IDOL MAID (Take 5)

 

IM5

 

Title : Idol Maid

Leght : Chapter

Rate : M

Casts :

Kwon Jaejin

Yong Junhyung

Lee Gikwang

Gendre : Comedy romance

Author : ssha

 

Keduanya terdiam dan saling pandang. Jaejin berusaha melepaskan kedua tangan Junhyung yang kini menggenggam kedua tangannya dengan erat. Junhyung menahan tangan Jaejin dan menatapnya begitu lekat.

“Kalau begitu bagaimana jika menjadi temanku? Jaejin-ah. Kau mau menjadi temanku?”

GRRRKKK!!! Jaejin menelan ludahnya gugup. Wajah Junhyung benar-benar sangat dekat dengannya. Sementara itu, Junhyung mulai tersenyum simpul.

“Kau lempar saja aku keangkasa! Kau membuatku mual melihat wajahmu sedekat ini”

“Itu tawaran terakhirku. Kau mau?”

“Artis sepertimu tidak pantas berteman denganku” ucapnya sedikit getir. Junhyung terdiam melihat wajah Jaejin yang sedikit menahan tangis. Keduanya terdiam.

Tak lama kemudian maneger Hong datang, ia terkejut begitu melihat keduanya tengah dalam posisi tersebut. “Apa yang kalian lakukan?” tanya maneger Hong. Junhyung terkejut dan langsung mendorong Jaejin dari tubuhnya. Jaejin terpental dan tubuhnya terjatuh kelantai.

IDOL MAID

TAKE 5

“Katakan apa yang kau ketahui tentangku?”

“Haruskah aku mengatakan semuanya?”

“Tentu saja! Semua yang kau tahu dari Jaejin” Gikwang menatap Jaewon tajam yang kini menatapnya dengan sangat polos. Keduanya kini tengah duduk diantara kursi yang terdapat didalam supermarket.

“Kakakku…” Jaewon menatap Gikwang ragu. “Kakakku menyukaimu”

“Ught…!!!” Gikwang tersedak susu pisang yang ia teguk, tidak sengaja ia menekan botol hingga air susu tumpah dan membasahi sebagian wajahnya.

“Kau baik-baik saja?” Jaewon memberikan tisu pada Gikwang dan melihatnya dengan cemas. Gikwang segera mengelap wajahnya kemudian terdiam.

“Kau pasti bercanda kan?”

“Sumpah…! Aku sangat serius”

“Benarkah?” Gikwang memutar badannya dan menatap Jaewon lebih dalam.

“Selama satu tahun ia menyimpan fotomu di kamar. Bahkan foto perpisahan SMA masih ia simpan dengan baik-baik.” Tutur Jaewon.

“Lalu… k-kenapa ia? Hash…” Gikwang meraup wajah dengan tangannya.

“Setiap malam ia selalu membicarakan tentangmu, aku selalu mendengarnya setiap saat. Bahkan itu terdengar seperti dongeng sebelum tidur”

“Ia sempat mengatakan jika tidak ada laki-laki yang lebih tampan selain dirimu. Ia juga selalu menatapi fotomu sebelum ia tidur. Sepertinya kakakku cinta mati padamu”

Gikwang semakin terdiam setelah mendengar penjelasan Jaewon. Jaewon menatap Gikwang yang kini berubah menjadi sedikit muram.

“Kau baik-baik saja?” Jaewon memastikan. Gikwang melirik Jaewon dan tersenyum kecut.

Nan gwenchanayo.” Ucapnya terdengar lemas. Gikwang lantas beranjak dari duduknya dan berlalu dengan dingin dari hadapan Jaewon.

“Kau mau kemana? Kakak??” Jaewon mulai cemas melihat Gikwang yang berjalan dengan tidak bersemangat.

“Jangan bunuh diri ya! Jaga dirimu baik-baik” Jaewon melambaikan kedua tangannya diudara namun Gikwang sama sekali tidak meliriknya.

***

“Sungguh… tapi itu tidak ada yang kami lakukan. Tubuhnya terjatuh begitu saja dan aku tertindih tubuhnya” ucap Junhyung membela diri dihadapan maneger Hong seraya melirik Jaejin yang duduk disampingnya.

“Yang ia katakan benar. Aku terjatuh dan ia tertindih tubuhku.” Ucap Jaejin mengiyakan dengan datar. Jaejin tak hentinya memegangi pinggangnya yang kesakitan karena terjatuh dilempar Junhyung.

“Untung saja yang datang aku bukan orang lain. Jika saja Nana atau orang yang lain yang melihatnya mungkin ceritanya akan lain”

“Nana?”

