Diary’s Tree

DiaryTree

Diary’s Tree

Author                       : Whindalee

Cast                            :

–         Cho Kyuhyun

–         Lee Donghae

–         Kim Hye Ra (OC)

Genre                        : Romance, Tragedy, Angst, Family, Hurt, & Sad.

Length                       : Oneshoot

FF ini special kupersembahkan untuk seseorang yang menghilang dari hidupku….

Happy Reading..!

Angin berhembus dari arah selatan menerpa daun-daun yang berguguran. Aroma khas tanah yang sedikit basah dan telah mengering begitu menusuk indra penciuman Kyuhyun. Tubuhnya terbaring pasrah menimpa rumput-rumput kecil dihamparan hijau itu.

Sinar matahari siang pun hanya menyorot sebagian kaki Kyuhyun karena tubuhnya terlindung oleh satu pohon besar yang tumbuh begitu kokoh. Satu pelukanpun tidak bisa untuk melingkari pohon tersebut.

“Ooohh… Andai saja aku punya rumah disini!” Ungkapnya sambil merenggangkan tubuh.

Ia memposisikan tubuhnya duduk dengan memeluk kedua kakinya yang terlipat. Setelah merasa jenuh untuk beberapa saat, ia beranjak menghampiri pohon besar itu. Merentangkan tangannya kemudian menempelkan tubuhnya kebatang besar tersebut.

Susah payah ia berusaha untuk menyentuh sisi jari lainnya yang tak kunjung ia dapatkan.

“Eoh, sulit dipercaya! Kenapa pohon ini sungguh besar?!” Gumam Kyuhyun dengan decak kagum. Karena sifat pantang menyerah yang telah ia miliki sejak kecil, ia terus mencoba memeluk pohon itu hanya dalam satu pelukan.

“Aigo… Kalau kulakukan hal ini di kota. Mereka pasti sudah menganggapku gila. Ah, aku benar-benar ingin punya rumah di tempat ini! Tidak puas rasanya kalau hanya berlibur di Baekgong selama 4 hari.”

Kyuhyun berjalan mengitari pohon tersebut dengan menginjak akar-akar yang muncul dipermukaan tanah. Mengira seberapa banyak orang yang bisa memeluk pohon itu untuk mengelilinginya.

“Mungkin 3 orang cukup untuk memeluk pohon ini..!” ocehnya tak jelas.

Tiba-tiba saja….

KREEKK..!!!

“Arrggh…” jerit Kyuhyun kesakitan setelah mendapati kaki kirinya terperangkap disalah satu akar pohon yang rapuh.

“Aarrgghhh… Aish….!”, dengan keberanian yang terkumpul, Kyuhyun mengangkat kakinya kepermukaan. Membiarkan luka gores yang cukup dalam tampak jelas mengotori kakinya yang putih susu itu.

Namun, saat Kyuhyun berhasil mengeluarkan kakinya utuh. Ia merasakan ada sesuatu dilubang akar tersebut.

“Telapak kakiku terasa menginjak sesuatu..” keluhnya diiringi gerang kesakitan.

Kyuhyun mencoba bangkit, dan dengan langkahnya yang pincang, ia menengok kearah lubang itu. Seakan mencari tahu ada apa ditempat seperti itu. Sinar matahari yang berhasil menyusup disela-sela daun membuat Kyuhyun ragu untuk memasukkan tangannya kelubang itu.

Entah itu dia berpikir kalau didalamnya ada ular, serangga beracun, atau justru….

“Aah, apa mungkin harta karun?” tebaknya asal.

“Mungkinkah salah satu pembajak laut meninggalkan hartanya disini?” pikir Kyuhyun macam macam karena imajinasi yang ia miliki terlalu berlebihan.

“Aish, tapi mana mungkin ada harta karun ditempat seperti ini? Tempat ini kan begitu jauh dari laut! Ha…. Ha…. Ha…. Sepertinya aku terlalu banyak bermain game!”

Tangannya yang panjang mulai mengulur kedalam lubang akar tersebut. Berulang kali ia tarik dan ulur kembali tangannya karena perasaan ragu dan takut mengganggu pikirannya.

Saat tak sengaja ujung jemarinya menyentuh sesuatu.

TUK… Terdengar suara ketukan dari dalam lubang tersebut, hingga Kyuhyun terlonjak kaget.

“KYA!! MWO YA?! Aaaahh.. Ada apa sebenarnya didalam itu? Isshh…” ujarnya sambil menggidik dan menggoyang-goyangkan tangannya yang mengenai benda tersebut.

“Bagus kalau didalam itu harta karun, tapi bagaimana kalau tulang belulang?”, imajinasi Kyuhyun tampaknya memang sudah sangat berlebihan. Selain suka berandai-andai ia tipe namja yang suka mengeluh setiap harinya.

“Arraseo.. Kalau itu harta karun, maka aku akan membawanya pulang ke Seoul. Dan jika dalamnya tulang belulang.. Yah.. Anggap saja aku sedang sial..”

Kini tekad Kyuhyun begitu bulat, meskipun masih ada rasa ragu yang tersisa, ia meraih benda dilubang akar tersebut dan yang pastinya dengan mata terpejam. Kedua tangannya saat ini benar-benar masuk kedalam lubang akar tesebut, membuat keningnya berkerut ketakutan ketika berhasil menyentuh sesuatu.

Hingga akhirnya Kyuhyun berhasil mengeluarkan satu kotak berukuran 20×20 cm berwarna coklat dicampur lumut tersebut. Saat kotak itu sudah ada dipangkuan, mata Kyuhyun masih terpejam takut.

