa itu penting untukmu mengetahui kemana aku pergi?”

“Menyingkirlah dari hadapanku!” Junhyung menatap Gikwang kesal. Ia kemudian mendorong tubuh Gikwang dan berjalan mendekati pintu.

Dari arah belakang, Gikwang menatapnya sinis, butuh beberapa detik baginya untuk membuat perasaannya menjadi sedikit lebih tenang menghadapi orang macam dia.

“Jaejin… buka pintunya” Junhyung mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam.

“Jaejin! Kau disana kan?” Junhyung mengintip dari balik jendela begitu kesabarannya habis.

“Sebenarnya siapa kau?” tanya Gikwang. Junhyung terdiam begitu mendengar suara Gikwang yang terdengar sinis.

“Heh…” Junhyung membalikkan badannya dan tersenyum meremehkan.

“Kau tidak mengetahuiku?”

“Apa yang kau lakukan saat kau bersamanya?” Junhyung menahan tangannya saat ia akan melepas kacamata. Ia terkejut mendengar pertanyaan Gikwang.

“Maksudmu?”

“Kau mengantar Jaejin pulang selarut itu? Tidak ada yang kalian lakukan kan?”

“Kau…!”

“Entah apa yang telah kau lakukan bersamanya, tapi sepertinya kau membuat Jaejin sedikit berubah” ucap Gikwang ketus. Junhyung mulai geram mendengar tuduhan Gikwang.

“Bisakah kau menjaga mulutmu?!”

“Menjauhlah darinya dan enyah dari kehidupannya”

BUG!!! Dengan cepat Gikwang memukul wajah Junhyung dengan bogem mentahnya. Junhyung terjatuh dan tersungkur ketanah. Ia melepaskan kacamatanya dan menyeringai begitu ia memegangi sudut bibirnya yang terasa memanas. Gikwang berjalan mendekati Junhyung yang mengendus menahan sakit.

“Seberapa dekat hubungan kalian hingga kau merubah sikap Jaejin?”

“Tutup mulutmu itu!”

“Aku rasa kau belum cukup mengerti dengan pertanyaanku”

Junhyung perlahan bangkit dan menatap Gikwang dengan sinis. Kali ini ia berjalan mendekatinya. Gikwang menatapnya kesal. Dan kali ini…

BUG…!!! Giliran Junhyung yang meninju wajah Gikwang dengan mulus. Gikwang tersungkur ketanah. Gikwang kemudian memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah segar. Junhyung rupanya masih merasa kesal, ia mendekati Gikwang dan berdiri diantara tubuhnya yang masih terbaring ditanah. Junhyung sedikit berjongkok, ia menarik kerah baju Gikwang.

“Apa kau melakukan dengan puas? Kau membuatnya menangis dan membuatnya begitu kecewa. Lantas siapa yang harus disalahkan sekarang. Eoh?” bisik Junhyung ditelingga Gikwang.

Gikwang tidak menjawabnya dan masih menahan sakit pukulan Junhyung. Junhyung menatapnya kemudian tersenyum. “Seharusnya kau yang ku habisi…!!!” teriaknya kesal, Junhyung kembali mengarahkan kepalan tangannya diudara dan bersiap memukul wajah Gikwang. Namun, sebelum itu terjadi…

“Apa yang kalian lakukan disini?” mereka berdua terkejut kemudian menengok kesumber suara. Jaejin, yang kini menatap mereka kesal.

***

BUG! Jaejin menyimpan kotak P3K diatas meja dengan kesal. Ia kemudian duduk dengan kesal dihadapan dua orang bodoh yang telah saling memukul satu sama lain.

“Kalian obati saja wajah kalian masing-masing! Tidak mungkin jika aku yang lakukan itu secara bergantian” Jaejin masih nampak kesal. Ia menyilangkan tangannya didada. Gikwang dan Junhyung mengambil perban dan obat merah bersamaan seraya masih menahan sakit satu sama lain.

“Untung saja ibuku tidak disini! Jika saja ia yang melihatnya dan bukan aku, mungkin kalian semua sudah ia kirim ke planet mars!”

Junhyung dan Gikwang menatap Jaejin ketakutan. Keduanya kemudian mengobati luka masing-masing.

Aish… bibirku…” rengek Junhyung dan Gikwang bersamaan. Jaejin mengendus kesal melihat tingkah 2 orang aneh ini.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kalian rebut layangan hingga saling melukai satu sama lain?”

“Dia yang memukulku duluan” tunjuk Junhyung pada Gikwang.

“Apa?!? Aku melakukannya karena aku muak melihat mukanya”

“Aku juga muak melihatmu. Pertama kali melihat wajahmu aku sudah bersumpah pada diriku sendiri jika ini pertemuan yang terakhir bagiku untuk berhadapan dengan orang sepertimu”

“Apa?!?” pekik Gikwang tak percaya.

