The Dance and Sunflower

TheDance&

Tittle                : The Dance and Sunflower

 

Author             : Karin320201 (https://www.facebook.com/ karinta.fakhira.3?ref=ts&fref=ts & https://www.facebook.com/ karinta.sierra?ref=tn_tnmn)

Genre              : Romance

Rating             : T

Length             : Oneshoot

Cast                 : SNSD Jessica Jung, Super Junior Lee Donghae, Super Junior Kim Heechul, SNSD, Super Junior

Cover              : Karin320201

***

Ini FF perdana saya ^^

Tolong dikomentari ya, saya masih amatiran xD

Happy reading!🙂

***

Note:

Agasshi : nona

Ahjussi (formal) : kakak

Aniyo (formal) : tidak

Annyeonghikaseyo : selamat tinggal

Arraseo : baiklah/mengerti

Ballroom : ruang dansa

Chagiya/chagi/yeobo : sayang

Dongsaeng : adik

Gomapta (formal)/gomawo (informal) : terima kasih

Gwenchanayo (formal)/gwenchana (informal) : tidak apa-apa

Hana, dul, set! : satu, dua, tiga!

Hyung : kakak (panggilan kepada laki-laki yang lebih tua diucapkan oleh laki-laki)

Jeongmal mianhae : aku benar-benar minta maaf

Mashita : enak

Mianhaeyo (formal)/mianhae (informal) : maaf

Mwo ya? : apa?

Ne : ya

Ommona! : astaga!

Oppa : kakak (panggilan kepada laki-laki yang lebih tua diucapkan oleh perempuan–panggilan sayang)

Saranghae : aku mencintaimu

Saranghandago : kubilang aku mencintaimu

Wae : mengapa

Yaa! : hei!

Yaksok : janji

Yeorobun : semuanya

Akhiran –ya (pada nama seseorang) menunjukkan panggilan

Akhiran –ah (pada nama seseorang) menunjukkan panggilan sayang, kepada sahabat atau pacar.

***

Back song : A Rocket To The Moon-Baby Blue Eyes

***

Pesta topeng yang menyebalkan bagi Jessica Jung. Ia tidak memiliki pasangan untuk berdansa. Lagipula, mengapa pesta ulang tahun Alice harus mengusung tema seperti ini? Ya, temanya memang pesta topeng, tapi tentu saja sebenarnya ini pesta dansa. Lihatlah, teman-temannya sudah menemukan pasangan dansanya. Berbeda dengan teman-temannya, gadis ini tidak memiliki pacar, juga teman dekat. Ia menyesal dan terus merutuk dalam hati atas kebodohannya yang mau-mau saja diajak ke pesta ini. Karena itu, saat ini, dengan bodohnya ia hanya duduk memandang sekitar tanpa melakukan apapun. Ia kembali menundukkan kepala, menatap berpasang-pasang kaki yang sedang berdansa dengan indahnya. Kegiatan itu tak diteruskannya kala sepasang kaki berjalan menujunya.

Perlahan-lahan ia berdiri dan menegakkan kepalanya demi menatap siapa pemilik sepasang kaki yang sudah sangat dekat dengannya ini. Seorang laki-laki. Ia tersenyum pada Jessica. Jessica merasa berbunga-bunga, ia benar-benar yakin bahwa senyum itu ditujukan padanya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Senyuman laki-laki itu indah sekali. Jessica mencoba membalas senyumannya dengan senyuman terindah yang ia miliki.

Siapakah laki-laki ini? Jessica tidak pernah melihatnya sebelum ini. Wajahnya tampan, rambutnya hitam, kulitnya putih besih. Dia sangat menawan. Inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Jessica benar-benar merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya, percayalah! Detik ini ia mulai mempercayai kata-kata anggun sang pujangga tentang cinta pandangan pertama yang selama ini tidak pernah dipercayainya.

“Hanya sendirian, Nona?” laki-laki itu menyapa Jessica.

“Ah, sebenarnya tidak. Aku datang bersama temanku, tapi.. ia sudah memiliki pasangan dansa,” jawab Jessica sedikit canggung. Beruntung ia tidak memperlihatkan kegugupannya.

Girl, how about dancing?”

Detik sempurna. Waktu terasa berhenti. Napas Jessica tertahan selama beberapa detik. Ia merasa telinganya sudah mulai tuli, ia tidak mempercayai apa yang ia dengar. Mungkin ini terdengar aneh, tapi Jessica tidak pernah merasakan kebahagiaan saat seorang laki-laki berusaha mendekatinya. Bahkan ia kerap kali bersikap dingin. Ini berbeda! Apakah ini benar-benar cinta pada pandangan pertama?

Laki-laki itu menatap Jessica dalam dan membuat Jessica semakin sulit bernapas. “Okay,” jawabnya setelah laki-laki di hadapannya menunggu lama. Sepertinya laki-laki itu tidak mempersoalkannya. Tanpa membiarkan waktu terbuang percuma, ia membimbing Jessica ke tengah ballroom. Mereka berdansa dalam diam, hingga….

Teng! Teng! Teng! Teng! …

“Apakah ini sudah jam 12 tengah malam?” laki-laki itu bertanya dengan panik. Jessica mengangguk cepat.

… Teng! Teng! Teng! …

“Maafkan aku, aku harus pergi…” Laki-laki itu perlahan melepaskan genggaman tangannya pada Jessica.

