IDOL MAID (Take 1)

 

IM1

Title     : Idol Maid

Leght   : Chapter

Rate    : PG 17

Casts   :

Kwon Jaejin

Lee Gikwang

Yong Junhyung

Gendre            : Comedy romance

Author            : Sarah Shafira

 

OPENING TRACK : B2ST – BEAUTIFUL NIGHT

Suara dentuman musik masih terdengar di sekitar area konser bertajuk LIVE TO LOVE. Seketika terdengar jeritan dari para gadis-gadis yang tengah menyaksikan konser tersebut. Ketika lampu padam dan kembang api melesat ke udara dengan cepat, dan untuk kali ini konser diakhiri dengan sangat mengagumkan.

“Yong Junhyung~~~~~~~!!!!!!!!!!!” suara menyeruak dari seorang bertubuh gembul yang tengah berlari disekitar koridor gedung konser berlari tergesa-gesa. Dari arah berlawanan terlihat seorang pria yang menggunakan kacamata hitam yang menutupi matanya sontak menghentikan langkahnya diikuti oleh sekumpulan orang yang berjalan dibelakang namja itu.

“Junhyung-ah..!” pria gembul itu menghentikan langkahnya dihadapan orang yang ia pangil Junhyung.

“Wae irae?” Junhyung membuka kacamata hitamnya dan menatap –manager Hong- yang tengah mengatur napasnya yang tidak beraturan.

“Ah~~~ seseorang sedang menunggumu diluar” manager Hong menegakkan tubuhnya dengan susah payah setelah berhasil memperbaiki napasnya.

“Seseorang?” Junhyung memastikan.

“Tepatnya seorang gadis”

“Gadis?!?!??” kali ini Junhyung berteriak terkejut.

“Ah~~ pasti dia, sudah ku katakan jangan menemuiku sekarang..” manager Hong memutar badannya begitu Junhyung melewatinya dengan dingin.

“Kau mau kemana? Hey~~~!” teriak manager Hong, namun Junhyung tidak mengiraukan ucapannya dan terus berjalan menjauhi manager Hong.

 

Junhyung menghentikan langkahnya begitu ia melihat sesosok gadis yang berdiri tegap membelakanginya, dengan jaket bulu yang melindunginya dari dinginnya angin musim dingin dan dengan rambut hitam gelam tergerai begitu indah.

Gadis itu nampaknya merasa kesal akan kedatangan Junhyung yang begitu lama, ia terkadang menggerak-gerakkan kakinya ketanah.

“Sudah kubilang kau jangan datang sekarang”

“Mwo?” yeoja itu terperanjat kaget. Junhyung berjalan mendekatinya, seketika ia tersenyum saat mendekati yeoja itu.

“Begitu tidak sabarnya kah kau bertemu denganku?”

“Oppa…” yeoja itu membalikkan badannya, Junhyung berhenti beberapa meter dari yeoja itu dan mengernyitkan sebuah senyuman. Dilihatnya yeoja itu yang kini berjalan dengan anggun mendekatinya.

IDOL MAID

Take 1

BRAK~~~!!!!

“MWOYA?!?!?!” dengan oktaf yang paling tinggi Jaejin memekikan suaranya begitu tinggi saat wanita berumur sekitar 45 tahun tersebut melempar sebuah Koran kehadapannya.

“Kau sudah dewasa, umurmu 23 tahun. Seharusnya kau sudah mendapatkan pekerjaan saat kau sudah mengenggam predikat sarjanamu itu, eoh”

“Aish.. eomma-ah” keluh Jaejin malas.

“Carilah pekerjaan disana. Ada banyak iklan yang bisa kau lihat. Heh… ingat! Hidup ini tidak gratis Jaejin” wanita itu mendorong jidat  Jaejin dengan telunjuknya. Jaejin mengendus kesal saat wanita itu berlalu dari hadapannya.

Aish…” Jaejin menundukkan wajahnya.

“MENCARI PEKERJAAN…! MENCARI PEKERJAAN..!! DIA FIKIR MENCARI PEKERJAAN ITU SEMUDAH MENELAN MAKANAN…!??!?!? AKU BISA GILA NANTI~~~!!!!!” Jaejin berteriak frustasi seraya mengacak-ngacak rambutnya kesal.

“JIKA KAU TIDAK INGIN MENCARI PEKERJAAN PERGI SAJA DARI SINI. ITU SEMUDAH MENELAN MAKANAN”

GRRRKKKK! O.O” Jaejin menelan ludah dengan setengah ketakutan saat mendengar suara itu menggelegar dari arah dapur.

