IDOL MAID (Take 3)

 

IM3

Title : Idol Maid

Leght : Chapter

Rate : M

Casts :

Kwon Jaejin

Yong Junhyung

Lee Gikwang

Gendre : Comedy romance

Author : ssha

 

Junhyung terdiam, ketika ia mendengar suara tersebut. Jangan-jangan…?? Dengan ragu, Junhyung menolehkan kepalanya kebelakang, dan saat yang bersamaan Jaejin menatap Junhyung kesal, namun pandangannya seketika berubah. Keduanya terkejut.

NEO!!!!!!!!!!” pekik mereka bersamaan.

IDOL MAID

TAKE 3

“Astaga” Junhyung meringis begitu melihat bekas merah dari telapak tangan Jaejin yang mendarat mulus di pipi kanannya. Ia kemudian menjauhkan cermin dan mengertakkan gigi kesal seraya melempar cermin dengan lebih kesal lagi.

“Tidak seharusnya aku bertemu dengan monster itu” ucap Junhyung frustasi seraya menjambak rambutnya sendiri.

“Ah!! Sakit!!!” ringisnya berteriak begitu ia menjambak rambut dengan keras.

Junhyung lantas berdiam diri dan melirik arlojinya, sudah sekitar 2 jam ia ditinggal sendiri oleh maneger Hong diparkiran yang tengah mengantar Jaejin berobat. Junhyung mengendus kesal, ia kemudian memutar kepalanya kesamping dan disaat bersamaan seorang gadis tengah membuang poster mini Junhyung yang semula berada ditangannya. Junhyung membelakakan matanya dan semakin shock ketika gadis itu menginjak-injak wajahnya dengan sekuat tenaga dan sangat kesal, ah bukan kesal nampaknya! Tebih tepat kata ‘benci’ yang tergambar dari wajah gadis itu, reflex Junhyung memegang wajahnya khawatir segaligus panik.

Diluar sana, nampak maneger Hong tengah memopong Jaejin yang kini berjalan menggunakan salah satu tongkat. Terlihat kaki kirinya sedikit diperban. Maneger Hong tersenyum datar begitu melihat balutan kain putih di kaki Jaejin.

“Aku harus pulang sekarang” keduanya menghentikan langkah di depan pintu masuk rumah sakit. Maneger Hong melepaskan tangannya di kedua bahu Jaejin, Jaejin sedikit membungkukkan tubuhnya tanda memberi hormat kemudian berjalan dengan hati-hati.

“Ah! Nona tunggu” Jaejin menghentikan langkahnya begitu maneger Hong berjalan kearahnya.

“Wae?”

“Hanya orang jahat yang akan membiarkanmu pulang dengan mengenaskan seperti ini”

“Maksudmu?”

“Akan aku antar kau pulang”

“Mengantar ku pulang?” Jaejin memastikan. “Tapi bagaimana dengan sepeda…?” Jaejin sedikit ragu. “Bagaimana dengan sepedaku?”

“Hahaha” PLAK!! Jaejin sedikit tersedak begitu tangan gemuk maneger Hong mendarat dibahunya.

“Jangan khawatir, meskipun sepedamu sedikit rusak tapi aku sudah membawanya ke tukang servise”

“Rusak?!?” Jaejin tersontak terkejut begitu mendengar salah satu kata dari mulut maneger Hong.

“Kau tidak perlu khawatir. Dalam 2 hari sepedamu akan kembali pulang dengan manis…” maneger Hong tersenyum dengan lebar didepan wajah Jaejin.

“Iya.. iya… pulang dengan manis” timpal Jaejin lemas dengan senyum dipaksakan.

***

O.O” Jaejin mematung begitu melihat siapa orang yang ada didepannya sekarang. Ia segera mengambil ancang-ancang untuk pergi.

“Lebih baik aku pulang sendiri”

“Eits” maneger Hong mencegahnya dan membuat Jaejin sedikit kesakitan karena cengkraman ditangannya.

“Ini tumpangan gratis. Hilangkan gengsimu sesaat”

“Aku tidak mungkin pulang bersamanya kan?” tanya Jaejin berbisik pada maneger Hong.

