Angel // Oneshoot

 

ANGEL

*.* Angel *.*

 

 

Author : Mulberry

Genre : Angst, sad

Lenght : Long Shoot Cast : Kim Jong Won (SJ), Han Na Yui (OC), Kim Yong Won (SJ)

Ost : Super Junior – Angel

 

 

Jong Won POV.

Aku melangkah pelan menuju rumah tempatku bernaung dari panas dan hujan. Setelah seharian berkutat dengan semua tugas kuliah yang terasa penat, hingga memeras otaku untuk berpikir, setiap jam pelajaran itu sudah cukup membuatku lelah.

Seketika tubuhku membeku tatkala aku mendapati jalan yang aku lalui sudah tidak sama seperti pagi tadi. Aku yakin sekali di perempatan ini ada yang berubah. Tapi apa? Aku mengedarkan pandanganku mencari sesuatu yang menurutku tidak seperti biasanaya.

Deg~ Jantungku berdetak diatas normal, ketika aku mendapati toko disebrang sana. Aku masih ingat dengan jelas ketika pagi tadi aku bisa pastikan toko itu belum ada. Lebih tepatnya belum buka.

Sesutau yang bergerak didalam toko itu mampu membuatku berdiri kaku. Mataku seakan tidak butuh untuk berkedip lagi. Sungguh demi apapun wanita itu begitu cantik seolah-olah dia adalah bidadari yang diturunkan oleh surga untuk menjelma menjadi manusia biasa sepertiku.

Aku hanya bisa terdiam memandanginya di seberang jalan toko tempatnya melukis. Ini pertama kalinya aku melihat wanita secantik itu terlihat jelas didepan mataku, semuanya seakan ikut berhenti dan menghilang. Sehingga hanya menyisakan aku dan dirinya.

“Agashi, wajahmu seperti bidadari yang turun dari surga, aku akan memanggilmu Cheonsa,” aku hanya bergumam sendiri dari tempatku berada kini.

*.* Angel *.*

Tepat satu minggu sudah aku selalu berdiri di persimpangan jalan yang menjadi saksi bisu tentang semua hal yang aku lakukan. Tidak pernah perduli ketika semua orang disekitar menatap nanar akan diriku. Masa bodoh ketika mereka seakan mencemooh semua sikap anehku.

Tapi ini tidak jadi masalah, bahkan aku rela berdiri disini seharian asalkan bisa melihat wajah malaikat yang selalu aku rindukan. Bahkan didalam mimpi sekalipun dia selalu datang. Namun sungguh aku tidak pernah mengerti ketika rasa rindu ini tidak kunjung surut.

Dengan egoisnya rasa rindu ini datang. Bahkan aku sendiri tidak mampu untuk menyuruhnya berlalu pergi meninggalkanku.

Ketika tetesan hujan dengan derasnya membasahi tubuh. Semua tetesannya membuat semua kulit ditubuhku menjadi basah. Bahkan kain yang aku gunakan membalut tubuhku telah basah dengan sempurna.

Hingga menyisakan tetesan kecil yang mengalir. Kain yang membalut tubuhku masih basah ketika hujan telah reda. Itu semua tidak menyurutkanku untuk pergi dan berlalu meninggalkan malaikat yang sesekali menatap nanar ke arahku.

Ada perasaan bahagia luar biasa saat dia menatap kearah tempatku berdiri. Rasanya seperti banyak peri kecil yang terbang di sekeliling tempatku berdiri.

Walaupun aku tidak yakin dia melihatku yang bodoh ini. Namun bagiku ketika dia memutar kepalanya dan berhenti sejenak ke arahku itu sudah terasa sangat luar biasa. Setidaknya aku bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas.

Matahari telah kembali bersinar setelah awan hitam yang bergerombol tadi menangis dan menumpahkan semua beban yang di pikulnya. Bahkan saat ini pakaian yang aku kenakan telah kering dengan sendirinya ketika paparan sinar mentari menerobos masuk kesetiap serat kainnya.