“Iya.. aku akan cari pekerjaan” ucap Jaejin pelan. Ia terdiam kemudian menatapi Koran yang berada diahadapannya.

Aish jinja!!!” Jaejin kemudian membawa Koran dengan kesal dan menutupi wajahnya dengan Koran, Jaejin terdiam kemudian menyilangkan tangan didada dan menegadahkan wajahnya.

***

KRIK KRIK KRIK! Bagi Jaejin, mungkin ini seperti berada disebuah kandang jangkrik yang hanya mengeluarkan suara tanpa menatap kearahnya sedikitpun, orang hanya berlalu lalang tanpa menghiraukan Jaejin yang tengah berdiri mematung seraya mengangkat sebuah banner bertuliskan. ‘Aku butuh pekerjaan, pekerjaan untuk mengeluarkanku dari neraka laknat itu. Seseorang hubungi aku segara, ini bukan lelucon, aku serius. Tertanda KJJ’

“Hhhhh~~~~. Hidup memang sulit. Hah~~~!” untuk yang kesekian kalinya Jaejin mengendus kesal dan menundukkan wajahnya. Jika saja bukan karena desakan setan neraka laknat itu mungkin Jaejin tidak akan mengikuti perintahnya. Bagi Jaejin, ia hanyalah seorang ibu tiri kejam, dan selamanya hanya sebagai Ibu tiri kejam bagi Jaejin yang terus memperlakukannya seperti hewan.

“Andai saja aku bisa berubah. Aku harap aku bisa menjadi cinderela. Pangeran tampan, hah~~ kapan ia akan datang padaku?”

TRENG TRENG~! Sontak, Jaejin mengangkat wajahnya ketika mendengar suara klakson sepeda yang begitu familiar ditelingannya. Seorang pria dengan sepedanya kini melaju mendekati Jaejin yang masih berdiri konyol didepan rumahnya.

“Hay, Jaejin!” namja itu menghentikan laju sepedanya dan berdiri dihadapan Jaejin.

“H-hai..” balas Jaejin gugup seraya berdadah manis padanya. Namja itu melirik banner yang ada diatas kepala Jaejin. Jaejin yang merasa namja itu memperhatikan banner itu lantas menurunkannya dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.

“Ah~~! Ini ya. Kau pasti sudah melihatnya” Jaejin mengaruk kepalanya yang tak gatal.

“Kau baik-baik saja?” tanya namja itu.

“Aku baik-baik saja” jawab Jaejin. “Ah~ tidak! Aku tidak baik-baik saja” ralatnya cepat.

 

Namja yang bernama Gikwang itu kini menatap Jaejin yang tengah memegangi cangkir kopi hangat dengan riangnya.

“Ck, tidak bertemu satu bulan kau terlihat lebih kurus. Apa kau punya masalah?”

“Apa?” pekik Jaejin. Gikwang melirik jari-jemari Jaejin yang masih menggenggam cangkir begitu erat. “Ah iya” dengan cepat Jaejin kemudian melepas genggamannya yang terlihat kekanakan.

“Apa kau punya masalah?”

“Hm… bagaimana ya?”

“Apa?”

“Ternyata benar, semakin kita dewasa semakin banyak juga masalah yang menghantam kita”

“Kenapa kau jadi puitis seperti ini. Kau baik-baik saja kan??” Gikwang mengernyit ketakutan.

“Gikwang-ah” pangil Jaejin, Gikwang melirik Jaejin.

“Wae?”

Jaejin terdiam, ia berfikir tentang apa yang akan ia katakan padanya. Jaejin kemudian mengingat tentang ucapan Ibunya bebera hari yang lalu.

“Jika kau meminta bantuan pada seseorang katakanlah yang sejujurnya. Kalau perlu, kau harus terlihat sangat menyedihkan dan menderita”

Jaejin menarik napasnya ketika ia kembali mengingat ucapan Ibunya. Jaejin menarik napasnya dalam kemudian menatap Gikwang serius.

“Gikwang” pangil Jaejin

“Iya?”

“Dengarkan aku, kali ini aku bicara serius denganmu. Dengarkan aku ya!” pinta Jaejin serius.

“Baiklah. Malhaebwa!” Gikwang bersiap untuk mendengar ucapan Jaejin.

