Protect Our Married ‘Part2’

 

POM2

Title                : Protect Our Married ‘2’

 

Author            : ArVi

Twitter           : @ivedeira

 

Gendre           : angst

Rating             : general

 

 

Cast    :

  • Kim Jong Woon (Super Junior)
  • Song Eun Seo (Yoon Eun Hee)
  • Jung Yunho (TVXQ)
  • Park Jihyeon (T-ARA)
  • Hwang Yun Ri (Tiffany Hwang)
  • Song Jong Ki
  • Daniele Kim / Dain
  • others

 

 

Disclamer       : this fanfic is my original story. Soo, if you don’t like this, plis don’t read, and DON’T BASS ME! And if you like n love this story, silahkan RCL .. wekekeke

 

 

Summary       : Cinta yang kekal bukan berasal dari berapa banyak pengungkapan yang diungkapkan, tapi seperti apa dia menjaga, dan melindungi anugrah terindah tuhan tersebut

 

 

HAPPY READ :**:

 

 

 

 

 

 

 

______o0o_______

 

 

 

_          “Ditinggalkan, meninggalkan sama-sama menyakitkan” _

 

 

 

            ‘POM’ Story Start !

 

 

Awan putih menghitam? Samudra dalam mendangkal? Bumi terbalik, langit terbelah, baik, semua itu nyatanya hanya perasaan Yunho saja, beradu pandang dingin dengan EunSeo bukan pilihan, ia ingin menghindari tapi nyatanya gadis itu terus membayanginya.

Mungkin hanya harapan bodoh saat membayangkan EunSeo datang dan menghampirinya, menggandeng jemari Yunho dan tertawa hingga di ruang guru. Membuat siulan para mahasiswa. Dan nyatanya itu hanya Harapan. bahkan EunSeo hanya menunduk sekilas dan tersenyum melewatinya. Ini benar-benar gila bukan?

 

Jika saja waktu bisa berubah, ia takan mengindahkan ancaman tuan Song tempo hari. Ia benar-benar menyesal melepaskan EunSeo. Walaupun nyatanya EunSeo bahagia dengan lelaki itu, Yunho tetap tak bisa melepaskannya begitu saja. apalagi jika ternyata EunSeo malah menderita? Jangan salahkan ia jika memberontak mengindahkan ancaman tuan Song.

 

‘ingat 1 hal, aku tak pernah berjanji akan akan melupakanmu, bukan?’

 

 

________o0o________

 

 

 

 

“sudah mendapat keputusan untuk sidang besok?” Kang Ta menyerumput kopi panasnya. Situasi ramai restoran berkelas yang menjadi langganan para jaksa dan penghuni kejaksaan lainnya . 2 namja itu Nampak serius memikirkan jalan yang tepat untuk masalah istri yang membunuh suaminya sendiri.

 

“bimbang pasti ada, hyung” Yesung menyilangkan tangannya di dada. Merapikan sedikit jas terusan formal hitam berlekuk merah yang membuatnya kentara menjadi seorang Hakim Agung.

 

“hh… aku menjadi bingung akan tuntutan ku besok. Entah kenapa kedudukan jaksa penuntut umum seolah selalu menjadi peran antagonis disuatu persidangan?”

 

Yesung tertawa singkat, ia menempelkan tangannya di kening. “hahaha, ya kau benar. bahkan kau selalu menjadi peran yang selalu dihujat setelah sidang berlangsung”

 

Kang Ta berdecak kesal, “haah.. setidaknya aku tidak seperti jaksa Choi yang lepas kendali dan malah membela terdakwa. Melenceng dari tugas itu, payah”

 

“ya kau benar.”

