One Hours The Ending

 

OneHours

Cast :  :: Na Yuri (Krystal f(x))

:: Angel

:: Kim Daniel (Choi Woo Hyuk)

:: Kim David (Yoo Seung Ho)

:: Nana

 

Author :

ð  Putry Dhani

ð  Angelina Alexandra

 

…..Jangan lupa yaaa setelah baca ini berikan Saran, Like, Komentarnya… ghamsahamnida. *nunduk 90̊

Hehe… Happy Reading.

 

Author POV..

 

Apa yang bisa kalian lakukan untuk sahabat yang kalian sayangi? untuk membahagiakannya walaupun hidupnya nggak bahagia? Itulah yang sekarang sedang berusaha dilakukan oleh seorang kawan yang sangat menyayangi dan melindunginya.

Angel POV..

Aku punya seorang sahabat yang berasal dari Korea. Namanya Na Yuri. Sudah 3 tahun dia tinggal di Indonesia dan dia bilang sangat suka Indonesia karena banyak adat-adat menarik, pemandangan alam dan banyak makanan enak di Indonesia, walaupun Indonesia tidak termasuk Negara yang maju seperti Korea. Dan ada juga dua teman ku yang campuran antara darah Indonesia dan Korea. Namanya Kim David dan Kim Daniel. Mereka berdua saudara kandung. Daniel lebih tua dari David.

—–…..—–

Nama Yuri dalam bahasa Korea artinya adalah keberuntungan. Tapi itu nggak sesuai dengan kenyataan hidup yang harus dialaminya. Yuri punya kelainan jantung sejak lahir. Dokter bilang dia tidak akan bisa hidup lebih dari umur 20 tahun. Bayangkan saja, tidak banyak orang yang bisa menerima kenyataan seperti itu dihidupnya, seperti Yuri.

Hari ini hari Rabu. Pelajaran pertama dikelasku adalah olahraga. Guru olahragaku bilang, hari ini materinya adalah basket. Aku tidak mau datang terlambat karena basket adalah olahraga favoritku. Aku cepat-cepat sarapan, dan berpamitan pada kedua orang tuaku. “Ayah, ibu, aku berangkat dulu”. “God bless” jawab mereka. Orang tuaku memang tidak pernah lupa mengucapkan kata-kata itu.

Saat masuk ke kelas, aku melempar senyum pada semua temanku di kelas, lalu berjalan menuju bangkuku yang berada di deretan pertama, baris ketiga. Aku menyapa Yuri. “Yuri, selamat pagi!” sapaku dengan nada riang. Tapi respon Yuri tidak seperti biasanya. Dia tampak lemas, wajahnya juga sedikitpun tidak semangat. Kucondongkan tubuhku kearahnya sambil berbisik “Kenapa? Apa sakitmu kambuh lagi?” dia hanya menggeleng. Aku terdiam.

—–…..—–

Yuri POV..

“Aku sedih nggak bisa olahraga.” Kataku lirih. “Kenapa? Bukannya kamu sudah terbiasa dengan ini semua? Kamu harus kuat.” Jawab Angel, yang berusaha menyemangatiku. “Aku cuma sedih nggak bisa ikut olahraga basket. Sebenarnya Aku suka basket” aku berusaha berkata kalimat per kalimat. Bahasa Indonesia aku memang belum terlalu lancar. Aku masih agak terbata-bata berbahasa Indonesia. Angel tersenyum. “Ayo ikut saja ke lapangan. Mungkin dengan melihat kami bermain kamu jadi ikut semangat”, kata Angel. Aku pun tersenyum lalu mengikuti langkah Angel menuju lapangan saat guru olahraga memanggil kami menuju lapangan. Rupanya cara Angel berhasil. Aku bisa terhibur dengan melihat permainan basket Angel dan teman-teman. Syukurlah…

—–…..—–

Angel POV..

Saat pulang sekolah, aku, Daniel, David, Yuri, dan Nana, sahabatku berjalan pulang bersama sambil ngobrol dan bersenda gurau. Udara Surabaya yang panas menjadi tidak terasa saat menyaksikan tingkah konyol David. Dia memang pandai membuat lelucon. Saat kami sedang asyik tertawa terbahak-bahak, Yuri menyahut tawa kami dengan kalimat singkat “Aku ingin punya baju batik”. Dalam sekejap kami semua langsung diam mendengarnya bicara.

“Hah? Serius nih?” sahut David sambil tertawa. Aku memukul bahunya. Memangnya salah kalau Yuri ingin punya batik? Batinku. “Batik yang seperti apa? Di Indonesia banyak jenis batik” jawab Nana. “Em. pokoknya batik dengan warna dasar biru. Aku suka biru. Biru itu warna Kedamaian” jawab Yuri sambil menengadah ke langit. Aku merasa aneh dengan tingkah Yuri barusan. Entah kenapa. “Sebentar lagi ulang tahunku lho” kata Yuri mengingatkan. Dia tersenyum. Itu manis sekali. Langsung terlintas ide di benakku untuk mengajak teman-temanku patungan untuk membelikan Yuri baju batik yang diinginkannya. Aku ingin membahagiakan sahabatku itu dihari ulang tahunnya. Apalagi tahun ini adalah Sweet Seventeen Yuri.