“Aku…. Aku… a-aku! Aku membutuhkan pekerjaan, untuk mengidupiku, Jaewon dan ibuku, aku harus mencari pekerjaan. Ibu selalu memohon padaku untuk mencari pekerjaan secepatnya, aku kasihan padanya, ia begitu baik padaku, ia juga sayang padaku. Dan aku…” Jaejin memotong ucapannya dan menundukkan wajahnya.

“Sebegitu menderitanyakah hidupmu sekarang?” Gikwang merasa iba dengan keadaan Jaejin yang kini tengah menangis tersedu-sedu.

“Aku tidak tahu, jika nanti aku tidak dapat pekerjaan. Akan jadi apa aku” Jaejin kini menangis semakin keras sehingga membuat hampir semua orang melihat kearahnya.

“Aku tahu hidup ini keras, aku juga tahu bagaimana sulitnya hidup dinegri ini, aku rasa…”

“Apa?” Jaejin segera mengangkat wajahnya, dengan cepat ia menganggat wajahnya dan menatap Gikwang penuh pengharapan.

“Jaejin-ah!” Gikwang mulai tersenyum pada Jaejin.

 

Jaejin menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dengan lemas, ia kini menerawang keluar dari balik jendela cafe. Diluar sana, Gikwang mendorong sepedanya dan bersiap menaiki sepeda, ia kemudian mengerucutkan bibirnya.

“Ia fikir mencari kerja semudah menelan makanan? Jangankan dia! Sebelum langit pecah dan banjir bandang mengantam negri ini aku dulu yang harus mendapat kerja. Ck, dasar perempuan!” Gikwang kini menaiki sepeda dan mengayuh sepedanya meninggalkan Jaejin didalam sana yang terdiam dengan pandangan kosong.

***

“Aku tidak butuh bantuan orang lain, eeeerrrr~~ aku tidak butuh siapapun, aku bisa tanpa siapapun..” Jaejin berjalan mundur dan menatap kearah dinding, sedetik kemudian.

“HIATTTTTTTTTTTT~~~~~~~!!!!!!!!” dengan kesal Jaejin berlari mendekati dinding dan menendang sebuah foto seorang namja. Lee Gikwang, foto Gikwang yang ia simpan selama satu tahun kini rusak karena tendangan Jaejin tadi.

“Aishidawo” Jaejin meringis kesakitan ketika merasa kakinya berdenyut nyeri karena tendangan yang cukup keras.

Noona-ah. Apa yang kau lakukan???” Jaewon berteriak kesal dari atas kasur karena mendengar suara tendagan Jaejin yang membangunkan tidur malamnya.

Aish.. ah~ Jaewon, tolong ambilkan salep dilaci dekat ranjangmu. Cepat!” desak Jaejin kesakitan yang kini terduduk dilantai.

“Arght~~! Itu karena noona menendang tembok begitu keras!” ucap Jaewon frustasi, Jaewon kemudian turun dari ranjangnya dan membuka laci. Ia kini berjalan mendekati Jaejin dan memberikannya salep.

“Oleskan disana!” tunjuk Jaejin pada tumit kakinya.

“Sakit ya noona?”

“Menurutmu apa, eoh?”

“Kkkkkk~~~”

“Hhh… bukannya menyemangatiku malah menertawakanku seperti itu. Awas ya kau” Jaejin menjitak kepala Jaewon.

Appo” ringis Jaewon seraya mengusap kepalanya. Kali ini giliran Jaejin yang menertawai adik laki-lakinya.

“Itu karena noona menendang wajah pria tampan itu makannya kaki noona jadi sakit”

“Tampan?”

“Untuk ukuran seorang pria dia sangat tampan. Aish! Sebenarnya aku gengsi mengatakannya sebagai seorang laki-laki, tapi itu kenyataannya.” Jawab Jaewon.

“Benarkah seperti itu?” tanya Jaejin pelan.

“Noona menyesal karena telah menendang wajahnya?” Jaewon telah selesai mengoleskan salep di tumit Jaejin, ia berdiri dan menatap Jaejin, ia mengulurkan tangannya. Jaejin menerima uluran tangan Jaewon dan Jaewon membantunya berdiri.

“Hoammmmmm~~~~~! Aku akan melanjutkan tidurku. Hati-hatilah dengan kakimu. Goodnight” Jaewon tersenyum begitu lebar pada Jaejin yang mematung menatapi wajah Gikwang. Sepninggalnya Jaewon keatas kasur, Jaejin masih terdiam memandangi wajah Giwang.

“Benar??? Dia tampan??” tanya Jaejin ragu.

