Our Love Like This (Part 8)

 

OLLT8

OUR LOVE LIKE THIS

AUTHOR        : @me_cahyaa
LENGHT         : Chapter
GENRE           : Love, Life, Romance, Sad (?)
CAST              : *Park HyeJin (OC)
*Lee Hyuk Jae/EunHyuk (SJ)
*Lee SungMin (SJ)
*Lee DongHae (SJ)
*Park Jung Soo/LeeTeuk/Teukki (SJ)
*Shin Yong Jie (OC)
*DLL..

Cuap Cuap Author :
Tarrraaaaaaaa!! Author gaje dateng lagi membawa FF kedua yang lebih gaje dari FF yang  pertama (7 years for love udah pada bacakan? #plaaak pengen banget dibaca lu thor.)😀 hehehe,
oh iya jangan kaget kalo tiba tiba ep’ep ini jadi membosankan, mohon dimaklumi soalnya saya masih sangat ‘AMATIR’😀 dan juga terima kasih Leader eonni KPDK yang udah setia ngepost FF saya😀 Tengkyuuuu
Sorry juga kalo TYPO masih seneng berkeliaran disini^^ kayanya udah deh cuap2nya dan oke..

HAPPY READING^^

 

 

 

CHAPTER 8

 

# AUTHOR POV #

Dengan gusar, hyejin melepaskan tangan hyuk jae yang melingkar dipinggangnya dan sedikit membuat sang pemilik tangan tersentak dan terbangun dari tidurnya, tapi hyejin tak memperdulikannya. Dengan langkah seribu, hyejin berlari cepat menuju kamar mandi.

Hyuk jae hanya bisa menyipitkan matanya melihat tingkah istrinya itu pagi-pagi begini yang sudah terlihat sangat aneh menurutnya.

“Huueeek, huweek” dari ranjangnya telinga hyuk jae dapat menangkap sedikit suara hyejin yang sedang muntah didalam kamar mandi.

Hatinya bergetar, hyuk jae sangat khawatir mendengar hyejin seperti itu. Lalu tanpa pikir panjang ia menghampiri hyejin yang tengah sibuk menundukkan wajahnya diatas wastafel.

“Huweeek, Huweeek” hyejin terus berusaha mengeluarkan isi perutnya yang memang sepertinya ingin keluar itu, sambil mencengkeram ujung wastafel.

“Ya~ gwenchana hyejin ah?” hyuk jae memijat leher istrinya itu sesampainya didalam kamar mandi.

“Molla” jawabnya singkat dan kembali muntah, walau tak ada yang keluar dari mulutnya itu sedikitpun.

“Kita kedokter sekarang” hyuk jae sedikit menarik pergelangan tangan hyejin sesudah hyejin sedikit agak tenang, tapi hyejin berontak dan melepaskan tangannya.

“Aniyo, aku baik baik saja oppa” jawabnya saat hyuk jae menatapnya dalam, penuh pertanyaan.

“Baik baik saja? Huh, kau gila heum? Sesudah muntah pagi-pagi seperti ini, kau bilang kau baik-baik saja?”

“Sudahlah oppa, aku tak apa. Mungkin hanya masuk angin biasa, nanti juga sembuh” hyejin tersenyum dan berjalan melewati hyuk jae.

“Baiklah, aku telepon choi uisa saja” ujar hyuk jae sambil berjalan mendahului hyejin dan beringsut mencari ponselnya lalu menekan beberapa kali pada layar ponselnya itu dan menempelkannya ditelinganya.

“Kenapa nomernya berada diluar jangkauan?” celoteh hyuk jae sendiri pada ponselnya itu. Sementara hyejin hanya bisa terkikik geli dengan tingkah suaminya itu.

“Hahah, oppa! Kau ini lucu sekali” hyejin tertawa sangat lepas melihat ekspressi sangat bingung dari suaminya itu.

“Eh? Apa ada yang salah?”

“Kau lupa jika choi uisa itu sedang ada di Beijing saat ini? Apa kau tak dikirimi pesan sebelum keberangkatannya dua hari lalu?” ucap hyejin sambil berjalan menuju pintu kamarnya.

