Deception A Masokis (Part 7)

 

DAM7

Title: Deception A Masokis 7

Genre: Politic, Friendship, Romance, Action, School live

Rate: 15th

Cast:

Kyuhyun SJ as Kyuhyun

Kang Rail OC

Changmin DBSK as Shim Changmin

Minhoo Shinee as Minho

Jonghyun CNBlue as Jonghyun

Author: Susan

FB: www.facebook.com/susan.a.hermawan

Twitt: @sa02011

 

 

 

Guys, happy reading ^_^ daaaan, maaf lama. Hihhii.  Soalnya, banyak trouble. :v     Konfliknya kalem aja ya?😀

 

 

 

 

 

 

“Cinta adalah suatu kondisi dimana kebahagiaan orang lain menjadi penting bagi kebahagianmu dan kesulitannya menjadi tantangan yang menuntutmu untuk membantunya.”

 

 

 

 

 

-= Deception A Masokis=-

 

 

 

 

Di ruangan Kyu-line itu kami terdiam, membiarkan mata kami menjelajah taman sekolah yang terlihat lewat kaca tranparan bangunan. Aku masih menyandarkan kepalaku di bahu Kyuhyun, menikmati kebersamaan kami dalam diam.

“Mau menikmati sabtu sore denganku?”

 

“Um…m?”

 

“Mari berkencan,” jelas Kyuhyun, “lagi.” lanjutnya seraya mengerling padaku. Kerlingannya ini membuatku melongo, sepertinya kesempurnaan otakku menguar melihat kedipan matanya disertai senyum malaikatnya itu. Kyuhyun, kapan kau berhenti memesonaku?

 

“Kau melakukannya lagi…” keluhku memukul lengan kokohnya. Kyuhyun mengerutkan keningnya, sangsi dengan pernyataanku.

 

“Aku? Melakukan apa?”

 

“Ah, lupakan!” kutinggikan gengsiku, tak mungkin aku mengatakan bahwa ia memesonaku lagi. aish, hancur harga diriku jika mengumbar kata yang menggelikan seperti itu.

 

“Oh… bagaimana?”

 

“Apa?”

 

“Jalan-jalan ke taman sekolah,”

 

“Baiklah…”

 

Kyuhyun berdiri, ia mengulurkan tangan kanannya dan kusambut dengan tangan kiriku. Setelah tangan kami bertaut, ia meremasnya lalu menggenggam jemariku penuh kehangatan. Kami berjalan beriringan dan tampak seperti pasangan baru. Ada yang bergetar indah di hatiku. Lebih indah dari sekedar cahaya rembulan, bunga-bungaan atau bangunan megah artistik, akan sangat indah saat aku melampaui waktu dengan Kyuhyun. apa begini jatuh cinta? Jika benar, maka aku tak menyesal mengalaminya.

 

Kyuhyun berhenti pada rombongan sahabatnya, ia hanya tersenyum. Membiarkan gigi gerahamnya terlihat. Ketiga sahabatnya hanya terheran-heran, mereka menatapku, mencari jawaban. Sayangnya, nihil. Aku hanya mengendikkan bahuku untuk menyatakan ketidaktahuanku.

 

“Aku pergi dulu.” Ucap Kyuhyun dengan tenang, pemuda itu menarik tanganku agar aku kembali mengikuti langkahnya.

 

“Rail!”

 

Kutoleh, Changmin mengangkat tangannya ke udara, diikuti Jonghyun dan Minho.

 

“Mianhae!” lengkingnya dengan nada empat oktaf yang berhasil membuatku meringis lalu mengangguk. Aku mengerti kenapa Changmin bisa sekasar tadi padaku—menamparku. Melihat gelagatku, Kyuhyun hanya menoleh lalu tersenyum lagi. Aneh. Kyuhyun sekarang jarang berbicara, ia banyak senyum dengan tarikan bibir yang khas. Kalau tidak simetris tiap sudut bibirnya, ia akan menampilkan senyum 160 derajatnya yang memesona.

 

“Kau lihat mereka sangat tak masuk akal!” keluh Kyuhyun padaku, mencela perilaku teman se-genknya. Aku miris mendengarnya. Kami melewati pintu keluar Sapphire Line Building kemudian menyusuri jalan menuju taman.

 

“Setahuku, kau yang irrasional.”

 

“Oh ya?”