“Aku rasa tidak begitu” maneger Hong memutar tubuh Jaejin dan menghadapkannya pada orang didalam mobil sana. Junhyung, yang kini tengah tersenyum bodoh padanya.

GRKKK…!!! Jaejin menelan ludahnya sendiri dengan konyol.

Beberapa menit kemudian didalam mobil…

“Seharusnya kau bilang jika kau seorang artis jadi aku tidak akan menamparmu seperti tadi” ucap Jaejin membela diri. Junhyung membuka mulutnya dan bersiap beradu mulut dengan Jaejin.

“Jika kau bicara lebih jelas mungkin aku akan meminta izin padamu. ‘Bolehkan aku menamparmu?’” Junhyung segera menutup mulutnya begitu Jaejin mendahuluinya bicara. Jaejin terdiam dan menarik napas, kali ini Junhyung kembali buka mulut.

“Aku tahu… kau seorang artis, tapi bisakah kau bersikap lebih wajar lagi?” Jaejin menengok dan menatap Junhyung yang masih membuka mulutnya.

“Bukan… bukan seperti itu! Hash… kenapa kau bisa jadi seorang artis?” umpat Jaejin kesal begitu melihat ekspresi wajah Junhyung.

“K-kau…”

“Sebenarnya jika tadi kau tidak menabrakku seharusnya aku bertemu dengan temanku yang aku acuhkan di sungai Han. Aku menyesal telah meninggalkan si bodoh itu” Jaejin sedikit tertunduk lemas.

“Tapi aku juga kesal karena dia telah mengacuhkan perasaanku. Orang seperti itu tidak pantas diampuni kan?” tanya Jaejin pada Junhyung yang kini bagaikan pendengar baginya.

“Ya, tidak pantas dimaafkan” jawab Junhyung tersedak keadaan.

“Kau sependapat denganku.”

“Aku juga….”

“BISAKAH KAU BERHENTI BICARA?” Jaejin tersontak terkejut begitu mendengar bentakkan Junhyung. Ia terdiam dan menatap Junhyung heran.

“DARI TADI KAU BICARA TERUS!!! APA KAU FIKIR AKU TIDAK MUAK MENDENGAR CERITA YANG TIDAK KUKETAHUI ITU???!!!”

“Kenapa? Kenapa kau marah-marah padaku?” tanya Jaejin nyolot.

“ITU KARENA KAU TIDAK BISA MENUTUP MULUTMU!!!”

“Hah… jadi hanya karena itu? Lalu.. lalu apa yang tengah kau lakukan sekarang?” Jaejin mengangkat-angkat dagunya dan mendekatkan wajahnya pada Junhyung.

“KAU BICARA SEKENCANG ITU PADA SEORANG WANITA. JIKA SEMUA ORANG TAHU APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU APA YANG AKAN MEREKA FIKIRKAN TENTANGMU!!???”

“APA ITU MASALAH UNTUKMU?” tanya Junhyung sewot.

“YA!! ITU MASALAH UNTUKKU!!!”

“DASAR KEPO!!!”

“Eeehhh~~?” Jaejin mengernyit begitu mendengar kata yang baru saja diucapkan Junhyung.

“Kau alien dari mana?” tanya Jaejin pelan.

“AKU BUKAN ALIEN!!” teriak Junhyung kesal.

“TIDAK PERLU BERTERIAK SEPERTI ITU PADAKU!!!”

“PERGILAH DARI SINI!”

“BAIK AKU AKAN PERGI!!!!!” dengan kesal Jaejin membuang pandangannya dari Junhyung dan bersiap membuka pintu mobil yang tengah melaju. Namun, sesaat kemudian.

CITTT!!!!!!!!!

“BISAKAH KALIAN DIAM?!!!” tubuh Jaejin dan Junhyung terhempas kedepan, maneger Hong tiba-tiba mengerem mobil dengan kasar. Ia nampak kesal dengan perdebatan kedua mahkluk dibelakangnya.

“Hash… Jidatku!” Junhyung meringis kesakitan begitu merasakan jidatnya terpentok jok kemudi. Jaejin melirik Junhyung iba.