“Aish! Aku lupa! Yasudah kalau begitu, kau harus kedokter sekarang”

“Ani oppa, naneun gwenchana. Lagipula apa oppa tak pergi kekantor heum? Sudah hampir siang” ucap hyejin lalu benar-benar pergi dari hadapan hyuk jae yang masih menatapnya bingung.

 

 

# HYEJIN POV #

Hyuk jae ya, jangan bertingkah seperti itu eoh. Kenapa kau begitu khawatir padaku? Aiish! Hyejin ya, ada apa denganmu? Bukankah kau mendambakan sosok hyuk jae yang seperti pagi ini heum? Yang selalu peduli padamu, perhatian padamu, dan selalu mengkhawatirkan dirimu?

“Yak~” gerutuku sambil menghentakkan gagang spatula yang sedang kupegang kepinggir meja kramik didepanku ini.

Entahlah, mungkin aku sedikit gila. Tapi sebenarnya saat ini, aku sungguh bingung. Memang aku sangat membutuhkan sosok hyuk jae yang seperti ini, tapi aku takut jika aku akan semakin mencintainya jika seperti ini,

Saat hyuk jae mengkhawatirkanku seperti  tadi, entah kenapa tiba-tiba bayang-bayang akan perceraian kami semakin jelas terlihat. Aku sungguh tidak siap jika harus kehilangan hyuk jae sekarang, tuhan apa yang harus kulakukan?

 

BREMM, BERMM (*suara knalpot mobil ceritanya)

Aku berlari kecil menuju jendela yang ada didapur ini yang langsung menyuguhkan pemandangan dari samping garasi rumah, dan lagi-lagi kulihat mobil milik hyuk jae sudah pergi dari sarangnya.

Hyuk jae, kau pergi lagi tanpa berpamitan padaku. Tanpa memakan sedikitpun sarapan yang telah susah payah kubuatkan untukmu.

“Akh” baiklah, sekarang jujur aku memang membutuhkanmu yang sangat peduli padaku.

 

Akupun melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda tadi –membuat sarapan-

Namun sepertinya aku harus menundanya lagi, karna dengan tiba-tiba rasa mual itu datang lagi menyerangku disaat yang benar-benar tidak tepat.

Aku berlari kecil menuju wastafel yang biasa kugunakan untuk mencuci piring, dan berusaha menumpahkan segala isi perutku dan menuruti keinginan tubuhku saat ini.

“Huweek, huwek, huuueek” akh kenapa tidak ada yang keluar sama sekali? Kenapa hanya air bening ini yang keluar? Isssh, menyiksaku sajah.

“Huweeeek, huweeek”

 

Malam harinya..

 

Seperti biasa rutinitasku setiap malam adalah duduk didepan televisi sambil menunggu hyuk jae pulang kerumah, sambil menunggunya akupun sedikit memijat keningku yang terasa sedikit sakit ini, aku juga tak tau dengan apa yang terjadi padaku hari ini karna memang sudah tak terhitung berapa kali aku muntah hari ini, begitu sering.

Kuambil remote tivi dan mengganti channelnya berulang-ulang hingga aku menemukan sebuah acara, seperti acara wisata kuliner.

“Sepertinya enak, apa itu? Mochi kacang merah?oh, makanan khas jepang itu” gumamku sambil tak lepas-lepasnya memandangi kedua kuliner yang terlihat sangat enak itu, hingga rasanya aku sangat ingin mencobanya.

“Bagaimana cara membuatnya? Apa mereka tidak memberitahu resepnya?” aku terus memperhatikan tayangan itu hingga habis dan membuatku sedikit kecewa karna mereka tak menanyangkan bagaimana cara membuat makanan khas jepang itu, sial! Padahal aku ingin sekali mencobanya.

 

“Hyejin ah, kenapa serius sekali?” suara berat itu menyadarkanku saat ini, aku sedikit terkejut melihat mereka berdua –sungmin, hyuk jae- sudah ada dibelakangku.

“Eo, oppa? Sudah pulang tumben?” tanyaku sambil bangkit dari posisiku.

“Ne” jawabnya singkat.