 

“Hanya itu balasanmu?” ujarku menatapnya dengan pandangan tak percaya. Tumben sekali ia tak mencari kata untuk membalik ucapanku. Kyuhyun kembali tersenyum simetris. Kami berjalan melewati sebuah lorong yang sedikit gelap sebelum memasuki area taman sekolah.

 

“Kau menanyakan kenapa aku tak mendebatmu?” Kyuhyun berhenti, ia menghimpit tubuhku di dinding lorong. Punggungku terasa dingin karena menyentuh tembok. Ia menyeringai lalu meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuhku.

 

“Aku menyetujui pendapatmu bahwa aku tak irrasional,” bisik Kyuhyun membiarkan udara hangat dari mulutnya menyetrum kulitku, membuat napas segarnya tercium oleh indraku. Aku gemetaran.

 

“Bagiku, cinta itu kekanakkan dan tak masuk akal.” Kyuhyun melepas himpitannya lalu berjalan lagi. Kuelus dadaku, berharap jantungku kembali normal. Ada kalanya aku merasa nyaman saat ada di pelukannya dan ada kanya aku merasa lututku lemas saat dengannya, seperti kali ini. Tubuhku benar-benar tak bisa diajak kompromi jika dihadapkan dengan Kyuhyun. Sebuah kenyataan yang tak kutentang dan aku tak mengerti kenapa aku bisa sepayah ini.

 

“Ra-ya…” Kyuhyun berhenti, aku bergegas menyusul lalu menyejajarkan diri dengannya, “jika kau ingin berfikir normal, jangan biarkan dirimu jatuh cinta.” Nasehatnya saat sinar matahari menyorot kami lagi. lorong itu hanya sepanjang 10 meter, kunikmati cahaya matahari yang menerpa kulitku, membiarkan dadaku berkontraksi sebelum kudebat ucapan Kyuhyun.

 

“Kau berbicara seperti itu seolah kau tak pernah jatuh cinta.”

 

Kyuhyun berhenti di depan kolam ikan yang berair jenih, mata onixnya mengamati bayanganku yang terpantul dari air kolam tersebut.

 

“Aku memang tak pernah jatuh cinta tapi sedang…” Ia menoleh padaku, kini mata elangnya mengincarku, melihatku seakan aku adalah target, “sedang jatuh cinta.”

 

“Padaku?” godaku.

 

Pemuda itu hanya mencibir, “Tentu saja bukan!” ia duduk di tepi kolam. aku kaget dengan jawabannya. Aish! Memalukan kau, Rail! Jadi Kyuhyun—

 

“Aku sedang jatuh cinta pada gadis yang ada disana!” tunjuk Kyuhyun pada bayangan kolam, kutarik bibirku, membiarkan kebahagiaan membuncah memenuhi otakku dan membiarkan Kyuhyun menjajah perasaanku dengan kata yang membuat diriku mengalami keganjilan, yaitu ‘jatuh cinta.’

 

“Tsk, berhenti memperdayaku dengan kalimatmu yang tak romantis!” potongku mencoba menutupi rasa grogi yang menjalar makin kuat ke suluruh tubuh, rasa nervous itu membuat tangan dan kakiku bergetar. Berikut juga jantungku yang bereaksi berlebihan.

 

Tangan Kyuhyun mendarat di bahuku, mendekapku hangat dan memberiku isyarat agar merebahkan kepalaku di bahunya. Lelaki ini sepertinya ingin membagi energi denganku. Kutahan kepalaku agar tak rebah.

 

“Kyu…”

 

“Umm?”

 

“Kau berhasil. Selamat!” pujiku karena Kyuhyun sukses mengisi sebagian hatiku. Membuatku berada pada rasa kekanakan yang manja dan hangat.

 

Kyuhyun menggeser duduknya, ia mendekapku lebih erat agar aku meringkuk di dada bidangnya. Tapi aku masih bersikeras tegak, “Atas apa?”

 

“Menyentuh hatiku, aku memercayakannya padamu.”

 

Kyuhyun diam saja saat kusandarkan kepalaku di dadanya. Ada yang menempel hangat di ubun-ubunku—bibirnya? Aku kembali tersenyum. Kuakui, dari sikapku yang kaku, di kolam ini, pertama kali hatiku yang yang dingin menjadi lilih dan mengisinya dengan sesuatu yang lebih berwarna. Kyu, terima kasih. Kau membuat hidupku lebih berharga.