“Maksudku… aku hanya takut ia merasa cemburu padamu” Maneger Hong menatap Junhyung dan berusaha menyakinkannya. Jaejin melirik Junhyung yang nampak sedikit heran dengan ucapan maneger Hong.

Terdengar bel berbunyi. Mereka semua langsung menatap kearah pintu bersamaan. Maneger Hong berjalan mendekati pintu dan mengintip lewat kaca mata-mata. Ia tersontak begitu melihat sosok Nana yang ada dalam pandangannya.

Dengan ragu maneger Hong membuka pintu dan tersenyum semanis mungkin pada Nana. Junhyung melonggo dari balik tubuh maneger Hong.

“Nana” ucapnya bersorak riang. Jaejin menghentikan memijat pinggangnya dan melirik kearah pintu.

 

Gikwang berjalan dengan lemas menyusuri jalanan yang mulai sepi dimalam hari. Semua yang diucapkan Jaewon masih terdengar begitu jelas ditelingganya. Ia lantas menghentikan langkahnya dan terdiam didepan toko sepeda. Perlahan, ia membalikkan badannya dan menatap bayangan dirinya yang terpantul dari kaca toko.

Bayangan yang terlihat begitu bodoh baginya, tidak mengerti tentang perasaan perempuan yang kurang lebih dekat dengannya selama 6 tahun.

“Kakakku menyukaimu”

“Ia sempat mengatakan jika tidak ada laki-laki yang lebih tampan selain dirimu. Ia juga selalu menatapi fotomu sebelum ia tidur. Sepertinya kakakku cinta mati padamu”

Gikwang terdiam dan kembali teringat ucapan Jaewon. “Kenapa begitu bodoh? Tidak mengerti perasaannya! Apa ia terlalu asing bagimu?”

***

“Benarkah…??!?! Hahahaha” tawa Junhyung seketika menyeruak begitu ia mendengar cerita Nana yang mengocok perutnya.

“Aku tidak mengerti apa yang mereka fikirkan. Tapi mereka bilang jika yang ku lakukan itu sangat konyol. Kau tahu? Sepanjang acara aku menutupi wajahku karena menahan malu” Junhyung lagi-lagi tertawa dengan puas begitupun Nana.

Dilain sisi, Jaejin malah melirik mereka dengan tatapan jijik.

“Apa idola melakukan itu saat mereka bersama?” Jaejin meneguk susu pisang yang diberikan maneger Hong dalam sekali teguk.

“Kau lucu sekali” lagi-lagi Junhyung tertawa. Dan semakin Junhyung tertawa puas maka semakin kesal pula Jaejin melihatnya.

Mata Jaejin membulat besar begitu ia melihat tangan Junhyung yang menyentuh rambut Nana dan membiarkan rambut itu tertahan oleh kuping Nana.

“Menjijikan” umpat Jaejin.

GREB!!! Jaejin meremas bungkus susu sekuat tenaga kemudian melemparnya dengan kesal kedalam tong sampah.

“Katakan jika yang aku lihat ini adalah sebuah mimpi…!!!” dengan kesal Jaejin berjalan meninggalkan dapur dan pergi menuju balkon.

Junhyung melirik kepergian Jaejin yang terlihat kesal, Nana mengawasi Junhyung.

“Ia terlihat asing bagiku”

“Apa..?” Junhyung menengok menatap Nana.

“Hm… ia pembantu baru” sambung Junhyung seraya kembali menatap kepergian Jaejin.

 

 

Jaejin meregangkan tubuhnya di atas balkon dan merasakan angin malam yang menerpa tubuhnya. Ia menghirup dalam-dalam angin kemudian tersenyum lega menikmati kesegaran angin malam. Jaejin mengangkat kedua tangannya kemudian membentuk sebuah persegi dari telunjuk dan ibu jari. Ia arahkan persegi yang ia anggap sebagai kamera.

“CLIK” Jaejin anggap ia sudah memotret pemandangan langit yang begitu indah dimalam hari. Ia tersenyum begitu senang menyaksikan gemerlapnya langit di malam hari. Namun, sesaat kemudian senyumannya memudar. Wajahnya muram, Jaejin memikirkan sesuatu.

***

Gikwang segera beranjak dan terkejut begitu melihat Jaejin yang diantar pulang menaiki mobil pribadi maneger Hong. Jaejin membungkukkan badannya kemudian melangkah memasuki rumah. Gikwang segera berjalan mendekati Jaejin.