Dan lagi…. Ia mencoba membuka kotak tersebut tanpa melihatnya dan tanpa memikirkan resiko apa yang akan terjadi jika ia tak melihat isi kotak tersebut.

KRUB…. Kotak terbuka….

Namun, dengan berani Kyuhyun meraba isi kotak tersebut. Setelah dirasanya aman, ia membuka matanya perlahan-lahan mengintip benda apa yang kini telah dipegangnya.

“Eoh, mwo ya?!”, raut wajah Kyuhyun yang takut kini tergantikan dengan mimiknya yang bingung. Ia mengangkat sebuah buku yang terlihat agak usang kedepan wajahnya. Selain buku ada lipatan kertas dan pena didalam kotak tersebut.

Sampul warna coklat tua buku itu masih terlihat baik meskipun warnanya terasa sedikit memudar dan disetiap sisi buku tersebut ada kerutan yang menandakan seberapa usang buku itu.

Saat berulang kali Kyuhyun memutar buku itu, ia tampak begitu kecewa dan menghela nafas yang biasa ia lakukan sebelum mengeluh panjang.

“Hanya ini kah?”

“YA! Kukira harta karu…. Ternyata hanya buku usang ini!”

Kyuhyun meletakan kembali buku tersebut kedalam kotak, tapi membiarkan benda itu tetap diluar. Sebab ia tak mau memasukkan tangannya kembali ke lubang akar itu.

Tubuhnya bersandar dibatang pohon, kemudian kembali mengerang kesakitan ketika mengingat luka gores dikakinya yang cukup dalam.

“Argh… Aish! Appoyo… Bukannya kimchi atau gurita asap yang kubawa pulang ke Seoul, tapi luka ini! Sepertinya hari ini aku sedang sial..”

Saat tangannya hendak menyentuh luka gores tersebut, kakinya tak sengaja mengenai kotak coklat itu. Tatapan Kyuhyun pun terfokus penuh kearah kotak dihadapannya. Membuat ia bertanya-tanya dalam hati,

Kenapa kotak itu bisa ada didalam akar pohon ini? Apa ada seseorang yang sengaja meletakannya? Tapi untuk apa ditaruh disini? Bukankah menyimpannya dirumah bisa lebih nyaman?

Akhirnya Kyuhyun meraih kotak itu dalam satu hentakan tanpa memikirkan kakinya yang terluka. Buru-buru ia buka kembali kotak tersebut dan mengambil buku itu kedalam genggaman tangannya.

“Buku yang diletakan ditempat ini pasti punya alasan yang penting..” Ujar Kyuhyun yang kali ini punya pemikiran yang benar.

Sampul awal buku telah Kyuhyun buka dengan hati-hati. Dihalaman pertama terdapat tulisan.

Disini kami menyatu, walaupun tak satu….

Disini kami bersama, meskipun tak jumpa….

Didalam buku ini, aku dan kau, ada untuk hari ini, esok, dan selamanya….

Adapula inisial diujung kanan bawah buku bertuliskan ‘HD’.

Saat melihat tulisan dihalaman pertama tersebut, Kyuhyun menyunggingkan senyum remehnya. Ia menutup kemudian membuka kembali buku tersebut. Pandangannya memang tak lepas dari buku dipangkuannya itu, namun Kyuhyun jadi meragukan bahwa itu bukanlah buku yang penting.

“Tak ada salahnya jika kulihat yang lain….” Ujarnya sambil membalik halaman berikut.

Saat disisi halaman lainnya, Kyuhyun menyadari bahwa buku ini memiliki helaian warna yang berbeda. Dari sisi kiri halaman pertama, helai kertas berwarna merah muda, dihalaman kedua sisi kanan berwarna biru muda. Begitu pula dengan seterusnya. Tapi tidak hanya itu….

Dalam satu buku ini juga terdapat dua tulisan yang berbeda. Disetiap helaian halaman berwarna merah muda tersusun kata-kata yang terlihat begitu rapi, sedangkan untuk setiap helai berwarna biru, tulisannya jauh berbeda dengan halaman berwarna merah muda. Meskipun tulisannya tidak begitu baik, tapi masih dapat dibaca oleh Kyuhyun secara mendetail.

Annyeong….

Bagaimana kabarmu hari ini?

Apakah menyenangkan?

Hari ini aku merasa kurang baik, entahlah karna apa?!

Aku juga merasa minggu ini akan ada hujan turun, sebaiknya kau membawa payung agar tubuhmu tidak basah..

02-03-1987

 

Terukir sebuah nama disudut halaman kertas berwarna merah muda ‘Hye Ra’ dan membuat kening Kyuhyun lagi-lagi berkerut ketika melihat bacaan buku ini, seakan menganggap sepele arti tulisan ini. Penasaran dengan isi selanjutnya, Kyuhyun membaca halaman biru muda dengan santai.

Annyeonghaseyo….

Hari ini aku senang! Tapi ada apa denganmu?

Apa kau sedang tidak sehat?

Dan masalah hujan, kurasa kau salah! Sebab belakangan hari ini kan langit begitu terang, mana mungkin hujan akan turun? Dan dari mana kau tahu minggu ini akan ada hujan turun?

Perkiraan cuaca distasiun TV saja sering salah… ㅋㅋㅋㅋ

Hajiman, meskipun hujan sungguh turun.. Aku tidak akan menggunakan payung. Justru aku akan membiarkan semua badanku basah karna air hujan.