 

Sebuah tubrukan kecil terdengar di pojok ruangan, terlihat seorang pria tengah membungkuk meminta maaf pada seseorang yang ia tabrak

 

‘Jong Ki hyung’ Yesung bergumam lirih saat menyadari siapa yang tengah merapikan beberapa berkas seorang wanita yang ditabraknya,

 

“ah mianhamida aggashi, aku___” perkataan Jong Ki terhenti, ia berjongkok dan memunguti kertas-kertas yang berserakan, gadis itu Nampak hanya diam, ia terlihat seperti dikejar penjahat saat memunguti kertas-kertas ini.

 

“aggashi!” JongKi sedikit memanggil wanita bertopi yang bahkan tak memperlihatkan rambutnya barang sehelai pun. Apalagi wajahnya? Gadis itu berlari memasuki sebuah taksi.

 

“Jong Ki, hyung” JongKi langsung menoleh keasal suara saat menemukan adik iparnya menyapa. Ia tersenyum , mengangkat sedikit jasnya, membungkuk sedikit pada pelanggan karena merasa membuat sedikit kekacauan kecil tadi.

 

“Yesung ah” Jongki memeluk adik iparnya, dan menjabat Kang Ta yang duduk disana.

 

“aku ada perlu denganmu , Yesung ah” Kang Ta dan Yesung beradu pandang sebentar, sebelum akhirnya KangTa bangkit dan pergi dari tempat itu.

 

“aku permisi dulu, tuan” Jong Ki tersenyum dan menunduk kilat membalas tundukan KangTa.

 

“hati-hati, hyung” KangTa tersenyum dan meraih tasnya.

 

Sepeninggal KangTa, Yesung dan JongKi diselimuti kecanggungan ganjal. Mereka masih berkutat dengan sebuah penyusunan kata-kata yang cocok mungkin.

 

“tentang, adikku” Yesung mendongak kecil, ia hanya berharap kakaknya tidak curiga sama sekali pada Jihyeon.

“Jung Yunho” Yesung menajamkan pendengarannya saat mendengar nama itu. Nama yang semalam disebut EunSeo dalam tidurnya bukan?

 

“dia mantan kekasih adikku,

Terpaksa berpisah meski kurun waktu kebersamaan yang tidak sedikit,

Suka duka mereka terhempas hanya karena masalah keluarga”

 

“ma..masalah keluarga?” Yesung merasa sedikit tertarik pada penuturan JongKi, ia hanya merasa perlu tau.

 

“hahahah, ya… adakalanya masalah itu tidak terlalu melibatkan banyak orang”

 

“oh,” Yesung seolah mengerti, itu artinya JongKi tidak ingin menceritakan masalahnya.

 

“kedatanganku kesini hanya untuk menyampaikan beberapa kebodohan adikku”

Yesung masih diam , kali ini ia merasa sedikit kaku. Lihatlah pose duduknya, bahkan seperti anak SD yang tengah bersiap menerima pengajaran. Tidak sesantai bersama KangTa tadi.

 

“EunSeo gadis yang terlalu iklas, hahaha, aneh bukan?

Dia memang tertakdirkan bisu keinginan mungkin? Sejak kecil, bahkan aku menginginkan adik perempuan yang manja dan manis. Tapi nyatanya tuhan memberikanku gadis kecil yang sangat serius dan misterius. Sifat dinginnya kadang sedikit berlebih pada saat-saat tertentu.

 

“dia suka repot” potong Yesung cepat, membuat gelak tawa mereka terdengar.

 

 

“benar, tapi sebenarnya dia gadis yang sangat mudah dicintai” Yesung memandang sebentar JongKi, sedangkan yang ditatap langsung membuang muka, menarik nafas panjang “dan mudah ditinggalkan”

 

Yesung terhenyak melihat senyum miris JongKi. Ia seolah sedang membeberkan beberapa kemalangan EunSeo.

