Yang Terbuang

 

Yang Terbuang

Ini lahir setelah baca banyak FF dan beberapa pernyataan tentang ketakadilan SM, ini lahir dari beberapa pemikiranku setelah beberapa tahun mengetahui sebuah ‘sistem’ sebuah pemikiran yang sederhana,

 

Jika SM hanya menganak tirikan Super Junior, kenapa mereka mendebutkannya? SM itu perusahaan besar, ia dikelilingi tim ahli yang memiliki pemikiran dan penglihatan hebat terhadap calon artisnya. Dan, tentang MV Super Junior yang sederhana, mungkin banyak intrik di dalamnya. Dan kita tak harus menyalahkan SM dan kupikir daripada menyalahkan SM, lebih baik selalu mendukung SJ. Hahahaa. *Berasa ceramah* -____-“

 

Well, Happy reading ^^ (!!)

 

 

 

 

 

Title: Yang Terbuang

Cast: Lee Sooman, Kim Youngmin, Kang Hyoin, Kang Ryugoo, Kim Jinho, Super Junior members.

Genre: Fight Live

Author: Susan Arisanti (Admin KPDK)

 

 

 

 

“Hanya pemikiran kekanakan dan labil yang menghakimi kami sebagai orang egois dan kapitalis. Kami pernah muda, tentu kami bisa merasai mimpi mereka dan karena kami lebih tua dan berpengalaman, cara kami memperlakukan mereka berbeda. Begitulah, sebuah bintang yang akan bersinar harus mengalami penderitaan agar saat ia bersinar, ia tak akan lupa beratnya perjuangan.”

 

 

 

            “Ketika perusahaan, mimpi dan idealisme dipertaruhkan….”

 

 

 

 

“Tidak! Kita tidak bisa mempromosikan mereka seperti kita memperkenalkan yang lain. Kau lihat bakat mereka? Ash, mereka adalah sebuah proyek grup yang gagal. Kang Hyo In, proyek pertamamu tidak berhasil dan aku tak yakin, apakah bulan depan kau masih duduk di C-Level sebagai Chief Organizing Organization (COO). Dan, kau Lee Sooman-ssi, produser hebat yang melahirkan bintang luar biasa. Aku tak mengerti dengan arah pemikiranmu, apa yang kau lihat dari mereka?”

 

Usai mengeluarkan uneg-unegnya dan beberapa ancaman, lelaki yang menjabat sebagai dewan direksi dari sebuah perusahan besar yang bergerak di dunia hiburan; SMentertainment.co.ltd, ia keluar.

 

Di ruang bercat kuning gading itu hanya ada empat orang. Salah satunya adalah Lee Sooman selaku pendiri dan produser. Omong-omong, soal pendirian perusahaan, Lee Sooman merupakan salah satu pendiri sekaligus dan perintis, namun yang jadi kabar buruknya adalah kekuasaan perusahaan berdasarkan saham sehingga ia terdepak dari posisi dewan direksi karena hanya menguasai saham sebesar 12%, sementara Cha Hyeongi memiliki 47%, Kun Pmanchok 15%, Yoon Gayoo 13% dan Imelda Gustav 12,7%.

 

“CEO Kim, bagaimana menurutmu?”

 

Kim Youngmin, dia adalah CEO perusahaan, sekalipun dia adalah presiden direktur, jabatannya juga terancam oleh dewan direksi. Bisa apa dia? Sahamnya hanya 5% dan ia dijadikan CEO karena sebagian besar pemilik saham memilihnya sebagai CEO untuk masa jabatan 4 tahun.

 

“Aku—” seumur hidupnya menjabat sebagai Presiden Direktur SM, ia belum pernah seragu ini. Di satu sisi, ia tak ingin dewan direksi kecewa dan perusahaan rugi, di sisi lain, dia sadar, jika dia menuruti dewan direksi, dia telah menganiaya pemilik mimpi yang selalu bekerja keras. Belum lama ia  melihat senyum “mereka” dan ia menyesal karena dulu pernah memandang sebelah mata bakat “mereka.”

 

“Jung Junmo?” tahu bahwa CEO berwibawa itu tak dapat memecahkan masalah, Sooman melempar pertanyaannya ke Chief Financial Organization, kepala financial.

 

“Kalau kau bertanya tentang keuangan, bertanyalah padaku,”

 

“Oh, araseumnida.” Balas Sooman lalu meminta maaf. Ia tak bermaksud menyinggung kemampuan Junmo yang hanya terbatas pada hitungan pada buku besar, atau pada kolom debit/kredit di bukunya. Sooman ganti menatap lelaki yang duduk bersebrangan dengannya, kepala training perusahaan.