Kau tidak perlu khawatir aku sakit. Hanya karna hujan, aku tak akan mati semudah itu. ㅋㅋㅋㅋ

Seharusnya kau yang perlu menjaga diri… Tulisanmu itu membuatku khawatir

05-03-1987

 

Kali ini terpampang nama ‘Donghae’ disudut kertas membuat Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apa ini buku diary? Kenapa zaman dulu orang-orang berkomunikasi dengan cara seperti ini? Apa mungkin saat itu belum ada ponsel?!” Keluh Kyuhyun lagi.

Donghae-ah, ottokhe?

Hujan sungguh turun bukan seharusnya kau mempercayai kata-kataku.

Ahh, aku tidak sakit.. Hanya perasaanku saja yang kurang baik saat itu.

Oh, nde… Apa kau sungguh membiarkan tubuhmu basah karna hujan?

Apa kau tidak sakit?

11-03-1987

 

Hye Ra-ah….

Sepertinya kau terlalu menghawatirkanku. Aku baik-baik saja…

Justru akulah yang menghawatirkanmu. Oh ya, masalah hujan… Apa kau belajar melihat masa depan dari salah satu peramal atau kau belajar menjadi pawang hujan? ㅋㅋㅋㅋ

14-03-1987

 

Hujan akan turun, angin akan berhembus dengan kencang, dan daun akan berguguran. Bukankah itu terjadi dengan sendirinya?

Lagi pula aku hanya mengira-ngira, apa hujan akan sungguh turun waktu itu.

Hae…. Lupakan masalah hujan.

Aku ingin sedikit bercerita padamu, hari ini aku mendapatkan nilai A+ dipelajaran melukis.

Kau tahu apa yang ku lukis? Bisakah kau menebaknya?!

18-03-1987

 

Hmmm… Biar ku tebak! Apa kau melukis wajahku?

Sebab disekolahku pun, banyak haksaeng yang menjadikanku obyek lukis. Mereka mengatakan kalau aku mempunyai wajah yang tampan dan bibir yang unik yang tak mereka miliki.

Tebakkan ku benar bukan?

 

Yaa… Bagaimana kau tahu aku melukismu? Dasar curang!

Jika aku tahu kau akan jadi sombong seperti ini, lebih baik ku lukis saja teman sebangkuku. Dia bahkan lebih tampan darimu dan aku yakin pasti bisa mendapatkan nilai A+++.

Dia juga begitu baik padaku dan tidak sombong seperti mu. ㅋㅋㅋㅋ

Dihalaman merah muda berikutnya, kulukis sketsa wajahmu. Jadi, untuk minggu depan aku tidak menulis dibuku ini karena bagianku sudah terpakai untuk melukis wajahmu.

28-03-1987

 

Aish! Mana boleh begitu! Kau hanya kuizinkan untuk melukis wajahku. Tidak boleh yang lainnya..

Lagipula songsaenimmu itu sudah salah memberikan nilai. Apa dia tidak tahu seberapa tampannya diriku? Seharusnya dia memberi lebih untuk lukisan itu. A++++++, mungkin itu nilai yang akan ia berikan jika melihatku langsung.

Geundae, jujur saja…

Aku menyukai lukisan ini! Bolehkah aku merobek halaman itu untuk kusimpan? Kalau masalah halamanmu yang sudah terpakai, aku rela kau menggunakan setengah halaman bagianku.

Setidaknya tinggalkanlah jejak untukku setiap minggunya.. Agar aku tidak mencemaskanmu.

01-04-1987

 

Halaman berikutnya telah Kyuhyun buka dan benar saja dihalaman berwarna merah muda tersebut terdapat lukisan wajah namja yang menurut Kyuhyun tingkat ketampanannya masih jauh dibawah yang ia miliki.

“Yeoja ini benar-benar pandai melukis..” Puji Kyuhyun sambil menatap lekat sketsa wajah tersebut.

“Eoh, chankhamman… Kalau mereka saling mengenal, kenapa harus menulis dibuku ini setiap minggunya? Bukankah bicara langsung akan lebih simple?”

Beribu-ribu pertanyaan kini mengganggu otak Kyuhyun. Begitu banyak yang Kyuhyun tak mengerti tentang isi buku ini. Hingga ia berangsur semakin penasaran.

“Oh, ternyata yeoja ini benar-benar penepat janji..” Gumam Kyuhyun saat melihat halaman biru muda yang hanya terdapat tulisan bernama Donghae.

Yaaaa… Hye Ra…

Kau sungguh tidak menulis kabarmu minggu ini? Bukankah sudah kukatakan, kau boleh menggunakan bagianku?

Satu minggu tak ada kabar darimu membuatku benar-benar khawatir. Kuharap kau tidak melakukan hal seperti ini lagi.

08-04-1987

 

Mianhae… Jeongmal mianhae.

Aku hanya ingin menepati janjiku, Hae. Sejak awal, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melanggar batas?

Aku hanya ingin menulis dibagianku…

Eoh ne, kau juga tidak boleh merobek sketsa itu. Sebab, jika kau lakukan itu maka salah satu halaman tulisanmu juga akan ikut tersimpan olehmu.

Bagaimana jika aku ingin membaca kembali bagian itu?

Begini saja, sebagai gantinya akan kubuatkan satu lukisan utuh untukmu. Otthe?

13-04-1987

 

Jinjjanayo?

Kau sungguh akan membuatkannya untukku?

Kapan lukisan itu selesai? Aku benar-benar tak sabar melihat hasilnya..

Oh ya, ada satu hal pula yang sangat ingin kutanyakan.

