Deception A Masokis (Part 10)

 

DAM10

 

Title: Deception A Masokis 10

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Cho Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Choi Minho

Jonghyun CNBlue as Lee Jonghyun

Author: Susan

FB: www.facebook.com/ susan.a.hermawan

Twitt: @sa02011

 

 

 

 

 

Insan adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Tuhan, dibekali akal dan dianugrahi perasaan. Maka biarkan hatimu bermuwajahah dengan pikiranmu agar kita tahu, siapa pemilik kebenaran dan pemilik kematian. Jangan pernah berhenti, kehidupan ini mutlak milik kalian selama sang maha hidup belum mengambilnya. Berhenti berarti mati. Dan kematian dalam kehidupan hanyalah milik mereka yang tak berhati.

 

Kalaulah kau bertanya tentang kematianku. Dengarkanlah!Aku akan selalu hidup dalam hatimu dan aku takdim akan hal itu.

 

 

 

 

-=Deception A Masokis=-

 

 

 

 

 

“Kau sedang membangkitkan macan tidur, Kyuhyun-ssi.”

 

“Tidak. Aku sedang mengusik keledai pemalas.”

 

Tanpa menunggu ba-bi-bu aku menubruk Kyuhyun dan berencana mencekiknya. Tapi niatku gagal saat Kyuhyun berhasil menangkis tanganku dan mengecup bibirku. Kyuhyun berlari.

 

“Satu-Kosong skor kita!”

 

Ya, Tuhan….

Belajar dari mana makhluk itu? Dia tiba-tiba bisa berubah dingin, hangat dan menyebalkan begini. Aku mengeluh seperti biasa dan Kyuhyun malah tergelak. Alih-alih menghampiriku dan menggandeng tanganku, pemuda itu malah berjalan makin menjauhiku. Membuatku gila dengan sikapnya yang aneh. Di langkahnya yang ke-tujuh ia berhenti, membalik tubuh dan menatapku tajam.

 

“Cantik, mau kuantar pulang ke asrama?” Kyuhyun memainkan mata, senyumnya sangat menggoda dan mengudang untuk melempar highheel sebelahku. Aku berjalan serabutan, berniat mengejar Kyuhyun. naasnya, gaunku yang panjang malah menjerat kakiku. Membuatku kehilangan keseimbangan dan terpekik.

 

Kukerjap-kerjabkan mataku melihat lelaki yang memandangku. Ia menahan tubuhku agar aku tak jadi jatuh. Mata kami bersiborok pada satu garis lurus dan entah kenapa, pandangannya mirip sebuah jerat; tajam dan dalam.

 

Kyuhyun berdehem, aku melepas tanganku yang menempel di dadanya, kutegakkan tubuh dan merasa bodoh telah menatap begitu fokus pada guruku, Park In Joo.

 

“Mianhamnida, songsaengnim….”

 

“Anytime okay, lain kali hati-hati.”

 

“Mian, songsaengnim. Kami buru-buru.” Kyuhyun bergegas menarikku membuatku berjalan dengan tak nyaman. Kami meninggalkan guru Park yang masih mematung di undak-undak green building. Kyuhyun makin mempercepat langkahnya. Ia terkesan tak memedulikan aku yang kesusahan mengimbangi langkahnya yang lebar.

 

“Ya! Aku bisa berjalan sendiri!”

 

“Tidak!” Balas Kyuhyun pendek dan nadanya berubah kaku. Aku mendengus sebal. Kenapa dengan dia? Aneh sekali. Tadi dia membuatku kesal setengah mati karena kegenitannya, sekarang ia membuatku bingung karena tingkahnya. Oh, ada di dekat Kyuhyun sepertinya tak baik untuk kepribadianku. Astaga, lama-lama aku bisa mengidap darah tinggi di usia belia. -____-“

 

“Kau—jangan pernah menyentuh lelaki lain selain aku!”

 

“Ahahaha, tunggu! Kau cemburu—dengan Park saem?”

 

Kyuhyun tak berucap, ia memperbaiki jasnya yang masih kukenakan, mengancingkan jas itu hingga tubuhku terbalut jas putih dengan rapat. Mata Kyuhyun berputar mengamati sekitar, tak ada siapapun. Dan ini membuatku merasa ketakutan ada bersamanya. Tanpa kutahu sebabnya, lelaki itu menyeringai puas padaku.

