Deception A Masokis (Part 9)

 

DAM9

Title: Sound Of A Broken Heart 9

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Minho

Jonghyun CNBlue as Jonghyun

Author: Susan

 

 

 

HAPPY READING! ^0^

 

 

 

“Aku selalu takjub dengan cara dua orang bertemu dan berpisah; tak pernah sama. Seandainya saja keduanya dijadikan pertanyaan, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku sudah bertemu dengan banyak orang, namun aku belum pernah merasa benar-benar berpisah dengan siapapun. Aku tak pernah yakin mampu untuk melepaskan apa yang pernah kumiliki. Karena melepas berarti melupakan dan melupakan adalah penderitaan.”

 

 

 

-=Deception A Masokis=-

 

 

 

 

“Hei, aku disini…” ucapku lembut, aku juga heran bagaimana bisa suara lemah lembut itu keluar dari bibirku. Kyuhyun membalik tubuhnya dengan segera, matanya berkilat-kilat menatapku. Langkahnya berkecipak di celah-celah gelombang air.

 

“Kau—u”

 

“Mian—hh…”

 

Kyuhyun sudah merengkuh tubuhku. Ia memelukku dengan erat hingga aku kesulitan bernapas. Ia memelukku dengan cara yang aneh, tak seperti biasanya. Aku memincingkan mataku saat mendengar isakan lirihnya. Astaga! Kenapa dengan pemuda ini?

 

Kalau sudah seperti ini, aku hanya gagu. Hatiku bergemuruh dengan perasaan yang cengeng. Ketepuk pundak Kyuhyun, ia masih mendekapku dengan erat.

 

“Hei, aku tak apa-apa.” Kurebahkan kepalaku di dadanya. “Gwaenchanayo…”

 

Kyuhyun menarik tubuhnya, melepas pelukannya dan sorot matanya tepat menusuk mataku. Menimbulkan usikan yang amat mistik. Kurenggangkan kakiku mencoba berfikir tenang dan tak menampakkan kegilaanku karena menggilainya. Tangan Kyuhyun bergerak ke pinggangku, tatapannya belum berpindah, masih lekat pada wajahku. Perlahan, pemuda itu mencondongkan tubuhnya, membuatku memundurkan bahuku. Kyuhyun sepertinya tak peduli, ia makin mencondongkan tubuhnya. Napas kami saling menerpa dan mirip bahan konduktor yang mampu menghantarkan listrik dengan baik; menyetrumku tanpa ampun. Semakin Kyuhyun mendekat, semakin kumundurkan tubuhku; menghindarinya. Mengetahui penolakanku atas niatnya yang mau menciumku, Kyuhyun menegakkan tubuh. Ia berdehem kecil lalu melangkah menuju pinggir kolam. Kuikuti ia.

 

Namja bertuksedo putih itu duduk di tepi kolam, kakinya berkecipak di air. Dan ia tersenyum menatapku. Tangannya membersihkan tempat duduk di sisinya, aku mengerti bahasa isyaratnya, kududukkan tubuhku. Ia menggeser dan meletakkan tangannya di pinggangku.

 

“Kau tahu kenapa aku melarangmu ke prom?” Kyuhyun menoleh. Ia memamerkan senyum simetrisnya, sebuah senyum dimana kedua sudut bibirnya tertarik sejajar, menawan. “Sebenarnya, aku tak mau kau dilihat pria mata keranjang. Apalagi, kau lihat gaun yang kau kenakan? Bagian dadamu itu—”

 

Spontan kusilangkan tanganku di dada dan disambut gelak tawa olehnya. Aku mempoutkan bibirku kemudian memukul lengannya.

 

“Aku tak menyangka bagianmu itu—menggoda!”

 

“Ya! Aku tak menyangka pikiranmu jalang seperti itu.”