… Teng! Teng! …

Ah.. laki-laki itu pergi terlalu cepat. Bahkan Jessica belum mengetahui namanya, begitupun ia. Di luar, hujan turun dengan deras. Jessica mengalihkan pandangannya ke arah jam raksasa di ballroom. Hey, apa hubungannya dengan jam 12 tepat tengah malam? Seperti Cinderella, pikir Jessica. Jessica berlari meninggalkan ballroom bertepatan dengan berakhirnya dentangan dari jam dinding yang menandakan waktu tepat tengah malam.

… Teng! Teng!

Jessica tidak mampu menangkap sosok laki-laki itu di gelapnya malam ditambah derasnya hujan saat ini. Apakah ini berarti ia telah kehilangan cinta pertamanya?

Ini adalah hari terakhirnya di Los Angeles, mengapa ia harus merasakan cinta seperti ini?

***

2 tahun telah terlewati.

SNSD adalah girlgroup yang memiliki 9 anggota dan menempatkan Jessica sebagai main vocal ke-2 setelah Taeyeon. Kini ia dan 8 gadis lainnya –mereka menyebut diri mereka Soshi– menempati salah satu apartemen mewah di Seoul, jantung Korea Selatan.

“Jessie! Ayo kita bersepeda bersama!”

Sudah dapat dipastikan, gadis bernama Jessica itu sedang tertidur pulas di atas kasur empuknya. Teriakan Tiffany yang sebenarnya sudah sangat keras itupun tak mampu membangunkan Sleeping Beauty di SNSD ini.

Dengan kesal, Tiffany membuka pintu kamar Jessica-Yuri yang di dalamnya hanya ada Jessica saat ini. Dan benar, gadis cantik itu belum juga bergerak sejak mendengar teriakan Tiffany. “Hey! Jessie, wake up!”

“Hng?”

Tiffany, member tergendut di SNSD menarik paksa tangan Jessica dan segera mendorongnya ke kamar mandi. “Mandilah cepat! Jangan sampai matahari terbenam atau kau akan kami tinggalkan!”

***

“Sebenarnya kita mau kemana? Hoaahm..”

Tak ada yang menanggapi pertanyaan Jessica, semuanya lebih memilih untuk menikmati suasana sore hari di Kota Seoul yang menawan. Jessica mengayuh sepedanya tanpa semangat, ia masih sangat mengantuk.

Di sisi jalan, terdapat beberapa lelaki sedang bermain bola kaki. Namun Jessica tidak memerhatikan mereka. Ia tetap memandang lurus ke depan dan tetap mengayuh sepeda dengan lamban.

BRAAKK!

“Arghh!” Jessica terjatuh bersama sepedanya.

Lelaki yang tidak sengaja menendang bolanya ke arah Jessica segera berlari menghampiri gadis itu. “Mianhaeyo! Gwenchanayo?”

“G-gwenchanayo, Ahjussi..”

“Lututmu berdarah, Sica-ya!”

Jessica bangkit dan membersihkan lututnya yang terkena pasir. “Gwenchanayo, aku masih bisa mengayuh sepedaku..,” jawabnya dan tersenyum.

Lelaki itu membantu Jessica menegakkan sepedanya sembari berpikir: apa benar gadis ini baik-baik saja?

“Aarghh!!”

Lelaki itu menahan sepeda Jessica yang hampir terjatuh. Perkiraan lelaki itu benar, cidera lutut Jessica tidak memungkinkannya untuk mengayuh sepedanya lagi. “Aku akan mengantarmu pulang.”

Aniyo, Ahjussi. Aku—“

Laki-laki yang Jessica ketahui bernama Donghae itu mengambil alih sepedanya dan memerintahkan Jessica untuk duduk di boncengan belakang. Gadis itu tidak dapat mengelak lagi, ia memejamkan matanya saat sepeda mulai dikayuh dengan kecepatan standar oleh Donghae. Seharusnya Donghae tidak perlu sebaik ini, ia semakin menambah ketakutan yang dirasakan Jessica.

“Sica-ya! Kenapa kau lamban sekali?” Hyoyeon menoleh ke belakangnya. “Sica?”

Wae, Hyo-ya?” tanya Taeyeon mengikuti arah pandang Hyoyeon. “Ommona! Dimana gadis itu? Apa ia kembali ke apartemen?”

Akhirnya mereka semua memutuskan untuk mencari Jessica ke apartemen mereka tanpa melihat matahari terbenam sebelumnya.

***

Soshi sudah berkumpul di ruang tengah, mengelilingi Jessica dengan lutut yang ditutupi plester. “Jadi begitu. Mianhae, aku tidak memerhatikan jalan.” Jessica tertunduk. “Kukira aku masih bisa mengayuh sepeda menyusul kalian, tapi ternyata tidak. Donghae Ahjussi mengantarku pulang.”

Gwenchana, Sica-ah. Kau harus lebih hati-hati lagi,” ujar Yuri diikuti anggukan dan senyuman maklum dari Taeyeon, Sunny, Tiffany, Sooyoung, Yoona, dan Seohyun.