“Aaa~ sungmin oppa? Kenapa tidak bilang-bilang jika kemari? Kan aku bisa memasakkan sesuatu untukmu” ucapku sambil menghampirinya –berusaha membuat hyuk jae cemburu- tapi sepertinya hasilnya nihil, karna hyuk jae lagi-lagi asyik sendiri dengan gadget nya itu.

“Eo hyejin ah, aku juga sebenarnya tidak berniat kemari. Tapi tadi tiba-tiba ban mobilku kempes dan terpaksa aku menebeng dengan hyuk jae hyung dan ternyata dia membawaku kemari” jawabnya sambil tersenyum lebar.

Setelah kejadian malam itu, dimana sungmin oppa mengutarakan isi hatinya padaku. Aku dan dia berusaha untuk senormal mungkin dan bersikap seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.

“Tapi apa benar kau tidak memasak hari ini?” tanyanya lagi sambil menengok kearah dapur.

“Tidak, karna itu hanya membuatku membuang makanan saja setiap harinya” jawabku sambil melirik kearah hyuk jae oppa yang masih setia dengan ponsel ditangannya.

“Memangnya kau belum makan oppa?” sungmin oppa hanya menggeleng.

“Akh, kalau begitu biar aku masakkan sesuatu untukmu” lanjutku.

“Tidak usah hyejin ah, emm apa kau ingin makan sesuatu diluar sana? Dari tadi kuperhatikan kau seperti sedang tersihir oleh acara wisata kuliner itu”

“Eh? Heheh” jawabku malu-malu

 

# HYUK JAE POV #

“Memangnya kau belum makan oppa?” cih, apa-apaa kau hyejin ah? Menanyakan sungmin seperti itu? Sementara aku? Kau hiraukan begitu saja, apa kau sudah bosan menanyakan kata-kata itu padaku?

Isssh! Hyuk jae ya, ada apa denganmu? Ada apa ini? Kenapa aku sedikit kecewa? Eh ralat, lebih tepatnya aku cemburu dengan adikku sendiri, kenapa kau begitu perhatian padanya?

Ah baiklah, aku mengaku jika selama ini aku selalu mengabaikan perhatian yang kau berikan padaku selama ini. Tapi? Apa kau akan menghentikan semuanya? Kau akan mulai mengabaikanku hyejin ah?

Kurasa aku tidak siap untuk menerima sikapmu yang seperti itu.

Baiklah aku memang egois, sangat egois bahkan. Aku selalu menginginkan perhatianmu itu tapi aku sendiri tak pernah memperhatikanmu, dan bahkan aku selalu mengabaikan setiap perhatianmu padaku.

Maafkan aku, itu karna aku takut jatuh cinta padamu hyejin ah. Aku takut jika kita berpisah nanti, aku tak bisa melepasmu walaupun kini aku masih mencintai yong jie, tapi jujur saja rasa cintaku sedikit memudar padanya. Entah lah aku juga tidak tau mengapa bisa begitu.

“Hyung, boleh aku pinjam mobilmu sebentar? Aku ingin makan diluar dengan hyejin” suara sungmin itu menyadarkanku untuk kembali dari dunia perlamunanku.

“Hanya berdua? Kenapa tidak mengajakku?” jawabku sambil menatap hyejin yang sudah siap dengan mantel cokelat yang sedang dipegangnya.

“Eum? Memangnya kau mau ikut oppa? Kalau begitu, kita pergi bertiga saja” ujar hyejin sambil mengembangkan senyumannya.

“Cha, kajja” ujarku semangat karna memang aku juga belum makan.

“Yaaa~ baiklah bertiga” sahut sungmin lalu berjalan menuju pintu dan aku juga hyejin hanya membuntutinya dibelakang.

 

 

“Yak! Monster! Apa yang kau lakukan disini?” pekik sungmin kaget saat membuka pintu rumah dan akupun dapat melihat sesosok wanita yang tengah tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.

“Oppa, kalian mau kemana? Seperti ingin keluar?”

“Ada apa kau kemari?” tanyaku padanya yang sudah menyerobot masuk dan memelukku tiba-tiba. Kulihat hyejin hanya memalingkan wajahnya dariku dan berjalan menghampiri sungmin.