Kapan kita bisa bertemu? Nae bogoshippoyo…

19-04-1987

 

Donghae-ah, meskipun hanya tulisan aku bisa membayangkan kalau cerewetmu itu tak kunjung berkurang.

Kau pikir melukis itu mudah? Butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Hae.

Kalaupun lukisan itu selesai, aku akan langsung memberikannya padamu. Kau tahu sendiri bukan, apa yang akan terjadi jika eomma dan appaku tahu aku menyimpan gambarmu?

25-04-1987

 

Ne, arrayo..

Andai saja aku tak mengajakmu bermain dibantaran Sungai Goo 2 bulan yang lalu. Hal seperti ini pasti tak akan pernah terjadi.

Aku menyesal… Jeongmal mianhae…

Hajiman, Hye Ra! Kau belum menjawab pertanyaanku satu minggu yang lalu. Kapan kita bisa bertemu?

30-04-1987

 

Eoh, aku sama sekali tidak. Bermaksud mengingatkanmu tentang kejadian itu, Hae-ah! Mianhae…

Kau tak perlu merasa bersalah, lagipula sampai saat inipun aku baik-baik saja.

Aku masih bisa menulis sesuatu dibuku ini untukmu.

Kau ingin kita bertemu?

Arraseo, bisakah kau tunggu akar pohon diary ini muncul kepermukaan?

Disaat itulah aku berjanji kita bisa saling bertemu.

03-05-1987

 

Tubuh Kyuhyun yang awalnya bersandar dibatang pohon besar tersebut, kini menegakkan punggungnya untuk mendekati buku dihadapannya. Sebelum kembali membaca Kyuhyun melihat kesekelilingnya. Memperhatikan setiap moment yang bisa ia lihat dengan mata.

“Apa akar ini dulu belum ada? Dan, kenapa harus menunggu seperti itu? Oh ne, satu lagi… Kejadian? Kejadian apa sebenarnya? Aigo, mati penasaran aku jika tak meneruskan membaca buku ini.” Semakin lama Kyuhyun membaca buku tersebut, semakin banyak pula pertanyaan yang membingungkan Kyuhyun.

Mwo?! Apa kau sedang bergurau?

Untuk apa kita menunggu akar pohon ini tumbuh? Kau tahu bukan, kalau hal itu membutuhkan waktu yang lama?

Aku percaya kau pasti akan menepati janjimu. Tapi kalau untuk menunggu akar tumbuh itu, apa tidak terlalu lama?

Tidak ada ide lain kah?

09-05-1987

 

Tidakkah kau melihat permukaan tanah disekitar pohon ini, Hae-ah?

Tanahnya bergelombang…

Itu berarti pohon besar ini akan mengeluarkan akar untuk memperkokoh posisinya nanti. Disaat itu pula mungkin saja keadaan kita menjadi lebih baik.

Usia kita masih terbilang muda, untuk menunggu akar pohon ini tumbuh tak akan membuat kita menjadi tua.

Aku juga tak akan pergi kemanapun..

Setiap minggu kutulis kabar dibuku ini, ketika bukunya penuh maka kita kumpulkan buku-buku ini diakar pohon. Hingga pohon ini benar-benar menjadi pohon diary.

13-05-1987

 

Arraseo… Jika itu maumu, maka aku akan melakukannya!

Akan kutunggu hingga akar itu muncul kepermukaan tanah.

Aaaahhh, geurome!

Bagaimana keadaanmu saat ini?

Apa kau menemukan sesuatu yang unik disekolah hari ini?

Kalau aku.. Berhasil menghabiskan 3 mangkuk ramyun tanpa sisa sedikitpun dan sekarang, aku menggenggam 4.500 Won. Kau tahu maksudku bukan?

17-05-1987

 

Ya! Apa kau bertaruh?

Aigo, sifatmu ini memang tak akan pernah berubah sepertinya.

Meskipun kau memenangkan taruhan tersebut, kau hanya membuat pipimu terlihat semakin gemuk.

3 mangkuk ramyun? Coba kau bercermin sekarang, apa wajahmu membengkak karna makan sebanyak itu? ㅋㅋㅋㅋ

Karena kau menang, belikan aku sesuatu sebagai kenangan darimu. Tapi kuharap ini yang terakhir kali kau bertaruh.

22-05-1987

 

Hye Ra! Kau membuatku takut…

Saat membaca tulisanmu, terburu-buru kucari genangan air bersih untuk melihat cerminan diriku dan betapa leganya saat tersadar kalau wajahku masih tampan seperti dulu.

Pipiku tidak menggemuk, justru kurasa wajahku mengencang. ㅋㅋㅋㅋ Ne, kemarin adalah yang terakhir kalinya aku bertaruh. I’m promise.

Nb: kau mau sesuatu? Geurrae, tunggulah minggu depan.. Akan kuletakkan didalam kotak buku ini.

26-05-1987

 

Gomawoyo, Donghae-ah…

Aku menyukainya! ^^

Ikat rambut bulu ini begitu lembut, akan kusimpan agar tidak rusak. Sekali lagi jeongmal gomawoyo.

Eoh, entah kenapa aku jadi ingin makan roti bersamamu. Bisakah kita lakukan hal ini nanti? Kuharap kau tidak keberatan.

Ah, Hae-ah, hari ini disekolah, aku juga punya kejadian yang mungkin akan terasa sulit untuk dilupakan.

Tapi aku bingung karena tidak tahu apa yang harus kulakukan.

30-05-1987

 

Wae geudae?

Apa disekolah ada teman yang mengganggumu?

Atau apa ada songsaenim yang terlalu keras padamu?