Malam tiba, hujan turus cukup deras. Menyentuh hati yang lama terluka. Kejadian tadi masih terbayang dan menari-nari di pikiran Jessica, belum lagi ia tidak bisa tidur saat hujan deras. Jessica sedang duduk di depan jendela kamarnya yang besar. Ia belum menutup tirai jendelanya, masih ingin menatap turunnya tetesan hujan ke bumi.

“Aku membencimu!” Yuri sudah tertidur lelap, membuatnya tak mungkin mendengar jeritan tertahan Jessica.

Jessica menggerakkan jari telunjuknya menuliskan kalimat pada kaca jendela yang mengembun karena air hujan.

“Aku merindukan seseorang yang tidak pernah kumiliki, apakah itu gila?” tanyanya pada dirinya sendiri.

***

Hari berikutnya, Jessica bersepeda sendirian. Menghiraukan luka di kakinya belum begitu membaik. Soshi sedang ada kesibukan masing-masing, entah ia harus merasa kesepian atau merasa bebas. Kali ini gadis itu tidak mengantuk seperti biasanya, hari ini ia mengayuh sepedanya dengan bersemangat disertai senandung kecil yang indah dari mulutnya. Tanpa sadar lengkungan di bibirnya membentuk senyum menawan yang dapat melelehkan hati siapa saja yang memandangnya.

Jessica seakan mengabaikan ketakutan yang melandanya. Ia memerhatikan sisi jalan yang disana terdapat laki-laki yang menolongnya kemarin sedang bermain bola kaki bersama teman-temannya. Senyuman laki-laki itu sangat indah hingga Jessica tidak ingin melewatkannya barang beberapa detik saja. Laki-laki itu mengingatkannya pada lagu Gee milik SNSD sendiri.

Jessica bernyanyi, “Naneun naneun babongabwayo

(Aku, aku pasti terlihat bodoh)
Geudae geudae bakke moleuneun
(Aku hanya ingin dia saja…)”

BRAAKK!

“Argh! Pabo (Bodoh)!” Tidak seorangpun yang menabraknya, justru ia yang menabrak lampu jalan. Tak disangka, laki-laki yang diperhatikannya kembali berlari menghampirinya dan mengantarnya pulang seperti hari sebelumnya. Jessica seakan lupa pada seseorang yang lebih berhak berada di dekatnya.. Dan itu bukan Donghae.

***

Can you tell me how can one miss what she’s never had?

How could I reminisce when there is no past?

Kesedihan.

Jessica selalu berhasil membawakan lagu-lagu kesedihan dengan begitu sempurna. Lantunan piano dari tuts yang ditekannya menyatu dengan suara yang ia keluarkan. Harmonis.

“I miss the times that we never had

What happened to us? We were almost there!

GorJess Spazzer menjerit histeris. Lagu yang emosional. Benar-benar menyentuh. Namun, sang Ice Princess tak akan menitikkan air matanya disini.

“Whoever said ‘it’s impossible to miss when you never had’

Never almost.. had you…

Ia menyelesaikan lagunya dan tersenyum kepada seluruh penonton. Tepuk tangan dan teriakan para fansnya di membahana di stadion. Kilatan blitz kamera terus mengenainya hingga ia benar-benar kembali ke belakang layar.

***

Jessica’s POV

Entah mengapa pagi ini aku merasa tidurku cukup. Sebelum teriakan dari teman-temanku terdengar nyaring membangunkanku, aku segera berlari ke kamar mandi yang berada di dalam kamarku. Setelah selesai mandi, kusandarkan kepalaku di sofa empuk yang berada di depan samping jendela kamarku. Jendela yang terbuka dan tirainya yang telah tersibak membuat sinar matahari masuk ke dalam ruangan ini. Aku masih tetap pada posisiku, sementara tanganku menggerak-gerakkan bollpoin yang belum kubuka tutupnya di atas kertas putih kosong, otakku terus bekerja memikirkan sesuatu untuk kutulis.

Belum juga menemukan ide, aku berjalan ke arah jendela. Aku melihat ke bawah. Baru kusadari, dunia di balik jendelaku sangat indah dan menarik. Karena padatnya jadwal dan kesibukan sehari-hari, aku tidak pernah memerhatikan ini. Tanpa sadar sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman. Ini benar-benar indah.

“Padang bunga matahari..,” gumamku. “Hm.. mengapa aku tidak ke sana?” Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke luar kamarku. Kubiarkan rambut panjangku yang masih basah tergerai. Bahkan aku tidak memoleskan bedak apapun pada wajahku.

Tidak peduli dengan lukaku yang belum terlalu membaik, dengan cepat aku menuruni tangga dorm kami. Aku tidak ingin kehilangan mood menulisku. Langkahku yang tergesa membuat sandal Hello Kitty-ku menghentak dan menimbulkan bunyi yang cukup berisik.

Yaa! Siapa itu?” Kudengar suara Hyoyeon dari arah dapur. Dia pasti sedang memasak. Di situ juga pasti ada Sooyoung, orang pertama yang akan mencicipi makanan buatan Hyoyeon. Aku menghiraukan pertanyaan Hyoyeon. Dan seperti yang kukira, Sooyoung berjalan ke arah tangga untuk memastikan siapa yang membuat keributan di pagi hari seperti ini.

“Ah, itu Sica!” serunya.

“Sica-ya! Kau mau ke mana?” Taeyeon yang sedang membersihkan meja dengan kemoceng bertanya padaku. Semuanya pasti tahu, tidak biasanya aku seperti ini. Biasanya pagi-pagi seperti ini aku masih berselimut di kamarku.

