Deception A Masokis (Part 4)

 

DAM4

Title: Deception A Masokis 4

Cast:

~Cho Kyuhyun

~Kang Rail

Rate: 15th

Author: Susan Arisanti

Genre: Romance, Action, Politic,

Disclaimer: This is Susan’s fanfiction!😀

 

 

 

 

 

 

“Kyuhyun, Fighting!” teriak geng Kyu-line pada sahabatnya yang duduk di sampingku.

 

Kulirik Kyuhyun, ia tengah tersenyum tapi ketika aku menoleh, ia buru-buru memasang tampang dinginnya lagi. Eih, kenapa sih dia berubah-rubah begitu?

Aku pura-pura tak memandang Kyuhyun. Aku menatap kea rah jam tujuh. Ada yang aneh disana. Sosok berkaca mata itu berbicara via handphone. Mataku menangkap lagi sosok yang ada di jam sebelas. Ia melihat kea rah kami tapi buru-buru menutup wajahnya dengan Koran. Mencurigakan! Aku yakin, mereka bukan body guard suruhan ayah. Lalu, siapa mereka?

 

 

 

 

____Deception A Masokis 4____

 

 

 

 

 

Mataku terus mengawasi sosok asing yang tak jauh dari kami. Kyuhyun masih asyik memejamkan matanya, membiarkan keringatnya mengering diterpa angin sepoi yang menyejukkan. Kugenggam tangan Kyuhyun pelan agar tak terlihat mencurigakan. Mata Kyuhyun membuka perlahan, menatapku keheranan. Pandangannya beralih ke tautan tangan kami. Kurundukkan wajahku, malu. Lalu dengan hati tak menentu, kulepas pertautan itu, membiakan kami bungkam dari beberapa saat. Aku lupa jika selama kami diam, dua orang aneh itu secara intens menelisik perilaku kami.

 

“Kyuhyun-nim, tatap aku. Di arah jam 7 dan jam 11 ada orang yang mencurigakan,” kudekatkan wajahku di telinga Kyuhyun, “jangan lihat mereka, sekarang… tersenyumlah,” usulku agar tak terlihat mencurigakan. Ia mematuhinya dan tanpa kusangka ia menelengkan kepalanya, makin mendekat padaku. Apa yang akan dilakukannya? Astaga, wajahnya yang terukir sempurna bak pualam itu berjarak amat tipis denganku. Ia makin meniadakan spasi antara kami. Hingga akhirnya, kutahan! Kutahan dengan telunjukku di permukaan bibirnya. Entah bagaimana, jari-jariku kini bergetar. Ada detakan yang mengharu biru saat kami mampu sedekat ini. Sialan! Dia memanfaatkan pesonanya. Bodoh sekali kau, Rail. Bagaimana bisa namja 200.000 hertz itu memperdayaku dengan mata terpejamnya? Eih, tentu saja bisa, dia memang tipikal lelaki masokisme dengan jerat yang mematikan, atau dengan bisa membunuh luar biasa.

 

Kyuhyun menarik wajahnya. Memperbaiki posisi tubuhnya agar nyaman dilihat.

 

“Maafkan aku, aku mencoba mengecoh mereka, aku takut mereka mengerti kalau kita mencurigainya. Dengan begini, mungkin mereka berfikir kita tengah berciuman,” tandas Kyuhyun. Jadi sikapnya tadi hanya untuk mengecoh orang mencurigakan itu? Kufikir dia memang berniat melakukannya, “kajja! Kita pergi dari sini.”

 

Kuikuti ajakan Kyuhyun, ia berjalan dengan anggun. Well, satu hal yang kusadari, cara berjalan Kyuhyun mirip seorang model berjalan di atas catwalk. Benar-benar lelaki sempurna. Oh, tidak! Kuacak-acak poniku, frustasi. Rasanya otakku sekarang mengalami korsleting parah yang mengakibatkan otakku berjalan tak pada tempatnya. Damn!

 

Kyuhyun meraih pergelangan tanganku saat dua sosok itu ternyata mulai mengikuti kami dengan pura-pura tak mencurigakan. Toh, kami tak terkecoh karena dari awal sudah mengetahui bahwa mereka mengincar kami.