Sesampainya dirumah aku langsung mengirimkan SMS ke tiga temanku itu. Aku senang respon mereka ternyata positif. Bahkan Nana menambahkan ide membuat kue ulang tahun untuk Yuri. Sekarang sudah tanggal 14, dan ulang tahun Yuri tanggal 21. Artinya dalam waktu 7 hari, semua rencana kejutan, termasuk batik, harus siap. Hasil patungan yang kami kumpulkan jumlahnya lumayan banyak. Dua hari sebelum hari H, aku dan teman-teman pergi ke sebuah pasar tradisional yang menjual baju-baju khas daerah. Akhirnya kami berhasil menemukannya. Sebuah blouse batik dengan warna dasar biru, bermotif bunga, dengan dasi pita yang terselip dikerahnya. Baju itu cantik sekali. Yuri pasti akan suka.

—–…..—–

 

Nana POV..

Sehari sebelum hari H, Angel mengajak Daniel, David, dan aku kerumahnya untuk membuat kue ulangtahun. Ibunya ikut membantu kami. Pasti hasilnya akan enak karena ibu Angel ahli membuat kue. Dan tentu saja hari-hari membuat kue kami diwarnai dengan lelucon dan tingkah jahil David yang mengotori wajah kami dengan tepung, adonan, dan krim kue. Akhirnya kami pun ikut berbalas mengoleskan krim kue ke wajah satu sama lain. Ibu Angel hanya bisa tertawa melihat tingkah Angel dan kami.

—–…..—–

Angel POV..

Hari H pun tiba. Sekarang tanggal 21. Saat bel pulang sekolah berbunyi, kami berempat menahan Yuri di kelas sampai semua anak keluar. Dan saat keadaan sudah sepi, kami mulai beraksi. Kami memberi kejutan dengan cara yang berbeda. Yah, karna penyakitnya, Yuri tidak boleh sampai terkejut. Jadi kami memulai dengan ucapan “selamat ulang tahun! happy sweet seventeen!” dan sesuai rencana, aku dan Nina membentangkan sebuah karton putih besar yang bertuliskan “happy sweet seventeen” , sementara Daniel dan David mengeluarkan kue ulang tahun buatan kami dari box kue. Yuri sontak langsung tersenyum lebar dan terlihat terkejut dengan kejutan kami. Sebuah kejutan yang sangat sederhana.. tapi kuharap Yuri senang dengan kejutan kami.

Kami memotong kue, dan menikmatinya bersama. Tampak wajah Yuri berbinar. Syukurlah.. itu artinya dia senang. Yuri menghabiskan 3 potong kue sekaligus. Kami tertawa melihat tingkahnya saat menyantap kue itu. Pipinya yang kurus terlihat gemuk karna dipenuhi kue blackforest. “ini enak !” katanya dengan pipi gemuknya itu.

—–…..—–

Beberapa menit kemudian, terjadi kejadian yang mengejutkan. Saat sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Yuri mengeluh nyeri di dada. Lama kelamaan dia meronta dan mengerang kesakitan. Gawat! penyakit Yuri kambuh. Dengan cepat, Daniel berlari mencari kendaraan umum yang lewat didepan sekolah. Kami harus membawa Yuri kerumah sakit. Tak lama, Daniel berhasil menghentikan sebuah taxi didepan halaman sekolah. Kami segera membawa Yuri kedalam taxi menuju rumah sakit terdekat.

“Ayo cepat, cepat Pak. Teman kami harus segera ditolong!” kata Nina sambil memukul-mukul kursi supir taxi. Kami benar-benar panik. Penyakit jantung bukanlah penyakit yang bisa diajak kompromi apabila kambuh. Supir taxi itu pun langsung menarik gas lebih kencang lagi. Dan kamipun sampai dirumah sakit tak lama kemudian.

—–…..—–

Satu jam aku dan yang lain menunggu dokter menangani Yuri. Kami terus berdo’a semoga Yuri baik-baik saja. Tak lama, dokter keluar dan mengatakan bahwa Yuri sekarang sudah sadar. Kami diijinkan menjenguknya selama satu jam, setelah itu dokter akan melakukan penanganan lanjutan. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerobos masuk kekamar Yuri dan mendahului yang lain.

“Yuri!” aku berlari kearah sahabatku itu dan langsung memeluknya. “Aku khawatir sekali” kataku sambil meneteskan air mata. “Eeh..aku baik-baik saja kan sekarang?” jawabnya dengan nada santai diikuti dengan langkah teman-teman lain memasuki kamar. “aku terlambat mengucapkan terima kasih sama kalian. Makanya aku jadi begini.” Lanjutya sambil tetawa kecil. Aku langsung mengarahkan jari telunjukku kedepan bibir Yuri dan berkata “Sst. Jangan pernah bilang begitu” Yuri kembali tersenyum.