 

“Kang Ryugoo?”

 

“Aku lebih setuju dengan pendapatmu di awal Sooman-ssi. Mereka hanya butuh latihan. Aku di sini berbicara sebagai kepala training, maka dengarlah ini, Super Junior memiliki harmonisasi vocal yang bagus, visual grup yang menarik, dancer berbakat dan memiliki karakter. Jangan lupa, mereka juga memiliki attitude yang sangat baik. Mereka memiliki bakat sebagai bintang besar. Dan mereka juga mempunyai factor kuat mencapai sukses.”

 

“Menurutku, kita saja yang belum siap dan selalu menganak tirikan mereka. Seharusnya, kita memberikan mereka sedikit kepercayaan. Kau lihat single U mereka? Dalam waktu lima jam dari rilis didownload 400.000 kali dan mencapai 1.7 juta hingga server mengalami crashing. Oh, kalian tentu ingat, kita hanya memberikan waktu dua minggu sebelum waktu rilis dan mereka luar biasa, tak mengeluh dan bersemangat. Jika kita selalu menyisihkan, bukankah kita sudah menjadi pembunuh? Pernahkah kalian menghitung keringat yang menetes dari usaha mereka? Menghitung airmata mereka karena kepengecutan dan kepicikkan kita? Atau, pernahkah kalian melihat senyum mereka saat kita memberi kesempatan mereka tampil di Hello Chat, Sukira atau MNet dan Talk Show Good Morning stasiun TV SBS?”

 

“Jika mereka anak kandung kalian. Akankah kalian menutup mata, pura-pura tak melihat kerja keras mereka? Atau pura-pura tak mendengar akan kemampuan usaha berlatihnya?”

 

“Kang Ryugoo, aku mendukungmu. Sekalipun dalam hal ini, jabatanku terancam, aku akan mempertaruhkannya. Aku sudah membuktikan mereka saat pelirisan album genre rock; Don’t Don. Walaupun diterima hambar, tak sehangat U, mereka meraih penghargaan Bonsang dan popularity Anycall TPL Award.” Kang Hyo In akhirnya berbicara. Ia menatapi rekan-rekannya yang duduk di C-Level SM Entertainment. “Aku yakin, jika kita mempercayakan hal yang lebih besar lagi, mereka akan bertanggung jawab.”

 

“Wohoo, aku punya catatan juga, Super Junior merupakan pemberi masukan terbesar kedua di perusahaan.” Imbuh si kepala keuangan mantap. Ia masih ingat, saham perusahaan yang turun dan tiba-tiba meningkat karena album kedua Super Junior dirilis. Bukankah itu luar biasa?

 

Sooman tersenyum senang saat mendengar pemikiran rekan kerjanya. Ia menutup map warna kuning yang berisi tentang Super Junior.

 

“Lalu bagaimana membuka mata dewan direksi?”

 

“Kita akan merilis album baru untuk mereka. Bukankah ini sudah hamper setahun dari perilisan Don’t Don?”

 

“Apa tak terlalu beresiko?”

 

“Benar,” imbuh Junmoo. “Dewan direksi baru saja menegur dan mengancam kita. Apa mereka akan menyetujui dana yang akan kita keluarkan untuk pembuatan album?”

 

“Tenang saja, kita buat album dengan konsep sederhana. Selama aku jadi artis dulu,” Sooman berhenti. “sekalipun MV sederhana, asal objek menarik, mereka akan tetap tertarik.”

 

“Wah, lalu bagaimana konsepmu?”

 

“Jika di don’t don, mereka beraliran rock pop, maka di album ini, mereka harus tampil beda.” Tambahkan Hyo In. “Hah, Kepala Marketing harus diberitahu tentang ini.”

 

 

 

***

 

 

“Kalian tahu kenapa aku mengundang kalian ke sini?” CEO Kim Youngmin menatap member Super Junior lalu menatap satu persatu stafnya yang menangani kegiatan Super Junior.

 

“Album ketiga! Kalian suka?”

 

Masih hening.

 

“Kim Jinho-ssi, segera buatkan proposal pendanaan untuk kau ajukan pada CFO, bentuk tim untuk menanganinya.”

 

“Aku sudah meminta Yoo Young Jin membuatkan lagu untuk kalian. Hubungi ia besok dan mulailah berlatih vocal. Yesung-ssi, kau cakap dalam memilah penempatan vocal, kuharap, kehadiranmu di Super Junior makin membuat kalian bisa terlihat di masyarakat.”