 

“bisa aku meminta sesuatu?” Yesung menimang sejenak perkataan JongKi. Membuat namja itu kembali tersenyum miris.”kalau tidak, tidak apa-apa”

 

“ah , jika aku bisa pasti aku penuhi, hyung”

 

“jika tidak?” JongKi menjebak Yesung, ia sungguh tidak suka akan kebimbangan, ia hanya butuh kepastian bukan bualan. Yesung berbeda dengan Yunho. Yunho akan berkata lugas dan jelas, disertai tindakan yang bertanggung jawab atas ucapannya. Mungkin itu alas an kuat ia hanya bisa tenang jika melepas adik satu-satunya itu pada Yunho seorang.

 

Yesung menatap JongKi dengan berdebar. Benar kata orang, kakak ipar adalah orang paling sensitive jika membahas adiknya. “aku pastikan ,, bisa”

 

“kalau begitu aku ingin kau memberiku keponakan. Hahahahahahah” Yesung mengerjit  pelan memandang JongKi yang tertawa terpingkal-pingkal, seolah sedang membahas hal lucu. Dan Yesung hanya tersenyum kikuk.

 

Tanpa Yesung sadari, dalam hati JongKi tak berniat tertawa sedikitpun. Sekarang ia yakin seperti apa seorang KimJongWoon. Seseorang yang tak memiliki keberanian dalam hal ketetapan hati.

 

DRRRTTT..

 

Ponsel Yesung itu bergetar, tentu itu sebuah pesan.

 

From   : jihyeon

            ‘oppa.. kutunggu dicafe biasa, 20 menit dari sekarang. Jangan telat’

 

Jong Ki menatap Yesung saat membaca pesan, bolehkah sekarang ia menyimpulkan sesuatu?

 

 

_____o0o_____

 

 

INHWA UNIVERSITY

 

 

EunSeo datang dengan jantung yang benar-benar tak karuan, ia menghempaskan dirinya diatas kursi kerja. Memandang asal dengan nafas yang benar-benar menyaratkan kemarahan yang sengaja ia tepis dan ia pendam.

 

Ia dengan sepenuh hati memasakan makan siang, mengantarkannya ke tempat kerja Yesung, teringat akan fakta bahwa Yesung tak bisa makan sendiri. Tapi apa yang ia dapat?

 

Namja itu malah pergi makan siang dengan wanita itu. Bahkan sebelumnya ia sudah dengan sadarnya menolak ajakan Yunho untuk makan siang.

 

Demi apapun itu yang paling EunSeo sesalkan. Yunho adalah namja dengan penyakit lambung kambuhan. Ia alergi makanan kantin, dan hal yang sama dengan Yesung, yakni tak bisa makan sendiri.

Tapi apa yang ia lakukan?

Ia menolak Yunho. Hal yang sanggup membuatnya luruh dalam penyesalan kali ini.

 

“bisa aku masuk?” EunSeo mendongak, mendapati Yunho datang ke ruangannya dengan rantang putih yang selalu EunSeo gunakan untuk membawakan bekal makan siang mereka dulu.

 

Ia selalu ingat, dulu saat semua guru berbondong-bondong menuju kantin pada jam istirahat, maka mereka akan makan bekal   yang EunSeo siapkan, hanya berdua di ruangan Yunho.

 

“apa aku mengganggu?” EunSeo masih diam, seolah bagai mimpi ia melihat Yunho tersenyum lepas tanpa hambatan seperti ini lagi padanya. Rahang runcing, bahkan terkesan memiliki kelebihan tulang rahang yang membuat Yunho menjadi namja yang kharismatik.

 

Yunho tersenyum, ia yakin EunSeo masih mencintainya. Ia yakin. Sangat yakin

 

“kita makan bersama” Yunho membuka rantang makanan yang nyatanya belum Ia buka sedikitpun.

“apa kau ingin bertanya kenapa aku baik padamu?” EunSeo masih diam. Ia hanya memandang kosong kearah Yunho yang terlihat santai, seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.

 

Yunho tersenyum singkat, senyum keteduhan itu lagi. “ingat 1 hal saja, aku tak pernah berjanji meninggalkanmu kan?”

