Deception A Masokis (Part 8)

DAM8

Title: Deception A Masokis 8

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Minho

Jonghyun CNBlue as Jonghyun

Author: Susan

FB: www.facebook.com/susan.a.hermawan

Twitt: @sa02011

 

Disclaimer: This FF is my own story. Cast belongs to God. Hehee.

 

 

 

 

            “Jatuh cinta itu terdiri dari kata jatuh dan cinta. Analoginya sederhana, seekor tupai terjatuh dari pohon, akan kesakitan. Namun saat aku jatuh dalam pelukmu, aku tak berniat mengerang. Bodohnya, aku malah bahagia.”

 

            “Rupanya, jatuh cinta itu  tak serumit yang kubayangkan. Cukup ada kamu maka aku bisa tahu kenapa begitu mudah aku mencintaimu.”

 

 

 

-= Deception A Masokis =-

 

 

“Prom? Like some mad. Is love an obsession?”

 

 

“Bagaimana? Kau mau Park In mengambil Kyuhyunmu dengan mudah, huh?”

“Oke… oke… aku setuju. Aku akan datang ke prom! Puas?!”

“Hihihii, beginilah Rail sahabatku!” Jihyun tertawa puas. Aku hanya menggeleng tak percaya bahwa aku sendiri yang menyatakan bahwa aku akan datang ke prom. Semoga saja, gaun itu bukan gaun kematian yang menjerat langkahku, atau highheel yang jadi panggilan ajal. Astaga, sepertinya aku akan mengorbankan kulitku dengan produk-produk memuakkan? Ash, aku mendesah frustasi.

Smartphoneku bergetar. Aku segera membuka SMS yang masuk.

“Jangan ke prom!”

 

Dari Kyuhyun dan ia melarangku datang? Maksudnya…? Aku mendesis  lalu membanting smartphone ke tas. Jihyun yang melihat gelagatku hanya diam. Ia melihat ke kantong belanja satunya.

“Ray-a, bagaimana dengan gaunku? Apa ini bagus?” ia menggaruk tengkuknya, “ini tak terlalu mewah kan?”

“Aku tak akan datang ke prom,” aku berhenti, melihat perubahan wajah Jihyun, “Itu bagus, aku yakin, kau akan terlihat anggun dan elegan,”

“Tunggu, kenapa kau tak berangkat?” Jihyun mendekat, ia sedikit cemberut.

“Ini!” kuacungkan smartphoneku agar Jihyun bisa membaca SMS dari Kyuhyun. ia membaca dengan seksama dan begitu selesai, gadis itu memincingkan keningnya. Kufikir, ia tengah memikirkan apa motif Kyuhyun melarangku datang ke prom.

“Apa kau tak curiga?”

“Eh?”

“Aku yakin ada yang disembunyikan Kyuhyun. apa kau tak penasaran?” Jihyun mempengaruhiku dan bodohnya, aku percaya dengan jalan pikirannya. Ada sesuatu yang disembunyikan Kyuhyun. Tapi apa?

“Oh, kau harus datang Rail!” provokasi Jihyun sukses menggerogoti pikiranku, aku mengangguk-angguk sepakat, membenarkan ucapannya. “Dan mencari tahu, kenapa Kyuhyun begitu. Bagaimana?”

Aku menimang-nimang usulan Jihyun lalu tersenyum, “kali ini, aku setuju! Tapi tidak dengan gaun itu!” lirikku pada gaun yang masih berserak di kotak. Jihyun mendengus sebal karena aku menolak gaun yang dibelikannya.

“Ya! Aku sudah memutari butik dan memilihkanmu gaun yang sesuai dengan seleramu tapi apa balasanmu, eoh? Kau anggap apa pengorbananku!”

Aku menelan ludah lalu tertawa mengamati ekspresi Jihyun, wajahnya memerah dan ia berkacak pinggang.

“Kau datang bulan ya?” kusenggol bahunya, ia masih cemberut.

“Ya! Tak masalah jika kau punya gaun pesta, tapi kau lihat isi lemarimu? Hanya jeans, kaos, dan jaket! Apa kau fikir itu pakaian normal untuk wanita?! Apalagi ini ke pesta, BODOH!”