 

“Kau tahu, bagiku nafsu dan cinta itu sejalan. Kau satu-satunya gadis yang membuatku merasakan hal aneh seperti itu. Dan itu sangat menyebalkan. Saat otakmu dipenuhi hal-hal liar yang aku sendiri bingung bagaimana menuntaskannya.” Kyuhyun terkekeh lalu melepas tuksedonya dan menyampirkan di bahuku, ia merengkuhku dan kami diam di bawah bulan, menikmati cahaya keemasan bulan separuh itu menyoroti kami dengan pantulan sinar yang tak sempurna. Aku—nyaman di pelukannya.

 

“Kyu, boleh aku bertanya?”

 

“Kau baru saja bertanya.” Keluhnya lalu menganggukkan kepala.

 

“Kenapa kau tadi menangis?”

 

Kyuhyun masih diam hingga beberapa saat, ia mengendurkan tangannya yang semula mendekap hangat. Pandangannya menuju bulan separuh, terlihat sayu dan menahan sesuatu.

 

“Aku mau mendengarmu.”

 

“Hehm,” ia menoleh dan menampilkan senyum terbaiknya, “aku—aku…”

 

Kuremas jemari Kyuhyun, mengalirkan energi agar ia memiliki kekuatan untuk bercerita padaku. Kyuhyun mengecup keningku lalu merengkuhku lagi. Kuhirup aroma maskulin yang menguar dari lehernya. Kadang, aku bingung dengan parfum yang dipakai Kyuhyun, seperti percampuran parfun davidoff man dan aqua digio. Aroma yang segar dan wangi, aku menyukainya.

 

“Aku punya kenangan buruk dengan tenggelam.”

 

Kutunggu Kyuhyun menuntaskan kalimatnya. Ia tersenyum, menertawakan trauma yang mendera batinnya. Kucium punggung tangan Kyuhyun, ia melongo, Nampak kaget dengan perilaku, kubalas saja dengan senyuman.

 

“Jangan mengulanginya. Kumohon.”

 

“Aku janji.” Balasku meniadakan kekhawatirannya. Ia kembali memelukku dan mengecup puncak kepalaku berkali-kali. Kubiarkan ia merahasiakan kejadian yang membuatnya trauma. Well, aku sangat menghargai privasinya, setidaknya ia sudah mau bercerita tentang alasannya menangis.

 

Lama sekali kami terdiam, saling memandang. Kubiarkan mata Kyuhyun menelusuri tiap inchi wajahku. Pun aku membiarkan diriku takjub pada keindahan lengkung wajahnya yang sempurna. Baiklah, aku jujur, ada banyak lelaki tampan di luar sana, namun yang mampu membuatku tertarik hanya satu. Ya, pemuda itu tengah duduk di sampingku dan ia juga sedang memandangku.  Jemari Kyuhyun menyentuh pelipisku, mengelusnya hingga pipi lalu turun ke bibir. Ia mendekatkan wajah dan meraih tengkukku. Sepertinya, kali ini, Kyuhyun tak mau aku menolak ciumannya. Kubiarkan bibir lembutnya mengulum bibirku, mempersilakan dia memberi kecupan ringan yang bertempo menuntut pada permukaan bibirku. Kini, bibir kami membuka dan menutup seperti irama nafas. Mengalirkan hawa panas yang memanggang dan darahku mendidih karenanya. Aku meleleh dengan perlakuan Kyuhyun, kubiarkan diriku terbuai dan tenggelam dalam dekapannya. Kuremas rambut berantakannya dengan perasaan tak menentu, ada yang bergetar, manis dan bahagia. Semua campur aduk. Mirisnya, aku sama sekali tak berdaya menolaknya.

 

“Omo!” jerit seseorang membuat kami menghentikan ciuman. Kyuhyun menegakkan tubuh, pandangannya beralih pada dua sosok yang tak jauh dari kami. Hatiku mencelos bermeter-meter  setelah melihat siapa pemilik suara itu. Sial, kenapa harus mereka?

