Three Love Poem (Tiga Puisi Cinta)

 

3PuisiCinta

Title : Three Love Poem (Tiga Puisi Cinta)

Main Cast :

Park Junsu a.k.a Leeteuk Superjunior

Kim Heechul Superjunior

Henry Superjunior M

Kim Yuna

 

Author : Phia Elfsparkyu

Genre : Romance, Sad, and Comedy.

Length : One Shoot

 

Happy Reading

 

********************

“Aku berusaha Keras untuk mencari tau siapa diriku.
Berusaha Keras menyatukan kepingan-kepingan kenangan yang hilang dari ingatan ku.
Walaupun mereka berkata untuk melupakan semua.
Tapi tetap saja kau selalu muncul dan tersenyum dalam mimpiku”

Park Junso melepaskan lelahnya di sungai Han, melepas sepatu dan kaus kakinya dan merasakan dingin nya air menyentuh kakinya. Musim semi telah datang, tapi dia masih bisa merasakan dinginnya musim salju. Walaupun pandangannya dipenuhi bunga-bunga sakura yang bermekaran tapi matanya masih teriang dinginnya butiran salju. Entah apa yang dia pikirkan, tapi Park Junsoo merasa ada sesuatu yang tertinggal pada musim salju tahun lalu.

Suara tawa riang mewarnai sore di Sungai Han yang sekarang di penuhi pengunjung, Junsoo menoleh dan merasa dirinya menjadi terasing dengan semua orang, karena mereka memiliki yang dia tidak miliki yaitu sebuah “Kenangan”

Dan apa yang dia lakukan sekarang, melarikan diri dari rumah dan melakukan sesuatu yang tidak berguna, mencoret-coret tidak penting di note booknya. Mengernyit bingung dan berdecak kesal. Tapi dengan cara ini, park Junsoo bisa merasa tenang, pikirannya kacau dan dia harus meluapkannya.

“Hyung! Ternyata kau disini, syukurlah aku bisa menemukan hyung” Keluh seorang namja. Park Junsoo menoleh dan melihat Henry dongsaengnya tertunduk kecapean. Keliatan jelas dongsaengnya itu khawatir.

“Henry’ah kau disini? Bagaimana bisa kau menemukan hyung?” Tanya Junsoo Heran.

Henry mengatur nafasnya mendelik kesal pada hyungnya, melepas sepatu dan duduk di sampingnya. Menceburkan kakinya juga, tapi terpekik kaget karena air sungai yang terlalu dingin dan memilih duduk berjongkok memandang hyungnya yang tertawa lucu.

“Oh aku tidak bisa percaya hyung masih bisa tertawa disaat ini? Kabur dari rumah dan membuat eomma khawatir apa itu lucu buat hyung? Sepertinya eomma lebih mencintai hyung dari pada aku! Berikan aku uang” Henry keki dan menodong hyungnya itu.

“Mwo! Untuk apa?”

“Untuk biaya bus kesini! Apa hyung tau? aku baru pulang dari sekolah dan Eomma langsung mengusirku untuk mencarimu. Tidak di kasih makan dan uang jajan. Aishh..uri eomma benaran pilih kasih”

Park Junsoo tertawa kecil karena dia bisa mendengar perut keroncongan dongsaengnya itu terlebih lagi dia masih memakai baju seragam sekolahnya. Henry melihat Note book Leeteuk dan melihat coret-coret anak TK yang seperti baru belajar menulis. Henry melempar pandangan khawatir.

“Hyung-ie Gwenchana?”

Junsoo tersenyum hambar “Gwechana! Geundae, mimpi itu terus datang Henry’ah dan ini sudah berlangsung dua minggu. Walaupun hyung bersekeras untuk mengingatnya tapi hyung tidak bisa. Dan coba kau liat apa yang hyung lakukan? Mencoba me-reka arti mimpi itu! Hyungmu sudah gila” katain nya pada diri sendiri sembari merobek kertas dan menggumpalnya dengan kesal.