“YA! Gadis tengik! Berhenti memanggilku bodoh!”

“Lalu bagaimana aku memanggilmu jika bukan BODOH?”

Jihyun menantangku, aku mempoutkan bibirku.

“Kau mau aku menanggung malu karena sahabatku datang ke prom menggunakan pakaian seperti itu?!”

Aku dibuat melongo dengan teriakan Jihyun, “aku akan menghubungi istri ayahku untuk mengirimiku gaun pesta! Dan aku menolak gaunmu bukan karena aku tak mau memakainya, tapi lihat baju itu terlalu besar untukku!”

Jihyun bergegas mengambil gaun putih tulang lalu mengepaskannya di tubuhku. Setelah sadar bahwa gaun itu terlalu besar untukku, ia tersenyum kecil, sedikit merasa bersalah.

“Ayo hubungi ibumu!” suruhnya. “Aku mau mandi dulu, usai mandi aku akan menyiapkan riasan kita, baru aku akan…” Jihyun mengedipkan matanya, menggodaku, “membuatmu beda dan Kyuhyun hanya akan menatapmu!”

Ada yang berdesir di hatiku saat mendengar Jihyun menuntaskan kalimatnya. Kyuhyun menatapku? Hanya menatapku? Bukankah itu pernyataan yang memabukkan? Astaga, belajar dari mana gadis tengil semacam dia? Aigo….

“Yayaya… pipimu memerah seperti tomat busuk! Ahahaa.”

“Ish, mandi sana! Kita tak punya banyak waktu!”

***

Aku berdecak kesal. Pantatku rasanya sudah gosong karena 40 menit hanya duduk dan membiarkan wajah dianiaya. Oh, dengan tak berperikemanusiaan tentunya! Tangan lincah itu tak segera enyah dari mukaku. ia menyentuh, memijat dan menyapukan polesan di beberapa bagian tertentu di wajah dan kulihat ia menghela napas, puas.

“Aku mengaplikasikan make-up dengan sentuhan natural dan kau bisa melihat wajahmu sekarang!” Jihyun membalikkan tubuhku di sebuah cermin. “Akhirnya, aku sukses memermak wajahmu. Bagaimana keterampilanku? Menakjubkan bukan?”

Aku melihat cermin, seorang gadis cantik tersenyum padaku. Jincha, Siapa gadis dibalik cermin itu? Kutelan ludahku kuat-kuat. Sulit dipercaya jika itu—aku. Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba terasa gatal. Benar-benar, memesona. Ah, yang benar, yang hebat itu kemampuan Jihyun.

“Ya, Jihyun-ah, kau belajar darimana?”

Jihyun menepuk dadanya lalu tertawa lebar, “sudah! Aku mau berdandan dulu. Oh ya, tadi saat kau mandi, orang suruhan ibumu mengantar beberapa pakaian. Pilihlah salah satu!”

Aku mengangguk. Jihyun berjalan ke kamar mandi. Kulihat beberapa pakaian yang tergantung di dinding kamar. Kulihat satu persatu pakaian yang dikirim “istri ayahku”, rupanya ia mengerti juga bagaimana seleraku. Oh, astaga! Baju itu bagus dan mewah semua! Membuatku bingung harus memilih yang mana. Eotte?

Aku mulai menghitung, mengapresiasi gaun-gaun itu dan pandanganku berhenti pada gaun berwarna salmon terang, senyumku mengembang. Kulepas handukku dan segera memakai gaun itu. Gaun yang menurutku sederhana namun menawan.

***

“Astaga Rail! Ini prom mewah yang pernah kujumpai! Omona! Omona….!” Berkali-kali Jihyun memekik takjub, sesekali ia berjinjit dan menyibak gaunnya yang panjang. Aku hanya menggeleng tak percaya. Ia sudah tampil anggun tapi berteriak seperti orang kurang waras.

“Pelajaran moral pertama, saat bertemu orang, tersenyum!” Jihyun langsung tersenyum saat ada beberapa orang berpapasan dengan kami. Aku hanya geli melihat tingkahnya.