 

Wajah EunSeo berubah. “jangan membuat hidupku sebagai suatu penghalang,”

 

“aku hanya berkata aku takan pernah meninggalkanmu, bukan menjadikanmu sebagai penghalang hidupku bukan?”

 

“Yunho sshi! Tolong jangan seperti ini! kau membuatku sulit” EunSeo meninggikan suaranya, dan tentu saja panggilan itu membuat Yunho jengah.

 

“jangan panggil aku begitu! Heh,” Yunho tersenyum miring melempar pandangannya , seolah mereka lupa jika tengah berada dalam 1 ruangan dan duduk berhadapan.

“bahkan kaulah yang membuatku seperti ini”

 

EunSeo masih mengatur jalan nafasnya yang menggebu. Ia seolah tengah berperang melawan kehendak hatinya.

 

Sedangkah Yunho? Namja itu kembali menatap EunSeo tajam. Sungguh baru kali ini Yunho menunjukan raut tajam seperti itu padanya.

 

“kau membawakanku makan siang, kau masih ingat pada penyakitku kan? Kau seolah membangkitkan kenangan yang mati-matian aku kubur. Lalu apa salah aku menginginkanmu disini? Lihat aku, bahkan aku lebih melihatmu dari pada lelaki yang bahkan kau tidak tau dia menatapmu atau tidak.” sungguh ketika  emosi Yunho sudah tak terbendung lagi. Ia sadar, bahkan sangat sadar. Dan ia siap jika EunSeo membecinya setelah ini.

 

“cukup” EunSeo tetap dengan raut datarnya. Tapi nyatanya apa? tangannya tengah berpeluh meremas pinggiran pakaian yang ia kenakan.

 

“kau seolah menarik ulur hidupku. Kau membuat seolah membuat masih berarti untukmu! Bahkan nyatanya aku tak pernah berarti kan untukmu?”

 

“cukup Jung Yunho ssi!”

 

“aku sudah cukup perih menahan amarahku. Kau pergi meninggalkanku dengan sejuta tanda Tanya dan menikah dengan lelaki lain. Dimana letak hatimu! Aku sakit disini!” Yunho nampaknya masih tak memperhatikan raut menahan tangis dari EunSeo. Ia terus saja mengeluarkan guncahan perasaannya yang benar-benar menyiksa bahkan nyaris membunuhnya.

 

“kau pergi aku diam, kau melepasku aku terima, tapi tidak dengan hidupmu. Kau menghancurkan hidupmu demi lelaki yang jelas-jelas tak berniat menerimamu sedikitpun, dia hanya ____”

 

“YA! DIAM!” kursi EunSeo berderik. Sesabar-sabar hatinya, EunSeo itu manusia. Jika amarahnya yang bagai api disiram dengan minyak, maka api itu akan membesar tak sanggup ia tahan lagi.

“ya, kau benar, aku hanya gadis malang dengan hidup yang bagai panggung sandiwara. Aku hanya gadis bodoh yang terlalu pasrah menerima kekangan dan ketidak adilan, dan aku memang gadis yang tak tau diri yang nyatanya masih menginginkanmu disini sedangkan aku sudah meninggalkanmu. Ya…. Semua itu benar adanya.  Aku terlalu naïf untuk memperjuangkan hidupku. Aku terlalu naïf mengorbankan hidupku untuk orang lain. Tapi apa salahku? Ijinkan aku tenang meski diatas derita yang kubuat sendiri. Biarkan aku menangis sendiri. Jangan buat aku seoalah diselubungi ketakutan walau hanya menangis Yunho ya..”

 

Hati Yunho mencelos hebat, perasaannya benar-benar bergetar mendengar pengakuan EunSeo. Sungguh ia menyesal, bahkan dengan bodohnya ia mengaku mengerti gadis ini. meski pada kenyataannya ia hanya egois dan memikirkan perasaannya sendiri.