“Malam-malam begini kau baru pulang. Apa telah kau lakukan bersama pemilik mobil itu?” Gikwang menahan pergelangan Jaejin membuat Jaejin terpaksa menghentikan langkahnya. Gikwang melirik sesaat mobil sedan putih yang kini melaju meninggalkan mereka.

“Apa yang kau lakukan? Aku lelah, jadi biarkan aku beristirahat!” Jaejin berusaha melepaskan cengkraman Gikwang. Namun, Gikwang menahannya dan menatapnya lebih lekat sehingga membuat Jaejin heran dibuatnya.

“Kau salah minum obat? Bersikap aneh belakangan ini”

Jaejin-ah!!!

“Kenapa? Apa kau merindukanku?” canda Jaejin renyah. Gikwang sama sekali tidak tersenyum mendengar banyolan Jaejin dan memilih untuk memasang wajah mesam.

“Bisakah kau berhenti bersikap seperti ini?”

“Apa?!?”

“Berhentilah bicara bahwa kau baik-baik saja!” Jaejin semakin tidak mengerti dengan ucapan Gikwang.

“Kau pasti mengingau, malam-malam begini ucapanmu aneh. Apa kau sakit?” Jaejin menyentuh kening Gikwang yang sama sekali tidak menunjukkan gejala demam atau yang lainnya. Jaejin terpaku begitu melihat tatapan Gikwang yang terlihat menyedihkan.

“Aku tanya apa kau kenapa? Kau menjawab ‘aku baik-baik saja’. Aku bertanya apa hatimu sakit, kau menjawab ‘hatiku akan terasa baik jika aku tidur selama 2 hari’. Aku bertanya apakah kau membenciku, dan kau menjawab ‘aku benci mendengar pertanyaan itu’” Gikwang memegang tangan Jaejin yang masih tertempel di keningnya.

“K-kau…”

“Bisakah kita hidup sebagai orang baik-baik? Berhentilah berkata jika kau baik-baik saja!!!” suara Gikwang terdengar naik beberapa oktaf. Jaejin menundukkan wajahnya menyesal. Perlahan, Gikwang melepaskan kedua tangannya yang mencengkram tangan Jaejin kuat.

“Aku hanya ingin kau tahu jika aku…” Gikwang memotong ucapannya. Ia terdiam menatap Jaejin yang enggan untuk melakukan kontak mata dengannya.

“Maafkan aku. Aku sangat lelah” ucap Jaejin lemas. Ia kemudian membalikkan badannya dengan dingin dan bersiap berjalan menuju rumahnya. Gikwang menatapnya kecewa, ia kemudian mengejar Jaejin dengan cepat. Gikwang menarik tangan Jaejin kasar kemudian menarik tubuh Jaejin, Gikwang menarik kepala Jaejin dan sedetik kemudian bibir mereka saling beradu satu sama lain.

Jaejin terlihat pasrah dengan perlakuan Gikwang, merasakan kecupan lembut dibibirnya tersebut. Namun, kenapa ini rasanya begitu sesak didada? Serasa tidak dapat bernapas dengan baik, bukan itu yang dimaksud? Hatiku merasakan gejolak yang membuat otakku tidak dapat berfikir ‘haruskah aku merasa senang? Atau aku harus merasa sedih?’. Jaejin merasakan sesak yang sangat mendalam, tak lama kemudian setetes demi tetes cairan mulai membasahi pipinya.

Dibalik itu, nampak seorang pria yang menggunakan kacamata hitam dan duduk didalam jok kemudi sebuah mobil sedan terlihat sedang menyaksikan adegan yang begitu dramatis dihadapannya. Sedetik kemudian, ia membuka kacamata dan melihat dengan tatapan datar. Yong Junhyung, menyaksikan kejadian tersebut dengan sangat jelas!

***

Sesampainya didalam rumah, Junhyung merebahkan tubuhnya diatas sofa. Ia terdiam kemudian memejamkan matanya. Namun, rupanya sesuatu mengusik pemikirannya. Ia kembali membuka matanya dan terlihat sedikit kesal.

Ciuman yang ia lihat antara Jaejin dan Gikwang didepan matanya, entah kenapa membuat amarahnya sedikit memuncak. Junhyung tidak ingin berlarut dalam keadaan yang begitu ia benci. Ia lantas beranjak dan berjalan mendekati lemari es.

Pandangannya terhenti pada sebuah coklat yang ada didalam sana, Junhyung mengarah jari-jemarinya menyentuh coklat tersenyum dan tersenyum hambar.

“Pasti bukan dia kan? Heh…” gumamnya sedih.