 

“Terimakasih karena telah mengantarku.” Jaejin menundukkan wajahnya tanda memberi hormat pada maneger Hong. Ia lantas melirik sesaat Junhyung yang masih mengusap-usap jidatnya.

“Pergilah kesalon dan potong rambutmu. Kau terlihat cantik dengan poni panjangmu itu!” Jaejin tersenyum jahil begitu ia melihat ekpresi Junhyung yang kesal dan seakan akan memakanya hidup-hidup.

“Enyahlah dari hadapanku!!!”

Arraseo!!!” dengan kesal Jaejin lantas turun meninggalkan mobil van sedikit geram. Junhyung tersenyum tidak percaya ia dapat bertemu dengan seorang gadis macam Jaejin. Maneger Hong kemudian melirik Junhyung sesaat.

“Apa jidatmu masih sakit?” tanyanya polos.

“KAU SAMA SAJA DENGAN MONSTER ITU! MERUSAK WAJAH TAMPANKU PELAN-PELAN! APA KALIAN INGIN MEMBUAT WAJAHKU JADI PENYOK?”

“Hash.. karenamu jidatku jadi berdenyut kesakitan” jawab Junhyung kesal. Maneger Hong hanya terkekeh mendengar jawaban Junhyung, ia kembali menginjak gas dan melajukan mobil meninggalkan rumah Jaejin. Junhyung mengedarkan pandangannya, dan saat ia melihat ke jok sebelah, ia melihat secarik kertas yang tertinggal disana.

***

“Aish…!” Jaejin segera menutup wajahnya yang terlihat kecewa sekaligus menahan malu begitu ia melihat sepeda yang ada didepan rumahnya. Disampingnya, Gikwang nampak begitu tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat kali ini.

“Jadi ini yang akan kau tunjukkan padaku?” Jaejin segera menjauhkan tangan dari wajahnya dan menatap Gikwang.

“Sungguh, bukan aku yang memilih semuanya.”

“Warnanya, bentuknya, motifnya. Astaga! Semua ini ditujukan untuk seorang yeoja” Gikwang nampak kesal dan sedikit marah.

Arraseo” jawab Jaejin lemas begitu ia meratapi nasib sepeda Gikwang yang kini berganti dengan sebuah sepeda berwarna pink menyala dan sedikit motif bunga tersebut.

“Aku kira ini masih bisa dipakai. Sepedanya masih baru”

MICHYEO!!!” Jaejin segera menutup kupingnya

“Kau benar-benar marah padaku?”

“TENTU SAJA AKU MARAH! SETELAH KAU MENINGGALKANKU DI SUNGAI HAN SEORANG DIRI, MENCURI SEPEDAKU BEGITU SAJA DAN AKU HARUS PULANG BERJALAN KAKI KARENA DOMPETKU TERTINGGAL DI RUMAH!!!”

“Akhir-akhir ini kenapa pria selalu membentak wanita? Apa otak mereka sedang konslet?” umpat Jaejin. Gikwang menarik napasnya dan mencoba sedikit bersabar. Jaejin berdecak kesal dan mengertakkan giginya.

“Toh sepeda ini masih bisa berjalan. Akan lebih baik jika kita mencobanya, kau mau ikut denganku?” tawar Jaejin seraya berjalan mendekati sepeda.

“Kau ingin mempermalukanku dengan konyol? Lupakan saja!!!” Jaejin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Gikwang.

“Hash… lebih baik aku pulang saja” Gikwang kemudian mengambil langkah meninggalkan Jaejin. Namun Jaejin menahan Gikwang dan menyuruhnya untuk tetap diam disini.

“Untuk apa? Untuk meratapi bersama perginya sepedaku yang malang dan merayakan sepeda barumu ini?”

“Kita bisa membeli yang baru.”

“Membeli yang baru? Bahkan untuk makanpun kau masih meminta pada ibumu. Bagaimana kau bisa membantuku membeli sepeda yang baru” Jaejin terdiam mendengar ucapan Gikwang.

“Kau benar” ucapnya lemas kemudian melepaskan cengkramannya ditangan Gikwang. Gikwang membuang pandangannya dari Jaejin yang kini tengah termenung.