 

“maaf___maaf jika aku menghalangi kebahagiaanmu”

EunSeo bangkit dengan seonggok amarah yang ia tahan. Amarah? Mungkin tidak. Saat ini ia bukan marah atas apa yang Yunho katakan, tapi ia marah pada dirinya sendiri yang dengan sadarnya membuat lelaki itu sesakit ini.

 

 

Yunho masih diam, mematung meratapi paksaan perasaannya pada EunSeo.

 

“aku lelaki bodoh. Aku memang sakit, tapi sesakit-sakitnya aku, kau lebih menderita ,Seo ya..”

 

Jika saja ruangan setiap pengajar tidak kedap suara, entah bagaimana kehebohan yang terjadi diluar sana.

 

____o0o____

 

 

_          “dunia itu,

            Surga dan neraka hidup.

            Perbuatan kita dahulu menjadi penentu dimana sekarang kita berada.”          _

 

 

Langkah EunSeo terhenti di taman belakang universitas. Disini tempat yang selalu ia datangi saat ia ingin menahan tangis, seolah udara sejuk tempat ini dapat menerbangkan kesedihannya.  Bahkan Tempat ini sangat indah dan cantik.

Rumput-rumput dan tanaman liar namun indah tertata rapi. Bersih dan sejuk.

 

“Hong Ki ssi?” EunSeo menebak sebuah punggung yang Nampak bergerak-gerak di disamping sebuah pohon kamboja. Punggung manusia yang ia yakini namja dan salah 1 mahasiswa disini.

 

“hey, songsaengnim? Sendirian?” HongKi melepas sarung tangan dan meletakan gunting rumput yang sedari tadi ia gunakan memangkas rumput. Hey, dia bukan tukang kebun. Bahkan tak dibayar sama sekali untuk itu.

 

“sedang menyibukan diri?” Hong Ki tertawa renyah sembari memandang sang guru dari samping. Jika bisa ia melukiskan keindahan yeoja yang bahkan telah menjadi gurunya ini, ia akan melukiskannya pada sebuah kampas. Tapi sayangnya ia bukan murid kelas seni. Ia hanya siswa jurusan pertanian disini. Jurusan yang bahkan tak banyak dihuni oleh mahasiswa, hanya beberapa orang yang benar-benar menyukai alam yang memilih jurusan itu. Meski pihak universitas juga menyediakan dana gratis.

 

“bisa dikatakan begitu. Hanya ingin membayar jasa universitas yang telah memberiku beasiswa disini” Eunseo tersenyum.

 

“kenapa kau tidak menanam cabai ini disana? Tempat ini kurang teduh” EunSeo memandang sebuah pohon cabai yang berjejer rapi di bawah teriknya matahari. bahkan ketelatenan siswanya ini sanggup membuat image taman belakang sekolah yang gersang, menjadi kebun belakang sekolah yang menawan.

 

“kadar zat hara dalam tanah mempengaruhi tahap tumbuh dan berkembang sebuah tanaman. Jika kita menanam tumbuhan diatas hara tanah yang rusak dan busuk akibat kekurangan sinar, maka itu akan mewabah. Misalnya. Kita menanam pohon cabai disana, lalu akar dari pohon cabai itu terserang hama Hara busuk. Maka akan merembes ke batang, lalu naik ke daun, dan terakhir ke buah dan biji. Lalu kau tau akhirnya?”

 

EunSeo menggeleng.

           

            “pada biji akan melakukan tahap perkembang biakan. Jika di bibit saja sudah terserang hama hara busuk. Bagaimana dengan tumbuhan barunya? Otomatis akan membusuk juga. Dan jika tanaman baru itu tumbuh diatas lahan yang baru, maka tanah dari lahan itu akan tercemar. Dan jika siklus yang aku jelaskan tadi terjadi berulang. Bukan tidak mungkin semua lahan disini akan terserang hama hara busuk”

 

Hong Ki tersenyum puas setidaknya ia tidak memberikan penjelasan yang buruk.