Henry keliatan khawatir, dia tahu tidur junsoo akhir-akhir ini dihantui oleh tulisan tangan yang tidak bisa dia kenali. Semua ini bermula dari kecelakaan yang dialami hyungnya di musim dingin lalu. Ketika pulang kerja, mobil menabrak Junsoo waktu dia menyeberang jalan, kepalanya terbentur keras dan membuatnya hilang ingatan. Henry tidak lupa hyungnya harus belajar mulai dari awal, karena kecelakaan itu Junsoo berubah seperti anak kecil yang baru mengenal dunia, lupa cara menulis, lupa cara membaca, lupa mengenali benda, dan paling menyedihkan lagi Junsoo lupa dengan Henry dan keluarganya.

“Aku yakin itu kenanganku di masa lalu!” Kata Junsoo penuh keyakinan.

“Tapi hyung, bukankah Heechul hyung bilang. Ingatan hyung sudah pulih, apa masa iya mimpi itu bagian dari kenangan yang hyung lupakan”

Junsoo menggeleng dia tampak keras kepala, Henry melihat ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menandakan kalo hyungnya itu sudah tidak tidur selama berhari-hari.

“Anyi! Hyung yakin ini kenangan hyung lupakan!!”

Henry menepuk bahu Junsoo.

“Arraso, aku mengerti hyung! Jangan terlalu memaksakan diri. Aku yakin ingatan hyung pasti akan kembali” Dia menarik tangan Junsoo “Kajja hyung kita pulang, eomma akan membunuhku kalau tidak membawa hyung pulang sebelum jam 6”

Junsoo tertawa kecil dan menuruti tarikan tangannya. Tapi tetap saja Junsoo tidak bisa menyingkirkan tulisan tangan itu dalam otaknya. Bahkan waktu di bus dalam perjalanan pulang. Pikirannya masih di penuhi mimpi-mimpi itu.

Junsoo mengerling bangku sebelah dan melihat Henry terlelap, kepalanya terkulai di kaca jendela bus. Junsoo membenarkan tidurnya dan menyandarkan kepala Henry ke bahunya.

Junsoo merasa bersalah, karena dia sempat tidak mengingat Henry, adiknya itu menangis berhari-hari memohon padanya agar junsoo bisa mengingatnya. Kenapa aku selalu membuat orang yang kusayangi khawatir? Batinnya pilu.

Bus tiba-tiba berhenti, Junsoo menegok keluar jendela dan mereka berhenti tepat di halte bus yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Penumpang bergegas turun, Junsoo mengerling Henry yang masih terlelap, tak ingin membangun dongsaengnya itu dia berusaha menggendongnya.

“Aigoo, Henry’ah beratmu berapa seh?” gerutu Junsoo kakinya ingin menolak menggendong Henry. Dia sempoyongan dan menjaga langkahnya waktu berusaha turun dari bus. Sialnya dia kesandung kaki penumpang dan membuat kehilangan keseimbangan.

“Ommo, ya Tuhan. Kangsahamnida!!” Junsoo kaget ada seorang Yeoja menariknya sebelum dia terjatuh. Yeoja berambut panjang dan berkacamata. Kulitnya terlihat pucat di bawah sinar lampu jalanan.

“Hati-hati” kata Yeoja itu. Dia bahkan tidak mengangkat kepalanya.

“Ne, jeomal Kangsahamnida! Kalo saja nona tidak menolong mungkin aku dan adik sudah terjatuh tadi. Geundae, apa kita pernah bertemu? Wajahmu sama sekali tidak asing” Junsoo merasa pernah mengenal yeoja ini sebelumnya, tapi dimana? dia tidak ingat. Tangan Junsoo refleks berusaha menyingkap rambut panjang Yeoja itu yang terurai kedepan, tapi yeoja itu menyentakkan tangannya.

“Aku harus pergi, hati-hati di jalan!”

“Geundae!! Hajiman, nona apa aku boleh tau siapa namamu? AGASHI!!” panggil Junsoo tapi yeoja itu bergegas meninggalkannya, dan kemudian menghilang di balik kerumuman orang.

*********************

Tidak tidur selama beberapa hari membuat Junsoo frustasi, dia merindukan tidur lelap tanpa mimpi sama sekali. Untuk itu lah dia pergi kerumah sakit menemui sahabat karibnya Kim Heechul yang bekerja sebagai Uisa. Di koridor panjang sepi, Heechul bersandar di tembok ia tampak keren dengan seragam putih dan dengan segelas Caffucino di tangannya. Junsoo ingin sekali meminum Caffucino tapi tidak bisa dia lakukan karena itu akan membuatnya terjaga semalaman.