Hari ini terasa jauh lebih indah dari biasanya, aku berdiri disini melawan panas dan hujan. Sungguh dua hal yang membuatku semakin menyukai wanita berwajah malaikat yang mampu membuat hidupku jauh lebih indah.

Seenja telah berpulang. maka saketika itu pula aku beranjak pergi dari tempat yang aku pijaki kini. Aku tersenyum manis ketika melihat dia menutup tokonya. Sekalipun dia tidak melihatku tidak mengapa. Karena aku selalu berada disini untuk melihatnya.

“Cheonsa, semoga tidurmu lelap dan mimpi indah!” hanya kata itu yang selalu aku lapaskan, sejenak sebelum aku berlalu pergi untuk kembali kerumah tempatku memimpikan wajah malaikatnya.

*.* Angel *.*

“Jong Won, aku perhatikan kenapa kau selalu pulang malam, eoh?” terdengar dengan jelas suara yang memekikan telinga itu kembali terulang.

“Hyung, mianhae aku ada urusan, kau tidak perlu mengkhawatirkanku! Aku tidak akan berbuat hal yang tidak seharusnya aku lakukan bersama teman-teman sekampusku.”

Aku dapat memahami semburat kecemasan yang melandanya. Dia adalah Hyung sekaligus orang tua bagiku. Karena di dunia ini yang aku miliki hanyalah dirinya saja.

Kedua orang tuaku telah meninggal ketika aku masih berusia 13 tahun, semenjak saat ini Young Woon Hyung menjadi satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini.

“Arraseo, aku percaya padamu. Jadi aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik! Mianhae, karena aku sedikit sibuk bekerja. Mohon kau jangan pernah merasa terabaikan!”

Aku bisa merasakan tangan kiri Young Woon Hyung menepuk bahuku pelan. Tergambar jelas penyesalan bercampur kesedihan di raut wajah tampannya.

“Hyung, aku sudah dewasa aku pulang malam akhir-akhir ini bukan berarti aku marah ataupun tidak betah berada dirumah,” aku berusaha menepis semua keraguan yang mendera perasaannya.

“Baiklah, aku percaya padamu, sebaiknya kau cepat bersihkan badanmu! Ini sudah malam sebaiknya kita makan malam bersama,” dia berlalu pergi setelah memperlihatkan senyum pertanda semua rasa khawatirnya telah sirna.

*.* Angel *.*

Semua hari yang aku lalui selalu seperti ini. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di seberang tokonya dengan wajah menatap lurus berusaha untuk menangkap semua pergerakan yang dia lakukan. Bahkan rasa tidak rela datang ketika dia beranjak masuk ke dalam ruangan yang terdapat penyekat di dalamnya, aku benci ketika dia berada di dalam sana.

“Sedang apa dia? Kenapa lama sekali?” aku sedikit menghentakan kakiku kasar, sudah 10 menit dia masuk kedalam ruangan yang bersekat. Aku tidak dapat melihat apa yang sedang dia lakukan.

Seketika mataku membulat sempurna. Tatkala aku mendapati dirinya keluar dari ruangan itu dengan sedikit terhuyung. Sungguh. Rasanya aku ingin berlari dan memapahnya agar ia tidak terjatuh.

Namun apa daya aku hanya bisa mengepalkan tanganku, tatkala seorang pria masuk dan membantunya berdiri.

Aku dapat merasakan semua peredaran darahku seakan mendidih melihat pemandangan yang begitu memilukan itu. Terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi kepalaku.

“Siapa dia? Apa yang dia lakukan di sana? Apa dia kekasihnya?” Semua pertanyaan itu dengan sendirinya berkutat memenuhi isi kepalaku.

Sungguh ini terasa sesak, meskipun aku hanya seorang pengagum rahasia yang dengan bodohnya tidak pernah sekalipun berusaha untuk menyapa. Atau sekedar berbasa-basi agar bisa berkenalan.