 

“Dengan begini, tak akan ada yang berfantasi tentang tubuhmu. Ayo!” Kyuhyun berjalan lebih dahulu, masuk lagi dalam prom. “Ra-ya, jangan pernah kau rubah jas yang sudah kukancingkan itu!” suruhnya dan kusambut dengan dengusan kesal. Katakan, belajar darimana dia dengan segala triknya yang begitu sulit dipahami? Benar-benar tak bisa dipercaya. Dasar, lelaki aneh! Tadi menawariku untuk kembali ke asrama tapi sekarang, ia menuju tempat prom lagi. Hash, susah sekali megikuti jalan pemikiran Kyuhyun.

 

Begitu masuk ke tenda, aku langsung duduk di kursi, Jonghyun yang lebih memilih jadi bartender ketimbang menggandeng wanita itu segera menghampiriku. Ia menyodorkan minuman untukku.

 

“Untuk ukuran wanita sepertimu, kau sepertinya butuh soda!”

 

“Berikan aku wyne!”

 

“Soda saja.” Lagi-lagi Kyuhyun duduk di dekatku. Ia dengan seenaknya mengatur apa yang ingin kuminum. “Ini musim semi, wyne tak cocok untukmu,” dalihnya dengan alasan retoris yang terdengar menyebalkan. Sialnya, aku mengiyakan apa yang diucapkannya.

 

Baru kuteguk soda yang diberikan Jonghyun, aku kembali mendengar sebuah simfoni yang menghentak-hentak di hatiku. Simfoni yang kudengar di awal tadi kala datang di prom. Mendengar alunan itu, aku seakan dipaksa masuk dalam cassanova tanpa ujung yang gelap. Ibuku—kenangan itu perih.

 

Saat aku masih ada di playgroup, keluargaku amat hangat. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan otomotif dan ibuku tak bekerja, namun ia pandai sekali bermain piano. Intrumen yang paling ia sukai adalah piano sonata nomer 14 atau lebih dikenal dengan nama moonlight sonata. Setiap malam, ia selalu mengajariku padahal saat itu usiaku masih 4 tahun. Ia memainkan nada perpaduan C minor dan B minor yang terdengar ritmis dengan penuh penghayatan dan indah. Yang sering dimainkan ibu adalah bagian pertama dari Moonlight Sonata, adagio sustenuto. Sebuah bagian dari free form symphony yang mirip tangisan yang indah. Keindahan yang mirip cahaya bulan. Makanya, diberi nama sonata cahaya bulan. Ibuku pengagum Beethoven—pecinta moonlight sonata.

 

Kemesraan keluargaku berakhir saat aku ada di tingkat akhir playgroup, kala itu Ayah ketahuan selingkuh dan menikah dengan putri pemilik perusahaan tempat ayah bekerja. Ibu yang shock dengan itu semua, tergoncang. Ia terganggu jiwanya. Ah, saat itu aku masih terlalu polos untuk mengerti apa pernikahan dan apa perselingkuhan bahkan aku juga tak mengerti apa itu poligami yang berhasil membuat aku kehilangan kehangatan ibuku.

 

Awalnya, beliau berteriak-teriak tak jelas, melempar sesuatu bahkan ibu juga pernah mencekikku. Hal itu lah yang membuat ayah memasukkan ibu ke rumah sakit jiwa. Aku hanya bisa menjenguk ibu saat akhir pekan atau libur sekolah. Saat itu adalah saat-saat terberat untuk kulalui. Aku kehilangan kehangatan, rumah tempatku bernaung amat dingin. Istri baru ayahku? Cih, tak usah membicarakan dia, dia tak ubahnya wanita sundal yang mau berkencan dengan lelaki manapun.