“Mwoya? Park Junsoo ini sudah kedua kalinya kau meminta obat tidur padaku! Ini bisa membuatmu ketergantungan. Kau tau itu, karena kau juga seorang Uisa kan?” Gerutu Kim Heechul yang menolak untuk memberikannya obat tidur.

Junsoo menepuk bahu sahabatnya itu.

“Hanboman, hanya satu kali ini saja! Yaa, kim Heechul apa kau beneran tidak mau menolongku. Lagipula aku bukan Uisa lagi? Aku sekarang sama sekali tidak berkompeten menjadi Uisa”

Heechul mendelik “Jadi kau mau berhenti jadi Uisa? Junsoo, dengarkan aku! Kau pasti bisa menjadi Uisa hebat seperti dulu, Rumah sakit ini membutuhkanmu dan aku yakin kamu bisa melakukannya!!”

“Sudahlah, aku bahkan tidak ingat apapun tentang dunia kedokteran. Hahaha bahkan aku baru bisa menulis dan membaca. Apa yang kau harapkan dari ku? Ayo kita hentikan ini, dan berikan aku obat Uisanim” bujuk Leeteuk.

Heechul mendengus, tapi dia tidak tega melihat Junsoo yang terlihat pucat dan terlebih lagi matanya keliatan bengkak karena tidak bisa tidur. Heechul membuang Caffucinonya ke tempat sampah, dia jadi tidak berselera untuk meminumnya.

“Arraso! Tapi ini untuk terakhir kalinya, setelah itu aku tidak akan memberikanmu apapun”

“Jinjja? Jeomal Gumawo Heechul’ah”

Junsoo mengikuti langkah Heechul menyelusuri koridor panjang. Dia bisa melihat pasien-pasien yang lalu lalang, dengan rambut rontok dan berkursi roda. Junsoo kadang tidak tau, bagaimana dia bisa menjadi Uisa penyakit Kanker otak. Sesuatu yang hal yang luarbiasa kalau di bandingkan dengan dirinya yang sekarang? Dia merasa jadi posisi seorang pasien dengan kasus kelainan otak.

“Junsoo, kau mengaku saja! Apa kau memaksakan diri untuk mengingat masa lalu?” Terka Heechul sembari mendelik mengerikan “Ya kan? Karena itulah kenapa kau tidak bisa tidur, karena kau ingin ingat kembali! Bukannya aku sudah bilang, ingatanmu perlu waktu untuk kembali!! Kenapa kau jadi pasien tidak menurut sama sekali”

Sepanjang jalan Heechul terus mengomelinya, Junsoo tidak punya pilihan selain diam karena kalau dia membela diri, dia yakin Heechul tidak akan memberi obat tidur. Yang bisa dia lakukan untuk meredam emosi Heechul adalah dia mengangguk dan mengatakan “Ne, aku mengerti” dan berjanji untuk dia ulangi lagi.

“Mulutmu itu mulut buaya! Kau tidak pernah menepati janjimu itu” Sembur Heechul tepat.

“Hahaha, Aigo Heechul’ah. Ini yang terakhir dan aku berjanji tidak memaksakan diri untuk mengingat kembali. Semua perintahmu akan hamba turuti yang mulia” ejek Junsoo membuat Heechul mencibirnya.

“Racun, lidahmu itu penuh racun. Ayo cepatan! Setelah ini aku ada meeting, gara-garamu juga pekerjaan ku semakin bertambah. Aish, aku bahkan tidak punya waktu untuk berkencan sekarang”

Park Junsoo tertawa kecil, dia mengikuti Heechul dari belakang melihat punggung sahabatnya yang sudah bersama dengannya puluhan tahun. Namun tiba-tiba langkah Junsoo melambat, dia merasakan ada yang aneh, dia merasa kakinya tidak berpijak lagi. Semula cahaya yang dia lihat dari jendela terbuka tiba-tiba meredup dan menjadi gelap……

Seribu bahasa tak bisa kuungkap
Ketika kumelihat bidadari di mataku
Seperti sebuah bisikan
Menghantui dalam pikiranku

Heechul menampar keras pipi Junsoo hingga dia terbangun,dia mengerling kerumunan orang yang menunduk cemas kearahnya dan membentuk lingkaran, mereka Saling berbisik dan bertanya. Junsoo merasakan kepalanya berdenyut sakit karena menghantam lantai rumah sakit.