Aku terhenyak ketika pria itu menutup toko lukisan yang biasanya hanya akan tutup ketika senja menjelang. Semua akal sehatku seakan sirna ketika hatiku bergetar. Aku takut sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi di antara mereka.

Dua jam sudah aku masih ditempatku berdiri, perasaanku semakin kacau ketika tidak sedikitpun mendapati pertanda bahwa pria itu akan keluar dari rumah toko yang aku yakini adalah milik agashi cheonsa.

Titit~ titit~ Semua lamunanku terhenti tatkala sebuah mobil AUDY mengeluarkan suara yang memekikan telinga hingga membuatku terperanjat dari alam bawah sadarku.

“Jong Woon, apa yang sedang kau lakukan disitu? Kenapa kau tidak pulang, eoh?” Sebuah suara yang sangat tidak asing ditelingaku berteriak dari balik kaca mobil yang telah terbuka.

“Aku tadi sedang menunggu kawan, namun sepertinya dia tidak datang,” aku menjawab semua pertanyaannya dengan kebohongan.

“Sebaiknya kau pulang saja! Ini sudah hampir malam, cepat masuk! Kita pulang bersama.”

Aku beranjak pelan membuka pintu mobil mewah milik Hyungku, namun manik mataku masih setia melihat kearah tempat cheonsa itu berada.

“Mianhae, Hyung aku berbohong padamu,” hanya kata itu yang bisa aku ucapkan dalam hatiku. Aku rasa belum saatnya untuk menceritakan semua kepada Young Woon Hyung.

*.* Angel *.*

Aku meremas kasar ujung kaos yang aku gunakan, hatiku begitu gusar. Sudah lima hari aku tidak melihat agashi cheonsa. Bahkan tokonya tidak buka sama sekali, aku masih setia berdiri ditempat biasa aku memandangnya. Hatiku begitu resah, terlalu banyak pertanyaan yang berkutat di kepalaku.

Tepat 88 hari sudah aku lewati dipersimpangan jalan yang menjadi saksi ketika manik mataku yang selalu memandang lurus kearah toko lukisan di sebrang sana. Hingga saat ini tidak pernah sekalipun aku berani untuk menyapa serta bertanya siapa namanya.

Aku berharap hari ini bisa melihatnya. Mungkin dewi fortuna sedang berpihak padaku, hatiku berlonjak gembira ketika mataku menangkap wajah yang sangat aku rindukan.

“Akhirnya penantianku tidak sia-sia,” tanpa sadar aku tersenyum kearahnya sesaat setelah dia memalingkan wajah malaikatnya kearahku.

Aku kembali menjadi penggemar rahasia yang hampir genap 90 hari memperhatikannya. Setiap dia menggariskan kuas kedalam kertas putih yang menjadi media untuknya melukis, maka setiap kali itu pula senyumku mengembang dengan sendirinya.

Dia begitu terlihat sangat mempesona, sesungguhnya aku ingin sekali berlari kearahnya dan mengatakan semua perasaan yang hampir tiga bulan ini aku pendam. Namun apa daya aku tidak mempunyai keberanian untuk menyambut pertanyaan yang akan dia lontarkan.

Seketika senyumanku berhenti. Dia menutup tokonya lebih awal, bahkan dia hanya buka satu jam saja hari ini. “Cheonsa, apa kau selalu sibuk? Apa yang akan kau lakukan sehingga harus menutup toko begitu cepat?”

*.* Angel *.*

Ini sudah hari ke 90 aku selalu menatapnya dari jauh, hingga saat ini aku masih tidak mempunyai keberanian yang aku impikan itu. Hati dan inginku tidak sejalan, hingga aku tetap menjadi pecundang sejati seperti ini.

“Apa-apaan ini? Kenapa di sana tertulis toko ini di jual?” aku sangat tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dengan cepat aku menyebrang jalan tanpa memperdulikan teriakan dari pengendara mobil yang terkejut akan kehadiranku.

Dengan cepat aku hampiri ahjussi yang sedang melakukan aktivitasnya. Dia memasang flang yang akan menjadi tanda bahwa toko ini aka di lepaskan oleh pemiliknya.

