Ice Cream (Part 2)

 

IC2

Tittle : Ice Cream part 2

 

Author : min “Evil Trap”

 

Cats :

 

– Cho KyuHyun

– Park Han Mi

– Lee DongHae

– Park EunRin

– Park Yun Na

– and other

 

Genre : Romantic , angst

 

Happy Reading^^~~

 

Saat fajar mulai menyapa kicau burung, aku pun segera beranjak menuju sekolahku yang entah mengapa hari ini terasa begitu istimewa,mungkinkah karena kemarin aku baru saja mendapatkan pahlawan sekaligus teman? gumam ku pelan. Park Eun Rin, yeoja dengan tubuh tinggi dan senyum manis itu begitu baik, berada di pelukannya kemarin membuatku merasakan ketenangan yang dalam.

 

Ice Cream Part 2 Start~

 

“Annyeong Han Mi-ya !” sapa Eun Rin seketika saat kami berpapasan di gerbang sekolah.

 

“Nado Annyeong Eun Rin-ya !” jawabku padanya, dan Eun Rin menggandeng tanganku yang sedari tadi bergelayut erat pada selempang tas ransel hitamku. Dia tampak cantik dengan balutan sweeter biru tua yang nampak kebesaran di badannya yang tinggi semampai itu.

 

Entah mengapa malah membuatku merasa minder berjalan beriringan dengannya, seperti yang terlihat tubuhku begitu mungil untuk ukuran yeoja seumuranku dan kontan saja berjalan dengan Eun Rin yang tinggi membuatku jauh tampak mungil.

 

“Kau tau Han Mi-ya, jadi orang dengan postur tubuh tinggi itu tidak selamanya membawa keuntungan, terkadang karena postur tubuhku yang tinggi ini orang sering mengira aku lebih berumur dari usiaku yang sebenarnya” celetuknya tiba-tiba bersamaan dengan senyum manisnya, seakan tau apa yang ada difikaran ku tadi.

 

“Jinjjayo?” jawabku terkejut atas perkataannya barusan.

 

“Jeongmal!” jawabnya masih dengan senyummannya tadi.

 

Aku berdecak kagum dengan kepribadian gadis ini ramah, murah senyum, dan entah apalagi sisi baik darinya yang akan muncul nanti. Kami saling melempar senyum saat aku sudah didepan kelasku, yah sayangnya aku dan dia berbeda kelas. Begitu langkah kakiku membawaku menuju bangkuku, dapat kutemukan dengan mudah sorot mata kemarahan dari seorang Park Yun Na. Aku tahu dia pasti masih marah karena kejadian kemarin.

 

Tapi anehnya aku belum menemukan sosok Edward Cullen dari seorang Cho Kyu Hyun. Terlalu berlebihankah aku memanggilnya begitu? kurasa tidak. Dia memiliki wajah tampan, sorot mata tajam, kulit sepucat susu dan sifat yang dingin dan beku. Berbanding sama dengan visualisasi seorang Edward bukan? Hanya saja Kyu Hyun tidak minum darah, hehe. Hatiku geli sendiri memikirkan kemungkinan konyol itu.

 

Saat Choi songsaenim mulai menjelaskan cara penghitungan Inflasi, dengan tergesa Kyu Hyun muncul dan mengucap salam sambil meminta maaf atas keterlambatannya. Seperti yang sudah kuduga, karena Kyu Hyun adalah anak dari salah satu penyumbang dana paling besar di Senior High School ini maka dengan mudahnya dia dapat mengikuti pelajaran tanpa terlebih dahulu mendapatkan hukuman.

 

Begitu jam istirahat di mulai Kyu Hyun dengan senyum miring andalannya atau yang lebih sering disebut sebagai senyum setannya itu datang menghampiri mejaku, yang kontan saja membuat seisi kelas terkejut. Bagaimana mungkin aku yang memiliki banyak sisi minus bisa membuat seorang Cho Kyu Hyun datang menghampiriku.

