TEARS (Part 1)

 

Tears1

 

TEARS (Part 1)

Author: Plum, Apricot, Mulberry

Genre/Rate: Life/General

Lenght: Series

Cast: Yoon Du Joon, Nam Jae In (OC), Nam Hyun Joon (OC), Jung Ji Hoo (OC), Shin Bora, Ryeowook.

 

  • Disclaimer: FF ini pernah di publish di FP dan Blog Summer Fiction. Jika ada kesamaan dengan FF lain itu tidak disengaja. FF ini dibuat dengan menyatukan ide 3 author. No Bash | No SR | No Plagiat.

     

    ————————- Ketika seorang tidak merasakan kebahagian di suatu tempat maka ia punya tempat lain untuk memperoleh kebahagian itu. Jika seseorang merasa kesepian di suatu waktu, maka ia bisa membuat waktu berikutnya menjadi lebih berwarna karena kehadiran seseorang. Tapi semua itu tidak berlaku pada seorang yeoja 21 tahun yang hanya merutuki dirinya sendiri karena jalan hidup berat yang harus dilewatinya.

     

    —Tears—

    “Kami tidak tahu pasti apakah transkrip pembicaraan itu aktual atau tidak. Itu akan menjadi perdebatan di lingkungan masyarakat, apakah itu benar atau tidak. Telah terjadi sebuah konspirasi untuk membunuh ilmuwan Lee,” itulah kata-kata yang diucapkan seorang pria pada hari pemakaman sebuah ilmuwan ternama di Korea. Secara tak langsung perkataan itu terdengar oleh anak tunggal sang ilmuwan yang berdiri di tepi makam.

    Kematian ilmuwan ternama itu membuat kehidupan orang yang ditinggalkan berubah drastis, terutama anak gadisnya yang masih berumur 16 tahun, Nam Jae In.

    “Appa, gwenchana?” tanyanya kepada lelaki paruh baya yang kini menjadi satu-satunya orang yang ia miliki.

    Lelaki paruh baya itu mengusap kepala sang anak, “Gwencahana, Jae In-ah. Appa mengundang Kim Hee Sun ke rumah.”

    Nam Jae In hanya terdiam mendengar perkataan Appanya. Ia sadar akan hubungan gelap yang di jalin oleh Appanya tersebut. Tapi biar bagaimana pun ia tidak boleh egois karena ia mengetahui kesepian yang melanda Appanya, walau itu dilihat dari sudut pandang kebutuhan sex, “Eoh?”

    Seluruh pelayan yang berada di kediaman Tn. Nam sibuk mempersiapkan hidangan makan malam. Padahal usia kematian Ny. Lee baru berusia 4 hari. Bagi pandangan orang luar yang melihat situasi ini pasti beranggapan bahwa keluarga yang ditinggalkan sudah bisa merelakan kepergian Ny. Lee.

    “Ajuma, mwo hago isseumnikka?” Jae In melihat keadaan dapurnya yang begitu sibuk mempersiapkan hidangkan makan malam. Keadaan seperti ini hanya terjadi jika ada ulang tahun perusahaan saja. Tapi ini sungguh aneh.

    “Agashi, kami hanya melaksanakan perintah dari Tn. Nam, beliau bilang ada tamu istimewa yang hadir hari ini,” kata seorang Ajuma yang sibuk merebus tulang iga dan sesekali menghapus keringat yang turun dari keningnya dikarenakan uap panas yang timbul dari proses pemanasan tulang iga.

    Jae In hanya mengangguk saja kemudian berjalan menuju taman belakang. Ia melihat seorang anak yang seumuran dengannya sedang membawa keranjang besar. Nampak dari kejauhan bahwa si anak itu keberatan. Inilah yang disebut hati nurani manusia, tanpa disuruh kata hati kita menunjukkan gerakan reflex ketika melihat suatu kejadian baik itu berupa pertolongan, kemarahan, dan lain-lain.

    “Shin Bora!” teriak Jae In dari kejauhan.

    “Agashi!” sahut Bora dengan melambaikan tangan kirinya.

    Jae In berlari ke arah Bora dan segera membantu mengangkat keranjang besar itu, “Agashi, biar saya saja yang mengangkat.”

    “Jangan panggil aku dengan sebutan Agashi lagi! Jika kau masih melakukannya, maka aku tidak akan membiarkan kau masuk ke rumah ini lagi. Arra?” celetuk Jae In.