 

“Eomma,” Kyuhyun setengah berbisik lalu menoleh lagi padaku. Aku masih menegang melihat lelaki yang berdiri di sisi ibu Kyuhyun.

 

“Appa,” desisku tak percaya. Mati aku, kenapa Appa bisa kesini? Hash, sangat menyebalkan! Oh, tidak hanya menyebalkan saja, ini sangat memalukan.

 

 

***

 

 

 

“Kau tahu kenapa Tuhan menciptakan manusia dengan dua lengan? Salah satunya karena Dia ingin kita saling menguatkan dengan pelukan.”

 

 

 

 

 

 

Kyuhyun dan aku duduk canggung di ruang CEO Nowon High School. Ibu Kyuhyun, Cho Hanna menatap kami tanpa kedip, beliau bahkan enggan membuka suara. Sementara ayahku masih merunduk. Ia tak menatapku sama sekali.

 

“Baiklah,” ucap ayah pada akhirnya setelah ruangan ini begitu dingin melebihi daerah kutub. “Ada baiknya aku jujur ke kalian.”

 

“Aku tahu kemampuan Kyuhyun meng-hack dari Nyonya Cho,” Ayah melihat CEO Nowon dengan hangat, “tanpa kusangka, saat kau menghack ulang situsku, ada beberapa oknum yang memanfaatkan ini,” jelas Ayah pada kami, “Hah, aku bahkan membiarkan saat kau masuk rumah dinasku dan menyabotase CCTV. Kufikir itu caraku melindungimu. Sialnya, oknum itu tahu dan dia mengancamku.”

 

Aku semakin tak mengerti apa maksud Ayahku? Tapi, aku bisa menangkap kesimpulan dari yang beliau utarakan, bukan Ayahku yang mendalangi atas ditangkapnya Kyuhyun, tapi orang lain. Siapa?

 

“Istriku meminta aku untuk memperkarakan ini agar namaku dibersihkan. Tapi, yang kau lihat, aku sudah mencabut laporannya dan membiarkan kau bebas dan melepas titel tahananmu.”

 

Ayah berhenti, ia menyodorkan tablet PCnya pada Kyuhyun, Kyuhyun melihatnya dengan seksama. Ia membaca ulang kalimat yang pernah muncul di situs Ayah. Bait-baitnya masih sama dan IDnya sama. Patriotic movement.

 

“Begitu tahu aku sudah mencabut laporan itu, situsku kembali bermasalah malam ini. Paragraph provokatif itu memenuhi beranda situs bahkan beberapa situs pemerintah lainnya dan orang yang menamakan dirinya patriotic movement itu mengancam kabinetku, sekarang mentri-mentri Negara tengah resah dengan perilaku tak bertanggung jawab itu. Aku sudah mengerahkan badan Intelejen dan orang-orang IT, tapi belum membuahkan hasil.”

 

“Dugaanku beralih kepada kalian,” Ayah menatapku lalu melihat Kyuhyun dengan bergantian, “apa kalian berdua memiliki musuh?”

 

“Tidak.” Balas Kyuhyun dengan segera.

 

“Kau Rail?”

 

“Appa, kau tahu? Musuhku adalah istrimu dan kau sendiri.” Jelasku penuh keangkuhan, lelaki paruh baya itu mengulum senyumnya dan menatapku dengan lembut. Ada sorot terluka yang ia sembunyikan dari senyum palsunya itu. Aku tak ambil peduli dengannya.

 

“Baiklah, aku tak akan bertele-tele. Pergerakan patriotic itu memang mengancam Negara, tapi yang menyebabkan perilakunya seperti itu adalah kalian. Oh, baiklah, mari kita saling terbuka saja.” Kalimat Ayah membuatku dilanda kebingungan. “Aku berfikir, oknum ini memiliki kaitan dengan kalian berdua. Situsku dibajak tepat saat kalian berkencan.”