 

“dengan pikiran sekritis itu, kenapa kau tak mencari jurusan hukum saja? aku yakin kau pasti akan mendapat tunjangan pendidikan juga dari kepintaranmu” EunSeo memuji takjub kepandai siswa ini.

 

“kadang aku hanya ingin berdekatan dengan alam saja. ketimbang dengan kasus-kasus yang mengerikan” EunSeo tertawa renyah. HongKi sudah berhasil merubah moodnya yang sempat buruk tadi.

“kenapa kalian berpisah?” kembali pertanyaan itu yang ia terima. Tawa wanita berusia 20-an ini seketika lenyap.

 

“…………” hening, bahkan EunSeo tidak memiliki alas an yang pas untuk hal itu.

 

“aku tak yakin, orang seperti anda adalah penghianat ulung. Meninggalkan Jung Songsangnim tanpa sebab. Dan menikah diam-diam, Ya…ya… I Know your problem” Hong Ki menyilangkan tangannya didepan dada. Ia bukannya tidak sopan, tapi kelakuannya memang sangat santai.

 

“kau tau masalahku?” EunSeo bergumam sedikit.

 

“anda lupa saya bekerja sampingan di Jung Corp? di perusahaan Jung Songsangnim…, hah.. kadang masalah keluarga itu mengerikan memang. Bahkan aku sempat takut, orang sesempurna Jung Songsangnim saja ditolak ayahmu, apalagi aku?”

 

“mwo??” EunSeo berdecak kaget. Bisakah ia menyimpulkan Hong Ki tengah membuat pengakuan?

 

“hahaha:D  ya, aku memang sudah gila. Anda tau, bahkan anda sudah membuat banyak siswa namja gila akan berita pernikahanmu.”

 

EunSeo hanya tersenyum menanggapi uraian ungkapan cinta dari Hong Ki. Ini bukan kali pertama. Kadang ia heran, usianya sudah 25 tahun apa cantiknya ia? Mungkin ungkapan cinta monyet atau sejenis nya sudah biasa merambah di pikiran setiap remaja. Tapi benarkah ia pernah merasakan cinta sejenis itu? Dengan Yunho? Ia rasa tidak.

 

“kau terlalu kuat untuk ukuran yeoja songsangnim. Kau terlalu sempurna dimataku. Andai saja tidak ada namja sesempurna Jung Songsangnim didekatmu, mungkin aku akan maju mendekatimu sejak dulu. Kkkk~~ aku siswa yang lancang”

 

EunSeo tersenyum , bukan tersipu ataupun malu. Hanya senyuman simpul yang halus. “kadang kita harus lebih percaya pada takdir ketimbang harapan.”

 

Hong Ki tersenyum, guru yang 1 ini memang pantas dicintai dan diperebutkan. Hidup yang ia jalani sebenarnya  sulit, dan rumit, namun ia selalu menghadapinya dengan cara dan pikirannya sendiri. Tak ada yang bisa tau apa sebenarnya isi dalam pikiran guru muda yang 1 ini.

 

“aku ada kelas, lanjutan kegiatanmu”

EunSeo bangkit , setidaknya pikiran dan perasaannya sudah membaik setelah ini. ia sangat berterimakasih.

 

“songsangnim…” HongKi sedikit bertriak memanggil EunSeo, wanita itu berbalik menunjukan senyuman khasnya.

 

“saranghae..”

 

“aku juga menyayangimu,” hampir saja HongKi terjengkang kebelakang, saking kagetnya. Ia tak pernah bermimpi bertemu dan berbicara secara langsung apalagi mengungkapkan perasaannya sekaligus, meskipun ia tau ini gila. Tapi ia benar-benar tidak kuat menyimpan kekagumannya selama itu.