    Bora hanya mendengus kesal, “Arra, Jae In. tapi mau bagaimana lagi? Ketika aku ketahuan Eomma memanggil namamu dengan sebutan ‘Jae In’ Eomma malah memarahiku.

    “Biar nanti aku akan berbicara pada Ajuma,” sahut Jae In.

    Sebuah mobil Mercedes Benz silver tiba di depan rumah kediaman Tn. Nam yang terletak di kawasan Heukseok-dong. Seorang wanita berpenampilan glamour turun disertai senyuman yang ia buat di sudut bibir merahnya. Tak ada yang dapat mengartikan senyuman itu, yang jelas senyuman itu telah mengubah suatu kehidupan.

    —Tears—

    Hiruk pikuk keadaan Boryung Medicine, sebuah perusahaan ternama di Korea Selatan yang begerak di bidang farmasi sudah biasa dialami oleh Nam Jae In. Walau kehidupannya sudah tidak semewah 5 tahun lalu tapi kini ia merasa mempunyai tanggung jawab lain, yaitu membahagiakan saudara tirinya yang masih berumur 4 tahun, Nam Hyun Joon dan tentu saja Eomma tirinya, Kim Hee Sun.

    “Jae In!” teriak seorang wanita muda sambil membawa beberapa lembar kertas di tangannya. Nampak dari raut wajahnya bahwa ia sedang panik.

    “Waeyo, Bora-ya?” tanya Jae In.

    Bora mengatur napasnya berulang-ulang dan membawa Jae In menuju lantai paling atas Boryung Medicine. Keadaan lantai atas perusahaan itu biasa dipakai oleh orang-orang untuk makan siang, karena desain pekarangan hijau yang dibuat oleh sang arsitektur membuat para karyawan yang berada di perusahaan itu merasa nyaman.

    “Kau tidak boleh terkejut,” seru Bora sambil mengajak Jae In duduk di bangku panjang berwarna coklat yang berada di sudut area lantai atas itu. terdapat beberapa pohon pinus buatan yang diletakkan di area tersebut, sehingga para manusia yang duduk di sana tidak begitu merasakan teriknya matahari.

    Jae In hanya mengikuti perintah Bora, “Ppalli malhaebwa. Kau membuatku penasaran.”

    Bora menyodorkan sebuah kertas yang berisikan tabel-tabel, di dalam tabel tersebut terdapat nama-nama karyawan yang bekerja di Boryung Medicine, “Yogie.”

    “Mwo?” Jae In membelalakan matanya ketika melihat namanya berada dalam tabel tersebut.

    Bora hanya mendengus melihat ekspresi Jae In, “ Ekspresiku lebih heboh ketika melihat namaku juga tertera di kertas itu.”

    Tak lama kemudian Jae In menurunkan telunjuknya secara perlahan untuk mengecek nama Bora dan ternyata memang benar bahwa nama mereka ada dalam list ‘Karyawan Masa Percobaan’.

    Jae In hanya menundukkan kepala ketika memahami posisinya saat ini, tak lama kemudian dia segera beranjak dan tersenyum menghadap ke atas, “Kajja.”

    Shin Bora, sahabat yang selalu menemaninya di saat suka dan duka bingung melihat tingkah Jae In yang seolah-olah semua ini hanya biasa-biasa saja, “Kajja? Eoediseo?”

    “Tentu saja bekerja,” sahut Jae In sambil mengandeng tangan Bora dan turun ke lantai bawah.

    Selama perjalanan turun, Bora tak henti-hentinya berbicara tentang keputusan yang semena-mena itu. Bagaimana pun, ia dan Jae In sudah 3 tahun bekerja di perusahaan itu, walau hanya menjadi karyawan bagian pengecekkan bahan baku tapi ini sungguh tidak adil.

    “Kau tahu mengapa ini bisa terjadi?” seru Bora dengan amarah yang masih meluap di dalam dirinya.

    “Molla,” jawab Jae In enteng. Tak lama kemudian mereka tiba di depan pintu loker utnuk berganti pakaian menggunakan pakaian kerja.

    Bora membuka bajunya dan segera menggantinya, “Itu karena Isanim sedang menjalani kemotrapi di Jerman. Dan kini segala urusan perusahaan dipegang oleh putranya.”

    “Bora, saat ini kita hanya perlu membuktikan bahwa kita bisa bekerja lebih baik agar tidak dikeluarkan,” sahut Jae In sambil memegang pundak Bora.