 

Aku mencoba mengimbangi langkah panjang milik Kyuhyun. well, sepertinya, kakinya didesain bukan untuk manusia tapi sejenis Kanguru. Bagaimana bisa langkah manusia sedemikian lebar? Cis, membuatku kesusahan saja.

 

Kyuhyun membelok di sebuh gang buntu yang sempit. Kami bersembunyi disana dengan posisi saling bersinggungan. Ah, bukan bersinggungan tapi berhimpitan. Kedua tangan Kyuhyun membekap mulutku saat aku mulai berteriak tak terima karena ia menempelkan tubuhnya padaku, membuatku meredam suara. Sejenak, mata kami ada pada satu garis lurus dan entah bagaimana caranya, tatapan itu terasa—aneh.

 

Derap sepatu mereka makin menjauh, sepertinya mereka tak tahu keberadaan kami. Selalu, hidupku selalu diburu beberapa orang yang menjadi musuh Ayah. Pernah aku hamper tertangkap, tapi untung ada beberapa bodyguard yang mengawalku. Inilah yang kubenci dari Ayah. Ditambah lagi sikap istri barunya yang memuakkan itu. Cih, aku lelah. Aku ingin hidup sebagai anak dari orang biasa yang hidup nyaman dan tak dikejar masalah. Aku sangat menginginkan kedamaian.  Apa aku tak berhak bahagia?

 

Kyuhyun melepas bekapannya, melangkah ke ujung gang buntu ia celingukan kemudian menghela nafas lega.

 

“Kita aman,” ia memandangku lalu tersenyum. Dalam sekali waktu, aku tak percaya bahwa pria ini memiliki sikap yang menyebalkan.

 

“Gumawo….” Ucapku lemah pada akhir, kalimatku yang lirih itu membuat Kyuhyun memincingkan matanya. Ia mendekat ke arahku, jelas sekali bahwa ia tengah heran.

 

“Wae?” Kyuhyun menunduk, mencari bola mataku. Aku lebih suka menunduk, menyembunyikan sesak yang tiba-tiba menyergapku.

 

“Peluk aku, sebentar saja, Kyu.” Aku berhenti, menahan kerongkonganku yang tercekat, menahan airmataku yang memaksa untuk keluar, “Aku lelah dengan ini semua….”

 

“Nde?”

 

“Sebentar saja, kumohon….”

 

Lengan kokoh yang hangat itu menyambut tubuhku yang bergetar, kurebahkan kepalaku di dada Kyuhyun lalu terisak disana. Sepertinya, Kyuhyun begitu menghargai perasaanku, ia hanya diam, sesekali mengeratkan pelukannya.

 

“Airmata yang kusembunyikan dibalik senyum atau kalimat sadisku adalah isyarat pada luka atas kebahagian keluargaku yang diam-diam menyelinap pergi,”

 

“Menangislah disini, selagi aku mau mendengar kesahmu, selagi aku mampu kau jadikan tempat bersandar,”

 

“Kyu…” suaraku mulai tersengal, “aku ingin seperti remaja lain. Aku tak butuh uang, aku tak butuh rasa hormat dari setiap orang yang bertemu denganku, tak butuh beberapa bodyguard yang melindungiku. Aku hanya butuh limpahan kasih sayang. Anak mana yang tak ingin dibelai orang tuanya saat tidur? Didongengkan cerita menjelang tidur atau anak mana yang tak mau dilindungi orang tuanya, bukan orang lain?”

 

Kurasa, tangan hangatnya mengelus bahuku. Isakan demi isakanku bercampur dengan deru nafas Kyuhyun yang memburu. Dan baru kali ini, aku merasa dada pria yang hangat. Sangat hangat. Dan entah bagaimana caranya, hari ini, aku meruntuhkan tingginya gengsiku pada Kyuhyun. meniadakannya karena melihat ketulusannya melindungiku.