Aish, kenapa setiap kali kau menulis dibuku ini membuatku jadi selalu khawatir?!

Apa kau perlu bantuan?

Nb : Berhentilah membuatku cemas. Saat ku tak mampu melakukan apapun untukmu, aku merasa bahwa aku adalah namja yang paling bodoh didunia.

05-06-1987

 

Ha… Ha… Ha… Gwaenchanna!

Tak ada satupun yang menggangguku disekolah, Hae-ah.

Semua begitu memperlakukanku dengan baik dan hal ini juga tidak begitu penting, jadi kau tidak perlu membantuku.

Ini mengenai perasaan seseorang. Kau masih ingat kan, kalau aku pernah menceritakan teman sebangkuku?

Namanya Seung Ho, belum lama ini ia bilang menyukaiku dan ingin menjadikanku yeojachingunya.

Ah, ottokhe?

Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menerimanya?

09-06-1987

 

IGE MWO YA? HYA!! ANDWE!!

Bagaimana bisa kau memperlakukanku seperti itu?

Kau anggap aku apa, huh?

Kita memang hanya teman saat ini, tapi kau milikku. Arraseo?

Mau itu teman sebangku, sekelas, atau apapun. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku…

Kau sudah berjanji untuk menemuiku saat akar pohon diary ini muncul dipermukaan tanah dan saat itu pula aku juga akan melakukan hal yang sama dengan teman sebangkumu. Jebal, Hye Ra…

14-06-1987

 

Sejenak Kyuhyun kembali menyandarkan punggungnya ke pohon. Menutup buku diary tersebut sesaat, kemudian berujar pelan,

“Dasar yeoja! Dimana sih perasaan mereka? Jelas-jelas namja itu menyukainya. Kenapa dia justru menceritakan namja lain pada orang itu? Jika aku jadi Donghae, maka aku akan segera menemuinya. Tidak perlu menulis panjang lebar seperti ini.”

Untuk kesekian kalinya, buku kembali dibuka oleh Kyuhyun.

Ha.. Ha.. Ha.. Mianhae..

Aku hanya bercanda, tidak perlu semarah itu.

Lagipula aku langsung menolaknya karena kutahu, aku milikmu.

Jebal… Bersabarlah menungguku hingga akar itu tumbuh.

Kajja! Kita lihat ketika akarnya muncul, kupikir itu pasti indah.

Saranghae yeongwonhi.

19-06-1987

 

Heissh! Selain sering membuatku cemas, kau juga paling bisa membuatku kesal karna hampir patah hati.

Kau pikir ini lucu, hah?! Aigo…

Arraseo, kali ini kau kumaafkan dan sebagai gantinya, aku menagih lukisan yang pernah kau janjikan untukku. Oddieyo?

Kau sudah menyelesaikannya bukan?

Aku sungguh ingin melihat wajah tampanku ketika terlukis.

23-06-1987

 

Aigo.. Aku melupakannya!

Hahahaha.. Untung kau mengingatkanku! Mianhae ^^v

Geurome, akan ku mulai melukisnya dari hari ini. Jika selesai akan langsung kuberikan padamu.

Tapi jika hasilnya tidak sesuai dengan yang kau mau. Jangan mengejekku! Arraseo?

Nb : Kau lihat tanah didekat pohon ini? Semakin bergelombang, Hae. Eoh, tak sabar lagi rasanya… ^^

28-06-1987

 

Aaahhh… Jinjja!

Kenapa kau lupa dengan janjimu sendiri? Bukankah kau yeoja yang paling penepat janji? Ataukah ada sesuatu yang membuatmu melupakan itu?

Geurrae, bagaimanapun aku akan tetap menunggu lukisan darimu.

Semakin hari kau semakin membuatku cemas.

Bisakah kita bertemu tanpa menunggu akar pohon tumbuh?

Aku ingin melihat keadaanmu.

02-07-1987

 

Saat Kyuhyun membalik lembar berikutnya, helai merah muda tampak kosong tanpa gores tulisan Hye Ra. Membuat kening Kyuhyun berkerut sesaat.

Hya!! Neo oddiesoyo?

Kenapa kau tidak menulis dibuku ini?

Bagianmu itu kosong dan sangat jelek saat kulihat.

Wae geudaeyo? Apa kau marah ketika aku mengajakmu bertemu sebelum akar tumbuh?

Arraseo.. Arraseo.. Aku mengalah. Akan kuturuti apa yang kau mau. Tapi, tulislah sedikit kabarmu dibuku ini meskipun hanya satu kalimat.

06-07-1987

 

Mianhae..

Minggu lalu aku terlalu sibuk, jadi tidak bisa ke pohon diary ini. Jeongmal mianhae.

Donghae-ah, kau itu bodoh atau apa? Mana mungkin bisa aku marah padamu.

Ne, arrayo. Aku tahu bagaimana rasanya menunggu.

Aku mengerti kau pasti sudah tidak sabar lagi menemuiku, karena aku juga. Hajiman, ada satu hal yang kutakutkan..

Takut, kalau aku mengingkari janji kali ini.

11-07-1987

 

YA! Hye Ra.. Sebenarnya ada apa denganmu?

Apa kedua orangtuamu sudah tahu rencana kita?

Geurraseo, kalau begitu kita jangan bertemu di pohon diary ini. Kita bertemu ditempat lain saja. Otthe?

Oh ya, aku juga ingin memberitahumu. Kegiatan sekolah hari ini, aku mendapatkan piagam setelah memenangkan lomba renang. Apa kau juga ikut senang? Eoh, bagaimana jika kuajarkan kau berenang nanti?