“Aku ingin ke luar sebentar, Taeng!” jawabku. Entah itu sebentar atau tidak, aku tidak tahu. Maafkan aku Taeng, jika itu tidak sebentar. Kukira Taeyeon tidak melanjutkan pekerjaannya alih-alih menatapku heran.

“Kukira ia belum mengeringkan rambutnya dengan hair dryer..” Perkataan Taeyeon masih sempat kudengar namun tak kugubris.

“Jessie?”

“Aku hanya sebentar, Fany!” jawabku acuh pada Tiffany yang sedang menyiram bunga di halaman depan dorm.

Cukup jauh aku berlari hingga akhirnya aku sampai di padang bunga matahari ini. Aku tertawa lepas. Ini adalah kali pertama aku keluar dorm tanpa manajer setelah menjadi Jessica SNSD.

***

Sunflower, lagu yang sarat akan kesedihan..

Mengapa dia bukan diriku? Mengapa bisa seperti itu?

Berbicara pada diriku sendiri, aku menangis sekali lagi

“Sica-ah, lagu ini sedih sekali…” Sunny memelukku setelah aku berhasil menciptakan sebuah lagu dan menyanyikannya di depan Soshi. Aku tersenyum. Sunflower. Ya, itu judulnya.

What a nice song!” ujar Tiffany dan disetujui oleh yang lainnya.

“Ngg.. Apa aku boleh naik ke kamarku sekarang?” tanyaku kepada Soshi.

Taeyeon mencubit pipiku keras. “Jangan terlalu memaksakan diri, Sica-ya. Aku tak ingin kau sakit!” Ya, aku adalah orang yang sangat merepotkan jika sedang terkena sakit. Tapi.. Aw! Ini sakit.

“Jangan mengkhawatirkanku, Taeng,” jawabku disertai kedipan ke arah Taeyeon. Taeyeon yang melihatku begitu segera menyipitkan matanya.

Malam ini indah sekali, bulan naik menampakkan sinar indahnya diikuti bintang-bintang yang juga bersinar terang.

“Mengapa kisah cintaku terdengar menyedihkan?” tanyaku entah pada siapa. Apakah pada bintang-bintang yang tersenyum? Kelihatannya seperti itu. Aku terdengar seperti orang gila.

Bintang-Bintang, aku telah menjadi gila, tulisku.

“Sica-ya, malam sudah tinggi. Mengapa kau belum tidur?” Itu Yuri, ia memang teman sekamarku. Tentu ia heran, seorang Jessica Jung yang menyukai kegiatan tidur kali ini malah terkena insomnia. Hahahah, menggelikan.

“Aku akan tidur, Yul. Tapi tidak sekarang.”

Yuri tertawa. “Jangan mencoba menjadi kelelawar, ne?”

“Huh!”

Kesedihan di wajahku tercerminkan di atas kata-kata yang kutuliskan, oh Baby,

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menangis lagi, tapi aku malah menangis lagi

“Air mata ini jatuh lagi..” Aku menghapusnya kesal. “Aku membencimu, Lee Donghae! Aku ingin mengatakannya di depan wajahmu!”

Inilah diriku (Aku tidak tahu mengapa aku menjadi gila seperti ini)

Semua karena dirimu (Benar-benar karena dirimu)

Setelah merampungkan lirik lagu yang kubuat, kutulis judulnya: Star Star Star.

–Lagi-lagi– lagu tentang kesedihan dan kesakitan.

***

Dalam hidup, selalu saja kita akan menemui bertemu dengan orang yang kita benci. Tapi mengapa ini terjadi begitu sering padaku?

Agasshi, ini baju yang akan Anda kenakan.” Seorang make up artist wanita memberikan baju yang harus kukenakan saat photoshoot untuk iklan SPAO nanti.

Gomapta.” Aku membungkuk hormat padanya.

Aku sudah mengenakan baju yang diminta, aku juga sudah dimake up, sekarang apalagi yang harus kutunggu?

“Baiklah, sesi pemotretan ini dimulai dari Jessica, Taeyeon, Tiffany dan Yoona terlebih dahulu!” Kameramen menyebut namaku dan tiga temanku.

Ya, aku yang sudah siap seorang diri terpaksa menunggu tiga temanku yang belum siap. Ah, ternyata untuk sesi pertama ini kostumku bukan yang kukenakan sekarang. Otomatis aku harus kembali masuk ke ruang ganti lagi untuk menggantinya.

Setelah semuanya siap, kameramen mengarahkan pose dan memotret kami berempat.

Hana, dul, set!”

KLIK! KLIK! KLIK!

Kameramen memotret beberapa kali agar dapat memilih satu yang terbaik di antaranya.

Huh, siapakah yang akan menjadi pasanganku di sesi pemotretan berikutnya? Mengapa ia belum datang juga?

Aku keluar dari ruang ganti yang di pintunya bertuliskan ‘ladies’ bertepatan dengan keluarnya seorang laki-laki dari ruang ganti yang adanya bertepatan di hadapan ruang ganti wanita. Lee Donghae?

“Donghae dan Jessica, silakan kemari!” panggil sang kameramen.

