IDOL MAID (Take 4)

 

IM4

Title : Idol Maid

Leght : Chapter

Rate : M

Casts :

Kwon Jaejin

Yong Junhyung

Lee Gikwang

Gendre : Comedy romance

Author : ssha

 

 

 

“Kau datang tepat 5 detik.. ckckck” ucap maneger Hong berdecak kagum.

“Hanya menjadi pembantu cadangankan? Baiklah. Akan aku coba” dengan sedikit rasa gengsi yang ia miliki, akhirnya Jaejin mengucapkan kalimat tersebut. Maneger Hong terdiam, kemudian tersenyum lebar mendengar ucapan Jaejin.

“Baik! Deal!!” Maneger Hong segera mengenggam kedua tangan Jaejin dan berjabat tangan dengannya.

“Aku tahu kau gadis manis yang baik. Hahahaha hehehehe”

IDOL MAID

TAKE 4

“Disini. Silahkan masuk” Jaejin terpesona begitu maneger Hong membuka pintu rumah. Dilihatnya ruang tamu yang begitu luas dan terdapat satu set sofa beserta home teater.

“Apa ia tinggal seorang diri disini?” tanya Jaejin yang masih berdecak kagum dengan isi rumah Junhyung.

“Kadang aku tinggal disini untuk menemaninya” jawab maneger Hong yang tiba-tiba keluar dari salah satu ruangan dan membawa sebuah seragam pelayan, bukan! Pembantu maksudnya.

“Kau harus memakainya, Junhyung selalu menjungjung tinggi kekompakan berseragam dengan pembantu lainnya” Jaejin menerima seragam itu dan melihatnya. Ia kembali melirik maneger Hong.

“Bukankah pembantu disini hanya ada aku? Satu orang kan?”

“Ah iya! Maksudku itu. Ck, maaf otakku sedang tidak beres sekarang” maneger Hong tersenyum konyol. Ia lantas melirik arlojinya dan terperangah terkejut.

“Astaga! Ada yang harus aku selesaikan sekarang” Jaejin memutar badannya ketika maneger Hong melewatinya dengan tergesa-gesa.

“Kau akan pergi?” tanya Jaejin saat maneger Hong akan membuka pintu.

“Ada urusan penting yang tidak bisa ku tinggalkan. Oh iya! Namamu siapa?”

“Kwon Jaejin”

“Hm.. Kwon Jaejin. Baiklah! Bekerjalah dengan baik” maneger Hong lantas membuka pintu dan berlalu dari Jaejin. Jaejin mengalihkan pandangannya dan melirik seragam dengan jijik. Jaejin tersontak ketika pintu kembali terbuka. Ia kembali membalikkan badannya.

Jaejin-ah! Aku hampir lupa”

Ne?

“Kau punya modal kan?” tanyanya yang melonggo dari balik pintu.

“Modal?”

“Keberanian dan tekat yang kuat untuk bekerja disini. Aku tidak mau dalam 2 jam kau mengundurkan diri.” Maneger Hong terdiam melihat ekspresi bingung Jaejin yang berfikir keras.

“Sudahlah! Jangan terlalu difikirkan. Aku pergi. Bye~!” Jaejin yang masih bingung sontak terkejut saat ia baru menyadari maksud dari perkataan maneger Hong, saat ia akan mengejar maneger Hong terlabih dahulu ia telah pergi meninggalkannya seorang diri disini. Jaejin terdiam, lagi-lagi ia menatap seragam berwarna hitam dengan renda putih itu dengan sangat jijik.

“Haruskah aku memakaimu ditubuhku?” tanya Jaejin frustasi.

“Jawab aku!!!” bentaknya seraya meremas-remas seragam.

“Tidak mungkin kan aku kabur dari sini” ucapnya lemas seraya menerawang langit-langit.

Dilain sisi, terlihat kenop pintu kamar mandi terbuka. Nampaknya masih ada seseorang dirumah ini, dan sedetik kemudian pintu terbuka. Seseorang dengan memakai handuk kimono berwarna putih baru saja keluar dari kamar mandi.

Dialah Junhyung yang baru saja selesai mandi. Saat ia akan pergi meninggalkan kamar mandi ia melihat seorang yeoja yang berdiri membelakanginya dengan lesu. Reflex ia mengambil helm yang telah ia siapkan dan segera memakainya.

“Siapa kau??!!!” tanyanya berteriak kemudian menutupi wajahnya dengan kaca helm. Jaejin terkejut ia membalikkan badannya dan lebih terkejut lagi saat ia melihat seseorang berdiri memakai helm didalam rumah.