18-07-1987

 

Halaman Hye Ra tampak kosong kembali. Begitu pula dengan halaman merah muda berikutnya. Hanya tulisan Donghae lah yang sejauh ini mampu Kyuhyun lihat dengan sepasang manik hitamnya itu.

Minggu ini kau tidak menulis lagi untukku!

Kemana kau sebenarnya?

Kau bahkan belum mengucapkan selamat padaku karena sudah memenangkan pertandingan renang. Walaupun kau sangat sibuk, setidaknya sempatkanlah dirimu ketempat ini, meskipun hanya sesaat. Dengan begitu, aku tidak terlalu menghawatirkanmu.

Aku akan marah jika minggu depan kau tidak memberiku kabar lagi.

26-07-1987

 

Hye Ra, katakan padaku kau dimana sekarang?

Kemarin sore sengaja aku melewati rumahmu meskipun desa tempat kita tinggal berseberangan. Dan kuperhatikan rumah mu tampak kosong begitu sepi. Apa kalian pindah rumah?

Tapi kemana? Jebal, beritahu aku!

Kenapa tiba-tiba menghilang seperti ini, Hye Ra? Kau bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan padaku.

Eoh, apa ajusshi dan ajumma yang sengaja melakukan ini untuk memisahkan kita?

Hye Ra, jebal teonagajima..

03-08-1987

 

Kau sungguh pergi ya? Aku bahkan tidak tahu kau pergi kemana. Apa kau akan kembali untuk menemuiku?

Hye Ra, andai saja kau disini sekarang. Kau pasti bisa melihat akar yang mulai muncul kepermukaan tanah walaupun baru sedikit.

Kau berjanji kita akan bertemu ketika saat itu tiba dan sekarang kau malah menghilang. Bagaimana kau bisa menepati janji itu?

Hye Ra, aku sudah merasa putus asa karena tidak tahu lagi kemana harus mencarimu. Jebal, balaslah tulisanku ini…

15-08-1987

 

Genap satu bulan kau menghilang tanpa kabar, Hye Ra.

Tidak bisakah kau katakan padaku dimana sekarang kau tinggal?

Tidak bisakah kau membuatku untuk berhenti mencarimu?

Aku lelah… Sangat lelah… Bahkan aku merasa hampir putus asa karena semua masalah ini.

Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini?

Takut, cemas, khawatir, gelisah, bimbang. Itulah yang kurasakan setiap kali mengingatmu.

Tapi, apa kau memikirkanku saat ini? Atau hanya aku saja yang bertingkah seperti orang bodoh? Satu bulan Hye Ra.. Satu bulan aku terus berharap bahwa helai bagianmu itu terisi oleh goresan tanganmu yang indah. Namun, entah mengapa semua terasa mustahil bisa terjadi.

Hye Ra, apa karna kecelakan di Sungai Goo kau jadi meninggalkanku? Apa kau marah karna itu?

Aish, sungguh tak kusangka kalau kita harus berakhir seperti ini dan mungkin hari ini juga terakhir kalinya aku bisa menulis dibuku ini. Aku juga akan pergi, Hye Ra.. Satu keluargaku akan pindah besok pagi ke Seoul karena appa yang dipindahtugaskan ketempat itu. Awalnya aku menolak kenyataan tersebut, tapi setelah kutimbang kembali mau tidak mau akupun menyetujui. Sebab, sudah tak ada lagi yang kuharapkan disini. Aku tidak akan pernah tahu kalau kau bisa kembali lagi atau tidak.

Tapi dengan begini bukankah kita jadi impas? Kau yang tiba-tiba menghilang dan aku yang justru pergi menjauh darimu. Geundae, kau tidak perlu menghawatirkan buku ini, karna buku ini akan tetap tinggal di rongga akar yang ternyata tidak kita sadari telah tumbuh besar disisi lain pohon yang terlindungi dari terik matahari dan terpaan hujan sekalipun. Aku yakin kau akan kembali menulis untukku suatu saat nanti.

Hye Ra, aku masih begitu berharap kita bisa bertemu. Entah itu di Seoul nanti atau ditempat lainnya. Naege, haruskah aku menunggumu hingga kau kembali?

Saranghamnida, Hye Ra! Jeongmal saranghae…

Jangan buat aku terus menangis karena menunggumu…

Nb : Kau masih berhutang lukisan padaku dan aku akan menunggunya sampai kapanpun.

23-08-1987

 

Kyuhyun membuka helaian berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Terlihat buku diary tersebut memang telah berakhir. Kyuhyun yang bersandar dibatang pohon, mengangkat kepalanya keatas. Menatap sinar matahari yang tak lagi menyilaukan diantara sela-sela daun pohon tersebut.

Dia menarik nafas kemudian menghempaskannya dengan berat. Merasa bimbang dengan akhir tulisan dibuku yang ada dipangkuannya itu. Rasa sakit dihati Kyuhyun kini terasa lebih menyakitkan dibandingkan dengan luka dikakinya yang lumayan dalam itu.

“Apa benar-benar berakhir seperti ini? Sebenarnya kemana, Hye Ra? Dan kecelakan apa yang terjadi hingga membuat mereka terpisah seperti ini? Argh, tahu begini aku tidak akan membaca buku diary mereka, jika hanya membuatku mati penasaran dan bertanya-tanya seperti orang bodoh,” keluh Kyuhyun tak ada habisnya.