 

“APA?” Cho Hanna menatap penuh intimidasi pada Kyuhyun lalu saat melihatku ia hampir melengkungkan bibirnya membentuk senyum namun tertahan karena imejnya uang terhormat.

 

“Kyuhyun-ah, kau ingat saat aku menelponmu, bukan? Bahkan saat itu ada yang mengutit kencan kalian, benar?” lanjut Ayah mengabaikan kekagetan Hanna. Kyuhyun menoleh padaku, mencoba mencari kepastian dariku. Cih, kepastian macam apa? Aku juga tak tahu kenapa bisa serumit ini. Hanya kencan.

 

“Rail-nim, siapa lelaki yang pernah kau tolak, kau sakiti?” potong wanita paruh baya itu padaku, pandangan tajamnya membuatku bergidik. Aku diam, menggeleng pelan lalu menunduk.

 

“Kau Kyuhyun-ah?”

 

“Umma-nim, kau ingat kejadian 13 tahun lalu?” mata Kyuhyun berkilat, “saat aku tenggelam di danau es Auckland? Wanita itu—wanita yang….” Kyuhyun berhenti.

 

“Kyuhyun-ah, wanita itu gila. Dia sudah tertangkap dan mendiami rumah sakit Jiwa dan setelah aku cek, dia ada si ruang isolasi.” Ibu Kyuhyun berbagi pemikiran. Kyuhyun pernah tenggelam di danau es? Apa ini yang membuatnya trauma? Tadi saat aku mengerjainya, ia begitu mengkhawatirkanku bahkan dia sesenggukan di bahuku. Yah, walau itu hanya sebentar dan lirih. Tapi seorang Kyuhyun yang terlihat dingin bisa meneteskan airmata, bukankah itu kabar hebat? Jadi, hal yang menyebabkan Kyuhyun trauma hingga ia tadi menangis adalah karena dia pernah tenggelam di danau es? Eh, lebih tepatnya ditenggelamkan seseorang.

 

“Apa ini ulah istrimu? Ia yang melaporkan Kyuhyun ke polisi. Kulihat ia sangat bergairah, mengingat suamiku akan mencalonkan diri sebagai kandidat perdana mentri dua tahun mendatang?”

 

Ayah termangu, “Oh, ayolah… kita ini bersahabat baik. Mana mungkin istriku. Toh, kalaupun dia yang melaporkan Kyuhyun ke polisi, itu semata karena takut Kyuhyun yang memanfaatkan kesempatan. Dan sekarang, dia sudah mengerti dan menyetujui tindakanku untuk membatalkan laporan tersebut.”

 

“Lalu siapa?” desah Hanna tak kalah bingung. Aku hanya mendengus sebal hingga Kyuhyun menyenggol lenganku.

 

“Kyuhyun-ah, aku memintamu menjaga putriku selama disini.” ayah berhenti, pandangannya amat kebapakan dan melindungi. Tatapan itu membuat hatiku menghangat. Aneh, Ayah tak pernah seperti ini padaku atau aku saja yang tak peduli? Entahlah.

 

Kyuhyun mengangguk, ia tersenyum sumringah lalu melirikku dengan tatapan nakal, “Sajangnim, bisakah aku keluar sekarang? Aku ingin—”

 

“Keluarlah!” suruh Ibu Kyuhyun tegas, “tapi AWAS jika kau melakukan hal seperti tadi! Itu sangat tidak sopan!”

 

Kyuhyun berdiri, aku masih duduk. Mengabaikan isyarat Kyuhyun agar aku mengikutinya. Aku masih duduk kaku hingga pamuda itu memutuskan menarik pergelangan tanganku dan aku terpaksa mengikutinya. Kulirik Ayah yang melihatku.

 

“Ah, anak kita sudah dewasa…” sela Ibu Kyuhyun yang masih mampu kudengar sebelum aku menghilang di balik pintu. Aku berjalan dengan mengangkat gaunku lalu mengikuti langkah Kyuhyun. di undak-undak Green Building itu, Kyuhyun berhenti, ia mendongak dan memandang pada bulan.