“Jaejin…!” Jaejin segera membalikkan badannya dan menatap Ibu yang melonggo dari balik pintu.

“Ne?”

“Pergilah ketoko! belikan Ibu beberapa kue untuk temanku. Ayo cepat!”

“Malam-malam seperti ini?!?” pekik Jaejin.

“Aku tidak mungkin menyuruh adikmu yang masih bocah itu” Jaejin melirik sesaat Jaewon yang kini tengah tertidur pulas.

“Baiklah, mana uangnya?” Jaejin membuka tangannya dan menyodorkannya pada ibu.

***

Jaejin berjalan dengan malas menusuri jalan kampungnya. Ia terdiam ketika suara Jaewon kembali tergiang ditelingganya.

“Untuk ukuran seorang pria dia sangat tampan. Aish! Sebenarnya aku gengsi mengatakannya sebagai seorang laki-laki, tapi itu kenyataannya.”

Tapi, sesaat kemudian Jaejin menendang sebuah kaleng minuman dengan foto seorang penyanyi pria dihadapannya ketika ia teringat dengan perlakuan Gikwang yang menolak mentah-mentah membantunya siang tadi. Dan tanpa sepengetahuannya seseorang berteriak kesakitan begitu kaleng itu melayang mulus ke kepalanya.

“Dia memang tampan… tapi dia bodoh! Bodoh!! Bodoh!!!!!!!!!! Aku benci padanya!” Jaejin berteriak kesal ditengah malam yang menyelimuti Seoul.

Jaejin terdiam, dan menghadapakan tubuhnya menatap aliran sungai. Ia terdiam dan merasa kelamnya kehidupan sebagai Kwon Jaejin.

“Permisi…” Jaejin membiarkan suara itu begitu saja tanpa menghiraukannya sedikitpun.

“Ehehehe. Permisi nona!” kali ini ia menyentuh bahu Jaejin. Jaejin tersontak dan segera tersadar dari lamunannya. Jaejin membalikkan badannya.

“Ne, wae irae?” tanya Jaejin ramah.

“Apa kau yang melakukan ini?” pria gembul itu memperlihatkan sebuah kaleng minuman yang penyok akibat tendangan Jaejin tadi.

“Aku lupa bagaimana bentuk kaleng yang kutendang tadi, tapi sepertinya itu…”

“Bagus, dewi fortuna masih berada dipihakku” ucap pria itu memotong ucapan Jaejin.

“Apa?” tanya Jaejin bingung.

“Ah… tidak. Hm… apa kau punya waktu?”

“Untuk?”

“Punya atau tidak?”

“Sepertinya aku punya”

“Bagus kalau begitu” pria itu dengan cepat menarik pergelangan tangan Jaejin dan menyeretnya pergi.

“Eh tunggu! Kau mau bawa aku kemana?” tanya Jaejin mulai panik.

“Kau hanya perlu mengikutiku, aku bukan orang jahat. Jadi tenang saja”

“Tapi….” Jaejin terkejut ketika pria itu menyeretnya pergi mendekati sebuah mobil van.

“Maksudmu apa?” tanya Jaejin semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Kita sampai!” pria itu melepaskan genggamannya pada Jaejin. Jaejin terkejut ketika ia berada disamping sebuah mobil van.

“Orang ini ingin bertemu denganmu” bisiknya ditelinga Jaejin. Jaejin tidak mengerti dengan ucapan pria tersebut, ia terdiam. Dan sesaat kemudian pintu mobil terbuka. Jaejin melihat seorang pria yang sedang meringis kesakitan didalam sana.

“Aish…. Kepalaku…!!! Asetku!” ia masih meringis kesakitan, Jaejin mengernyit iba.

“Maksudmu dia?” tanya Jaejin, pria itu mengangguk.

“Siapa?”

“Ah~~~! Ini karenamu! Kepalaku sakit. Kau tahukan siapa aku??” pria itu meneriaki Jaejin kesal. Jaejin terkejut melihat pria itu yang kini menatap Jaejin. Bola mata Jaejin membulat ketika ia mengingat wajah di kaleng minuman dan saat adiknya menonton acara music, semuanya sungguh sangat mirip dengan orang ini.

Ommo…!!!” Jaejin tersungkur ketanah. Pria itu kini yang gentian terkejut melihat Jaejin yang tersungkur.

GRRRKKK~~! Jaejin menelan ludahnya panik. “Kenapa kau disini?”

CLOSING TRACK : B2ST – SHOCK

TBC

 

 

12 thoughts on “IDOL MAID (Take 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s