Yuri POV..

“Aku ingin pulang” kata ku. “Belum waktunya. Dokter bilang kamu harus diperiksa lagi” jawab Daniel. “tapi aku harus pulang sekarang” jawab ku lagi. Aku merasakan sesuatu yang aneh pada kalimatku sendiri. Tapi aku tidak berani mengungkapkannya kepada teman-teman. “Aku tidak ingin merepotkan mereka lebih banyak lagi”, batinku.

Angel POV..

Tiba-tiba saja aku teringat akan baju batik yang diminta Yuri. Kami belum sempat memberikannya bukan? Aku membuka tasku, dan mengeluarkan baju batik biru yang sudah terbungkus rapi kertas kado bergambar daun-daunan. “Ini hadiah spesial untukmu. Aku beli ini dari hasil patungan dengan teman-teman.”.

Yuri menerimanya dan langsung merobek kertas kadonya, lalu mengeluarkan baju batik biru itu. “Waahh ini cantik sekali!” wajah pucatnya tampak berbinar menatap baju hadiah dari kami. Aku tersenyum haru, begitu juga dengan Nana, Daniel, dan David. “Gomawo..eh Terimakasih!” seru Yuri yang terkadang menggunakan bahasa korea,lalu Yuri merangkul dan memeluk erat kami yang berdiri mengitari ranjangnya. “Sama-sama” jawab kami bersamaan.

—–…..—–

Yuri POV..

“Boleh aku memakainya sekarang? Boleh ya?” Tanya ku sambil memohon dan tersenyum senang. Teman-temanku mengangguk,mungkin tidak tau harus berkata apa lagi karena aku dan mereka terlalu senang melihat aku mugkin dapat memakainya langsung. Senyum yang belum pernah ditunjukkan mereka selama tiga tahun aku di Indonesia. Angel menuntun aku turun dari ranjang menuju ke kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamar rumah sakit.

—–…..—–

Angel POV..

Tak lama kemudian, Yuri keluar dengan memakai baju batik pemberianku dan teman-teman.

“Cantik! Kamu cantik!” seruku sambil tersenyum lebar, aku mengalihkan pandanganku pada dua teman cowokku, Daniel dan David. Mereka mengangguk bersamaan sambil mengacungkan dua jempol kearah Yuri. Begitu juga dengan Nana yang dari tadi diam.

—–…..—–

Yuri POV..

Waktu menjenguk tinggal 10menit lagi. “Waktunya sudah hampir habis” kata ku sambil tersenyum menatap mereka, semua sahabatku yang setia. Kemudian aku meraih tangan mereka satu-persatu lalu menyatukannya dengan tanganku yang mulai tampak pucat. “Sekarang aku merasa menjadi Yuri yang benar-benar beruntung karena punya sahabat seperti kalian. Ini benar-benar membuatku bahagia. Sesuatu yang dari dulu aku inginkan hanya merasa diriku ini berharga dan layak untuk bahagia. Terimakasih untuk semuanya”, kata ku kepada mereka. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh.

Angel POV..

Aku, Daniel, Nana, dan David saling menatap. Mereka juga tampak bingung. Dan sepertinya mereka juga merasakan apa yang kurasakan sejak tadi. Sesuatu yang mengganggu hatiku dan tidak bisa kuungkapkan.

Perlahan genggaman tangan Yuri mulai mengendur. Matanya juga tampak makin redup, dan wajahnya makin pucat. Dia memegang dada kirinya sambil mengeluarkan ekspresi menahan sakit, tak lama kemudian, tubuhnya rebah diranjangnya. Alat pendeteksi detak jantung yang ada disamping ranjang Yuri berbunyi tiiiiiiiit… tidak ada detak jantung yang terdeteksi. Dia pergi.. Aku lemas.. tidak bisa berkata apapun menyaksikan sahabatku kini sudah pergi diusianya yang ke tujuh belas, tepat saat hari ulang tahunnya. Aku dan teman-temanku menangis, menyaksikan yang telah terjadi pada sahabatku Yuri. Apa yang kami lihat ini seolah tak bisa dipercaya bahwa dia sudah pergi. Tapi, yah.. siapa yang bisa menebak umur seseorang? Siapa yang bisa menghalangi saat Tuhan ingin memanggil anaknya untuk kembali pulang ke sisinya?

Mungkin ini yang terbaik.. dan aku harus melepas Yuri sahabatku . Aku yakin dia sudah bahagia. Dan setidaknya, hatiku sedikit terobati karena sudah membuat seminggu terakhirnya sangat membahagiakan dan 1 jam terakhir sebelum kepergiannya begitu berarti dengan bantuan semua sahabatku…

 

 

______ THE END ______

One thought on “One Hours The Ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s