Last Farewell (Chapter 4) / Series

 

LF4

Genre: Sad, Romance

Author : Kim MysHwa

Main cast : – Kwon Jiyong, -Jung Min Ah

Sub cast : Kim Hyo Ra, Lee Seung Hyun, Lee Kang Joo, etc.

Disclaimer: This FF is original strory from my mind.

 

          Happy reading.🙂

 

 

Jiyong pergi tanpa sebuah kata, yang membuat tanda tanya besar untuk Min Ah.

 “Tetaplah disisiku jika kau ingin menebus dosamu” jawab Jiyong spontan, ia terlihat sangat serius

“Yaak, paboya!! Kau benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh?? Seung Hyun itu menyukaimu!!”  umpat Jiyong.

Kau tak berpikir sungguh-sungguh kan atas perkataanku pada Seung Hyun tadi??”

 

Man in Hurt

Suasana diperusahaan milik Jiyong sedang kacau, mereka tiba-tiba mengadakan rapat dadakan karna perusahaan itu mengalami krisis.

“Jadi bagaimana sekarang??” Tanya salah satu staff diperusahaan itu.

“Yaa, mungkin aku harus kembali keperusahaan ini, aku akan benar-benar menjalankannya dengan baik” jawab sang direktur.

“Yaa, kami percaya jika anda kembali benar-benar mengurus perusahaan ini, maka krisis ini akan tertangani seperti dulu. Tapi masalahnya semua investor dan klien kita telah membatalkan kontrak” tukas salah seorang dirapat itu

“Hmm, baik..aku akan coba mengatasinya, kalian bekerja lah dengan baik. Maap karna aku, ini semua terjadi” aku Jiyong menyesal.  Semua yang ada disana  pun hanya diam dan setuju, mereka masih menghormati sang direktur muda yang cerdas itu. Mereka percaya jika sang direktur bertindak semua bisa teratasi, krisis perusahaan terjadi hanya karna Jiyong lalai akan tugasnya. Masih ada jiwa kekanakan dalam jiwa Jiyong yang membuat ia lari diperusahaan, ia lebih suka mengerjakan hobinya, yaitu melukis.

Sebulan terakhir ia tidak tahu menahu tentang perusahaannya, hanya mengerjakan yang disuguhkan oleh pegawainya, selebihnya Hyo Ra yang menanganinya.

“Baiklah, rapat selesai” Jiyong mengakhiri.

Yeoja disebelahnya hanya diam sedari tadi, tatapannya kosong. Terlihat jelas yeoja  itu tak memperhatikan rapat itu, ia asyik dengan pikirannya sendiri.

“Kau tak keluar??” sapa Jiyong, semua orang telah meninggalkan ruang rapat.

“……………” tak ada jawaban.

“Kau kenapa?? Apa aku berbuat salah. Maap karna aku perusahaan jadi seperti”

“Apa kau tahu siapa yang merebut investor dan klien kita?? Itu perusahaan JM tempat Seung Hyun. Apa kau tak menyadari?? Itu semua karna kejadian kemarin, kau mengambil Min Ah darinya”

“Apa sesempit itu pikiranmu?? Ini bisnis, tak bisa di campur dengan urusan pribadi” jawab Jiyong sedikit sinis.

“Jika bukan itu apa masalahnya?? Heh! Kembalikan Min Ah padanya maka perusahaan ini akan kembali seperti semula”

Andwae, itu tidak akan mengubah apapun”

“Kalau begitu aku yang akan melakukannya, seperti yang ku ucapkan kemarin. Aku akan memecat Min Ah lalu aku akan menyerahkannya pada Seung Hyun”

“Kekanakan sekali pikiranmu, sudah kubilang tidak bisa!! Atau kau yang kukeluarkan dari perusahan ini”

Mata mereka saling menatap tajam, perseteruan itu semakin sengit.

Neo!!! Apa kau masih mencintainya??” Hyo Ra sedikit merendahkan suaranya, berbicara dengan nada yang terdengar miris. Sebuah pertanyaan yang tak ingin ia ucapkan, ia takut mendengar  jawaban dari Jiyong, ia takut jika Jiyong menjawab “benar, aku masih sangat mencintai”. Namun pertanyaan itu meluncur tanpa ia sengaja.

Jiyong tak menanggapi, ia menatap Hyo Ra dengan pandangan aneh lalu mengambil tas nya bersiap untuk keluar dari rungan itu karna atmosfernya sudah sangat tak bersahabat untuknya.

“Gajima” tiba-tiba Hyo Ra memeluk erat Jiyong dari belakang membuat Jiyong terkejut.