“Mianhae, ahjussi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa toko ini di jual?” aku mencecarnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sangat terlihat jelas guratan keterkejutan di wajahnya.

“Kalau kau ingin tahu silahkan tanya langsung pada pemiliknya!” telunjuknya mengarah ke dalam toko yang berisikan lukisan-lukisan indah.

Untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki di tempat ini, bahkan aroma therapy yang di keluarkan oleh pengharum ruangan terasa sangat menenangkan ketika mereka menerobos indera penciumanku.

Aku bisa merasakan hatiku seakan ingin berlari dari tempatnya. Perasaanku begitu tidak menentu, keringat dingin mulai membasahi kening dan sebagian tubuhku.

Bagaimanapun aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Perlahan aku masuk dam mengedarkan pandanganku. Tatapan mataku berhenti saat aku melihat pria yang malam itu menginap di tempat ini.

“Apa ada yang bisa aku bantu tuan?” dengan ramah dia menyapaku. Bahkan senyumannya begitu terlihat menawan walaupun ada garis kelelahan diwajahnya. Aku yakin setiap wanita yang melihatnya akan terhipnotis seketika.

“Mianhae, aku kesini hanya ingin melihat-lihat saja,” aku terpaksa berbohong untuk menutupi rasa gugup yang menderaku.

Perasaanku begitu kalut, aku tidak sanggup untuk terus menahan semua pertanyaan yang telah sampai ditenggorokanku.

“Aku ingin bertanya, wanita yang biasa menjaga toko ini kalau boleh tau dia kemana?” akhirnya kata-kata itu terlontar juga, setelah bersusah payah aku mengumpulkan kekuatan untuk mengutarakannya.

Pria itu menunjukan senyuman yang tidak dapat aku mengerti. “Apa kau mengenalnya?”

Dia membalasku dengan pertanyaan, aku hanya mengeleng perlahan. “Anni, hanya saja sudah hampir satu minggu ini dia jarang terlihat.”

“Dia sudah pulang ke kampung halamannya,” hanya jawaban itu yang aku dengar. Aku bisa melihat raut wajah sedih yang terpancar dari wajah tampannya.

“Mianhae sudah menggangu, kalau begitu aku permisi dulu.” Aku berlalu pergi dengan sejuta perasaan yang sulit untuk diartikan.

“Dia sudah pulang? tapi dimana kampung halamannya?” aku bergumam pelan setelah kakiku menapak sempurna berjalan menjauh dari toko lukisan itu.

Sepanjang perjalanan pulang lututku rasanya lemas bagaikan tidak bertulang, banyak perasaan aneh yang menderaku semuanya berkecamuk. Hingga aku tersadar sesuatu. Aku balikan badanku dan berlari sekuat tenaga untuk kembali ke toko cheonsa.

Dengan napas terengah-engah akhirnya aku sampai juga, tanpa berpikir panjang aku segera menerobos masuk ke dalam toko yang pintunya hanya tinngal terbuka setengah.

“Tuan, mianhae aku ingin tau kampung halaman agashi itu di mana?” aku bertanya tanpa memperdulikan rasa malu dan cemoohan yang mungkin akan dilontarkan olehnya.

Tapi, apa ini? Dia malah tesenyum kaku dan memberikan secarik kertas padaku.

“Aku kira kau tidak akan menanyakannya, tulisan yang tertera di kertas itu adalah panti asuhan tempat dia di besarkan, namanya Han Na Yui dia lebih suka dipanggil Han Yui, pagi tadi dia minta untuk pulang kesana.”

Penjelasannya cukup membuatku terkejut, apa maksud dari ucapannya? Apa dia tau kalau aku selalu memperhatikan wanita berwajah cheonsa itu?

Semua itu aku abaikan, karena aku ingin segera menyusul cheonsa. Terlalu berat beban kerinduan yang aku rasakan, selama aku tidak melihatnya, hidupku seakan tidak berwarna.