 

‘semoga tuhan memelukmu selalu, songsangnim..’

 

 

____o0o____

 

 

KANTOR KEJAKSAAN, Daegu-South Korea

 

 

Yesung melangkahkan kakinya menuju kantor kejaksaan. Ia baru saja selesai mengantar Jihyeon ke studio rekaman. Entah sudah berapa kali Yesung mengeluh pada kehidupan hingar bingar dan glamour Jihyeon di dunia hiburan. Kadang ia merasa asing akan dunia gemerlap itu. Tapi ada sebuah rasa iklas saat bersama Jihyeon. Mungkin itu adalah kekuatan Cinta untuk mereka.

 

“yang mulia, hakim…” Yesung menghentikan langkahnya saat melihat resepsionist lantai 1 memanggilnya, sembari menenteng sebuah kotak makanan putih.

 

 

“ada seorang wania menintipkan ini, dia mengaku bernama… EunSeo”

 

Dahi Yesung mengkerut mendengar nama itu. HAH? Siapa tadi? EunSeo?

 

“ah,, kau tak mengenalnya? Sudah kuduga, bahkan ia tak pernah kemari sebelumnya.” Resepsionist itu menarik kotak bekal itu, namun dengan cepat Yesung menariknya, dan berjalan menuju mobil. Entah perasaan bersalah macam apa ini, yang jelas ia hanya ingin menjelaskan sesuatu pada EunSeo. Dan sesuatu itu mengenai Jihyeon.

 

Yesung menekan pedal gas mobilnya, melesat dengan cepat membelah hiruk pikuk kota siang ini. tapi___

 

 

CKIIIIIT

 

 

Yesung mengerem mendadak mobilnya. Berhenti disebuah badan jalan yang sepi. Ia menelungkupkan wajahnya di setir kemudi.

 

“ARGH!” ia memukul kemudi dengan sedikit tenaga. Entah kenapa ia ragu. Ia ragu apa yang harus ia katakan. Haruskah ia mengaku bahwa dirinya telah berselingkuh? Atau berkata ia hanya seorang lelaki pengecut yang tidak bisa melepaskan Jihyeon? Entahlah,

 

Menimang dan berfikir, dan ia merasa lebih baik didiamkan untuk beberapa waktu. Menunggu takdir akan mengarahkan hidupnya sampai dimana.

 

 

­____o0o____

 

 

GNI Group, Mokpo-South Korea

 

            Suasana riuh ramai mewarnai sebuah department store didaerah Mokpo. Sebuah department yang merangkap sebuah perusahaan retail dan perabotan rumah tangga. Bisa dibilang sebuah perusaah besar yang bergerak disegala bidang dan menyedot banyak perusahaan luar untuk berinvestasi.

 

“bagaimana ? apakah client kita berbalik haluan ke Jung Corp? hoho, mereka memang selalu berusaha merebut apa yang kita incar. Ibarat sebuah pellet ikan yang diraup habis tanpa berfikir itu sebuah mungkin saja sebuah umpan” tuan Song meremas surat kabar ditangannya, disana diberitakan pengalihan investasi dari perusahaanya ke perusahaan keluarga Yunho. Memang kadang persaingan bisnis itu mengerikan. Tapi nampaknya masalah mereka bukan hanya dibidang bisnis, tapi juga memasukan sedikit problem keluarga yang menenek moyang, mungkin?

 

“hentikan appa, kulihat Jung Corp tidak berusaha menarik dana investasi itu. Bahkan kudengar pihak Hwang lah yang berbalik haluan dan menyerahkan semua kepercayaannya pada Jung Corp.” Jong Ki menghampiri tuan Song yang duduk disofa ruangan putranya. Bahkan bisa terlihat sekarang surat kabar yang memberitakan tentang ‘PENGALIHAN DANA INVESTASI GNI GROUP KE JUNG CORP’

 

oh baiklah… Jong Ki tau setelah ini ayahnya pasti akan bertindak. Entah itu apa. setelah menentang hubungan Yunho dan adiknya, lalu kali ini apa lagi?