Argh! Dengan sangat canggung aku mengaitkan tanganku pada tangan seorang Lee Donghae yang kubenci. Huh, tenanglah Jessica, kau harus professional, aku menenangkan diriku sendiri dalam hati.

Hanya beberapa foto membuatku hampir kehabisan nafas!

***

Lagi dan lagi, aku memasuki mobil hitam ini. Kugerakkan kepalaku ke samping, yaitu ke bangku di belakang setir. Seperti biasanya, ada bunga disana. Alih-alih mengambil bunganya, aku membuang wajahku ke arah jendela. Aku membutuhkan dirinya disini, bukan benda mati yang tidak bisa bergerak seperti ini. Lagipula, mengapa ia selalu memberiku tulip? Apa ia tidak tahu jikalau aku menyukai mawar? Lalu mengapa dia tak pernah meluangkan sedikit saja waktunya untukku?

Bukan hanya sekali ia melakukan ini padaku. Entah ini kali ke berapa ia seperti ini. Aku sudah jenuh dengan kalimat-kalimat seperti: ‘Aku harus latihan dance, Chagi,’ ‘Aku akan latihan basket, Barbie,’ ‘Aku harus latihan taekwondo, Honey,’ ‘Aku akan pergi ke gym, Baby,’ dan banyak lagi kegiatannya yang sudah muak kudengar. Mengapa ia begitu sibuk? Bahkan ia tidak memiliki waktu untuk sekedar menyentuh ponselnya untuk menghubungiku.

Hari ini ia sudah berjanji untuk mengajakku jalan-jalan. Ia juga berjanji akan menemuiku di taman kota pada pukul 4 sore waktu Korea, tapi apa? Ini sudah jam 7 malam! Dapat kudengar detakan jarum jam pada mobilnya. Kutatap jarum jam itu. Setiap detik terasa lama. Aku tidak akan serta merta masuk ke dalam tempat futsal yang entah apa namanya ini dan menunggunya seperti orang bodoh. Bisa-bisa aku tertidur saking bosannya.

“Huaaaaah… S-Sica-ah?”

Ia datang bertepatan dengan hampir keluarnya aku dari mobil ini. Oh, aku sudah lelah menunggunya selama 3 jam!

Mianhae, Chagiya~ Ini untukmu.” Menyadari tingkahnya itu, dengan santainya ia menyogokku dengan bunga tulip ini sebagai gantinya?

Kupaksakan untuk tersenyum tipis. “Aku ingin pulang,” ujarku setelah meletakkan bunga yang tulip di pangkuanku.

“Apa kau lelah?”

“Hm.”

Arraseo.” Ia mengangguk. “Jeongmal mianhae, Chagi. Temanku mengajakku menambah waktu main menjadi 3 jam dan aku tak bisa menolaknya.” Ia menoleh sekilas ke arahku yang menatap jalanan di depanku. “Seharusnya kau tidak menungguku seperti itu lagi.” Apakah itu berarti ia tidak ingin menepati janjinya?

Yaa! Kau gila, Kim Heechul!

***

“Sica-ya, apa kau ada waktu?”

“Ya.”

“Apakah kau mau menemaniku jalan-jalan?”

Aku menghentikan langkahku, begitupun laki-laki di sampingku saat ini. “Menemanimu?” Ia mengangguk antusias. Aku turut mengangguk.

***

Mobil hitam. Tanpa Heechul. Bunga tulip. Lagi. Benar-benar de javu. Air mataku menetes. Mengapa ketika aku marah air mata menyebalkan ini harus turun dan mengalir deras? Aku tak berniat menghapus kesal air mataku kini. Aku sudah tidak mempedulikannya, lagipula tak ada seorangpun yang tahu aku disini. Telah lama aku bertahan seperti ini, apa ini saatnya aku bangun dari keterpurukan? Baiklah, kurasa cukup sandiwaraku selama ini. Aku memang terlihat tidak peduli dengan sikapnya, tapi di dalam hati, ini sangat menyakitkan.

Perlahan aku membuka pintu mobil lalu menutupnya dengan sedikit kesal, tidak dengan terlalu kesal mengingat ini adalah mobil kesayangan Heechul.

“Sica-ya!” Suara itu. Suara yang kukenal. Sangat kukenal. Dan sangat kubenci. Aku berlari tanpa mendengarkan panggilan itu. Tanpa menoleh pun, aku sudah tahu itu suara milik siapa.

Ia berhasil menangkap lenganku. “Sica-ya, kau melupakan janji kita.” Aisshh! Mengapa aku tidak bisa berlari lebih cepat, huh?

Aku mencoba melepaskan genggamannya pada lenganku. “Lupakan saja janji kita!” Aku kembali berlari. Sepertinya ia tidak mengejarku.

Yaa! Kau tidak bisa seperti itu!” Suaranya meninggi.

Aku terdiam dan menghentikan langkahku.

“Kau telah berjanji padaku, Sica-ya! Tapi apa? Kau malah menunggu Heechul Hyung selama 2 jam disini!”

Aku masih membeku di tempatku. Derap langkahnya terdengar jelas di telingaku.

“Aku masih mencintaimu, Sica-ah.”

“Masih? Apa maksudmu?”

“Sica-ah!” Suara lain yang kutahu milik Heechul menyapa telingaku. Aku berbalik ke arahnya.