“Jika kalian ingin pergi, aku ikut”

 

 

@MOBIL

Sesekali kulihat hyejin sedang bercanda dan terkikik kecil bersama sungmin dari kaca kecil yang ada di dashboard (*bener gak sih tulisannya?). Dikursi belakang, sementara aku hanya bisa fokus pada jalanan didepan agar kami bisa pulang dengan selamat.

“Huweeeek, huweeek” kulihat lagi kini hyejin sedang membekap mulutnya sendiri sembari mengusap-usap perutnya dan dengan spontan aku menginjak pedal remnya.

“Berhenti hyung” teriak sungmin, lalu setelah berhenti hyejin dengan cepat keluar dari mobil yang disusul oleh sungmin dan juga aku tentunya.

“Huweek, huwekk, huwek” hyejin ada apa denganmu? Apa seharian ini kau selalu muntah seperti ini?

“Hyejin ah, kau sakit?” tanya sungmin sambil mengelus-elus punggung hyejin sementara aku sibuk memijat tengkuknya.

“Ani, gwenchanayo” aku kesal sekali dengan wanita ini, sudah jelas-jelas jika dia sakit. Tapi masih saja mengelak.

“Hyejin ah, kau benar-benar sakit sekarang. Kajja kita kerumah sakit” ujarku dan lagi-lagi wanita ini menggeleng.

“Kau harus periksakan kesahatanmu” ucap sungmin.

“Oppa, hyuk jae oppa. Sudahlah tinggalkan wanita kampung itu, mungkin dia hanya mabuk kendaraan saja. Dasar norak!” suara melengking khas milik yong jie terdengar menyakitkan bagi siapa saja yang mendengar.

“Berhenti mencercanya MONSTER!” bentak sungmin sambil menatap yong jie yang masih berada didalam mobil.

“Ya! Oppa, biarlah tinggalkan mereka. Kajja kita makan! Aku sudah lapar” yong jie terus merengek dari sana, akupun bingung, siapa yang harus kupilih saat ini?

“Pergilah hyung, urusi monstermu itu” ujar sungmin.

“Tapi.. hyejin” jawabku.

“Sudahlah oppa, biar aku bersama sungmin oppa saja”

“Ne, biar aku menelpon taxi saja” aku terus menatap hyejin yang sedang terlihat sangat lemah saat ini.

“Pergilah oppa, jangan membuat kekasihmu itu marah padamu” ucapnya dengan sangat lembut, oh hyejin ah sekali lagi maafkan  aku.

Lalu dengan berat hati, kutinggalkan mereka berdua dan menuju mobilku lalu melanjutkan perjalanan kami.

 

 

# HYEJIN POV #

Didalam taxi ini hanya ada kesunyian, sungguh berbeda dengan suasana yang ada didalam mobil tadi saat kita masih bersama. Entahlah mungkin sungmin oppa, dia sudah bosan membuat lelucon dan sepertinya dia terdiam seperti itu karna lapar? Oh, maafkan aku oppa. Karna aku kau jadi harus telat makan malam.

“Hyejin ah, kajja sudah sampai” ucap sungmin oppaa lembut sambil mengenggam tanganku agar segera mengikutinya. Aku hanya tersenyum lalu keluar dari taxi bersamanya.

“Ahjussi, tunggu sebentar ne” ujarnya pada supir taxi itu agar dia mau menunggu kami.

Lalu setelah itu berjalan memasukki rumah sakit yang terbilang cukup elit bahkan mungkin nomor satu di Seoul ini, setelah berbicara pada resepsionist, lalu akupun masuk kesebuah ruangan dan sungmin oppa hanya menunggunya diluar.

Seorang dokter perempuan, dia tersenyum manis padaku. Dia sangat cantik pikirku dalam hati, lalu akupun sedikit berkonsultasi dengan apa yang kurasakan akhir-akhir ini, seperti mudah lelah dan mudah sekali muntah tanpa sebab.