 

“Siapa orang yang kaucurigai?” Kyuhyun masih tegap dengan pesona bulan, sepertinya, ia lebih terhipnotis pada kecantikan bulan ketimbang melihatku sebagai gadisnya. Oh, tunggu dulu, gadisnya? Cih, kenapa aku jadi seperti gadis dalam cerita roman picisan begini? Dia berangkat ke prom saja dengan Park In. omong-omong, Park In—apa dia yang melakukan ini?

 

“Kau tak curiga pada Park In?” usulku lalu maju selangkah agar sejajar dengan makhluk dingin itu. Kyuhyun hamper terbahak, ia menggeleng dengan cepat.

 

“Jangan kau gunakan cemburu sebagai alibi.”

 

“Yak! Ini bukan cemburu tapi intuisi wanita.” Dalihku lalu menyeringai puas. Ah, kalimatku sepertinya meyakinkan. Hebat kau, Rail.

 

“Dan yang kau sebut intuisi adalah perasaan cengeng dan tak masuk akal. Coba kau fikir, dia jurusan IPA, bahkan saat aku menantangnya main game, dia tak tahu cara bermain game dan memintaku mengajarinya, sangat merepotkan!”

 

“Nde? Apa katamu? Kau mengajarinya main game? Oh, sangat menyenangkan!” sindirku dan langsung mendapat jitakan darinya. Astaga! Berani sekali Kyuhyun menjitak keningku. Aku menyabet pergelangan tangannya dan membalasnya dengan menyentil keningnya. Bukannya kesakitan, tapi lelaki itu malah tertawa.

 

“Ada yang lucu?” Nadaku berubah garang seakan ingin melumat Kyuhyun menjadi bagian kecil-kecil, menyamai pertikel mungkin. Lihat saja, ia masih sangat memuakkan.

 

“Sudahlah, kau mirip algojo saja. Sekarang gunakan logika dan mulailah berfikir!”

 

“Aku malas berfikir. Semakin banyak berfikir maka semakin banyak yang kufikirkan. Jadi, aku memutuskan jika aku tidak perlu berfikir.” Ujarku santai lalu menuruni undak-undak di depan Green Building.

 

“Termasuk malas memikirkan hal yang membahayakanmu lalu kau membiarkan dirimu masuk perangkap. Aku heran, kenapa Tuhan memberimu otak jika kau tak mau berfikir?” Kyuhyun mencibir dan berhasil membangkitkan aroma permusuhan yang sudah kututup dengan pesonanya. Peduli apa dengan semua pesonanya jika dia mengolokku.

 

“Kau sedang membangkitkan macan tidur, Kyuhyun-ssi.”

 

“Tidak. Aku sedang mengusik keledai pemalas.”

 

Tanpa menunggu ba-bi-bu aku menubruk Kyuhyun dan berencana mencekiknya. Tapi niatku gagal saat Kyuhyun berhasil menangkis tanganku dan mengecup bibirku. Kyuhyun berlari.

 

“Satu-Kosong skor kita!”

 

Ya, Tuhan….

Belajar dari mana makhluk itu? Dia tiba-tiba bisa berubah dingin, hangat dan menyebalkan begini. Aku mengeluh seperti biasa dan Kyuhyun malah tergelak. Alih-alih menghampiriku dan menggandeng tanganku, pemuda itu malah berjalan makin menjauhiku. Membuatku gila dengan sikapnya yang aneh. Di langkahnya yang ke-tujuh ia berhenti, membalik tubuh dan menatapku tajam.

 

“Cantik, mau kuantar pulang ke asrama?”

 

 

 

 

 

 

 

 TBC

14 thoughts on “Deception A Masokis (Part 9)

  1. O..trnyata bkn appa Rail yg melaporkan Kyuhyun ke polisi.tapi tk menuntut kmungkinan itu hanya akal2lan appa Rail.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s