“Akan ku fikirkan cara lainnya” ucap Jaejin semakin lemas. Gikwang menoleh dan melihat Jaejin yang berjalan sempoyongan kedalam rumahnya. Gikwang bingung melihat Jaejin yang berlalu begitu saja darinya.

Jaejin-ah? Gwenchanayo?” Gikwang memastikan, namun Jaejin tidak menjawabnya dan terus melanjutkan langkahnya hingga ia menghilang dari pandangan Gikwang.

“Anak itu” endus Gikwang frustasi. Ia nampak semakin frustasi begitu melihat sepeda berwarna pink yang nampak begitu feminim dihadapannya.

“Lupakan saja! Kau bukan sepedaku. Jangan bersikap manis seperti itu padaku!!!” ucapnya pada sepeda kemudian berlalu meninggalkan sepeda seorang diri.

***

“Aku harus pergi kekampung, orang tuaku sedang sakit. Bisakah kau mengizinkanku untuk pulang?” Junhyung terdiam begitu mendengar ucapan pembantu dirumahnya.

“Apa sakitnya begitu parah?”

“Ayahku selalu merasa sakit disekitar dadanya”

“Begitu, lumayan juga ya. Baiklah, hari ini kau boleh pulang. Mintalah pada Hong Hyung untuk gajimu selama sebulan ini”

“Benarkah? Terimakasih” dengan sangat gembira wanita itu membungkukkan badannya pada Junhyung kemudian berlalu meninggalkan Junhyung yang sedang bersandar dengan santai di sofanya.

TRENG! Junhyung menoleh begitu pintu terbuka, dan seorang bertubuh gembul datang menemuinya.

Hi! Brother! Are you okay?” mereka lantas hi five bersama.

“Apa kau sedang les bahasa inggris? Pelafalamu ok juga”

“Hahaha.. tidak juga” jawab maneger Hong kemudian ia duduk disamping Junhyung. Ia mengeluarkan sebuah burger dari kantong kresek dan mulai melahapnya.

“Bibi Choi akan pulang” terang Junhyung.

“Apa?!” pekik maneger Hong yang hampir memuntahkan isi mulutnya. Ia menatap Junhyung antusias kemudian mengunyahnya dengan cepat lantas menelannya.

“Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumah yang akan ia tinggalkan?”

“Itulah masalahnya. Tidak mungkinkan jika aku yang melakukannya seorang diri.”

“Kalau begitu cari pembantu baru”

“Kau yakin?” tanya Junhyung ragu.

“Akan aku carikan dia sekarang juga” maneger Hong kemudian bersiap pergi meninggalkan Junhyung, ia melirik Junhyung yang sama sekali tidak tertarik dengan burger yang dibawa olehnya. Dan diam-diam ia kembali membawa 2 bungkus burger tersebut.

Junhyung terdiam dan memikirkan sesuatu. Ia tersenyum begitu mengingat sebuah secarik kertas yang sempat tertinggal di jok mobil.

“Aku tahu siapa orangnya!” teriak Junhyung bersemangat pada maneger Hong. Maneger Hong terkejut kemudian menghentikan langkahnya.

***

“APA?!?!?!” Jaejin tepekik sangat terkejut begitu usai mendengar penjelasan maneger Hong padanya.

“Tidak… kau bercandakan? Kau tahu? Aku sudah mengutuk diriku sendiri agar tidak bertemu dengan orang itu?”

“Masalahnya jika dibiarkan begitu saja ia bisa mati kelaparan nanti. Ia tidak bisa memasak, membereskan rumah, menyuci baju, mencuci piring, dan pekerjaan rumah tangga lainnya”

“Itulah sebabnya seorang idola harus dilatih mengerjakan pekerjaan rumah”

“Mereka dilatih untuk menjadi seorang bintang bukan seorang pembantu, Nona manis…”

“Hahaha kau benar juga” Jaejin salah tingkah.

“Lalu bagaimana? Hanya beberapa bulan. 6 bulan, ah tidak! 4 bulan, bukan. Mungkin hanya 2 bulan” tawar maneger Hong.