 

Sekali lagi tanpa di sangka, aku yang sudah ketakutan setengah mati karena tatapan tajam dan senyumnya itu hanya bisa terdiam saat dia menarik tanganku kasar menuju keluar kelas.

 

“Cho Kyu Hyun-ssi, apa yang kau lakukan? Tanganku sakit !” bentakku padanya, rasa marahku seketika kian meninggi saat di malah mengunci tubuh mungilku ditembok. “Apa-apa’an namja ini!” batinku kian kesal.

 

“Aku kira saat Yun Na sering menyebutmu sebagai yeoja murahan itu karena atas dasar dia hanya melontarkan kata dengan sekenanya, tapi melihatmu bercengkrama denganDong Hae hyung kemarin membuatku mengerti bahwa kau memang yeoja MU RA HAN !”ujarnya pelan tapi begitu menusuk, bahkan dia memberikan penekanan pada kata murahan.

 

“Apa maksudmu, aku bukan yeoja seperti itu!” ucapku setegas mungkin, berusaha menahan sekuat mungkin agar air mataku tak jatuh.

 

“Lalu kenapa kau bersamanya haa? Kenapa kau berada digendongannya saat sekolah sudah benar-benar sepi! Kenapa Han Mi-ssi?” teriaknya murka sambil mencengkeram erat kedua bahuku.

 

“Tes!” pertahananku runtuh, air mataku mulai jatuh.

 

“Yak, Kyu Hyun-ah, apa yang kau lakukan padanya!” bentak Dong Hae oppa seketika sambil melepaskanku dari cengkraman Kyu Hyun.

 

“Han Mi-ya, kau kenapa? Kenapa menangis?” ujar Eun Rin kaget saat melihatku sudah terisak, dan Eun Rin kembali memelukku. Entah bagaimana ceritanya mereka tiba-tiba ada disini.

 

“Brengsek! kalian semua brengsek!” umpat Kyu Hyun sekeras mungkin pada kami.

 

“Bruk!” dengan spontan Dong Hae menghantam Kyu Hyun.

 

“Apa yang kau katakan hah? Beraninya memaki seperti itu pada kakak sendiri!” bentak Dong Hae sarat emosi.

 

“Mwo? Kakak?” batinku terkejut, bagaimana mungkin Dong Hae yang terkenal begitu ramah bisa mempunyai adik semacam iblis seperti Kyu Hyun.

 

Tanpa mengatakan apapun Kyu Hyun hanya berdecak kesal sambil memegangi pipinya yang terkena hantaman Dong Hae tadi dan berlalu pergi meninggalkan kami. Dapat kulihat punggungnya yang naik turun karena hembusan nafasnya yang didominasi oleh emosi.

 

“Kajja kita ke kantin!” ajak Dong Hae oppa lembut, wajahnya sudah tampak begitu damai,tidak ada lagi urat emosiya tadi saat menghantam Kyu Hyun.

 

Selama di kantin aku hanya tenggelam dalam kebingungnganku, apa yang menyebabkan Kyu Hyun semarah itu padaku. Sementara itu Dong Hae dan Eun Rin saling mengakrabkan diri dengan obrolan ringan ini. Mereka saling menceritakan keadaan masing-masing.

 

“Eun Rin-ya, kita ini lucu sekali yah, sama-sama memiliki saudara kandung yang berbanding terbalik dengan kita, haha!” ujar Dong Hae memulai pembicaraan

 

“Yah, kau benar oppa, aku dan Yun Na eonnie sangat berbanding terbalik, dia yang begitu menggilai fashion dan dunia malam sangat jauh denganku, karena itulah kami sering tak sepaham!” kali ini Eun Rin yang bersuara menjawab ucapan Dong Hae tadi.

 

“Sedangkan aku dan Kyu Hyun, banyak yang bilang kami seperti bukan saudara dia yang sangat pelit bicara juga sangat berbanding berbalik dengan aku yang hampir-hampir tak pernah berhenti berbicara!”