“AAAAAAAH…!! Siapa kau? Kenapa kau disini?” Jaejin melempar seragam kewajah Junhyung dan lari ketakutan dan bersembunyi dibalik sofa.

Berbalik dengan Junhyung yang terlihat mulai tenang setelah melihat Jaejin.

“Ternyata kau” Jaejin semakin ketakutan ketika Junhyung berjalan mendekatinya.

“Aku masih mau hidup, aku terlalu muda untuk mati konyol ditanganmu. Pergilah sana jangan dekati aku, pergi pergi…!” usirnya pada Junhyung yang masih menggunakan helm.

“Hash… bisakah agar kau tidak berlebihan seperti itu?” Junhyung menyentuh bahu Jaejin dan membuat Jaejin semakin ketakutan.

“Jangan pegang aku!!!”  bentaknya seraya menepis tangan Junhyung dibahunya.

“Apa aku menyeramkan?”

“Tentu saja iya”

“Hey.. ini aku” ketika Junhyung akan membuka helm tiba-tiba Jaejin berdiri dan menendang tungkai kaki Junhyung membuatnya menjerit kesakitan dan terjatuh ke sofa.

“Berani mendekatiku itu artinya kau harus berani mendapat pukulan  dariku. Hah” Jaejin kini bertolak pinggang dengan bangga setelah menghabisi Junhyung yang tengah kesakitan seraya memegang tungkai kakinya.

Aigoo… kakiku… kalau begini aku tidak bisa menari selama seminggu” Jaejin terdiam dan menatap Junhyung ragu.

“Apa?!?”

“Hash.. kenapa jika bertemu denganmu aku selalu menderita?” Junhyung membuka helm dan berteriak frustasi pada Jaejin yang kini terkejut melihatnya.

***

“Pertemuan pertama kau membuat majikanmu kesakitan. Gajimu akan aku potong 10%” Jaejin hanya bisa mengendus kesal begitu mendengar ucapan Junhyung. Ia kemudian melirik Junhyung yang berdiri didepannya seraya bersilang dada.

“Kau tahu kan apa kesalahanmu?”

“Maafkan aku” Junhyung menyeringai begitu ia melihat wajah Jaejin yang nampak begitu pasrah dan bersimpuh dibawahnya.

“Kenapa ya bertemu denganmu aku selalu sial? Pertama dilempari kaleng minuman, ditampar di jalan raya, dan sekarang kau menendang kakiku seenakmu. Apa orang sepertimu layak mendapat ampun?”

“Aku benar-benar menyasal, maafkan aku”

“Memang itu kau harus kau lakukan” Junhyung tak hentinya tersenyum puas begitu melihat Jaejin yang terus menunduk pasrah padanya.

“Pakailah ini dan cepat bekerja, aku mengajimu untuk bekerja bukan untuk terus meminta maaf” Junhyung lantas melempar seragam ditangannya. Jaejin kesal begitu seragam itu melayang mulus kewajahnya.

“Andai saja kau bukan majikanku akan aku terkam kau sekarang juga” umpatnya yang melihat Junhyung berjalan kearah sofa.

***

Aigoo… apa kau selalu melakukan ini setiap hari?” Jaejin terkejut begitu melihat keadaan dapur yang layaknya sebuah kapal pecah.

“Aku melakukannya karena aku sibuk” ucap Junhyung membela diri yang kini berdiri mengawasi Jaejin dari belakang.

“Kau santaipun kurasa kau tidak akan pernah merapikan semuanya” Jaejin mendelik kearah Junhyung. Junhyung bersiap mendekati Jaejin dan memukulnya  namun dengan cepat Jaejin menutup wajahnya dengan panci.

“Akan aku posting di internet jika seorang Yong Junhyung melakukan kekerasan pada pembantu semanis aku” ancamnya. Junhyung mengurungkan niatnya dan berdiri seperti semula.

“Lakukanlah jika itu membuatmu puas”

“Benarkah….?” Jaejin nampak begitu gembira, ia lantas mengambil ponsel di dalam saku seragam dan segera mengeluarkannya. Ia tersenyum jahil pada Junhyung.

Junhyung membelakakan matanya begitu ia melihat Jaejin yang kini memegang ponselnya. Ia mulai panik dan berjalan menghampiri Jaejin yang berdiri didepan wastafel.

“Kau gila jika melakukannya” Junhyung mencoba merebut ponsel Jaejin. Jaejin segera menariknya dan merebutnya sekuat tenaga.