 

Yesung hanya diam. Ia tegang, buktinya jari-jari kecilnya bertaut untuk mengatasi kegelisahannya.

 

“Berjuanglah!” CEO Kim pergi dari ruangan dengan pelan tanpa menoleh ke belakang lagi. kepergiaannya disambut gelak tawa bahagia oleh staf Jinho sementara member Super Junior memilih untuk saling memeluk.

 

“Hyung, kita punya album lagi!” seru Ryeowook kegirangan, ia memeluk Yesung dengan erat, tak percaya dengan kabar gembira yang dibawa si CEO itu.

 

“Album ketiga! Album ketiga!” Heechul berteriak dengan over, Hankyung yang mendengarnya sampai tertawa. Ah, itu bukan tawa, itu airmata. Airmata bahagia.

 

“Ya Tuhan, aku bahagia sekali, sepertinya nasib baik memihak kita.” Siwon bergumam senang lalu memuji Tuhan lagi.

 

 

***

 

“Sialan!” Kim Jinho membanting proposal pendanaan album Super Junior dengan kuat hingga bawahannya yang membuat konsep pakaian, konsep teaser, konsep lagu, konsep pemotretan dan konsep koreografi menjadi kaget. Semua bawahannya diam. Tak ada yang berani bertanya ada apa, apa yang terjadi bahkan pertanyaan sederhana saja, ‘apakah Kim sajangnim baik-baik saja?’ mereka semua hening, menghentikan pekerjaannya.

 

“Sekalipun kita sudah bekerja keras, apa yang akan kita hasilkan jika ternyata pendanaannya hanya beberapa puluh juta.” Gerutu Jinho pada akhirnya. “Ini sangat tak adil, selama aku bekerja sebagai manajemen Super Junior selalu begini. Bagaimana anak-anak kita bisa menjadi penyanyi terkenal seperti grup lain jika pendanaannya hanya seperti ini? Mereka berniat mendanai tidak, hah!”

 

Mengertilah mereka, Jinho marah karena dana pembuatan album hanya sedikit. Sebagai General Manager untuk Boyband Super Junior, Jinho selalu kecewa pada CFO Kang Ryugoo yang terlalu pelit dengan alasan perusahaan terancam failit. Jika memang failit, kenapa malah berinisiatif membuat album. Apa CEO Kim sudah bodoh? Atau C-Level tengah mengerjainya? Sialan!

 

“Kim sajangnim!” Leeteuk tiba-tiba muncul, ia tersenyum. Sebenarnya sudah sedari tadi ia berhenti di balik pintu, menguping pembiacaraan GM Super Junior dengan stafnya. “Bukan MV yang terpenting untuk kami, kami comeback di dunia hiburan sudah sangat beruntung. Banyak orang yang berfikir, bahwa butuh hal mahal untuk membuat sesuatu yang keren dan berkesan. Tapi bagiku, mengemas sesuatu yang sederhana menjadi hal luar biasa itu sangat hebat!”

 

“Itu bukan hanya bagimu saja, Hyung. Tapi kami….” Lanjut Kyuhyun. ia muncul disusul member Super Junior lain yang membenarkan pernyataan Kyuhyun. Leeteuk tersenyum, matanya berkaca-kaca, ia menahan haru. Lama sekali Leeteuk memejamkan matanya untuk menahan airmatanya agar tak menetes. Akhirnya, ia menatap Jinho lagi.

 

“Sajangnim, kami akan bekerja keras. Sangat keras hingga kami tak akan pernah tahu bagaimana bentuk rasa lelah dan sakit. Tak peduli berapa dana yang dikeluarkan CFO perusahaan, kami akan berusaha lebih baik. Yang menjadi titik sentral dalam MV bukan hanya latar MV tapi kami!” Jelas Leeteuk mantap. Ia menggenggam tangan Yesung yang disampingnya. Yesung mendongak, menatap kakak tertua di Super Junior. “Kami sudah melewati banyak airmata dan kami tak akan menangis bodoh hanya karena hal ini.” Leeteuk mengalihkan pandang. Kini, ia menatap satu persatu dongsaengnya. “Ayo, adik-adikku, mari kita buat perbedaan di album ketiga!”

 

“Saranghae, Hyung…” Yesung malah memeluk Leeteuk. “Hyung, sekalipun hatimu kecewa dan menangis, kau selalu tersenyum di depan kami. Terima kasih, Hyung…. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kami… menjadi bagian Super Junior, kau adalah leader yang terbaik.”

 

Dan, setitik airmata Leeteuk pun jatuh. “Kita harus bekerja lebih keras lagi!”

 

 

 

 

END

2 thoughts on “Yang Terbuang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s