 

Kali ini aku dapat melihat betapa mata sendu milik Dong Hae oppa tampak berbinar setiap kali melihat Eun Rin. Aku tak dapat menyembunyikan rasa takutku, bagaiman bila Dong Hae oppa menyukai Eun Rin? Itu bukan hal yang sulit terjadi. Mengingat Eun Rin tampak begitu menawan dengan rambut hitam pekatnya, dan postur tubuhnya yang tinggi semampai. Belum lagi kepribadiannya yang ramah dan gampang bergaul, lelaki normal mana yang tidak tertarik padanya.

 

Sepulang sekolah kurebahkan tubuh mungilku dikasur berseprai hitam pekat, sepekat fikirku yang masih diliputi kegundahan. Banyak hal membingungkan yang terjadi hari ini, terutama menyangkut tindakan frontal Kyu Hyun tadi. Apa alasan dia semarah itu padaku? Hingga menyerangku sekasar itu.

 

“Cring!”

 

Handphoneku berbunyi, pertanda ada new message untukku, segera kuraih benda mungil berwarna silver itu

 

From : Dong Hae Oppa

Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu Han Mi-ya? Aku ingin mengerjakan tugas lukisku bersamamu, pasti menyenangkan bukan mengerjakan tugas lukis bersama ahlinya😀

 

Aku tersenyum membaca message darinya, dia terlalu berlebihan.

 

For : Dong Hae oppa

Kau terlalu berlebihan oppa, datanglah, aku akan menyambutmu dengan senang hati ;D

 

Hati kecilku berbisik untuk mulai melupakan Kyu Hyun, toh didepanku sudah ada namja sebaik malaikat yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman polos yang menawan.  Perlahan kusingkirkan rasa khawatirku tadi, Dong Hae oppa begitu baik padaku, jadi tidak salah kan bila aku menganggap itu sebagai suatu harapan.

Segera kurapikan kaos putih pucat yang kukenakan sedari tadi,tentunya membuat penampilan lebih enak dipandang sangat wajar bukan.

 

“Tok tok!” terdengar pintu rumahku di ketuk. Bergegas kulangkah kan kakiku menuju pintu mempersilahkan Dong Hae oppa untuk masuk ke dalam.

 

Kami pun mulai larut dalam aktivitas melukis yang menyenangkan ini. Sesekali bercengkrama, saling mencoret wajah masing-masing dengan kuas bercat minyak. Tak dapat kulukiskan senangnya hatiku, baru kali ini aku dapat merasakan yang namanya tersenyum lebar dan tertawa tanpa beban.

 

“Han Mi-ya, boleh aku bertanya sesuatu?” ujarnya manis dengan senyum polosnya yang menawan.

 

“Tentu oppa !” jawabku segera

 

“Apakau sudah lama mengenal Eun Rin ?”

 

“Deg!” pertanyaan macam apa ini, batinku kembali tersirat kekhawatiran.

 

“Ani, kami baru kenal beberapa hari yang lalu, tapi kami memang akrab !” jawabku senormal mungkin.

 

“Ah,begitu rupanya, baguslah! It artinya aku bisa meminta bantuanmu untuk semakin mendekatkan oppa mu ini dengannya!” ujarnya dengan mata berbinar senang, sangat berbalik dengan keadaanku sekarang.

 

“Sakit!” inilah yang kurasakan sekarang, betapa tadi dia telah membawaku sejengkal keatas langit kebahagiaan, dan saat ini dengan mudahnya dia menjatuhkanku kejurang kesakitan.

 

“Tentu oppa, aku akan membantumu !” ucapku bersandiwara, rupanya aku berbakat jadi aktris, pemain sandiwara.

 

“Jeongmalgomawo Han Mi-ya! Kau adalah sahabat yang baik !” ujarnya seraya merentangkan tangannya, merengkuhku ke dalam pelukannya.

 

“Cheonma, bukankah sesama manusia itu wajib saling membantu!” ujarku mengikuti kata-katanya dulu saat menolongku.