 

Ya, kebencianku pada ayah dan istrinya memuncak saat ayah dijadikan mentri perdagangan, 14 tahun lalu. Demi memperbaiki citranya, ayah memindahkan ibu entah dimana, dua hari kemudian, rumah sakit jiwa tempat ibuku dirawat kebakaran. Aku tahu, ini semua hanya akal-akalan ayah agar semua masyarakat tak curiga dengan kehidupan rumah tangganya. Benar-benar hal gila, bukan? Saat politik dijadikan ladang obsesi meraih sesuatu maka, tak akan ada hal yang masuk akal. Dalam politik, tak ada cinta, belas kasih atau keluarga. Yang ada hanya kepentingan golongan. Dan itulah yang kualami. Hidup tanpa kehangatan, hidupku hanya dipenuhi obsesi ayahku agar menjadi tokoh yang dikagumi publik. Benar-benar keluarga yang hancur, kan? Sangat bertolak belakang dengan yang diketahui media atau masyarakat. Aku bahkan sering mendapat tamparan ayah saat menanyakan ibu. Hidupku pun tak lebih baik. Aku menjadi orang yang dingin, kaku dan sadis. Karena begitulah pendidikan yang kudapat dari orang tuaku, ayahku dan ibu tiriku. Kerap kali, aku malas pulang ke rumah dan menghabiskan waktu di asrama. Aku tak terlalu peduli dengan rumah. Jujur, aku rindu dengan ibuku. Aku rindu simfoni Quasi Uno Fantasia yang dimainkannya. Ah, mengingat hal ini membuatku ingin menangis. Aku terlihat bodoh dan lemah. Dammit!

 

Kali ini, di pesta semeriah ini, simfoni itu terdengar, menciptakan gejolak tersendiri untukku. Apalagi, aku tadi sempat melihat sorot terluka dari ayahku. Cis, tak akan mempan untuk mengelabuhiku. Aku sekarang sudah cukup pintar untuk mengerti jika ayahku adalah orang yang jahat sekaligus licik.

 

Aku menoleh saat Kyuhyun menyorongkan soda lagi padaku. Tanpa ekspresi, ia mengangguk dan segera kuteguk lagi soda yang ia berikan. Ia tak berkata hanya diam, tangannya berputar di bibir gelas.

 

“Guru training itu benar-benar bagus permainan pianonya,” puji seseorang. Rupanya Jonghyun berdiri di depan Kyuhyun dan matanya fokus ke titik 120 derajat dari posisiku—seorang lelaki berjas hitam yang tengah menekan tuts piano. Ia memejamkan mata dan terlihat menghayati.

 

“Hentikan—simfoni itu!” suruhku dan meneguk lagi minuman soda Kyuhyun. Jonghyun ternganga, dalam sekali duduk aku bisa menghabiskan tiga gelas soda. Mungkin baginya, aku gadis yang rakus. Peduli setan dengan penilaiannya padaku. Yang jelas, moodku sedang memburuk.

 

“Museum iriya?” Jonghyun menatapku, heran. Aku tak menyahut. “Kau dengar Rail, guru seni kita itu memiliki kemampuan yang bagus dalam bermusik. Ah, aku tak sabar ikut pelajarannya!”

 

Aku menoleh pada Kyuhyun, “aku ingin kembali ke asrama!” tanpa menunggu persetujuan Kyuhyun, aku melangkah keluar dengan langkah tertatih-tatih mirip prajurit yang terluka. Kusumpal telingaku dengan tangan agar tak mendengar nada itu. Mendengarnya hanya membuatku terpuruk, membuatku menyadari bahwa ini sudah 13 tahun aku menjalani waktu tanpa melihat ibuku. Sialan, sepertinya mataku berkontraksi, ia mengikuti isi hatiku. Bola mataku memanas dan aku menangis. Ya, aku menangis dengan sangat bodoh.

 

“Berhentilah!” Kyuhyun mendekap tubuhku dari belakang, aku menahan tangisanku agar tak terdengar olehnya.

 

“Lepaskan pelukanmu sebelum banyak yang melihat kita!” ucapku dengan suara bergetar, hampir mendekati parau. Aku yakin, banyak yang melihat adegan picisan seperti ini. “Ya! Lepaskan!”

 

Kupegang tangan kokoh Kyuhyun yang melingkar di pinggangku, mencoba berontak dari pelukannya. “Kau, bisakah kau gunakan akalmu sekarang?” aku masih mengungkit tangannya agar berpindah, sayang, tangan Kyuhyun lebih kuat dari tenagaku.