Semuanya kosong, hampa, tidak ada sesuatu yang bisa mengisi hidupku. Sekalipun aku hanya berkenalan dengannya bagiku itu sudah cukup.

“Khamsa hamnida,” aku membungkukan badanku, hatiku terasa kembali setelah aku mendapatkan alamat tempat tinggal cheonsa, walaupun di luar kota.

*.* Angel *.*

“Hyung, mau kah kau mengantarku kesana?” aku masih berusaha membujuk Hyung untuk ikut pergi bersama ke Busan, semua yang aku lakukan selama ini telah aku ceritakan padanya.

Walaupun awalnya dia memaki serta mengatakan bahwa aku adalah lelaki terbodoh di dunia. Tapi aku bisa terima. Karena memang itu kenyataanya, aku terlalu bodoh selama hampir 90 hari aku hanya bisa memandanginya dari jauh.

“Bagaimana kalau lusa saja? Aku juga ingin ikut bersamamu dan melihat calon adik iparku, lusa kita pergi bersama, eottohkae?” dia mengajukan penawaran.

Sesungguhnya aku keberatan ketika Hyung mengundur keberangkatan. Karena hatiku sudah terasa ingin meledak karena harus menahan rindu terlalu lama, tapi aku juga menghargai keputusannya, aku juga mengerti Hyung tidak bisa meninggalkan pekerjaanya begitu saja.

Author POV.

@Busan.

Setibanya di panti asuhan yang mereka cari, dengan langkah cepat Jong Woon dan kakaknya bergegas masuk serta menanyakan keberadaan Han Yui.

“Kalau kau ingin bertemu dengannya ikutlah denganku!” Seorang wanita mengajak mereka kesebuah bukit, wanita itu menyerahkan sepucuk surat serta satu gulungan kertas yang bila orang melihatnya sekilas pasti sudah mengetahui bahwa itu adalah lukisan.

Entah kenapa Jong Woon tersenyum ketika dihadapannya terpampang jelas Han Yui yang sedang mengariskan kuas yang telah terlumuri cat lukis, terlihat jelas ketika dia melihat kampas yang tadinya putih kini telah berubah menjadi sesuatu yang indah dan berwarna.

Namun semua itu hanyalah kenangan yang menyakitkan, ketika Jong Woon mengetahui bahwa Han Yui sudah pergi dua hari yang lalu, dia menitipkan sebuah surat yang sangat tidak disangka itu adalah untuknya.

“Tuan seberang jalan, kenapa kau selalu beridiri disitu? apa kau tidak berniat menyapaku? Sering aku berpikir kau adalah pria terbodoh yang pernah aku lihat, kau bisa berdiri diseberang hingga berjam-jam. Hanya untuk melihat ketempat dimana biasa aku duduk dan melihat semua yang aku kerjakan. Aku menulis surat ini untukmu setelah aku mendapat kabar dari Oppa yang kau temui di tokoku, bahwa ada pemuda yang mencariku. Aku memberikan lukisan yang aku selesaikan tepat dihari ke 88 kau berdiri di sebrang jalan bahkan sering sekali aku melihat dirimu melawan panas dan hujan. Saat kau membaca surat ini aku telah kembali ke sisi Tuhan, karena dia terlalu sayang padaku. Hingga dia memanggilku lebih cepat dari semua orang yang menyayangiku. Aku mengidap kanker otak stadium akhir. Tepat sehari sebelum membuka toko. Dokter berkata umurku hanya tersisa 90 hari.”

Wanita itu bernama Han Yui itu ternyata sangat jelas mengetahui keberadaan Jong Woon yang selalu memperhatikannya.

“Aku menyesal karena hanya bisa memandangimu dari jauh, bahkan aku tidak mempunyai keberanian untuk mengajakmu berkenalan. Agashi, Cheonsa saranghanta.”

Dengan perlahan Jong Woon membuka lukisan yang telah terkena tetesan air matanya. Seketika air matanya semakin bergerombol membasahi pipi tirus itu.