 

“Eumm oppa, bisakah kau pulang sekarang? Mataku sudah mulai merengek minta dipejamkan” ucapku sambil tersenyum semanis mungkin, aku sudah tidak sanggup lebih lama lagi menahan air mataku.

 

“Tentu, aku pamit dulu, jaga dirimu! Sampai bertemu besok di sekolah!” pamitnya sambilmengacak rambutku pelan.

 

Begitu pintu kututup, kusandarkan tubuhku dibaliknya, kueratkan pelukan lenganku pada lututku. Aku terisak, perih, kenapa nasib selalu mempermainkanku ?

 

Kutapaki jalan setapak berbatu karang, demi mengejar bayang pujangga, yang nyatanya bayang itu hanyalah kepulan asap kapal tak bernahkoda, seperti cintaku yang tak pernah bertuan

 

“Han Mi-ya, apa kau sakit heum? Kenapa dari tadi diam saja?” ujar Eun Rin khawatir, diletakkannya telapak tangannya pada keningku.

 

“Ani, nae gwaenchana Eun Rin-ya” jawabku tersenyum sambil menepis tangannya, namun dia masih memandang wajahku intens, seakan mencari alasan kebisuanku.

 

Oh tuhan, aku tak mungkin bisa menyakiti sahabat sebaik dia, dia yang begitu mengkhawatirkanku. Memberikanku pertolongan dan pelukan hangatnya saat ketidak berdayaan menguasaiku. Haruskahaku berkhianat? itu tidak boleh terjadi, aku memang orang yang lemah, tapi aku bukan orang yang busuk, batinku miris.

 

“Eun Rin-ya, aku menyayangimu, terimakasih telah mau menjadi seseorang yang berarti dihidupku, ada saat aku butuh, mensuport saat aku terpuruk, gomawo!” ujarku menggenggam tangannya.

 

“Nado Han-mi-ya!” ujarnya sembari memelukku.

 

Ini keputusan yang tepat bukan? Akanlebih baik meninggalkan orang yang dicintai daripada kehilangan sahabat. Karena sahabatlah tempatmu bersandar saat awan kehidupan mulai menciptakan badai.

 

“Han Mi-ya, Eun Rin-ya! Kalian ke kantin tanpa mengajak aku eoh? Jahat sekali!” teriak Dong Hae oppa saat melihat kami melintas, dan kontan saja kami terbahak melihat raut mukanya yang lucu itu, seakan takut di tinggal.

 

“Muahahaha, lihatlah mukamu oppa! seperti anak balita yang takut ditinggal ibunya!” sahut Eun Rin.

 

“Yak! Nappeun yeoja, tapi dengan tampangku yang setampan ini kau pasti juga takut aku tinggalkan kan?” goda Dong Hae.

 

Dan kontan saja pipi Eun Rin bersemu merah, menandakan malu telah melanda dirinya, secara garis besar aku bisa melihat bahwa nantinya cinta Dong Hae akan terbalas.

 

“Hyung, aku ikut!” seru Kyu Hyun tiba-tiba menghampiri kami bertiga dan menggantungkan lengan panjangnya ke bahu Dong Hae.

 

“Kajja!” seru Eun Rin tak kalah semangat.

 

Saat makan hanya mereka berdua  yang berceloteh riang, fikiranku masih berkabut, belum sembuh dari rasa sakit yang diciptakan oleh dewa amor melalui cupidnya. Sedangkan Kyu Hyun malah lebih focus ke pspnya daripada jajangmyeon yang sudah dipesannya.

 

“Kyu-ah, tumben ada apa kau ikut makan bersama hyung? Bukannya dari dulu kau lebih suka makan sendiri-sendiri?” Tanya Dong Hae di sela-sela obrolannya dengan Eun Rin.

 

“Hanya ingin saja” jawabnya singkat, padat dan ketus seperti biasa.

 

“Ah, atau karena kau ingin lebih dekat dengan Han Mi mungkin?” celetuk Eun Rin tiba-tiba yang entah mengapa malah membuatku emosi.