“Hajima” cegah Jiyong, ia berusaha melepaskan tangan Hyo Ra. Berhasil! Karna ia lelaki tentu lebih kuat dari Hyo Ra yang bahkan sekarang dalam keadaan menyedihkan.

“Aku ada didepanmu, tapi kenapa kau tak pernah melihat kearahku. Kau pasti tahu bagaimana perasaanku padamu seperti ini, kau hanya pura-pura tidak tahukan?”

Geumanhae!!!!” teriak Jiyong, ia tak ingin mendengar lebih banyak lagi tentang perasaan Hyo Ra padanya.

“Kau tahu itu kan?? Kau sudah seperti udara bagiku, tapi kenapa kau menutup matamu? Wae?? Karna aku bukan Min Ah?? Benarkah? Kau bahkan tak berkencan semenjak aku mengenalmu, apa kau menunggu dia? Katakan!!! Aku berharap itu salah tapi melihat tingkahmu aku jadi ragu kalau itu tidak benar” Hyo Ra terus berbicara meski dengan air matanya yang telah menetes satu-persatu berjatuhan membasahi lantai ruangan itu, membuat Jiyong terenyuh. Ia tak tega melihat Hyo Ra seperti itu, ia tahu Hyo Ra sangat tulus, namun itu masalah hati, ia tak bisa menyukai Hyo Ra meski dengan kesempurnaan yeoja itu.

Geumanhae, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika meneruskannya” Jiyong melemahkan suaranya.

Naega Sarang….”

“Hyo Ra-ah!!! Jebal geumanhae-ra!!!” Jiyong kembali meninggikan suaranya membuat Hyo Ra menghentikan ucapannya.

Wae??? Apa kau tak ingin mengatakan kau menolakku?? Jangan bodoh!! Aku bahkan lebih terlihat menyedihkan karna kau tak membiarkanku mengatakan perasaanku. Perasaan yang selama ini aku sembunyikan sudah kau tolak sebelum aku mengatakannya, bukankah itu lebih menyedihkan Jiyong-ah!!!” Hyo Ra berteriak di akhir kalimatnya, yaa,, ia seperti orang bodoh.

Ia tersenyum sinis kearah Jiyong seraya menghapus airmatanya, ia tak bisa menangis lagi, terlalu sakit. Hanya itu yang ia rasakan.

 

Jiyong telah lama tinggal dimatanya, ia hanya menatap kepada Jiyong tapi Jiyong bahkan tak bisa melihat kedalaman perasaannya itu.

Cinta hanya air mata kejam, cinta hanya meninggalkan bekas luka robekan. Itulah yang sekarang ada dipikiran Hyo Ra.

Mianhae Hyo Ra-ah, I’m bad boy. Aku hanya tak ingin mengucapkan kata penolakan untukmu. Kau wanita yang baikgumam Jiyong seiring kepergian Hyo Ra.

 

***##***

@ Festival Yeouido

. Ditempat lain Seung Hyun dan Min Ah pergi berjalan-jalan ke festival di Yeouido. Mereka seperti pasangan kekasih, layaknya sepasang kekasih lainnya ditempat itu. Mereka berjalan-jalan dan sesekali berfoto.

Bunga-bunga yang membentang rapi di sepanjang jalan Yeouido yang mungin kurang lebih sekitar 1400 pohon itu memberi suasana menyenangkan bagi mereka berdua khususnya, mereka sudah terlalu lama meninggalkan Korea sehingga sangat merindukan suasana itu. Mereka benar-benar menikmati hangatnya musim semi.

 

Gomawo, sudah mengajakku kesini” Min Ah memulai pembicaraan.

“Yaa, dan kau juga seharusnya meminta maaf karna kemarin kau meninggalkanku, sebenarnya aku ingin mengajakmu kesini kemarin” balas Seung Hyun dengan ekspresi lucunya.

Mian, aku tidak bermaksud meninggalkanmu” sanggah Min Ah. Memang benar ia hanya bingung saat itu.

“Kau harus traktirku makan sebagai gantinya!”

“Yaak! Kau bahkan punya uang lebih banyak. Mengapa aku harus mentraktirmu” Min Ah memasang muka imutnya agar Seung Hyun berubah pikiran.

“Haha…baiklah, lupakan saja”

“Kau tunggu disana, aku akan membeli minuman” suruh Seung Hyun seraya mengarahkan telunjuknya kesalah satu pohon cherry yang rindang.

 

Mereka berpisah, Seung Hyun mencari minuman sedangkan Min Ah segera menuju tempat yang di maksudkan Seung Hyun.