“Hae-ah, ada apa?” tanyanya melihat Donghae yang berekspresi dingin.

“Tidak ada, Hyung. Aku pergi bersama Eunhyuk dan melihat Sica disini. Hyung antar saja Sica pulang. Aku pulang bersama Eunhyuk, annyeonghikaseyo.” Donghae melirikku sekilas dan berjalan ke arah mobil Eunhyuk Oppa.

Jessica’s POV : End

***

Pagi hari yang cerah di Kota Seoul, namun sepertinya tidak secerah hati dua anak manusia yang tinggal di dorm Super Junior ini.

Yaa! Apa maksudmu kemarin, hah?”

Donghae yang masih terlelap dalam tidurnya tersadar ketika seseorang melemparinya dengan bantal. “Apa-apaan ini, Hyung?”

“Kau masih bertanya?!” Heechul melempari Donghae dengan boneka-bonekanya.

Hyung!” Donghae balas melempar Heechul dengan selimut tebalnya.

Heechul mengambil baju Donghae dan melemparnya kepada empunya. “Apa kau mencintai Sica? Kau tidak ingat dia siapa?!” Heechul semakin menaikkan suaranya.

“Aku tidak mungkin lupa ia siapa, Hyung! Aku tahu kau mencintainya!” Donghae melemparkan parfumnya yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.

Heechul mengelak dari lemparan Donghae. “Beraninya kau!” Ia melempar Donghae dengan handuk.

Yaa! Apa yang kalian lakukan?!” Leeteuk sang leader Super Junior mencoba melerai pertengkaran keduanya.

“Heechul Hyung yang memulai duluan!”

“Enak saja! Bukankah kau yang memulai?”

Dan mereka terus melanjutkan adu mulut mereka di luar kamar Donghae tanpa menyadari Leeteuk mencoba membereskan kamar Donghae yang setara berantakannya dengan kapal pecah itu.

***

Donghae’s POV

You can say that you don’t miss me

I think about you everyday

Hate U Love U. Mengapa lagu itu begitu sedih? Terutama pada partku!

Kuingin membencimu karena aku tak dapat
Melihatmu berbahagia dengan cinta yang lain…

Super Junior duduk di tangga buatan yang telah disediakan di panggung ini. Aku duduk di tingkat kedua dari empat tingkat tangga sebelah kiri.

Aku selalu mengingatnya, gadis itu. Mengapa ia bersikap seolah aku tak ada?

Aku tak boleh menitikkan air mataku disini. Tidak boleh.

Tak ada yang berubah selain ku sendiri
Kucoba pilih jalan yang lain
Tuk mencari penggantimu
Namun bernafas pun terasa sulit
….”

Tak sanggup aku meneruskan reff lagu ini. Kyuhyun yang berada di sampingku mengangguk maklum.

Mengapa aku begitu cengeng?

Lagu terus mengalun, “Kuingin membencimu karena ku telah lelah
Melihatmu berpura-pura lupa pada diriku…

Andai aku tidak berpikir bahwa akan baik-baik saja jika aku hanya bersahabat dengan gadis itu. Andai aku tahu jika ia menjadi milik orang lain hati ini akan sakit. Andai saja..

***

Good morning, world! Aku sudah tampan dan wangi sekarang. Sudah menata rambutku rapi, memakai lotion di kedua pipi dan berpakaian keren–siap untuk pergi jalan-jalan! Kuambil tas yang sudah kusiapkan isinya dan mulai berjalan menuruni tangga dorm Super Junior. Dari sini aku sudah mulai mencium wanginya masakan Ryeowook. Hmm.. mashita! Aku menuruni tangga dengan lebih bersemangat.

“Ryeowook-ah! Aku ingin makaaan~”

“Bukan hanya ada Ryeowook-mu yang ada disini, aku juga hei!” Eunhyuk berujar kesal.

O, ow.. ternyata bukan hanya ada Ryeowook yang sedang memasak. Semua SuJu ada disini. Tapi aku yakin yang memasak hanya Ryeowook, yang lain hanya mengganggu dan meramaikan saja, heheheheh~

Ne. Annyeong Eunhyuk-ah!” Aku melancarkan jurus aegyoku yang tetap saja kalah jika dibandingkan dengan Eunhyuk.

Yeobo, kau melupakanku?” Sungmin tiba-tiba menyeruak dari belakang tubuh Eunhyuk. Kyuhyun yang berada disitu spontan menempeleng kepala hyung-nya itu tanpa rasa bersalah.

“Kau hanya milikku, ingat itu!” ancam Kyuhyun.

Yaa! Donghae, apa yang kau lakukan disini? Ayo bantu kami memasak!” kesal Kibum, sedangkan Leeteuk Hyung, Kangin Hyung, Shindong Hyung, Yesung Hyung, Hankyung Hyung, Siwon dan Heechul –aku sedang malas memanggilnya hyung– memasak dalam diam.

Aku mengeluarkan kamera yang ada di dalam tasku dan mulai merekam kegiatan memasak ala Super Junior. “Say hello, Kibum-ah..” Kamera beralih ke Ryeowook yang gaya memasaknya seperti chef handal, lalu ke Hankyung Hyung yang terlihat serius, hingga ke member lain.

“Ayo cepat hidangkan makanannya! Aku lapar!”