“Mukamu aneh. Warna rambutmu juga nampak begitu sangat lucu. Pakaianmu seperti alien, cara berjalanmu aneh, suaramu terdengar seperti kaset rusak! Lalu… siapa yang pantas merasa lebih muak!!!” hina Gikwang. Junhyung langsung menutup mulutnya kemudian melihat penampilannya sendiri. Tidak.. tidak begitu parah. Kecuali, kecuali warna rambutnya yang terlihat sedikit aneh.

Aish… Kenapa kau begitu cerewet? Apa kau tidak mengerti mode?”

Aku tahu! Aku mengerti itu! Aku selalu belajar itu dari Hyunseung! Dia lebih baik darimu” jawab Gikwang songong.

“Siapa Hyungseung?”

“Dia tetanggaku”

“Bisakah kau kenalkan ia padaku?” Gikwang melirik Junhyung yang kini nampak begitu lembut padanya.

“Sebelum dunia ini pecah dan warna rambutmu itu berubah, aku tidak akan memperkenalkannya padamu” ucap Gikwang kesal. Junhyung mati kutu, ia menarik rambutnya kemudian melihat warna hijau yang masih tersisa.

Aish… aku lupa membersihkan bagian ini setelah pembuatan MV” dengusnya kesal.

“Ckckckck… kurasa kalian lebih cocok satu sama lain. Akan lebih baik jika kalian aku tinggalkan, lagi pula aku harus melanjutkan tidur siangku” Jaejin beranjak kemudian membalikkan badannya.

HAJIMA….!!!!!!!!” Teriak keduanya serentak. Jaejin menghentikan langkahnya dan terkejut. Ia membalikkan badannya.

“Kalian kompak sekali” ucapnya berdecak kagum.

“Ada yang harus aku katakan padamu!!!” Jaejin tersenyum geli dan berdecak kagum begitu 2 orang itu lagi-lagi bicara dengan kompak.

 

Junhyung mengawasi Jaejin dan Gikwang yang tengah bicara serius di ruang tamu. Diam-diam, Junhyung melirik mereka dengan tatapan cemburu dari arah dapur. Dilain sisi, Jaejin menatap Gikwang ragu kemudian mengalihkan pandangannya dari Gikwang.

“Maafkan aku” Jaejin kembali menatap Gikwang yang sedang bersungguh-sungguh meminta ampun darinya.

“Aku tidak akan memaafkanmu!” jawab Jaejin ketus.

MWO?”

“Orang bilang jika kita bisa mengampuni orang lain maka hidup kita terasa lebih baik. Tapi aku rasa itu tidak berlaku bagiku. Sesudah ini, jika aku memaafkanmu mungkin hidupku akan terasa lebih hancur setelahnya”

“Jaejin… kau benar-benar marah padaku?” tanya Gikwang melemas begitu mendengar paparan Jaejin.

“Aku benar-benar marah padamu” Jaejin bersilang dada.

“Berhentilah marah padaku. Aku kan begitu baik padamu… sudah ya, jangan marah lagi” rayu Gikwang manja. Jaejin melirik Gikwang, ia sedikit tersenyum begitu melihat wajah polos Gikwang. Namun, dengan cepat ia bersikap angkuh dan mengacuhkannya.

Aish…” Gikwang kesal melihat perlakuan Jaejin padanya, ia kemudian telihat pasrah dan membuang pandangannya dari Gikwang.

“Baiklah… jika kau tidak ingin mengampuniku dengan caramu. Tapi aku akan membuatmu mengampuniku dengan caraku” Gikwang menyenderkan tubuhnya disandaran kursi kemudian bersilang dada mengikuti gaya Jaejin.

“Apa?” pekik Jaejin bingung.

 

 

“Benar?? Apa yang orang itu katakan?!!!??” Junhyung bertanya sangat panik pada Jaejin yang menatapnya sedikit ragu. Junhyung terdiam kemudian menegok kebelakang dan menatap Gikwang yang tersenyum cerah padanya seraya berdadah-dadah dengan sangat ceria.

Junhyung mengabaikan Gikwang yang tengah duduk di meja makan dapur dan kembali menatap Jaejin.

“Katakan!! Jika ia sedang sakit dan salah bicara….!!!”

“Itu… itu… aduh…” Jaejin menundukkan wajahnya menutupi malu.

FLASBACK

Gikwang yang menyenderkan tubuhnya dengan tenang seraya menyilangkan tangan didada menatap Jaejin tenang seraya tersenyum tak kalah tenangnya.

“Adikmu bilang padaku jika kau menyukaiku!!!” Gikwang sengaja mengeraskan suaranya agar Junhyung yang berada didapur sana bisa mendengar ucapannya.