Min Ah melihat-lihat sekeliling, pandangannya berhenti pada sesosok namja yang terlihat berjalan gontai, seperti tanpa arah. Ia sedikit terjekut, ketika mengenali lelaki itu. Jiyong! jeritnya dihati, laki-laki itu terlihat menyedihkan dengan penampilannya yang sedikit tak beraturan, dengan jas hitamnya namun tanpa dasi, kancing kemeja sedikit terbuka. Dari jalannya seperti ia sedang dibawah pengaruh minuman keras.

 

“Jiyong-ah! Kau sedang apa??” seru Min Ah, ia tak tega melihat namja itu berjalan sendirian.

“Min Ah-ya” sahut Jiyong, ia langsung menuju kearah Min Ah.

“Kau kenapa?? Kenapa kau mabuk di siang hari begini??” Tanya Min Ah langsung saat Jiyong tepat dihadapannya.

“Min Ah” ucap Jiyong lagi, ia mengacuhkan pertanyaan Min Ah. Tanpa di duga ia langsung duduk disamping Min Ah dan menyandarkan bahunya pada yeoja itu. Sedikit terkejut dengan tingkah namja itu namun ia membiarkannya saja, ia berpikir mungkin sekarang Jiyong sedang memikul sebuah beban berat dipundaknya hingga namja itu seakan tak mampu memikulnya.

“Dia jahat, aku membencinya.. aku muak melihatnya. Sama seperti denganmu.haha..” ceracau Jiyong, pengaruh alkohol itu sangat kuat hingga ia berbicara tak karuan.

“Tapi aku menyayanginya, neumo…aku bahkan tak bisa mencacinya, aku seakan tak berkutik didepannya” ia meneruskan bicaranya yang sama sekali tak dimengerti oleh Min Ah.

Min Ah hanya diam mendengarkan ceracau tak jelas dari namja itu, toh percuma saja jika ia meledaninya karna Jiyong sudah mabuk berat.

Jiyong memejamkan matanya sejenak, dengan sisa kesadarannya yang tersisa ia mencoba mengingat kejadian yang baru saja ia alami.

 

**Flashback**

Mianhae Hyo Ra-ah, I’m bad boy. Aku hanya tak ingin mengucapkan kata penolakan untukmu. Kau wanita yang baikgumam Jiyong seiring kepergian Hyo Ra.

Setelah Hyo Ra keluar dari ruangan itu tak berselang lama seorang berpenampilan seperti ahjumma masuk keruangan itu. Sontak Jiyong terperanjat melihat sosok itu. Sosok yang sudah lama tak ia lihat, hingga ia sangat merindukannya.

 

Eomma~” tanpa sadar kata itu meluncur dari mulut Jiyong, ia tak bisa menahan kerinduannya lagi. Ia langsung memeluk eomma nya. Wanita itu pun memberi respon, ia merangkul sang anak penuh kasih sayang.

“Maafkan eomma, baru kali ini bisa mengunjungimu”

Diam, Jiyong tak menjawab. Ia hanya ingin melepas kerinduannya.

Dua puluh tahun, yaa sudah selama itu iyaa tak pernah memeluk sang eomma, ia bahkan lupa bagaimana hangatnya pelukan ibunya. Tapi wajah itu tak berubah, ia masih terlihat cantik di mata Jiyong, hingga tak sulit bagi Jiyong untuk mengenali wajah eomma nya.

“Jiyong-ah, mau kah kau kembali pada eomma??” wanita itu menangis, sama hal nya seperti ibu lainnya diluaran sana, ia sangat senang bisa memeluk anaknya kembali hingga ia menangis haru, airmata kebahagian.

“Maukah kau meninggalkan perusahaan dan Seoul?? Ikut eomma ke Amerika” jelas wanita itu, Jiyong terperanjat, ia melepas pelukannya. Kata-kata itu menambah buruk suasana hatinya.

Eomma… kenapa aku yang harus kembali padamu?? Bukankah kau yang meninggalkanku?? Tak bisakah kau yang kembali padaku, tinggallah di Seoul” lirih Jiyong, matanya  berkaca-kaca, ia hanya seperti anak kecil dihadapan sang eomma.

“Jiyong-ya, eomma mempunyai anak dan suami, tak mungkin meninggalkan mereka”

“Dulu kau juga mempunyai anak dan suami, tapi kau bisa pergi dengan mudahnya meninggalkan kami”  sanggah Jiyong.

“Itu tidak benar, aku sangat menyayangimu, tapi eomma terpaksa harus meninggalkanmu. Ayahmu bukan orang yang eomma cintai, kau tentu sudah tahu kami hanya dijodohkan” sang eomma mencoba membela diri kalau ia tak sepenuhnya salah.