 

Tuan Song terlihat mengkerutkan keningnya, menelisik kebeberapa arah, sejenak ia terlihat berfikir keras, sebelum akhirnya namja paruh baya itu menatap kearah Jong Ki dengan tatapan penuh seringai.

 

“m..mwo?” Jong Ki terhenyak kebelakang,

 

“kau tau? Mereka mencoba bermain licik dengan kita. Kau ingat rencana perjodohan antara putra pertama Jung Corp dan putri tunggal Hwang group? Hahaha, aku tau sekarang. pihak mereka telah merencanakan ini sejak awal. Menjodohkan putra mereka dengan putri Hwang group, lalu mengalihkan dana investasi sebesar itu dari kita, hahaha, mereka berani bermain curang rupanya.”

 

“appa!” Jong Ki memekik gusar. Ia sedikit kaget memang, jika memang Yunho telah dijodohkan sejak lama dengan putri tunggal Hwang group, lalu selama ini apa arti hubungan adiknya dengan lelaki itu?

 

“itulah sebabnya, aku memisahkan adikmu dengan lelaki itu” Tuan Song merapatkan jas hitamnya, menerka ekspresi Jong Ki selanjutnya, “kau tidak mau perusahaan kita jatuh dan tertimpa malu , kan?”

 

Jong Ki diam, jangan salahkan ia jika berfikir negative tentang rencana diotak ayahnya. Kadang Jong Ki sedikit merasa tuan Song begitu mengerikan.

 

 

“dekati Hwang Yun Ri, dan gagalkan perjodohan itu”

 

“apa?”

 

 

TBC

 

 

 

(PREVIOUS part)

 

 

“tua Bangka itu ! apa yang dia lakukan pada cucu kesayanganku?! Dia menikahkannya tanpa seijinku. Apa maksudnya? Dasar tua Bangka gila! Dia mengatas namakan perceraian kami sebagai kambing hitam agar melepaskan hubunganku dengan Yesung`ie ku? Jangan harap!”

 

seorang wanita tua Nampak bergumam sebal turun dari bandara Incheon. Beberapa pengawal Nampak mengawalnya turun dari pesawat. Bagaimana amarahnya bisa dikendalikan , jika mantan suaminya dengan tega tidak memberitahu sedikit pun mengenai pernikahan cucu satu-satunya itu. Bahkan dia harus menahan malu karena harus membatalkan rencana perjodohan Yesung dengan salah 1 rekan bisnisnya di Belanda.

 

Wanita paruh baya itu memasuki mobil yang dikendarai seorang supir pribadinya. Dengan cepat ia meletakan sebuah ponsel ditelinganya.

 

“halo Dain, aku sudah sampai”

 

“………..”

 

“hem.., ya..ya.. kau tenang saja. aku akan berusaha membawanya kembali ke Belanda. Kupastikan cucuku akan menikahimu disana. Kau tenang saja”

 

“……”

 

“ya, aku tutup teleponnya, katakan pada keluargamu, aku akan segera memperkenalkan cucuku pada mereka. Bersabarlah”

20 thoughts on “Protect Our Married ‘Part2’

  1. Kim Jong Woon love u..
    Hehe
    thor ceritanya Daebakk, tambah romance.nya Jong Woon sama Eun Soo ya🙂
    Keep writing thor, next

  2. Huaaa…seru bgt ini..masalahnya complicated gtu yaaa..dan tuan Songnya kejem amat -___-
    Tp aku suka pemilihan kalimat dan bahasanya min..

  3. Uh Yesung oppa msh menjalin hubungan dgn pacarnya, ga adil~
    Sementara Eunseo udh memutuskan hubungannya dgn kekasihnya.
    ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s