“Eum, selama dua tahun lebih kita bersekolah disini, sekamar denganmu, aku sudah melewati prom sebanyak 10 prom. Ini prom kesebelas dan mungkin prom terakhir sebelum kita lulus. Ini prom yang menyenangkan karena akhirnya…” Jihyun berhenti, ia menatapku, ragu.

“Akhirnya apa?”

“Akhirnya kau menunjukkan bahwa kau wanita normal!” Jihyun terus melangkah dan tak melihatku yang mencibirnya. “Rail, kau ingat awal kita berbicara? Oh, baiklah. Sejak awal kita memang sekamar, tapi pertama kali kau melihatku, kau hanya diam, sikapmu sangat kurang bersahabat dan terkesan dingin.”

Aku masih mendengar ocehan Jihyun.

“Pertama kali kau menyapaku adalah saat aku menangis karena tertekan bersekolah disini, saat itu aku benar-benar rindu keluargaku. dan kau—kau ingat? Apa yang kau katakan padaku?” Jihyun hampir mendesis, “Ya! Gadis bodoh! Kau fikir airmata menyelesaikan masalahmu!” tirukan Jihyun dengan ekspresiku waktu itu. Aku terkikik karena melihat aktingnya yang gagal.

“Saat itu, kau langsung mengambil ponselku dan mencari nomer ibuku, kau menelpon ibuku dengan video call, membuatku bisa menumpahkan rinduku karena bisa melihat wajah Ummaku.” Jihyun berhenti, “Kuakui, kau orang yang hangat, namun kau susah mengekspresikannya sehingga terlihat dingin.”

“Rail, aku ingin selamanya kita bersahabat. Tak peduli kau nanti akan melanjutkan sekolah dimana, yang jelas, kau adalah sahabat terbaikku!”

Kuacungkan jari kelingkingkku. Jihyun berhenti lalu menatapku dengan hangat. Kuanggukan kepalaku meyakinkannya, “Yaksok!”

“Yaksok!” balas Jihyun saat kelingking kami bertaut sempurna.

Jihyun memandangku, “Aaaah, kau membuatku ingin menangis.” Keluhnya, “aku sudah capek-capek berdandan dan riasanku bisa rusak karena airmata.”

Aku hanya tersenyum dan melanjutkan langkah, “apa kau menyesal menangis karenaku?”

“Ya! Gadis aneh! Katakan sekali lagi lalu tanganku ini akan menamparmu!” ancamnya menirukan gaya bicaraku lagi. Aku memehrongkan lidahku lalu menertawakannya. Namun kekonyolan kami berhenti saat mataku menangkap dua bayangan mendekat ke arah kami. Aku berdiri kaku saat Kyuhyun melangkah seperti model di ujung jalan. Ia memakai tuksedo putih dengan kemeja renda, menampilkan sisi androgininya. Wajahnya tak lagi terkesan arogan tapi cute dan tetap menawan.

Aku hamper saja gila hanya melihat wajahnya jika tak kulihat sebuah tangan yang menggandengnya. Park In? Kyuhyun dan Park In. Gadis itu Nampak cantik dengan busananya yang mewah berwarna merah muda. Aku kaku menatap Kyuhyun, rasanya ototku mati dan persendianku lumpuh total. Apa ini alasan Kyuhyun melarangku datang ke prom? Apa yang ia lakukan sekarang, sangat sesuai dengan prediksiku sore tadi.

“Annyeong, Jihyun-ssi, Rail-ssi.” Park In berhenti, ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke lengan Kyuhyun, membuatnya terlihat dekat.

“Hai,” balasku mencoba tenang, aku tak menatap wajah Kyuhyun sama sekali.

“Mana pasangan kalian?” Tanya Park In memojokkan kami. Ia tersenyum mengejek hingga akhirnya ada suara yang amat dekat dengan kami. Minho sedikit berlari diikuti Changmin. Mereka berdua berdiri di sisi kami.

“Aku datang dengannya,” jelas Minho mengulurkan tangan dan segera disambut Jihyun dengan ceria.

“Dan aku? Tentu saja dengannya!” Changmin mengedipkan matanya. Aku hanya diam. Kaku.