 

“Aish, Eun Rin-ya! Apa yang kau katakan? Aku tak mungkin mau berdekatan dengan namja dingin dan seangkuh vampire macam dia!” jeritku sambil menunjuk Kyu Hyun.

 

“Yak! Beraninya kau!” bentak Kyu Hyun tak kalah emosi, dilemparkannya sepotong tteopoki tepat mengenai wajahku.

 

“Nappeun namja!” makiku tak terima, dan kulemparkan potongan kimbab.

 

Maka terjadilah perang lempar makanan diantara kami, hingga . .

 

“Park Han Mi dan Cho Kyu Hyun, kalian di panggil ke ruangan kepala sekolah!” terdengar suara wakepsek memerintah.

 

“Mwo?” jerit kami terkejut bersamaan.

 

“Cieeeeee~” terdengar sorak-sorai dari chigudeul saat mendengar kami begitu kompak tadi.

 

“Yak! Kalian mau kuhajar satu-satu  eoh?” bentak Kyu Hyun dengan muka memerah, eh? kok mukanya bisa memerah? dia malukah? Atas dasar apa? batinku kian bingung.

 

Kontan saja semua anak yang tadinya berseru langsung diam membisu, hanya Eun Rin  dan Dong Hae yang masih cekikikan. Tanpa banyak bicara Kyu Hyun menarik tanganku kasar, sambil berjalan menuju ruang kepsek. Aku hanya bisa diam, genggaman tangannya begitu terasa hangat, tangannya yang besar itu mampu menenggelamkan lengan mungilku.

 

Tapi anehnya tak ada lagi jantung berdebar atau rasa senang saat didekatnya seperti dulu yang sering kali kurasakan padanya. Benarkah rasa cintaku padanya telah hilang? Kemana perginya cintaku selama setahun yang lalu? Sepertinya Dong Hae telah menghapuskan semuanya.

 

“Annyeong!” sapa kami bersamaan kembali saat berada di dalam ruangan kepsek.

 

“Nado annyeong, saya mendengar dari Yun Na bahwa kalian telah membuat kekacauan dikantin dengan saling melemparkan makan, benarkah itu?” tanya Kepsek langsung tanpa basa-basi.

 

“Ne, jeongmal mianhae, kami bersedia menerima hukuman apapun” kali ini hanya aku yang menjawab, sedangkan Kyu Hyun dia malah diam saja.

 

“Sudah kuputuskan, nanti sepulang sekolah kalian harus memotong rumput ditaman belakang, arra?”

 

“Nan arraseo” lagi-lagi hanya aku yang menjawab.

 

Maka sekarang kami terdampar disini, kebun belakang sekolah yang dipenuhi dengan rerumputan tinggi. Namun,masing-masing dari kami hanya duduk mendekap lutut dan tidak mengerjakan apapun, karena Kyu Hyun rupanya telah menyuruh sopir dan tukang kebun rumahnya datang kesekolah untuk mengerjakan tugas kami. Dasar bocah evil, ada saja akal liciknya.

 

Namun dari sisi barat terlihat sosok tampan Dong Hae opa yang tengah berlari menuju tempat kami duduk.

 

“Ada apa oppa? kenapa berlari seperti itu?” tanyaku seketika begitu Dong Hae oppa duduk di antara aku dan Kyu Hyun.

 

“Ani, aku hanya ingin meminta bantuan kalian, besok adalah tanggal 26 Oktober dan itu merupakan tanggal ulang tahun Eun Rin, aku ingin kalian membantuku mempersiapkan makan malam romantis karena aku akan memintanya menjadi pacarku besok saat kami dinner, eotthoke?” ujar Dong Hae bersemangat.

 

“Tentu aku akan membantumu oppa!” seruku ikut berpura-pura semangat, padahal hatiku perih, bagai luka ditaburi garam.

 

“Ne” jawab Kyu Hyun singkat, seperti biasa.

 

26 october 2013

 

“Eun Rin-ya, kajja buka matamu!” perintah Dong Hae lembut, dituntunnya Eun Rin menuju gazebo mungil yang merupakan hasil pekerjaan kami bertiga sedari tadi.