Dokter cantik yang memakai name tag ‘Kim Taeyeon’ itu hanya tersenyum penuh arti mendengar semua penuturanku tanpa membuka suaranya sedikitpun.

“Apa kau sudah menstruasi bulan ini?” tanya-nya, eh benar juga aku belum menstruasi padahal sudah tanggal 3 bulan april dan aku ingat jika sebulan kemarin aku belum menstruasi.

“Be..belum dok” jawabku takut-takut.

“Sus, tolong panggilkan suaminya diluar” ujar dokter itu pada asistennya dan memanggilkan sungmin oppa dan dokter itu menganggap jika sungmin oppa adalah suamiku. lalu tak berapa lama dia datang menghampiri kami berdua.

“Ada apa dok? Dia sakit apa?” tanya sungmin oppa begitu khawatirnya padaku.

“Selamat, sepertinya nyonya hyejin sedang hamil” jawab dokter taeyeon sambil tersenyum pada kami berdua, sementara aku hanya bisa terkejut dan bahagia pastinya.

“Benarkah?” tanya sungmin oppa sambil tersenyum senang.

“Eum, tapi ini masih menurut pengamatan saya. Karna hasil lab belum bisa turun segera, kira-kira hasilnya akan turun besok dan kami akan mengantarnya kerumah anda, lalu nyoya hyejin bisa memastikannya dengan alat ini terlebih dulu” jawab dokter ini sambil memberikan alat, seperti Test pack.

Akupun mengambil benda yang masih terbungkus plastik itu, lalu kurasakan tangan sungmin oppa menggenggam tanganku. Akupun menatap wajahnya yang sedang tersenyum sumbringah.

“Baiklah, terima kasih dok. Kami permisi dulu” lalu setelah itu kami beranjak pergi dari ruangan itu.

 

 

@RUMAH

Perlahan kubuka mataku untuk melihat hasil dari benda ini, dag dig dug rasanya.

Benda itu menunjukkan dua buah garis merah yang terlihat sangat jelas, dengan segera kulihat bungkus benda itu dan membacanya dengan perlahan.

“Muncul satu garis, tandanya tidak hamil atau negatif” seruku lalu membaca petunjuk berikutnya,

“Muncul dua garis merah tandanya positif hamil”  aku tersenyum membacanya, jadi benar aku hamil? Oh tuhan terima kasih. Tapi itu tandanya tiga tahun sembilan bulan lagi aku berpisah dengannya.

 

Perlahan aku memutar knop pintu kamar mandi dan betapa terkejutnya saat mendapati sosok sungmin oppa sedang berdiri sambil berjalan bolak balik didepan kamar mandi, apa yang dia lakukan? Apa dia mengkhawatirkanku?

“Oppa, apa yang sedang kau lakukan?” seruku yang membuatnya menghentikan langkahnya lalu menatapku sambil tersenyum lebar.

“Hyejin ah, ottokhe? Hasilnya positif atau negatif?” tanyanya, lalu tanpa menjawab akupun memberikan alat itu padanya. Dan sedetik kemudian senyuman itu kembali tersirat diwajahnya.

Sungmin oppa memelukku, memberikan selamat atas kehamilanku. Tapi lagi-lagi aku harus merasakan sakit itu menyerang hatiku, kenapa disaat moment membahagiakan seperti ini hyuk jae tak ada disampingku? Dan kenapa bukannya suamiku sendiri yang mengetahuinya pertama kali? Kenapa harus sungmin oppa?

Airmataku mengalir begitu saja, aku menangis dalam pelukan sungmin oppa. Sebenarnya aku sama sekali tidak mau menangis disaat yang seperti ini, sungguh aku sangat bahagia sekarang. Saat ini bahkan begitu bahagia akhirnya aku akan menjadi seorang ibu, tapi hanya saja aku sedikit kecewa.

“Hyejin ah, kenapa menangis? Kau tidak senang?” tanyanya, aku menggeleng dengan cepat.

“Ani oppa, aku sangat sangat bahagia. Hanya saja….”

“Arraseo, tapi ini adalah moment yang pas untuk membuat kejutan dihari ulang tahunnya besok” ah, aku baru ingat jika besok tanggal 4 april hari ulang tahun hyuk jae oppa.