    “Huh. Ini sungguh membosankan. Aku tak menyangka akan seperti ini,” keluh Bora sambil mengikat rambutnya menjadi ikatan buntut kuda.

    “Lagipula kita masuk ke perusahaan ini illegal, dan saat ini yang terpenting adalah jangan sampai aku dikeluarkan, karena nanti Eomma bisa marah,” sahut Jae In lirih.

    Bora hanya tertunduk lesu mendengar perkataan Jae In.

    —Tears—

    Hari ini Jae In harus menyerahkan tugas ke Ham Seongsaegnim agar siang nanti ia dapat pergi ke makam, ”Semoga aku tidak mendengar lengkingan suara wanita itu lagi.”

    “Jae In!! Mengapa kau hanya memasak lauk ini?” teriak seorang wanita paruh baya dari lantai bawah.

    “Oh GOD, aku mohon kali ini buatlah dia bersikap baik padaku,” Jae In segera berlari turun ke lantai bawah dan mendapati wanita itu sedang mendengus kesal melihat kearah meja makan.

    “Eomma, mianhae. Hari ini aku gajian, nanti akan ku belikan daging sebagai gantinya,” jawab Jae In dengan kepala tertunduk.

    “Jangan terlambat pulang! Belikan juga susu formula untuk Hyun Joon dan jangan kau habiskan semua uang gajian mu itu!” teriak wanita itu sambil berjalan ke arah kamar tidur yang terletak di samping ruang TV.

    Dengan hati yang sedikit terluka, Jae In bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya, Pohang University of Science and Technology. Melakukan perjalanan dengan menggunakan bus kota selama 1 jam dan akhirnya Jae In sampai di depan kampus yang terkenal dengan kualitas Science dan Engineeringnya se-Asia.

    “Aku yang terlalu pagi tiba di kampus atau memang Ham Seonsaeng kesiangan?” gumam Jae In sambil menunggu sang dosen di depan jurusan Farmasi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 KST, sesuai janji yang sudah dibuat bahwa tugas kali ini harus diserahkan langsung ke Ham seonsaengnim tepat pukul 10.00 KST.

    30 menit 50 menit 1 jam 1 jam 30 menit 2 jam

    “Baiklah, aku sudah sabar menunggu sekitar 2 jam tapi ia belum juga tiba. Lebih baik aku kembali lagi setelah berdoa di makam,”gumamnya setelah melirik jam tangan yang berwarna coklat tua itu.

    Waktu menunjukkan pukul 13.00 KST, “Siang ini sungguh terik. Aku sudah membawa beberapa buah, bunga, soju, gelas kertas, dan kue untuk ku letakkan nanti di makam Eomma.”

    Setibanya di makam Eomma yang sudah meninggalkannya selama 5 tahun ia segera menyiapkan persembahan dan kemudian duduk denga beralaskan tikar bamboo, “Eomma, anakmu tiba. Eomma, bogoshippo. Aku harus kuat menjalani semuanya. Aku akan selalu mengingat pesan Eomma agar jangan menunjukkan kesedihan di muka umum, tapi tunjukkan semua keluh kesahku di pangkuanmu, Eomma. Tapi bagaimana jika pangkuan itu sudah tidak lagi? Kemana akan ku luapkan semua kesedihanku ini, Eomma?”

    Jae In hanya mampu memandang makam Eommanya dengan penuh rasa sedih, kecewa dan marah, “Eomma, aku sudah tidak kuat lagi, eotteokhae? Aku hanya bisa meluapkan semuanya di makammu, Eomma. Aku tidak punya tempat untuk bersandar lagi, aku tak kuat menahan semuanya hingga kutumpahkan semuanya di depan batu nisan Eomma. Hanya ini yang mampu ku lakukan untuk mengurangi semua bebanku.”

    — Tears—

    Pagi ini suasana Pohang University of Science and Technology begitu ramai.

    “Nam Jae In!” terdengar lengkingan suara namja dari arah belakang. Sontak Jae In menoleh ke belakang dan ia sungguh terkejut melihat orang yang memanggilnya itu. Ia hanya mampu menatap nanar orang tersebut. Orang itu mulai berjalan pelan menghampiri Jae In. Jae In tidak berkutik sama sekali melihat orang itu.

    “Ryewook?” gumam Jae In hampir tidak terdengar.

    “YAA!! Mengapa kau tidak memeluk ku?” ucap Ryewook sambil membuka kedua tangannya.