“Apa?!?!” tanya Jaejin panik. Junhyung membelakakan matanya setelah mendengar ucapan Junhyung. Ia nampak cemburu mendengar ucapan Gikwang.

“Kau selalu menatap fotoku sebelum kau tidur. Kau juga bilang bahwa aku sangat tampan. Ahahahaha” Gikwang menepuk tangannya dengan girang dan tertawa terbahak-bahak. Jaejin meremas ujung bajunya dan menahan amarah yang kini bergejolak. Junhyung mulai resah, ia terlihat sangat gelisah saat melihat Gikwang mendekatkan wajahnya pada Jaejin.

“Itu benarkan?”

“Kau… jangan dengarkan ucapan adikku” ucap Jaejin geram. Gikwang tertawa begitu melihat wajah Jaejin merah menahan malu.

“Kau suka padaku kan? Iya kan??” Jaejin diam, Gikwang menjauhkan wajahnya dan kembali menyenderkan tubuhnya. Jaejin menatap Gikwang kesal, berbalik dengannya, Gikwang hanya melihat Jaejin dengan tatapan jahil.

“Jaejin menyukaiku! Ia menyukaiku!!!!” teriaknya. Jaejin kesal begitupun Junhyung yang beranjak dari duduknya.

END FLASHBACK.

“Astaga!!” Junhyung menundukkan wajahnya. Ia kemudian beranjak dihadapan Jaejin.

“Kau mau kemana?”

“Pulang” jawabnya dengan cepat.

“Lalu apa yang akan kau katakan padaku?”

“Aku! A-aku…” Junhyung memotong ucapannya dan berfikir.

“Lupakan saja! Aku lupa apa yang harus aku ucapkan” sambungnya sedikit kesal. Jaejin menatap kepergian Junhyung bingung.

BRAK!!! Junhyung membanting pintu keras. Jaejin dan Gikwang tersontak terkejut. Jaejin lantas menatap Gikwang sangat kesal dan marah. Gikwang yang menyadari perilaku Jaejin segera beranjak dan berjalan meninggalkan rumah.

“Ah… aku lupa jika Hyunseung akan main kerumahku. Sebaiknya aku pulang, iya… aku harus segera pulang!” Gikwang semakin mempercepat langkahnya begitu ia melihat tatapan tidak bersahabat Jaejin. Dan sebelum Jaejin benar-benar melahapnya hidup-hidup, Gikwang mengambil langkah seribu meninggalkan Jaejin seorang diri.

“ENYAHLAH KAU DARI KEHIDUPANKU……!!!!!!!!!!” teriak Jaejin marah begitu Gikwang berlalu dihadapannya.

***

TING NONG! Junhyung segera membuka pintu rumahnya ketika ia mendengar suara bel berdegung ditelinganya.

“Jaejin!?” ucapnya terkejut melihat Jaejin yang datang lebih lama dari yang ia janjikan sebelumnya.

“Kau terlambat 3 jam. Apa kau ingin kupecat?” tanya Junhyung cepat.

“Maaf” Jaejin membungkuk lemas. Junhyung terkejut.

“Kau sakit?” Jaejin mengangguk.

“Otakku seperinya sakit sehingga aku tidak bisa berfikir sekarang”

“Ahaha… kenapa kau selalu bercanda.” Junhyung menarik lengan Jaejin.

“Masuk saja. Aku tidak tega memcatmu yang tengah frustasi seperti ini” Junhyung menarik Jaejin memasuki rumahnya. Namun Jaejin menolaknya, ia masih berdiam diri. Junhyung terdiam kemudian menengok kearah Jaejin.

“Kenapa diam?” Junhyung kembali menarik Jaejin. Namun kali ini Jaejin melepaskan cengkraman Jaejin. Junhyung terkejut begitu Jaejin membungkukkan tubuhnya.

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Junhyung semakin cemas ketika Jaejin kembali menegakkan tubuhnya dan nampak tidak bersemangat melanjutkan hidup.

“Aku mengundurkan diri”

“Apa?”

“Aku… hah…! Hanya bertahan selama 2 hari. Ck, tidak… kau tidak menyakitiku! Kau terlalu baik untukku sebagai seorang majikan. Tapi… aku merasa…” Jaejin memotong ucapannya dan menatap Junhyung.

“Aku malu jika harus bertemu denganmu setelah kau mendengar ucapan si bodoh itu! Aku tidak tahu cara yang bagaimana untuk membuang wajahku dihadapanmu. Jadi, sebaiknya. Sebelum kau menertawakanku dan menendangku ke planet mars, izinkan aku untuk lebih dulu pergi dari hadapanmu.” Dan, dengan cepat tanpa mendengar jawaban Junhyung Jaejin berlalu dari hadapannya. Sedetik kemudian Jaejin menghentikan langkahnya dan menatap Junhyung.