“He’um kau benar oppa” jawabku sambil tersenyum senang.

“Cha, kalau begitu kajja kita makan” ujarnya sambil menarik tanganku menuju ruang makan yang sudah tersusun rapi beberapa makanan yang sengaja kami beli dijalan tadi.

++++

“Hyeji ah, kenapa kau murung begitu?” tanya sungmin oppa, saat aku mengantarnya sampai depan pintu rumahku karna dia ingin pulang kerumahnya.

“Oppa, itu tandanya waktuku tinggal 3 tahun 9 bulan lagi bersama kalian” jawabku sambil tersenyum sendu dan berusaha menahan airmataku yang mendesak ingin keluar.

“Sudahlah, jangan pikirkan itu. Lagipula bukankah kau bahagia? Karna sebentar lagi kau akan terlepas dari semua siksaan yang hyuk jae berikan padamu”

“Hyuk jae oppa, dia tak pernah menyiksaku” jawabku berusaha membelanya.

“Sudalah terserahmu saja, hehe aku pulang sekarang. Jaga kesehatanmu supaya aegy-mu itu bisa berkembang dengan baik ne”

“Ne oppa, Jaljayo”

 

 

>>>><<<<

 

# AUTHOR POV #

Hyuk jae berjalan dengan cepat menuju kamarnya, mencari sosok yang sejak tadi dia khawatirkan. Saat membuka pintu, hyuk jae pun tak melihat siapapun disana dan dengan cepat, hyuk jae berjalan menuju kamar tamu dan benar saja hyejin tengah tertidur lelap disana.

Perlahan, hyuk jae menghampiri sosok mungil itu. Dia duduk dipinggir ranjang dan tersenyum lalu mengusap kening hyejin sambil bergumam.

“Kau tak menungguku” gumamnya, karna memang biasanya hyejin selalu menunggu hyuk jae meski sudah diperingati hyuk jae untuk tak menunggunya pulang dan kali ini hyejin menurut. Tapi hyuk jae sedikit kecewa.

Gerakan tangan hyuk jae diwajahnya itu membuat hyejin terbangun dari tidurnya.

“Oppa” hyuk jae tersentak, dan dengan cepat menarik tangannya dari wajah hyejin.

“Eum, mianhae membuatmu terbangun” jawabnya sambil tersenyum manis. Hyejin hanya mengangguk,

“Dokter bilang, kau sakit apa?” tanya hyuk jae lagi.

“Entahlah, hasil lab belum keluar oppa” jawab hyejin sambil beranjak dari posisi tidurnya, mengikuti hyuk jae duduk dipinggir ranjang.

“Apa sakitmu begitu parah? Hingga harus menunggu hasil lab?” tanya-nya lagi dengan nada yang sangat khawatir.

“Molla” jawab hyejin dengan nada datarnya berusaha menyembunyika tawanya karna melihat hyuk jae yang sangat khawatir padanya.

Hyuk jae menghela nafas berat lalu berdiri dari duduknya sambil menarik tangan hyejin.

“Eh? Ada apa oppa?” hyejin sedikit tersentak dengan tingkah hyuk jae yang tiba-tiba menariknya untuk berdiri.

“Apa kau tidak mau tidur bersamaku lagi?” tanya hyuk jae sambil menatap dalam kedua bola mata hyejin, sementara hyejin hanya dapat tersipu malu. Lalu menggeleng.

“Biarkan aku tidur disini malam ini, hanya malam ini oppa” jawabnya sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merona karna bahagia.

“Haaaah, baiklah kalau begitu aku juga akan tidur disini” ujar hyuk jae sambil melepas kemejanya lalu membuangnya sembarangan lalu naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya.

“Yak oppa, kenapa begitu?” hyejin masih enggan menujukkan wajahnya itu didepan hyuk jae.

“Tidurlah sudah malam, pipi tomatmu itu tak perlu kau sembunyikan lagi. Aku sudah melihatnya kekekke” jawab hyuk jae, yang membuat hyejin berdecak kesal lalu ikut merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi hyuk jae.

“Membelakangiku lagi?”