“Kau bilang lakukan saja jika itu membuatku puas”

“Itu berbeda, seseorang harus mengatakannya untuk menguji kejujuran seseorang”

“Lepaskan tanganmu. Hey!” Jaejin menjerit kesakitan begitu Junhyung menekan tangannya begitu kuat. Junhyung tidak mau kalah ia masih mencoba merebut ponsel Jaejin, dan sedetik kemudian.

Ponsel terlepas dari keduanya dan masuk kedalam genangan air wastafel. Jaejin terlihat kesal dan marah, ia segera mengambil ponselnya. Junhyung nampak bersalah, ia kemudian diam-diam berjalan menjauhi Jaejin.

“Ponselku” Jaejin kini meratapi ponselnya yang basah kuyup terendam air.

“Tidak hidup lagi…!!! Junhyung!!!!” teriaknya kesal.

***

“Ayolah….” Jaejin merengek karena ponselnya tidak mau hidup dari tadi, ia terus mengeringkan ponselnya memakai hairdryer.

“Tidak nyala juga?” selidik Junhyung yang berdiri dibelakang Jaejin.

“Ini karenamu. Lihat ponselku kini tidak bernyawa”

“Nanti aku benarkan kok….”

“Hash…. Berhentilah bicara. Kau membuatku semakin kesal”

“Kau mau ice cream?”

Shireo!!!” Junhyung tersontak mendengar Jaejin yang menolaknya mentah-mentah.

“Kau benar-benar marah ya?”

“Hahhahahiks. Bagaimana aku bisa hidup tanpa ponselku?” Jaejin meregek kesal sementara Junhyung menatapnya ketakutan.

Dilain tempat, nampak Gikwang yang tengah menunggu Jaejin didepan rumahnya. Beberapa kali ia mencoba menghubunginya namun Jaejin tidak mengangkat telfonnya. Gikwang terlihat kesal menunggu Jaejin yang tidak keluar rumah.

“Apa dia benar-benar marah padaku?” tanyanya yang melihat kearah pintu.

***

“Kau harus mencucinya seperti ini. Seperti ini” Jaejin mempraktikan cara memcuci piring sementara Junhyung berdiri dibelakangnya.

“Hahahaha…” Jaejin terkejut saat ia mendengar tawa Junhyung yang menyeruak.

“Hash… orang itu.” Jaejin membalikkan badannya dan ia terkejut melihat Junhyung yang ternyata tidak memperhatikannya sama sekali dan memilih untuk menonton TV. Jaejin kesal, iapun berjalan mendekati Junhyung.

“Apa yang kau lakukan?” Junyung kesal melihat Jaejin yang berdiri didepan TV dan menghalangi pemandangannya.

“Astaga. Aku kira kau benar-benar konslet”

“Apa?”

“Tawamu membuat konsentrasi memcuciku buyar. Kau tahu itu?”

“Minggirlah kau menghalangi pemandanganku!”

“Oh begitu ya?” Jaejin terdiam dan menatapi Junhyung kesal. Ia kemudian meregangkan tangannya dan menutupi TV dengan tubuhnya.

“Seperti ini? Apa ini pemandangan yang indah?” Junhyung kesal melihat Jaejin yang semakin menjadi.

“Berhentilah bertingkah! Bentuk tubuhmu itu membuatku mual”

“Apa?”

“Minggir!” Jaejin lantas menurunkan tangannya dan berdiri dengan lemas.

“Hm…” Junhyung menatapnya puas. Namun, kali ini Jaejin berjalan kearahnya. Junhyung terpaku begitu wajah Jaejin berada begitu dekat dengannya.

“Kenapa ada orang yang begitu menyebalkan sepertimu…????” Jaejin kesal kemudian mencubit pipi Junhyung sekuat tenaga. Junhyung berteriak kesakitan dan berusaha melepaskan tangan Jaejin dari wajahnya.

***

Ommo…!!!” Jaejin terkejut begitu ia melihat Gikwang yang tiba-tiba menghadangnya di tengah jalan.

“Kemana saja kau? Kenapa telfonmu tidak kau angkat?”

“Aku… aku baru saja pulang reuni. Haha iya! Reuni SMA.” Jawab Jaejin gugup kemudian kembali berjalan, namun Gikwang lagi-lagi menghalanginya.

“Kau berbohong. Bukankah teman SMA mu sudah melupakanmu dan menghapusmu dari daftar murid kelas?”

“Apa?!?” pekik Jaejin.

“Dan kenapa pulang semalam ini?”