    Jae In segera menghambur ke pelukan namja gemulai yang berbalut t-shirt abu-abu dan celana jeans biru tua itu, “Ryewook! Bogoshipo. Mengapa kau baru kembali? Bagaimana keadaan Imo? Apakah baik-baik saja?” lirih Jae In.

    Namja berponi miring itu melepaskan pelukannya, “Mianhae, lain waktu akan ku jelaskan.”

    Jae In hanya mengangguk setuju, “Dan untuk apa kau disini?”

    “Ahhhh, aku lupa. Aku mahasiswa transfer disini,” Ryewook bercerita sepanjang perjalanan menuju kelasnya.

    Ketika sudah sampai di depan lorong mereka berpisah dan saling bertukar nomor ponsel.

    —Tears—

    PLAKKK…. Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi mulus Jae In.

    “Bagimana bisa kau hanya membeli ini! Kenapa kau hanya membeli susu formula untuk Hyun Joon saja? Mana buah-buahan yang ku minta? Dasar anak sial!” Kim Hee Sun atau dengan kata lain Eomma tiri Jae In menarik rambutnya ke arah ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya ke lantai dengan kasar.

    “Kepalaku sakit sekali, rasanya seperti tertusuk paku-paku tajam,” gumamnya dalam hati.

    Hikss…Hikss… Hyun Joon berlari ke arah Jae In dan memeluknya, “Eomma, Noona appo,” ucapannya membuat Jae In tak bisa lagi menahan cairan bening yang dari tadi ia tahan. Seketika Eomma melepaskan tangannya dari rambut Jae In dan berjalan ke arah kamar kemudian menghempaskan pintu dengan kasar.

    “Noona, appoyo? Hikss..hikss.” Hyun Joon masih memeluk Jae In dengan segera Jae In mendekapnya dalam pelukan.

    “Hyun Joon-ah, hari ini mau tidur bersama Noona?” tanya Jae In untuk mengalihkan kesedihan Hyun Joon.

    Hyun Joon menengadahkan kepalanya untuk melihat Jae In, “Jeongmal?” tanyanya masih sambil menangis kecil. Selama ini Hyun Joon selalu dilarang oleh Eommanya untuk tidur bersama Jae In.

    “Tapi kau tidak boleh menangis lagi. Yaksok?” Jae In segera mengacungkan jari kelingking ke hadapan Hyun Joon.

    “Ne, yaksok !” jawabnya penuh semangat dan ia pun segera menghapus air matanya dengan kasar.

    Jae In segera menggendong tubuh kecil itu menuju kamar dan membaringkannya, “Noona, saranghae,” ucapnya sambil memeluk Jae In dengan hangat.

    “Tuhan, aku sangat bersyukur kau memberiku adik seperti Hyun Joon. Walau ia tidak sedarah denganku tapi kami mempunyai satu rasa, yaitu rasa saling menyayangi satu sama lain,” gumamnya sebelum tertidur.

    —Tears—

    Hari ini kelas begitu ricuh. Seperti biasa, GD sibuk menggoda yeoja-yeoja dengan rayuan rappernya.

    “Yoo, pp–pp–pa–gi ini kulihat bidadari mendarat di Seoul. Apa itu kau, Hyuna?”

    Lee Joon sibuk bermain catur dengan Junho. Dan yang lain sibuk membicarakan orang.

    “YAA!!! Tadi raja belum berpindah. Kenapa sekarang sudah berpindah,” teriak Lee Joon. Junho hanya menatap datar teriakan Lee Joon yang histeris. Jae In hanya menatap kelakuan mereka dengan senyuman.

    Dengan segera Jae In berjalan menuju tempat duduknya yang berada di baris ke tiga kolom ke empat, “Dan kali ini aku harus duduk sendiri untuk selamanya karena Eun Ji pindah ke Jepang,” gumam Jae In sambil menghempaskan tulang ekornya ke kursi dan langsung tertidur di meja dengan menggunakan kedua lengan sebagai tumpuan kepala.

    “Yaa!! Ppalli ireona!!” Jae In mendengar seperti ada yang berbisik dan menyenggol lengannya.

    Jae In mulai tersadar dan menoleh sedikit ke arah suara yang membangunkannya, “Wae?” ternyata Lee Joon yang membangunkannya secara diam-diam agar tidak ketahuan Ji Hyo Seonsaengnim.

    Perlahan Jae In mulai membenarkan posisinya dan mulai menegakkan badan. Tapi sepertinya ada yang aneh. Ada hawa lain yang ia rasakan. Jae In menoleh ke samping kiri dan ternyata ada seorang namja duduk di sampingnya. Namja itu terlihat sangat tenang. Tiba-tiba dia melihat ke arah Jae In dan dengan segera Jae In langsung membuang muka.