”Ya, Junsoo’ah. Gwenchana?” Khawatir Heechul membantunya berdiri.

”Heechul’ah. Aku ingat!! Itu sebuah puisi, puisi cinta” Beritahu Junsoo tersenggal dan mencengkram lengan Heechul waktu dia sempoyongan.

**********************

Jari jemari Junsoo menyasar di setiap buku berdebu di perpustakaan keluarganya di lantai dua. Tempat ini jarang dikunjungi, karena tempat ini adalah kesukaan Almarhum Appa. Eomma bahkan tidak mau kesini lagi, karena itu akan mengingat Eomma pada Appa. Tapi Junsoo tidak punya pilihan lain, demi memecahkan rasa penasarannya tentang puisi itu dia berkubang di tempat pengap dan berdebu. Junsoo terbatuk-batuk waktu debu menjadi semakin tebal, membuat Henry yang melihat itu menarik tangan Junsoo dan membawanya menjauh dari tempat yang bisa bikin asma Junsoo kambuh.

”Hyung, apa hyung yakin mencarinya disini? Anyi, dengan ratusan buku di dalam situ. Apa hyung yakin bisa menemukan puisi yang konon katanya Cuma ada dalam mimpi hyung saja” sindir Henry kesal.

Junsoo terduduk lesu di tangga dan menghirup udara banyak-banyak.

”Entahlah, hyung tidak tau”

Dia memeluk lututnya dan menelungkup, usahanya untuk meneliti setiap buku di perpustakaan ayahnya berbuah nihil nyatanya tidak ada satu pun yang memuat puisi yang dia impikan. Henry sebenarnya gelisah berat, karena dia pertama kalinya menginjakkan kakinya di perpustakaan ayahnya itu. Ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu dan untuk Henry masih sulit untuk melepaskan kepergiaan Ayahnya.

”Hyung, Waeguerae? Kenapa kau jadi seperti ini! Hyung-ie tidak kah sudah merasa cukup membuat eomma dan aku khawatir? Kumane, hentikan ini semua. Hyung, harus belajar merelannya dan memulai semua dari awal” kata Henry tapi Junsoo tidak menyahut membuat Henry semakin kesal.

”Hyung, kalau masih bersikap seperti ini, aku bisa gila. Hyung, sekarang aku hanya mempunyai Hyung dan eomma, jebal!! Sudah hentikan saja, jangan memaksakan diri untuk mengingat”

Tapi Park Junsoo lagi-lagi tidak menghirau kan perkataannya, sepertinya terlalu asyik dengan pikirannya. Berdiam lama, kemudian Junsoo mendongak dan memukul keningnya keras membuat Henry keheranan.

”Aigo! Henry’ah aku ingat sekarang, pantasan saja hyung tidak menemukannya di buku mana pun soalnya itu tulisan Hyung. Aku yang membuatnya, aku sendiri yang menulis puisi itu” Pekik dia.

Wajah Henry keliatan jengkel, setelah pencarian tiga jam di perpustakaan Appa, kenapa baru sekarang hyungnya menyadari kalau itu tulisan tangannya sendiri, Kesal Henry turun dan meninggalkan Junsoo yang masih berjingkrak kegirangan.

**************

Menjadi seorang pengangguran itu sangat menyedihkan, mantan seorang Uisa di rumah sakit terkenal, sekarang duduk di pinggir sungai Hangang membaca buku kedokteran yang sama sekali tidak dia mengerti. Heechul mengirim semua buku-buku kerumahnya kemaren, dia beneran tidak main-main membuat menjadi Uisa lagi.

”Aigoo, kepalaku jadi sakit” Junsoo melempar buku itu ke samping dan rebahan. Pagi itu cerah, pengunjung jarang ada dan Junsoo menyukai hal itu karena dia sangat menyukai sepi. Helaian daun sakura yang berjatuhan dan hembusan angin musim semi menjadi sebuah penghiburan untukknya yang lagi suntuk.

Namun Ketenangan park Junsoo terusik ketika seorang yeoja berdiri di depannya. Junsoo mengenalnya, dia adalah yeoja yang pernah menolongnya di halte bus beberapa hari yang lalu. Junsoo mengerlingnya bingung karena yeoja itu hanya menatapnya saja, tanpa bicara sepatah katapun.