“Itu bukan urusanmu” Jaejin mendorong tubuh Gikwang hingga ia menyingkir dari hadapannya. Jaejin lantas berjalan meninggalkan Gikwang.

“Kau masih marah padaku?” tanya Gikwang, Jaejin menghentikan langkahnya. Ia tersenyum kecut.

“Jika hanya karena sepeda itu kau tidak perlu mematikan ponselmu”

“Kwon Jaejin.. Maafkan aku” ucapan Gikwang menurun diakhir kalimat. Ia terdiam dan menunggu respon Jaejin. Tak lama kemudian, sebuah senyuman terpatri diwajahnya saat Jaejin membalikkan wajahnya dan berjalan mendekatinya.

“Hidungmu besar, bibirmu besar tapi matamu kecil. Apa kau adalah alien? Kembalilah ke planetmu dan pergi dari hadapanku” O.O senyuman Gikwang menghilang begitu ia mendengar ledekan Jaejin. Tanpa memberikan senyumannya Jaejin pergi berlalu dari hadapan Gikwang.

***

Esoknya, Gikwang kembali berkunjung kerumah Jaejin, dan kali ini ia belum sempat bertemu Jaejin yang terlebih dahulu pergi bekerja. Gikwang menjitjitkan kakinya untuk melihat dari balik jendela keadaan didalam rumah Jaejin. Ia hampir saja terjatuh begitu melihat Ibu Jaejin yang keluar rumah. Gikwang segera mengalihkan pandangannya dan berpura-pura sedang berolahraga. Ibu melirik Gikwang heran dan memilih untuk meninggalkan pemuda itu.

Dengan cepat begitu Ibu meninggalkannya, Gikwang kembali mengintip kedalam berharap menemukan seseorang yang ia tunggu. Ia mengendap-endap mengintip dari balik jendela, dan sesaat kemudian pintu terbuka membuat Gikwang terperanjat terkejut.

“Jaejin-ah” pangilnya pada orang yang baru saja keluar. Senyuman Gikwang menghilang begitu ia melihat Jaewon yang keluar.

“Kau?!?” pekik Jaewon terkejut. Gikwang mengintip dari balik tubuh Jaewon.

“Kenapa kau disini? Bukankah kau…?” tebak Jaewon ragu. Ia kembali mengingat wajah Gikwang saat Jaejin menendang fotonya beberapa hari yang lalu.

“Ternyata kau!!!” Jaewon bersorak gembira. Gikwang menatapnya datar.

“Dimana Jaejin?”

“Kakak! Kenapa kau disini? Kau membuatku terkejut”

“Aku ingin bertemu Jaejin”

“Ah..! ternyata kalian berhubunganya?”

“Apa?”

“Aku sangat mengidolakanmu kak”

“Heh, kau bercanda. Aku bukan artis!”

“Memang bukan! Tapi bagiku, saat aku memasuki kamar kau adalah seorang artis”

“Apa?” tanya Gikwang heran.

 

 

Junhyung terus berdecak kesal dan mengertakkan giginya saat Jaejin terus menganggunya menonton TV. Junhyung kemudian bergeser namun Jaejin mengikutinya, ia menghalangi Junhyung seraya mengepel lantai.

“Hash…” Junhyung kini beranjak dan menjitjitkan kakinya. Jaejin yang semula membungkuk kemudian menegakkan tubuhnya dan memegang pinggangnya, ia sedikit mengendus kesakitan dan membuat Junhyung terlihat kesal. Junhyung kembali duduk dengan kesal dan menatap Jaejin. Jaejin melirik Junhyung yang terus menatapnya, dengan cepat ia membuang pandangannya dan kembali mengepel lantai.

“Apa kau tidak bosan terus berada disana?”

“Disini sangat kotor, banyak debu yang tersembunyi”

“Benarkah?”

“Aku tidak tahu bagaimana jadinya kau tampaku sekarang disini”

“Sekarang kau merasa menjadi pahlawan?”

“Entahlah” jawab Jaejin dingin yang membuat Junhyung mengerutu kesal.

“Oh iya. Siapa namamu?” Jaejin melirik Junhyung.

“Untuk apa mengetahuinya? Apa untuk menambah daftar antismu?”

“Aku tidak punya antis. Mereka terlalu menyayangiku hinga tidak kuat menjadi antis” ucap Junhyung berbangga hati.

“Heh…. Kwon Jaejin. Itu namaku” Jaejin kembali mengepel dan mengacuhkan Junhyung.

“Jaejin?”

“Selesai….!!! Sekarang aku bisa istirahatkan?” Jaejin tersenyum kemudian berlalu dari hadapan Junhyung. Junhyung menghentikan langkah Jaejin dan menatapnya.