 

“Aku—ak—,”

 

“Aku mengerti,” ucapan lirih Kyuhyun membuatku luluh dan serta merta, tanpa bisa kukomando, airmataku mengalir dengan sukses tanpa tertahan. Aku menangis tanpa tendensi apapun di dada namja ini. Rasa sesak itu bergulir, hilang satu persatu dan menggantinya dengan rasa nyaman. Sebuah rasa yang pernah hilang semenjak ayah mengirim ibu ke panti rehabilitasi, semenjak ayah mengganti posisi ibu dengan wanita lain atau semenjak ayah memutuskan komunikasiku dengan ibu karena memindahkan ibu ke luar negeri dan ia sama sekali tak mau memberitahukannya. Membuatku kehilangan yang sangat berharga dalam hidupku.

 

“Rail, Kau tahu? Kita bisa menikmati kehangatan karena kita pernah kedinginan. Kita bisa menghargai cahaya karena kita pernah dalam kegelapan. Begitu pula kali ini, aku bersedia merengkuhmu. Percayalah, Tuhan tak akan mengambil sesuatupun dari makhlukNya, kecuali Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”

 

Kalimat Kyuhyun seakan menaliku dalam hati yang bergetar. Baiklah, tak bisa kupungkiri, aku mulai nyaman dengannya. Dia bukan lagi namja 200.000 hertz, bukan lagi lelaki 20juta won. Lebih dari itu, dia bukan lagi singa masokistik sesuai pendeskripsiannya sendiri tapi dia adalah malaikat. Malaikat yang sengaja dikirim Tuhan untukku. Kali ini, aku akan jujur, mengabaikan harga diriku bahwa disini, di gang sempit yang buntu ini, pertama kali, Kyuhyun berhasil memesonaku dalam jeratnya yang tak kusangkal lagi.

 

Kyuhyun memegangi lenganku, “Tatap aku….”

 

Ragu, mataku masih memerah tapi ia tak ambil peduli, tangannya malah mendongakkan daguku, “Jangan menyiksa dirimu dengan masalah. Ada aku, aku tak hanya akan selalu ada untukmu, tapi juga mendoakanmu dan melindungimu.”

 

Kutahan isakanku lalu kembali memeluknya, dengan sesenggukan aku mencoba berucap, “Gumawo, jeongmal gumawo….”

 

“Heh, pabbo!”

 

 

-= Doa tentangmu adalah caraku untuk memelukmu dari jauh. Kenyamanan denganku adalah cinta yang kusembunyikan dari congkaknya harga diriku =-

 

 

            Ponselku berdering, kubiarkan saja. Aku ingin menikmati hangatnya pelukannya. Menikmati saat ia merutukiku dengan kata “pabbo” aku tak peduli lagi. mesin penjawab ponselku berbunyi.

 

“Rail, bagaimana keadaanmu?”

 

Suara Ayah? Apa dia tahu kalau aku dikejar-kejar penjahat? Aku menepiskan pelukan Kyuhyun, sedikit kupaksakan untuk menarik bibir. Kyuhyun yang melihat usahaku untuk tersenyum hanya mendengus kesal.

 

“Cih!” ia memalingkan wajahnya.

 

“Yeoboseyo, Appa? Museum ireumnika?”

 

“Kau dimana? Pengawal Appa akan segera menjemput.”

 

“Aku masih di sekitar taman, dekat gang. Ada apa, Ayah?”

 

“Ayah mendapat surat email dari Hacker. Situs PM dibajak. Mana Kyuhyun? aku ingin berbicara dengannya!”

 

Kuberikan ponselku pada Kyuhyun, “Ayah….”

 

Ia meraih ponselku, menempelkan di telinganya. Ia hanya mengucapkan dua kata, kalau tidak “iye” pasti “araseumnida.” Mimic Kyuhyun terlihat tegang dan was-was. Apa yang dikatakan Ayah?

 

Begitu selesai berbicara, Kyuhyun mematikan panggilan dan menyerahkan kembali ponselku. Aku baru saja memasukkan ponselku ke kantong tapi Kyuhyun menarik pergelangan tanganku dengan buru-buru terlihat genting.

 

“Pakai ini!” suruh Kyuhyun memakaikan scraf warna merah hati yang semula ia kenakan. Scarf itu kini melingkar di leherku. Hangat. Aromanya khas Kyuhyun, kuhirup dalam-dalam menikmati baunya yang maskulin. Mirip bau parfum Davidoff men dicampur dengan parfum Aqua Digio. Segar dan menyenangkan.