“Bawa sendiri makananmu!” Yesung Hyung yang sedang membawa mangkuk berisi ramen-nya ke meja makan berkata dan dengan sengaja menginjak kakiku.

Hyung~ minta sesendok~,” pintaku. Yesung Hyung hanya menunjukkan wajah garangnya.

Setelah perutku terisi, aku berpamitan pada teman-temanku. “Yeorobun, aku ingin pergi ke suatu tempat! Jangan merindukanku, ne?”

***

Kuhentikan langkahku di padang bunga matahari. Aku menemukan gadis itu disini. Ia terlihat paling cantik di antara bunga matahari yang mengelilinginya. Objek yang bagus! Aku mengeluarkan kameraku.

KLIK! KLIK! KLIK!

“Bunga matahari. Sepertinya akan bagus jika aku membuat lagu dengan tema itu.” Kukeluarkan kertas dan bollpoin dari tas hitamku.

Aku tidak diketahui olehnya ah! (Aku) memandangnya lekat-lekat
Mendekatlah sampai tempat ini ini (agar) dia dapat melihat diriku dengan kedua matanya

Gadis itu tersenyum. Aku harus mengabadikan itu!

KLIK! KLIK! KLIK!

***

“Sica-ya, aku mau bicara!” Aku meraih tangan Jessica yang baru saja keluar dari mobilnya. “Ayolah.. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.”

Aku bersyukur kali ini Jessica tidak memberontak seperti biasanya. Kini kami berdua duduk di rumput di taman yang berada di samping pesta haloween ini diadakan. Ya, sejenis pesta dansa. Aku belum juga membuka pembicaraan, masih memandangi wajah gadis di sampingku yang sama sekali tidak ingin menoleh ke arahku.

Saranghae, Sica-ah..”

Mwo ya?” Sontak Jessica menoleh ke arahku yang sedang mengalihkan pandanganku ke arah bintang yang sedikit tertutup oleh awan.

Saranghandago.” Aku menatap wajahnya yang juga menatapku.

“Aku membencimu, Lee Donghae!”

“Jessica Jung! Tatap mataku dan katakan kau membenciku!” Ia menunduk, tak mengucapkan sepatah katapun. “Maafkan aku.” Nada suaraku melemah.

“Lihat aku!” Jessica menyentuh bahuku. “Aku membencimu, Lee Donghae!” ulangnya, kali ini penuh penekanan.

Aku menatap langit, tak berani menatap wajah Jessica. Aku tahu ia tidak mencintaiku, namun aku sangat berharap ia tidak membenciku. Tapi apa yang aku dengar? Ia membenciku!

Donghae’s POV : End

***

Back song : Mayday Parade-Miserable At Best

***

Jessica’s POV

Ketika air mataku berjatuhan, kau hanya melihat ke langit

Apakah aku ini awan?

“Aku membencimu, karena aku tidak bisa berhenti mencintaimu!”

“Sica-ah, jangan menangis.” Donghae terkejut dan menghapus air mataku.

Saranghandago,” ujarku tanpa memedulikan perkataannya.

And when we look to the sky, its not mine, but I want it so

Jessica’s POV : End

***

Donghae’s POV

Let’s not pretend you’re alone tonight
(I know he’s there)

“Jessica-ah!”

Suara Heechul Hyung. Jessica menatapku cemas, aku mengangguk meyakinkannya untuk memasuki ballroom bersama Heechul Hyung.

Aku tersenyum kepada mereka berdua dan memberi mereka isyarat untuk berjalan mendahuluiku.

I bet he gets the nerve to walk the floor

Heechul Hyung berusaha tidak gugup. Aku tersenyum miris melihat pasangan serasi di hadapanku.

And ask my girl to dance, and she’ll say yes

“Yoona-ah, will you dance with me?”

Yes.”

Mataku tak mampu lepas memandang Jessica dan Heechul Hyung yang sedang berdansa.

That I can live without you but..
Without you I’ll be miserable at best

Oppa.”

Aku tersadar kala Yoona menyapaku. “Ne, Chagiya?”

“Tak usah berpura-pura lagi Oppa, aku tahu kau mencintai gadis lain.” Mwo ya?! “Kejar dia, Oppa! Aku.. aku juga mencintai orang lain. Maafkan aku.” Yoona berhenti berdansa dan melepaskanku.

Gomawo, Yoong~,” hanya itu yang dapat kuungkapkan. Yoona mengancungkan jempolnya.

Donghae’s POV : End

***

Haesica

On other side..

“Aku sudah tahu, Sica-ah. Berhentilah bersandiwara. Lepaskanlah aku. Kau mencintai dongsaengku Donghae? Donghae pun sangat mencintaimu. Tapi jangan sampai kau membuatnya menangis lagi.”

Oppa?” Jessica tak bisa berkata-kata mendengar penuturan Heechul yang terasa begitu cepat.

“Asal kau tahu, aku mengikuti taekwondo, pergi ke gym, latihan basket dan sebagainya agar aku memiliki tubuh sebagus Donghae. Aku iri karena kau selalu memandangnya.” Heechul terkekeh. “Donghae-ah?” Ups! Heechul berharap Donghae tidak mendengar kata-katanya tadi. Jessica menoleh ke belakangnya, ke arah pandangan Heechul. Donghae merasa dirinya seperti orang bodoh.

“Donghae Ahjussi?” Jessica terkejut.