 

“Kenapa?”

 

Sorotan blitz kamera menyilaukan mataku. Sial, besok pasti akan ada kabar tentang prom dengan Headline, “KYUHYUN DAN RAIL, BENARKAH MEREKA MULAI MENJALIN HUBUNGAN?” Aku mengutuk pelan kelakuan Kyuhyun yang bodoh.

 

“Kau lihat besok nama kita pasti akan menggegerkan sekolah. Jangankan siswa, guru-guru pasti tak akan percaya.” Bisik Kyuhyun.

 

“Kau lupa, ibumu sudah memergoki ciuman kita.” Potongku mengingatkannya. Kyuhyun terkekeh di telingaku. Membuat kulit telingaku memanas karena udara yang berasal dari hembusan nafasnya. Apa Kyuhyun berniat membuatku kejang di hadapan orang banyak?

 

“Kyuhyun-ah, kumohon, lepaskan!”

 

“Katakan dulu kalau kau mencintaiku baru kulepaskan.”

 

Aku tergelak, hamper tertawa jika tak menyadari ada ratusan mata melihat kami, fokus ke arah kami dan menunggu apa yang akan kami lakukan selanjutnya.

 

“Tidak akan. Bagaimana bisa—”

 

“Rail, aku mencintaimu.” Tegang, tubuhku menegang tatkala mendengar Kyuhyun mengucapkan kalimat laknat itu. Hatiku rasanya jungkir balik dan daratan tempatku berdiri mengalami gempa dalam skala yang tak terdefinisikan. Jujur, kepalaku tiba-tiba pening.

 

“Sangat kekanakkan!” olokku mencoba menutupi kebahagiaan yang membuncah hingga ubun-ubun. Batok kepalaku seperti mau pecah karena mendengar pengakuan gila itu. Seorang Kyuhyun mengatakan cinta? Ini bukan sekedarbgila tapi hilang akal!

 

“Aku menciummu di depan mereka atau kau mengatakan hal itu juga?” nada Kyuhyun berdesis. “Cah, keras kepala! Kau tahu, aku sudah menurunkan gengsiku dengan mengucapkan kalimat itu. Tapi kau…!”

 

“Hei, aku tak menyuruhmu. Dan kalau kau mencintaiku, itu urusanmu!”

 

“Lalu kau anggap apa kencan kita? Kau anggap apa ciumanku tadi, huh?” Kyuhyun meninggikan suara agar percakapan kami di dengar orang lain, “Bahkan kau juga menciumku di ruangan Kyuline!”

 

Mati kau Cho Kyuhyun! Kuhentakkan kakiku di sepatunya, membuatnya mengerang dan melepas pelukannya. Aku yakin, highheel itu sudah cukup menyakitinya.

 

“Kau ingin aku meracunmu atau menyuntik mati dirimu, Kyuhyun-ah?” tawarku dengan pilihan yang terdengar mirip psikopat, “Dengar, cinta itu tak perlu diucapkan!” lanjutku setengah berbisik, “Aku mempersilakanmu menciumku itu artinya—” aku berhenti menyadari kalimat yang akan kuucapkan, Kyuhyun menegang, wajahnya memerah, kudekatkan lagi tubuhku, “Aku—men… ah, sudahlah, bodoh!”

 

Tepat saat aku menggersah frustasi, sebuah dentuman keras terdengar dan itu berasal dari dalam tenda. Api berkobar menyala, sesaat aku tercekat. Kyuhyun memegang jemariku. “Menjauh!” usulnya. Aku buru-buru berlari menjauh dari tenda prom, diikuti Kyuhyun, setelah posisi cukup aman, aku mendesah. Bagaimana bisa terjadi kebakaran? Astaga! Api melalap makin ganas dan panasnya beradiasi ke kulitku.

 

“Apa yang terjadi di dalam?” Kyuhyun menghentikan seseorang.

 

“Aku tak tahu tapi botol wyne meledak!”