“Apa kau pernah mendengar laguku?”

“Tidak” jawan Jaejin polos.

“Melihatku di TV” Jaejin berfikir.

“Hm… sepertinya pernah. Tapi hanya satu kali. Aku malas melihatnya karena kau terlalu cerewet” Jaejin kembali melangkah namun lagi-lagi Junhyung mencegahnya dan membuat Jaejin membelakakan matanya dengan kesal.

“Apa yang kau lakukan?”

“Hm… begini. Ini hanya sebuah tawaran, jadi… akan lebih baik jika kau menerimanya”

“Katakanlah! Jangan mempersulit dirimu seperti itu”

“Jadilah fan ku” ucap Junhyung dengan cepat. Jaejin terkejut, ia kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Menjadi fan mu kau bilang?” tanya Jaejin tak percaya seraya menahan tawanya.

“Apa orang-orang sudah tidak mengidolakanmu lagi sekarang? Ckckc malang sekali nasibmu nak. Hahaha” Jaejin kembali melangkah namun ia lupa Junhyung masih menggenggamnya erat. Dan saat Junhyung kembali menarik Jaejin, tubuh Jaejin tertarik dan terjatuh ke atas tubuh Junhyung yang terjatuh diatas sofa.

Keduanya terdiam dan saling pandang. Jaejin berusaha melepaskan kedua tangan Junhyung yang kini menggenggam kedua tangannya dengan erat. Junhyung menahan tangan Jaejin dan menatapnya begitu lekat.

“Kalau begitu bagaimana jika menjadi temanku? Jaejin-ah. Kau mau menjadi temanku?”

GRRRKKK!!! Jaejin menelan ludahnya gugup. Wajah Junhyung benar-benar sangat dekat dengannya. Sementara itu, Junhyung mulai tersenyum simpul.

CLOSING TRACK : B2ST – BEAUTIFUL

TBC

 

NEXT IN ‘IDOL MAID’ TAKE 5:

Tak lama kemudian maneger Hong datang, ia terkejut begitu melihat keduanya tengah dalam posisi tersebut. “Apa yang kalian lakukan?” tanya maneger Hong. Junhyung terkejut dan langsung mendorong Jaejin dari tubuhnya. Jaejin terpental dan tubuhnya terjatuh kelantai.

“Haruskah aku mengatakan semuanya?”

“Ught…!!!” Gikwang tersedak susu pisang yang ia teguk, tidak sengaja ia menekan botol hingga air susu tumpah dan membasahi sebagian wajahnya.

“Nana” ucapnya bersorak riang. Jaejin menghentikan memijat pinggangnya dan melirik kearah pintu.

Gikwang berjalan dengan lemas menyusuri jalanan yang mulai sepi dimalam hari. Semua yang diucapkan Jaewon masih terdengar begitu jelas ditelingganya. Ia lantas menghentikan langkahnya dan terdiam didepan toko sepeda. Perlahan, ia membalikkan badannya dan menatap bayangan dirinya yang terpantul dari kaca toko.

Mata Jaejin membulat besar begitu ia melihat tangan Junhyung yang menyentuh rambut Nana dan membiarkan rambut itu tertahan oleh kuping Nana.

GREB!!! Jaejin meremas bungkus susu sekuat tenaga kemudian melemparnya dengan kesal kedalam tong sampah.

Jaejin terlihat pasrah dengan perlakuannya, merasakan kecupan lembut dibibirnya tersebut. Namun, kenapa ini rasanya begitu sesak didada?. Jaejin merasakan sesak yang sangat mendalam, tak lama kemudian setetes demi tetes cairan mulai membasahi pipinya.

“Pasti bukan dia kan? Heh…” gumamnya sedih.

Jaejin mengayuh sepedanya dengan cepat, ia kini telah melaju cukup jauh meninggalkannya. Tiba-tiba, Jaejin menghentikan sepedanya. Ia terdiam, terdiam dalam rasa yang entah kenapa ia merasa benci untuk ia rasakan saat ini. Jaejin kemudian memegang dadanya yang terasa sangat sesak untuk bernapas, ia menangis tersedu-sedu.

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “IDOL MAID (Take 4)

  1. Kya!!
    TBC mengganggu thor >_<
    d part ini seperti biasa adanya senyam-senyum sendiri🙂
    next part bikin penasaran, siapa yang nyium Jae Jin? Junhyung kah??
    terus knp tadi Gikwang kesedak??
    Next part buruan thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s