“Oh, baiklah… mari masuk! Dan kita akan bersenang-senang!” usul Park In. ia menggandeng Kyuhyun agar berjalan. Diikuti Jihyun dan Minho. Aku masih menegang di tempatku berdiri.

“Hey! Ayo!” ajak Changmin.

“Changmin-ah,” kudekatkan wajahku, berbisik, “Apa kau ingat tawaranmu saat percobaan Fisika?” kuamati raut wajah Changmin, pemuda itu berkerut, ia tengah mengingat saat kami melakukan percobaan di laboratorium, “aku rasa, aku setuju dengan niatmu membuat bom nuklir sekolah. Kau tahu, aku sangat terobsesi untuk menghancurkan prom!”

“Terobsesi prom? Alasan yang tak masuk akal. Apa kau terobsesi dengan Kyuhyun? Ahahaa. Kau seharusnya bahagia karena aku menyelamatkanmu.”

“Aku tidak sedang kecelakaan!”

“Oh ya?” Changmin menarik pergelangan tanganku, menyuruhku berjalan, “Bukan tubuhmu tapi hatimu!” ia melepas genggamannya lalu melirik padaku.

Tepat sasaran! Yang sakit bukan fisikku tapi sakit yang menderaku adalah sesuatu yang sangat abstrak. Astaga, kenapa aku? Apa ini karena Kyuhyun? Aish, ternyata, jatuh cinta itu memusingkan.

“Nah, mari kita berakting sedikit!” bisik Changmin saat kami berjalan di red carpet, “bisakah kau memegang lenganku dan tersenyum di depan kamera?”

“TIDAK!”

Changmin menggaruk tengkuknya dan aku hanya menyejajarkan diri tanpa berniat menyentuhnya. Kami terus berjalan beriringan dan tak membuka percakapan bahkan hingga saat pembawa acara membuka pesta. Tak ada yang menarik.

Aku baru tersadar saat seseorang mengalunkan sebuah instrument. Sebuah instrument yang sangat khas dan membuatku ingin menangis. Ibuku—ibuku menyukainya, menggilai Moonlight Sonata. Ini prom kan? Bukan teater patah hati? Kenapa memutar intrumen sialan itu? Aku mengutuk-ngutuk pemain piano tersebut. Hash, tidak tahukan dia kalau aku begitu peka dengan nada-nada itu?

Aku terpekur dalam diam, menunduk kuat-kuat untuk menyembunyikan mataku yang sudah memerah. Jujur, aku merindukan ibuku. Malam ini, aku benar-benar kacau. Dimulai dari melihat Kyuhyun yang berjalan mesra dengan Park In dan sekarang, aku harus mendengar alunan nada instrumen yang dibuat composer ternama, Beethoven. Aku menggenggam kuat gaunku dan saat aku sadari sudah ada jari hangat menyentuh pipiku, menghapus airmataku. Sontak aku mendongak, melihat orang yang berani menyentuhku. Hampir saja aku memakinya karena telah kurang ajar, tapi makianku berhenti tatkala melihat wajahnya. Ia berambut saddle brown, tuksedo putihnya membuat mataku mengerjap begitu juga dengan wajahnya, sangat menyilaukan mata.

“Kenapa?”

Aku hanya menggeleng dan menghapus sisa airmata yang masih menggenang di pelupuk mataku. Kutoleh Changmin yang tadi berdiri di sampingku. Sialan, pemuda itu tak ada. Kuamati sekeliling, semua pasangan tengah berdansa.

“Mencari Changmin?” tanyanya dengan tenang, ia sedikit tersenyum, “sepertinya ia lebih nyaman bersebelahan dengan Park In ketimbang menemani putri salju.”

“Kenapa bukan kau?”

“Oh, jadi kau mengusirku? Baiklah.” Kyuhyun berbalik. aku menghela nafas lalu menggerutu sebal.

“Nappeun namja!”

“Apa kau memakiku?” pemuda itu menelengkan lehernya, menatap tajam ke arahku, membuatku tersedak. Ia membalik langkahnya, “jika aku menciummu di depan orang, barulah kau bisa memanggilku nakal.”

“Oh, sangat menakjubkan!” omelku, ia malah tertawa lalu merangkul bahuku.