“Gajiku selama 2 hari kau boleh melemparnya sekarang juga. Aku akan menangkapnya!” teriak Jaejin, namun Junhyung terlihat tidak mendengarnya dan hanya melamun.

“Hmm… sepertinya ia berpura-pura tidak mendengar agar tidak membayar upahku. Ck, dasar orang kaya!” umpat Jaejin kesal yang masih menatap Junhyung. Sedetik kemudian, Jaejin kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Junhyung.

Junhyung tersadar akan kepergian Jaejin yang sangat cepat dari hadapannya. Ia kemudian segera menatap arah kepergian Jaejin dan melihatnya yang tengah menuruni anak tangga. Secepat kilat, sebelum ia benar-benar pergi dari hadapannya, Junhyung berlari mengejar Jaejin.

“Eong?!” Jaejin tersontak begitu melihat Junhyung yang kini menghadang jalannya. Junhyung berdiri dihadapan Jaejin saat Jaejin akan menuruni anak tangga.

“Sudahku katakan! Lempar saja uangnya”

“Kau tidak boleh pergi” ucap Junhyung dengan cepat. Jaejin menatapnya curiga.

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh pergi?”

Jaejin-ah

Ne?

“Hash…” Junhyung memejamkan matanya sesaat menahan gugup untuk mengatakan ini pada Jaejin.

“Jaejin… aku………………………………………” Junhyung tersenyum begitu ia selesai mengucapkannya pada Jaejin, berbanding terbalik dengan Jaejin yang menatapnya bingung. Sama sekali ia tidak dapat mengerti apa yang diucapkan Junhyung. Pada saat ia bicaranya dengannya bersamaan dengan itu terdengar suara penyedot debu yang terdengar sangat bising di ruang sebelah rumah (apartement) Junhyung.

Junhyung tersenyum lega, ia mempersilahkan Jaejin untuk pergi. Junhyung berjalan meninggalkan Jaejin dan menuju rumahnya. Jaejin terdiam, ia membalikkan badannya begitu Junhyung berlalu darinya.

CLOSING TRACK : B2ST – I LIKE YOU THE BEST.

Junhyung-ah…!” Junhyung menghentikan langkahnya dan menatap Jaejin.

“Aku… a-aku…” Jaejin memotong ucapannya yang terdengar gugup. Junhyung masih tersenyum dan menatap Jaejin tenang.

TBC…

 

NEXT IN ‘IDOL MAID’ TAKE 7:

“Jaejin… aku… a-aku… sebenarnya aku tidak rela jika ia menyukaimu. Aku merasa aneh jika kau berada dekat dengannya. Jaejin.. aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu. Aku menyukaimu” Junhyung kini menatapi Jaejin yang tengah menatapnya kebingungan.

“Terserah” jawab Jaejin yang kini berjalan menjauhi Junhyung. Jaejin lantas menghentikan langkahnya.

“Apa?? Jadi kau melihat semuanya????” Jaejin mengebrak meja makan dengan sekuat tenaganya. Junhyung terperanjat terkejut dan memegangi jantungnya yang hampir copot. Ia kini menatap Jaejin yang terlihat cemas.

“Apa perlu aku hajar dia sekali lagi?”

“Itu artinya kau juga menyukaiku” Jaejin membalikkan badannya dan menatap Gikwang yang kini sedang berlari.

“Aku marah! Benar aku marah… aku marah karena ia bersama dengan wanita lain!!!” ucapnya berteriak kesal.

BRAK!!! Junhyung dan Nana terkejut, keduanya kemudian saling menjauhkan diri begitu melihat Jaejin yang melewatinya begitu cepat kemudian membanting pintu begitu kencang. Junhyung terdiam ia menatap kepergian Jaejin curiga.

Gikwang mulai resah dan sedikit kesal ketika ia menunggu Jaejin yang tak kunjung datang menemuinya. Gikwang menghadapkan tubuhnya kehamparan sungai Han yang terbentang luas. Sesaat kemudian ia tersontak begitu melihat bayangan seorang gadis yang berdiri dibelakangnya. Dengan cepat Gikwang membalikkan badannya dan tersenyum pada gadis itu.

“Jaejin” ucapnya sangat gembira.

 

 

7 thoughts on “IDOL MAID (Take 6)

  1. Huaaa..
    Tambah seru thor!!
    Gag kebayang gmn raut muka.nya Junhyung sama Gikwang pas kompak ngomong :O
    Jaejin sama dua2.nya pantes tp lbh b’harap kalau Jaejin sama Gikwang :-*
    Next part cptan thor, dh gag sabar

  2. huaa hahaha critanya lucu apalagi pas gikwang sma junhyung kompak ngomongnya haha., trus itu junhyung nyatain perasaanya ya tapi e jaejinnya ndk denger kyknya ckckck kasian ok lanjut😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s