“ Sayang?? Cinta?? Apa itu?? Kau bahkan tak berjuang untukku, kenyataan kau meninggalkanku hanya itu yang aku tahu” ia berbicara tak seperti pada ibunya sendiri, emosi telah menguasainya. Ia sakit, terluka.

“Jiyong-ya, aku sebenarnya selalu mencari kabar tentangmu, sekarang ayahmu sudah meninggal jadi aku kesini untuk menjemputmu” wanita itu memelas.

“Aku takkan pergi, karna hanya ayah yang ada untukku selama ini. Sedikitpun ia tak pernah meninggalkanku, aku takkan meninggalkan perusahaan warisan ayah ini” Jiyong bersikukuh.

“Kembali padaku, hidupmu akan terjamin sayang. Tak perlu memikirkan perusahaan ini yang bahkan di ambang kebangkrutan” ucap wanita itu sekenanya.

“Di ambang kebangkrutan?? Sepertinya eomma tahu banyak tentang perusahaan ini. Eomma, kau kah yang melakukan ini??” Jiyong menyeringai ke arah sang ibu, ia benar-benar marah. Ia tak menyangka ibunya sampai tega membuat perusahaannya dalam kritis hanya karna alasan bodoh itu. Benar dugaannya, itu bukan karna Min Ah perusahaannya menjadi kritis.

 

“Maaf, eomma hanya ingin kau meninggalkan perusahaan ini” akunya.

Maldo andwae, itu tak akan terjadi!! Sekalipun aku menjadi gelandangan di Seoul ini, aku tak akan pernah ikut denganmu ke Amerika” Jiyong memperingatkan dengan keras. Kerinduan itu sirna berganti dengan kebencian, pertemuan ini tak seperti yang ia harapkan.

“Satu lagi, apa kau sengaja mengirim Seung Hyun kemari untuk menjadi mata-mata?? Heh! Bawa anakmu itu pulang denganmu”

 

Yaa benar, Seung Hyun adalah saudara tirinya. Karna ibunya istri dari  seorang penguasaha Korea yang terkenal di Amerika hingga tak sulit baginya untuk mencari beritanya. Dari pertama bertemu dengan Seung Hyun ia sudah mengenalinya, dari awal ia sudah membenci namja itu.

Jiyong keluar dari ruangan itu, udaranya sangat terasa panas hingga ia memutuskan keluar dari ruangannya sendiri. Sang ibu hanya mematung, tentu ia mengerti anaknya sangat membencinya. Bagaimana tidak, setelah kembali sekian lama ia malah menyuruh Jiyong meninggalkan Korea.

Ia hanya menyesali kebodohan dan keputusannya dulu.

**Flasback End**

 

“Min Ah, kau tahu?? Kau sama seperti dia, apa itu cinta?? Jika hanya kalian meninggalkanku?? Aku membenci kalian, sangat. Mengapa kalian kembali padaku setelah sekian lama?? Menyebalkan” Jiyong membuka matanya,  ia kembali meneruskan ceracaunya yang tak jelas, Min Ah semakin bingung karna dia juga ikut di sangkut pautkan.

“Apa maksudmu?? “ Min Ah menanggapi.

 

“Min Ah, apa kau tahu??? Aku sebenarnya tidak pergi, aku tidak pindah sekolah. Aku hanya membolos selama satu minggu, aku menyuruh mereka berakting bahwa aku pindah. Aku pergi liburan dengan ayahku, tapi ternyata kau malah benar meninggalkanku, kuppikir kau akan berubah pikiran dan menungguku, kau sama saja seperti dia. Meninggalkanku, padahal aku sangat membutuhkan kalian.haha…” Jiyong kembali mengacuhkan Min Ah, ia malah menceritakan hal lain, tawa itu terdengar miris ditelinga Min Ah.

Yeoja itu terhenyak mendengar penjelasan yang mungkin tanpa disadari oleh Jiyong sendiri, ia mengerti sekarang, sebelumnya namja itu telah memiliki luka, dia malah menambahkan parutan luka itu. Namja itulah yang sebenarnya lebih banyak memiliki  goresan luka dibanding dirinya.

 

“Mianhae, Jiyong-ah. Kenapa tak kau katakan dari dulu” gumam Min Ah, ia memeluk Jiyong. Mencoba meringankan beban dipundaknya.

 

Di kejauhan Seung Hyun kembali membawa dua cola, tangannya gemetar tanpa ia sadari. Yaa, tentu saja, ia melihat Min Ah dengan namja lain yang tak lain adalah Jiyong, namja itu dipeluk oleh Min Ah, sungguh pemandangan yang romantis. Seung Hyun tak ingin melihatnya lebih lama, ia mundur dengan perlahan. Cola itu terjatuh.

 

TBC

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s