 

“Kyuhyun!”

 

Sentak aku menarik kepalaku, kami berdua duduk tegang saat mendengar suara yang datang dari sudut utara taman. Park In mendatangi kami sembari membawa kotak berwarna putih. Ia berjalan dengan tergesa-gesa dan begitu sampai di depan kami, ia mengumbar senyum cerianya.

 

“Hei, kau sudah siap untuk malam nanti?”

 

“Aku permisi,” ijinku tapi Kyuhyun menahan langkahku dengan memegangi pergelangan tanganku, membuat ku berdiri kaku. Jujur, aku tak nyaman dengan cara pandang Park In padaku.

 

“Eommamu mengirimiku ini, sebuah dres merah muda yang cantik. Ah, kau tahu bahkan CEO Nowon High School tahu pesta dansa dan temanya.” Park In melirikku, ia membuka kotak putihnya dan memamerkan gaun dengan payet bunga melingkari bagian dada, “Ibumu senang sekali saat tahu bahwa kau akan datang ke prom sekolah denganku. Jangan lupa, jemput aku di asrama dan kita akan melewati red carpet serta mendapat sorakan paling meriah di pesta.”

 

Park In permisi padaku dan melambaikan tangan pada Kyuhyun. genggaman Kyuhyun menguat, menyuruhku untuk kembali duduk. Pada akhirnya, aku menurunkan egoku dan kembali duduk kaku di sisi Kyuhyun.

 

“Berhentilah berprasangka!”

 

“Dan membiarkanmu melewati sabtu malam dengan Park In?” lanjutku dengan nada dingin, Kyuhyun mendesah.

 

“Bukankah kau sudah memercayakan hatimu padaku?” tanyanya retoris. Cih, pandai sekali dia berdalih.

 

“Aku—”

 

Kulihat, Kyuhyun menungguku melanjutkan kalimat.

 

“Ah, entahlah! Terserah kau saja!” balasku lalu berdiri dan sedikit berlari kutinggalkan Kyuhyun. Aku menuju asrama, tak mau ada di dekat Kyuhyun. rasanya sangat tak nyaman membayangkan ia menjemput Park In ke asrama, memikirkan jika nanti tangan Kyuhyun menggandeng Park In lalu mereka tersenyum di depan kamera yang menyambut mereka ketika sampai di red carpet. Sialan! Kenapa lagi dengan diriku?

 

Kupercepat laju jalanku, berharap agar aku segera sampai di asrama perempuan. Asrama sekolah ada dua, satu dihuni perempuan disebut dengan Jazzy Building dan yang satunya didiami laki-laki disebut Macozza Building. Macozza Building terletak di belakang Learn Red Building, sementara Jazzy Building itu ada di bagian belakang Green Building.

 

 

***

 

 

 

“Kata orang cemburu itu tanda cinta, tapi menurutku cemburu itu amat menyiksa. Ya, saat kau menghabiskan waktunya beberapa menit dengan memikirkan orang yang kita cinta, yang belum tentu ia memikirkan kita.”

 

 

 

 

 

 

Asrama Jazzy seperti flat yang sedikit mewah. Satu kamar seluas 6mx5m, jadi satu kamar hanya dihuni dua orang, hanya cukup diisi sebuah lemari pakaian, meja belajar yang kecil dan sebuah kasur gulung lengkap dengan sebuah kamar mandi. Aku menaiki tangga asrama menuju kamarku. Setelah sampai, segera kukunci. Argh, aku melupakan satu hal. Tas dan bukuku ketinggalan di bangku taman. Aku melupakannya karena di otakku, aku penasaran dengan apa yang terjadi pada Kyuhyun. Bodoh!

 

“Rail!” pintu kamarku digedor. Dan itu seperti suara Jihyun. Aku masih memukul-mukul keningku agar normal kembali dan pikiranku tak sekacau ini. Aku mondar-mandir, antara membuka pintu atau membiarkan Jihyun berteriak-teriak.

 

“Kenapa?” tanyaku membuka pintu, disana sudah ada Jihyun berdiri di samping Minho. Jihyun tampak kerepotan membawa kantong belanjanya dan Minho mengontang-antingkan tasku sembari mengumbar senyumnya. Aku berdecak kesal.

 

“Mana?” rebutku pada tas yang dibawa Minho. Dia nyengir disusul Jihyun yang langsung tertawa. Ish, memang ada yang lucu?