“Menjadi pembantu baginya sama saja jika aku harus menjadi mangsa seekor harimau”

“Jadi kau tidak mau?”

“Tentu saja aku tidak mau” tolak Jaejin mentah-mentah. “Apa didunia ini tidak ada pekerjaan yang lebih keren selain menjadi pembantu bagi orang arogan seperti dia?” Jaejin mengambil tasnya yang disimpan diatas meja dan beranjak dari duduknya.

“Jika berubah fikiran kembalilah dalam kurun waktu 5 detik!”

“5 detik yang mustahil. Heh” Jaejin mengernyit meremehkan. Ia lantas pergi meninggalkan maneger Hong yang tengah melahap daging steak dengan lahapnya.

“Yang gila saja, pembantu dirumahnya. Aku bisa mati kutu menghadapi orang seperti dia” dengan kesal Jaejin pergi keluar meninggalkan restoran.

1 detik… Jaejin menunggu lampu merah menyebrang jalan.

2 detik… Jaejin terdiam termenung.

3 detik… “Carilah pekerjaan, atau kau tidak akan ku beri sesuap nasi” Jaejin mulai resah begitu kembali teringat ucapan Ibunya.

4 detik… “Membeli yang baru? Bahkan untuk makanpun kau masih meminta pada ibumu. Bagaimana kau bisa membantuku membeli sepeda yang baru” Jaejin semakin resah begitu ia kembali teringat akan ucapan Gikwang.

Ia lantas menggelengkan kepalanya dengan keras dan mengerutu kesal. “Ayolah… tidak mungkin kan menjadi seorang pembantu. Jaejin,,,,” Jaejin semakin kalut dengan pemikiran yang silih berganti.

5 detik… Jaejin tersontak dan dengan cepat ia berlari kembali memasuki restoran. Ia berlari dengan cepat mendekati maneger Hong yang telah usai menghabiskan steak dan bersiap pergi. Namun, secepat kilat Jaejin menghampiri maneger Hong dengan terengah. Maneger Hong terkejut dan melirik arlojinya.

CLOSING TRACK : B2ST – MYSTERY.

“Kau datang tepat 5 detik.. ckckck” ucap maneger Hong berdecak kagum.

“Hanya menjadi pembantu cadangankan? Baiklah. Akan aku coba” dengan sedikit rasa gengsi yang ia miliki, akhirnya Jaejin mengucapkan kalimat tersebut. Maneger Hong terdiam, kemudian tersenyum lebar mendengar ucapan Jaejin.

TBC

NEXT IN ‘IDOL MAID’ TAKE 3:

“Tidak mungkin kan aku kabur dari sini” ucap Jaejin lemas seraya menerawang langit-langit.

“Hey.. ini aku” ketika Junhyung akan membuka helm tiba-tiba Jaejin berdiri dan menendang tungkai kaki Junhyung membuatnya menjerit kesakitan dan terjatuh ke sofa.

“Ponselku” Jaejin kini meratapi ponselnya yang basah kuyup terendam air.

“Kau berbohong. Bukankah teman SMA mu sudah melupakanmu dan menghapusmu dari daftar murid kelas?”

“Kwon Jaejin.. Maafkan aku” ucapan Gikwang menurun diakhir kalimat. Ia terdiam dan menunggu respon Jaejin. Tak lama kemudian, sebuah senyuman terpatri diwajahnya saat Jaejin membalikkan wajahnya dan berjalan mendekatinya.

“Ternyata kau!!!” Jaewon bersorak gembira. Gikwang menatapnya datar.

“Apa?” tanya Gikwang heran.

Tubuh Jaejin tertarik dan terjatuh ke atas tubuh Junhyung yang terjatuh diatas sofa.

GRRRKKK!!! Jaejin menelan ludahnya gugup. Wajah Junhyung benar-benar sangat dekat dengannya. Sementara itu, Junhyung mulai tersenyum simpul.

TBC

7 thoughts on “IDOL MAID (Take 3)

  1. Hahag gila baca next part..
    Next part d tunggu thor jangan lama-lama!!
    Dan part ini selalu bagus tpi kurang panjang😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s