Terlihat jelas itu adalah lukisan dirinya yang sedang berdiri di seberang jalan, walaupun wajahnya tidak begitu jelas namun semua sketsa wajah yang terpampang disana adalah miliknya.

Di pojok sebelah kiri lukisan terdapat gambar bunga teratai dengan tulisan makna di sampingnya.

“Tuan aku sengaja menggambarkan dirimu seperti bunga teratai. Menurutku bunga teratai itu walau tumbuh di tempat buruk sekalipun dia selalu nampak indah dan tangguh, begitu pula dengan dirimu. Ketika kau terkena hujan, itu tidak membuatmu tampak buruk, saat panas mulai menerjang masuk dalam pori-pori kulitmu, kau masih dengan tangguhnya berdiri di sebrang sana. Terima kasih karena telah setia memperhatikanku selama sisa hidupku.”

Tubuh kokoh yang tadinya sanggup berdiri di pinggir jalan, bahkan mampu melawan panas dan hujan yang menderanya kini tubuh itu tertunduk lemah. Terlihat sangat jelas bahu kekar itu bergetar dengan sangat hebat terdengar suara isakan yang tertahan dan memilukan.

Suara kicauan burung di siang itu seakan menjadi nada pilu yang mengiringi isak tangis pemuda yang sedang begelut dengan semua rasa penyesalan yang berkecamuk di dalam batinnya.

“Jong Woon. Menangislah, tidak apa-apa,” ujar Young Woon seraya merangkul memberi kekuatan. Mengusap lembut bahu rapuh adiknya. Dan Jong Woon benar-benar terisak keras. Menangis sesegukan didekapan saudara terkasihnya.

Dia sangat memahami betapa sakit dan perihnya hati seseorang yang ditinggalkan dengan cara seperti itu, bahkan adiknya tidak pernah sekalipun mendengar suara wanita yang sangat dikaguminya.

“Hyung, aku harus bagaimana? Aku ingin menyalahkan Tuhan. Tapi itu tidak mungkin, semua ini terjadi karena kebodohanku, penyesalan ini begitu menyiksa, aku kehilangannya tanpa pernah bertatapan langsung dengannya, ini begitu sakit.”

Dengan kasar Jong Woon memukul dadanya sendiri, dia merasakan sesuatu yang teramat sakit di dalam sana. Hatinya seolah-olah tertimpa batu besar hingga membuat benda lembut itu hancur tak tersisa.

“Sudah! Aku mohon jangan sakiti dirimu lagi! Biarkan dia pergi dengan tenang! Aku tau ini tidak mudah tapi seiring berjalannya waktu semuanya aka baik-baik saja!”

“Apa Hyung kau menyuruhku untuk melupakannya? Itu sangat tidak mungkin dan jangan pernah Hyung menyuruhku untuk melakukan hal itu!” Teriak Jong Woon sengit, suaranya terdengar memilukan dan mengiris hati.

“Ini adalah tempat yang paling ia sukai. Dari kecil dia sangat menyukai seni lukis, jika kau ingin melihatnya lihatlah dibalik pohon rindang itu!” Pengurus panti akhirnya buka suara. Dia dapat merasakan tekakan batin yang mendera pemuda jangkung itu.

Dia menyuruh Jong Woon untuk berjalan menuju balik pohon rindang yang ada disampingnya kini.

Sesampainya disana terlihat jelas gundukan tanah merah yang masih ditaburi bunga di atasnya.

“Agashi, cheonsa saranghanta.”

Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir mungil pria tampan berkulit putih itu.

Quotes : Aku harap langit tidak ikut bersedih! Ketika dia menyaksikan setiap tangisan yang terlapas dariku. Aku harap Tuhan memberikan tempat terindah untuk gadis yang aku kagumi seperti langit. ‘Aku bisa melihatnya tapi tidak sekalipun aku dapat menyentuhnya’ *kim Jong Won*

*** THE END ***

 

2 thoughts on “Angel // Oneshoot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s