 

“Berterima kasihlah padaku.” Suruh Minho dan langsung mendapat cibiranku.

 

“Ya, Jihyun-ah, kuserahkan Rail di tanganmu.” Minho lalu bergegas pergi. Aku masih mematung di pintu saat Jihyun menerobos masuk. Gadis tengil itu meletakkan kantong belanjanya.

 

“Ah, capek sekali aku….” Jihyun tiduran di lantai, merentangkan kedua tangan dan menatap langit-langit kamar, “Rail, bisakah kau bercerita, kenapa selama ini kau tak ikut prom?”

 

“Nde?” aku terhenyak.

 

“Hash, bagaimana jika prom kali ini kau ikut. Ayolah… hari ini, banyak anak yang pulang dan mencari gaun pesta. Ini prom musim semi. Ikut ya?” Jihyun berhenti, aku hanya berdecak kesal dan menatap Jihyun dengan jengkel setengah mati gara-gara tawarannya yang mirip hantu sore hari. Yang benar saja, aku ikut pesta dansa! Apa Jihyun tidak tahu jika minggu kemarin, aku menolak ajakan Kyuhyun ikut pesta Valentine? Sesuatu yang menyangkut pesta itu mirip sebuah sidang pengadilan. Membosankan dan sangat menjijikkan.

 

“Atau—kau membiarkan Park In leluasa dengan Kyuhyun?” Jihyun memanas-manasi aku, “Oh, kau membiarkan mereka berdansa diiringi musik romantis di bawah temaram lampu petromaks, aaah… apa kau ikhlas? Merelakan tangan Kyuhyun menyentuh Park In….”

 

Kulempar tas sekolah yang ditanganku. Jihyun berkelit, membuat tasku berderik menimpa lantai dekat tangan Jihyun. Gadis itu memehrongkan lidahnya, menggodaku lalu terbahak-bahak. Ia duduk sembari memegangi perutnya, mulutku komat-kamit karena menahan jengkel luar biasa.

 

“Ikut ya?” bujuk Jihyun menahan tawanya. Kupalingkan wajah, melas melihat gadis tengik itu. Yang sok-sokan mengajakku ikut pesta dansa.

 

“Rail, sini!” suruh Jihyun, ia membuka kantong belanjanya dan mengeluarkan kotak pakaian. Aku malas-malasan mendekat.

 

“Aku sudah membelikanmu gaun,” Jihyun membuka kotak pelan-pelan, sok mendramatisir keadaan, “Taaraaaa!”

 

Aku mengedip-ngedipkan mataku mengamati gaun sutra berwarna putih tulang dengan payet bunga di sebelah kanan, di bawah dada. Dibagian pinggangnya sutra itu dilipat dan ada kain tile juga menghiasinya, indah.

 

Kulihat tanganku, tubuhku lalu dadaku. Aku mendengus kesal saat aku merasa bahwa gaun ini tak proporsional dengan lekuk tubuhku.

 

“Aku memakai itu?” tanyaku dengan suara bergetar.

 

Jihyun mengangguk, “kecuali jika kau membiarkan Kyuhyun dengan Park In,”

 

Lihatlah, gadis licik itu mulai mengancamku dengan padangan polos dan wajah tanpa dosa. Astaga, Tuhan… bagaimana bisa aku dekat dengan gadis menakutkan seperti itu? Mimpi apa aku bisa bersahabat dengannya? Sangat tak bisa kupercaya.

 

“Bagaimana? Kau mau Park In mengambil Kyuhyunmu dengan mudah, huh?”

 

“Oke… oke… aku setuju. Aku akan datang ke prom! Puas?!”

 

“Hihihii, beginilah Rail sahabatku!” Jihyun tertawa puas. Aku hanya menggeleng tak percaya bahwa aku sendiri yang menyatakan bahwa aku akan datang ke prom. Semoga saja, gaun itu bukan gaun kematian yang menjerat langkahku, atau highheel yang jadi panggilan ajal. Astaga, sepertinya aku akan mengorbankan kulitku dengan produk-produk memuakkan? Ash, aku mendesah frustasi.

 

Smartphoneku bergetar. Kubuka SMS yang masuk.

 

“Jangan ke prom!”

 

Dari Kyuhyun dan ia melarangku datang? Maksudnya…?

 

 

 

 

 

TBC

10 thoughts on “Deception A Masokis (Part 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s