”Agashi, apa ada ingin kau bicarakan?” tanya Junsoo risih di tatap seperti itu.

”Kau beneran tidak tau siapa aku? Benar, kau sudah melupakanku?” tanya Yeoja itu tanpa terduga.

”Mwo? Maksudmu, apa kita pernah saling kenal sebelumnya?” tanya Junsoo balik.

Yeoja berkacamata itu sepertinya ingin menangis, dia menghela nafas berusaha menyembunyikan buliran airmata yang jatuh di pipinya. Junsoo tidak tau harus bersikap seperti apa? Dengan kemunculan yeoja ini tiba-tiba dan menangis apa perlu dia memeluknya, sedangkan dia tidak tau siapa yeoja ini sebenarnya.

”Jangan hilang aku Junsoo’ah! Jebal jangan lupakan aku” Pinta yeoja itu, kemudian dia bergegas pergi tanpa memberikan penjelasan, dia bahkan tidak memberi kesemapat untuk Park Junsoo bertanya.

*************************

Park Junsoo memandang lurus ke meja kasir, tempat yeoja berkacamata bekerja part time di sebuah Cafe yang terletak di seberang rumah sakit dia bekerja. Beberapa hari yang lalu Junsoo sengaja mengikuti yeoja itu waktu mereka berpapasan di bus kota. Yeoja itu tidak menghiraukan Junsoo benar-benar kebalikan dengan terjadi di sungai Hangang dulu.

”Ya, Junsoo! Kau tidak mendengarkan apa yang ku katakan!!” kesal Heechul. Junsoo memintanya untuk datang ke Cafe karena dia tidak mengerti dengan buku yang di baca, tapi hampir puluhan menit Heechul menjelaskan Junsoo sama sekali tidak menyimak.

”Heechul’ah. Yeoja itu, yeoja yang menjaga di kasir. Apa aku pernah mengenalnya sebelumnya” tanya Junsoo melenceng dari isi buku yang mereka bahas. Heechul menghela nafas dan mengikuti pandangan Junsoo.

”Anyi aku tidak mengenalnya, yang aku tau dia sudah lama berkerja di Cafe ini dan soal apa aku tau atau tidak kau mengenalnya. Mollayo!! Aku tidak tau sama sekali, sudah! Sekarang kita bahas buku ini, seriuslah sedikit Junso’ah” Kesal Heechul

Merasa tidak dihiraukan, Junsoo memilih meminum Cafucinnonya. Sesuatu yang hebat karena dia masih kesulitan untuk tidur nyenyak tapi ini satu-satunya cara agar dia terjaga untuk mengawasi yeoja itu. Namun tiba-tiba cangkir nya lepas dari pegangan Junsoo dan jatuh pecah kelantai. Lalu kenangan masa lalu datang ….

Bisakah kamu jawab aku sekarang?
Sebelum datangnya pagi
Aku tidak tahu kapan aku pulang
Terbangun dingin,tubuh telah mati

Park Junsoo meletakkan kertas putih di atas meja dan melempar senyuman kearah seorang Yeoja. Junsoo kesulitan mengenali wajahnya, sebelum dia bisa mengetahui siapa yeoja itu junsoo terbangun.

”Ya Park Junso!!” Teriak Heechul memekakan telinga.

Junsoo membuka mata, dia terjatuh dari kursinya. Heechul membantunya berdiri dan mendudukkan di kursi dengan hati-hati. Dia keliatan khawatir.

”Gwenchana? Ayo kita kerumah sakit! Ini sudah dua kali kau pingsan, Kajja kita melakukan pemeriksaan” desak Heechul mengambil Handphonenya berusaha memesan tempat di rumah sakit tapi Park Junsoo menarik tangannya.

”Heechul’ah, aku ingat! Puisi yang Kedua, aku mengingatnya”

****************

Kenangan puisi dan seorang yeoja benar-benar menghabiskan seluruh waktu Junsoo termasuk waktu Henry dan Heechul, Kedua namja itu tidak melepaskannya untuk berpergiaan seorang diri lagi. Junsoo merasa dia seperti anak kecil yang berumur 4 tahun.

Tidak heran mereka mengawasinya seperti itu karena Junsoo menjadi tidak konsentrasi dengan apa yang dia lakukan. Dia hampir saja membakar rumah waktu berusaha memasak mie ramen kemaren. Memutuskan untuk tidak membuat kekacauan lagi, Junsoo memilih mengurung diri dalam kamar. Tapi itu sebelum Henry dan Heechul datang dan menghambur masuk ke dalam kamarnya.