 

Kyuhyun menaikkan scraf hingga ke hidungku. Membuat wajahku hanya terlihat separuh.

 

“Kau percaya padaku?” ia menarik bibirnya tapi aku yakin itu bukanlah senyuman, “aku akan membawamu ke rumah dengan selamat. Aku berjanji.”

 

 

***

 

“Kesini!” Kyuhyun menyelip di kerumunan khalayak ramai. Aku mengikutinya saja dengan sesekali mengamati sekitar. Kami sudah mencapai sebuah rumah dinas, aku yakin sekali jika itu rumah dinas perdana mentri.  Kami memacu langkah dan segera masuk saat beberapa pengawal ayah membuka pintu untuk kami. Disana, di ruang tamu, kulihat tiga orang tengah berbicara dengan kaku. Di depannya ada laptop yang digunakan untuk mengakses internet.

 

“Annyeonghasimnida,” kamu berucap bersamaan, ketiga orang itu mengernyit, melihat sejenak pada kami yang mencoba bernafas normal.

 

“Annyeong, Rail kau baik-baik saja?” Ayah bertanya dengan nada yang terkesan dingin, “Kyuhyun kesinilah! Kata ayahmu, kau seorang hacker karena berhasil menjebol keamanan blog sekolah,”

 

Kyuhyun menarik miring bibirnya.

 

“Aku masih ingin menelitinya sendiri dan tak mau menyerahkan ini ke tim Infomasi Teknologi Negara. Kau bisa membantu?”

 

“Aku tak bisa,”

 

“Kumohon,”

 

Kyuhyun maju dan mencoba melihat LCD Laptop. Kuikuti dia, lalu kulihat bait-bait tulisan itu muncul di situs perdana mentri. Di halaman itu bendera Korea Selatan diganti. Bahkan tulisan Korea Selatan hanya ditulis Korea saja.

 

Raganya Seoul,

Raganya Pyongyang,

Tapi jiwanya Joseon.

 

Dua kelompok berkuasa, sisanya pengaya saja. Sebagian kecil kelompok kaya, sisanya menanggung derita.

 

BUBARKAN  SEOUL!

BUBARKAN PYONGYANG!

SATUKAN KOREA!

 

___Patriotic Movement___

 

Aku tenganga membaca kalimat provokatif itu. Siapa yang berani membajak situs itu? Benar-benar hacker yang luar biasa. Tangan Kyuhyun bergerak lincah. Ia mengetik sesuatu di URL dan kembali bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.

 

“Ige mwoya?” Tanya Kyuhyun saat masuk di email pribadi Ayah. Sebuah kotak masuk yang isinya mencurigakan.

 

 

Kepala kedua. Buah manis yang membusuk di jalan.

 

 

Hanya itu isi emailnya. Ayah menatapku.

 

“Email itulah yang membuatku sadar bahwa Rail dalam bahaya dan menghubungi kalian,”

 

“Ayah….”

 

“Kepala dua, maksudnya adalah orang nomer dua di Korea Selatan dan itu aku. Buah manis membusuk di jalan. Itu hanya untuk memperumpakan Rail.”

 

“Tunggu!” Kyuhyun berhenti, ia mencoba mengulik lagi beberapa URL yang ia peroleh memasukkan beberapa bilangan binner lalu ia menghela nafas saat ia bisa membajak kembali halaman yang berhasil di otak-atik hacker.

 

Kyuhyun mengembalikan tampilan desktop ke layanan email. Tepatnya email pribadi Ayah.

 

“Kau kenal email ini?”

 

“Tidak.”

 

“Kau membukanya?”

 

“Tidak.”

 

“Ahjussi, jangan sekali-kali kau buka. Karena dengan kau buka emailnya, kau sama saja, mengijinkan dia mengakses situs pribadi atau situs pemerintahan.”

 

“Lalu? Kau tahu siapa pelakunya?”

 

“Aku masih ragu, sebentar lagi.”

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

Ayo RCLnya yang bikin semangat ya ^_^

 

12 thoughts on “Deception A Masokis (Part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s