Kaki yang terluka kini harus dipaksa untuk menopang kembali tubuh Kyuhyun. Saat mencoba bangkit dengan iringan ringisan sakit, buku yang semula Kyuhyun pegang terjatuh begitu saja dan terbuka pada bagian akhir halaman yang terlihat tidak kosong. Bentuk tulisannya begitu Kyuhyun ingat dan kenal, hingga ia meraih buku itu lagi terburu-buru.

“Eoh, Hye Ra?!” Tukas Kyuhyun sedikit terperanjat.

Annyeong, Donghae-ah…

Apa kau baik-baik saja? Mianhae..

Aku bukan menghilang, Hae. Tapi aku menjauh darimu. Bukan karna tanpa alasan aku melakukan ini, melainkan karna aku tidak mau membuatmu merasa bersalah dan sedih.

Appa dan eomma membawaku ke New York, dua hari setelah mendapatiku pingsan dikamar. Selama dua hari itu sebenarnya kami sudah mengunjungi beberapa uisa, baik itu di Baekgong maupun di Seoul. Semua uisa yang kami datangi selalu menvonisku seenaknya. Mereka mengatakan bahwa kepalaku mengalami penyempitan pembuluh darah akibat kecelakaan di Sungai Goo dan mereka juga katakan kalau memori diotakku perlahan akan terhapus dengan sendirinya hingga pada akhirnya menghantarkanku pada kematian.

Saat uisa menjelaskan hal itu, aku berpikir bahwa hidupku memang tak akan lama. Aku takut…

Takut melupakan dirimu..

Takut melupakan kenanganmu..

Takut melupakan buku dan pohon diary ini..

Dan terlebih lagi takut tidak bisa menemuimu kembali..

Hae, penyakit ini perlahan akan mematikan syaraf ingatanku bahkan aku mulai merasakannya ketika berusaha melukis wajahmu. Naneun paboya.. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku melupakan wajahmu? Aku hanya teringat samar-samar, Hae. Mianhae..

Melihatku seperti orang yang putus asa, pada akhirnya kedua orang tuaku membawaku ke New York untuk menjalani segala cara upaya demi kesembuhanku. Tanpa mengucapkan salam perpisahan padamu sedikitpun karena aku tak mau kau tahu kalau aku sesakit ini.

Selama menjalani pengobatan, ternyata takdir mengatakan lain, Hae. Tadinya semua uisa di New York enggan menanganiku, namun ada satu uisa yang bersedia membantu masa pengobatanku. Hingga Tuhan pun sepertinya memberiku kesempatan kedua untuk kembali hidup. Aku sembuh, Hae…

Hajiman, aku tak bisa memilikimu walaupun aku mencintaimu..

Karena kini aku memiliki begitu banyak orang yang menyayangiku. Kedua orangtuaku, namphyeon, dan gadis kecilku, Hae Rim. Dia gadis kecil yang cantik dan memiliki mata yang sama denganmu. Nampheyonku.. Dia adalah uisa yang telah menyembuhkanku, namanya Henry. Eomma dan appa lah yang menjodohkan kami berdua, karena mereka takut aku akan kembali padamu. Geundae, meskipun begitu.. Aku sungguh menyayangi mereka.

Geudaesso, jangan menungguku lagi, Hae-ah! Karna aku tak akan kembali lagi padamu. Arra?

Mianhae.. Mungkin ini terdengar begitu kejam. Tapi, aku hanya tak ingin kau terus menungguku yang telah memiliki kehidupan sendiri.

Carilah yeoja lain yang mampu membuatmu tersenyum dan hidup bahagia. Carilah yeoja yang mampu menghapus segala kesedihanmu.

Donghae-ah.. Mianhae..

Aku hanya mampu membuatmu menangis demi menungguku. Jebal, jangan tunggu aku lagi dan jangan jadikan penantianmu itu sia-sia. Sejak awal kita memang saling mencintai, tapi waktulah pemisah kita.

Jika hidup bisa memilih, maka aku akan memilih untuk mati karena penyakitku. Sebab dengan begitu aku tidak akan membuat hati siapapun terluka.

Cinta untukmu akan selalu abadi dalam hidupku.

Namamu selalu terukir dalam bagian hidupku, gadis kecilku, Hae Rim.

Annyeong…

Nb : Lukisan ini pasti sudah sangat lama kau tunggu, mianhae… Karna saat itu aku hampir melupakan wajahmu. Tapi untunglah sekarang aku mengingat kembali wajahmu dan mianhae.. Bagian kertasmu juga telah terpakai olehku. Kajja! Kita akhiri segalanya disini..

25-06-2010

 

Air mata Kyuhyun tertahan dipelupuk yang terus memaksa untuk terus keluar beriringan. Tangannya pun bergerak membuka lipatan kertas yang terselip dibagian akhir buku tersebut.

Satu lukisan wajah yang mungil ditambah dengan kertas yang mulai berubah warna menjadi kekuningan, membuat Kyuhyun tak melepaskan pandangannya itu.

“Eoh, jadi ini kah yang namanya Donghae? Seperti inikah rupa utuhnya? Siapa bilang ia tampan? Ia bahkan masih dibawahku..” Celotehnya sambil berusaha tersenyum, yang sebenarnya satu tetes air mata telah terjatuh.

“Kecelakan yang terjadi pada Hae Ra, apa itu salah Donghae? Hingga kedua orang tua Hye Ra pun melarang mereka untuk berteman. Aigo.. Kenapa orang jaman dulu menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini? Karena mereka. Donghae dan Hye Ra harus merelakan cintanya masing-masing. Ne, itu semua karena keegoisan mereka… Aish!! Ini sungguh membuatku kesal!!”