 

“Ya Tuhan! Jonghyun!” seru Kyuhyun lalu berlari menuju tenda. Aku tergagap menyadari Kyuhyun yang makin jauh dariku. Kyuhyun berlari masuk dalam tenda. Tentu saja ia mau menyelamatkan Jonghyun. Tadi Jonghyun bertugas sebagai bartender dan wyne meledak karena tersulut api. Semoga saja mereka baik baik saja.

 

Kuraba saku jas Kyuhyun, untung ponselnya diletakkan disana. Aku ingin menghubungi ibu Kyuhyun, polisi atau… ah, siapalah yang bisa kuhubungi. Damn! Ponsel Kyuhyun memiliki kata sandi. Apa kata sandinya? Tiba-tiba perutku ingin mual karena menyesal tak membawa ponsel. Aku menebak sandi Kyuhyun secara random. Mungkin saja nama dan tanggal lahirnya? Oh, sialan! Bukan! Kalau nama orang tuanya? Aish, bukan juga! Eih, tunggu! Kyuhyun pernah tenggelam di Aucland dan dia terlihat menyukaiku… apa—? Kuketik dengan tangan bergetar “aukclandrail”. Sialan! Masih salah!

 

“Aku sudah menghubungi pemadam kebakaran.” Tiba-tiba saja, Mr. Ernest sudah berdiri di sampingku. Guru training itu menatap lurus ke depan.

 

“Thanks, Mr. Ernest,” balasku dengan cukup sopan. Aku masih menatap kaku ke tenda, berharap dia keluar dengan membawa Jonghyun tapi, nihil. Bukan Kyuhyun yang muncul. Dari depan, kulihat, Minho memapah Jihyun, aku bergegas menyusulnya.

 

“Jihyun-ah, kau tak apa-apa?” Jihyun menggeleng dan Minho mau berbalik lagi tapi langkahnya berhenti saat mendengar suara mobil pemadam kebakaran. “Kyuhyun dimana?”

 

“Entahlah! Aku belum bertemu Kyuhyun, Jonghyun ataupun Changmin.” Gersah Minho tak kalah frustasi.

 

“Aku disini!” Changmin berdiri di sisi Park In dan tersenyum, mengisyaratkan jika dia baik-baik saja.

 

Mobil pemadam kebakaran mulai beroperasi dan mengguyur tenda prom dengan air. Sialan! Bahkan sampai api padam, aku tak melihat Kyuhyun. Aku tak bisa diam saja, menunggu nasib, menunggu Kyuhyun muncul. Oh, bedebah! Brandal tengik itu membuatku khawatir saja! Aku melepas highheelku dan menyobek gaun panjangku hingga sebatas lutut lalu berlari dalam tenda.

 

“Kyuhyun-ah!”

 

Aku mengitari tenda, berlari kesana kemari mencari keberadaan Kyuhyun. disusul Minho dan Changmin, mereka semua ada di belakangku. Kami terbatuk-batuk karena asap tenda belum sepenuhnya hilang.

 

“Jongie-ya! Kyuhyun-ah!” teriak Changmin frustasi. Kami tercekat saat melihat jam tangan Kyuhyun jatuh di lantai bercampur dengan pecahan botol. Changmin mengambilnya dan ia melihat kakiku.

 

“Astaga, Rail! Kakimu berdarah!” seru Changmin. Aku hanya menggeleng lalu berdehem.

 

“Aku tak apa! Cepat temukan Kyuhyun!”

 

“Tapi…”

 

“Ya! Ini hanya terkena pecahan kaca!”

 

“Ruangan ini banyak pecahan kaca! Kemana sepatumu? Apa kau sudah begitu gila hingga mengabaikan keselamatanmu? Sudah berapa kali kubilang untuk mengkhawatirkan dirimu sendiri sebelum kau mengkhawatirkan orang lain?”

 

Tanpa memedulikan apa yang diucapkan Kyuhyun, aku segera menghampirinya, mengalungkan tanganku di lehernya dan menghisap aroma tubuhnya yang khas. Menempelkan tubuh kami dan saling mengeratkan dekapan. Kekhawatiranku padanya luruh setelah aku memeluknya, memastikan jika dadanya masih hangat untukku.

 

Pelan aku berucap, “kau jangan membuatku khawatir lagi. Kumohon….”

 

 

 

 

TBC

14 thoughts on “Deception A Masokis (Part 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s