 

“Astaga,ini sangat indah oppa!” ujar Eun Rin terkejut, dikerjap-kerjapkannya manik hitamnya melihat untaian anyelir dan anggrek telah terjalin indah disekeliling pilar gazebo mungil dari susunan kayu jati yang berukiran bunga violet dari jaman uskup vatikan, belum lagi lampu-lamu mungil hasil susunan Kyu Hyun yang saling bertumpuk indah gemerlap membentuk simbol wajah sepasang kekasih dari samping.

 

“Kau suka?”

 

“Aku sangat menyukainya oppa!” jawab Eun Rin dengan sudut bibir yang terangkat,menandakan betapa berbunga hatinya sekarang.

 

“Eun Rin-ya, anggaplah gambaran taman ini sebagai titik cermin akan perasaanku padamu, maka apa kau juga akan menyukainya dan menerimanya sebagai kepemilikan atas hati dan cintamu?” ujar Dong Hae akhirnya, bagian yang paling sakit akan kudengar tidak berapa lama lagi.

 

“Aku mau oppa, aku juga sangat mencintaimu!”

 

“Gomawo Eun Rin chagie-ya!”

 

Dong Hae merentangkan tangannya, mengundang tubuh semampai Eun Rin ke dalam pelukannya, dikecupnya sekilas dahi Eun Rin.

 

Aku berbalik, segera mungkin ingin pulang, sedari tadi aku dan Kyu Hyun  turut menyaksikan saat DongHae meminta Eun Rin menjadi yeoja chingunya. Namun saat aku mulai berbalikmelangkahkan kaki menjauh, ada tangan kekar yang mencengkeram erat lenganku. Membuatku menoleh menatap wajahnya, dan menjadikannya dapat melihat tetesan air mataku yang sudah turun menganak sungai.

 

“Lepas! Lepaskan aku Cho Kyu Hyun-ssi!” pintaku dengan suara parau.

 

“Tidak akan!” ditariknya lenganku,mempersempit jarak di antara kami. Kini badan kami saling menempel satu sama lain, mukaku tepat berada di dada bidangnya dapat kudengar detak jantungnya. Tangan kanannya merengkuh pingganggku erat, sedangkan tangan kirinya tepat berada di helain rambut hitamku.

 

“Menangislah!” ujarnya pelan, seolah seperti bisikkan, dan aku mulai terisak di dekapannya, membiaskan sakit yang kurasakan.

 

Hangat dan begitu nyaman saat kudengar setiap kali jantungnya berdetak, tapi kesakitanku seolah telah mati rasa, kehangatan yang diberikannya tak mengurangi sakitku sedikitpun.

 

“Sebegitu besarnya kah rasa cintamu untuk Dong Hae hyung? Tidak bisakah kau mencintaiku seperti dulu?”

 

“Mwo?” ujarku penuh keterkejutan, kutarik tangan Kyu Hyun berusaha melepaskan dekapan posesivenya. Tapi dia malah mempererat dekapannya, hingga aku menyerah dan menurunkan tanganku yang tadi mencoba menarik tangannya.

 

Setelah sekian lama memelukku, dengan refleks ditangkupkannya kedua telapak tangannya pada dua sisi daguku, membuatku mendongak menatap langsung sorot matanya yang tajam itu.

 

“Saranghae Han Mi-ya” ucapnya tegas menyaingi petir yang entah sejak kapan mulai bergemuruh.

 

“Wae? Waeyo baru sekarang Cho Kyu Hyun? Kemana saja kau selama setahun lalu? Pabo! Pabo-ya!” teriakku lemah, kata-katanya malah semakin membuatku terisak dalam.

 

Kulepaskan tangannya yang menangkup daguku, kubiarkan tubuhku mulai terguyur derasnya air hujan, berlari menjauh dari sosoknya.

 

“Oh Tuhan, kenapa nasib selalu mempermainkanku?”

 

TBC^^~~

3 thoughts on “Ice Cream (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s