“Singkirkan tanganmu!”

“Ah, baiklah. Maafkan aku.” Balas Kyuhyun, ia menurunkan tangannya dari bahuku. “Bagaimana jika kita mencari tempat leluasa. Ini terlalu berisik dan tak romantis.”

Tanpa menunggu persetujuanku, ia menautkan jemarinya dan mengajakku berjalan. Kuturuti kemauannya. Kyuhyun nampaknya amat senang melihatku tak membangkangnya.

“Omong-omong, siapa yang meremake wajahmu?” Kyuhyun bertanya dan aku hanya diam, malas menjawab. Apa maksudnya bertanya seperti itu? Mau mengolokku?

“Aku bertanya!” kesalnya.

“Dan aku malas menjawab.” Balasku santai, kami melangkah menjauhi tenda prom. Melewati red carpet dan kufikir, Kyuhyun kembali mengajakku menuju taman sekolah.

“Geurom, aku berterima kasih padamu.” Lanjut Kyuhyun, ia menyandar di jembatan kayu, jembatan yang membelah kolam ikan. “Terima kasih sudah menolak Changmin menyentuhmu.”

“Sangat tak masuk akal egomu.”

“Terserah kau mau bilang apa. Aku tak menyentuh Park In, dia yang menyentuhku.”

“Apa bedanya? Toh, sama-sama menyentuh.”

“Apa kau tengah mengatakan bahwa kau cemburu?”

“Kalimatku sudah terang, tak perlu diperjelas. Kecuali jika otakmu memang tak mampu menyamai kemampuan berpikirku.”

“Bagus, kau sekarang bisa memakiku bodoh, begitu?”

“Sangat menyebalkan, bukan?” sungutku lalu berjalan menjauhinya. Kyuhyun tak mengikuti. Ish, pemuda itu malah memandangi bulan separuh lalu diam-diam tersenyum. Aku menangkap kebahagian yang membuncah dari matanya. Ia menoleh ke sekeliling, mencari keberadaanku. Aku tersenyum melihatnya kebingungan karena tak menemukanku. Muncul niat iseng di otakku.

Kulempar batu yang seukuran setrika, batu itu jatuh ke kolam dan berdebur. Kyuhyun memincingkan matanya, takut. Ekspresinya ini membuatku setengah mati menahan tawa. Tanpa kuduga, Kyuhyun berlari ke kolam ikan yang tak terlalu tinggi, hanya sekitar 2 meter dan dibagian yang landai hanya sekitar 0,5 meter. Celana yang ia kenakan basah. Oh, bahkan namja itu tak melepas sepatunya. Cis, bisakah ia berfikir untuk melepas sepatunya. Sangat ceroboh!

“Rail! Neo eodiga?!” Kyuhyun berteriak seperti kesetanan. Ia memanggil namaku dan mengamati sekitar, berharap menemukan tubuhku. Ia mengulang panggilannya. Ash, aku merasa bersalah sekarang, bagaimana bisa aku bermain-main dengan orang yang benar-benar mengkhawatirkanku? Aku melepas highheel dan menceburkan tubuhku di kolam. membiarkan sebagian gaunku basah.

“Hei, aku disini…” ucapku lembut, aku juga heran bagaimana bisa suara lemah lembut itu keluar dari bibirku. Kyuhyun membalik tubuhnya dengan segera, matanya berkilat-kilat menatapku. Langkahnya berkecipak di celah-celah gelombang air.

“Kau—u”

“Mian—hh…”

Kyuhyun sudah merengkuh tubuhku. Ia memelukku dengan erat hingga aku kesulitan bernapas. Ia memelukku dengan cara yang aneh, tak seperti biasanya. Aku memincingkan mataku saat mendengar isakan lirihnya. Astaga! Kenapa dengan pemuda ini?

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

Thanks dah baca….

10 thoughts on “Deception A Masokis (Part 8)

  1. ih.. author jahat.. masak bikin penasaran terus.. lma2 mati penasaran para readersnya…
    well bagus .. lanjut y author yg terhormat leader nya mhon lanjut juga y . … hehehe😀
    kya nya coment ku ke banyakan deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s