”Hyung, ini hari minggu. Daripada hyung mengurung di kamar, bagaimana kalau ke Cafe. Heechul hyung sudah mengundang rekan kerja mu di rumah sakit” Ajak Henry, sedangkan Junsoo menatap Heechul bingung.

”Kita belum merayakan kesembuhanmu kan? Aku sengaja mengundang mereka semua untuk berkumpul. Kalau saja dengan bertemu dengan mereka ingatanmu akan pulih”

Sebenarnya Junsoo enggan untuk keluar rumah, lagipula dia sangat malu untuk bertemu dengan rekan-rekan kerjanya terutama kalau mereka menyadari kalau dia bukanlah Uisa hebat seperti dulu. Tapi karena kalah jumlah, akhirnya Junsoo menurut dan mengikuti Henry dan Heechul.

”Aigo!! Lebih cepat sedikit Junsoo! Kenapa kau tidak semangat seperti itu” Tegur Heechul menegok kebelakang melihat Junsoo yang berjalan lambat.

Mobil-mobil berhenti dan melambatkan lajunya ketika ketika menyeberang jalan. Park Junsoo berjalan paling belakangan, dia melihat Heechul dan Henry melangkah dengan riang. Dia sama sekali tidak mempunyai tenaga lagi untuk menyaingi langkah mereka. Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi. Sekelebat masa lalu datang menghampiri…

Park Junsoo berlari cepat, mengerling jam tangannya dia mengejar waktu dia bahkan tidak menyempatkan diri berganti pakaian Uisanya. Tapi biar saja, dia merasa senang karena akan bertemu dengan Yeoja yang dia cintai. Tersenyum lebar membaca berulang kali puisi yang baru saja dia buat di lembar kertas putih yang bersih. Tapi kemudian mobil dari arah lain datang dan menghamtamnya..

Kertas putih berubah menjadi merah, terpercik darah, dan dia bisa melihat seorang yeoja yang berlari kearahnya, menangis dan memeluknya. Harum bunga rambutnya yang terurai tidak bisa dia lupakan…

Park Junsoo bangun mendadak di Sofa Cafe dikerumuni rekan kerjanya yang menatap khawatir, Henry duduk di sampingnya lebih terlihat pucat.

”Hyung pingsan lagi! Gwenchana? Ayo kita lakukan pemeriksaan” seru dia membantu Junsoo duduk. Tapi Junsoo tidak memperdulikan perkataannya dan juga bentakkan Heechul. Dia malah berdiri, menyeruak kerumunan dan berjalan kearah meja kasir. Ketempat Yeoja berkacamata.

Yeoja itu diam terpaku waktu Junsoo berdiri di depan dan menatapnya.

Heechul dan Henry bertukarpandangan bingung, begitu pula dengan rekan kerja Junsoo, mereka semua tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Junsoo tau yang harus dia lakukan, dia mengambil kertas putih di samping komputer dan menuliskan sesuatu, Puisi ketiga yang terlambat untuk dia sampaikan.

Kuingin tempati hatimu
Dari awal tarikan nafas hingga terakhir
Karena tiada yang kuinginkan dalam hidup
Selain bersamamu meniti takdir

Park Junsoo memberikan kertas itu kepada Yeoja berkacamata yang mengambil dan membacanya dengan tangan bergetar, airmatanya jatuh perlahan di pipinya..

”Kim Yuna, mianhae aku terlambat menyerahkannya padamu” kata Junsoo tersenyum.

Kim yuna menatapnya dia tidak bisa lagi membunyikan isak yang keluar dari matanya. Akhirnya Park Junsoo mengingatnya, berbulan-bulan dia menunggu, dan akhirnya Junsoo memanggil namanya juga.

”Untung kau ingat hari ini! Terlambat satu hari saja, aku tidak akan memaafkan mu” kata Yuna segukkan, sakit yang selama ini menusuk hatinya tiba-tiba lenyap ketika Junsoo menarik tangannya dan mencium lembut bibirnya.

Tamat

Gumawo sudah meluang waktu untuk membaca FFku ^^. RCL sangat di butuhkan. Kangsahamnida. *bow

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s