    “Tugas kalian minggu ini adalah membuat resume tentang perbaikan layout pabrik pada proses produksi suatu perusahaan manufaktur,” Ji Hyo Seongsenim segera merapikan bukunya dan beranjak keluar.

    “Hahhhh…lagi-lagi tugas!” keluh Lee Joon seraya menurunkan bahunya.

    “Sepertinya aku ketinggalan informasi untuk tugas kali ini,” gumam Jae In, “Hmm…Lee Joon-ssi, bisa terangkan padaku tugas yang diberikan tadi.”

    “Tugas resume tentang perbaikan layout pabrik pada proses produksi suatu perusahaan manufaktur, dan kau cepat lihat ke sana di depan ada gulungan-gulungan kertas kecil, ambillah! Itu untuk menentukan pasanganmu,” jelas Lee Joon yang dengan gampang dimengerti.

    Jae In melangkahkan kakinya ke depan kelas dan mengambil sebuah gulungan kertas yang tadi ditinggalkan oleh Ji Hyo Seongsenim, perlahan gulungan itu ia buka, “Mwoya?”

    Seketika mata Jae In melotot menatap tulisan yang ada di kertas itu, “Yoon Du Joon,” tanpa sadar mata Jae In langsung mengarah kepada namja yang sedang duduk santai sambil sesekali memainkan bolpoinnya.

    “Namja itu? Eottokeh aku saja tidak mengenalnya?” lirih Jae In malas.

    Keputusan Ji Hyo Seongsenim tidak akan bisa diganggu gugat, mau tidak mau suka tidak suka harus bekerja sama dengan namja itu.

    Jae In mendekatinya dan mencoba tersenyum tapi namja itu malah membuang mukanya, “Sombong sekali,” gumam Jae In.

    Akhirnya Jae In menyapanya , “Du Joon-ssi,” tak ada jawaban. Sekali lagi, “Hey, Du Joon-ssi,” tetap hening.

    “Yaaaa!!!! Yoon Du Joon-ssi,” teriak Jae In kesal sambil menggebrak mejanya. Namja itu mendongakkan kepalanya ke arah Jae In sekilas kemudian kembali fokus memainkan bolpoinnya.

    “Waeyo?” tanyanya sambil membuka earphonenya lalu melihat sekilas tanpa menatap Jae In.

    “Kita sekarang satu kelompok jadi ku mohon bekerja samalah dengan baik,” ujar Jae In kepadanya.

    “Bekerja sama? Anni, kau kerjakanlah sendiri, berapa uang yang kau butuhkan katakan padaku, aku akan membayar semua,” seru Du Joon sambil tersenyum tipis.

    “Hah sombong sekali dia, ternyata apa yang ku dengar selama ini benar tentangnya. Namja sombong yang mengatur semua dengan uang. Apa dia pikir uang adalah segalanya?” gumam Jae In dalam hati.

    —Tears—

    “Jae In-ah, kau sudah datang?” tanya Bora dengan senyuman khasnya.

    Nampak keletihan tersirat di wajah Jae In. Bagaimana tidak letih? Pagi sampai siang kuliah kemudian petang hari mulai bekerja di Buryung Medicine. Perlahan Jae In mulai mengecek keadaaan bahan baku yang berada di wirehouse 1.

    “Sepertinya semua sudah beres, tak ada yang terlewati,” ucapnya setelah mengecek semua barang-barang bahan baku di dalam gudang ini.

    Du Joon berjalan-jalan seorang diri menuju gudang. Hari ini penampilannya sangat santai dengan menggunakan levis hitam dan kaos putih yang dipadu dengan jas yang berwarna senada dengan levisnya.

    “Aku harus cepat mengecek pekerjaan karyawan dan semua barang-barang di gudang, aisshh Eomma kenapa kau datang begitu mendadak?” Du Joon mendengus kesal lalu masuk ke dalam gudang.

    Terlihat beberapa karyawan sedang bekerja dengan telaten. Tapi pandangan Du Joon berhenti di satu titik, “Yeoja itu???” seru Du Joon masih tetap memandangnya.

    Dalam hitungan detik yang tidak Du Joon sadari yeoja itu menoleh ke arahnya, “Ommo,” serunya tersentak beberapa langkah setelah melihat Du Joon.

    –To Be Continue–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s