Yaa! Berhentilah memanggilnya ‘ahjussi’, panggil dia ‘o-ppa’,” nasihat Heechul pada Jessica. “Jangan latah lagi dan memanggilnya ‘ahjussi’ lagi, arraseo?” Jessica mengangguk malu.

Hyung~” Donghae memanggil Heechul dengan nada manja. Heechul memeluk laki-laki yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya itu erat. “Maafkan aku.”

Ne, ne, ne. Jangan menangis.” Heechul melepas pelukannya. “Maafkan Hyung juga.” Heechul tersenyum kemudian berbisik, “Ajaklah Jessica berdansa, ia sudah menunggumu. Jangan kecewakan ia atau kau akan menyusahkan Leeteuk membereskan kamarmu yang akan berantakan nantinya.” Donghae mengangguk dan mengalihkan pandangannya kepada Jessica.

“Jessica Jung, how about dancing?” Donghae mengulurkan tangannya.

Jessica tersenyum manis lalu membalas uluran tangan Donghae. “Okay.”

Heechul meninggalkan Jessica dan Donghae yang sedang berdansa. Ia pasti mencari seseorang.

“Ice Princess, will you be my girl?”

Jessica terkejut. “Ah? Of course, My Prince Charming.” Untunglah Jessica menjawabnya dengan jawaban yang seharusnya dan tidak merusak moment.

Donghae menarik nafas lega. “Aku sudah menunggu lama untukmu.”

“Kau kira aku melupakanmu? Itu tidak mungkin. Aku selalu ingat tatapanmu, juga caramu berdansa.”

“Aku juga tak mungkin bisa melupakan American girl yang membuatku pertama kali merasakan jatuh cinta. Bagaimana mungkin juga aku melupakan satu-satunya gadis yang menolak untuk kencan denganku?”

“Huh! Kau terlalu percaya diri.. Oppa.”

“Apa kau bilang?” goda Donghae.

“Aku bilang, kau terlalu percaya diri,” ujar Jessica berpura-pura kesal.

“Kau memanggilku apa?”

Oppa.”

“Ucapkan lagi!”

Oppa!” Jessica menaikkan sedikit nada suaranya.

Gomawo, Chagiya~” Jessica tersenyum.

Teng! Teng! Teng! …

Tepat jam 12 malam.

Spontan Donghae menarik tangan Jessica. “Ikut aku!”

Oppa.. kau membawa mobil sendiri?”

“Bukan itu kejutannya, Chagiya!” ujar Donghae dengan kepercayadirian tingkat tinggi.

Tentu saja Jessica terkejut. Donghae adalah satu-satunya member Super Junior yang tidak bisa menyetir mobil. Bahkan Eunhyuk couplenya berkata bahwa jika masih ingin hidup jangan pernah mengizinkan Donghae yang menyetir. Eunhyuk mengaku sport jantung ketika suatu kali Donghae menyetir untuknya.

Sebelum Donghae menjalankan mobilnya, ia menutup mata Jessica dengan kain yang sudah dipersiapkannya.

“Kita sampai!” Donghae terlihat sangat girang. Beruntung Jessica tidak sport jantung seperti Eunhyuk kala itu.

Donghae menuntun Jessica keluar dari mobil. “Chagiya, kau tunggu disini,” ujar Donghae lalu melepaskan tangan Jessica setelah berjalan beberapa langkah dari mobil.

Oppa! Jangan menakutiku!” Donghae tidak menjawab.

Petikan gitar terdengar di telinga Jessica. Ini dimana? Tanya hatinya berulang kali. Tak lama setelah itu, seperti ada yang membuka tutupan matanya. Jessica mengerjapkan matanya beberapa kali, ia melihat Donghae memetik gitarnya agak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

“Hankyung Oppa?” Laki-laki yang membuka tutupan matanya itu hanya terkekeh geli.

Padang bunga matahari.

Kangin, Kibum dan Shindong berdiri memegang lilin sedangkan Donghae berdiri di antara mereka memetik gitar.

Aku bersiul satu, dua, tiga (aku berjalan), aku hari ini menginginkannya
(Aku) belum tahu cara menawan (hatinya) tetapi (yeah), setiap hari (aku) mengirimkan hatiku padanya
Aku adalah bunga matahari yang bermekaran di sisinya
,” Donghae bernyanyi.

Kangin, Kibum, Shindong dan Hankyung menyanyikan part suara dua, “Haebaragi, haebaragi (Bunga matahari, bunga matahari).”

(Aku) bersenandung hum –“

Haebaragi, haebaragi (Bunga matahari, bunga matahari),” sambung keempat temannya.

Donghae memetik bunga matahari dan berjalan ke arah Jessica. “Aku adalah bunga matahari yang tumbuh untuknya (Mekar karena dirinya)…

Donghae berlutut. “Percayalah, aku selalu melihat ke arahmu.. Tetaplah jadi dirimu sendiri. Aku mencintai Jessica Jung, bukan orang lain.”

Lagi, Jessica merasa jantungnya berdetak tidak normal. “Yaksok!” Matanya berkaca-kaca. Ia mengaitkan kelingkingnya pada Donghae.

***

To make my life complete

You make my life complete..

(SNSD-Complete)

***

End

3 thoughts on “The Dance and Sunflower

  1. Ping-balik: URL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s