Buru-buru Kyuhyun meraih daun yang setengah mengering. Lalu diambilah bolpoin yang sejak awal ada dikotak buku tersebut.

Annyeonghasimnika, Hye Ra Ajumma & Donghae Ajusshi…

Mianhae, mungkin aku terbilang namja muda yang lancang karena telah membaca buku kalian tanpa izin.

Luka dikakiku juga mungkin saja sebagai pertanda bahwa tidak seharusnya aku berada ditempat ini.

Tapi ada yang ingin kusampaikan pada kalian..

Cerita cinta kalian, mengapa harus berakhir seperti ini? Semua tidak akan terjadi, jika kalian terus mempertahankan dan memperjuangkannya. Karena sesuatu yang dari awal dibangun dengan kuat tidak akan runtuh begitu saja meskipun beribu rintangan akan menerpa.

Mungkin kalian pikir aku hanyalah namja ingusan yang tak mengerti masalah seperti ini. Namun, entah kenapa aku merasa bahwa kalian terlalu mudah untuk menyerah.

Ajumma, ajusshi, aku yakin.. Suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu kembali.

Jika dikehidupan saat ini kalian belum bisa bersama, masih ada dikehidupan berikutnya dan selanjutnya yang dapat kalian tempuh.

Jangan menyerah untuk mendapatkan cinta yang utuh, ajumma, ajusshi..

Fighting..!

Salam kenal,

Cho Kyuhyun

 

Kyuhyun meletakkan daun itu tepat diatas buku yang berada didalam kotak lengkap dengan bolpoin yang ia gunakan sebelumnya.

Untuk kesekian kalinya Kyuhyun juga harus merasakan sakit karna kakinya. Apalagi disaat Kyuhyun harus berlutut untuk menaruh kembali kotak tersebut ditempatnya semula, yaitu dilubang akar.

Kakinya pun kini berdiri tegak dan mulai berjalan menjauh dari pohon diary dengan langkah yang sedikit gontai. Matahari sore juga tampak menyejukkan langkah Kyuhyun. Namun, disetiap langkahnya menuruni bukit ia merasa ada kepedihan yang tersisa setelah membaca buku itu, seolah tidak menerima akhir dari kisah seseorang.

Sedangkan dari sisi berlainan…

Tap.. Tap.. Tap..

Bunyi ketukan langkah kaki terdengar dihamparan hijau ini. Seorang namja berusia 40-an menghampiri pohon besar tersebut dan berdiri tepat diatas lubang akar yang telah Kyuhyun buat sebelumnya.

Diulurkan tangan kanannya untuk mengambil sebuah kotak. Namun, saat tangannya baru ingin menyentuh kotak tersebut, seseorang memanggilnya penuh semangat.

“Aappppaaaa….!”

Gadis mungil berwajah imut berlari-lari menghampiri namja tersebut, kemudian langsung loncat kedalam pelukan orang yang disebutnya sebagai appa.

“Jangan berlari-lari seperti itu, Hye Ra… Bagaimana kalau kau terjatuh, lalu terluka?”

“Kan ada Donghae appa dan Eun Soo eomma yang bisa mengobatiku..” Sahutnya polos.

Gadis kecil berambut hitam panjang yang terurai itu memancarkan senyuman manisnya.

“Eomma tak mau mengobati lukamu karna kau nakal..” Sambung yeoja berwajah lembut sambil tersenyum kecil.

“Ah, appa.. Coba lihat eomma.. Dia bilang tidak mau mengobati lukaku kalau aku terjatuh.” Renggeknya membuat Donghae gemas.

“Eomma hanya bercanda Hye Ra. Kami sangat menyayangimu, bahkan tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun. Arraseo..”

“Ne, arrayo…”

Yeoja bernama Eun Soo itupun mengelus kepala putrinya lembut digendongan Donghae. Setelah itu mereka bertiga memberikan senyuman yang lebar untuk satu sama lainnya.

“Hye Ra.. Pohon, buku, dan cintaku akan abadi untukmu…” Batin Donghae sambil menatap ke langit berwarna biru.

The End

Summary

Jika dikehidupan sekarang, seseorang belum diizinkan untuk hidup bersama. Jangan takut untuk mencoba dikehidupan berikutnya. Pertahankan seseorang yang saat ini ada disampingmu, sebab jika ia pergi atau menghilang. Entah kapan ia akan kembali padamu.

Cinta akan hadir jika kita percaya. Namun, cinta akan pergi jika kita terlalu menyiakannya.

8 thoughts on “Diary’s Tree

  1. Wahhh,aku suka ceritanya. Ini pertama kali aku melihat gaya penulisan, dan ide cerita seperti ini. Karakter kyu nya jg beda dr yg lain yg biasanya evil. Hehe
    aku suka dan ada inspirasinya jg..
    Good job thor~:)

  2. aaaaaaa, keren BGT! sumpah! pas Kyuhyun nangis, aku juga ikutan nangis nih. sehati kali ya sama Kyu? eheheh😀
    authorrrrrrrrrrrrrrrrrrr, Gue suka banget sama FF lo! sumpah dah😄

  3. hiks hiks hiks😥

    cerits’a menyentuh hati banget
    jadi mo nangis bca’a
    kasian mereka saling mencintai tapi ga bisa bersama
    tapi cinta mereka tetap abadi
    aku suka ma ide cerita’a kereeennnnnnnnnnnn abisssssssssss

  4. ceritanya keren banget thor menarik.. sedih..haru..penasaran… namun sayang gx d jelasin kejadian kecelakaannya.. v daebak buat authornya!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s