 

 

 

Esoknya…

Jaejin terdiam, ia merenung di pinggir sungai Han seorang diri. Jaejin melirik ponsel Jaewon yang berdering. Maneger Hong menelfonnya, dengan malas ia mengangkat panggilan tersebut.

“Aku tidak enak badan, hari ini aku tidak bisa bekerja. Maafkan aku! Kau boleh memotong gajiku sesuka hatimu!!”

KLIK!  Jaejin memutus panggilan secara sepihak meskipun ia masih bisa mendengar maneger Hong yang meneriakinya dari sebrang telfon.

“Katakan bahwa aku sedang bermimpi. Mimpi buruk yang akan aku lupakan selamanya” Jaejin terdiam, ia kemudian meraba bibirnya yang terasa masih memanas.

“Si bodoh itu pasti sudah gila kan? Dia benar-benar konslet”

“Yang benar saja? Apa yang ia ucapkan itu sudah benar? Bodoh!!! Kenapa kau harus ada di kehidupanku!!!” dengan kesal Jaejin menendang sepeda pemberian maneger Hong.

Aish” ia meringis kesakitan.

“Mati konyolpun aku tidak akan memaafkanmu.” Ucapnya berapi-api.

“Hash…” Jaejin mengacak-acak rambutnya frustasi.

 

Setelah beberapa jam mengasingkan diri di sungai Han, akhirnya Jaejin pergi meninggalkan sungai Han dan kembali mengayuh sepedanya. Ia terlihat masih sedikit kesal, namun ia mencoba untuk tersenyum.

Ia melewati setiap jalanan dengan wajahnya yang terpaksa untuk tersenyum, setelah lama melaju bersama sepedanya akhirnya ia menghentikan sepeda mendadak. Jaejin menatap kaku pada orang yang berada didepannya sekarang.

BACKSOUND : B2ST – I’M SORRY

Pria yang kini duduk diatas sepeda dan menatap Jaejin datar, Lee Gikwang. Jaejin menundukkan wajahnya dan berusaha menghindari sorot mata Gikwang.

I shouldn’t have saved the words I love you
I should have said it more often
Even though I was annoyed or tired
I should have ran to you saying that I miss you

Kedua saling terdiam satu sama lain. Bebera detik berlalu, Gikwang tidak ingin ini semua berlanjut seperti apa yang tidak ia harapkan. Gikwang mulai melajukan sepedanya dan mendekati Jaejin.

I should have walked you home every single day
Instead of meeting my friends on the weekend
I should have stayed with you

Namun, bersamaan dengan itu. Jaejin mulai mengayuh sepedanya dan melalui Gikwang dengan cepat. Gikwang mengerem sepeda mendadak, ia berbalik dan melihat Jaejin yang melaju semakin menjauhinya.

Why am I having late regrets now?
Why didn’t I know back then?
I’m sorry  (I’m sorry), I’m sorry, baby (I’m sorry, baby)
Why am I having late regrets now?
You are so special to me.

Jaejin mengayuh sepedanya dengan cepat, ia kini telah melaju cukup jauh meninggalkan Gikwang. Tiba-tiba, Jaejin menghentikan sepedanya. Ia terdiam, terdiam dalam rasa yang entah kenapa ia merasa benci untuk ia rasakan saat ini. Jaejin kemudian memegang dadanya yang terasa sangat sesak untuk bernapas, ia menangis tersedu-sedu.

I wished to give you good memories
But we were so young back then
We didn’t know about anything
Can you take that as an excuse?
Can you hold my hand again?

TBC

P.S: Untuk pertama kalinya selama post FF author angkat bicara hehehehe…  hayo readers pada pilih couple yang mana? JaeHyung? Atay JaeKwang? Kalau author milih HyeKwang hahaha😀 ah stop this’s out of topic! sebenernya ide kisseu itu mendadak ada, gak direncanain (minta ampun ke Nova) ^.^V euhahahahaha. Apa lagi ya? Udah aja deh, take 6 nya udah beres tapi di post ntar hari Senin. So… see you in Monday ^.^

7 thoughts on “IDOL MAID (Take 5)

  1. Kya!! Kya!!
    Gila baca ep ep ini thor..
    Pokok.nya Daebak😉

    suka couple dua2.nya sh, tapi kaya.nya lbh condong ke JaeKwang dh :-*
    next cptan thor

  2. hwaa jaejin galau ya ????? omo gikwang koq cium jaejin sih apa gikwang suka tpi koq gx nyatain perasaannya ma jaejin trus si junhyung cemburu kyaknya kekeke ^^ ~ daebak dech critanya lanjut😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s