“Tch, tidurlah oppa. Sudah malam, kau pasti lelah sehabis berkencan dengan kekasihmu itu” jawab hyejin dengan nada kesalnya.

“Kau cemburu?” kini hyuk jae sudah berhasil menggoda istrinya itu lalu menempelkan dagunya dipundak hyejin.

“Ani. Aku tak cemburu!” jawab hyejin sambil menggoyangkan pundaknya agar wajah hyuk jae terjatuh dan itu berhasil.

“Yak! Kau” belum sempat hyuk jae melanjutkan kata-katanya tapi ponselnya itu sudah berdering. Dengan malas hyuk jae meraih ponselnya itu dan menjawab panggilan yang masuk.

“Yeobseo yong jie ya”

“Sangiel Cukkae hamnida oppa, saranghae ”

“Ne, gomawoyo chagi. Nado Saranghae” seperti tertusuk duri tajam hati hyejin saat mendengar hyuk jae mengucapkan kata-kata itu pada wanita lain, sementara padanya? Sekalipun tak pernah.

Lalu hyejin melirik jam weker yang ada diatas nakas disampingnya itu, jam itu menunjukkan pukul 00.03 yang berarti sekarang tanggal sudah berganti menjadi tanggal 4.

Hyejin hanya tersenyum kecut, dan menahan bibirnya agar tak memberi ucapan selamat ulang tahun pada hyuk jae.

“Hyejin ah, kau lupa sesuatu?” tanya hyuk jae tiba-tiba setelah meletakkan kembali ponselnya itu.

“Ani” jawab hyejin santai sambil menahan kekehannya saat mendengar hyuk jae mendengus.

‘Yak! Hyejin ah, kau tidak tau hari ulang tahunku heum? Issssh. Menyebalkan. Tapi yasudahlah’ gerutu hyuk jae dalam hati lalu menarik selimut dengan kasar sementara hyejin hanya tersenyum geli melihatnya.

 

 

 

 

TBC…
RCL PLEASE.

Karna saya masih sangat ‘Amatir’ Jadi saya mohon Tinggalkan KRITIK dan SARAN anda disini.
Itu sangat membangun saya J terima kasih *BOW

 

 

22 thoughts on “Our Love Like This (Part 8)

  1. Woaa~
    akhirnya epep paporit.ku muncul juga!!
    Tadi pagi, trs tadi siang nengok2 ke KPDK nyari epep ini tapi belum muncul2 dan skrng akhirnya muncu kya seneng kelimpungan😀 #maafkan reader.mu yg alay ini thor dh ngemeng gag jelas, padahalkn aku blm baca epep.nya ini ngoment dlu memastikan aku pertama ngebuka ini..
    Nanti aku koment lg stlh baca thor😉

  2. Kya dikit amat thor??😦
    Sungmin Oppa aku seSuju dgn.mu kalau Yong Jie itu “MONSTER” iuuh merusak suasana saja!!
    Yee nanti bakal ada dedek bayi untuk menemani Hyejin, huu Hyuk Jae tak usah diberi kejutan yg diberi kejutan aku saja Hyejin unni karna aku ultah.nya jg tgl 4April #apadah
    rasanya dipart ini pengen mukul Hyuk Jae dh, entah knp..
    Next part cepetan thor, bsok kalau bisa hehe

  3. lalala……yeyeye
    tadi aku ksel bnget gara” g bisa buka kpdk cman buat cari Our Love Like This….tapi sekarang q sneng bnget karna part 8 dah keluar…..
    Lanjut………..Thor

  4. ko perasaan dikit amat yak thor? kayak lagi baca pamflet sekelebatan doang wakakakakak tau tau abis gitu lo thor ajaiiiiiiiiiiiibbbbhhh

  5. Yang aku tunggu, saat dimana Hyuk menyadari kalau dia mencintai HyeJin dan melupakan Monster jadi-jadian Yong Jie.

  6. Akhirnya Hyejin hamil juga..Hyuk mulai lope2 nih sm Hyejin..suka-suka😉
    Gmn ya reaksinya Hyuk nti dpt suprise..next partnya lanjut min😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s